‘Suro’ Bulan Rahmat Bukan Keramat

48

Muharram, orang jawa menyebutnya bulan suro. Ia identik dengan bulan sakral, angker dan keramat. Penganut klenik mencapai puncak kegigihannya menjalani ritual di bulan ini. Menjamas keris pusaka, sedekah laut, sedekah bumi, ruwatan sampai pagelaran wayang yang bertujuan agar mendapat berkah, panen bertambah, menghindari pageblug (bencana) dan semisalnya. Tempat-tempat (yang dianggap) keramat pun ramai didatangi orang.

Di keraton Jogja misalnya, warga melakukan tirakatan mubeng benteng yaitu memutari benteng keraton Yogyakarta sebanyak tujuh kali di malam 1 Suro tanpa bicara. Hal ini dipercayai bakal mennyingkirkan marabahaya yang akan menimpa kampung mereka.

Di pantai Parangtritis yang dikenal dengan sebutan pantai selatan, manusia menyemut sehari sebelum satu muharram. Di puri parangkusumo yang dipercaya sebagai tempat pertemuan asmara panembahan Senopati (pendiri kerajaan Mataram Islam) dengan Nyi Roro Kidul, digelar ritual khusus penganut klenik kebatinan. Ritual syirik pun digelar. Labuh Mahesa Lawung beserta ubo rampenya, menghanyutkan kepala kerbau lengkap dengan sesajinya ke laut selatan.

Nabi menyebutkan, ada seorang masuk neraka gara-gara berkorban seekor lalat untuk selain Allah. lalu bagaimana jika yang dikorbankan adalah kerbau yang jutaan kali lebih besar dari lalat?

Keraton solo melakukan kirab pusaka keraton. Berbagai benda pusaka yang dianggap keramat, ampuh dan memiliki kekuatan diarak ke luar keraton. Tak ketinggalan enam kerbau bule yang dianggap bertuah pun ikut diarak. Kerbau yang dinamakan Kyai Slamet ini pun menjadi primadona. Orang-orang bahkan yakin, kotoran kerbau ini mengandung berkah, bisa mendatangkan kekayaan atau bikin awet muda dan semisalnya. Sungguh tak beda dengan perilaku orang musyrik jahiliyyah yang mengagungkan pohon ‘Uzza, patung Latta, atau perilaku Bani Israel yang mengagungkan sapi.

Selain upacara-upacara, satu Suro juga dimanfaatkan orang untuk berziarah ke kuburan-kuburan orang yang dianggap sakti atau wali. Sebagian bersemedi, sebagian lagi ngalap (berharap) berkah, sebagian lagi –katanya- hanya menjalankan rutinitas ziarah dan berdoa di sana.

Ada petilasan joyoboyo di Kediri, makam Syaikh Abdul Muhyi serta makam-makam wali songo seperti makam sunan gunung jati di Cirebon, makam sunan Kalijaga di Demak, Sunan Kudus dan Sunan Muria di Kudus, Goa Maharani dan sunan Drajat di Lamongan, Sunan Ampel di Surabaya dan yang lainnya.

Padahal Rasulullah sendiri melarang kuburannya dijadikan ‘ied, dikunjungi secara rutin pada waktu tertentu, atau dijadikan ajang kumpul-kumpul mengadakan ritual khusus. Larangan yang disertai laknat bagi yang melaksanakannya. Jika makam Nabi, manusia paling mulia saja dilarang untuk digunakan sebagai tempat upacara, apalagi sekedar makam wali-wali, ulama, atau raja yang semasa hidupnya tak semulia beliau.

Di sisi lain, kesakralan bulan Suro membuat masyarakat Jawa enggan melakukan kegiatan yang bersifat sakral terutama hajatan pernikahan. Entah sejak kapan kepercayaan ini muncul. Namun yang jelas, sampai sekarang pun mayoritas masyarakat Jawa tidak berani menikahkan anaknya di bulan Suro. Ada sebagian mereka percaya bahwa setiap bulan Suro, Nyi Roro Kidul penguasa laut selatan, selalu punya hajatan atau mungkin menikahkan anaknya (tidak diketahui jumlah anaknya berapa). Jika ada yang punya gawe di bulan Suro ini, diyakini pengantin atau keluarganya tidak akan mengalami kebahagiaan atau selalu mengalami kesengsaraan, baik tragedi cerai, gantung diri, meninggal, mengalami kecelakaan, atau lainnya. Entah kebenaran itu ada atau tidak, yang jelas masyarakat Jawa turun-temurun memilih tidak menikahkan anaknya du bulan Suro. Jika tak percaya, tanyalah penyedia jasa sewa alat-alat resepsi atau sejenisnya, mereka pasti sepi orderan.

Tidakkah orang-orang tahu, menganggap bulan Muharram sebagai bulan sial untuk menikah berarti telah menyakiti Allah karena telah mencela masa?

Jika kita amati lebih cermat, apa yang dilakukan orang Jawa di bulan Suro merupakan akulturasi Syi’ah dan animisme, dinamisme dan arab jahiliyyah. Dulu, orang Quraisy jahiliyyah setiap Asyura’ selalu menggantung kiswah Ka’bah. Kini, orang jawa mengganti kelambu makam Sunan Kudus. Alangkah miripnya hari ini dan kemarin.

Muharram bukanlah bulan keramat. Ia adalah bulan pembuka penanggalan Hijriyah. Ia bukan bulan buruk, karena Islam tidak mengenal waktu-waktu buruk selain waktu-waktu yang diharamkan Allah untuk melakukan suatu amalan.

Muharram bukanlah bulan keramat. Ia adalah bulan pembuka penanggalan Hijriyah. Ia bukan bulan buruk, karena Islam tidak mengenal waktu-waktu buruk selain waktu-waktu yang diharamkan Allah untuk melakukan suatu amalan.

Rasulullah telah memberi teladan kita dalam menyambut bulan Muharram. Nabi hanya mencontohkan shaum pada tanggal 10 Muharram ditambah sehari sebelum atau sesudahnya.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Nabi bersabda, Berpuasalah pada hari Asyura’ dan selisihilah orang-orang Yahudi itu, berpuasalah sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya.”

Maka, untuk apa melebih-lebihkan amalan dengan amalan yang tidak ada tuntunannya, apalagi jika terjerumus ke dalam kesyirikan. Waliyadzubillah

Oleh: Abu Umar Abdillah/Syubhat