Khutbah Iedul Adha 1441 H: Memaknai Takbir

Khutbah Iedul Adha 1441H:
Memaknai Takbir

إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بالله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إله إلا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

يَاأَيُّهاَ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ الله كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

أمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ الله وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه و سلم وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ.

اللَّهُ أَكْبَرُ ، اللَّهُ أَكْبَرُ ، لا إله إلا الله ، اللَّهُ أَكْبَرُ ، اللَّهُ أَكْبَرُ ولله الحمد…  اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا لا إله إلا الله ، اللَّهُ أَكْبَرُ ، اللَّهُ أَكْبَرُ ولله الحمد وَلَا نَعْبُدُ إلَّا اللَّهَ مُخْلِصِينَ له الدَّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

 

Jamaah shalat Ied Rahimakumullah

Pada pagi yang berbahagia ini, marilah kita tingkatan rasa syukur kita kepada Allah atas segala nikmat-Nya yang dilimpahkan kepada kita, nikmat sehat dan kesempatan sehingga kita bisa hadir di sini melaksanakan sholat Idul Adha berjama’ah, mudah-mudahan langkah kita diberkahi oleh Allah Amien. Tidak lupa, kita bersyukur juga kepada Allah atas nikmat yang paling besar dalam hidup kita, yaitu nikmat Iman dan Islam. Nikmat hidayah, hidup di atas jalan kebenaran yang tidak mungkin digantikan dengan apapun dari kehidupan dunia ini. Allah berfirman,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“ Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu. “ (Qs. al-Maidah: 3)

Jamaah shalat ied Rahimakumullah

Hari ini kalimat takbir menggema diseluruh penjuru dunia. Gema takbir menyadarkan kita akan kebesaran Allah dan betapa kerdil dan lemahnya kita sebagai manusia.

Kalimat takbir, Allahu Akbar, Allah Mahabesar, merupakan kalimat yang luar biasa dan diberkahi. Allah adalah Dzat yang Mahatinggi, Dia Mahabesar dan tidak ada yang lebih besar dari-Nya. Dia adalah Raja yang segala sesuatu tunduk kepada-Nya.

Takbir merupakan proklamasi atas kemahabesaran Allah dan ketundukan diri dari kesombongan dan keangkuhan.

Allah Mahabesar dari segala sesuatu secara Dzat, kemampuan, dan ketetapannya. Makna yang agung tersebut menghadirkan kepercayaan diri bagi seorang muslim. Ia akan selalu berprasangka baik kepada Allah. Rintangan tak akan menghentikan langkahnya. Ancaman tak akan membuatnya takut. Apa yang terlewat tak membuatnya merasar. Allahu Akbar, Allah yang Mahabesar, Mahakuasa, dan Mahapenyayang tidak akan membiar khasyahnya, harapannya, dan cintanya kepada sang pencipta. Ia pun takut bermaksiat dan selalu berusaha untuk taat dan tunduk pada syariat.

Jamaah shalat ied Rahimakumullah

Keyakinan atas kemahabesaran Allah mematrikan tsiqah dan ketenangan.

ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّـهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِن دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّـهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

“Kuasa Allah yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Rabb) yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah itulah yang batil dan sesungguhnya Allah Dialah yang Mahatinggi dan Mahabesar.” (QS. Al-hajj: 62).

Dialah Allah yang Mahatinggi dan Mahabesar. Tiada yang dizalimi dengan hukumnya. Dia memuliakan orang yang dikehendakinya dan merendahkan orang yang dikehendaki. Semua makhluk kecil dihadapan keagungan-Nya.

Iman dan keyakinan kepada kebesaran dan keagungan Allah menjadikan lisan senantiasa berdzikir, bersyukur, dan memuji-Nya. Menggerakkan anggota badan untuk mengagungkan, mencintai, dan tunduk kepadanya dengan ibadah.

Allahu akbar, Allahu akbar, la ilaha illallah Allahu akbar

Allahu akbar, adalah pekik perjuangan. Para pahlawan memekikkannya di medan-medan pertempuran. Dengannya mereka merasakan kekuatan, kemuliaan, kebanggaan, dan keikhlasan.

Khalid bin walid memimpin perang Yarmuk dengan pekik takbir. Shalahuddin al-Ayyubi menaklukkan al-Quds dengan pekik takbir. Muhammad al-Fatih membebaskan konstantinopel dengan pekik takbir. Diponegoro memimpin perang jawa dengan pekik takbir. Bung Tomo memimpin perang 10 November di Surabaya dengan pekik takbir.

Dan kelak, jamaah Rahimakumullah. Di akhir zaman, takbir menjadi senjata pamungkas untuk mengalahkan musuh.

Rasulullah bersabda, “Kiamat tidak akan terjadi hingga Konstantinopel diserbu oleh 70 ribu orang dari bani Ishak. Begitu mereka mendatangi kota tersebut, mereka hanya singgah tanpa menyerang dengan senjata maupun menembakkan sebatang panah. Mereka mengucapkan Lailahaillallah wallahu akbar tiba-tiba takluklah bagian kota yang berada di laut. Kemudian mereka mengatakan lagi Lailahaillallah wallahu akbar takluklah bagian kota yang berada di darat. Lalu mereka mengucapkan kembali Lailahaillallah wallahu akbar dan terbukalah bagi mereka gerbang kota bagi mereka. Mereka pun masuk dan mendapatkan banyak ghanimah.

Allahu akbar adalah kalimat hebat dalam sejarah. Kalimat yang menjadikan segala sesuatu tampak kecil. Tidak ada musuh yang besar. Tidak ada kekuasaan yang besar. Tidak ada tirani yang besar. Semuanya kecil dihadapan Allah.

Allahu akbar, Allahu akbar, la ilaha illallah Allahu akbar

Allahu akbar adalah kalimat yang agung dan menjaga. Jika setan mendengarnya ia menjadi kecil, hina, dan lemah. Keagungan Allah menekan pengaruh setan. Rasulullah menyebutkan dalam hadits bahwa Saat adzan berkumandang yang diawali dengan kalimat takbir maka setan pun lari terkentut-kentut. Maka saat setan berkeliaran bertakbirlah maka ia akan lari tunggang langgang.

Takbir adalah dzikir yang mulia dan ibadah yang besar. Allah memerintahkan hamba-Nya untuk bertakbir dan mencintai takbir. “Dan Rabbmu agungkanlah.” (QS. al-Mudatsir: 3). Allah juga berfirman, “Dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya.” (QS. Al-Isra: 111)

Allahu akbar, Allahu akbar, la ilaha illallah Allahu akbar

Dengan takbir, mengagungkan Asma’-Nya, kesedihan larut, bencana / kesusahan hilang, kekhawatiran terangkat, kesulitan tersingkap. Dengan takbir, kehidupannya akan lapang dan penyakitnya disembuhkan. Umar berkata, “ucapan seorang hamba, Allahu akbar lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (tafsir Qurtubi)

Maha benar Allah yang berfirman,

وَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّـهِ الَّذِي لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُن لَّهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُن لَّهُ وَلِيٌّ مِّنَ الذُّلِّ ۖوَكَبِّرْهُ تَكْبِيرًا

“Dan katakanlah, ‘Segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan Agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya.” (QS. Al-Isra: 111)

Wabah yang melanda bangsa kita juga merupakan bukti keagungan Allah yang maha besar dan betapa lemah dan kecilnya manusia. Mahluk kecil berupa virus mampu memporak porandakan tatanan masyarakat. Maka tak layak kita sombong dan hanya Allah sajalah yang layak untuk sombong karena Allah maha Besar. Allahu akbar.

Semoga takbir yang keluar dari lisan kita adalah takbir yang muncul dari dalam hati. Takbir yang tak sekedar gema tanpa makna, namun takbir pengagungan yang melahirkan kesadaran atas lemahnya diri dan keagungan Allah al-Kabir

اللهم لك الحمد كما ينبغي لجلال وجهك وعظيم سلطانك

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والاموات إنك سميع قريب مجيب الدعاء يا قاضي الحاجات

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ  

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ  وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ  وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

 

Download Booklet Sakunya dengan Klik Ini:
Khutbah Iedul Adha 1441H

 

Doa Menyembelih Udhiyah (Hewan Kurban) yang Sesuai Sunnah

Beberapa jam lagi kita akan memasuki tanggal 10 Dzulhijjah tahun ini. Hari dimana disyariatkan shalat iedul adha dilanjutkan menyembelih hewan kurban. Kaum muslimin umumnya bergegas untuk gotong-royong, bahu-membahu dalam prosesi penyembelihan hewan kurban tersebut. Para ibu-ibu menempatkan diri mereka di belakang, menyiapkan amunisi untuk para panitia. Para Bapak-bapak, ada yang jadi tukang jagalnya, ada yang spesialis nguliti, ada juga yang memotongi tulang dan sebagian lainnya memasukkan daging kurban ke tas kresek untuk dibagikan.

Pertanyaannya kemudian, apakah jagal hewan kurban tersebut tahu doa menyembelih Kurban yang sesuai sunnah itu seperti apa?

Syaikh Masyhur Hasan Salman menyatakan bahwa, doa menyembelih Kurban yang wajib adalah ucapan basmalah.

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”

Itu saja yang wajib diucapkan sebagai doa menyembelih Kurban (Udhiyyah). Sedangkan ucapan

اَللهُ أَكْبَرُ، هَذَا مِنْكَ وَإِلَيْكَ

Allah Maha Besar, (Udhiyyah) ini dari-Mu dan kembali kepada-Mu.”

Ucapan tersebut hanya anjuran untuk diucapkan ketika membaca basmalah dalam doa menyembelih Kurban (Udhiyyah).

Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid juga menyatakan bahwa bacaan yang wajib dalam doa menyembelih Kurban (Udhiyyah) adalah at-Tasmiyah atau Basmalah saja. Sedangkan doa tambahan lainnya itu hanya anjuran atau mustahab.

Kesimpulan ini didasarkan pada beberapa hadits Rasulullah yang derajatnya shahih. Dari Anas radhiyallahu anhu ia berkata,

ضَحَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ وَسَمَّى وَكَبَّرَ وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkurban dengan dua ekor kambing kibas yang bertanduk, beliau menyembelihnya dengan tangannya, mengucapkan bismillah dan bertakbir serta meletakkan kakinya pada samping leher.” (HR. Al-Bukhari)

Kemudian hadits dari Aisyah radhiyallahu anha,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِكَبْشٍ أَقْرَنَ يَطَأُ فِي سَوَادٍ وَيَبْرُكُ فِي سَوَادٍ وَيَنْظُرُ فِي سَوَادٍ فَأُتِيَ بِهِ لِيُضَحِّيَ بِهِ فَقَالَ لَهَا يَا عَائِشَةُ هَلُمِّي الْمُدْيَةَ ثُمَّ قَالَ اشْحَذِيهَا بِحَجَرٍ فَفَعَلَتْ ثُمَّ أَخَذَهَا وَأَخَذَ الْكَبْشَ فَأَضْجَعَهُ ثُمَّ ذَبَحَهُ ثُمَّ قَالَ بِاسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ وَمِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ ثُمَّ ضَحَّى بِهِ

“Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menyuruh untuk diambilkan dua ekor domba bertanduk yang kakinya berwarna hitam, perutnya terdapat belang hitam, dan di kedua matanya terdapat belang hitam. Kemudian domba tersebut diserahkan kepada beliau untuk dikurbankan, lalu beliau bersabda kepada Aisyah, ‘Wahai Aisyah, bawalah pisau kemari.’ Kemudian beliau bersabda: ‘Asahlah pisau ini dengan batu.’ Lantas ‘Aisyah melakukan apa yang beliau perintahkan. Setelah diasah, beliau mengambilnya dan mengambil domba tersebut dan membaringkannya, lalu beliau menyembelihnya. Kemudian beliau mengucapkan: ‘Dengan nama Allah, ya Allah, terimalah ini dari Muhammad, keluarga Muhammad, dan ummat Muhammad.’ Beliau berkurban dengannya.” (HR. Muslim)

Kemudian hadits dari Jabir radhiyallahu anhu ia berkata,

شَهِدْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْأَضْحَى بِالْمُصَلَّى فَلَمَّا قَضَى خُطْبَتَهُ نَزَلَ مِنْ مِنْبَرِهِ وَأُتِيَ بِكَبْشٍ فَذَبَحَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ وَقَالَ بِسْمِ اللَّهِ وَاللَّهُ أَكْبَرُ هَذَا عَنِّي وَعَمَّنْ لَمْ يُضَحِّ مِنْ أُمَّتِي

“Aku ikut bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari Idul Adha di Mushalla (lapangan tempat shalat). Setelah selesai khutbah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam turun dari mimbar, lalu dibawakan kepadanya seekor kambing kibas, lalu Rasulullah menyembelihnya dengan kedua tangannya seraya berkata, ‘Dengan menyebut nama Allah, Allahu akbar, ini adalah Kurbanku dan Kurban siapa saja dari umatku yang belum berkurban.’” (HR. At-Tirmidzi, no. 1521)

Dalam riwayat lain terdapat tambahan lafal,

اَللَّهُمَّ إِنَّ هَذَا مِنْكَ وَلَكَ

Ya Allah, ini dari-Mu dan untuk-Mu.” (Irwa-ul Ghalil, 1138)

Tambahan lafal doa di atas dimaksudkan sebagai tanda syukur atas rezeki hewan Kurban atau Udhiyyah yang telah diberikan kepada dirinya hal mana itu adalah murni pemberian Allah dan dikembalikan kepada Allah dengan penuh keikhlasan. (Syarh al-Mumthi’, 7/492)

Jadi kesimpulannya, doa menyembelih Kurban atau udhiyyah yang sesuai dengan sunnah adalah sebagai berikut:
  • Pertama, Jika hewan Kurban atau Udhiyyah disembelih sendiri, maka doa menyembelih Kurban (Udhiyyah) yang diucapkan seperti ini,

 بِسْمِ اللَّهِ وَاللَّهُ أَكْبَرُ اَللَّهُمَّ إِنَّ هَذَا مِنْكَ وَلَكَ

Bismillahi wallahu Akbar, Allahumma inna hadza minka wa laka.

“Dengan menyebut nama Allah, Allah Maha Besar, Ya Allah, sesungguhnya (sembelihan) ini dari-Mu dan untuk-Mu.”

Atau dengan lafal ini,

بِسْمِ اللَّهِ وَاللَّهُ أَكْبَرُ اَللَّهُمَّ هَذَا عَنِّي وَعَنْ أَهْلِ بَيْتِي

Bismillahi wallahu Akbar, Allahumma hadza ‘Anni wa ‘an Ahli Baiti.

“Dengan menyebut nama Allah, Allah Maha Besar, Ya Allah, ini dari hamba dan dari keluarga hamba.”

  • Kedua, Jika hewan Kurban atau Udhiyyah yang disembelih bukan milik sendiri, artinya si penyembelih statusnya hanya sebagai wakil, maka lafal doa menyembelih Kurban (Udhiyyah) seperti ini,

 بِسْمِ اللهِ، وِاللهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُمَّ هَذَا عَنْ فُلَانٍ

Bismillahi wallahu Akbar, Allahumma hadza ‘an fulan (sebutkan nama pemiliknya)

Dengan menyebut nama Allah, Allah Maha Besar, Ya Allah ini dari si fulan (sebutkan nama pemiliknya)”

Atau dengan lafal ini,

بِسْمِ اللهِ، وِاللهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ فُلاَنٍ وَآلِ فُلَانٍ

Bismillahi wallahu Akbar, Allahumma taqabbal min fulan (sebutkan nama pemiliknya) wa aali fulan (sebutkan nama pemiliknya)

Dengan menyebut nama Allah, Allah Maha Besar, Ya Allah terimalah (Kurban ini) dari fulan (sebutkan nama pemiliknya) dan keluarga fulan (sebutkan nama miliknya).”

Wallahu a’lam, Semoga bagi panitia penyembelihan hewan kurban, terutama bagian penjagalnya tidak keliru dalam melafalkan doa dan mengamalkan sunnah-sunnah lainnya.

 

Oleh: Redaksi/Dakwah.id/Udhiyah (dengan sedikit penyesuaian)

Download Booklet Pdf: Panduan Praktis Ibadah Udhiyah

Imam an-Nawawi berkata, ”Udhiyah yang berarti penamaan untuk hewan yang disembelih di hari nahar, memiliki empat bentuk bahasa; pertama udhiyah, kedua idhiyah dengan bentuk pluralnya adhaahi, ketiga dhahiyyah dengan bentuk pluralnya dhahaayaa, dan keempat adhaahatun dengan bentuk pluralnya adhi. Maka oleh karenanya dinamakan Yaumul Adha”.

Yaitu sesuatu yang disembelih pada hari-hari nahr, yang disebabkan hari raya sebagai cara mendekatkan diri kepada Allah.

Yaitu kambing yang disembelih pada waktu dhuha di hari Iedul Adha sebagai cara mendekatkan diri kepada Allah.

Para ulama telah berselisih pendapat tentang hukum udhhiyah, apakah hukumnya wajib ataukah sunnah? Kebanyakan ulama seperti Imam Malik, Imam Syafi’i, Suwaid bin Ghoflah, Said bin Musayyib, Al Qomah, Al Aswad, Atho’, Ishaq, Abu Tsaur, Ibnu Mundzir, Al Ghozali berpendapat hukum udhhiyyah adalah sunnah muakkadah.

Sebagian ulama lain seperti Rabi’ah, Malik, ats-Tsauri, al-Auza’i, al-Laits, dan Abu Hanifah berpendapat hukum udhiyyah adalah wajib. Lalu mana yang lebih rajih?

Download juga: Khutbah Iedul Adha: Taat Saat Ringan dan Berat

Bagaimana tata-cara pelaksanaan kurban? kapan waktunya, berapa jumlah dan minimal umurnya? Kepada siapa dagingya nanti diberikan?

Pertanyaan yang sering kita dengarkan dari masyarakat umum saat menjelang hari raya kurban.

Apakah anda juga termasuk yang menanyakan seputar hal-hal tersebut?

Temukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan seputar kurban secara lengkap namun ringkas dalam booklet ini.

 

Download Ebook Pdf nya di sini: Panduan Praktis Ibadah Udhiyah

 

 

Tradisi Tak Suci di Tanah Suci

Hal paling mengharukan yang disaksikan dan dirasakan saat keberangkatan haji menuju tanah suci adalah ucapan talbiyah, “labbakaillahumma labbaik, labbaika laa syariika laka labbaik…” , Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah,aku penuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu. Senandung itu begitu menggetarkan hati orang yang rindu untuk berhaji. Ucapan yang merupakan ikrar tauhid yang mestinya tak diingkari, dan pernyataan untuk berlepas diri dari kesyirikan yang merupakan dosa tak tertandingi. Alangkah sayang jika dalam perjalanan sampai ke tanah suci, kemudian ikrar suci itu menjadi tercemari.

Sebagai tempat yang suci, tanah Haramain (Madinah dan Mekah) yang juga bertebaran di dalamnya keutamaan, juga kaya akan tilas sejarah yang membekas di hati kaum muslimin, tidak luput dari sikap pengagungan yang berlebihan. Ada yang terbilang ringan, kesalahan persepsi hingga yang masuk dalam kategori fatal dalam timbangan akidah Islam.

Waqaf Mushaf al-Qur’an di Masjid Nabawi

Bagi orang-orang yang berhaji maupun mu’tamirin yang memulai miqatnya dari Dzul Hulaifa (Bir Ali), yang datang melalui Madinah, biasanya akan tinggal beberapa hari di Madinah. Ada pemandangan harian yang bisa disaksikan, di jalan masuk pelataran Masjid Nabawi banyak orang menawarkan mushhaf al-Qur’an dengan kalimat, “waqaf…waqaf…!”

Ada sugesti yang melatari iklan ini. Banyak jamaah haji yang membeli mushhaf yang mirip dengan cetakan mushhaf yang terdapat di rak-rak masjid Nabawi. Bukan untuk dibaca sendiri, namun untuk diwakafkan di Masjid Nabawi. Tampaknya ini wajar  dan secara asal memang tidak masalah, karena wakaf adalah bentuk amal shalih. Namun ternyata ini bukan sembarang wakaf. Ada keyakinan bahwa cara ini dipercaya bisa menjadi sarana orang yang berhaji kelak bisa kembali lagi ke masjid Nabawi. Sampai batasan ini barangkali masih ada dasar yang bisa dijadikan argumen. Bahwa amal shalih bisa menjadi wasilah terkabulnya doa, sebagaimana kisah tiga orang yang terjebak dalam goa dalam hadits yang shahih. Di mana doa mereka untuk bisa keluar dari goa dikabulkan Allah setelah menyebutkan jenis amal yang menjadi unggulannya.

Baca Juga: Makanan Haram, Merusak Tabiat dan Jasad

Persoalannya, ketika hal itu menjadi rumus paten yang diyakini; yakni ada amal khusus, di tempat yang khusus, lalu bisa menghasilkan khasiat yang khusus pula. Amal khusus itu adalah wakaf mushhaf al-Qur’an, tempat khusus itu adalah masjid Nabawi, dan hasil khusus itu adalah bisa kembali ke masjid Nabawi. Jika salah satu variabel tidak ada, hasilnya dipercaya juga akan meleset. Kalau sudah sampai tingkatan ini, tentu membutuhkan dalil yang khusus.

Dari sekian banyak fadhilah dan keutamaan terkait masjid Nabawi, sedangkal pengetahuan Penulis, tak ada riwayat shahih yang secara khusus menyebutkan tentang jenis amal ini. Di antara yang tersebut dalilnya adalah keutamaan ‘raudhah’, tempat antara rumah Nabi dan mimbar beliau. Ada juga keutamaan shalat di masjid Nabawi sebagaimana hadits Nabi,

صَلاَةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ، إِلَّا المَسْجِدَ الحَرَام

“Sholat di masjidku ini (Nabawi) lebih utama seribu kali daripada shalat di tempat lain kecuali Masjidil Haram.” (HR Bukhari)

Memberi Makan Merpati di Tanah Suci

Memasuki kota Mekah, di jalan-jalan kota, maupun sekitar pelataran Masjdil Haram tampak banyak burung-burung Merpati yang bergerombol. Ada pula para penjual yang menawarkan biji-bijian dengan harga satu riyal sebungkus plastik kecil untuk memberi makan merpati.

Ternyata, ada pula keyakinan khusus tentang ini. Bahkan sebagian orang yang berhaji telah dibekali biji-bijian dari rumah oleh keluarganya atau kerabatnya untuk tujuan yang sama. Ada yang meyakini bahwa burung-burung itu adalah keturunan merpati  yang menjaga goa Tsur saat Nabi shallallahu alaihi wasallam dan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu hijrah. Padahal tak ada bukti pasti yang menunjukkan hal ini. Bahkan riwayat tentang adanya burung merpati di depan goa pun banyak dikritisi keshahihannya oleh para ulama.

Baca Juga: Kejatuhan Cicak, Sinyak Ketiban Sial?

Keyakinan lainnya, burung merpati itu akan mendoakan orang yang memberi makan kepadanya. Anehnya, hanya merpati di Mekah yang diberi kepercayaan begitu tinggi dalam hal ini. Memang terdapat dalil, bahwa hewan-hewan ada yang mendoakan manusia, secara khusus Nabi menyebutkan bagi para penuntut ilmu. Tapi ini tidak dikhususkan bagi hewan merpati di Mekah. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا، وَحَتَّى الْحُوتَ فِي الْبَحْرِ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْر

“Sesungguhnya Allah, malaikat-Nya hingga semut di lobangnya juga ikan-ikan di laut bershalawat atas orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” (HR Thabrani)

Maksud shalawat semut dan ikan adalah mendoakan kebaikan, wallahu a’lam.

Oleh-oleh Jimat dari Tanah Suci

Yang paling fatal di antara yang dilakukan sebagian orang yang berhaji adalah membawa barang-barang khusus yang diyakini memiliki tuah atau berkah dan berkhasiat mendatangkan suatu kemaslahatan ataupun kemudharatan.

Ada yang sengaja mengambil (mencuri?) tanah di kuburan Baqi meski dilarang keras oleh petugas. Tujuannya tak lain karena memiliki keyakinan bahwa tanah itu memiliki berkah, bisa mendatangkan rezeki atau kemaslahatan lain, maupun bisa mencegah suatu jenis keburukan. Padahal Allah dan Rasul-Nya tidak menetapkan atau mengabarkan adanya khasiat ini. Akal sehat juga tidak membenarkan tindakan ini. Juga orang yang membawa pulang kerikil yang dipakai untuk melempar jumrah.

Tampak pula, orang berjejal untuk menyentuh dinding Ka’bah, lalu mengusap-usapkan peci, surban atau pakaiannya ke dinding Ka’bah, kemudian barang tersebut disakralkan setibanya di tanah air mereka. Sebagian juga percaya bahwa barang yang diusapkan ke dinding Ka’bah itu telah mengandung berkah khusus dan bisa dijadikan jimat, wal ‘iyaadzu billah.

Yang disyariatkan adalah mencium Hajar Aswad atau menyentuhnya, dan menyentuh rukun Yamani, bukan semua dinding Ka’bah. Dari faedahnya juga telah disebutkan Nabi secara khusus,

إِنَّ مَسْحَهُمَا كَفَّارَةٌ لِلْخَطَايَا

“Sesungguhnya mengusap keduanya (Hajar Aswad dan Rukun Yamani) dapat menghapuskan dosa-dosa.” (HR Tirmidzi)

Wallahu Ta’ala A’lam. 

 

OleH: Ust. Abu Umar Abdillah/Syubhat/Majalah ar-risalah

 

Hari Raya Idul Adha Bertepatan Dengan Hari Jumat

Rasanya baru kemarin menggemakan takbir kemenangan setelah berpuasa Ramadhan satu bulan lamanya. Besuk lusa kaum muslimin kembali lagi memekikkan takbir di masjid-masjid guna menyambut hari raya yang agung dalam Islam dan puncaknya menyembelih hewan kurban.

Hari Raya kedua umat Islam sudah tiba di depan mata. Apalagi kalau bukan Idul Adha atau sebagian menyebutnya Idul Qurban. Seperti biasanya, kaum muslimin akan sibuk mempersiapkan alat asah dan goloknya guna menyembelih hewan ternak selepas menjalankan shalat Idul Adha.

Baca Juga: Jika Masbuk Shalat Ied

Namun Idul Adha tahun 1438H kali ini terasa lebih istimewa, karena bertepatan dengan hari raya mingguan Umat Islam yaitu hari Jumat. Hari Jumat sendiri bernilai istimewa dan penuh dengan keutamaan, apalagi ditambah keistimewaan yang dibawa Idul Adha, sangat berlipat-lipat keutamaan padanya.

Lalu, bila dalam satu hari ada dua hari raya, apakah kaum muslimin tetap menunaikan shalat jumat di siang harinya? Atau cukup dengan menjalankan shalat dzuhur seperti biasa?

Di Zaman Nabi Juga Pernah Terjadi 

Hal seperti ini pernah juga terjadi di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat. Yaitu Hari Raya ‘Ied  yang bertepatan di hari Jumat. Ada beberapa hadits yang dan atsar yang menjelaskan hal ini. Diantaranya,

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma ia berkata,

اجتمع عيدان على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم فصلى بالناس ثم قال: من شاء أن يأتي الجمعة فليأتها ، ومن شاء أن يتخلف فليتخلف

“Pernah terjadi dua hari raya di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Maka beliau Shalat dengan para manusia paginya dan berkata, “Siapa yang hendak mendatangi shalat Jumat maka datangilah, dan siapa yang tidak menghadiri silahkan tidak menghadirinya.”  (HR. Ibnu Majah & Thabrani)

Dalam Mu’jam Kabir ditambahkan, “Pernah terjadi dua hari raya di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu Hari Raya Idul fitri dan Hari Raya Jumat.  Maka paginya beliau shalat Idul fitri bersama manusia lalu berkata, “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian telah diberi kebaikan dan pahala di hari ini. Kita telah berkumpul, maka siapa yang hendak menunaikan shalat Jumat lakukanlah dan siapa yang hendak balik ke rumahnya silahkan ia kembali.”

Begitu juga Hadits dari Sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah bersabda,

اجتمع عيدان في يومكم هذا فمن شاء أجزأه من الجمعة ، وإنا مجمعون إن شاء الله

“telah berkumpul dua hari raya di hari kalian ini, maka siapa yang hendak mencukupkan (untuk tidak shalat Jumat) silahkan , dan Kami akan melaksanakannya Insyaallah.” (HR. Ibnu  Majah)

Dan satu atsar dari Atha’ bin Abi Rabbah Ia berkata, “Ibnu Zubair shalat bersama kami di pagi Idul fitri yang bertepatan pada hari Jumat, saat menjelang siang dan kami menunaikan shalat Jumat Ia tidak hadir shalat bersama kami. Lalu setelah kepulangan sahabat Ibnu Abbas dari Thaif, saya bertanya tentang yang demikian dan Ia menjawab, “Ia mengerjakan hal yang Sunnah.”

Dan masih banyak lagi riwayat hadits dan juga atsar yang redaksinya hampir mirip dengan ketiga hadits diatas.

Para Ulama Menyimpulkan Demikian 

Dengan begitu ada beberapa poin sebagaimana yang dijelaskan oleh para Ulama di Lajnah Daimah,

Pertama, siapa yang menghadiri shalat ‘Ied di pagi harinya, ia boleh untuk tidak shalat Jumat dan menggantinya dengan shalat dzuhur seperti pada hari biasa. Namun bila ingin tetap menjalankan shalat Jumat maka hal tersebut lebih utama.

Kedua, siapa yang tidak menghadiri shalat Ied (Idul fitri/Idul Adha) maka dia tetap berkewajiban menjalankan shalat Jumat dan tidak jatuh rukhsah.

Ketiga, Kepada Takmir Masjid untuk tetap mengadakan shalat Jumat, bila Jamaah yang datang sudah mencukupi syarat shalat Jumat maka dilaksanakan Shalat Jumat, bila tidak maka dilaksanakan shalat dzuhur seperti biasa.

Pada hari ini juga tidak disyariatkan mengumandangkan adzan dzuhur kecuali di masjid-masjid yang mengadakan shalat Jumat.  Sebagai tanda diadakannya shalat Jumat.

Baca Juga: Hari Raya, Syiar dan Identitas Keyakinan

Parahnya, ada orang yang berpendapat bahwa siapa yang sudah menjalankan shalat ‘Ied pagi harinya, ia mendapat rukhsah untuk tidak shalat Jumat dan shalat Dzuhur. Jelas sekali ini pendapat yang keliru. Karena menyimpang dari ajaran Nabi dan meninggalkan kewajiban untuk shalat Dzuhur.

Demikian tiga poin penting mengenai hukum shalat Jumat yang bertepatan pada hari Raya ‘Idul Fitri maupun ‘Idul Adha. Semoga kita tidak keliru dan mengikuti hawa nafsu dalam beramal. Wallahu a’lam. (Islamqa/Nurdin/Idul Adha)

 

Tema Terkait: Ibadah, Idul Adha, Shalat Jumat

 

 

Membagikan Daging Kurban Untuk Non Muslim

Dalam hitungan beberapa hari kedepan kaum muslimin akan menjalankan syariat menyembelih hewan kurban. Dampaknya akan banyak sekali daging-daging yang mampir ke rumah dan banyak tamu yang datang silih berganti membawa satu tas plastik yang berisi kurang lebih 2 kiloan gram daging kambing dan juga sapi.

Pemandangan seperti ini memang sudah menjadi tradisi islami di masyarakat Indonesia yang memang mayoritas beragama Islam dan menjalankan salah satu syariat Islam berupa menyembelih kurban. Akan tetapi yang sedikit menimbulkan pertanyaan, bagaimana bila tetangga di kampung tempat menyembelih ada yang non muslim? Apakah mereka juga mendapatkan bagian daging kurban?

Baca Juga: Mengapa Dilarang Memotong Rambut & Kuku Bagi Yang Akan Berkurban 

Pada dasarnya Islam adalah agama rahmat dan kasih sayang bagi setiap manusia. Demikian juga perihal Udhiyyah, tidak mengapa memberikan daging kurban kepada non muslim, terlebih bila mereka termasuk tetangga dekat dan kerabat yang masih ada hubungan keluarga atau orang yang kurang mampu. Sebagaimana Allah berfirman,

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. al-Mumtahanah: 8)

Adapun membagikan daging kurban kepada mereka termasuk perbuatan baik yang tidak dilarang oleh syariat. Hal tersebut dikuatkan oleh Mujahid yang berkata : Suatu ketika keluarga Abdullah bin ‘amru menyembelih seekor kambing, tatkala ia datang ia berkata, “Apakah tetangga yahudi kita sudah diberikan? Ia ulangi dua kali, kemudian Ia berkata, “Sesungguhnya aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jibril terus mewasiyatiku tentang tetangga, sampai aku mengira bahwa mereka akan mewarisiku.” (HR. Tirmidzi)

Dengan kedua dalih diatas, maka membagikan daging kurban untuk orang non muslim adalah boleh . terlebih mereka yang fakir dan miskin atau untuk ‘ta’liful qulub’ (melembutkan hati mereka). Adapun Rasulullah juga pernah memerintahkan Asma’ bintu Abu Bakr untuk berbuat baik dan bersedekah kepada Ibunya  yang saat itu masih musyrik.

Syaikh Ibnu Baz menambahkan bahwa orang kafir (non muslim) yang tidak memerangai kaum muslimin, mereka diberi bagian kurban dan sedekah kaum muslimin.

Hal diatas sebagaimana yang disampaikan oleh Lajnah Daimah dalam Majmu’ Fatawanya.

Baca Juga: Berapa Kali Rasulullah Berkurban Semasa Hidupnya?

Jadi tidak perlu mengeluarkan urat berlebih dan berdebat tentang status orang non muslim. Allah maha adil dan pemurah bagi hambanya dan Allah memberikan hidayah kepada siapa saja yang Ia kehendaki. Semoga saja dengan sedekah yang kaum muslimin berikan, mereka akan segera luluh hatinya dan kembali fitrah dengan masuk agama Islam. Aamiin.

Akan tetapi bila mereka menolak pemberian tersebut karena berargumen bahwa al-Kitab melarangnya, kita serahkan selebihnya kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Wallahu a’lam (Nurdin AJ/Kurban/Terkini)

 

Tema Terkait: Kurban, Dzulhijjah, Idul Adha

 

Berapa Kali Rasulullah Berkurban?

Sangat disayangkan bila ada seorang muslim yang mampu dan memilki kelapangan harta di bulan ini untuk membeli hewan kurban dan menyembelihnya nanti tanggal di 10 Dzulhijjah, namun ia enggan untuk melakukannya. Mungkin karena ‘eman’ (sayang) atau karena pelit, atau bahkan memang belum mengetahui pahala dari ibadah kurban itu sendiri.

Padahal Allah Ta’ala memberikan ganjaran yang tidak terkira. Karena tiap-tiap bulu dari hewan kurban tersebut bernilai pahala dan kebaikan. Bayangkan saja bila seekor kambing memiliki seratus juta bulu (hanya sekedar mengira) maka berapa banyak kebaikan yang akan kita dapatkan. Selain itu, tetesan darah kurban tersebut akan sampai kepada Allah sebelum menetes ke tanah, dan akan datang pada hari kiamat beserta tanduk, kuku dan bulu-bulunya sebagai saksi yang akan meringankan kita.  

Baca Juga: Mengapa Dilarang Memotong Rambut & Kuku Bagi Yang Hendak Kurban


Mungkin ada yang bertanya, berapa kali Nabi Muhammad berkurban selama masa hidupnya? Apakah beliau berkurban dengan unta, sapi atau kambing? Maka jawabannya adalah sebagaimana tertera dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu berikut,

أَقَامَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالمَدِينَةِ عَشْرَ سِنِينَ، يُضَحِّي كُلَّ سَنَةٍ

“Rasulullah tinggal di Madinah selama 10 tahun, dan beliau berkurban setiap tahun.” (HR. Ahmad & Tirmidzi) 

Dalam hadits diatas terlihat betapa antusiasnya Rasulullah dalam berkurban. Beliau melakukannya setiap tahun, bahkan saat beliau sedang bersafar pun beliau masih sempat menjalankan ibadah udhiyyah tersebut. Sebagaimana diceritakan oleh sahabat Tsauban dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwa Nabi menyembelih hewan kurban dan memerintahkan sahabat Tsauban untuk memasaknya dan menikmatinya hingga mereka sampai di Kota Madinah.

Dengan dalih hadits ini, berkurban tidak terbatas pada orang yang muqim saja tapi juga disyariatkan bagi mereka yang sedang bepergian (safar). Sebagaimana hal ini diungkapkan oleh Imam Nawawi rahimahullah dan Jumhur Ulama’.

Adapun Rasulullah setiap tahunnya menyembelih 2 domba besar yang diatas namakan beliau sendiri dan keluarganya dan yang satu lagi beliau atas namakan orang-orang yang beriman dari umatnya.

Beliau pernah absen satu kali tidak menyembelih hewan kurban yaitu saat menjalankan Haji Wada’ di tahun ke 10 Hijriyah. Kendati demikian, beliau menggantinya dengan Hadyu (menyembelih hewan saat haji) sejumlah 100 ekor unta. Yang mana 63 ekornya beliau nahar (cara menyembelih unta) sendiri dan sisanya Ia berikan kepada Ali radhiyallahu ‘anhu untuk melakukannya.

Dngan demikian, maka Rasulullah berkurban setiap tahunnya selama 9 tahun dan di tahun ke 10 Hijriyah beliau tidak berkurban akan tetapi menyembelih hewan saat menjalankan ibadah Haji Wada’.

Baca Juga: Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah


Demikian antusiasnya Rasulullah dalam menjalankan satu peribadatan agung ini. Ibadah yang paling dicintai Allah di hari ke-10 Dzulhijjah. Bagi beberapa orang yang masih ragu dan terlalu banyak alasan untuk tidak berkurban, hendaknya mencontoh semangat Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bila masih pelit dan enggan, malu rasanya menjadikan Nabi Muhammad sebagai idola dan panutan.

Bagi yang belum memiliki kelapangan rejeki untuk berkurban tahun ini, semoga Allah permudahkan jalan untuk melaksanakannya tahun depan. Tentunya bukan hanya berharap, tapi juga dengan doa dan berusaha. Wallahu a’lam (Nurdin AJ/Arrisalah/Kurban)

 

Tema Terkait: Udhiyyah, Dzulhijjah, Idul Adha

 

 

Mengapa Dilarang Memotong Rambut dan Kuku?

Hari ini kaum muslimin merasakan atmosfer yang segar, bukan karena udara yang berbeda dari hari sebelumnya atau pergantian musim yang menghijaukan rerumputan, akan tetapi karena saat ini orang-orang mukmin berada di bulan mulia yaitu bulan Dzulhijjah. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa Allah sangat senang terhadap amal shalih seorang hamba di bulan ini daripada pada bulan-bulan lainnya, bahkan jihad fi sabilillah sekalipun.

Satu ibadah utama yang sangat ditekankan pada bulan ini yaitu Udhiyyah/berkurban bagi mereka yang memiliki kelapangan harta. Dengan berkurban Ia telah mengimplementasikan rasa syukur kepada Allah dan bentuk ittiba’ kepada Nabiyullah Ibrahim ‘alaihissalam.

Baca Juga: Berkurban Sambil Aqiqah

Ada hal yang perlu diperhatikan bagi seseorang yang hendak berkurban atau disebut ‘Mudhahi’ yaitu agar tidak mencukur rambutnya dan memotong kukunya semenjak masuk tanggal 1 Dzulhijjah ‘tet’ sampai hari pelaksaan kurban. Sebagaimana Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ كَانَ لَهُ ذِبْحٌ يَذْبَحُهُ فَإِذَا أُهِلَّ هِلاَلُ ذِى الْحِجَّةِ فَلاَ يَأْخُذَنَّ مِنْ شَعْرِهِ وَلاَ مِنْ أَظْفَارِهِ شَيْئًا حَتَّى يُضَحِّىَ

“Siapa yang hendak  berkurban dan bila telah memasuki bulan Dzulhijjah (1 Dzulhijah), maka janganlah ia memotong rambut dan kukunya sampai ia berkurban”. (HR. Muslim)

Tidak sebatas rambut dan kuku, ada sebagian yang berpendapat juga bahwa jangan mencabut bulu tangan dan bulu anggota badan lainnya.

Mengapa Hal-hal Tersebut Tidak Diperkenankan?

Allah subhanahu wa ta’ala akan memberikan ampunan yang melimpah bagi Mudhahi (orang yang berkurban) dari tetesan darah pertama hewan kurban tersebut. Sampai setiap bulu hewan yang disembelih bernilai kebaikan. Tanduknya, kulitnya dan anggota badannya akan menjadi tabungan kebaikan bagi Mudhahi.

Adapun hikmah besar mengapa dilarang memotong rambut dan kuku adalah agar semua anggota badan mendapat ampunan dari Allah. Karena ampunan yang diberikan Allah bagi orang yang berkurban meliputi seluruh apa yang ada di badannya. Dari mata, hidung, telingan hingga tiap helai rambut dan kuku-kuku yang ia miliki. Maka sangat disayangkan bila kuku dan rambut di potong duluan sebelum hari ‘H’ penyembelihan, karena akan terlewat dari ampunan yang dijanjikan Allah subhanahu wa ta’ala pada hari penyembelihan.

Baca Juga: Download Panduan Ibadah Udhiyah (kurban)

Ada juga yang berpendapat bahwa dilarang memotong rambut dan kuku agar mengikuti  orang-orang yang melakukan ibadah haji di tanah suci saat ini. Yang mereka juga tidak memangkas rambutnya hingga datang waktu tahallul pada tanggal 10 Dzulhijjah saat sebelum mabit di Mina.

Ternyata ada hikmah di tiap perintah dan larangan syariat. Yuk yang hendak berkurban diingat satu syariat yang diperintahkan Nabi satu ini. Sangat luar biasa kan hikmahnya. Wallahu a’lam.

(Nurdin AJ/Ibadah/Kurban)

 

Tema Menarik Lainnya: Dzulhijjah, Udhiyyah, Fadhilah

Kurban sambil Aqiqah

Pertanyaan: 

Assalamualaikum warahmatullah wabaraktuh

Apakah boleh berkurban dengan satu ekor hewan sembelihan dengan dua niat, yaitu niat untuk qurban ‘iedul adha sekaligus untuk aqiqah anaknya?

 

Jawaban :

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam kepada Rasulullah SAW, keluarga beserta shahabat-shahabatnya,

Terdapat kaidah fiqhiyah yang disebutkan oleh imam al Hafidz Ibnu Rajab yang menyatakan bolehnya menyatukan dua niat dalam satu ibadah :

“Jika berkumpul dua ibadah yang sejenis pada waktu yang sama, yang salah satu diantara keduanya bukan merupakan qadha’ dan bukan merupakan ibadah yang waktu dikerjakannya bersambung dengan ibadah yang lain, maka keduanya dapat dikerjakan dalam satu ibadah saja.”(Taqrirul Qawaid wa Tahrirul Fawaid).

Untuk lebih jelasnya,perhatikan contoh berikut:

Bila kita dalam kondisi Junub di pagi hari, sedang hari itu adalah hari Jumat, kita bisa melakukan mandi sekali dengan niat mandi junub sekaligus mandi sunah di hari Jumat. Contoh lain, seorang wanita suci dari haidh maka ia wajib mandi, namun sebelum mandi ia mimpi basah yang juga mewajibkan mandi. Maka mandi sekali dengan dua niat sudah mencakup untuk kedua kewajiban tersebut. Ini adalah pendapat Imam Syafi’i, Imam an Nawawi (al majmu’ 3/326) al Mawardi (al Haawi al Kabir1/375) dan Ibnu Qudamah al Maqdisiy (al Mughni 1/163).

Tapi jika salah ibadah adalah qadha’, maka tidak boleh digabung dengan yang lain. Misal: mengqadha’ Ramadhan sekaligus diniatkan shaum syawal. Seharusnya qadha’ dahulu baru shaum syawal, sebab hadits tentang shaum syawal yang menyatakan ibadah syawal waktunya bersambung setelah berakhirnya shaum Ramadhan:

Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang berpuasa Ramadlan kemudian diiringinya dengan puasa enam hari di bulan Syawwal, maka yang demikian itu seolah-olah berpuasa sepanjang masa.” (HR Muslim)

Adapun pertanyaan bolehkah melakukan Qurban untuk ‘iedul Adha sekaligus aqiqah? maka ulama berbeda pendapat, dan pendapat yang kuat adalah pendapat jumhur (kebayakan para ulama) yaitu pendapatnya Imam Malik, Imam Syafi’ie dan riwayat dari Imam Ahmad yang menyatakan tidak boleh.

Para ulama tidak membolehkan karena kedua ibadah tersebut sebabnya berbeda, dan maksud dari keduanya pun berbeda; satu untuk anaknya dan satu untuk dirinya dan ini adalah pendapat Imam al Haitami (Tuhfatu al Muhtaj Syarh al Minhaj9/371), al Hatthab (Mawahib al Jalil3/259) menyatakan, bila seorang ibu melahirkan dua anak perempuan kembar kemudian bapaknya mengaqiqahi kedua putrinya yang keluar dari satu perut ibunya dengan satu sembelihan saja tidak diterima, lalu bagaimana bila menyembelih untuk dua maksud berbeda; yang satu untuk anaknya dan satunya untuk dirinya dalam satu hewan qurban, tentu ini lebih tidak boleh. Wallahu a’alam bi ash shawab.