Khutbah Iedul Adha 1440 H: Kebahagiaan Butuh Pengorbanan

Khutbah Iedul Adha 1440 H

Kebahagiaan Butuh Pengorbanan

DOWNLOAD PDF KLIK DI SINI!

 

إنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِالله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ

فَلاَ هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى الله عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْراً

يَاأَيُّهاَ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِوَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ؛

فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

اللّهُ أَكْبَرْ اللّهُ أَكْبَرْ لاَ إِلَهَ إِلّاَ اللّه اللّهُ أَكْبَرْ اللَّهُ أَكْبَرْ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

 

Merayakan Iedul Adha kita mengenang kembali pengorbanan Nabi Ibrahim untuk mendapatkan kemuliaan di sisi Allah. Sebagai bukti iman dan ketundukan hamba kepada Rabbnya. Kita berusaha mewarisi jiwa pengorbanan beliau sebagaimana para shahabat Rasulullah rela mengorbankan harta, tenaga, dan nyawanya untuk Islam.

 

اللّهُ أَكْبَرْ اللّهُ أَكْبَرْ لاَ إِلَهَ إِلّاَ اللّه اللّهُ أَكْبَرْ اللَّهُ أَكْبَرْ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Jamaah Shalat Ied rahimakumullah

Dalam kitab ar-rahiq Al-Makhtum, Syaikh Shafiyur Rahman Mubarakfuri menceritakan banyak sekali kisah pengorbanan para shahabat Rasulullah pada masa awal dakwah Islam di Makkah. Salah satu yang beliau kisahkan adalah shahabiyah Sumayyah binti Khayyat, istri dari Yasir radhiyallahu ‘anhuma. Dia adalah hamba sahaya dari Abu Hudzaifah bin Mughirah.

Ketika mengetahui keislamannya, Musyrikin Quraisy tidak rela jika keluarga ini mengenyam manisnya Islam, hingga Bani Makhzum segera menangkap keluarga Yasir dan menyiksa mereka dengan bermacam-macam siksaan agar mereka keluar dari Islam, mereka memaksa dengan cara mengeluarkan mereka ke padang pasir saat terik matahari panas menyengat. Mereka membuang Sumayyah ke sebuah tempat dan menaburinya dengan pasir yang sangat panas, kemudian meletakkan sebongkah batu besar di atas dadanya. Akan tetapi, tiada terdengar rintihan atau pun ratapan, melainkan ucapan, “Ahad … Ahad ….

Saat Rasulullah ﷺ menyaksikan keluarga muslim tersebut yang tengah disiksa dengan kejam, maka beliau menengadahkan ke langit dan berseru,

صَبْرًا آلَ يَاسِرٍفَإِ نِّ مَوْعِدَكُمُ الْجَنَّةُ

Bersabarlah, wahai keluarga Yasir, karena sesungguhnya tempat kembali kalian adalah surga.” (HR al-Hakim)

Mendengar seruan Rasulullah ﷺ maka Sumayyah binti Khayyat bertambah tegar dan optimis. Dengan kewibawaan imannya, dia mengulang-ulang dengan berani, “Aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasulullah dan aku bersaksi bahwa janjimu adalah benar.”

Baginya kematian adalah sesuatu yang remeh dalam rangka memperjuangkan akidahnya. Hatinya telah dipenuhi kebesaran Allah subhanahu wa ta’ala, maka dia menganggap kecil setiap siksaan yang dilakukan oleh para tagut yang zhalim; mereka tidak kuasa menggeser keimanan dan keyakinannya, sekalipun hanya satu langkah semut.

Hingga tatkala musuh-musuh Allah telah berputus asa mendengar ucapan yang senantiasa diulang-ulang oleh Sumayyah binti Khayyat maka Abu Jahal melampiaskan keberangannya kepada Sumayyah dengan menusukkan sangkur yang berada dalam genggamannya kepada Sumayyah binti Khayyat. Terbanglah nyawa beliau dari raganya, dan beliau adalah wanita pertama yang syahid dalam Islam. Beliau syahid setelah memberikan contoh baik dan mulia bagi kita dalam hal keberanian dan pengorbanan.

Beliau relakan nyawanya demi meraih puncak kemuliaan. Beliau jual nyawanya untuk mendapatkan ‘barang dagangan’ yang paling berharga dari Allah, yakni jannah.

 

اللّهُ أَكْبَرْ اللّهُ أَكْبَرْ لاَ إِلَهَ إِلّاَ اللّه اللّهُ أَكْبَرْ اللَّهُ أَكْبَرْ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Jamaah Shalat Ied rahimakumullah

Surga itu mahal. Surga itu istimewa luar biasa nilainya. Kebahagiaan tiada tara, kemewahan tiada banding, kemuliaan tiada tanding, dan kenikmatan yang tak ada akhirnya. Tak terselip sedikit pun derita atau kesusahan di dalamnya. Maka siapapun yang ingin mendapatkannya hendaknya sadar, bahwa ia hendak memiliki sesuatu istimewa tiada tara. Selayaknya ia mengorbankan apapun yang ia punya untuk mendapatkannya dan membayarnya dengan seberapapun harganya.

Rasulullah bersabda,

أَلَا إِنَّ سِلْعَةَ اللهِ غَالِيَةٌ أَلَا إِنَّ سِلْعَةَ اللهِ الْجَنَّةُ

Ketahuilah, sesungguhnya barang dagangan Allah itu mahal. Ketahuilah, sesungguhnya barang dagangan Allah itu adalah surga.” (HR. Al-Tirmidzi, beliau berkata hadits hasan. Dishahihkan Al-Albani)

Jika kita rela berpayah-payah sepanjang hari untuk bisa membeli rumah, memeras keringat demi mendapatkan kendaran roda empat dan mengorbankan waktu dan harta agar bisa menjadi seorang pejabat, lantas dengan apa kita hendak membeli Jannah? Dengan apa kita hendak mendapatkan rumah yang panjangnya 60 mil dengan batu bata terbuat dari emas dan perak di jannah. Dengan apa kita hendak memperoleh kendaraan yang terbuat dari Yaqut dan bisa terbang kemana pun kita suka?

Sangat mengherankan bila ada orang yang hendak membayar sesuatu yang luar biasa berharga hanya dengan sisa receh di sakunya. Mengherankan jika ada orang yang menyumbangkan sisa-sisa waktu dan tenaga lalu berharap menempati kedudukan mulia di surga. Alangkah percaya dirinya seseorang yang merasa cukup dengan ibadah-ibadah yang dilakukan dengan tergesa-gesa dan jauh dari sempurna, lalu mengharapkan ganjaran yang tiada tara.

 

اللّهُ أَكْبَرْ اللّهُ أَكْبَرْ لاَ إِلَهَ إِلّاَ اللّه اللّهُ أَكْبَرْ اللَّهُ أَكْبَرْ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Jamaah Shalat Ied rahimakumullah

Ada pelajaran menarik dari kisah seorang shalih. Suatu kali ia melakukan suatu perjalanan dan di tengah perjalanan ia mencari tempat untuk menunaikan hajatnya. Tampak seorang pemuda berjaga di tempat tersebut, lalu mengatakan, “jika kamu mau masuk ke tempat ini, maka kamu harus membayarnya.” Mendengar ucapan tetersebut orang shalih tadi terdiam dan menitikkan air mata. Pemuda itu pun heran dan berkata, “Jika kamu tak punya uang, carilah tempat lain.” Laki-laki itu berkata, “Aku menangis bukan karena tidak memiliki uang. Aku menangis karena merenungi, jika tempat sekotor ini saja harus membayar untuk memasukinya, apalagi surga yang begitu indahnya.”

Selayaknya kita merenungi, apa yang telah kita lakukan untuk mendapatkan jannah. Berapa durasi waktu yang kita sediakan kemudian kita bandingkan dengan waktu dan usaha yang kita habiskan ketika hendak memperoleh sebagian dari kenikmatan dunia. Kita mengetahu surga itu mahal, tapi seringkali kita menghargainya terlalu murah.

 

اللّهُ أَكْبَرْ اللّهُ أَكْبَرْ لاَ إِلَهَ إِلّاَ اللّه اللّهُ أَكْبَرْ اللَّهُ أَكْبَرْ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

 Jamaah Shalat Ied rahimakumullah

Allah telah menawarkan ‘barang dagangannya’ kepada hamba-Nya dengan harga yang telah ditetapkan. Sebagaimana firman-Nya,

 إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.” (QS. At-Taubah: 111)

Ketika menafsirkan ayat ini, Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Allah mengabarkan bahwa Dia memberi ganti dari jiwa dan harta benda para hamba-Nya yang beriman dengan surga, lantaran mereka telah rela mengorbankannya di jalan-Nya. Ini merupakan karunia, kemuliaan dan kemurahan-Nya.”

 

اللّهُ أَكْبَرْ اللّهُ أَكْبَرْ لاَ إِلَهَ إِلّاَ اللّه اللّهُ أَكْبَرْ اللَّهُ أَكْبَرْ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Jamaah Shalat Ied rahimakumullah

Basyir bin al-Khashashiyyah Radhiyallahu ‘Anhu sebagiamana diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam mustadraqnya menuturkan, “Aku pernah mendatangi Rasulullah untuk bersyahadat. Maka beliau mensyaratkan kepadaku:

تَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَتُصَلِّي الْخَمْسَ ، وَتَصُوْمُ رَمَضَانَ وَتُؤَدِّي الزَّكَاةَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ وَتُجَاهِدُ فِي سَبِيْلِ اللهِ

Engkau bersaksi  tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, engkau shalat lima waktu, berpuasa Ramadhan, mengeluarkan zakat, berhaji ke Baitullah, dan berjihad di jalan Allah.

Dia melanjutkan, “Aku berkata: ‘Wahai Rasulullah, ada dua yang aku tidak mampu; pertama zakat, karena aku tidak memiliki sesuatu kecuali sepuluh dzaud (sepuluh ekor unta) yang merupakan titipan dan kendaraan bagi keluargaku. Kedua jihad, karena orang-orang yakin bahwa yang lari ketika perang maka akan mendapat kemurkaan dari Allah, sedangkan aku takut jika ikut perang lalu aku takut mati dan ingin (menyelamatkan) diriku.”

Kemudian Rasulullah menggenggam tangannya lalu menggerak-gerakkannya sembari bersabda,

لَا صَدَقَةَ وَلَا جِهَادَ فَبِمَ تَدْخُلُ الْجَنَّةَ ؟

Tidak shadaqah dan tidak jihad? Dengan apa engkau masuk surga?

“Lalu aku berkata kepada Rasulullah,” kata Basyir, “Aku berbaiat kepadamu, maka baiatlah aku atas semua itu.”

Pertanyaan Rasulullah, “dengan apa engkau hendak masuk surga” menjadi tamparan keras bagi siapa saja yang ingin mendapatkan surga dengan harga yang murah. Seakan jannah bisa dimiliki hanya dengan sedikit pengorbanan. Atau hanya dengan mendermakan sisa-sia miliknya yang tidak lagi berharga. Sedangkan sesuatu yang berharga miliknya justru dia belanjakan untuk memenuhi keinginan nafsunya. Mereka merasa cukup menggunakan modal yang kecil untuk mendapatkan jannah…” Dengan modal apa engkau hendak masuk jannah?”

 

اللّهُ أَكْبَرْ اللّهُ أَكْبَرْ لاَ إِلَهَ إِلّاَ اللّه اللّهُ أَكْبَرْ اللَّهُ أَكْبَرْ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

Jamaah Shalat Ied rahimakumullah

Kemuliaan seseorang, juga kenikmatan yang akan diraih seseorang tergantung pada pengorbanan yang ia curahkan. Namun, banyak orang yang belum memahami makna pengorbanan tersebut.

Secara bahasa, at-tadhhiyah atau pengorbanan adalah ketika seseorang mendermakan dirinya, ilmunya, dan hartanya tanpa imbalan. Adapun pengorbanan yang dituntut secara syar’i adalah mendermakan jiwa, waktu maupun harta demi tujuan paling mulia, untuk target yang paling diharapkan di mana pengharapan itu tertuju kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Pengorbanan bisa dilakukan dengan harta. Yakni ketika dia mendermakan hartanya di jalan Allah tanpa mengharap apapun selain Allah. Baik mendermakan sebagai bentuk ibadah seperti udhhiyah (menyembelih hewan qurban), berhaji, berzakat, dan semisalnya, maupun terkait dengan sedekah kepada sesama dengan mengharap imbalan kepada Allah. Begitupun mendermakan harta untuk kepentingan jihad fi sabililah. Bahkan, ketika seseorang rela keluar dari pekerjaan yang haram karena mengharap ridha Allah, maka dia telah berkorban dengan hartanya.

SUDAH PUNYA MAJALAH AR-RISALAH EDISI TERBARU? KLIK DI SINI UNTUK MENDAPATKAN

Pengorbanan juga bisa dilakukan dengan mencurahkan waktu, tenaga dan pikirannya untuk menuntut ilmu syar’i, mengamalkan dan mendakwahkannya. Dan sesuatu yang paling berharga untuk dikorbankan adalah nyawa yang dipersembahkan di jalan Allah.

Generasi pilihan di kalangan para sahabat memahami konsekuensi untuk meraih jannah. Bahwa ia harus ditebus dengan sesuatu yang paling berharga miliknya. Seperti Mush’ab bin Umair setelah keislamannya, ia rela diboikot keluarganya demi keimanannya. Yang semula dimanja dengan kemewahan, pakaian indah nan wangi harus memakai pakaian yang kasar. Dia habiskan masa mudanya untuk berdakwah ke Madinah dengan dakwah yang begitu berkah, hingga pada akhirnya dia gugur sebagai syahid, beliau korbankan nyawanya untuk Allah.

Setidaknya kisah hidup beliau menjadi cermin bahwa kita belum apa-apa, belum seberapa pula pengorbanan kita untuk Pencipta. Sekaligus menjadi pengingat bahwa pengorbanan kita mestinya fokus demi penghambaan kita kepada Allah Ta’ala. Bukan demi pujian atau kenikmatan dunia yang sementara. Agar terwujud ikrar yang kita ucapkan, “Inna shalaati wa nusuki wamahyaaya wa mamati lilahi Rabbil ‘alamin”, sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku adalah bagi Rabb semesta alam.

Baarakallahu lii walakum fil quraanil kariim wa nafa’ani wa iyyaaku bimaa fiihi minal aayaati wa dzikril hakiim, innahu huwal ghafuurur raahiim.

Marilah kita akhiri khutbah Ied ini dengan berdoa kepada Allah:

الَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَعَلَىخُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِمْ وَطَرِيْقَتِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

اللهم اغفِرْ لِلْمُسْلِمينَ وَالمْسُلْماتِ والمؤمنينَ والمؤمناتِ وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَاَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ

اللهمَّ انْصُرْ جُيُوسَ المُسْلِمِيْنَ وَعَسَاكِرَ المُوَحِّدِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَكَ أَعْدَاءَ الدِّينِ وَأَعْلِ كَلِمَتَكَ إلي يَوْمِ الدِّينِ اللهُمَّ انْصُرْ دُعَاتَنَا وَعُلَمَائنَاَ المَظْلوُمِيْنَ تَحْتَ وَطْأَةِ الظالِمِين وَفِتْنَةِ الفَاسِقِينَ وَحِقْدِ الحَاقِدِيْنَ وَبُغْضِ الحَاسِدِين وَخِيَانَةِ المُنَافِقِيْنَ

اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُولُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مُصِيبَاتِ الدُّنْيَا ، وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا ، وَأَبْصَارِنَا ، وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا ، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا ، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا ، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا ، وَلا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا ، وَلا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا ، وَلا مَبْلَغَ عِلْمِنَا ، وَلا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لا يَرْحَمُنَا

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ وَصَلِّ اللَّهُمَّ عَلي خَيْرِ خَلْقِكَ وَأَفْضَلِ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ وَعَلي آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا

وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ العَالمَين

 

DOWNLOAD PDF KLIK DI SINI!

Tips Memilih dan Menyajikan Materi Khutbah Jumat

Anda khatib Jumat? atau takmir masjid yang sedianya harus selalu siap di hari Jumat sebagai pengganti khatib utama? Atau anda belum pernah berkhutbah sebelumnya dan hendak khutbah tapi bingung menentukan materi khutbah Jumat yang pas bagi hadirin?

Yakin materi khutbah yang hendak anda sampaikan menarik bagi para jamaah? dan yakin jamaah mau mendengarkan?

Di bawah ini ada beberapa tips yang bisa anda gunakan dalam meramu dan memilih materi khutbah Jumat agar pas dan menarik bagi para jamaah, dan merekapun hadir di sidang shalat jumat bukan hanya sekedar melepas rutinitas tapi mendegarkan dengan seksama.

Tips-tips berikut sebagiannya adalah metode umum dalam menyusun naskah, baik untuk khutbah maupun pembuatan makalah. Karena pada dasarnya, tidak ada trik rahasia yang bisa menyulap racikan materi atau penyampaian khutbah menjadi luar biasa dalam seketika.

Untuk mewujudkan khutbah yang luarbiasa dibutuhkan tehnik penyajian dan retorika yang baik juga proses dan pembelajaran. Pengalaman dan jam terbang juga akan menjadi tangga yang harus dilalui
untuk mendapatkan hasil terbaik.

Tips-tips berikut sifatnya hanyalah saran, bukan aturan baku. Adakalanya sebagiannya tidak perlu dipakai jika dirasa kurang pas dengan situasi yang dihadapi.

 

TIPS MEMILIH TEMA

1. PILIH TEMA SESUAI DENGAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN PENGAMALAN PENDENGAR TENTANG ISLAM

Point ini kami letakkan di awal karena nilai urgensinya. Tema yang baik haruslah tema yang sesuai dengan tingkat pengetahuan dan pengamalan pembaca. Sesuai dalam arti bisa dipahami dan tidak muluk-muluk. Bukan berarti tema yang dipilih itu-itu saja alias tidak meningkat, tapi dalam memilih tema hendaknya mempertimbangkan kemampuan serap audiens secara umum terhadap tema yang diangkat. Ini penting karena tema yang muluk-muluk berpotensi tak dapat dipahami bahkan bisa pula disalahpahami. Tema-tema beraroma teoritis bisa diterima di khutbah jumat masjid kampus, tapi tidak untuk masjid kampung. Bukan berarti khatib harus repot-repot melakukan riset pada tingkat pemahaman pendengar, cukup mengira dari segi daerah atau letak masjid yang ditempati pun bisa.

2. PILIH TEMA SESUAI KEBUTUHAN PENDENGAR

Kebutuhan yang dimaksud adalah kebutuhan masyarakat terhadap suatu penjelasan (bayan) atau ilmu dari syariat. Misalnya, di masyarakat tengah menjamur tren kuliner masakan dari binatang-binatang
haram. Maka yang dibutuhkan masyarakat saat itu adalah kebutuhan terhadap bayan atau penjelasan mengenai berbagai makanan yang haram; landasan dalilnya, madharatnya, serta berbagai hal terkait dengan tema tersebut. Tema yang sesuai kebutuhan akan lebih efektif dan tepat guna karena nilai aktualitasnya.

3. CARI TEMA BARU YANG PADAT-BERISI DAN MENCERAHKAN

Menyesuaikan tema dengan kebutuhan pendengar dalam beberapa kondisi sifatnya sangat kontesktual. Artinya, hanya jika ada masalah, isu atau kasus yang perlu direspon. Dan itu tidak kita dapatkan setiap
Jumat. Pada Jumat-jumat biasa, perlu kiranya kita berikan tema-tema baru yang terukur dalam level yang bisa diterima audiens. Misalnya tema-tema berunsur tauhid atau tazkiyatun nafs (penyucian jiwa).

 

TIPS MENYAJIKAN TEMA

Beberapa trik berikut ini adalah trik untuk membuat naskah khutbah lengkap. Asumsinya, Anda akan menyampaikan khutbah dengan menggunakan teks khutbah lengkap, mulai dari pembukaan, isi hingga penutupan. Bagi yang sudah terbiasa berkhutbah hanya dengan membawa point-point pokoknya, trik-trik berikut bisa berfungsi sebagai penambah pengetahuan.

1. Pilih salah satu tema yang anda inginkan. Anda bisa mengambil tema dari satu bab dalam sebuah buku, atau dari inspirasi sendiri.

2. Pilih ayat-ayat al-Qur’an berkenaan dengan tema tersebut yang paling mencakup dan mengena. Dalam buku ini kami telah memilihkan untuk Anda.

3. Pilih hadits-hadits yang paling mencakup yang menjelaskan masalah yang diangkat. Anda bisa menggunakan program kumpulan hadits atau buku-buku hadits shahih yang hari ini sudah banyak diterjemahkan.

4. Cari keterangan ulama yang gamblang dalam menjelaskan tafsir atau syarh (penjelasan) dari tema, untuk dinukil dalam teks khutbah. Keterangan ulama ini bisa didapat dari tafsir ayat terkait atau penjelasan syarh hadits yang dinukil. ini akan memperkuat nilai ilmiyah sebuah ceramah.

5. Cari kisah-kisah dari para ulama salaf atau bisa juga kisah nyata hari ini sesuai tema anda. Usahakan –jika memang ada- dalam khutbah kita ada satu atau dua nukilan kisah sebagai gambaran implementasi dari tema. Orang Arab mengatakan, “bil mitsal tattadhihul maqal” dengan contoh, penjelasan akan menjadi gamblang.

6. Akan lebih unik jika mampu membuat semacam analogi atau perumpamaan pada keterangan yang anda sampaikan. Bagi yang memiliki pengetahuan dalam bahasa Jawa atau Arab misalnya, disana ada banyak permisalan yang bisa digunakan.

7. Ada baiknya menghafal ayat atau hadits yang akan dijadikan rujukan utama.

Ini akan membantu menggenjot performa dan kepercayaan diri anda, juga menambah kemantapan para pendengar. Meskipun membawa materi khutbah lengkap, sebaiknya jangan terlalu terkungkung dengan teks. Menghafal ayat, hadits, atau cerita akan lebih mengesankan.

8. Soal referensi tidak harus disebutkan terlalu detail.

Jika hadits cukup disebutkan riwayat siapa, tidak perlu sampai menyebutkan nomor dan halaman. Jika nukilan dari buku, cukup sebutkan dari buku apa atau penulisnya. Yang penting kita yakin bahwa yang kita sampaikan memiliki rujukan valid meski tidak kita sampaikan. Sebab, ini khutbah bukan makalah, waktunya singkat dan yang dibutuhkan audiens adalah materi yang langsung bisa dicerna.

9. Hindari memilih tema yang dimaksudkan untuk menyindir seseorang.

Tema semacam ini rawan rancu dan tidak bisa dipahami oleh hadirin karena mereka tidak memahami konteks. Hindari pula mencela kelompok/organisasi Islam lain secara spesifik, kecuali yang memang terbukti sesat, juga memuji atau mencela secara berlebihan dan emosional.

Demikian beberapa tips dalam memilih materi khutbah jumat agar menarik perhatian audience. sekali lagi, hasil yang maksimal tentunya ditentukan oleh masing-masing orang, penilaian khutbah juga bisa berbeda-beda bagi setiap orang. Semoga bisa mempermudah pembaca dalam memilih materi khutbah jumat.

 

Majalah ar-risalah/Redaksi

Khutbah Jumat: Mengubah Misi Hidup dari Main-main Menjadi Bukan Main

 

MATERI KHUTBAH JUMAT

Mengubah Misi Hidup dari Main-main Menjadi Bukan Main

Oleh: Majalah ar-risalah

 

إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِالله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى الله عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْراً

يَاأَيُّهاَ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِوَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ؛

فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

 

 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Marilah senantiasa kita panjatkan syukur kita kepada Allah atas setiap nikmat yang dikaruniakan kepada kita. Syukur secara lisan dengan mengucapkan alhamdulillah dan menyebut-nyebut bahwa nikmat tersebut dari Allah, maupun secara amal. Caranya dengan menggunakan seluruh karunia Allah untuk kebaikan dan menjalankan syariatnya sebaik-baiknya. Bukan untuk melanggar larangan-Nya. Itulah hakikat syukur yang sempurna.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi agung Muhammad SAW, juga kepada keluarga, para shahabat dan orang-orang yang senantiasa mengikuti sunah beliau. Kita mengucapkan shalawat dan salam atas beliau, bukan karena beliau membutuhkan doa keselamatan dari kita dan agar beliau selamat dan sejahtera, tapi doa kesejahteraan dan keselamatan dalam shalawat itu akan kembali kepada kita. Rasulullah bersabda, “ Barangsiapa membaca shalawat untukku satu kali, Allah akan memberikan shalawat (kesejahteraan dan keselamatan) untuknya 10 kali.” (HR. Muslim).

Selanjutnya, marilah kita tingkatkan ketakwaan dan ketaatan kita kepada Allah Ta’ala. Karena takwa adalah nilai yang akan menentukan kedudukan kita di sisi Allah. Takwa bukan sekadar takut, tapi kekuatan, kesemangatan dan keikhlasan dalam menjalankan perintah-perintah-nya dan menjauhi larangan-Nya.

 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Ada sebuah kisah yang menggugah jiwa dari kelalaian, dari seoang ahli ibadah terkenal bernama Ibrahim bin Adham. Ibrahim bin Adham termasuk keturunan orang terpandang. Ayahnya dikenal kaya, memiliki banyak pembantu, kendaraan dan kemewahan. Ia terbiasa menghabiskan waktunya untuk menghibur diri dan bersenang-senang. Hidup penuh kesenangan hingga lupa sebuah hakikat “untuk apa sebenarnya diciptakan”?

Ketika ia sedang berburu, tak sengaja beliau mendengar suara lantunan firman Allah Ta’ala,

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثاًوَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لاتُرْجَعُونَ

“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami. “(QS. al-Mukminun: 115)

Serasa disambar petir. Ayat itu betul-betul menyentak beliau. Menggugah kesadaran, betapa selama ini telah bermain-main dalam menjalani hidup. Padahal hidup adalah pertaruhan, yang kelak akan dibayar dengan kesengsaraan tak terperi, atau kebahagiaan tak tertandingi. Yakni saat di mana manusia dikembalikan kepada Allah untuk mempertanggungjawabkan apa yang telah diperbuat. Sejak itulah beliau tersadar, dan itulah awal beliau meniti hidup secara semestinya, hingga saksi sejarah mencatat beliau sebagai ahli ibadah dan ahli ilmu yang ‘bukan main’.

 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Rasa-rasanya, ayat ini seperti belum pernah diperdengarkan di zaman kita ini. Meski tidak terungkap kata, tetapirealitamemberi buktinya; banyak manusia yang menganggap dan menjadikan hidup ini tak lebih dari  iseng dan main-main. Berpindah dari satu hiburan ke hiburan lain, dari satu kesenangan menuju kesenangan lain, seakan hanya untuk itulah mereka diciptakan.

Ayat ini menjadi peringatan telak bagi siapapun yang tidak serius menjalani misi hidup yang sesungguhnya. Kata ‘afahasibtum’, ( maka apakah kamu mengira), ini berupa istifham inkari, kata tanya yang dimaksudkan sebagai sanggahan. Yakni, sangkaan kalian, bahwa Kami menciptakan kalian hanya untuk iseng, main-main atau kebetulan itu sama sekali tidak benar. Dan persangkaan kalian, bahwa kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami, adalah keliru.

Allah tidak akan membiarkan manusia melenggang begitu saja, bebas berbuat, menghabiskan jatah umur, lalu mati dan tidak kembali,

”Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)?” (QS. Al-Qiyamah: 36)

Persangkaan yang keliru itu, membuat manusia liar dalam menjalani hidup. Berjalan tanpa panduan arah yang jelas, terseok dan tertatih di belantara kesesatan.

Hanya ada tiga ’guide’ (penunjuk) yang mungkin akan mereka percaya untuk memandu jalan. Pertama adalah hawa nafsu. Dia berbuat dan berjalan sesuai petunjuk nafsu. Apa yang diingini nafsu, itulah yang dilakukan. Kemana arah nafsu, kesitu pula dia akan berjalan. Padahal, nafsu cenderung berjalan miring dan bengkok, betapa besar potensi ia terjungkal ke jurang kesesatan.

Pemandu jalan kedua adalah setan. Ketika seseorang tidak secara aktif mencari petunjuk sang Pencipta sebagai rambu-rambu jalan, maka setan menawarkan peta perjalanan. Ia pun dengan mudah menurut tanpa ada keraguan. Karena sekali lagi, dia tidak punya ’kompas’ yang bisa dipertanggungjawabkan dalam menentukan arah perjalanan. Sementara, peta yang disodorkan setan itu menggiring mereka menuju neraka yang menyala-nyala,

”Sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni naar yang menyala-nyala.” (QS. Fathir: 6)

Rambu-rambu ketiga adalah tradisi orang kebanyakan. Yang ia tahu, kebenaran itu adalah apa yang dilakukan banyak orang. Itulah kiblat dan barometer setiap tingkah laku dan perbuatan. Padahal,

1.

” Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang dimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan-Nya.” (QS. al-An’am: 116)

 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Allah menciptakan manusia untuk tugas yang sangat agung; agar mereka beribadah kepada-Nya. Untuk misi itu, masing-masing diberi tenggat waktu yang sangat terbatas di dunia. Kelak, mereka akan mempertanggungjawabkan segala perilakunya di dunia, adakah mereka gunakan kesempatan sesuai dengan misi yang diemban? Ataukah sebaliknya; lembar catatan amal dipenuhi dengan aktivitas yang sama sekali tidak berhubungan dengan apa yang diperintahkan.

Di hari di mana mereka dinilai atas kinerja mereka di dunia, tak ada satu episode pun dari kehidupan manusia yang tersembunyi dari Allah. Bahkan semua tercatat dengan detil dan rinci, hingga manusiapun terperanjat dan keheranan, bagaimana ada catatan yang sedetil itu, mereka berkata,

2.

”Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis).” (QS. al-Kahfi: 49)

Sebelum peluang terlewatkan, hendaknya kita bangun motivasi, untuk menjadikan hidup lebih berarti. Mudah-mudahan, fragmen singkat di bawah ini membantu kita untuk membangkitkan semangat itu.

Suatu kali Fudhail bin Iyadh bertanya kepada seseorang, “Berapakah umur Anda sekarang ini?” Orang itu menjawab, “60 tahun.” Fudhail berkata, “Kalau begitu, selama 60 tahun itu Anda telah berjalan menuju perjumpaan dengan Allah, dan tak lama lagi perjalanan Anda akan sampai.”

“Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’un,” tukas orang itu.

Fudhail kembali bertanya, ”Tahukah Anda, apa makna kata-kata yang Anda ucapkan tadi? Barangsiapa yang mengetahui bahwa dirinya adalah milik Allah, dan kepada-Nya pula akan kembali, maka hendaknya dia menyadari, bahwa dirinya kelak akan menghadap kepada-Nya. Dan barangsiapa menyadari dirinya akan menghadap Allah, hendaknya dia juga tahu bahwa pasti dia akan ditanya. Dimintai pertanggungjawaban atas tindakan yang telah dilakukannya. Maka barangsiapa mengetahui dirinya akan ditanya, hendaknya dia menyiapkan jawaban.”

Orang itu bertanya, ”Lalu, apa yang harus aku lakukan sekarang? Sedangkan kesempatan telah terlewat?”

Fudhail menjawab, ”Hendaknya Anda berusaha memperbagus amal di umur yang masih tersisa, sekaligus memohon ampunan kepada Allah atas kesalahan di masa lampau.”

 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Demikianlah. Hidup ini bukanlah kehidupan yang sia-sia, hanya main-main dan kebetulan belaka. Ada hari pembalasan, ada masa pertanggungjawaban. Yang menyia-nyiakan kehidupan, bencanalah yang ia dapatkan. Tapi yang mempersiapkan dan menggunakan untuk kebaikan, dialah yang berhak mendapat keberuntungan. Kita berdoa, semoga kita mampu mengubah hidup kita, dari main-main, menjadi bukan main. Amien.

وَالْعَصْرِ {1} إِنَّ الإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ {2} إِلاّ َالَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ }

 

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ الْكَرِيْمِ الْمَنَّانِ الرَّحِيْمِ الرَّحْمَنِ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى حَمْدًا يَدُوْمُ عَلَى الدَّوَامِ، وَأَشْكُرُهُ عَلَى الْخَيْرِ وَاْلإِنْعَامِ، وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ مِنَ الذُّنُوْبِ.أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ

 

اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مَحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ صَلاَةً وَسَلاَمًا دَائِمَيْنِ مَتُلاَزِمَيْنَ عَلَى مَمَرِّ اللَّيَالِيْ وَالزَّمَانِ، وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا

 

إِنَّ الله َوَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَىالنَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ  وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأصْحَابِهِوَمَنْ تَبِعَهُ بِإحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ  مُجِيْبُ  الدّعَوَاتِ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

اَللَّهُمَّ لاَتُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ

اَللَّهُمَّ اغْفِر لَناَ وَلِوَالِديْناَ وَلِلمُؤمِنِينَ يَومَ يَقُومُ الحِسَابُ

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّبُ الرَّحِيْمِ

 رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ

عِبَادَ الله،إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْا عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُاللهِ أَكْبَرُ

 

Download versi Pdf Khutbah Jumat di sini: KHUTBAH JUMAT

Khutbah Jumat: Solusi Andalan Saat Sulit Dan Terjepit

الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أشْهَدُ أنْ لاَ إِلٰه إلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Kita bersyukur kepada Allah ta’ala atas segala limpahan nikmat dan karunianya. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi agung Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga juga siapapun yang mengikuti sunahnya hingga akhir zaman.

Selanjutnya, marilah kita tingkatkan kualitas takwa kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Karena takwa adalah ukuran derajat kita dihadapan Allah. Mulia atau hina diri kita dalam pandangan Allah tergantung pada ketakwaan kita.

 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Allah berfirman:

أَمَّن يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ ۗ أَإِلَـٰهٌ مَّعَ اللَّـهِ ۚ قَلِيلًا مَّا تَذَكَّرُونَ

 “ Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan.” (QS. an-Naml: 62)

Betapa sering manusia menghadapi masa-masa sulit, situasi terjepit atau didera timbunan problem yang terus menghimpit. Dengan kelemahannya sebagai manusia, seringkali manusia juga menemui jalan buntu dalam menghadapi masalah. Ikhtiar dengan pikiran dan tenaga yang telah mencapai klimaksnya, pada beberapa kasus juga belum bisa mengatasi persoalan.

Untuk itu, manusia berusaha mencari alternatif lain, entah dengan maksud sebagai pelengkap, penyempurna, atau bahkan sebagai pengganti dari ikhtiar yang rasional. Banyak sekali pilihan alternatif dicari, dan banyak pula tawaran tersaji. Sayangnya, seringkali pilihan itu jatuh semata-mata mempertimbangkan ‘yang penting tujuan tercapai’, meski harus menabrak aturan syar’i.

 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Di balik hiruk pikuknya manusia mencari jalan keluar yang irasional itu, kebanyakan mereka melupakan hal yang paling penting untuk diingat ketika itu. Bahwa, ketika seseorang dalam kondisi sulit, terjepit dan terhimpit itu sebanarnya menjadi modal paling besar untuk berdoa. Andai saja mereka mau berdoa kepada Allah agar diberi jalan keluar, kemudahan, kelapangan dan keselamatan, niscaya Allah akan mengabulkan. Karena Allah berfirman,

Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan.”

Ya, Dialah Allah yang mengabulkan doa orang yang sakit, apalagi ketika segala usaha telah ditempuh semampunya demi kesembuhannya. Ketika dokter angkat tangan untuk mengatasi, berbagai cara pengobatan yang masuk akal telah dijalani. Meskipun, tentu saja seorang muslim tidak akan menunggu jalan buntu untuk berdoa kepada sang Pencipta.

Suatu hari, Ubaidullah bin Abi Shalih sakit dan dijenguk oleh Thawus bin Kaisan, ia berkata, “Doakan untuk kesembuhanku wahai Abu Abdirrahman (Thawus)!” Ubaidullah meminta Thawus karena memandang bahwa beliau seorang ulama dan juga ahli ibadah. Akan tetapi, Thawus rahimahullah justru berkata, “Berdoalah untuk dirimu sendiri, karena Allah memperkanankan doa orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya.” Ini bukan karena Thawus menolak untuk mendoakannya, tapi beliau hendak menegaskan, bahwa doa orang yang sakit itu mustajab jika ia mau berdoa.

 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Allah lah yang mampu menyelamatkannya, saat fisik tak lagi kuat bertahan, akal sudah buntu untuk mencari jalan keluar, tapi terkabulnya doa justru makin terbuka lebar. Bahkan Allah menyelamatkan orang-orang musyrik yang menghadapi bahaya di tengah laut, yang dalam keadaan kepepet, namun mereka tahu hanya Allah yang mampu menolong mereka, meskipun mereka memiliki banyak sesembahan,

وَإِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فِي الْبَحْرِ ضَلَّ مَن تَدْعُونَ إِلَّا إِيَّاهُ ۖ فَلَمَّا نَجَّاكُمْ إِلَى الْبَرِّ أَعْرَضْتُمْ ۚ وَكَانَ الْإِنسَانُ كَفُورًا

“Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia, Maka tatkala Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. dan manusia itu adalah selalu tidak berterima kasih.” (QS. al-Isra’: 67)

Ibnu Katsier menceritakan perihal ayat tersebut, “Ketika Ikrimah bin Abu Jahal hendak lari dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam peristiwa Fathul makkah, dia menaiki kapal menuju Habsyah. Tiba-tiba badai pun datang, lalu orangorang saling berkata, “Tak ada lagi yang bisa kalian perbuat selain berdoa hanya kepada Allah semata.” Ketika itu Ikrimah berkata dalam hati, “Demi Allah, jika tidak ada yang bisa memberikan manfaat di laut selain Allah, maka tiada pula yang mampu memberi manfaat di darat selain Dia. Ya Allah, saya berjanji, jika Engkau menyelamatkan aku dari badai ini, sungguh aku akan datang dan meletakkan tanganku di atas tangan Nabi, dan aku dapatkan beliau dalam keadaan lembut dan santun.” Akhirnya mereka bisa selamat dari bahaya di laut itu. Ikrimah kembali kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu masuk Islam dan bagus keislamannya, semoga Allah meridhainya dan menjadikan ia ridha.”

Sayangnya, sangat sedikit orang semisal Ikrimah, yang bisa mengambil pelajaran berharga saat kondisi sulit menghimpit. Kebanyakan mereka kembali musyrik setelah selamat sampai di darat. Karenanya, Allah menyebutkan di ayat tersebut, “Dan manusia itu adalah selalu tidak berterima kasih”, yakni kebanyakan dari mereka.

 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Tapi, keadaan orang sekarang, kebanyakan lebih parah daripada orang-orang musyrik yang hanya mentauhidkan Allah dalam doanya saat terjepit, namun akhirnya kembali lupa setelah mereka selamat dan berada di tempat yang aman.

Mereka dikatakan kufur oleh Allah, pun begitu masih memiliki sisi lebih dari orang-orang musyrik hari ini. Di mana mereka hanya mengingat Allah dalam doanya saat kepepet. Mereka melupakan sesembahan mereka berupa batu, pohon, jimat dan para dukun. Mereka yakin, saat seperti itu, hanya Allah yang mampu menolong.

Bandingkanlah kondisi mereka dengan orang-orang musyrik hari ini. Ketika ekonomi sulit, ketika terjangkiti penyakit, ketika dijerat hutang yang membelit dan ketika didera urusan yang serba sulit, mereka justru melupakan Allah. Yang pertama mereka ingat justru jin penunggu, batu akik, rajah dan jimat, atau orang sakti yang telah mati. Tempat pertama yang mereka tuju justru para dukun, kuburan dan tempat-tempat keramat.

Di manakah iman mereka, di manakah akal mereka. Peluang terkabulnya doa saat kondisi sulit mereka sia-siakan, justru mereka beralih kepada cara dan tempat yang tak jelas hasilnya, namun sudah pasti kesesatannya.

Semoga Allah Ta’ala senantiasa memelihara dan menjaga iman, tauhid dan ketakwaan kita. amin.

 

 

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

 

KHUTBAH KEDUA

 

إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أشْهَدُ أنْ لاَ إِلٰه إلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

اللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُجَاهِدِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ،

اللَّهُمَّ وَحِّدْ صُفُوْفَهُمْ وَسَدِّدْ رَمْيَهُمْ وَثَبِّتْ أَقْدَامَهُمْ وَاجْمَعْ كَلِمَاتِهِمْ وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ

اللَّهُمَّ أَفْرِغْ فِي قُلٌوْبِهِمْ صَبْرًا، يَا إِلَهَ الْحَقُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ

اللَّهُمَّ دَمِّرْ أَعْدَائَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، اللَّهُمَّ مَزِّقْ صُفُوْفَهُمْ، وَشَتِّتْ شَمْلَهُمْ وَفَرِّقْ جَمْعَهُمْ، وَمَزِّقْهُمْ كُلَّ مُمَزَّقٍ، يَا عَزِيْزُ ذُو انْتِقَامٍ

اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، اللَّهُمَّ ارْحَمْ نِسَائَهُمْ وَصِبْيَانَ هُمْ، اللَّهُمَّ ارْحَمْ ضُعَفَاءَ هُمْ، اللَّهُمَّ دَاوِ جَرْحَهُمْ وَاشْفِ مَرْضَاهُمْ

رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالمُنْكَرِ وَالبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

وَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ الْجَلِيْلَ يَذْكُرْكُمْ، وَأَقِمِ الصَّلَاة

 

Oleh: Majalah ar-risalah/Materi Khutbah Jumat

Materi Khutbah Jumat Lainnya:
Minder Taat Akhirnya Maksiat,
Kandas Karena Malas
Pejabat; Orang yang Paling Butuh Nasihat

 

Kultum Ramadhan: Yang Mengerikan di Bulan Ramadhan

Ramadhan memang istimewa. Segala peluang kebaikan dibuka, pintu-pintu keburukan ditutup, dan penghalang-penghalang ketaatan disingkirkan. Seumpama taman indah, Ramadhan memang tampak elok di segala sisinya, dan harum semerbak wanginya. Saking kuatnya aroma, semua orang merasa menjadi pemiliknya, semua orang merasa mendapat keberuntungan saat berada di dalamnya.

Padahal, meski peluang terbuka untuk semua, tak semua orang bisa mereguk keindahannya. Karena di tengah taman itu, ada yang justru memilih ‘comberan’nya, tapi tidak semua orang bisa beruntung mengambil manfaat darinya. Jika diibaratkan senjata, Ramadhan laksana pedang bermata dua. la menjadi senjata yang ampuh untuk memenangkan pemiliknya. Tapi tidak mustahil, senjata itu justru ‘memakan’ tuannya. Telah banyak sudah catatan dan ceramah tentang sisi keindahan Ramadhan, maka ada baiknya kita juga mengetahui sisi lain yang perlu diwaspadai pada bulan Ramadhan. Bahwa ada yang menakutkan, atau bahkan mangerikan dibalik hadirnya bulan Ramadhan. 

Baca Juga: Hukum Suntikan di Siang Hari Ramadhan

Pertama, bahwa Ramadhan memang bulan dibukanya pintu-pintu jannah, akan tetapi bagi orang-orang tertentu, Ramadhan justru menjadi  syahrul hirmaan (bulan terhalangnya) masuk jannah dan makin lancer masuk neraka. Yakni bagi mereka yang tidak menjadikan Ramadhan sebagai peluang untuk mendapatkan  pengampunan dari Allah.

Abu Hurairah meriwayatkan, bahwa suatu kali Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam naik mimbar, Ialu beliau berkata, “aamiin…aamiin…aamiin!” Lalu beliau ditanya, “Duhai Rasulullah, ada apakah gerangan sehingga tatkala Anda naik mimbar membaca, “aaminnn.. aamiin..aamiin?” Beliau bersabda,

 

«إن جبريل عليه السلام أتاني فقال : من أدرك شهر رمضان ، فلم يغفر له ، فدخل النار ؛ فأبعده الله ، قل : آمين ، فقلت : آمين ، ومن أدرك أبويه أو أحدهما ، فلم يبرهما ، فمات ، فدخل النار ؛ فأبعده الله ، قل : آمين . فقلت : آمين ، ومن ذكرت عنده ، فلم يصل عليك ، فمات ، فدخل النار ؛ فأبعده الله ، قل : آمين . فقلت : آمين» 

Sesungguhnya Jibril mendatangiku, lalu berkata, “Barangsiapa yang bertemu dengan bulan Ramadhan namun ia tidak mendapatkan pengampunan lalu masuk neraka maka Allah akan menjauhkannya, Jibril berkata, “Katakan, Aamiin!” Maka aku pun mengatakan, ‘Aamiin.” (HR. Abu Dawud)

Bukankah ini berita yang mengerikan? Betapa tidak, Jibril yang mendoakan, Nabi shallallahu alaihiwasallam yang mengamini agar orang-orang yang tidak mendapatkan pengampunan di bulan Ramadhan masuk neraka. Yakni orang yang diberi peluang bertemu bulan Ramadhan, namun ia tidak menggunakan peluang dan kesempatan untuk mendapatkan pengampunan dari Allah, tidak pula berusaha menghapus dosa-dosanya dengan amal shalih dan istighfar. Mereka ini semakin dekat dengan neraka, di saat Allah mendekatkan banyak orang kedalam jannah. Tapi, yakinkah klta tidak termasuk di dalamnya?

Ramadhan dikenal pula sebagal bulan kebaikan dan penuh keutamaan. Namun bagi sebagian orang, datangnya Ramadhan justru menyebabkan ia semakin jauh dan terhalang dari kebaikan. Saat datangnya Ramadhan, Rasulullah memberikan kabar gembira bagi kaum muslimin dengan sabdanya,

 

أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ ، فَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ ، تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ ، وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ ، وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ لِلَّهِ ، فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ ، مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ “

“Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan yang diberkahi, di mana Allah mewajibkan shiyam di dalamnya, dibukakan pintu-pintu langit, ditutuplah pintu-pintu neraka, dan dibelenggulah setan-setan. Allah memilikl satu malam di dalamnya yang leblh baik dari seribu bulan, barang siapa terhalang mendapat kebaikan. maka sungguh dia benar-benar terhalang dari kebaikan.” (HR an-Nasa’i dan Tirmidzi, shahih)

Jika di waktu yang begitu kondusif untuk beramal kebaikan seseorang tidak mau mengambil manfaat, bagaimana halnya dengan bulan Iain yang lebih berat dan lebih banyak godaannya? Tentu makin jauhlah ia dari kebaikan.

Baca Juga: Ramadhan dan Kesulitan Hidup di Gaza

Bulan Ramadhan juga merupakan bulan dilipatgandakan pahala kebaikan, akan tetapi jangan sampai kita Iengah, karena dosa yang dilakukan saat Ramadhan juga lebih berat daripada dosa yang dilakukan di bulan yang lain. Karena ada unsur penodaan atas kemuliaan Ramadhan. Sebagaimana kita tahu, bahwa zina adalah dosa besar, tapi lebih besar lagi dosanya tatkala dilakukan di dalam masjid, karena ada unsur penodaan terhadap kemuliaan masjid.

lbnul Qayyim Rahimahullah berkata, “Berlipatnya dosa itu adalah dari sisi bobotnya, bukan jumlahnya, karena satu keburukan tetap dihitung sebagai satu dosa. Hanya saja kesalahan yang besar akan membuahkan dosa yang besar, sebagaimana kesalahan kecil diganjar dengan dosa yang kecil.” Maka dosa yang berkaitan dengan sesuatu yang dimuliakan Allah baik berupa waktu maupun tempat lebih besar bobotnya dibanding dosa yang dilakukan di tempat atau di waktu yang Iain.

Terakhir, pemandangan yang sering kita Iihat, seakan Ramadhan adalah bulan pesta makan-makan di malam hari, dan bulan membuang-buang waktu di siang hari. Ini jelas bertentangan dengan tujuan Ramadhan diadakan. Nikmat kesempatan ini akan dipertanggungjawabkan kelak pada hari kiamat. Dan ini akan memberatkan hisab bagi orang yang tidak memanfaatkan bulan Ramadhan dengan baik. Semoga kita dimudahkan Allah untuk melakukan kebaikan dan dijauhkan dari segala bentuk maksiat. Wallahu a’lam bishawab.

 

Oleh: Ust. Abu Umar Abdillah/Kultum Ramadhan/Materi Kultum

Jika Dosa Berbau

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, atas nikmat-nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Nikmat iman, nikmat Islam dan nikmat dapat membaca firman-firman-Nya yang terangkum dalam al-Quranul Karim. Itulah nikmat terbesar dalam hidup ini. Nikmat paling istimewa karena tanpanya, nikmat yang lain tidak akan berguna.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW. Juga kepada para shahabat, tabi’in dan orang-orang yang teguh mengikuti sunah Rasulullah sampai hari Kiamat.

Rasulullah senantiasa menasihatkan taqwa dalam setiap khutbahnya.Maka, khatib pun akan mengikuti sunah Beliau dengan menasehatkan wasiat serupa. Marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah. Berusaha menjalankan perintah-perintah-Nya dengan penuh cinta dan tidak  asal gugur kewajiban semata. Berusaha meninggalkan larangan-Nya, juga dengan penuh cinta meski sebenarnya nafsu sangat menginginkannya.

 

Jamaah jumat Rahimakumullah

Selain nikmat Islam dan al Quran, ada satu nikmat besar lagi yang Allah berikan kepada kita yang sering tidak kita sadari. Di dalam surat Luqman ayat 20 Allah berfirman,

أَلَمْ تَرَوْا أَنَّ اللَّـهَ سَخَّرَ لَكُم مَّا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً

“Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin…. (QS. Luqman:20)

Imam adh Dhahak, seorang pakar tafsir pada masa Tabi’in menjelaskan, maksud nikmat yang sifatnya lahiriyah adalah al-Islam dan al-Quran. Adapun nikmat yang sifatnya bathiniyah adalah Allah telah tutupi aib-aib kita. (Kitab Makarimal Akhlaq: 488)

Nikmat terbesar itu adalah ditutupinya aib-aib kita. Apa aib-aib itu? penyakit kulit yang memalukan? penyakit ayan? Kemandulan? Bukan! Penyakit-penyakit itu bisa jadi merupakan aib bagi kita tapi kita tidak perlu malu mengidapnya. Mengapa? Karena penyakit itu pemberian Allah. Lantas apa aib-aib memalukan yang Allah tutupi itu? Bukan lain adalah dosa-dosa kita. Dosa-dosa yang kita perbuat, tapi Allah tutupi dari pandangan manusia.

Dengan apa Allah menutupi dosa-dosa kita? Yaitu dengan mewujudkan dosa dalam bentuk abstrak; tidak berwujud, tidak berbau, tidak terasa, namun kita sebagai orang beriman yakin bahwa dosa itu ada. Catatan-catatan kesalahan dan kemaksiatan itu benar-benar nyata. Berada dalam genggaman malaikat-malaikat yang telah Allah perintahkan mengawasi kita saban hari. Raqib dan Atid.

 

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Bayangkan jika dosa itu berwujud. Taruhlah wujudnya berupa titik hitam pada organ manusia yang melakukan dosa. Sekali melakukan ghibah, misalnya, ada titik hitam di lidah. Sekali mata melihat maksiat, ada titik hitam pada area mata. Sekali tangan melakukan kemungkaran, ada titik hitam pada pergelangan. Dengan frekuensi dosa dan kesalahan yang kita lakukan, dalam kurun waktu lima tahun, barangkali tubuh kita sudah lebih hitam daripada kulit orang-orang Negro. Legam dipenuhi tanda dosa dan kesalahan.

Bayangkan pula jika dosa itu mewujud dalam bentuk bau. Sekali mulut mengucap kata keji, bau menyengat menyertai nafas. Sekali tangan melakukan kezhaliman, bau tak sedap keluar dari telapak tangan. Dan sekali telinga digunakan mendengar kemaksiatan, bau busuk keluar dari lobang telinga hingga tercium oleh siapa saja di dekatnya. Sebagai manusia awam yang sering kalah oleh nafsu, mungkin saat ini kita sudah jauh lebih bau daripada penampung kotoran.

Dan terakhir, jika dosa Allah wujudkan sebagai rasa sakit, subhanallah, entah sudah seperti apa jasad kita saat ini. Sekali saja hati bersuudzan kepada Allah, jantung terkena penyakit. Sekali saja kaki melangkah menuju tempat maksiat, rasa pegal, nyeri atau apapun bentuk rasa sakitnya segera menyerang daerah kaki. Demikian pula anggota badan yang lain. Dan saat kita menapaki umur yang mulai uzur, sementara taubat kita terus saja mundur, entah akan seperti apa raga kita akibat terpaan rasa sakit akibat dosa dan kesalahan yang kita lakukan.

 

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Memang, di satu sisi, tidak berwujudnya dosa justru melenakan jiwa. Kita jadi sering tidak sadar setelah melakukan dosa bahkan ketika dosa kita sudah sebanyak air di samudra. Namun di sisi lain, sebagai makhluk yang tidak bisa lepas dari dosa, salah dan lupa, tentu nikmat ini adalah nikmat yang besar bagi kita. Sebuah karunia yang nyata adanya, meski wujudnya adalah ketiadaan.

Nikmat ini adalah bentuk kasih sayang Allah kepada kita. Meskipun dosa telah tercatat, tapi masih ada taubat. Masih ada waktu untuk memperbaiki yang telah lalu. Masih ada maaf dan ampunan yang dapat menghapuskan kesalahan. Allah tidak serta merta memberikan hukuman atas segala kesalahan, tidak pula serta merta mengazab setiap perbuatan biadab. Allah wujudkan dosa hanya dalam sebuah catatan. Itupun hanyalah catatan yang sangat rapuh karena dapat segera luruh hanya dengan sekelumit istighfar dalam taubat yang utuh. Dapat terkikis habis hanya dengan penyesalan dan senggukan tangis, dan dapat musnah bahkan terganti dengan catatan kebaikan, jika diiringi taubat nasuha dan iringan iman juga amal keshalihan.

 

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Oleh karena Allah telah menutupi dosa kita, maka janganlah kita beberkan dosa-dosa kita di hadapan manusia. Satu hal yang paling Alalh murkai adalah ketika manusia membeberkan perbuatan dosanya, padahal Allah telah menutupinya.

Rasulullah bersabda, “Setiap umatku akan diampuni kecuali orang yang melakukan mujaharah (yaitu melakukan dosa terang-terangan).” (HR. Bukhari)

Dan celakanya, di masa ini, tidak sedikit orang tidak sadar telah melakukan Mujaharah (melakukan dosa terangan-terangan) dengan mengunggah perbuatan dosanya di media sosial. Ada muda-mudi yang mengunggah foto pacaran mereka, mengunggah foto saat minum minuman keras, mengunggah foto mesum, status atau tulisan yang berisi fitnah dan ghibah, dan lain sebagainya. Naudzubillah, semua itu sama saja dengan mempertontonkan dosa di hadapan manusia di dunia nyata. Itu mujaharah dosa, dan itu sangat dimurkai oleh Allah. Semoga Allah menghindarkan kita dari perbuatan semacam ini.

Sebagai akhir dari khutbah ini, marilah kita tambah rasa syukur kita kepada Allah atas nikmat-nikmat-Nya. Berusaha mengurangi kesalahan dan dosa dengan memohon ampunan dan melaukan amal kebaikan. Semoga Allah menjadikan kita hamba yang senantiasa mampu bertaubat dan beristighfar atas setiap dosa yang kita lakukan. Dan semoga pula, Allah senantiasa menutupi dosa-dosa kita lalu berkenan mengampuninya. Aamiin ya Rabbal ‘alamin. 

 

Oleh: Taufik Anwar 

 

Khutbah Lainnya: Belajar Syukur dari Lelaki Buntung, Agar Iman Tak Goyah Di Zaman Fitnah

Ujian Berat yang Melenakan

Selain silaturahim, liburan Syawal acapkali menjadi ajang reuni. Bertemu dengan kawan-kawan lama dengan segala profesinya saat ini. Ada yang dulu hidup susah, kini telah sukses dan punya mobil mewah. Ada juga yang mungkin bernasib sebaliknya,  dulu hidupnya gemah ripah tapi kini roda nasibnya sedang berada dibawah.Semua itu hal yang lumrah. Nasib manusia memang bisa berubah sesuai kehendak Allah.

Itulah lukisan kehidupan yang penuh warna. Dan kalau kita renungi, sebenarnya yang tengah melenggang di jalur kesuksesan dan yang sedang mendaki jurang kesusahan memiliki tantangan dan resiko sama beratnya. Yang hidupnya sedang susah, sabar menjadi keharusan. Hilangnya kesabaran akan menggelincirkannya ke dalam jurang kedurhakaan. Sedang yang tengah melaju nyaman di jalur kesuksesan, syukurlah yang tengah ditantang. Hilangnya syukur akan menumbuhkan kufur.

 

Ujian syukur lebih berat

Pada taraf tertentu, ujian atas kesyukuran akan lebih rumit dan sulit daripada ujian kesabaran. Letak kesulitannya ada pada sifat ujian yang melalaikan. Yang diuji sering tidak merasa sedang mengerjakan lembar soal, tapi sebaliknya, sedang menikmati nilai hasil belajar. Kesuksesan dan kenyamanan hidup membuat manusia lupa bahwa sejatinya ada sesuatu dalam dirinya yang sedang diuji secara ketat yaitu rasa syukurnya.

Standar minimal kelulusannya adalah ketika seseorang mampu secara jujur untuk senantiasa mengakui bahwa kesuksesannya adalah anugerah ilahi. Selanjutnya menggunakan semua nikmat itu sebagai sarana meraih kesuksesan di kehidupan berikutnya. Tapi, bahkan untuk memenuhi standar minimal ini, banyak kontestan uji syukur yang gagal.

Secara samar atau bahkan terang-terangan orang yang setelah sukses lupa kepada Allah dan berganti mendewakan kerja kerasnya. Kerja keraslah yang menjadi aspek utama keberhasilan hingga menjadi bahan utama dalam riwayat kesuksesan. Lautan keringat telah dilalui, beribu lelah dan letih telah dirasai, dan tembok-tembok  keputusasaan telah dilampaui. Inilah kristalisasi keringat, upah segala lelah dan dermaga bagi perahu asa berlabuh.

 

Baca Juga: Ketaatan Adalah Ujian

 

Yang lain begitu membanggakan kecerdasan. Kecerdasan pun beruntung disemati mahkota penghormatan sekaligus lencana tanda jasa bagi keberhasilannya. Kelincahan otaknya dalam menalar dan mengurai masalah memuluskan jalannya menuju puncak. Tapi, yang memberi otak tidak pernah disebut-sebut sama sekali.

Yang lebih parah dari semua adalah yang menganggap dia sukses berkat jimat. Awalnya mungkin ragu, benarkah jimat bisa bermanfaat? Tapi keraguan ditepis, siapa tahu namanya juga usaha. Dan akhirnya ketika Allah menghendakinya meraih kesuksesan, dia tersenyum. Tersenyum kepada si jimat dan mulai menanam rasa percaya padanya, “Tak kusangka, ternyata kamu hebat juga ya”.

Mirip Qarun

Dalam kitab al Fawaid (II/206), Ibnul Qayim al Jauziyah menjelaskan bahwa memang kebanyakan manusia seperti itu. Jika mendapat kesuksesan setelah lama berjibaku dalam lumpur kesengsaraan, dia akan menisbatkan sukses itu pada dirinya sendiri. Seperti ditegaskan dalam firman-Nya:

وَلَئِنْ أَذَقْنَاهُ رَحْمَةً مِنَّا مِنْ بَعْدِ ضَرَّاءَ مَسَّتْهُ لَيَقُولَنَّ هَذَا لِي

“Dan jika Kami merasakan kepadanya sesuatu rahmat dari Kami sesudah dia ditimpa kesusahan, pastilah dia berkata:”Ini adalah hakku…” (QS. 41:50)

 

Baca Juga: Ujian Untuk Orang Beriaman

 

Seseorang merasa berhak atas kesuksesan tersebut karena melihat segala usaha yang telah dilakukan, tanpa dibarengi pengakuan bahwa sejatinya semua itu adalah anugerah dari Allah. Ibnul Qayim lantas menghubungkan ayat ini dengan ucapan Qarun yang super congkak atas kesuksesannya memecahkan rekor manusia kaya yang bahkan mungkin belum tertandingi hingga kini. Bukannya bersyukur, Qarun malah menyombongkan diri dengan berkata, “Semua ini karena ilmu yang kumiliki”. Padahal semua itu adalah karunia Allah dan ujian baginya. Allah berfirman,

فَإِذَا مَسَّ الْإِنْسَانَ ضُرٌّ دَعَانَا ثُمَّ إِذَا خَوَّلْنَاهُ نِعْمَةً مِنَّا قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ بَلْ هِيَ فِتْنَةٌ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

“Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami ia berkata:”Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku”.Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui.” (QS. 39:49)

Usaha dan pengakuan

Semua nikmat dan kesuksesan memang harus dikembalikan kepada Allah. Tanpa bimbingan dan izin dari-Nya, mustahil semua itu berada di genggaman kita. Namun begitu, bukan berarti kita lantas menafikan adanya ikhtiar atau usaha. Seperti penganut Jabariyah yang menggap bahwa manusia tak ubahnya wayang yang digerakkan oleh Tuhan. Manusia tidak punya usaha apa-apa. Dia hanya bergerak sesuai dengan gerakan yang dituntun Tuhan. Termasuk saat mendapat nikmat bahkan saat bermaksiat. Tentunya pemahaman ini jelas keliru.

Usaha manusia tetap ada andilnya sebagai sarana pemicu kesuksesan. Hanya saja di akhir segalanya, dengan segala kerendahan hati, seorang mukmin harus mengakui bahwa keberhasilan ini adalah sedekah dari ilahi. Juga menjadi ujian atas kesyukurannya kepada Allah. Karenanya, persepsi yang harus senantiasa dicamkan dan ucapan yang harus selalu disumbarkan adalah persepsi dan ucapan Nabi Sulaiman bin Daud setelah menerima kekuasaan paling adidaya. Kekuasaan yang tidak akan bisa ditandingi oleh rezim manapun setelahnya. Tepatnya ketika salah seorang anak buahnya berhasil memindahkan singgasana secepat kedipan mata. Disebutkan dalam al Quran bahwa Nabi Sulaiman mengatakan,

قَالَ هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ

“..ia –Sulaiman- pun berkata:”Ini adalah  kurnia Rabbku untuk menguji aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). (QS. An Naml; 40)

 

Baca Juga: Khutbah Jum’at = Tak Takut Celaan, Tak Haus Pujian

 

Pertama, mensyukuri dan  mengakui secara jujur bahwa semua ini adalah nikmat dan anugerah dari Allah. Lalu, pengakuan itu diiringi dengan kesadaran bahwa pada hakikatnya, nikmat ini juga menjadi ujian. Adakah dia bersyukur; dengan rendah hati mengakui bahwa  nikmat itu dari Allah dan menggunakannya guna meraih ridha-Nya? atau kufur; dengan angkuhnya mengklaim bahwa kehebatannyalah yang mewujudkan keberhasilan itu, lalu menggunakanya untuk segala hal yang dibenci-Nya.

Oleh karena itu, apabila saat ini kita tengah melaju di jalur kesuksesan, jangan lupa untuk senantiasa mengingat dan meresapi ucapan Nabi Sulaiman ini. Kita tanamkan ucapan itu dalam pikiran dan kita sertakan dalam setiap cerita sukses yang kita sampaikan. Agar kesombongan tidak menjamur dan kita tetap sadar bahwa semua ini adalah ujian atas rasa syukur. Wallahua’lam. (anwar)