Syukur Seperti Nabi Sulaiman, Tabah Seperti Nabi Ayyub Alaihissalam

نِعْمَ الْعَبْدُ إِنَّهُ أَوَّابٌ

“sebaik-baik hamba, sesungguhnya ia adalah orang yang amat taat.”

Betapa sering kekayaan dan hidup berkecukupan membuat manusia lalai dan takabur. Betapa banyak pula kemiskinan dan musibah membuat manusia abai dan kufur. Maka Allah mengisahkan tentang hamba-hamba terbaiknya dengan seluruh variasi ujian yang dihadapinya, untuk menjadi teladan bagi manusia sepanjang zaman. Agar tak ada lagi yang pantas malas ibadah karena hidup terlalu nyaman. Tak ada pula yang layak meninggalkan ketaatan, lantaran menyandang hidup kesusahan.

Sufyan ats-Tsauri berkata, “Saya membaca al-Qur’an, dan saya dapatkan sifat Nabi Sulaiman alaihis salam, meskipun menyandang segala kesejahteraan, beliau digelari oleh Allah, “Sebaik-baik hamba, sesungguhnya ia adalah orang yang amat taat.” Dan saya dapatkan sifat Nabi Ayub alaihissalam, meskipun diuji dengan segala cobaan berat yang dialaminya, beliau juga menyandang gelar ni’mal ‘abdu innahu awaab,’ sebaik-baik hamba, sesungguhnya ia adalah orang yang taat. Keduanya disifati dengan gelar yang sama meskipun latar belakang keduanya sangat berkebalikan, yang satu sejahtera dan yang kedua menanggung ujian derita.”

 

Kuat Iman Meski Hidup Berkecukupan

Adapun Nabi Sulaiman alaihis salam, beliau hidup sejahtera dan serba kecukupan. Beliau menyandang segala kenikmatan duniawi. Tubuh yang sehat perkasa, nyaris tanpa cela. Kerajaan yang sulit dicari bandingannya sepanjang zaman. Kekayaan melimpah yang sulit dihitung nilainya, dan kekuasaan yang tak diberikan kepada siapapun selainnya. Ini sebagai pengabulan doa beliau,

Ia berkata, “Wahai Rabbku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang jua pun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha pemberi”. (QS. Shaad: 35)

Tentang kekuasaannya, Imam al-Qurthubi menyebutkan riwayat dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, “Di hadapan singgasana Sulaiman ‘alaihis salam terdapat 6oo kursi, para pembesar di kalangan manusia duduk di dekat beliau. Kemudian di deretan berikutnya para pembesar dari golongan jin. Sekawanan burung juga diperintah untuk menaungi mereka. Beliau juga diberi kemampuan memerintah angin.” Disebutkan pula dalam banyak dalil, bahwa beliau mampu memahami bahasa hewan, sekaligus bisa memerintah mereka.

Baca Juga: Sabar dan Shalat, Kunci dari Semua Maslahat

Tentang semegah apa istananya, Al-Hafizh Abu Nu’aim menyebutkan riwayat dari Wahab bin Munabih, bahwa istana Sulaiman alahissalam tersusun dari seribu lantai; lantai paling atas terbuat dari kaca, dan lantai paling bawah terbuat dari besi.

Namun semua kemewahan dan kemegahan itu disadari oleh Nabi Sulaiman sebagai ujian dari Allah, seperti perkataan beliau yang dikisahkan dalam al-Qur’an,

“Ini termasuk kurnia Rabbku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya).”  (QS. an-Naml: 60)

Maka beliau pergunakan seluruh fasilitas yang Allah anugerahkan kepada beliau untuk taat dan mengabdi kepada Allah. Akhirnya beliau dinyatakan lulus menghadapi ujian kekayaan dan kesejahteraan. Sebagaimana firman Allah,

“Dan Kami karuniakan kepada Daud, Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat ta’at(kepada Rabbnya).” (QS. Shaad: 30)

Maka alangkah nista, ketika ada manusia yang memiliki harta yang tak seberapa kaya, lalu sibuk diri dengan harta dan melalaikan ibadah seperti Qarun. Begitupun yang diuji dengan jabatan yang tak seberapa tinggi, lalu bertingkah pongah sebagaima Fir’aun, wal ‘iyaadzu billah.

 

Setabah Kesabaran Ayyub

Berbeda dengan Nabi Sulaiman, Nabi Ayyub menghadapi beratnya segala cobaan hidup. Tubuh yang digerogoti penyakit, kemiskinan yang menghimpit dan keterasingan karena dijauhi masyarakat yang tak tahan berdekatan dengan beliau yang sarat dengan penyakit. Pun begitu, hatinya sehat tanpa cacat. Tak ada keluhan yang terlontar selain mengeluh kepada Allah, tak ada buruk sangka yang terlintas dibenaknya. Yang ada hanyalah kesabaran dan zhan yang baik kepada Allah. Amat berat cobaan yang menimpa beliau. Syeikh Dr. Amin bin Abdullah asy-Syaqawi dalam kitabnya Qishah Nabiyullah Ayyub alaihissalam menyimpulkan perkataan para ahli tafsir tentang firman Allah,

وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

“dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: “(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang”. (QS al-Anbiya’ : 83)

Beliau mengatakan, “Pada mulanya Ayyub alaihis salam adalah seorang lelaki yang memiliki banyak harta, berupa tanah yang luas, hewan ternak dan kambing, yaitu pada sebuah belahan bumi yang bernama Tsaniyah, di Huran, yang terletak di negeri Syam. Ibnu Asakir berkata, “Semua lahan yang luas itu adalah miliknya, lalu Allah menguji dirinya dengan kehilangan semua harta tersebut. Beliau diuji dengan berbagai macam ujian yang menimpa tubuhnya, sehingga selain hati dan lisannya, tidak ada sejengkalpun dari bagian tubuhnya kecuali ditimpa penyakit. Dia selalu berzikir dengan kedua indra yang masih sehat tersebut, bertasbih kepada Allah siang dan malam, pagi dan sore. Akibat penyakit yang  dideritanya, seluruh temannya merasa jijik terhadapnya, sahabat karibnya menjauh darinya. Akhirnya beliau diasingkan pada sebuah tempat pembuangan sampah di luar kota tempat tinggalnya, dan tidak ada yang menemaninya kecuali istrinya, yang selalu menjaga hak-haknya dan membalas budi baik yang pernah dilakukan terhadap dirinya serta dorongan rasa belas kasihan padanya…”

Hingga pada akhirnya Allah menyembuhkan beliau dan menilai Nabi Ayyub lulus menghadapi ujian berat. Maka Allah berfirman,

إِنَّا وَجَدْنَاهُ صَابِرًا نِعْمَ الْعَبْدُ إِنَّهُ أَوَّابٌ

Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya). (QS. Shad: 44).

Maka tidak layak bagi seseorang yang diuji dengan sedikit kekurangan, ataupun ditimpa penyakit lantas menjauh dari ketaatan kepada Allah. Ketika seseorang diuji dengan penderitaan lalu ia bersabar, niscaya Allah akan mengentaskannya dari kesulitan dan akan mengganjarnya dengan pahala yang tak terbilang besarnya (bighairi hisaab). Semoga Allah anugerahkan rasa syukur atas nikmat dan sabar menghadapi ujian. Aamiin.

 

Oleh: Ust. Abu Umar Abdillah/Tafsir Kalbu

 

Khutbah Jumat: Nikmat Hilang, Tak Patah Arang

اَلْحَمْدُ للهِ، اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَالدِّيْنِ الْحَقِّ، لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللهِ شَهِيْدًا

أشْهَدُ أنْ لاَ إِلٰه إلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُّهُ مِنْ خَلْقِهِ، أَرْسَلَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى اللهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا، بَلَّغَ الرِّسَالَةَ وَأَدَّى الْأَمَانَةَ وَنَصَحَ الْأُمَّةَ وَكَشَفَ اللهُ بِهِ الْغُمَّة، وَتَرَكَنَا عَلَى الْمَحَجَّةِ الْبَيْضَاءِ، لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا، لَا يَزِيْغُ عَنْهَا إِلَّا هَالِكٌ

اَللَّهُمَّ فَصَلِّي وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى حَبِيْبِكَ وَصَفِيِّكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

فَقَالَ عَزَّ مِنْ قَائْلٍ، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

وقال: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Jamaah jumat rahimakumullah

Puji syukur alhamdulillah kita panjatkan kepada Allah atas karunia dan nikmat-nikmatnya. Segala karunia tersebut pada hakikatnya merupakan ujian keimanan. Hamba yang bersyukur akan menggunakan nikmat tersebut untuk menjalankan ketaatan kepada Allah. Semoga kita termasuk golongan hamba tersebut dan bukan termasuk golongan manusia yang kufur nikmat.

Shalawat dan salam semoga selalu terhaturkan kepada rasul kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, kepada keluarga, para shabat dan segenap pengikutnya yang komitmen dengan sunnahnya hingga akhir masa. Amin ya rabbal alamin.

Selaku khatib, perkenankan saya menyampaikan pesan takwa kepada diri saya pribadi, dan kepada jamaah pada umumnya. Marilah kita bertakwa kepada Allah, dengan takwa yang sebenar-benarnya; yaitu dengan menjauhi setiap larangan Allah, dan mengamalkan segala perintah Allah, baik berupa ibadah fardhu maupun sunnah.

 

Jamaah jumat rahimakumullah

Sebuah ungkapan mengatakan, “Cintailah seseorang sekedarnya saja, karena bisa jadi suatu hari ia akan menjadi orang yang kamu benci, dan bencilah seseorang sekedarnya saja, karena bisa jadi suatu hari nanti ia menjadi orang yang kamu cinta.”

Begitulah nasihat dari sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Karena orang yang meluapkan rasa cinta, atau suka ria yang melampaui kadar yang semestinya, berpotensi menimbulkan penyesalan dan kebencian yang dalam, jika ternyata yang terjadi berkebalikan dengan apa yang diharapkan.

 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Nafsu manusia memang penuh dengan keinginan. Pikiran pun juga sarat dengan pengharapan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menggambarkan, angan-angan manusia melampaui batas ajal yang ditetapkan. Keinginan yang diidamkan, lebih banyak dari bilangan waktu yang disediakan. Hingga setiap hari, selalu ada target-target yang berusaha diraih.

Sementara, ketentuan berlaku sesuai dengan kehendak Allah, bukan keinginan manusia. Selalu saja ada target yang tidak tercapai, keinginan yang tak terwujud, dan harapan yang luput dari genggaman. Sayangnya, kebanyakan manusia hanya siap menikmati keberhasilan. Pengharapan yang berlebihan, membuat mereka tak siap menerima keadaan yang berlawanan; kegagalan. Saking tingginya harapan, seakan keinginan itu telah berada dalam genggamannya. Sehingga, ketika Allah berkehendak lain, mereka pun merasa kehilangan dan lalu berputus asa.

Allah berfirman,

لاَيَسْئَمُ اْلإِنسَانُ مِن دُعَآءِ الْخَيْرِ وَإِن مَّسَّهُ الشَّرُّ فَيَئُوسٌ قَنُوطٌ

“Manusia tidak jemu memohon kebaikan, dan jika mereka ditimpa malapetaka dia menjadi putus asa lagi putus harapan.” (QS. Fuhsilat : 49).

Itu karena dia hanya melihat, bahwa nikmat itu sebatas jika dia memiliki apa yang diinginkan, memperoleh hasil persis seperti yang direncanakan. Selebihnya, bukan lagi dianggap nikmat yang layak disyukuri.

Seperti seorang siswa sekolah yang hanya memandang kelulusan sebagai satu-satunya nikmat. Andai dia tidak lulus, maka seolah hilang semua nikmatnya; nikmat yang lain serasa tak berguna. Atau, seorang pelamar kerja, yang menganggap bahwa nikmat itu hanya dimiliki jika ia diterima kerja di perusahaan yang dilamarnya. Juga seorang pemuda yang menganggap bahwa nikmat itu adalah apabila ia berhasil menikahi wanita yang dicintainya. Maka, ketika mereka tak mendapatkan apa yang diharapkan, niscaya mereka lupa akan nikmat sebesar apapun yang telah mereka miliki. Akibatnya, mereka patah arang dan putus harapan. Tidak diragukan, bahwa ini merupakan bentuk kekufuran atas nikmat yang telah Allah berikan. Itulah sebabnya, Allah menyematkan sikap putus asa sebagai karakter dari orang-orang yang kafir. Allah berfirman,

“Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” (QS. Yusuf: 87).

Banyak orang lupa, bahwa nikmat yang datang, meski berbeda bentuk dari yang dibayangkan, seringkali lebih berfaedah dibandingkan kenikmatan yang luput dari angan-angan. Allah lebih tahu apa yang baik bagi hamba-Nya. Andai saja mereka ber-husnuzhan kepada Allah, kelak mereka akan tahu, bahwa Allah telah merencanakan sesuatu yang lebih baik dari apa yang pernah mereka rencanakan.

 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Hal lain yang membuat orang berputus asa adalah hilangnya sebentuk kenikmatan yang pernah mampir dalam hidupnya. Bisa berupa orang yang disayang, harta yang ditimang-timang, lapangan kerja yang diperolehnya dengan susah payah, atau apa pun yang keberadaannya sangat berarti dalam hidupnya. Banyak orang lupa akan karakter dunia yang memang fana. Semuanya datang dan pergi silih berganti. Allah yang menjadi Pemilik Hakiki berhak menitipkan apa pun, kepada siapa pun, dan kapan pun menurut kehendak-Nya. Saat menerima karunia dari Allah, manusia akan merasa gembira. Mereka mendapatkan kemanfaatan dan kebahagiaan dengan hadirnya ‘titipan’ Allah tersebut. Tapi, anehnya, saat Sang Pemilik itu mengambil titipan-Nya, tiba-tiba manusia merasa terzhalimi. Mereka pun mengingkari nikmat yang pernah Allah berikan kepada mereka.

Allah berfirman,

“Dan jika Kami rasakan kepada manusia suatu rahmat (nikmat) dari Kami, kemudian rahmat itu Kami cabut daripadanya, pastilah dia menjadi putus asa lagi tidak berterima kasih” (QS. Hud: 9).

Bukankah semestinya manusia bersyukur karena telah diberi kenikmatan dan kemanfaatan? Seandainya manusia mau bersabar seraya mengharap pahala karenanya, serta bersyukur atas nikmat yang telah Allah limpahkan, niscaya Allah akan memberi ganti yang lebih baik dari nikmat yang hilang darinya. Dia akan memberikan tambahan nikmat, melebihi dari apa yang pernah didapat sebelumnya. Bisa jadi Allah hendak mengambil nikmat, namun untuk digantikan dengan sesuatu yang lebih baik lagi.

Jika mau jujur, sebenarnya nikmat yang tersisa jauh lebih banyak dari yang diambil oleh Allah. Tapi, ketika fokus seseorang tertuju pada nikmat yang hilang, maka nikmat lain yang lebih banyak seakan turut lenyap tak tersisa. Dari sisi ini, maka orang yang berputus asa saat tertimpa musibah, berarti dia telah kufur terhadap banyaknya nikmat yang telah dianugerahkan Allah kepadanya. Dia hanya melihat yang hilang, bukan yang masih ada. Akibatnya, hatinya akan kecewa dan tersiksa.

Padahal, andai saja dia lebih banyak mengingat nikmat, maka ia tetap akan merasa bahagia. Karena kebahagiaan terletak pada banyaknya nikmat yang diingat, bukan banyaknya nikmat yang didapat. Sikap ini tidak saja meringankan beban musibah, bahkan pada batas tertentu bisa menumbuhkan rasa syukur. Seperti yang dialami oleh Urwah bin Zubeir, tabi’in agung, putera sahabat Zubeir bin Awwam. Ketika beliau harus kehilangan satu kakinya yang diamputasi, juga seorang puteranya yang meninggal karena ditendang seekor kuda, beliau tetap tegar. Bahkan ketika beliau pulang, sementara kerabatnya menyambutnya dengan raut kesedihan, beliau berkata, “Janganlah kalian risaukan apa yang kalian lihat. Allah telah memberiku empat orang anak dan Dia berkehendak mengambil satu, maka masih tersisa tiga, puji syukur bagi-Nya. Aku dikaruniai empat kekuatan (dua kaki dan dua tangan), lalu hanya diambil satu, maka masih tersisa tiga. Puji syukur bagi-Nya. Dia mengambil sedikit dariku dan masih banyak yang ditinggalkan-Nya untukku. Bila Dia menguji sekali, kesehatan yang Dia karuniakan masih lebih banyak dan lebih lama darinya. “

 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Berputus asa dari rahmat Allah dapat dianggap sebagai sebuah kekufuran, karena seolah pelakunya melihat dunia sebagai negeri balasan, bukan negeri beramal. Seakan dunia adalah akhir dari segalanya.

Berbeda dengan orang yang beriman. Baginya, kehidupan dunia bukanlah apa-apa bila dibandingkan dengan kehidupan akhirat. Penderitaan yang paling berat di dunia itu belum seberapa dibandingkan dengan kesengsaraan akhirat yang paling ringan. Kenikmatan yang paling besar di dunia juga tak berarti apa-apa bila dibandingkan dengan kenikmatan di akhirat.

Seorang mukmin menyadari, musibah apapun akan menjadi penghapus dosa-dosanya, atau bertambah catatan kebaikan karenanya. Maka dia tak ingin menghapus peluang itu dengan putus asa,

 

مَا مِنْ شَىْءٍ يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ حَتَّى الشَّوْكَةِ تُصِيبُهُ إِلاَّ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ بِهَا حَسَنَةً أَوْ حُطَّتْ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ

“Tiada menimpa seorang mukmin, meski hanya terkena duri, melainkan Allah akan mencatat baginya satu kebaikan, atau menghapus darinya satu dosa karenanya.” (HR. Bukhari)

Jikalau dia banyak mengalami penderitaan dan cobaan di dunia, dia tetap optimis, bahwa apa yang ada di sisi Allah lebih baik dan lebih kekal. Baginya, dunia tak lebih sebagaimana yang digambarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

 

وَاللَّهِ مَا الدُّنْيَا فِى الآخِرَةِ إِلاَّ مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هَذِهِ فِى الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ يَرْجِعُ

“Demi Allah, perumpamaan dunia dibandingkan akhirat hanyalah seperti seseorang yang mencelupkan jari-jarinya ke samudera yang luas, maka lihatlah, seberapa banyak air yang menempel (dibandingkan dengan air seluas samudera)?” (HR. Muslim)

Ya Allah, janganlah Engkau jadikan dunia sebagai orientasi kami, dan jangan pula Engkau jadikan dunia sebagai cita-cita kami tertinggi. Amien.

 

وَالْعَصْرِ . إِنَّ الإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ . إِلاَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ .

 

KHUTBAH KEDUA

 

اَلْحَمْدُ للهِ حمدا طيبا مباركا كثيرا فيه كما أمر، أشْهَدُ أنْ لاَ إِلٰه إلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَللَّهُمَّ فَصَلِّي وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى حَبِيْبِكَ وَصَفِيِّكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ

 

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِي، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُولُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا وّالدِّيْنِ

اللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُوَّاتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا، وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا

اللَّهُمَّ إِخْوَانِنَا الْمُجَاهِدِيْنَ فِي سَبِيْلِكَ فِي كُلِّ مَكَانٍ،

اللَّهُمَّ وَحِّدْ صُفُوْفَهُمْ وَسَدِّدْ رَمْيَهُمْ وَثَبِّتْ أَقْدَامَهُمْ وَاجْمَعْ كَلِمَاتِهِمْ وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ

اللَّهُمَّ أَفْرِغْ فِي قُلٌوْبِهِمْ صَبْرًا، يَا إِلَهَ الْحَقُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ

اللَّهُمَّ دَمِّرْ أَعْدَائَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، اللَّهُمَّ مَزِّقْ صُفُوْفَهُمْ، وَشَتِّتْ شَمْلَهُمْ وَفَرِّقْ جَمْعَهُمْ، وَمَزِّقْهُمْ كُلَّ مُمَزَّقٍ، يَا عَزِيْزُ ذُو انْتِقَامٍ

اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، اللَّهُمَّ ارْحَمْ نِسَائَهُمْ وَصِبْيَانَ هُمْ، اللَّهُمَّ ارْحَمْ ضُعَفَاءَ هُمْ، اللَّهُمَّ دَاوِ جَرْحَهُمْ وَاشْفِ مَرْضَاهُمْ

رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالمُنْكَرِ وَالبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

وَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ الْجَلِيْلَ يَذْكُرْكُمْ، وَأَقِمِ الصَّلَاة

Oleh: Redaksi/Khutbah Jumat

Materi Khutbah Jumat Lainnya:  Minder Taat Akhirnya MaksiatKandas Karena Malas,Pejabat; Orang yang Paling Butuh Nasihat

Khutbah Jumat – Sabar dan Syukur Dua Tali Pengikat Nikmat

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ ,أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ

وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

 

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Alhamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta Alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, keluarga, shahabat dan orang-orang yang mengikuti sunahnya sampai hari kiamat.

Marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah. Takwa adalah inti diri kita. Semakin besar dan kuat ketakwaan, semakin tinggi derajat kita di sisi-Nya.

 

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Al Imam Ibnul Qoyim al Jauziyah berdoa dalam pembukaan tulisannya dalam kitab al-Wabilush Shoyib,

 

وأَنْ يَجْعَلَكُمْ مِمَّنْ إِذَا أَنْعَمَ الله عَلَيْهِ شَكَرَ, وَ إِذَا أُبْتُلِيَ صَبَرَ, وَإِذَا أَذْنَبَ اسْتَغْفَرَ

“…Semoga Allah menjadikan anda sekalian orang yang jika diberi nikmat bersyukur, jika diberi musibah bersabar dan jika berbuat dosa dosa beristighfar.”

Ketiganya, lanjut beliau, merupakan kunci kebahagiaan dan kesuksesan dunia akhirat. Dalam menjalani hidup, seseorang tidak akan lepas dari tiga kondisi ini.

Pertama, saat Allah memberinya nikmat. Nikmat sifatnya tidak tetap, bisa bertambah, bisa musnah. Tali pengikatnya adalah syukur. Dan syukur mewujud dalam tiga hal; pengakuan dalam hati, mensyukuri dan membicarakan bahwa nikmat itu dari Allah dengan lisan, kemudian menggunakan nikmat dalam berbagai aktifitas yang diridhai Allah.

Kedua, sabar saat ditimpa musibah. Musibah adalah ujian bagi kesabaran. Oleh karenanya, saat tertimpa musibah, kita wajib bersabar. Sabar mewujud dalam tiga hal; menjaga hati agar tidak marah pada ketentuan Allah, menahan lisan jangan sampai mengeluh dan protes, dan ketiga, menahan anggota tubuh agar tidak mengekspresikan kemarahan dan ketidakrelaan secara berlebihan dan melanggar syariat. Dengan sabar, musibah akan berubah menjadi berkah dan mendatangkan hikmah.

Ketiga, jika berbuat dosa segera bertaubat dan beristighfar. Taubat dan istighfar adalah wujud cinta dan karunia Allah atas seorang hamba. Jika Allah menghendaki kebaikan pada diri seseorang, Allah akan bukakan pintu taubat, penyesalan, rasa hina dan perasaan tak pantas di hadapaan Allah. Lalu, semua itu dikuti dengan munajat dan ketaatan kepada Allah.

 

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Nikmat dan musibah, keduanya adalah ujian. Nikmat merupakan ujian bagi kesyukuran dan musibah adalah ujian bagi kesabaran. Keduanya juga merupakan ujian bagi ubudiyah kita kepada Allah. Ubudiyah atau penghambaan kepada Allah semestinya dilakukan saat senang maupun susah, sempit maupun lapang, saat diberi nikmat maupun saat tertimpa musibah.

Saat diberi nikmat, semestinya ubudiyah lebih meningkat. Bukan malah terlena dengan karunia, lalu melupakan Allah yang telah memberinya. Saat diberi musibah, ubudiyah juga harus ditambah demi mengharap pertolongan Allah. Bukan malah berputus asa dan merasa tidak ada gunanya beribadah kepada-Nya.

Penghambaan dan ketaatan juga wajib pada sesuatu yang disukai maupun tidak disukai. Kebanyakan manusia hanya suka melaksanakan syariat yang mereka sukai tapi mudah meninggalkan apa yang mereka benci.

Saat seorang wanita, misalnya, dikaruniai penyakit kulit, dia begitu bersyukur dengan syariat hijab dan rajin memakai hijab. Ada manfaat yang dia peroleh dari hijab. Namun tatkala Allah sembuhkan penyakitnya dan Allah berikan kulit yang halus padanya, dia pun menjadi benci dengan jilbabnya lalu mengumbar auratnya. Diapun berpikir, untuk apa Allah berikan kulit halus ini jika hanya untuk ditutupi?

Contoh lain, Poligami. Poligami merupakan ibadah sunnah yang disukai oleh kaum pria. Dibolehkan memiliki istri lebih dari satu menjadi ibadah yang terlihat begitu indah. Namun, ibadah lanjutannya berupa bersikap adil dalam harta, tanggung jawab untuk mendidik anak-anak dan isteri-isterinya, menjaga hubungan baik dengan mertua yang lebih dari satu, dan semua tanggung jawab rumah tangga yang berlipat dua, adalah konsekuensi dari syariat poligami yang juga harus disukai.

 

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Adapun kondisi ketiga, yaitu saat kita berbuat dosa. Dosa, di satu sisi memang merupakan kesalahan yang bisa mendatangkan hukuman. Namun jika diikuti dengan istighfar dan taubat, dosa dapat berubah menjadi penyebab datangnya kebaikan.

Sebagian salaf mengatakan, “Ada seorang hamba yang melakukan dosa tapi malah masuk surga, sedangkan ada seorang hamba yang melakukan ketaatan tapi justru masuk neraka.” Saat ditanya, “Mengapa bisa begitu?” Dijawab, “Dia berbuat dosa, tapi dosa itu selalu terbayang di matanya, ia dihinggapi rasa takut dan khawatir, selalu menangis dan menyesal, merasa sangat malu pada Rabbnya, merasa rendah di hadapan-Nya, dan hatinya hancur. Itulah yang menjadi sebab kebahagiaan dan keberuntungannya. Dosa itu justru lebih bermanfaat daripada ketaatan-ketaatan sebelumnya. Berangkat dari dosa ini, dan beragam ketaatan yang mengikutinya, dia pun masuk surga.

Dan hamba yang kedua berbuat taat tapi dia terus saja menyebut-nyebut ketaatannya, sombong, riya’, ujub, dan terus saja seperti itu, Ia berkata, “Saya sudah berbuat ini dan itu”, dan itu menjadi penyebab kebinasaannya.”

Meski tentunya, kita tidak boleh menyengaja berbuat dosa terlebih dahulu agar bisa seperti itu. Bisa jadi, setelah kita berbuat dosa, Allah justru menutup hati kita dan malah terjerumus ke dalam dosa demi dosa hingga tak bisa lepas darinya.

 

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Saat ini, kita pasti tengah berada dalam salah satu dari keadaan ini. Entah itu tengah diberi nikmat atau diberi musibah atau kondisi telah melaksanakan ketaatan atau baru saja melakukan dosa dan maksiat. Jika kita sedang berada dalam kesejahteraan, ketenangan dan kedamaian, jauh dari masalah, maka saat itulah waktu untuk bersyukur agar nikmat Allah tak hilang. Jika kita tengah diberi musibah, maka tidak ada jalan terbaik selain jalan sabar. Atau kita diberi dua-duanya sekaligus; diberi nikmat sekaligus musibah, maka syukur dan sabar harus kita berikan pada masing-masing pemberian.

“Sungguh luar biasa keadaan orang beriman, jika dia diberi nikmat dia bersyukur dan itu lebih baik baginya, dan jika dia diberi musibah dia bersabar dan itu juga terbaik baginya.”

Semoga Allah menjadikan kita sebagai mukmin yang senantiasa bersyukur, bersabar dan bersitighfar karena inilah jalan orang-orang sukses dunia akhirat. Aamin ya rabbal alamin.

 

 

 

أقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتغْفِرُوهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ،  وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ   إِنَّهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ

 

Khutbah Kedua

 

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْن، وَالعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ، وَلاَ عُدْوَانَ إِلاَّ عَلَى الظَّالِمِيْنَ، وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَلِيُّ الصَّالِحِيْنَ، وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا

عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ إِمَامُ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، وَأَفْضَلُ خَلْقِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ، صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى

إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ

اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

 

 

Oleh: Taufik Anwar/Khutbah Jumat

Materi Khutbah Lainnya: 

Kebaikan Penentu Akhir Kehidupan

Takwa, Pondasi Paling Paripurna

Islam Akan menang Bersama Atau Tanpa Kita

Ini Dia Rahasia Mengapa Ketika Bersin Disunnahkan Mengucap Hamdallah

Siapa tak pernah bersin? Pasti tak ada orang yang selama hidupnya tak pernah melakukannya. Namun tahukah Anda, ternyata ada rahasia besar dibalik bersin kita.

Bersin atau dalam bahasa jawa lebih akrab dengan wahing dan ada juga yang menggunakan nama bangkis, adalah salah satu mekanisme perlindungan tubuh dari masuknya benda asing, seperti debu, bakteri, atau bau-bauan ke dalam tubuh kita. Wahing merupakan keluarnya udara semi otonom yang terjadi dengan keras lewat hidung dan mulut. Udara tersebut keluar sebagai respon yang dilakukan oleh membran hidung ketika mendeteksi adanya bakteri dan kelebihan cairan yang masuk ke dalam hidung.

 

Baca Juga: Lupa, Nikmat Allah yang Sering Terlupa

 

Uniknya, saat seseorang mengalaminya, secara refleks maka otot-otot yang ada di muka kita menegang, dan jantung kita akan berhenti berdetak untuk sekejap, selama proses ini. Setelah selesai, jantung akan kembali lagi berdenyut alias berdetak kembali.

Berapa lama durasinya? Karena bersin adalah pengeluaran udara, maka lama prosesnya akan sama dengan kecepatan udara tersebut keluar dari hidung, yaitu sekitar 70 meter/detik. Saat bersin, kita mengeluarkan butir-butir air yang terinfeksi oleh bakteri yang ingin dikeluarkan dari hidung/mulut. Dan Anda tentu tidak menyadari bahwa dalam satu kali wahing, kita mampu mengeluarkan sekitar 40.000 butir air!

Itulah mengapa saat bersin kita disunnahkan mengucap syukur dengan berucap, “Alhamdulillah…!” Sebab, setidaknya kita terhindar dari penyakit yang akan masuk ke dalam tubuh.

 

Baca Juga: Nikmat Allah Dalam Mengunyah Makanan

 

Dan tahukah Anda, ungkapan senada juga diucapkan dalam berbagai bahasa dan bangsa. Di negara-negara berbahasa Inggris ada kebiasaan untuk mengatakan “God bless you” (Semoga Tuhan memberkati Anda). Tradisi ini berasal dari Abad Pertengahan, ketika diyakini bahwa ketika seseorang bersin, jantungnya berhenti berdenyut, jiwanya meninggalkan tubuhnya, dan dapat direnggut oleh roh jahat. Dalam bahasa Italia, ada jawaban bagi yang mendengar “Salute” (sehat). Dalam budaya Portugis, diikuti oleh jawaban Saúde, (sehat), dan yang bersin kemudian menjawab Obrigado atau Obrigada (terima kasih).  Dalam Bahasa Jerman, diikuti oleh ucapan, Gesundheit (yang artinya “Sehat [bagimu]”). 

Hal ini demikian terlihat sepele, tapi setelah mengetahui rahasinya, kita wajib bersyukur dan selalu mengucap hamdallah kepada Allah.  Segala puji bagi Allah atas segenap kenikmatannya yang tidak mampu kita perhitungkan sebelumnya.

 

Oleh: Redaksi/Kauniyah

Khutbah Jumat- Aktivasi Potensi Menuju Kesuksesan Diri

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ ,أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ

وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

 

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Alhamdulillah, kita bersyukur kepada Allah atas nikmat dan karunia yang tak terhingga. Nikmat yang tak dapat kita hitung jumlahnya. Kita diberi akal, kemampuan berpikir, bersosialisasi dan berbagai potensi lainnya. Semuanya, seharusnya dapat kita maksimalkan untuk meraih kesuksesan di dunia dan akhirat.

Shalawat dan Salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabiyullah Muhammad, keluarga, para shahabat dan orang-orang yang senantiasa mengikuti jalannya sampai tiba ajalnya.

Wasiat takwa tak lupa kami sampaikan, agar kita senantiasa berhias diri dengan takwa. Bukan lain, karena takwa adalah penentu arah bagi segala aktivitas yang kita lakukan. Dengan takwa, insyaallah seluruh aktivitas kita akan berada pada jalur yang diridhai-Nya.

 

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Di manapun kita beraktivitas atau bekerja, seharusnya memberikan ruang agar seluruh potensi yang Allah berikan kepada kita bisa aktif dan berkembang. Ini sebagai wujud syukur kepada Dzat yang telah menganugerahkan segala nikmat. Sekaligus menjadi penentu seberapa sukses seseorang menjalani hidup. Karena kesuksesan seseorang tergantung seberapa besar potensi yang diaktifkan sesuai dengan fungsinya. Dan begitulah semestinya fitrah berjalan sesuai dengan relnya. Tak ada satu potensipun yang tidak berfaedah, dan tak ada satu anugerah dari Allah yang boleh disia-siakan.

Menelantarkan sebagian fungsi, atau menjadikannya pasif dan menganggur, adalah kekufuran terhadap nikmat yang Allah berikan. Dan segala hal yang berjalan tidak sesuai dengan fitrahnya, pasti akan rusak, dan bahkan merusak potensi yang lain.

 

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Allah telah memberikan potensi akal kepada manusia, anugerah yang menjadi pembeda utama antara manusia dan hewan. Semakin banyak akal ‘menganggur’, maka makin mendekatkan manusia pada karakter hewani, nas’alullahal ‘aafiyah. Karenanya, Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu berkata, “ashlur rajuli ‘aqluhu, wa hasabuhu diinuhu, wa muruu’atuhu khuluquhu”, inti seseorang disebut manusia itu adalah karena akalnya, kehormatannya terletak pada agamanya, sedangkan kewibawaannya tergantung pada akhlaknya.

Maka selayaknya kita menjalankan fungsi akal sebagaimana mestinya. Terus mengisinya dengan ilmu yang bermanfaat, baik di dunia maupun di ahirat. Nutrisi akal yang dengannya ia bisa berkembang adalah dengan menghayati ayat-ayat Allah berupa qur’aniyah dan kauniyah, firman Allah,

”Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal.” (QS an-Nahl: 12)

Sisi istimewa dari akal adalah, makin sering dipergunakan, maka kemampuannya semakin bertambah, berbeda dengan barang-barang elektrik yang jika sering dipergunakan makin cepat mengalami penyusutan dan penurunan fungsi. Sebaliknya, akal yang dibiarkan menganggur akan cepat jumud, tumpul dan pikun. Secara fungsi akan mengalami penyusutan secara drastis.

Maka, bertambahnya kesibukan maupun usia, tak boleh menjadi halangan untuk tetap belajar, membaca, menghafal, memahami maupun menganalisa hal-hal yang bermanfaat. Bahkan, kerja akal tidak layak berhenti, meski aktifitas jasad istirahat karena lelah. Saat kaki tak lagi kuat menyangga tubuh, saat mata terasa berat untuk membaca dan melihat. Seperti yang menjadi tekad Ibnu ‘Uqail Al-Hambali, “Tidak halal bagiku untuk menyia-nyiakan sesaat saja dari umurku, sehingga apabila lisan dan mataku telah lelah membaca dan berdiskusi, maka aku menggunakan pikiranku dalam keadaan berbaring diatas tempat tidur. Aku tidak berdiri, kecuali telah terlintas di benakku apa yang akan aku tulis.”

 

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Hati dan nafsu, juga merupakan potensi yang harus diaktifkan secara benar. Pengangguran itu tak hanya berlaku bagi orang yang tidak memiliki pekerjaan secara fisik. Layak pula disebut pengangguran bagi orang yang tidak mengaktifkan hati dan jiwanya untuk mencari dan merasai kenikmatan iman. Karena tanpa iman, hati tidaklah berguna. Abdullah bin Mas’ud memberikan jawaban, kemana hati harus aktif bekerja dan mencari nutrisi yang bermanfaat. Beliau berkata, ”Carilah hatimu di tiga keadaan, saat mendengarkan al-Qur’an, saat berada di majlis ilmu dan saat menyendiri bermunajat kepada Allah. Jika kamu tidak mendapatkan hatimu di sana, maka mohonlah kepada Allah untuk memberikan hati untukmu, karena kamu tidak memiliki hati.”

Eksistensi hati itu dikatakan ada tatkala ia bisa menikmati lezatnya nutrisi-nutrisi imani. Ia merespon bacaan dan arahan al-Qur’an, merasa haus akan ilmu yang menunjukkan cara mendekatkan diri kepada Pencipta. Ia juga merasakan hadirnya ketentraman dan kesyahduan saat bermunajat kepada Allah. Jika tanda-tanda itu sama sekali tidak ada, maka hati tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupannya. Seakan pemiliknya telah kehilangan olehnya, dan hidup tanpa memiliki hati. Wajar jika Ibnu Mas’ud radhiyallahu ’anhu menyarankan kepadanya, agar ia memohon kepada Allah untuk memberikan hati yang baru kepadanya. Seharusnya, kita senantiasa membawa hati kepada hal-hal yang bisa membuat hati hidup dengan sehat.

Begitupun nafsu, hendaknya secara sengaja dan aktif dikendalikan menuju perkara-perkara yang diridhai oleh Allah. Bukan dibiarkan bergentayangan sesuai dengan kehendaknya. Karena nafsu itu, seperti yang dikatakan sahabat Salman al-Farisi, ”Sesungguhnya nafsu itu, jika kamu tidak menyibukkan ia dalam ketaatan, niscaya ia akan menyibukkan dirimu dengan kemaksiatan.”

Ketika akal, hati dan jiwa telah aktif di jalan yang seharusnya, maka jasadpun akan bergerak. Anggota badan itulah yang akan merampungkan capaian tujuan secara fisik. Kaki dengan gagah akan melangkah, tangan dengan cekatan akan berkarya, mata akan sibuk membaca, menelaah dan mencari hal-hal yang berfaedah, dan telinga akan aktif mendengarkan hal-hal yang bermanfaat. Jika semua potensi berjalan, maka kesuksesan paripurna akan berhasil untuk diraih.

 

Jamaah Jumat Rahimakumullah.

Demikianlah khutbah yang dapat kami sampaikan. Semoga dapat bermanfaat untuk diri kami sendiri dan umumnya kepada jamaah sekalian.

أقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتغْفِرُوهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ، وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ

 

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْن، وَالعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ، وَلاَ عُدْوَانَ إِلاَّ عَلَى الظَّالِمِيْنَ، وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَلِيُّ الصَّالِحِيْنَ، وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا

عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ إِمَامُ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، وَأَفْضَلُ خَلْقِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ، صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى

إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ

اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

 

 

Oleh: Abu Umar Abdillah/Khutbah Jumat

 

Materi Khutbah Lainnya: 

Jika Dosa Berbau

Takwa, Pondasi Paling Paripurna

Islam Akan menang Bersama Atau Tanpa Kita

 

 

Belajar Syukur dari Lelaki Buntung

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ ,أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

 

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Alhamdulillahirabbil’alamin. Marilah senantiasa kita bersyukur kepada Allah Ta’ala atas limpahan nikmat dan karunia-Nya. Nikmat iman dan Islam, juga nikmat sehat dan afiat yang tetap Allah berikan kepada kita meskipun kita sering lupa memintanya.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, para shahabat dan orang-orang yang senantiasa mengikuti sunah Nabi sampai hari kiamat.

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Ramadhan telah berlalu beberapa waktu, namun kita berharap bekas-bekas Ramadhan masih dapat kita rasakan. Ketakwaan di bulan Ramadhan, semoga dapat bertahan hingga kini. Takwa adalah inti diri kita. Nilai yang menentukan seberapa berharga diri kita di hadapan Allah Ta’ala. Oleh karenanya, marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah, agar nilai diri kita juga meningkat.

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Ada sebuah kisah nyata yang tertulis dalam kitab ats-Tsiqot Karya al-Imam Ibnu Hibban. Al-Imam Ibnu Hibban menukil kisah ini dari Abdullah bin Muhammad, dia bercerita bahwa suatu ketika, beliau tengah berjaga di perbatasan (ribath) dan berjalan di kawasan pantai . Beliau melihat ada sebuah tenda, ternyata di dalamnya ada seorang lelaki tua yang buntung kaki dan tangannya, rabun pengelihatannya dan pendengarannya juga berkurang. Hanya lisannya yang masih dengan fasih mengucapkan,

الحَمْدُ لله الَّذِي فَضَّلَنِي عَلَى كَثِيْرٍ مِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيْلاً .. الحَمْدُ للهِ الَّذِي فَضَّلَنِي عَلَى كَثِيْرٍ مِمَّنْ خَلَق تَفْضِيْلاً 

“Puji syukur kepada Allah yang telah melebihkanku dari banyak makhluk yang Dia ciptakan…Puji syukur kepada Allah yang telah melebihkanku dari banyak makhluk yang Dia ciptakan….”

Beliau pun mencoba mencari adakah orang yang merawatnya? Ternyata tidak ada seorang pun disekitarnya.

Abdullah mencoba bertanya, dengan kondisi seperti itu, mengapa dia masih menyatakan syukur karena Allah telah melebihkan dirinya dari para makhluk?

Dia pun menjawab bahwa bukankah nikmat Allah yang telah diberikan kepadanya sangat luas? Salah satunya adalah lidah yang bisa mengucapkan syukur terus menerus.

Lalu lelaki Tua itu menyatakan bahwa dia tidak memiliki siapa-siapa selain seorang anak yang merawatnya, menyuapi dan mewudhukan setiap shalat. Namun sudah tiga hari si anak pergi entah kemana. Lelaki tua itu meminta agar Abdullah mencarinya.

Abdullah pun mencoba mencari meski tidak tahu harus ke mana. Baru beberapa saat berjalan, dia menemukan jasad seorang pemuda yang telah terkoyak dimakan binatang buas. Abdullah yakin pemuda itu adalah anak yang dimaksud karena di sekitar tempat itu tidak terdapat tempat tinggal lain.

Abdullah bingung, bagaimana harus menyampaikan berita sedih itu. Ia pun mencoba mengingatkan lelaki tua itu dengan ujian Nabi Ayub. Saat diingatkan, lelaki tua itu selalu menyatakan bahwa ujian Nabi Ayub jelas lebih berat dan sikap Beliau adalah bersabar dan bersyukur. Maka setelah itu, Abdullah pun mengabarkan kematian anaknya akibat binatang buas.

Mendegar berita itu, lelaki tua itu berkata, “Segala puji bagi Allah yang tidak menciptakan bagiku keturunan yang bermaksiat kepada-Nya, lalu Ia menyiksanya dengan api neraka,” kemudian ia berkata,”Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un,” lalu ia menarik nafas yang panjang, kemudian meninggal dunia.
Abdullah menangis. Tak berapa lama beberapa kawan Abdullah datang dan mengenali siapa lelaki tua tersebut. Mereka menangis dan mencium kening lelaki tua itu. Ternyata, dia adalah Abu Qilabah, seorang ahli ibadah yang sangat menjaga diri dari hal-hal haram. Sahabat dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu. Mereka pun memandikan dan menguburkan jenazahnya.

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Sungguh luar biasa keimanan Abu Qilabah menghadapi ujian dari Allah. Ujian seberat itu bukan lagi dihadapi dengan sabar tapi dengan syukur. Lisan beliau tidak berhenti menyatakan bahwa apa yang Allah timpakan kepadanya adalah kebaikan yang banyak.

Dan jika kita renungi, apa yang beliau katakan sangatlah tepat. Meski beliau lumpuh, namun Beliau masih dapat senantiasa bersyukur dan berdzikir. Sementara itu, berapa banyak orang  yang tidak bisa bicara hingga tidak bisa berdzikir? Atau berapa banyak orang yang sehat kaki tangan dan lisannya tapi malah lalai dan lupa untuk bertahmid kepada Allah?

Beliau, dengan segala kekurangannya masih mempertahankan iman, sementara itu berapa banyak orang yang sehat tapi tidak beriman? Berapa banyak orang tidak menikmati indahnya iman kepada Allah? Berapa banyak orang yang dengan kesehatannya justru menyembah berhala dan teori-teori kosong tentang ketuhanan?

Beliau lumpuh dan tidak bisa kemana-mana tapi justru disyukuri karena dengannya, Beliau tidak bisa bermaksiat kepada Allah. Sementara itu ada banyak orang yang Allah karuniai nikmat tangan dan kaki, juga mata dan mulut, tapi justru digunakan untuk melaggar larangan Allah, bahkan memusuhi agama Allah.

Dan karena itulah, lelaki tua itu terus bersyukur hingga ketika kesyukurannya memuncak sepeninggal anaknya, Allah memanggilnya ke haribaan-Nya.

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Dari nikmat mata saja, kita sudah bisa membuktikan kebenaran firman-Nya yang menyatakan nikmat Allah tak terhingga,

وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّـهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ اللَّـهَ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ 

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menghitung jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nahl [16] : 18).

Imam al Hasan al-Basri pernah mengatakan bahwa kemana pun kita mengarahkan pandangan mata, pasti akan mengenai nikmat Allah.

Nikmat Allah tak terhitung banyaknya sementara syukur kita kepada-Nya sangatlah terbatas. Saat satu saja nikmat Allah hilang atau diminta kembali oleh-Nya, kita merasa kecewa. Seakan-akan Allah telah merenggut segalanya dari diri kita.

Jika pun kita sakit beberapa hari, bukankah ada tahun-tahun yang kita lewati dengan sehat? Jika pun harta kita hilang, bukankah itu hanya sekian persen kecil dari harta dan rejeki yang telah kita nikmati? Dan jika mata pencaharian kita raib, bukankah masih ada raga dan pikiran yang bisa kita gunakan untuk kembali mencari rejeki?

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Jika hati kita mampu bersyukur dan ridha atas segala kehendak Allah atas diri kita, isnyaallah kita akan menjadi manusia paling bahagia di dunia, dan bahagia juga di akhirat. Syukur tidak hanya akan membuat hati kita tenang, tapi juga membuat Allah senang dan ridha kepada Kita. Jika Allah ridha, Allah akan tambahkan nikmat-Nya di dunia dan memberikan janji-Nya kepada orang-orang bersyukur untuk memasukkan mereka ke dalam surga-Nya.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ

قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ اْلعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُهُ يَغْفِرْلَكُمْ إِنَِّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

 

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْن، وَالعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ، وَلاَ عُدْوَانَ إِلاَّ عَلَى الظَّالِمِيْنَ، وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَلِيُّ الصَّالِحِيْنَ، وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ إِمَامُ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، وَأَفْضَلُ خَلْقِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ، صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ

اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

 

 

Khutbah Lainya: Agar Iman Tak Goyah di Zaman Fitnah, Ulama’ Syiar dan Wali Allah, Khutbah Iedul Fitri

Syukur, tak Hanya kepada Allah

Ibnu Abbas RA mengatakan bahwa ada tiga ayat yang harus diamalkan dengan sempurna. Seseorang tidak dianggap mengamalkannya jika hanya mengamalkan satu bagian saja. Ayat-ayat tersebut yaitu, pertama, taat kepada Allah SWT belum sempurna tanpa taat kepada Rasulullah SAW (QS.  An-Nisa: 59). Kedua, mendirikan shalat dan membayar zakat (QS. Al-Baqarah: 43). Ketiga, Syukur kepada Allah SWT dan syukur kepada kedua orang tua (Al-Isra: 23).

Masing-masing merupakan dua pasangan perintah yang saling terkaitdan tak bisa dielakkan.Alias satu paket perintah yang bisa ditawar salah satunya. Menurut beliau, tidak dikatakan taat kepada Allah SWT jika tidak mengikuti ajaran Rasulullah SAW. Begitu pula, shalat tidak diterima jika tidak mau membayar zakat. Dan, belum disebut hamba yang bersyukur jika tidak ‘bersyukur’ kepada kebaikan orang tua.

Antara syukur kepada Allah SWT dan kepada orang tua memang berbeda. Syukur kepada Allah SWT, berarti mengakui segala nikmatnya yang nampak dan tidak nampak. Lalu, mengucapkan kalimat syukur dengan lisan dan menggunakannya untuk menjalankan ketaatan.

Syukur kepada orang tua bermakna berterima kasih atas budi baik mereka. Lalu membuktikannya dengan berbakti dan menjaga adab sopan-santun. Tentunya, manusia yang paling berjasa dan berhak mendapatkan pengakuan terima kasih yaitu ayah dan bunda.  Sebab, pengorbanan dan kasih sayang yang mereka curahkan tidak akanbisa diukur dengan materi. Tidak salah jika Rasulullah SAW mengatakan bahwa ridha Allah SWT terletak pada ridha kedua orang tua. Begitu pula, Allah SWT murka dan langsung menurunkan hukumannya bagi anak yang durhaka kepada orang tuanya.Hal ini menunjukkan bahwa Allah SWT mengaitkan antara syukur kepada-Nya dengan syukur kepada ibu dan bapak.

Selain itu, berterima kasih kepada orang yang berbuat baik juga termasuk akhlak mulia. Misalnya, syukur kepada orang yang memberi nasehat atau pengajaran ilmu yang bermanfaat bagi kehidupan kita. Atau kepada orang yang sekadar memberi hadiah sesuatu yang murah dan bukan barang mewah. Sudah selayaknya mereka mendapat balasan meski dengan kata, jazakumullah khairan atau terima kasih.Kebalikannya, melupakan kebaikan orang lain adalah satu sifat tercela dalam Islam.

Abu Hurairah meriwayatkan dari Rasulullah SAW  yang bersabda:

لاَ يَشْكُرُ اللهَ مَنْ لاَ يَشْكُرِ الناَّسَ

“Orang yang tidak berterima kasih kepada manusia, berarti tidak bersyukur kepada Allah SWT.” (HR. Abu Daud dan Imam Ahmad)

Ibnu Atsir mengatakan, hadits di atas bermakna bahwa Allah SWT tidak menerima syukur manusia jika hamba tersebut tidak mau berterima kasih kepada manusia.Kedua hal tersebut saling terkait satu dengan yang lain.Karena itu, manusia yang terbiasa menganggap biasa kebaikan orang lain, berarti kurang bersyukur kepada nikmat Allah SWT.

Diriwayatkan dari Ibnu Umar yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda.

مَنْ صَنَعَ إِلَيْكُمْ مَعْرُوْفاً فَكاَفِئُوْهُ، فَإِنْ لَمْ تُكاَفِئُوْنَهُ فَادْعُوْا لَهُ حَتىَّ تَرَوْا أَنَّكُمْ قَدْ كَافَئْتُمُوْهُ

“Barang siapa yang berbuat baik kepada kalian hendaknya kalian membalasnya.Jika tidak tidak bisa membalasnya doakan dia hingga kalian merasa bahwa kalian sudah bisa membalasnya. “ (HR. An-Nasai dan Abu Daud)

Dalam hadits lain disebutkan:

مَنْ مَنْ أُعْطِيَ عَطَاءً فَوَجَدَ فَلْيَجْزِ بِهِ وَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَلْيُثْنِ فَإِنَّ مَنْ أَثْنَى فَقَدْ شَكَرَ وَمَنْ كَتَمَ فَقَدْ كَفَرَ

“Siapa saja yang menerima pemberian, hendaklah dia membalasnya dengan itu pula. Kalau tidak,hendaklah ia memberi pujian, sebab dengan memuji berarti telah berterimakasih dan siapa yang menyembunyikan (kebaikan orang padanya) berarti dia telah kufur nikmat.” (HR. At-Tirmidzi)

Para ulama zaman dahulu telah mengajarkan bagaimana mengenang para guru yang telah berjasa mendidik dan mengajarkan ilmu agama. Misalnya, Imam Ahmad bin Hambal yang selalu mengenang jasa gurunya, Imam Syafi’i. Beliau mengatakan, “Setiap malam, sejak tiga puluh tahun lalu, aku tidak pernah lupa mendoakan Imam Syafi’i dan aku selalu memohonkan agar Allah SWT berkenan mengampuni kesalahan-kesalahannya.”

Imam Ahmad juga bangga dan selalu memuji gurunya tersebut. Suatu ketika, putra beliau yang bernama Abdullah bertanya, “Seperti apakah Muhamad Bin Idris As Syafi’i. Karena sering sekali aku mendengar doa ayah untuknya?”Imam Ahmad menjawab, “Beliau ibarat matahari bagi bumi ini dan kesehatan bagi manusia. apakah ada yang bisa menggantikan kedua hal itu?”

Pada dasarnya, semua kemudahan dan kebaikan yang datang kepada manusia merupakan nikmat dari Allah SWT. Baik langsung dari Allah SWT atau lewat perantaraan manusia. Sebab takdir merupakan misteri yang tak mudah ditebak dan tak terduga. Allahlah yang menentukan. Sedangkan manusia merupakan alat yang digerakkan-Nya. Saat si penghantar nikmat memberi hadiah atau kebaikan, sebenarnya sedang bermuamalah kepada Allah SWT. Karena itu, hendaknya menjalan amanat tersebut dengan ikhlas dan bukan untuk mencari terima kasih. Allah SWT berfirman:

Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.” (QS. Al-Insan: 9)

Sedangkan bagi si penerima, jangan lupakan jasa si pemberi. Jika anda mampu, balaslah dengan memberi hadiah yang sewajarnya. Jika tidak, tampilkanlah raut muka manisdan ucapkanterima kasih. Jangan lupa pula doa untuknya, meski tak harus di hadapannya. Bukankah doa yang mustajab adalah doa untuk orang lain tanpa sepengetahuah orang tersebut? Wallahu A’lam.

Syukur yang Sejati bukan Sekedar Memuji

Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman?”(QS an-Nisa’ 147)ternyata syukur nikmat menjadi salah satu kunci keselamatan seseorang di akhirat selain iman. Padahal, mensyukuri nikmat semestinya adalah reaksi wajar dan naluriyah dari orang yang diberi sesuatu yang bermanfaat dan menyenangkan. Setelah diberi pasti seseorang akan bersyukur atau dalam pengertian mudahnya, berterima kasih. Tapi, mengapa ayat-ayat al Quran senantiasa menghasung manusia untuk bersyukur dan mengatakan bahwa hanya sedikit sekali manusia yang mensyukur nikmat-Nya?

Bukan lain, pokok persoalaannya adalah kekurangpahaman manusia pada hakikat nikmat yang sesungguhnya serta cara mensyukuri nikmat yang benar dan total.

Nikmat, dari segi bahasa adalah sesuatu yang menyenangkan. Syaikh Ibnu Utsaimin menjelaskan, nikmat itu ada dua; nikmat muthlaq dalam arti benar-benar merupakan nikmat, dan nikmat yang muqayad. Muqayad bisa diartikan masih relatif. Artinya hal-hal menyenangkan itu memang merupakan hal yang menyenangkan atau bisa juga hanya sebuah tipuan dari racun mematikan.

Nikmat yang mutlak adalah anugerah yang membawa manusia kepada kebahagiaan dan keselamatan abadi. Yaitu Islam dan petunjuk berupa jalan hidup yang telah dilalui Nabi SAW. Saat membaca al Fatihah kita senantiasa berdoa, “ Tunjukkanlah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-ornag yang telah engkau beri nikmat tas mereka..”. siapakah orang-orang yang telah diberi nikmat, Allah menjelaskannya di dalam ayat  69 surat an nisa’ “ Barangsiapa mengikuti petunjuk Rasul maka dia akan bersama orang-orang yang telah Allah beri nikmat atas mereka dari para Nabi, ash Shiddiqin dan para syuhada’ serta orang-orang shalih…”

Sedang nikmat muqayad adalah nikmat yang diberikan kepada seluruh manusia, yang beriman maupun yang kafir. Diantaranya ada nikmat pengelihatan, pendengaran, daya pikir, tenaga, kesehatan, harta dan berbagai kesenangan duniawi lainnya. Allah berfirman “masing-masing dari mereka –yang hanya mencari dunia- dan mereka –yang mencari akhirat- kami limpahkan pemberian dari Rabb-Mu.” (QS. Al Isra’; 20)

Nikmat ini secara wujud memang sama-sama sesuatu yang menyenangkan. Akan tetapi secara hakikat, semua itu hanya akan membawa manusia menuju kesengsaraan jika tak dibarengi iman dan syukur.

Dari pengertian ini, ternyata yang harus disyukuri bukan hanya rezeki nomplok yang diperoleh secara tiba-tiba. Tapi berbagai kemudahan, anugerah, lebih-lebih kebahagiaan yang dirasakan adalah pemberian Allah yang menghajatkan kesyukuran. Nah, dibandingkan nikmat yang telah diterima, berapa prosenkah yang telah disyukuri? Secara jujur kita tidak bisa menjawab kecuali dengan kalimat “masih sangat sedikit.”Barangkali syukur kita bisa dihitung dengan jemari, padahal pemberian Allah,

وَءَاتَاكُممِّنكُلِّمَاسَأَلْتُمُوهُوَإِنتَعُدُّوانِعْمَتَاللهِلاَتُحْصُوهَاإِنَّاْلأِنسَانَلَظَلُومُُكَفَّارُُ

“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya.Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah kamu dapat menhinggakannya.Sesungguhnya manusia itu, sangat zhalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).”(QS. Ibrahim:34)

Lalu, dari yang “masih sangat sedikit” itu, adakah semuanya telah disyukuri dengan syukur yang benar-benar syukur?Untuk mengetahuinya, kita harus tahu dulu seperti apakah implementasi syukur yang sesungguhnya?

Imam Fairuz Abadi menjelaskan bahwasyukur itu derajat tertinggi dari para peniti jalan. Satu strip diatas derajat ridha dan ziyadah. Sedang ridhamerupakan derajat menuju syukur. Tidak mungkin syukur terwujud tanpa adanya ridha. Dan, syukur itu memiliki empat pilar; tunduknya orang yang bersyukur kepada yang disyukuri, cintanya kepada yang disyukuri, mengakui nikmat pemberiannya, memujinya atas segala pemberiannya, dan tidak menggunakan pemberiannya untuk hal-hal yang tidak disukainya. Satu saja hal ini tak terpenuhi, maka banguna syukur akan berlobang. (Bashair Dzi Tamyiz 3/433)

Inilah makna syukur yang sesungguhnya. ketundukan hati, cinta dan pengakuan adalah implementasi syukur dalam hati. Sedang memuji dan pengakuan dengan kata-kata adalah syukur secara lisan. Dan, tidak menggunakan pemberian itu untuk hal-hal yang dibenci oleh pemberi nikmat adalah bentuk syukur dengan raga.Tiga hal ini harus ada karena saling terkait.

Berapa kalipun kita ucapkan alhamdulillah, tapi jika hati kita sombong dan malah mengklaim bahwa kecerdasan dan keuletan kitalah yang paling banyak berpengaruh atas datangnya nikmat itu, tahmid itu hanyalah hiasan bibir. Atau betapapun kita mengaku nikmat Allah sembari lisan mengucap tahmid, tapi setelah itu nikmat itu kita gunakan untuk memusuhi sang Pemberi nikmat, itu juga sama sekali bukan syukur. Dan yang paling parah adalah ketika nikmat senantiasa diberikan tapi hati tak pernah mengakui, lisan tak pernah mensyukuri dan memuji, dan semua nikmat itu dijadikan sarana untuk memusuhi Allah sang pemberi, juga orang-orang yang beriman kepada-Nya. Benar-benar kedurhakaan yang tak terampuni.

Nah, sekarang kita bisa menilai sendiri kualitas syukur kita. Semakin rendah, semakin sedikit pula kemungkinan nikmat kita akan ditambah. Tapi jika semakin baik dan total, tak hanya ditambah, bahkan yang hilang pun sangat mungkin akan dikembalikan dan yang sudah didapatkan akan terjaga supaya tak hilang. Ulama mengatakan, “asy syukru qaydun ni’am al maujudah wa shaidun ni’am al mafqudah”, syukur itu pengikat nikmat yang sudah didapat dan pemburu anugerah yang hilang”.

Wallahua’lam, semoga Allah menjadikan kita hamba-Nya yang bersyukur, meski jumlah mereka hanya sedikit. Amin. (anwar)