Khutbah Jumat: Persaudaraan Butuh Pengorbanan

:Khutbah Jumat

PERSAUDARAAN BUTUH PENGORBANAN

إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أشْهَدُ أنْ لاَ إِلٰه إلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

 

Jamaah Jum’at Rahimakumullah
Puji syukur alhamdulillahi rabbil ‘alamin kita ucapkan kepada Allah yang telah memberi kita nikmat kesehatan dan lisan. Semoga karunia tersebut dapat membuat kita bersyukur dengan sebenar-benarnya. Yaitu, menggunakan semua nikmat tersebut untuk menjalankan ketaatan kepada Allah.

Shalawat dan salam tak lupa kita sanjungkan kepada Rasulullah, kepada keluarganya, para shahabat dan ummatnya yang konsisten dan komitmen dengan sunnahnya. Amin ya rabbal alamin.

Wasiat takwa kembali khatib sampaikan kepada para jamaah semuanya. Takwa adalah usaha kita menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya. Allah tidak mewajibkan sesuatu melainkan ada manfaatnya bagi manusia. Tidak pula Allah mengharamkan sesuatu, melainkan ada madharat atau bahaya bagi kita. Karena itu, takwa menjadi bekal terbaik kita dalam menjalani kehidupan di dunia ini dan kehidupan akhirat yang kekal abadi nanti.

Jamaah Jum’at Rahimakumullah
Mengeluarkan sebagian harta demi tersambungnya silaturrahim adalah ringan bagi orang yang memahami manfaat silaturrahmi dan keutamaannya di akhirat. Begitupun jika untuk menyambungnya harus rela mengalah dalam banyak hal, juga menanggalkan rasa gengsinya. Contoh-contoh di bawah ini menyiratkan sebuah hikmah, bahwa menjalin persaudaraan menuntut adanya pengorbanan.

Suatu kali, Abdullah bin Umar keluar menuju Mekah. Beliau mengendarai seekor keledai dan mengikatkan sorban di kepalanya. Saat beliau sedang bersantai, tiba-tiba lewatlah seorang Badui dan berkata, “Bukankah Anda putera Umar?” Beliau menjawab, “Ya.” Tampak seorang Badui itu dekat hubungannya dengan ayah Ibnu Umar. Maka, Ibnu Umar menghadiahkan keledai dan sorbannya kepada orang Badui itu. Dengan heran, seorang sahabatnya bertanya, “Semoga Allah memberikan ampunan kepada Anda. Apa yang mendorong Anda menghadiahkan keledai dan sorban yang Anda kenakan kepada orang Badui itu?” Ibnu Umar menjawab, “Aku telah mendengar Rasulullah bersabda, “Di antara cara berbakti yang paling baik adalah dengan menyambung hubungan kasih sayang dengan orang yang dicintai oleh ayahnya setelah meninggal.” Beliau melanjutkan, “Nah, ayah orang Badui itu memiliki hubungan dekat dengan ayahku, Umar.”

Selain dengan memberi hadiah, silaturrahim bisa dijalin dengan cara mengunjungi sanak saudara. Ini juga dilakukan oleh Abdullah bin Umar. Ibnu Hibban dalam shahihnya meriwayatkan dari Abu Burdah bahwa ia berkata, “Aku tiba di kota Madinah, lalu Abdullah bin Umar menemuiku dan berkata, “Apakah engkau tahu, kenapa aku ingin menemuimu jauh-jauh seperti ini?” Aku menjawab, “Tidak.” Ibnu Umar berkata, “Karena aku telah mendengar Rasulullah bersabda, “Siapa yang ingin berbuat baik kepada ayahnya di kuburnya, maka hendaklah ia menyambung silaturrahmi dengan saudara-saudara ayahnya setelah ia meninggal.” Nah, aku mengetahui bahwa antara ayahku dan ayahmu terdapat tali persaudaraan dan kasih sayang, sehingga aku ingin menyambungnya.

Jamaah Jum’at Rahimakumullah
Tidak sulit mengalah kepada orang yang masih terjalin kasih sayang. Tidak berat pula berkorban untuk kerabat yang memang sudah lama berhubungan dekat. Tapi, tidak mudah untuk melakukan itu semua saat tali silaturrahmi nyaris putus. Karenanya, ada keutamaan lebih bagi orang yang mampu melakukannya. Nabi bersabda,

لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ ، وَلَكِنِ الْوَاصِلُ الَّذِى إِذَا قَطَعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا

“Bukannya orang yang menyambung silaturrahim adalah orang yang mencukupi kebutuhan kerabatnya, akan tetapi penyambung silaturrahim adalah ketika tali silaturrahmi terputus, lalu ia menyambungnya.” (HR. Abu Dawud)

Banyak orang-orang utama yang mampu mewujudkan keutamaan dalam hadits ini. Salah satunya adalah kasus yang terjadi atas dua putera Ali bin Abi Thalib yang berbeda ibu. Yang satu adalah Hasan bin Ali, ibunya adalah Fathimah puteri Rasulullah, dan di pihak lain ada Muhammad Al-Hanafiyyah, putera Ali dari istrinya yang bernama Khaulah binti Ja’far al-Hanafiyyah. Wanita yang dinikahi Ali sepeninggal Fathimah.

Suatu kali, terjadi ketegangan antara kedua putera Ali yang berbeda ibu tersebut, maka Muhammad bin Al-Hanafiyyah menulis surat kepada Hasan, “Sesungguhnya Allah memberikan keutamaan kepada Anda melebihi diriku. Ibumu adalah Fathimah binti Muhammad bin Abdillah, sedangkan ibuku adalah seorang wanita dari Bani Hanifah. Kakekmu dari jalur ibu adalah Rasulullah pilihan-Nya, sedang kakekku dari jalur ibu adalah Ja’far bin Qais. Jika suratku ini sampai kepada Anda, saya berharap Anda berkenan datang kemari dan berdamai, agar Anda tetap lebih utama dariku dalam segala hal.” Sesampainya surat tersebut, Hasan bergegas mendatangi rumahnya untuk menjalin persaudaraan.

Jamaah Jum’at Rahimakumullah
Anjuran untuk menyambung silaturrahim juga berlaku bagi kerabat, atau bahkan orangtua yang belum mendapat hidayah. Asalkan, mereka tidak memerangi Allah dan Rasul-Nya.

Suatu kali, Asma’ binti Abu Bakar tidak mau menerima hadiah dari ibunya yang bernama Qutailah (yang telah diceraikan Abu Bakar pada masa jahiliyyah) yang datang menjenguknya. Asma’ tidak mengijinkan ibunya masuk sebelum ia menanyakan hal tersebut terlebih dahulu kepada Rasulullah.

Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan sebuah riwayat dari Asma’ binti Abu Bakar, bahwa dia berkata, “Ibuku pernah mendatangiku pada masa Islam mulai berkembang di Mekah, sedang ibuku adalah seorang musyrik. Aku pun pergi menanyakan hal itu kepada Rasulullah. Sesampainya di sana aku bertanya: ‘Ibuku telah datang kepadaku dengan penuh antusias kepadaku. Apakah aku boleh menyambung silaturrahim dengannya?’ Beliau menjawab,

نعم صلي أمك

“Ya, sambunglah silaturrahim dengan ibumu!” (HR. Bukhari dan Muslim)

Di antara hikmah yang bisa dipetik adalah, silaturrahim kepada kerabat yang belum mendapat hidayah menjadi sarana yang efektif untuk berdakwah, mudah-mudahan mereka mendapat hidayah dari Allah.

Jamaah Jum’at Rahimakumullah
Demikianlah khutbah yang dapat kami sampaikan, semoga memberi manfaat. Akhir kata, marilah kita berusaha meningkatkan kuantitas dan kualitas silaturahim kita. agar persaudaraan semakin kuat dan pahala semakin banyak kita dapat. Dan kelak buahnya dapat kita panen di akhirat.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHUTBAH KEDUA

إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أشْهَدُ أنْ لاَ إِلٰه إلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

اللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُجَاهِدِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ،

اللَّهُمَّ وَحِّدْ صُفُوْفَهُمْ وَسَدِّدْ رَمْيَهُمْ وَثَبِّتْ أَقْدَامَهُمْ وَاجْمَعْ كَلِمَاتِهِمْ وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ

اللَّهُمَّ أَفْرِغْ فِي قُلٌوْبِهِمْ صَبْرًا، يَا إِلَهَ الْحَقُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ

اللَّهُمَّ دَمِّرْ أَعْدَائَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، اللَّهُمَّ مَزِّقْ صُفُوْفَهُمْ، وَشَتِّتْ شَمْلَهُمْ وَفَرِّقْ جَمْعَهُمْ، وَمَزِّقْهُمْ كُلَّ مُمَزَّقٍ، يَا عَزِيْزُ ذُو انْتِقَامٍ

اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، اللَّهُمَّ ارْحَمْ نِسَائَهُمْ وَصِبْيَانَ هُمْ، اللَّهُمَّ ارْحَمْ ضُعَفَاءَ هُمْ، اللَّهُمَّ دَاوِ جَرْحَهُمْ وَاشْفِ مَرْضَاهُمْ

رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالمُنْكَرِ وَالبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

وَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ الْجَلِيْلَ يَذْكُرْكُمْ، وَأَقِمِ الصَّلَاة

dapatkan versi PDF di Sini: Khutbah Jumat PDF (Bisa langsung diprint)

Gempa Lombok, Duka Kita Bersama

Malam itu kaum muslimin sedang khusyuk melaksanakan shalat isya di masjid-masjid di pulau Lombok. Tiba-tiba, bumi berguncang. Tubuh jamaah pun limbung. Suara berderak terdengar begitu kencang menakutkan.

Satu per satu jamaah mundur dan berlari sambil mengucap takbir dan istigfar. Tidak lama, plafon masjid runtuh satu per satu digoyang gempa. Dinding terbelah dan genting berjatuhan. Di luar masjid, alam terperangkap gelap. Jaringan listrik mati total. Langit tak menyisakan satu pun bintang. Suara katak dan binatang lainnya lenyap berganti dengan teriakan manusia dalam kepanikan. Semua warga berhamburan ke luar rumah menuju tempat yang lebih lapang.

Lombok, pulau yang dikenal dengan pulau seribu masjid itu berduka. Ratusan ribu rumah, ratusan tempat ibadah, dan fasilitas kesehatan rusak parah. Hingga senin 13 Agustus 2018, saat artikel ini ditulis, BNPB merilis gempa 5 Agustus itu telah menewaskan 436 orang. Itu pun masih belum final, karena masih banyak korban yang belum ditemukan.

gempa lombok
Puing bangunan setelah terjadi gempa di Lombok

Musibah itu tak hanya menjadi duka mereka saja. Allah sedang menguji mereka dengan musibah itu dan menguji yang lain dengan ujian ukhuwah. Apaka mereka peduli dan terpanggil untuk membantu saudaranya atau mereka abai dan sibuk dengan dunia mereka sendiri.

Saling memberi pertolongan dan bantuan adalah kewajiban semua kaum beriman, bahkan Allah memberi ganjaran yang besar. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang menghilangkan kesulitan dari saudara mukmin, maka Allah akan menghilangkan kesulitan darinya pada hari kiamat. Dan barangsiapa yang memudahkan orang yang sedang dalam kesulitan, maka Allah akan memudahkannya di dunia dan akhirat.” (HR Muslim).

[bs-quote quote=” “Barangsiapa yang menghilangkan kesulitan dari saudara mukmin, maka Allah akan menghilangkan kesulitan darinya pada hari kiamat. Dan barangsiapa yang memudahkan orang yang sedang dalam kesulitan, maka Allah akan memudahkannya di dunia dan akhirat.” (HR Muslim).” style=”default” align=”center” color=”#1868a5″][/bs-quote]

Setidaknya bila tangan tak mengulur derma, lisan masih bisa mengucap doa. Sebab doa adalah senjata. Allah berfirman, yang artinya: “Dan orang-orang yang datang setelah mereka (Muhajirin dan Anshar) mereka berdo’a: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha penyayang.” (QS. Al Hasyr: 10).

Mari kita bantu saudara-saudara kita dengan sepenuh kemampuan yang kita miliki. Harta, tenaga, doa yang bisa kita sampaikan, berikan dengan ikhlas sebagai kewajiban kepada sesama. Kita jadikan musibah yang menimpa sebagai tadzkirah bahwa Allah Maha mampu untuk berbuat sesuatu dan tugas kita adalah menghamba kepada-Nya. (Muhtadawan Bahri/Terkini)

An-Nammam, Si Biang Keladi Perpecahan

Ketika kita melihat perselisihan di antara saudara-saudara kita seiman, sebaiknya kita tidak langsung memilih untuk berpihak pada siapa atau menyalahkan salah satunya. Sebab, bisa jadi yang salah bukan dua-duanya tapi pihak ketiga yang menjadi dalang dari sengketa dan retaknya bangunan ukhuwah. Dialah si penyebar fitnah dan tukang adu domba alias an-Nammam.

Annammam, orang yang bermain di balik layar, menghasut, memprovokasi dan membuat propaganda untuk memecah belah persaudaraan. Bisa antara dua orang mukmin, antar kelompok, jamaah, organisasi atau lainnya. Ia mengincar keuntungan di balik perpecahan dan perseteruan. Memanfaatkan berbagai momen dan kesempatan untuk merusak tali persaudaraan. Memantik amarah, menyebarkan fitnah, menyingkap aib, memperluas kesalahpahaman hingga akhirnya terjadi konflik internal di tubuh umat Islam dan munculah kebencian. Lalu, ia pun tersenyum geli melihat kita saling baku hantam dengan saudara sendiri.

 

Kaki Tangan Setan

Kaki tangan setan yang sangat berbahaya karena besarnya kerusakan yang ditimbulkan akibat makar-makarnya. Jika kita tidak berhati-hati, terperangkap dalam jebakan lalu ikut terjun dalam kancah permusuhan, maka kita telah terjatuh pada fitnah. Lebih-lebih jika sudah sampai pada tindakan fisik. Jika kita melukai atau terluka karena membela akidah, membela keimanan pada Allah dan Muhammad Rasul-Nya, itu adalah perbuatan mulia. Tapi jika jika kita terluka atau melukai saudara kita sendiri, maka wallahua’lam, semoga Allah berkenan mengampuni.

 

Baca Juga: Munafik yang Pandai Bicara

 

Padahal sebagaimana kita tahu, betapa berharganya nyawa, bahkan setetes darah orang mukmin di sisi Allah. Betapa syariat menerapkan sistem keamanan yang sangat kuat untuk menjaga jiwa, kehormatan dan hartan seorang mukmin. Dengan qishash, had dan diyat. Tentu yang dimaksud adalah mukmin yang beriman pada Allah dan beriman kepada Muhammad sebagai rasul terakhir Allah.

Jika kita tertipu dengan muslihat si an-Nammam, lalu melanggar penjagaan Allah atas saudara kita, maka sungguh celaka diri kita.

Oleh karenanya, kewaspadaan dan kejelian kita dalam melihat persoalan harus kita tajamkan. Karena selain berbahaya annamam juga tidak mudah dilacak untuk ditemukan delik dan buktinya agar bisa diadili dan dibuktikan bahwa dialah sebenarnya biang keroknya. Karena biasanya, kita lebih disibukkan dengan  konflik yang tampak dan mencari alasan untuk berpihak.

 

Jangan Mudah Dipengaruhi

Dalam hal ini Allah sudah memberi peringatan agar kita tidak mudah di adu domba dan mengikuti hasutan masya’ bin namim, tukang sebar fitnah dan adu domba. Firman-Nya,

 

وَلاَتُطِعْ كُلَّ حَلاَّفٍ مَّهِينٍ , هَمَّازٍ مَّشَّآءٍ بِنَمِيمٍ

“Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah.” (QS. Al Qalam :11)

Dalam surat al Hujurat juga disebutkan agar kita berhati-hati dan melakukan cek dan ricek ketika mendengar berita dari orang fasik. Secara umum, kita diperingatkan agar tidak mudah terprovokasi dengan berbagai macam berita yang disampaikan oleh berbagai media. Utamanya berita-berita yang berpotensi menimbulkan konflik dan perpecahan dengan saudara kita sesama mukmin. Agar jangan sampai kita melakukan kezhaliman karena menindak atau berlaku tidak baik pada sesama mukmin yang sejatinya tidak bersalah. Kita melakukannya hanya karena salah paham dan kecerobohan.

 

Baca Juga: Beda Weton Sumber Perselisihan?

 

Naif sekali jika kita sampai tertipu oleh orang yang diberi gelar sebagai manusia terjelek pada hari Kiamat dan akan mendapat siksa kubur di alam Barzakh. Sebagaimana dalam sabda Rasulullah,

” Akan kalian dapati, manusia paling buruk di Hari Kiamat adalah dzul wajhain (si muka dua) yang datang pada sekelompok orang dengan satu wajah dan kepada yang lain dengan wajah yang lain.”

Qatadah rahimahullah berkata, “Diberitakan pada kami bahwa siksa kubur itu dibagi menjadi tiga bagian, sepertiga karena ghibah, sepertiga karena namimah (fitnah dan adu domba) dan sepertiga karena kencing.”

 

Tabayun

Menyikapi konflik antar sesama mukmin yang beriman pada Allah dan Rasulullah Muhammad SAW, yang mesti kita lakukan adalah tabayun, klarifikasi, melakukan cross check dan menganalisa masalah dengan cermat. Mencari akar permasalahan dan bijaksana dalam memandang alasan dan pendapat semua pihak. Kita juga perlu menimbang dan mengamati, jangan-jangan hal itu adalah ulah orang lain yang bermain, memantik api permusuhan dan mencoba mengambil keuntungan. Sehingga kita tidak salah dalam bersikap dan menentukan tindakan.

Tabayun harus kita terapkan ketika mendengar isu-isu yang bisa memicu kebencian, kesalahpahaman dan ada muatan adu domba. Karena bisa jadi, kitalah yang menjadi target operasinya dan hendak dijadikan boneka tangan untuk memusuhi saudara seiman.

 

Baca Juga: Dusta, Jamur di Akhir Zaman

 

Sehingga ketika ada yang membawa kabar dan isu tak sedap pada Umar bin Khatab, beliau mengatakan, ” Kalau kau mau, kami akan mericek perkataanmu. Kalau kamu bohong, maka kamu adalah oknum yang ada dalam ayat , “Jika ada seorang fasiq yang datang membawa berita, maka tabayunlah (cek ulanglah).” (QS. al Hujurat: 6). Dan jika kamu jujur, maka kamu adalah orang yang seperti dalam ayat, “yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah.” (QS. Al Qalam: 11). Tapi jika kamu mau, kami bisa memaafkanmu?” lelaki itupun berkata, ” Kalau begitu maafkan aku wahai amirul Mukminin, aku tidak akan mengulanginya lagi selamanya.”

Kedustaan, ghibah, penghinaan dan isu-isu fitnah adalah senjata-senjata setan yang mampu membakar amarah hingga mengobarkan permusuhan antar umat Islam. Maka hendaknya kita lebih waspada. Wallahul musta’an.

 

Oleh: Redaksi/Biah

Menolong Rohingya, Bukti Kita Manusia

Dalam perbincangan via telefon dengan presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, Aung San Su Kyi, pemimpin de facto Myanmar, menyatakan berita yang menyebar tentang krisis kemanusiaan di Rakhine diwarnai dengan banyaknya foto palsu yang merupakan puncak gunung es dari misinformasi.

Memang ada banyak berita dan foto palsu seputar krisis kemanusian yang melanda warga Rohingya. Pada 5 September 2017, ada sekira 1,2 juta tweet yang berbicara soal krisis Rohingya. Kebanyakan memuat gambar yang sekilas memperlihatkan tingkat kekerasan di wilayah itu.

Adanya foto-foto hoax seputar tragedi kemanusiaan memang membuat masalah semakin runyam dan sulit diklarifikasi, namun bukan berarti meniadakan tragedi tersebut dan membuat kita tutup mata.

AH Mahmood Ali, menlu Bangladesh yang menampung ribuan pengungsi dari menyatakan Rohingya menuding Myanmar sedang menjalankan kampanye propaganda jahat dengan menyebut Rohingya sebagai imigran ilegal dari Bangladesh dan kelompok militan di Rakhine sebagai teroris Bengali.

Zeid Ra’ad al-Hussein Komisioner Tinggi PBB untuk HAM mengatakan bahwa operasi militer yang terjadi di Rakhine sekarang sangat berlebihan. Ia telah menerima berbagai laporan dan gambar satelit yang menunjukkan pasukan keamanan dan milisi setempat membakari desa-desa Rohingya, dan pengakuan-pengakuan yang konsisten tentang pembunuhan ekstrajudisial, antara lain penembakan terhadap warga sipil.

 

Perang Narasi Berita Rohingya

Jonathan Head, Wartawan BBC untuk Asia Tenggara, punya kisah menarik saat diizinkan meliput tragedi kemanusiaan di Rohingya. Sebab, wilayah ini memang tertutup dari akses wartawan luar. Sementara, berita di koran lokal Myanmar selalu berisi pembelaan terhadap negara.

Ia berkisah, Pertama kami dibawa ke sekolah kecil di Maungdaw, yang penuh sesak dengan keluarga Hindu yang mengungsi. Mereka semua memiliki cerita yang sama untuk diceritakan yaitu serangan orang-orang Muslim, atau melarikan diri dari ketakutan.

Anehnya, orang-orang Hindu yang melarikan diri ke Bangladesh semuanya mengatakan bahwa mereka diserang oleh umat Buddha Rakhine setempat, karena mereka mirip orang Rohingya.

Di sekolah itu Seorang pria mulai menceritakan bagaimana tentara menembaki desanya, dan dia segera dikoreksi oleh tetangganya. Seorang perempuan dengan blus berenda oranye dan longyi (kain tradisional Burma) berwarna abu-abu dan ungu muda yang ketara, sangat bersemangat menceritakan kekerasan yang dilakukan orang-orang Muslim.

Baca Juga: Sakit Hati Sedunia Karena Rohingya

Kami kemudian dibawa ke sebuah kuil Buddha, tempat seorang biksu menggambarkan orang-orang Muslim membakar rumah mereka sendiri, di dekat tempat itu. Kami diberi foto-foto yang menggambarkan mereka tertangkap basah melakukan aksi itiu. Semuanya tampak aneh.

Di foto itu tampak sejumlah pria dengan topi haji putih berpose saat mereka membakar atap rumah yang terbuat dari rumbia. Beberapa perempuan mengenakan sesuatu yang tampak seperti taplak meja berenda di atas kepala mereka melambaikan pedang dan parang dengan melodramatis.

Kemudian saya mengetahui bahwa salah satu perempuan itu sebenarnya adalah perempuan Hindu dari sekolah tersebut yang tampak bersemangat, dan saya melihat bahwa salah satu dari pria yang tampak di foto itu juga hadir di antara orang-orang Hindu yang mengungsi.

Mereka membuat foto-foto palsu agar terlihat seolah-olah kelompok Muslimlah yang melakukan pembakaran.

Ketika berkesempatan temu wicara dengan Kolonel Phone Tint, pejabat keamanan perbatasan setempat, jurnalis diberikan foto-foto yang seakan ‘menangkap’ orang-orang Muslim sedang membakar rumah mereka sendiri, namun BBC kemudian mengidentifikasi perempuan yang sama di sebuah desa Hindu.

Dalam perjalanan tersebut, ia menyaksikan sendiri beberapa pemuda Myanmar sedang membakar rumah-rumah penduduk Rohingya. Pembakaran itu terjadi di dekat sejumlah barak polisi yang besar. Tidak ada yang melakukan tindakan apa pun untuk menghentikan semua itu.

 

Siapakah Rohingya?

Tentu kita sudah banyak mendengar tentang siapa Rohingya. Mereka adalah kelompok minoritas yang banyak tinggal di wilayah utara Arakan. Awalnya, Arakan bukanlah bagian dari Myanmar maupun Bangladesh, ia adalah wilayah yang terpisah sampai terjadinya invasi yang dilakukan oleh raja Burma yang bernama Bowdawpaya pada tahun 1784. Dinasti terakhir di Arakan berkuasa dari abad ke 15 hingga 18, dan sangat dipengaruhi oleh kultur Islami.

Dasar keyakinan Islam, yaitu Kalima, tertulis di seluruh mata uang mereka. Muslim Rohingya adalah penduduk asli wilayah Myanmar yang disebutkan dalam Asiatic Researches volume ke-5 tahun 1799. Seluruh konstitusi dan undang-undang kewarganegaraan Myanmar memberikan status pribumi pada seluruh orang yang secara permanen tinggal di Arakan atau di Myanmar sebelum tahun 1825. Muslim Rohingya sebelum tahun 1825 dianggap sebagai ras pribumi yang sah di Myanmar. Namun, hari ini rezim militer Myanmar menuduh etnis Rohingya sebagai imigran gelap asal Bangladesh dan menyangkal status mereka sebagai warga negara Myanmar.

 

Menolong, Bukti Kita Manusia

Ketika mendengar, membaca, dan menyaksikan bagaimana kondisi manusia yang kesulitan, dan tak terbetik empati di hati, kita perlu mempertanyakan kemanusiaan kita. Bukankah sudah seharusnya ketika ada manusia lain yang menderita kita bantu meringankan bebannya.

Jika seseorang mengalami kesulitan dalam hal harta, atau kesulitan untuk memenuhi hajat hidupnya seperti makan, minum dan pakaian maka cara membantunya adalah dengan memenuhi kebutuhannya.  Bila jarak berjauhan, kita bisa mengirimkan donasi untuk mereka. Bila belum mampu juga, setidaknya doa kita ada bersama mereka.

Baca Juga: Menolong Di Dunia, Tertolong Di Akhirat

Ketika kita menolong mereka, sesungguhnya kita sedang menolong diri kita sendiri. Sebab, Allah akan menolong hambanya ketika hamba tersebut menolong saudaranya.

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,

مَنْ نَـفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُـرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا ، نَـفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُـرْبَةً مِنْ كُـرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَـى مُـعْسِرٍ ، يَسَّـرَ اللهُ عَلَيْهِ فِـي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

 “Barangsiapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang Mukmin, maka Allâh melapangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat. Barangsiapa memudahkan (urusan) orang yang kesulitan, maka Allah Azza wa Jalla memudahkan baginya (dari kesulitan) di dunia dan akhirat.” (HR Muslim).

Membantu saudara yang kesulitan tidak dibatasi oleh sekat nasab, kekerabatan, maupun sekat wilyayah dan negara. Karena orang-orang mukmin itu bersaudara. (Redaksi/Rohingya)