Gempa Lombok, Duka Kita Bersama

17

Malam itu kaum muslimin sedang khusyuk melaksanakan shalat isya di masjid-masjid di pulau Lombok. Tiba-tiba, bumi berguncang. Tubuh jamaah pun limbung. Suara berderak terdengar begitu kencang menakutkan.

Satu per satu jamaah mundur dan berlari sambil mengucap takbir dan istigfar. Tidak lama, plafon masjid runtuh satu per satu digoyang gempa. Dinding terbelah dan genting berjatuhan. Di luar masjid, alam terperangkap gelap. Jaringan listrik mati total. Langit tak menyisakan satu pun bintang. Suara katak dan binatang lainnya lenyap berganti dengan teriakan manusia dalam kepanikan. Semua warga berhamburan ke luar rumah menuju tempat yang lebih lapang.

Lombok, pulau yang dikenal dengan pulau seribu masjid itu berduka. Ratusan ribu rumah, ratusan tempat ibadah, dan fasilitas kesehatan rusak parah. Hingga senin 13 Agustus 2018, saat artikel ini ditulis, BNPB merilis gempa 5 Agustus itu telah menewaskan 436 orang. Itu pun masih belum final, karena masih banyak korban yang belum ditemukan.

gempa lombok
Puing bangunan setelah terjadi gempa di Lombok

Musibah itu tak hanya menjadi duka mereka saja. Allah sedang menguji mereka dengan musibah itu dan menguji yang lain dengan ujian ukhuwah. Apaka mereka peduli dan terpanggil untuk membantu saudaranya atau mereka abai dan sibuk dengan dunia mereka sendiri.

Saling memberi pertolongan dan bantuan adalah kewajiban semua kaum beriman, bahkan Allah memberi ganjaran yang besar. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang menghilangkan kesulitan dari saudara mukmin, maka Allah akan menghilangkan kesulitan darinya pada hari kiamat. Dan barangsiapa yang memudahkan orang yang sedang dalam kesulitan, maka Allah akan memudahkannya di dunia dan akhirat.” (HR Muslim).

“Barangsiapa yang menghilangkan kesulitan dari saudara mukmin, maka Allah akan menghilangkan kesulitan darinya pada hari kiamat. Dan barangsiapa yang memudahkan orang yang sedang dalam kesulitan, maka Allah akan memudahkannya di dunia dan akhirat.” (HR Muslim).

Setidaknya bila tangan tak mengulur derma, lisan masih bisa mengucap doa. Sebab doa adalah senjata. Allah berfirman, yang artinya: “Dan orang-orang yang datang setelah mereka (Muhajirin dan Anshar) mereka berdo’a: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha penyayang.” (QS. Al Hasyr: 10).

Mari kita bantu saudara-saudara kita dengan sepenuh kemampuan yang kita miliki. Harta, tenaga, doa yang bisa kita sampaikan, berikan dengan ikhlas sebagai kewajiban kepada sesama. Kita jadikan musibah yang menimpa sebagai tadzkirah bahwa Allah Maha mampu untuk berbuat sesuatu dan tugas kita adalah menghamba kepada-Nya. (Muhtadawan Bahri/Terkini)