Tips Meraup Pahala Sambil Memasak

10

Bagi seorang istri dan seorang ibu, masak adalah tuntutan dan bisa dibilang lumrahnya seorang wanita. Karenanya, waktu dan tenaganya banyak dihabiskan di dapur untuk memasak dan menyiapkan hidangan untuk keluarga. Nah, bagaimana agar kegiatan memasak tersebut bisa dimanfaatkan untuk meraup pahala? Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan di dapur.

  • Meniatkan karena Allah

Niat merupakan hal mendasar dari setiap amal, termasuk saat memasak. Bila diniatkan untuk ibadah maka kegiatan tersebut akan bernilai pahala, sementara bila niatnya tidak benar tidak ada imbalan yang diperoleh. Gabungkan beberapa niat saat memasak sehingga kita juga akan mendapat pahala yang berlipat. Niatkan memasak untuk melayani suami dan memberikan hak pada anak-anak. Memasak juga bisa diniatkan untuk mengasah keterampilan dan meningkatkan kualitas seorang wanita.

Ingat, sabda Rasulullah, “Sesungguhnya amal itu tergantung niat dan setiap orang akan mendapat pahala sesuai yang diniatkan.” (HR. Bukhari).

  • Ibadah sembari memasak

Ada beberapa amalan ibadah yang bisa dilakukan sambil memasak. Di antaranya,

  • Mendengarkan murotal Al-Qur’an atau kajian keislaman saat berada di dapur.

Saat ini sangat mudah untuk mendapatkan alat pemutar murotal al-Qur’an atau kajian keislaman, diantaranya dengan menggunakan HP. Kita bisa memutar langsung dari internet atau mendownload beberapa murotal syaikh atau memilih satu yang paling kita sukai dan juga kajian islam dari para asatidz. Yang perlu diperhatikan jangan letakkan Hp terlalu dekat dekat dengan kompor.

  • Murojaah hafalan Al-Qur’an.

Sambil memasak kita bisa menghafal dan memurajaah ayat-ayat Al-Qur’an yang coba kita hafalkan dengan melafalkalnya secara keras atau di dalam hati.

  • Dzikir dan istighfar

Ada beberapa bacaan yang layak dibaca berulang-ulang disela-sela pekerjanan di antaranya mengucapkan subhanallah, lailaha illallah, Allah Akbar, astagfirullah. Hendaknya lisan kita senantiasa basah dengan zikir kepada Allah Ta’ala. Dengan begitu, kita aka mendapatkan pahala yang agung melalui sedikit ucapan yang kita lakukan.

Rasulullah bersabda:

يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ ، فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ ، وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ ، وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ ، وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ ، وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ ، وَنَهْيٌ عَنْ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ ، وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنْ الضُّحَى

”Setiap pagi, seluruh persendian tulang kalian hendaknya melakukan shadaqah; setiap tasbih(subhanallah) adalah shadaqah, setiap tahmid (alhamdulillah) adalah shadaqah, setiap tahlil (lailaha illallah) adalah shadaqah, setiap takbir (Allahu Akbar) adalah shadaqah, menyuruh berbuat kebaikan adalah shadaqah, melarang melakukan kemunkaran adalah shadaqah. Dan dua rakaat yang dia lakukan pada shalat Dhuha dapat menggantikan itu (semua).”  (HR. Muslim, no. 720)

Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Dua kata yang ringan di lisan, berat di timbangan dan dicintai oleh Ar-Rahman (Allah), adalah,

 سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ

“Maha suci Allah dan dengan (segala) pujian-Nya, Maha suci Allah yang Maha Agung” (HR. Bukhari, no. 6682, dan Muslim, no. 2694)

Beliau sallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

“Barangsiapa mengucapkan,

 سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ وَبِحَمْدِهِ

“Maha suci Allah yang Maha Agung dan dengan segala pujianNya” maka ditanamkan pohon kurma baginya di surga.” (HR. Tirmidzi, no. 3465, dishahihkan oleh Al-Albany dalam shahih Tirmizi)

Sabda beliau sallallahu ’alaihi wa sallam: “Barangsiapa yang mengucapkan

أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ

“Saya memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung yang tiada tuhan yang berhak disembah melainkan Dia Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri sendiri dan saya bertaubat kepadaNya”, maka dia akan diampuni meskipun lari dari (medan) perang.” (HR. Abu Daud, no. 1517, Tirmizi, no. 3577 dan dishahihkan oleh Al-Albany dalama shahih Abu Daud)

Beliau sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda lagi: “Setiap kali seorang muslim di atas bumi ini berdoa kepada Allah dengan suatu doa, niscaya Allah akan mengabulkannya, atau (jika tidak) dia akan dijauhkan dari keburukan yang setara dengannya, selama dia tidak berdoa untuk perkara dosa atau memutus  silaturrahim. Ada seseorang dari kaum berkata: “Kalau begitu kita akan perbanyak (berdoa).” Beliau menjawab: “Allah lebih banyak (mengabulkan doanya).” (HR. Tirmizi, no. 3573, dishahihkan oleh Al-Albany dalam shahih Tirmizi).

Beliau sallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

“Jika kalian mendengar muazin (orang  yang mengumandangkan adzan) maka ucapkan seperti yang dia ucapkan. Kemudian hendaklah kalian bershalawat kepadaku. Karena siapa yang bershalawat kepadaku satu shalawat, Allah akan memberinya shalawat (rahmat) kepadanya sebanyak sepuluh kali. Kemudian mintalah kepada Allah al-wasilah untuk diriku. Karena dia adalah kedudukan di surga yang tidak diperuntukkan melainkan untuk seorang hamba di antara hamba-hamba Allah. Dan aku berharap orang itu adalah diriku. Barangsiapa memohon (kepada Allah) al-wasilah untukku, maka dia berhak mendapatkan syafaat(ku).” (HR. Muslim, no. 384)

Beliau sallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

“Siapa yang mengucapkan (doa) setelah adzan:

اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ ، وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ ، آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ

(Ya Allah,Tuhan pemilik doa yang sempurna ini. Dan shalat yang akan ditunaikan. Berikanlah kepada Muhammad al-wasilah dan fadhilah (keutamaan). Dan bangkitkanlah dia ke tempat yang terpuji  yang telah Engkau janjikan). Maka dia berhak mendapatkan syafaatku (nanti) di hari kiamat.” (HR. Bukhari, no. 614).

Selain amalan tersebut tak ada salahnya bersedekah dengan memberikan sebagian hidangan tersebut kepada orang-orang terdekat (kerabat atau tetangga), meskipun hanya kuahnya saja.  Sebagaimana Nabi menganjurkan ketika seseorang memasak agar memperbanyak kuahnya dan bisa dibagi-bagikan kepada saudara dan tetangga yang dekat. Wallahu a’lam

Oleh: Ust. Muhtadawan Bahri/Motivasi