Fikrah

Tuhan Dalam Perspektif Deisme dan Islam, Sebuah Perbandingan

Penalaran akal manusia dalam mengamati alam semesta beserta isinya ; kompleksitas, keteraturan dan harmoninya, dapat mengantarkan manusia kepada pengenalan dan pengakuan eksistensi Sang Pencipta. Para filsuf Yunani kuno maupun para pemikir era renaissance Eropa yang mengacu kepada karya-karya mereka sampai pada kesimpulan yang sama,…eksistensi tuhan, dan Tuhan yang Esa.

Mereka mengakui eksistensi dan keesaan Tuhan, menyematkan sifat-sifat kebaikan kepadanya, tetapi mereka menolak campur tangan Tuhan dalam mengatur alam semesta dan isinya, termasuk manusia. Dalam perspektif mereka, Tuhan telah meletakkan pengaturan itu dalam kesempurnaan rancangan sehingga tidak memerlukan campur tangan lagi. Jika Tuhan masih campur tangan, berarti Tuhan telah bertindak otoriter dan menghambat manusia dalam berkarya. Paham ini memang tumbuh sebagai reaksi terhadap tirani gereja Eropa abad pertengahan. Ini inti paham ketuhanan Deisme.

Kesamaan Alur Berpikir Kaum Deism dan Penganut Sekularisme

Jika dicermati, Deisme ini sama dan sebangun dengan ilmaniyah (sekularisme) yang muncul di Eropa pada era renaissance, kebangkitan teknologi, revolusi industri, masa kolonialisme ke dunia Islam hingga sekarang. Sama-sama tidak mengingkari eksistensi Tuhan secara ekstrim seperti kaum atheis, akan tetapi mereka mem-pasif-kan Tuhan, mem-pensiun-kan Tuhan dari mengatur alam semesta ciptaannya.

Mereka memuji-muji Tuhan dengan sifat kebaikan dan kesempurnaan, namun… selanjutnya menelikung Tuhan dari mengatur ciptaannya dengan aturan dan hukum. Untuk menyempurnakan penelikungan, mereka menolak konsep ‘wahyu’ dan ‘rasul’ dimana dengan perantaraan rasul dan wahyu lah Tuhan mengatur kehidupan alam semesta. Pengesaan para filsuf terhadap Tuhan sebagai produk eksplorasi pemikiran, hanya sampai pada penemuan eksistensi dan keesaannya. Dan memang,..setelah itu adalah wilayah para rasul dengan arahan wahyu menjelaskan kepada manusia bagaimana tata cara mengesakan Tuhan dalam sikap dan perilaku. Tanpa itu, pengakuan keberadaan Tuhan dan pujian akan kesempurnaan-Nya, hanya’pepesan kosong’, tidak ada konsekuensi, bahkan akhirnya melecehkan Tuhan. Memang kehebatan akal tanpa bimbingan rasul yang dipandu wahyu tidak akan sampai kepada kebenaran hakiki yang dikehendaki Tuhan.

Sungguh berlainan persepsi akan eksistensi Tuhan dan keesaannya dari mereka, dengan ajaran ‘rasul’ yang bersumber dari ‘wahyu’. Tuhan Allah dalam keyakinan Islam memperkenalkan diri sebagai Tuhan yang ‘sibuk’, bukan tuhan yang ‘diam’ dan ‘pasif’. Semua yang ada di langit dan di bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan. [Ar-Rahman : 29]. Imam Al-Qurthubiy di dalam tafsirnya Al-Jami’ li Ahkam al-Qur-an mengutip perkataan beberapa generasi Islam, mengenai sibuknya Allah mengatur urusan. Abu ad-DardaradliyalLahu ‘anhu  berkata, …diantara urusan-Nya adalah mengampuni dosa, memberikan jalan keluar terhadap kesempitan, memuliakan suatu kaum dan merendahkan yang lain. Abdullah bin ‘Umar menambah,…mengabulkan permohonan. Generasi berikutnya, seperti Ibnu Bahr memerinci …masa (waktu) seluruhnya ada 2, yakni hitungan hari-hari di dunia, sedangkan di akherat  yakni hari pembalasan. Adapun urusan Allah dalam kehidupan di dunia menimpakan bala’ dan menguji manusia, menghidupkan dan mematikan, menimpakan bencana dan menguji manusia dengan perintah dan larangan, memberi dan menahan pemberian-Nya. Adapun urusan di akherat adalah meng-hisab dan membalas amal perbuatan. [Ahkam al-Qur-an, Imam al-Qurthubi, Maktabah Syamilah].

Para filsuf Deism tampak manis memuji Tuhan dalam kesempurnaan desain, keteraturan penataan dalam kompleksitas dan keterperinciannya, tampilan harmoni ciptaan yang menakjubkan. Tetapi di balik pujian itu mereka menikam tuhan dan membelenggunya dalam credo kepasifan. Credo (keyakinan) itu sendiri memang hanya persepsi mereka sendiri yang dibayang-bayangi oleh latar belakang kepahitan sistem nilai dan tatanan sosial di bawah para pemimpin gereja yang korup dan sok suci dengan mengatasnamakan Tuhan.

Kesempurnaan Desain atas Ciptaan-Nya justru Mengharuskan Tidak Mem-Pasifkan-Nya

Islam punya perspektif lebih indah dan memuaskan dahaga intelektual tanpa dibayangi pengalaman pahit tatanan kehidupan yang tempo-tempo memang dikendalikan oleh pemimpin (baik politik maupun agama) yang tidak mencapai tingkat maturity untuk bercermin dengan keindahan dan kesempurnaan sifat Allah.

Rancangan Allah atas makhluk-Nya, termasuk alam semesta, dalam credo (keyakinan) Islam tidak hanya sempurna, kompleks, terperinci, indah dan harmoni, bahkan juga mengikuti alur perancangan desain yang derivatif ; ada desain induk yang menjadi acuan dan ada desain turunan bersifat penjabaran tanpa menyelisihi desain induk. Dari ‘Ubadah bin Ash-Shamit radliyalLahu ‘anhu berkata bahwa dia pernah mendengar RasululLah shallalLahu ‘alayhi wa sallam  bersabda, “Yang pertama kali diciptakan oleh Allah adalah Al-Qalam, kemudian Allah berfirman kepadanya : “Tulislah!” Ia bertanya : “Wahai Rabb-ku, apa yang akan aku tulis?” Allah berfirman : “Tulislah taqdir segala sesuatu hingga hari Kiamat”. [Abu Dawud, At-Tirmidziy dan Ahmad, dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albaniy]. Taqdir segala sesuatu dari makluk-Nya tersebut tersimpan di Lauh al-Mahfudh, tidak ada yang mengetahui ketetapan itu selain-Nya. Waktu penetapannya pun telah dikhabarkan, RasululLah bersabda, “Allah telah menetapkan takdir para makhluk-Nya lima puluh ribu tahun sebelum diciptakannya langit dan bumi”. [Muslim].

Contoh gambaran derivasi dari ketetapan besar itu, Allah menurunkan Al-Qur-an dari Lauh al-Mahfudh ke Bayt al-‘Izzah di langit dunia, sekali turun pada malam laylatul-Qodar sebagaimana firman-Nya dalam surat Ad-Dukhan ayat 3, adapun diwahyukannya kepada RasululLah, berjalan berangsur-angsur selama kurang lebih 23 tahun masa kenabian. Dalam hal anak-cucu Adam, takdir induk tersebut dirinci pada derivasi level kedua sebagaimana diberitakan di dalam hadits AbdulLah bin Mas’ud bahwa ketika janin berusia 120 hari di dalam rahim ibu, dikirimkan malaikat meniupkan ruhnya, dan diperintahkan dengan 4 (empat) perkara yaitu menulis rezekinya, ajalnya, amal perbuatannya dan apakah ia akan bahagia atau celaka. [Al-Bukhariy, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidziy dan Ibnu Majah].

Kesempurnaan turunan taqdir anak-cucu Adam ditetapkan dalam derivasi terperinci dalam penetapan takdir tahunan yang terjadi pada malam Laylatul-Qodar yakni diantara malam-malam ganjil pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Segala sesuatu ketetapan rinci terhadap seseorang yang akan terjadi pada satu tahun ke depan ditetapkan pada malam yang mulia dan penuh berkah tersebut. Menurut Syaikh As-Sa’diy dalam Taysir Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalim al-Mannan ketika menjelaskan ayat 4 dari surat Ad-Dukhan bahwa hal itu menunjukkan kesempurnaan ilmu Allah, kesempurnaan hikmah-Nya dan ketekunan Allah yang tidak pernah teledor mengurus makhluq-Nya.

Dari sini kita mendapatkan gambaran lebih utuh, penciptaan dan pengaturan dengan desain dan rencana yang sempurna, sekaligus dapat mengkomparasikan keyakinan persepsi para filsuf Deisme yang meng-klaim mengakui eksistensi dan keesaan Tuhan, tetapi berpandangan bahwa jika Tuhan masih mengurus ciptaan yang telah diciptakan secara sempurna tersebut berarti Tuhan otoriter dan menghambat kreasi manusia, maka anggapan tersebut jauh dari apa yang diberitakan oleh Allah kepada Rasul-Nya dengan perantaraan wahyu. Justru dengan mengenali Allah dengan sifat dan perbuatan-Nya seperti Allah memperkenalkan diri-Nya melalui Rasul dan wahyu-Nya kita jauh lebih dapat mengagungkan-Nya sesuai dengan keagungan-Nya tanpa disertai oleh prasangka buruk kepada-Nya, hanya karena perilaku tokoh agama yang tidak mampu mencapai maturity untuk ber-akhlaq dengan bercermin kepada sifat dan keagungan-Nya. WalLohu A’lam bish-Showab.

 

BACA JUGA: Benarkah Ruh Sujud di Bawah Arsy Saat Manusia Tidur?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *