Nyanyian: Mantra Zina dari Setan

16

Dukun memiliki mantra khusus untuk membuat suami istri bercerai, atau agar rasa benci menjadi cinta. Paranormal punya rapal tertentu pula untuk memanggil jin yang mencuri dengar di langit. Tukang sulap dan pemain kuda lumping memiliki mantera khusus ketika beraksi. Orang sakti punya mantera khusus untuk mendatangkan kesaktian. Dan ada mantera yang apabila diucapkan menyebabkan orang berbuat zina, yakni nyanyian.

Seperti yang dikatakan Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah: ‘Al-ghina’u ruqyatuz zinaa’, nyanyian adalah mantera zina. Mantera ini tak harus diucapkan oleh seseorang yang  berprofesi sebagai dukun maupun pesulap. Bahkan tetap manjur kasiatnya tanpa pandang bulu siapa yang mengucapkannya.

Mungkin ada yang memandang ekstrim kesimpulan dari ulama tabi’in yang agung tersebut. Atau sebagian menganggap itu sebagai penilaian subyektif, atau bahkan ada yang menanggapi sinis: “Ah..itu kesimpulan orang yang tak memahami seni.”

Sebenarnya, kesimpulan yang mirip banyak dikatakan oleh para ulama dahulu, baik di kalangan sahabat, tabi’in bahkan seluruh imam empat madzhab. Namun fatwa itu terasa hilang ditelan hingar bingar musik yang memenuhi atmosfer dunia. Terlebih di saat ini, di mana nyanyian telah menjadi kebutuhan pokok, kepentingannya seperti kedudukan makanan dan bahkan seperti air.

Kita perhatikan, menu nyanyian lebih banyak dan lebih sering disantap dari makanan dan minuman. Dia mengiringi setiap kerja manusia dan di seluruh celah dan ruangan yang ada. Di kantor, bus, pasar, toko, sekolah, dan bahkan tempat-tempat ibadah.

Sebagian pesimis bisa hidup tanpa menyanding musik. Syi’ar mereka “Tanpa selebriti dunia berhenti berputar”, la hula walaa quwwata illa billah.”

Profesi penyanyi pun mendapat kehormatan luar biasa di tengah masyarakat. Mereka menjadi idola, teladan dan pewarna moral dan budaya masyarakat yang paling dominan. Wajar jika banyak generasi kita yang bermimpi menjadi salah satu darinya. Obsesi orang tua untuk bisa mengorbitkan putrinya sebagai penyanyi nampak dari kegemaran mereka mengajari anak bernyanyi dan bergaya semisal artis. Memang menakjubkan pesona nyanyian ini, ia telah  menjadi ruh dan nyawa masyarakat kita. Seabrek efek negatif yang hampir  pasti muncul myaris tak terpikirkan, bahkan oleh kaum pendidik sekalipun.

 

Suara Genit Wanita

Allah yang menciptakan manusia, mengetahui segala gerak-gerik hati dan jasad manusia, Maha mengetahui apa yang baik dan buruk  bagi makhluk-Nya, telah memberikan isyarat waspada akan bahaya suara genit wanita. Dia mengingatkan ummahatul mukminin yang tentunya agar diambil pelajarannya untuk seluruh wanita mukminah:

“Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk (genit) dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik” (QS. Al-Ahzab: 32)

Pada asalnya suara wanita bukanlah aurat seperti yang dikatakan kebanyakan ulama. Dia boleh berbicara secara wajar, tidak  genit dan juga tidak sinis dan kasar, selagi termasuk ucapan yang ma’ruf. Oleh karena itu kita banyak mendapatkan riwayat perbincangan antara Nabi dengan para sahabiyat, atau sahabat dengan sahabiyat, ummul mukminin dengan sahabat maupun tabi’in dan sebagainya. Yang dilarang adalah berbicara dengan genit, karena mengundang fitnah besar berupa syahwat dan hasrat keji kaum lelaki.

Efek nyanyian yang disuguhkan dengan kemasan seperti sekarang ini lebih dahsyat pengaruhnya. Bukan saja karena sya’irnya yang nyrempet-nyrempet saru (tabu), namun juga dinyanyikan dengan  suara genit, musik yang menggairahkan, dibumbui dengan tarian erotis penyanyi beserta penari latar sebagai ‘punokawan’nya menambah aroma penggugah selera laki-laki hidung belang.

Padahal, seandainya disajikan apa adanya tanpa bumbu dan penyedap rasa pun sudah membuat terlena, hingga ketika sahabat agung Abdullah bin Mas’ud membaca firman Allah:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ

“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan ‘lahwal hadits’ untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.“ (QS. Luqman: 6 )

Beliau bersumpah tiga kali: “Demi Allah yang tiada ilah yang haq kecuali Dia, yang dimaksud (lahwal hadits) itu adalah nyanyian.” Pendapat serupa diambil oleh ‘khairu turjumanil qur’an’, sebaik-baik penafsir Al-Qur’an  yakni Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma.

Di kalangan madzhab Hanafi, amat tegas sikapnya terhadap nyanyian. Hingga Abu Yusuf, murid utama Abu Hanifah berpendapat bolehnya seseorang masuk rumah tanpa salam  untuk mencegah kemungkaran nyanyian tersebut. Imam Malik ketika ditanya tentang musik dan nyanyian menjawab: “Itu hanya dilakukan oleh orang-orang fasik saja.” Imam Syafi’i juga tegas: “Nyanyian adalah perkara sia-sia yang dibenci, barang siapa hobi dengannya menurut kami dia adalah safiih (idiot) yang tidak diterima kesaksiannya. Demikian pula menurut Imam Ahmad bin Hambal: “Nyanyian menimbulkan kemunafikan di hati, aku tidak suka.” Bahkan di antara ulama menganggap bahwa nyanyian lebih memabukkan dari khamr.

 

Mengapa Menjadi Idola?

Jika demikian buruk akibat dan kehramannya, mengapa banyak diminati orang? Pada asalnya manusia tidak mau berbuat kecuali sesutu yang bermanfaat dan berguna baginya. Manusia tidak akan berbuat sesuatu yang menurutnya tidak bermanfaat apalagi yang jelas-jelas akan mencelakakan dirinya. Maka proyek terbesar setan adalah membentuk opini bahwa segala sesuatu yang dilarang oleh Allah itu sebenarnya berguna dan dibutuhkan. Ketika target ini tercapai, maka dengan upaya sadar manusia melanggar aturan Allah dan taat kepada iblis laknatullah.

Setan mengemas khamr sebagai sesuatu yang bermanfaat, zina sebagai sesuatu yang berfaedah, nyanyian dan musik jorok adalah kebutuhan yang secara fardhu harus dilestarikan dan dikembangkan dan bahwa mengikuti syahwat itu sebagai tuntutan kemajuan. Setan akan menampilkan sisi-sisi positif suatu dosa sekaligus menyembunyikan sisi negatif yang sesungguhnya lebih nyata dan banyak dari sisi positifnya.

Mungkin saja musik dan nyanyian jorok bermanfaat, sebagaimana khamr juga bermanfaat, Allah berfirman tentang khamr: “katakanlah paanya ada manfaatnya..”, namun manfaat yang dimaksud adalah ‘mulghat’, tidak dianggap oleh syar’i, manfaat semu yang seandainya diambil niscaya lebih besar akibat buruk yang disebabkan karenanya. Siapkah kita mengatakan “no!” untuk mantera zina sebagaimana telah kita ucapkan untuk narkoba? Wallahu waliyut taufiiq

 

Oleh: Ust. Abu Umar Abdillah/Tsaqafah Islam