Citra Pribumi di Mata Penjajah Portugis

majalah islam indonesia, sejarah islam di indonesia

Keberhasilan ekspansi Portugis pada pergantian abad 15 ke 16 M mengantarkan bangsa ini sebagai pelopor imperialisme modern bersama rekan dan saingan mereka, Spanyol. Pengaruh ekspansi Portugis membentang panjang dari Afrika hingga Asia Tenggara. Di sepanjang jalur itu, Portugis bertemu dan berinteraksi dengan bangsa-bangsa dari Afrika dan Asia. Banyak di antara mereka adalah orang Moor, yaitu sebutan orang Portugis untuk orang Muslim.  

 

Orang Moor yang Dibenci Sekaligus Dibutuhkan

Sudah lama Portugis menaruh dendam kepada orang Moor yang pernah menguasai wilayah mereka selama berabad-abad. Ekspansi Portugis juga tidak lepas dari upaya memburu orang Moor, setelah Khilafah Bani Umayah di Spanyol mulai runtuh dan berakhir dengan jatuhnya kota kaum Muslim Granada pada 1492 ke tangan pasukan Spanyol. Mengapa Portugis begitu getol memburu orang Moor? Sebab, mereka mempunyai hasrat untuk mendepak para pedagang Arab, Turki dan Gujarat dari jaringan perdagangan. Hingga 1500, jalur perdagangan di Asia Timur dan Tenggara dikuasai para pedagang Muslim tersebut. Para pedagang Arab, Turki dan Gujarat mendominasi jalur perdagangan di sekitar Laut Arab, Afrika Timur hingga Teluk India dan Kepulauan Nusantara. Mereka memegang peranan kunci dan berpengaruh kuat atas aktivitas perdagangan dari Gujarat dan Malabar hingga Malaka dan dari Aceh hingga Maluku, Banda dan Ambon. (M. Adnan Amal, Portugis dan Spanyol di Maluku, hlm. 127)

  1. J. O. Schrieke menggambarkan kebencian orang Portugis dan Spanyol kepada orang Moor, “Penting untuk dikatakan bahwa orang-orang Frank –sebutan untuk orang Eropa Barat– hanya menaruh antipati dan kebencian terhadap Muslim dan agamanya… Bagi mereka, Muhammad adalah perwujudan setan. Siapa pun yang mengampuni umatnya, maka orang itu gagal dalam tugasnya.” (Kajian Historis Sosiologis Masyarakat Indonesia, I/52)

Meskipun benci, faktanya Portugis dalam banyak hal membutuhkan bantuan orang Moor. Untuk menunjukkan jalur ke India, Portugis memanfaatkan jasa navigator Muslim. Pada 1498, penguasa Melinde (wilayah Kenya) memberikan seorang mualim kepada para kelasi di kapal-kapal Portugis pimpinan Vasco da Gama dalam perjalanan mereka menuju Calicut. Ketika Vasco da Gama menunjukkan peralatan astronomi kepada mualim tersebut, yang merupakan seorang Muslim Gujarat, salah satunya adalah astrolabe yang terbuat dari kayu dan logam, “Orang Moor itu tidak merasa heran ketika melihat alat tersebut.” (Grabriel Ferrand, “L’Kouen-Iouen…” dalam Jurnal Asiatique, XIII, hlm. 489)   

Setelah menaklukkan Malaka pada 1511, Portugis berencana melakukan ekspedisi ke Maluku. Akan tetapi, mereka belum mengetahui jalur menuju kepulauan rempah-rempah itu. Oleh karenanya, mereka meminta Nakoda Ismail, seorang pedagang Melayu, untuk menjadi pemandu ekspedisi tadi. Nakoda Ismail menggunakan junk Cina sebagai kapal pemandu, yang berlayar paling depan menuntun ketiga kapal Portugis pimpinan d’Abreau. Pelayaran ini merupakan pelayaran armada Eropa pertama di perairan Nusantara. (Portugis dan Spanyol di Maluku, hlm. 21)

Mengapa orang Muslim mau membantu Portugis? Barangkali mereka menganggap Portugis sama seperti bangsa-bangsa lain yang sekian lama terlibat dalam jaringan perdagangan Asia dan senantiasa menjaga kestabilan jaringan tersebut. Orang Muslim itu tidak mengetahui jika Portugis datang untuk merusak jaringan itu, bahkan juga mengancam agamanya. Setelah mengetahui kenyataan sebenarnya, Muslim pribumi bangkit melakukan perlawanan terhadap Portugis.    

 

Gambaran Buruk Tentang Pribumi

Dalam ekspedisi ke Asia, Portugis membawa juru tulis yang mencatat berbagai peristiwa dan keadaan yang mereka lihat. Salah satunya adalah Tome Pires yang datang ke Nusantara pada 1512-1515. Dalam catatannya, The Suma Oriental, ia menggambarkan orang Melayu adalah bangsa yang pencemburu, karena isteri orang-orang penting tidak pernah terlihat di muka umum. Bilamana para isteri tersebut berniat bepergian, mereka berkeliling dengan tandu yang tertutup, dan kebanyakan mereka melakukannya bersama-sama.

Gambaran buruk tentang orang Melayu juga ditulis oleh Kapten Portugis De Vellez Guirero yang mengunjungi Malaka pada awal abad 18. Ia memandang orang Melayu sebagai orang biadab. Ia sangat menghargai penguasa Johore, tetapi ia mengutuk orang-orang Melayu pesisir yang termasuk “mazhab Muhammad yang terkutuk, pada dasarnya berbahaya dan kurang setia.” Ia agak kasar terhadap orang Melayu Bugis yang pernah bentrok dengan Gubernur Portugis. (S.H. Alatas, Mitos Pribumi Malas, hlm. 52)

Sementara itu, Jono de Barros menggambarkan orang Jawa dalam bukunya Decada Primiera e Segunda yang terbit pada 1552 sebagai berikut, “Penduduk asli, dipanggil Jaos (Jawa), sangat sombong dan menganggap bangsa lain lebih inferior sehingga bila mereka berjalan di satu tempat, dan melihat orang asing berdiri di tempat yang lebih tinggi serta tidak segera berpindah tempat, maka akan dibunuhnya karena dia tidak mengizinkan siapa pun berdiri lebih tinggi darinya, mereka juga tidak mau membawa sesuatu dengan kepalanya walaupun diancam dibunuh…  Mereka pemberani dan akan melakukan amok untuk membalas dendam. Walaupun berbagai halangan dihadapi, mereka akan terus berusaha mencapai keinginannya.” (III/bab 1)

 

Gambaran Baik Tentang Pribumi 

Selain gambaran buruk, ada juga penulis Portugis yang menceritakan pribumi Nusantara dengan gambaran baik. Duerte Barbossa, yang tiba di Malaka tidak lama setelah wilayah ini dikuasai Portugis, menulis laporan pada 1518 bahwa orang-orang Melayu terkemuka di Malaka adalah kelompok Muslim yang taat, menjalani kehidupan yang menyenangkan, tinggal dalam rumah besar di luar kota dengan banyak kebun buah-buahan, taman dan tangki air. Mereka halus budi bahasanya dan sopan, gemar main musik, dan cenderung saling menyayangi.

Mengenai orang Jawa di Malaka, yang juga kelompok Muslim, Barbossa menulis, “Mereka sangat terampil dalam segala jenis pekerjaan, terlatih dalam setiap kadar kebencian; walaupun tindakannya tidak taat aturan, namun sangat gagah berani (dan siap untuk setiap jenis kejahatan). Mereka memiliki senjata yang baik dan bertempur tanpa takut.” (The Book of Duerte Barbossa, hlm. 176)

 

Oleh: Ust. M. Isa Anshari/Sejarah Islam Indonesia

Baca Juga Sejarah Islam Indonesia Lainnya: Klik Di Sini!        

%d bloggers like this: