Kenangan dan Bekas yang Baik Pada Anak

340

Setiap anak memiliki pengalaman yang berbeda-beda ketika kecil, apa yang ada disekelilingnya memberikan kenangan tersendiri. Anak yang sering bertemu dengan kedua orang tuanya ketika kecil namun ia melihat kedua orang tuanya melakukan hal-hal yang buruk maka hal itu akan berdampak buruk bagi kejiwaan anak, begitu pula dengan anak yang sejak kecil ditinggal oleh kedua orang tuanya kemudian dititipkan ke tempat penitipan atau bersama pembantu dirumahnya.

Apa yang anak-anak lihat akan terbawa sampai dewasa menjadi kenangan, bisa kenangan indah atau kenangan yang buruk. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam telah mengajarkan kepada para sahabatnya, memberikan contoh kepada kita semua bagaimana menjadi orang tua yang baik, memberikan kenangan dan bekas yang indah kepada anak. Mulai dengan memberikan nama yang baik.

Baca Juga: Saat Berharga Bersama Anak

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya dengan sanadnya yang sampai kepada sahabat Ali bin Abi Thalib, beliau berkata “Ketika Hasan sudah lahir, Rasulullah datang seraya berkata, ‘Perlihatkanlah anakmu kepadaku. Dengan apa kamu menamainya?’ Maka saya menjawab, ‘Saya menamainya Harb (perang).’ Beliau berkata, ‘Namailah dia Hasan.’ Dan ketika Husain lahir, saya menamainya Harb, lalu Rasulullah menamainya Husain. Dan ketika anak yang ketiga lahir, saya menamainya Harb lalu beliau berkata, ‘Namanya Muhassin.’ (HR. Ahmad, sanadnya disahahihkan Ahmad Muhammad Syakir)

Setelah memberikan nama yang baik dan ketika sudah bisa berjalan, ajak mereka untuk melihat kebaikan, diantaranya adalah membawa mereka ke masjid. Meskipun masih kecil tidak mengapa untuk dibawa ke masjid asalkan kita bisa mengontrolnya dan menjaga kebersihan masjid.

Abdullah bin Syaddad meriwayatkan dari ayahnya bahwa, “Ketika waktu shalat dzuhur atau ashar tiba, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam datang sambil membawa Hasan dan Husain. Beliau kemudian maju (sebagai imam) dan meletakkan cucunya. Beliau kemudian takbir untuk shalat. Ketika sujud, Beliau pun memanjangkan sujudnya. Ayahku berkata, ‘Saya kemudian mengangkat kepalaku dan melihat anak kecil itu berada di atas punggung Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. yang sedang bersujud. Saya kemudian sujud kembali.’ Setelah selesai shalat, orang-orang pun berkata, ‘Wahai Rasulullah, saat sedang sujud di antara dua sujudmu tadi, engkau melakukannya sangat lama, sehingga kami mengira telah terjadi sebuah peristiwa besar, atau telah turun wahyu kepadamu.’ Beliau kemudian berkata, ‘Semua yang engkau katakan itu tidak terjadi, tapi cucuku sedang bersenang-senang denganku, dan aku tidak suka menghentikannya sampai dia menyelesaikan keinginannya.” (HR. Nasai)

Ajak dan biarkan anak-anak melihat kebaikan-kebaikan, bahkan perintahkan mereka untuk melihat dan menyaksikan kebaikan, in syaallah akan berpengaruh, memotivasi dan memudahkan dirinya untuk melakukan kebaikan-kebaikan yang pernah ia saksikan.

Abbas radhiallahu’anhu pernah mengirim putranya Abdullah bin Abbas untuk menginap di rumah Rasulullah, yaitu di rumah bibinya maimunah. Hal ini tidak lain supaya putranya bisa melihat kebaikan kebaikan di rumah Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, terbukti ketika menginap di rumah Rasulullah, Ibnu Abbas berkata;

“aku mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam berbincang-bincang bersama istrinya sesaat. Kemudian beliau tidur. Tatkala tiba waktu sepertiga malam terakhir, beliau duduk dan melihat ke langit lalu beliau membaca; “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Ali Imran: 190). Lalu beliau berwudhu dan bersiwak, kemudian shalat sebelas raka’at. Setelah mendengar Bilal mengumandangkan adzan, beliau shalat dua raka’at kemudian beliau keluar untuk shalat subuh. (HR. Bukhari)

Bekas apa yang kita tinggalkan kepada anak-anak kita, apakah kebaikan-kebaikan, atau keburukan-keburukan, mereka terbangun melihat kita shalat dan mendengar lantunan al-Qur’an  atau pemandangan keluarga yang sedang bergadang menyaksikan tontonan layar kaca dengan suguhan rokok dan suara nyayian!

Baca Juga: Kebiasaan Ngompol Pada Anak

Salihkan diri kita sebelum berencana menikah dan diberi Allah berupa keturunan, bahkan siapkan kesalihan anak dengan memilih calon ibu yang shalihah.

Namun bila sudah terlanjur dahulu pernah melakukan keburukan dan mereka pernah menyaksikannya, maka jika kita sempat mendapati mereka dewasa ralatlah memori buruk mereka dengan kalimat bahwa dahulu bapak dan ibumu belum mengerti nak, alhamdulillah sekarang sudah mendapat hidayah dari Allah dan mengetahui bahwa hal tersebut adalah perbuatan yang sia sia bahkan dosa, semoga keturunanmu nanti bisa melihatmu dalam keadaan yang baik dan menjalankan ketaatan kepada Allah Ta’ala. Semoga Allah ta’ala mengampuni, memperbaiki keadaan kita serta menyolehkan keturunan kita semua. Amin ya Rabb..(Redaksi/Keluarga/Anak)

 

Tema Terkait: Keluarga, Pendidikan Anak, Tarbiyah