Antara Pilihan Kita dan Pilihan-Nya

144

Ingin memiliki harta sebanyak mungkin, ingin meraih jabatan setinggi mungkin atau ingin memiliki rumah semegah dan semewah mungkin. Mayoritas manusia terselip harapan seperti itu. Dan ketika melalui usaha yang panjang dan berat, atau bahkan telah berdoa dengan sepenuh pengharapan  belum juga mendapatkan sesuai keinginan, terkadang muncul putus asa, kekecewaan dan zhan yang buruk kepada Allah.

Karena menurut kita, semua yang kita inginkan itu baik untuk kita. Sehingga tatkala apa yang kita dapat ternyata kurang dari yang kita inginkan, rasa kecewa menghampiri kita. Padahal Allah lebih tahu tentang apa yang baik untuk kita dan apa yang buruk. Bahkan di antara wujud kasih sayang Allah kepada hamba-Nya adalah ketika Dia membagi rejeki sesuai kadar maslahat bagi hamba-Nya, bukan sesuai dengan apa yang menjadi keinginan mereka. Bisa saja kita mengharap sesuatu menjadi milik kita, padahal sesuatu yang lain justru lebih baik untuk kita. Atau mengharap lebih banyak lagi harta, padahal ternyata itu sesuatu yang memadharatkan jika terwujud seperti apa yang kita suka. Maka Allah tetapkan apa yang lebih maslahat bagi hamba-Nya, meskipun hamba itu tidak suka karena ketidaktahuannya.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. “ (QS. al-Baqarah: 216)

Apakah mungkin pemberian yang banyak itu menimbulkan madharat? Ya, sangat mungkin. Bisa jadi harta yang banyak menjadikan pemiliknya tergerak melakukan sejenis maksiat yang belum pernah terpikirkan sebelumnya. Makin banyak harta, varian maksiatpun semakin banyak dan terbuka peluangnya.

Bisa jadi harta yang banyak itu akan menyibukkan kita, hingga melupakan tugas sejati kita sebagai seorang hamba. Atau akan membuat kita sombong, merasa bahwa semua yang di tangan itu semata-mata karena hasil kerja keras kita. Lalu merasa lebih mulia dari orang lain yang lebih sedikit hartanya katimbang darinya.

Allah Ta’ala berfirman,

“Dan sekiranya Allah melapangkan rezeki kepada hambanya, niscaya mereka akan berbuat melampaui batas di bumi, tetapi Dia menurunkan dengan ukuran yang Dia kehendaki, sungguh, Dia Maha teliti terhadap (keadaan) hamba-hambanya.” (QS. asy-Syuura: 27)

Maka sebaik-baik sikap adalah berikhtiar sekuat tenaga, bertawakal dan berharap sepenuhnya kepada Allah, dan selebihnya ridha terhadap apa yang Allah berikan kepada-Nya. Disertai persangkaan yang baik, bahwa apa yang Allah berikan kepada kita itu lebih baik dari apa yang kita inginkan. Bahkan selayaknya kita bersyukur bahwa Allah memberi kita sesuai dengan pilihan-Nya, dan tentulah pilihan Allah lebih baik dariada pilihan kita. Semoga Allah anugerahkan qana’ah kepada kita, Aamiin.

 

(Ust. Abu Umar Abdillah)