Pemerintah Sumber Fitnah?

Barangsiapa diberikan amanat kekuasaan, tetapi dia tidak berlaku amanah kepada yang dipimpinnya maka dia diharamkan memasuki surga. Kurang lebih demikian ancaman Nabi Shalallahu ‘alaihi wasaalam kepada pemimpin yang tidak amanah kepada rakyatnya.

Amanat kepemimpinan sangat riskan disalahgunakan, karena ia berkuasa dan memiliki peralatan lengkap untuk melakukannya. Dan pada prakteknya banyak kepentingan berseberangan dengan kebutuhan rakyat. Sebagai contoh, pemimpin suatu negara bisa saja seenaknya menaikkan harga kebutuhan pokok setinggi mungkin, atau melegalkan barang-barang haram dengan dalih keuntungan bagi negara atau membuat berita bohong agar rakyat terlena dan tertipu dengan predikat kepemimpinan yang dia jalankan.

Hal demikian sangat mungkin dan banyak dilakukan oleh kepemerintahan dimanapun mereka berada, tak terkecuali di negeri kita tercinta ini. Hari ini berbagai komoditi dan kebutuhan pokok harganya semakin menjulang tinggi, belum lagi harga-harga kebutuhan sekunder lainnya. Disamping itu para konglomerat dibiarkan menjarah kekayaan sebanyak yang mereka mau, asal tuan puas, kami antusias. Seperti pepatah mengatakan, yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin.

BACA JUGA:  Gempuran Fitnah Robohkan Istiqomah

Belum lagi bagaimana peran pemerintahan dalam memegang kendali media sebagai sumber berita. Media yang dia suka diajak berpesta, sedangkan yang bertentangan di blokir tanpa penjelasan. Sebagaimana Rocky Gerung, salah seorang akademisi UI (Universitas Indonesia) dalam sebuah forum diskusi di salah satu acara TV swasta berkata, “pembuat hoax terbaik adalah penguasa. Karena mereka memiliki seluruh peralatan untuk berbohong. Intelijen dia punya, data statistik dia punya, media dia punya. Orang marah. Tapi itu faktanya. Bahwa, hanya pemerintah yang mampu berbohong secara sempurna. Saya tidak ingin dia berbohong tapi potentially dia bisa lakukan itu,”.

Memang benar adanya apa yang Ia sampaikan, untuk melakukan kebohongan seribu kalipun mereka mampu dan berpotensi melakukan itu. Yang perlu kita cermati berikutnya adalah mengapa hal demikian dilakukan pemerintah? Sebenarnya ada apa dibalik penggembosan dan pemblokiran berbagai media islam? Bisa jadi mereka sedang menutupi sebuah krisis atau ada kepanikan hebat yang menghantui mereka. Marilah kita mendoakan yang terbaik bagi negeri kita yang tercinta.

Itulah mengapa Nabi mewanti-wanti jangan mengharapkan sebuah kepemimpinan dan jangan meminta untuk dijadikan pemimpin, selain karena potensi curang dan zhalim sangat besar, hidup pun tidak akan tenteram ketika tiap hari kita dihadapkan dengan berbagai persoalan. Lebih dari itu, pemimpin culas dan curang yang tidak amanat menjalankan kepemerintahan, Ia tidak akan mencium wanginya surga, apalagi memasukinya. Wallahu a’lam.

Senyumlah Selagi Mudah Melakukannya

Ada satu bentuk sedekah yang sangat mudah dilakukan bahkan saat kita tidak memiliki apapun kecuali bibir manis yang ditarik ke kanan dan ke kiri masing-masing 2 centi meter. Itulah senyum, sedekah yang bisa dilakukan siapa saja dan dimana saja, tidak terbatas waktu dan tempat melakukannya.

Orang sakit bisa saja sembuh seketika saat mendapat senyuman dari pujaan hati, orang yang punya banyak hutang bisa jadi terhibur dengan senyuman dari sahabat dekatnya dan dengan senyuman yang dilontarkan seseorang kepada sekitarnya akan menjadi peneduh dan pengobat luka bagi mereka yang sedang gundah gulana.

Itulah mengapa Rasulullah sebagai orang yang paling ramah dan murah senyum menjadikan senyum sebagai bentuk sedekah, sebagaimana sabdanya

تبسمك في وجه أخيك لك صدقة

“Senyummu untuk temanmu adalah sedekah”

Kita mungkin kurang begitu tahu dengan kehidupan sang baginda Nabi, tapi ketika kita sedikit mendalami sejarah kehidupan beliau, kita akan mendapati orang yang suka humor dan bercanda. Ketika beliau hendak menemui seseorang, beliau senantiasa membuat mereka senang sehingga mereka menjadi jatuh hati dan merasa terbang jiwanya. Di saat musim dingin, beliau tersenyum dengan wajah yang lebih indah dari matahari, kening yang lebih terang daripada bulan purnama, bau mulut yang lebih harum daripada bunga aster, etika yang lebih sejuk daripada kesejukan embun di rerumputan dan dengan kasih yang lebih lembut daripada semilir angin.

Demikian etika beliau baginda yang tak dapat di puisikan bait demi bait. Meskipun demikian, dalam bercanda beliau tidak pernah berdusta. Dalam tawanya tidak pernah berlebihan, itulah kesantunan yang sangat luhur yang di contohkan kepada ummatnya. Sekarang giliran kita, mengapa kita enggan menapaki sunnah yang sangat mulia ini? Bukankah kita mengaku menyanjung tinggi Nabi dan pengikutnya yang setia? Berlaku ramah dan santun itu mudah, tapi tidak setiap individu mampu melakukannya. Padahal satu diantara dua hal yang dicintai Allah adalah lemah lembut, sebagaimana Nabi bersabda,

“Sesungguhnya ada  2 hal pada dirimu yang dicintai Allah, yaitu lemah lembut dan tidak mudah marah” (HR. Muslim)

Simpel bukan? Ibadah itu tidak berat, mudah dan menyenangkan saat kita ikhlas untuk melakukannya. Selagi kita masih memiliki kesempatan, mari kita galangkan sunnah nabi yang satu ini.

Senyum…….

Gadis Rupawan Yang Jadi Rebutan

Ada sebuah cerita tentang kekaguman seorang pria pada wanita yang pernah dia lihat, kemudian ia sampaikan ke bapaknya dan berkata : Wahai ayah, aku ingin menikahi gadis cantik nan rupawan yang barusan aku lihat, matanya begitu mempesona dan kecantikannya bak bidadari surga.

Kemudian ayah pemuda tersebut merasa senang dan menjawab keinginan sang anak, Dimana gadis itu tinggal? Biar aku lamarkan untukmu. Sessampainya di rumah sang gadis, sang ayah tertegun dan takjub dengan paras dan kecantikannya, lalu dia berkata kepada putranya, wahai anakku gadis ini tidak pantas bagimu, dia tidak sederajat denganmu dia seharusnya dengan seorang pria yang mahir dan berpengalaman lebih seperti aku ini.

Mengamuklah si pemuda dan berkata pada ayahnya, tidak wahai bapak, saya lah yang akan menikahinya bukan anda, kemudian mereka berdua bertengkar dan mendatangi kantor polisi untuk menyelesaikan pertengkaran mereka, selesai mendengar sebab pertengkaran mereka polisi menyuruh mereka untuk mendatangkan si gadis untuk ditanya, kira-kira gadis mau dengan sia anak atau bapaknya.

Sesampainya di kantor polisi, si polisi takjub dengan pesona sang gadis yang sangat menawan, kemudian berkata kepada pada si anak dan bapak yang mengadukan permasalahannya, wanita ini seharusnya tidak menikah dengan kalian, tapi harusnya menikah dengan seseorang yang terkemuka dan memiliki wewenang seperti diriku ini. Kemudian mereka bertiga bertikai dan saling menjatuhkan satu sama lain.

Lalu disampaikanlah perkara ini pada menteri di negeri itu, ketika sang menteri melihat sang gadis dia kemudian berkata, gadis ini tidak pantas dinikahis seorang pria manapun kecuali para menteri-menteri sepertiku, kemudian pertikain berlanjut diantara mereka semua sampai terdengan oleh pemimpin negeri tersebut, sang pemimpinpun ingin menengahi masalahnya dan memerintahkan untuk mendatangkan si gadis, tapi ketika gadis tersebut tiba, sang amir juga ikutan terpesona dengan kecantikan sang gadis dan ahirnya mereka semua saling bertengkar untuk mendapatkan sang gadis.

Gadis tersebut pun mencoba menengahi dan memberi solusi, dia berate : aku punya solusi, aku akan berlari dan kalian semua harus ikut berlari dibelakangku, siapa diantara kalian yang bisa memegangku pertama kalai, maka aku jadi miliknya dan berhak menikahiku, mereka semua setuju, berlarilah mereka semua, pemuda, ayah, polisi, menteri dan pemimpin negeri tersebut untuk mendapatkan sang gadis,

Tiba-tiba tanpa sengaja mereka berempat terpeleset dan masuk ke dalam lubang yang cukup dalam, kemudian sang gadis karena tidak ikut terpeleset berkata pada mereka semua dari atas, apakah kalian tahu siapa aku ini? Aku adalah dunia, yang semua orang berlomba-lomba memperebutkanku, sampai mereka melupakan segalanya, mereka tinggalkan agama mereka demi bisa menangkapku, mereka juga tidak akan pernah puas untuk terus mengejarku sampai dia masuk ke lubang kubur. Dan perlu kalian semua mengerti kalian tidak akan pernah bisa mendapatkanku meskipun kalian terus berusaha.

Begitulah permisalan dunia yang kita sangat ambisius dan terobsesi untuk terus mengejarnya, ia seperti wanita cantik yang jadi rebutan padahal masih banyak wanita lain yang bisa kita miliki, semakin kita mengejarnya, semakin jauh wanita itu akan berlari sampai kita terpeleset kedalam liang kubur sebagaimana yang dilakukan oleh para pemburu gadis tersebut.

3 Manfaat Nikah Muda

Allah menciptakan manusia berpasang-pasang, ada pria ada juga wanita. Bahkan bukan hanya manusia, makhluk seperti hewan sekalipun mereka diciptakan berpasang-pasang. Dalam Islam, hubungan antara pria dan wanita pada dasarnya adalah haram sebelum mereka mengikatnya dengan syariat yang disebut nikah.

Akan tetapi masih banyak kita jumpai berbagai jenis manusia yang mereka menghalalkan hubungan pria-wanita tersebut dengan berzina, selingkuh dan lain sebagainya. Di lain sisi adapula sebagian orang yang betah membujang dan tidak ada niatan untuk menikah, paadahal sahabat Ibnu Mas’ud berkata, “Sekalipun usiaku hanya tersisa sepuluh hari, maka aku tetap akan menikah, sebab aku tidak ingin menghadap Allah dalam keadaan membujang.”

Menikah tidak harus menunggu mapan atau harus berumur 30 puluhan. Dalam syariat justru menikah di usia muda meiliki beberapa manfaat, antara lain;

  1. Segera terealisasi perintah Allah dan Rasul-Nya.

Sebagaimana tertera dalam beberapa ayat Allah memerintahkan kita untuk menikah seperti yang tertera dalam surat an-Nur ayat 32 dan an-Nisa ayat 3 serta hadits Nabi tentang menjaga mata.

 

  1. Segera mendapat pertolongan Allah.

Rasulullah bersabda, “Tiga golongan yang berhak mendapat pertolongan Allah, Mujahid fii sabilillah, Budak yang ingin merdeka, dan orang yang menikah karena ingin menjaga kesucia.” (HR. at-Tirmidizi, an-Nasa’I dan Ibnu Majah)

 

  1. Segera terpenuhi setengah agamanya

Sehebat apapun orang menjalankan syariat islam, paling maksimal dia hanya mencapai 50% saja, sampai dia menikah. Sebagaimana Nabi bersabda, “Apabila seseorang menikah berarti telah menyempurnakan setengah agamanya. Oleh karena itu, hendaklah dia bertaqwa kepada Allah untuk meraih setengah lainnya.”

 

Itulah beberapa manfaat nikah di usia dini, selain bernilai Ibadah, setengah agama kita akan terpenuhi dengan segera ketika kita segera menjalankannya. Yuk yang masih bujang segera menikah 🙂

Menyikapi Berita Dusta (HOAX)

Di era modernisasi saat ini, kita dimanjakan dengan berbagai macam gadget dan alat komunikasi. Dengan begitu kita bisa leluasa mengakses apapun yang kita inginkan. Berita, tontonan, musik dan lain sebagainya tersaji di depan mata tinggal menekan tombol enter pada keyboard kita. Sampai anak balita yang belum paham tulisan dengan baik sekalipun mampu mengoperasikannya meski hanya bermain game atau hanya sekedar menonton video animasi.

Banyak sekali manfaat yang kita dapat dari perkembangan teknologi yang satu ini, tapi perlu dicermati dan menjadi perhatian bagi kita semua bahwa apa yang ditampilkan dan diberitakan di media sosial tidak serta merta benar adanya. Dengan kemudahan yang ada justru menjadi lahan subur bagi para pendusta dan orang-orang fasik untuk menebar kebencian dan berita hoax untuk menyerang islam dan kaum muslimin.

BACA JUGA: Pemenrintah Sumber Fitnah?

Dalam islam Allah sudah mewanti jauh-jauh hari agar kita berhati-hati dengan berita dusta yang dibawa oleh orang yang tidak bertanggung jawab, sebagaimana Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Wahai orang-orang yang Beriman, apabila datang seorang fasiq dengan membawa suatu informasi maka periksalah dengan teliti agar kalian tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum karena suatu kebodohan, sehingga kalian menyesali perbuatan yang telah kalian lakukan” (QS. al-Hujurat:6)

Ayat diatas turun pada saat peristiwa bani musthaliq yang mana kepala kaum mereka al-Harits bin dhirar masuk Islam dan mengajak kaumnya memeluk Islam dan membayar zakat dan membuat kesepakatan dengan Nabi untuk mengambil zakatnya pada waktu yang ditetukan. Tiba saat pengambilan zakat Nabi mengutus seorang utusan, ditengah perjalanan Ia kembali ke madinah dan berkata kepada Rasulullah, “Wahai Nabi al-Harits menghalangi diriku untuk mengambil zakat mereka dan akan membunuhku” Seketika Nabi marah dan mengutus pasukan menemui al-Harits pemuka bani Musthaliq tadi. Di tengah jalan mereka bertemu dengannya dan al-Harits pun bertanya pada mereka, “Kepada siapa kalian diutus?” mereka menjawab, “kepadamu” al-harits balik bertanya, “Ada apa denganku?” Mereka menjawab, “Sesungguhnya Rasulullah mengutus al-Walid bin Uqbah kepadamu untuk mengambil zakat, namun kamu halangi dan hendak kau bunuh”. Al-Harits berkata, “Demi zat yang mengutus Muhammad, aku tidak menemui dan melihat utusan Rasul itu sama sekali”. Setibanya al-Harits di madinah Ia langsung menemui Nabi, dan Nabi seraya berkata, “Kamu tidak mau membayar zakat dan ingin membunuh utusanku? Kemudian al-Harits berkata, “Wahai Nabi demi zat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku sama sekali tidak melihat dan aku tidak bertemu dengan utusan tersebut. Dan aku kesini serta merta karena tidak ada utusan yang menjemput zakat ini, aku takut bila hal ini membuat murka Allah dan rasul-Nya. Lalu turunlah ayat ini.

Hari ini sering kita dapati begitu mudah si fulan berkata demikian, si media anu memberitakan demikian, portal berita berkata sedemikian rupa padahal sumbernya belum jelas dan belum terintegrasi kebenarannya. Ini merupakan musibah, musibah bagi kaum muslimin yang apabila tidak segera mencari kebenaran dan mengkrosceknya kelak yang akan didapat adalah penyesalan di ujung cerita. Oleh sebab itu, dari ayat diatas menjelaskan setidaknya ada 4 kaaedah dalam menerima kabar atau berita,

  1. Pemberitaan dari orang yang dikenal adil (kredibel) maka ucapannya boleh diterima, kecuali ada beberapa hal yang menjadikannya tidak lagi bisa dipercaya.
  2. Allah tidak melarang mentah-mentah berita dari orang fasik. Akan tetapi Allah memerintahkan untuk tabayun (mencari kejelasan). Apabila berita yang dibawakan benar adanya maka berita tersebut dapat diterima meskipun yang menyampaikan orang fasik.
  3. Tidak perlu terburu-buru untuk menyebar berita yang kita terima, sebagaimana Allah mencela orang-orang yang terburu-buru menyiarkan berita,

“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu).” (QS. an-Nisa: 83)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,

التَّأَنِّي مِنَ اللَّهِ، وَالْعَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ

“berhati-hati itu dari Allah dan terburu-buru itu dari syetan.” (HR. Baihaqi dihasankan oleh al-Albani)

 

  1. Ayat ini juga menjelaskan betapa bahaya terburu-buru menyebarkan berita yang berdampak pada keadaan orang/ organisasi yang diberitakan. Yang kelak kita sendiri yang akan menyesalinya.

 

Demikian beberapa hal yang perlu kita cermati sebelum kita menyampaikan atau menyebar luaskan sebuah berita dan informasi agar kita lebih berhati-hati. Nabi sendiri pernah mengingatkan “Cukup seseorang dikatakan dusta, apabila Ia menyampaikan setiap apa yang dia dengar”. Jadi belum tentu apa yang kita dapatkan dari broadcast, dari status seseorang, dari portal berita anu benar adanya sebelum kita mengecek kevalidan berita tersebut. Demikian apa yang diungkapkan Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil dalam kitab Qawaid Qur’aniyah, semoga bermanfaat.

 

Ketika Amanah Dipegang Ahlinya

Disebutkan kisah Mubarak (Ayahanda Abdullah bin Mubarak) dalam kitab A’lamul muslimin, Muhammad Utsman Jamal.

Mubarak bekerja sebagai penjaga kebun pada seorang yang kaya. Suatu hari, sang tuan mengunjungi kebunnya lalu dipanggillah Mubarak, “petikkan kami beberapa buah delima yang manis!” pintanya.

bergegaslah Mubarak melaksanakan perintah sang tuan. Dia memetik beberapa buah delima dan diserahkannya kepada sang majikan dan beberapa sahabatnya tadi. Namun, ketika majikannya mencicipi delima yang dipetik, tak satupun ada yang manis, semuanya masam. Sang majikan marah dan bertanya pada Mubarak, “Apakah kamu tidak bisa membedakan delima yang manis dan yang masam?

BACA JUGA:  Amanah, Jalan Aman Menuju Jannah

Mubarak menjawab, “Selama ini Anda belum pernah memberi ijin saya untuk makan meski hanya satu biji, bagaimana saya bisa membedakan delima yang manis dan yang masam? sang Tuan merasa takjub dan menaruh simpati kepada mubarak (lantaran amanahnya).

singkat cerita, majikan itu memiliki anak perempuan yang sudah banyak dilamar orang. Lalu ia bertanya kepada Mubarak, “Aku hanya punya seorang anak perempuan, dengan siapa seharusnya aku nikahkan?

Mubarak menjawab, “Tuan, orang Yahudi menikahkan karena kekayaan, orang Nashrani menikahkan karena ketampanan, orang Jahiliyah menikahkan karena nasab kebangsawanan, sedangkan Islam menikahkan karena ketaqwaan. Tuan termasuk golongan mana silahkan tuan menikahkan dengan cara mereka”.

Pemilik kebun itu pun takjub dengan jawaban Muarak. Lalu ia menemui istrinya dan berkata, Saya tidak melihat orang yang lebih layak menikahi putri kita selain Mubarak”. Maka akhirnya menikahkan putrinya dengan Mubarak. Dari pernikahan yang diberkahi itu lahirlah ulama kenamaan Abdullah bin Mubarak, sang ahli hadits di zamannya.

Demikianlah ketika sebuah kepercayaan diberikan kepada yang berhak dan bertanggung jawab. Hasilnya pun tidak akan pernah mengkhianati sebuah proses kejujuran, sebagaimana kisah diatas, Mubarak salah seorang pemegang amanah, dengan itu Ia dikaruniai anak yang kelak akan menjadi rujukan para ulama dan para ahli ilmu yaitu Abdullah bin Mubarak.

Viral!

Aksi damai 4 November atau dikenal dengan aksi 411 menjadi hari bersejarah bagi masyarakat Indonesia. Hari itu, jumat, para ulama, ustadz, dan masyarakat berbondong-bondong  ke masjid Istiqlal kemudian berjalan menuju istana Negara untuk menuntut hukuman bagi gubernur Jakarta yang melakukan pelecehan terhadap al-Qur’an. Diperkirakan 2 juta orang lebih datang ke ibukota dari berbagai tempat di Indonesia. Gerakan yang menyatukan umat Islam dari berbagai elemen dan lembaga. Tak ada undangan resmi yang dikirim oleh panitia kepada lembaga atau masyarakat di daerah. Yang ada hanya selebaran digital, hastag, dan meme yang menjadi viral. Informasi itu menyebar luas seperti virus masuk ke setiap genggaman manusia.

Ketika kemudian beberapa politisi “salah bicara” tentang peristiwa tersebut, lagi-lagi para relawan sudah siap dengan social media jurnalistiknya memviralkan kesalahan tersebut hingga semua orang kembali paham. Pasukan medsos pun bermunculan. Mereka sekumpulan orang yang disatukan oleh satu tujuan, hancurkan kezaliman bukan relawan bayaran. Ketika aksi lanjutan bela Islam III digelar, informasi itu pun langsung mendapat sambutan.

Aksi tersebut hanya merupakan satu dari sekian banyak informasi yang tersebar. Di era media social, sensasi Viral (viral sensation) terjadi hamper setiap hari dengan tema beragam. Rhenald Kasali menuliskan, viral sensation menghancurkan kekuatan lama dan menumbuhkan spirit baru. Kini tak ada yang bisa menutup-nutupi atau memonopoli informasi. Kalau pun media besar seperti televise dan radio nasional tidak menayangkan sesuatu atau justru melambungkan berita tertentu dengan berbagai pertimbangan mereka, masyarakat akan tahu hakikat sebenarnya dengan kekuatan viral.

Bagi penyedia dan pengecer berita sensasi viral sangat menguntungkan karena ia tak lagi membutuhkan wadah-wadah yang telah mapan dan mahal, namun bagi konsumen berita tak jarang mereka mendapat berita palsu (hoax) yang tersebar secara terorganisir.

Sensasi viral, kata rhenald Kasali merupakan cara menciptakan perubahan yang bersifat damai di luar system politik. Namun serangan ini harus ditujukan secara tepat sasaran lengkap dengan bukti-bukti ucapan. Di tengah budaya malu yang sudah hilang, sensasi media social masih bisa dijadikan harapan.

 

Agar Allah Peduli, saat Musibah Menghampiri

تَعَرَّفْ إِلىَ اللهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ

“Kenalilah Allah disaat lapang, niscaya Allah akan mengenalimu disaat sempit.” (HR. at Tirmidzi).

Sebuah hubungan sebab akibat yang tidak hanya terjadi pada manusia, tapi juga Allah tetapkan dalam hubungan antara hamba dengan diri-Nya. Bukankah sulit rasanya memberikan bantuan kepada orang yang tiba-tiba datang pada kita meminta pinjaman, padahal kita begitu kenal siapa dirinya? Sama seperti ketika kita melihat kecelakaan di jalan misalnya. Jika si korban orang yang tidak kita kenal, tidak jarang kita memilih berlalu dan berhusnudzan sudah ada yang membantu. Tapi jika ternyata si korban adalah kawan karib kita, tak hanya menolong, bahkan membawa ke rumah sakit pun akan kita lakukan.

Di dalam sebuah hadits disebutkan bahwa jika ada seorang hamba shalih yang senantiasa mengingat Allah dan setiap saat memohon kepada Allah, para malaikat akan berkata, “Hadza shautun ma’ruf” (suara ini kita kenal), lalu para malaikat akan membantu memohonkan kepada Allah agar doanya dikabulkan. Tapi jika ada hamba yang jarang berdoa dan hanya berdoa ketika susah saja, para malaikat akan berkata, “hadza shautun ghairu ma’ruf”dan mereka pun enggan memberi syafaat.

Kita juga begitu, tanggapan kita akan berbeda terhadap tetangga atau saudara yang hanya ingat pada kita saat susah saja dengan yang selalu akrab dan ingat kepada kita di saat senang –terutama- dan susah. Karenanya, mengingat Allah di saat lapang, beristighfar di saat bahagia, bertaqarrub di kala sehat dan beribadah di kala muda, akan membuat seorang hamba menjadi istimewa. Sedang berdoa dengan khusyu’ di kala sakit atau memohon-mohon di kala terkena musibah, bukanlah hal istimewa, sangat wajar dan naluriah.

Kebanyakan manusia memang hanya ingat kepada Allah di saat susah, dan lupa saat kondisi membaik seperti semula. Karenanya, ingatlah Allah di saat lapang, Allah akan mengingatmu di saat kau sempit.

Makna “kenal”

At-ta’arruf atau al-makrifat (kenal) dalam hadits di atas maknanya bukan kenal seperti dalam bahasa kita. Tapi kenal dalam arti yang spesifik. Ibnu Rajab di dalam kitab Jamiul ‘ulum wal Hikam(hadits no.19) menjelaskan, kenal (makrifat)-nya seorang hamba kepada Allah bentuknya ada dua: pertama makrifat ‘amm, yaitu kenal dalam arti meyakini dan mengimani Allah sebagaimana keimanan orang mukmin pada umumnya. Kedua, makrifat khassah, yaitu mengenal Allah secara mendalam hingga memunculkan rasa cinta kepada Allah yang membuahkan rasa nyaman, tenang saat mengingat-Nya, segan dan malu terhadap-Nya.

Inilah makrifat atau pengenalan hamba terhadap Allah yang denganya, Allah akan mengenali hamba dan memposisikannya sebagai hamba yang khas (istimewa) pula. Dan tidak ada yang bisa menumbuhkan rasa cinta, tenang dan malu kepada Allah selain ibadah yang dilakukan dengan benar dan ikhlas.

Hal ini klop dengan makna dari makrifah Allah kepada hamba-Nya yang juga terbagi menjadi dua: makrifat ‘ammah yaitu bahwa Allah mengetahui semua hambanya sejak dilahirkan sampai akhir hidupnya serta mengetahui apa yang dilakukannya baik yang terlihat maupun yang disembunyikan.

Sedang makrifat khassah adalah kedekatan antara Dia dengan hamba, curahan cinta dari-Nya, pengabulan doa dan pertolongan di kala si hamba dalam kondisi terjepit. Seorang hamba yang memiliki makrifat khassah kepada Allah, Allah juga akan mengkaruniakan makrifat khassah-Nya pada si hamba. Rasulullah bersabda,

“Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai dari apa-apa yang Aku wajibkan kepadanya, dan hamba-Ku itu tetap mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Bila Aku mencintainya, Aku akan menjadi pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk menggenggam, dan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia meminta pasti Aku beri, jika ia meminta perlindungan, niscaya Aku lindungi.” (HR. Bukhari).

Adapun ar rakha’ (saat lapang adalah ketika kita berada pada kondisi jauh dari musibah; sehat, diberi kemudahan rezeki, waktu luang, kuat dan waktu luang yang hakiki adalah “hidup”. Sedang asy syidah (saat sempit) adalah kondisi yang 180 derajat merupakan kebalikan merupakan kebalikan dari ar rakha’; sakit, lilitan hutang dan kebutuhan, sibuk, tertimpa musibah, lemah dan renta dan saat sekarat, di alam kubur dan pada hari kiamat.

Agar Tidak Dilupakan

Jika dijabarkan dalam untaian kata, kalimat singkat dari hadits ini akan menumbuhkan berkuntum-kuntum makna dan faidah. Kenali Allah di saat lapang, ingatlah Allah di saat sehat, mendekatlah pada-Nya di saat rejeki lancar, bersyukurlah di saat kau bahagia, beristighfarlah meski sesudah melakukan kebaikan, berdoa di kala sejahtera, serta perbanyak ibadah di saat muda, niscaya Allah akan mengenalimu saat kau sempit, Allah akan mengingatmu saat kau merintih kesakitan, mendengarkanmu saat kau memelas karena lilitan kebutuhan, merahmatimu saat dadamu sesak karena duka dan lara, mempedulikanmu saat kau berlinang air mata karena terjerumus dosa, menolongmu saat musibah melanda, dan akan menjaga dirimu saat kau mengeluhkan tubuhmu yang melemah karena usia.

Dan lebih penting dari itu, ingat dan mendekatlah kepada Allah saat nyawa masih dibadan, sebelum malakul maut datang membawa ajal. Ingatlah Allah saat masih di dunia, agar nasib kita tidak seperti yang ada dalam firman-Nya”

“Mereka (orang-orang munafik) lupa kepada Allah, maka Allah pun melupakan mereka” (QS At Taubah: 67)

Ya Allah jadikanlah kami hamba yang selalu ingat dan mendekat kepada-Mu saat lapang maupun sempit. Dan rahmatilah kami di saat kami membutuhkan pertolongan, pada hari dimana tidak ada pertolongan yang bisa diberikan selain pertolongan dari-Mu. Wallahua’lam.

Oleh: Redaksi/Majalah ar-risalah

Pesta Pernikahan Tidak Islami

Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Ustadz, saya akan segera menikah, insyaallah. Masalahnya,  orangtua saya hendak menyelenggarakan pesta pernikahan dengan adat jawa, lengkap dengan pernak-perniknya. Di sisi lain, saya dan calon mertua menghendaki penyelenggaraan pestanya secara islami meski sederhana.

Ustadz, apakah saya berdosa jika saya tidak mengabulkan permintaan kedua orang tua saya? Lalu bagaimana dengan ungkapan ridha kedua orang tua saya adalah ridha Allah Ta’ala?

Saya sampaikan jazakumullah khairan atas nasihat ustadz.

Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

(Calon Pengantin, Bumi Allah)

 

Wa’alaikumusalam wa rahmatullahi wa barakatuh

Calon pengantin yang dimuliakan Allah. Saya bisa mengerti keinginan Anda untuk mengalami pernikahan yang barakah. Dimulai dengan acara sakral yang harusnya tidak mendatangkan murka Allah karena banyaknya kemungkaran di sana. Dan menerapkan nilai-nilai islami adalah solusinya.

Namun, tidak semua adat istiadat bertentangan dengan syariat Islam, sehingga tidak semuanya harus kita tolak mentah-mentah.  Cobalah untuk berdiskusi tentang mana yang boleh dan mana yang tidak dalam acara itu untuk mencari titik temu, sehingga tidak terkesan bermusuhan. Apalagi mertua Anda mendukung pelaksanaan pesta walimah yang islami. Jadikan hal itu sebagai posisi tawar yang kuat saat melobi orang tua.

BACA JUGA : Cinta Yang Tak Kunjung Hadir

Setelah mencari waktu yang tepat dan penyampaian yang santun, terangkan kepada beliau prinsip menutup aurat, tidak ada ikhtilath, tidak bersanding, tidak ada ‘ubo rampe’ yang berbau syirik, dan tidak ada hiburan yang tidak perlu. Adapun bentuk pelaksanaan bisa fleksibel sesuai keadaan yang ada selama prinsip-prinsip di atas bisa diakomodir.

Namun kalau beliau masih sulit menerima juga, mintalah agar acaranya sederhana saja. Hanya berupa akad nikah dengan mengundang keluarga inti dan tetangga seperlunya untuk meminimalkan munculnya berbagai bentuk acara yang mungkar. Sulit rasanya memaksakan bentuk-bentuk adat yang rumit ke dalam acara akad nikah sederhana.

Jika dalam hal ini Anda terkesan keras kepala dan ngeyel, insyaallah tidak mengapa karena hal ini termasuk  prinsip agama. Anda tidak termasuk  anak durhaka meski mungkin orangtua menilai demikian. Sebab nilai sesungguhnya adalah di sisi Allah. Dan Anda sedang berdakwah tentang Islam yang benar.

Selamat berjuang dan semoga Allah member kemudahan.

Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

 

Bangkitnya ‘Kaum Luth’ LGBT di Indonesia

Tentang kisah kehancuran kaum Nabi Luth AS  al Qur`an memberikan gambaran jelas bagaimana terkutuknya kaum Nabi Luth yang merupakan pelaku homoseksual ini.

“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada kaumnya: “Mengapa kalian mengerjakan perbuatan keji, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun sebelum kalian. Sesungguhnya kalian mendatangi laki-laki untuk melepaskan syahwat, bukan kepada wanita; malah kalian ini kaum yang melampaui batas. Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan: “Usirlah mereka dari kotamu ini, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura mensucikan diri. Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya; dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan). Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu); maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu.” (QS Al-A’raf:80-84).

Jadi, ayat-ayat al Qur`an memberikan penjelasan yang sangat gamblang, bahwa diazabnya kaum Luth itu ada kaitannya dengan perilaku seksual yang menyimpang, yaitu perilaku homoseksual. Prof. Hamka mengutip sejumlah hadits Rasulullah SAW dalam Tafsirnya, yakni Tafsir al-Azhar: “Sesungguhnya hal yang paling aku takutkan menimpa umatku adalah perbuatan kaum Luth.” (HR at-Tirmidzi, al-Hakim, Ibn Majah).

 

Baca Juga: Suka Sesama Jenis Bawaan Atau Penyimpangan

 

Hamka menulis dalam Tafsirnya tentang pasangan homoseksual yang tertangkap tangan: “Sahabat-sahabat Rasulullah SAW yang diminta pertimbangannya oleh Sayyidina Abu Bakar seketika beliau jadi Khalifah, apa hukuman bagi kedua orang yang mendatangi dan didatangi itu, karena pernah ada yang tertangkap basah, semuanya memutuskan wajib kedua orang itu dibunuh.” (Lihat, Tafsir al-Azhar, Juzu’ 8).

 

Kebangkitan ’Kaum Luth’

Manusia memang makhluk yang mudah sekali melupakan peringatan Allah. Lihatlah, fenomena yang terjadi di daerah-daerah bekas bencana. Beberapa hari setelah bencana, masjid-masjid dipenuhi manusia yang meratap dan berdoa kepada Allah. Tapi, ketika tahun berganti tahun, ketika bangunan-bangunan mulai direnovasi, saat sisa-sisa bencana mulai sirna, maka banyak lagi yang melupakan masjid. Shalat jamaah yang sebelumnya sempat ramai, kemudian menjadi sepi kembali.

Dalam soal perilaku ‘kaum Luth’ ini, marilah kita simak apa yang sedang terjadi di negeri kita? Televisi kita setiap hari menayangkan tontonan yang mengajak masyarakat untuk bersikap menerima perilaku kaum Luth, baik secara halus maupun secara terang-terangan, bahkan seringkali ditampilkan dengan sangat vulgar. Sering, tayangan ’kaum Luth’ ini dimunculkan dalam bentuk lawakan dan humor-humor segar, sehingga bisa membuat orang terlena dan terbuai dalam dunia tawa. Lama-lama, dia menganggap bahwa ’kaum Luth’ dan orientasi seksualnya adalah sesuatu yang normal dan absah, sama dengan manusia-manusia lainnya.

Lebih parah lagi, gerakan legitimasi praktik ’kaum Luth’ di Indonesia semakin mengerikan dengan munculnya sejumlah cendekiawan bidang agama yang secara terbuka menghalalkan perkawinan sesama jenis. Tahun 2004, dari Fakultas Syariah IAIN Walisongo Semarang terbit sebuah Jurnal bernama ’Justisia’  (edisi 25, Th XI, 2004) dengan judul sampul yang mencolok mata: ”Indahnya Kawin Sesama Jenis.”  

Gerakan ’kaum Luth’ dengan justifikasi keagamaan mendapatkan momentumnya dengan kedatangan Irshad Manji, wanita lesbian, di Yogyakarta dan Jakarta pada Mei 2008. Kedatangan Manji mendapatkan liputan media massa nasional yang sangat luas. Nong Darol Mahmada, aktivis Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) menulis artikel di Jurnal Perempuan (Maret 2008) dengan judul: Irshad Manji: Muslimah Lesbian yang Gigih Menyerukan Ijtihad.

 

Baca Juga: Hukum Ta’ziyah dan Mensholatkan Pelacur, Gay dan Lesbian

 

Dukungan yang sangat berarti bagi ’kaum Luth’ kemudian juga datang dari Prof. Dr. Siti Musdah Mulia, dosen pasca sarjana UIN Jakarta yang juga aktivis AKKBB. Dalam satu makalahnya yang berjudul ” Islam Agama Rahmat bagi Alam Semesta”, Prof. Mudah menulis: ”Jika hubungan sejenis atau homo, baik gay atau lesbi sungguh-sungguh menjamin kepada pencapaian-pencapaian tujuan dasar tadi maka hubungan demikian dapat diterima.” (Lihat, Majalah Tabligh MTDK Muhammadiyah, Mei 2008)

Dalam wawancaranya dengan Jurnal Perempuan (Maret 2008), Prof. Musdah menyatakan: ”Esensi ajaran agama adalah memanusiakan manusia, menghormati manusia dan memuliakannya. Tidak peduli apa pun ras, suku, warna kulit, jenis kelamin, status sosial dan orientasi seksualnya. Bahkan, tidak peduli apa pun agamanya.”  Lalu, katanya lagi, ”Islam mengajarkan bahwa seorang lesbian sebagaimana manusia lainnya sangat berpotensi menjadi orang yang salah atau taqwa selama dia menjunjung tinggi nilai-nilai agama, yaitu tidak menduakan Tuhan (syirik), meyakini kerasulan Muhammad SAW serta menjalankan ibadah yang diperintahkan. Dia tidak menyakiti pasangannya dan berbuat baik kepada sesama manusia, baik kepada sesama makhluk dan peduli pada lingkungannya. Seorang lesbian yang bertaqwa akan mulia di sisi Allah, saya yakin ini.”

Dukungan dan justifikasi keagamaan dari ”Doktor Terbaik IAIN Jakarta tahun 1996/1997” ini tentu sangat berarti bagi ’kaum Luth’ di Indonesia. Dengan justifikasi keagamaan seperti ini, bisa-bisa ’kaum Luth’ di Indonesia akan bersikap lebih garang lagi jika diberi peringatan. Dengan dalih menghalangi kebebasan beragama dan berkeyakinan dan jaminan HAM, para penolak perkawinan sesama jenis, nanti dapat dicap sebagai manusia biadab, tidak manusiawi, tidak toleran, anti-HAM,  anti-kebebasan, dan sebagainya, sebagaimana ditulis dalam Jurnal Justisia edisi perkawinan sejenis tersebut: 

“Hanya orang primitif saja yang melihat perkawinan sejenis sebagai sesuatu yang abnormal dan berbahaya. Bagi kami, tiada alasan kuat bagi siapapun dengan dalih apapun,  untuk melarang perkawinan sejenis.”

Inilah musibah besar bagi negeri ini. Sebagai orang beriman, kita tentu yakin, bahwa hancurnya suatu peradaban erat kaitannya dengan perilaku dan akhlak manusia. Maka, tidak ada pilihan lain, kecuali kita diwajibkan berdakwah sekuat mungkin agar virus yang disebarkan ’kaum Luth’ ini tidak semakin meluas di masyarakat kita. Wallahu A’lam

 

Oleh: Adian Husaini