Awal Islamisasi Banjarmasin

161

            Banjarmasin hari ini adalah ibu kota provinsi Kalimantan Selatan. Dahulu, pada abad 15 hingga abad 19, Banjarmasin adalah sebuah wilayah geografis untuk sebutan yang melingkupi Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Tenggara dan sebagian Kalimantan Timur. Kumpulan berbagai etnis yang tinggal di wilayah tersebut dinamakan masyarakat Banjar. (Yusliani Noor, Islamisasi Banjarmasin, hlm. 10)

Banjarmasin dalam Hubungan Internasional

            Meski kajian sejarah tentang Banjarmasin tidak seramai kajian sejarah tentang Sumatra dan Jawa, tetapi Banjarmasin bukanlah wilayah sepi tanpa aktivitas. Disebutnya nama Banjarmasin dalam beberapa literatur asing menjadi bukti bahwa wilayah ini telah lama dikenal dan dikunjungi orang. Tentunya ada interaksi antara pengunjung dengan pihak yang dikunjungi.

            Pada abad 7, I-Tsing menyebut nama Mo-Ho-Sin dalam berita yang ditulisnya. Nama ini ditafsirkan oleh Junjiro Takasusu sebagai sebutan untuk Banjarmasin. Dalam berbagai peta kuno yang dibuat orang-orang Eropa, sebutan untuk wilayah Kalimantan bagian Selatan, Tengara dan Tengah adalah Banjarmasin. Dalam Fig. 74, peta yang dibuat Willem Lodewijcksz tahun 1598 disebutnya Bandermacsin. Dalam peta yang dibuat oleh Theodor de Bry tahun 1602, Fig. 102, disebut Bandermach. Selanjutnya, Antonio Sanches membuat peta pada 1641 dengan menyebut Bandermasyn. Lalu dalam peta yang dibuat Jan Jansson pada 1557, ia menulis Banjermshin. (Islamisasi Banjarmasin, hlm. 12)

Dagang Sebagai Saluran Islamisasi

            Sebagaimana wilayah lain di Nusantara, awal masuknya Islam di Banjarmasin terjadi melalui perdagangan. Jauh sebelum Islam diterima secara resmi sebagai agama masyarakat Banjar, Banjarmasin telah masuk dalam jaringan dagang yang dibangun oleh para saudagar di Nusantara. Pedagang dari Sumatra (Melayu) dan Jawa sering mengunjungi wilayah ini. Pedagang dari Jawa bahkan berhasil mendirikan Kerajaan Negara Dipa (1387-1495) dan Kerajaan Negara Daha (1478-1526). Kerajaan Negara Dipa dibangun oleh Empu Jatmika; keturunan saudagar Keling, sedangkan Kerajaan Negara Daha dibangun oleh Raden Sekar Sungsang; anak keturunan penguasa Negara Dipa yang pernah melarikan diri dari rumahnya sewaktu masih kecil. Ia kemudian bertemu dengan pedagang dari Surabaya bernama Juragan Balaba dan menjadi anak angkatnya. Sebagaimana bapak angkatnya, Sekar Sungsang kemudian menjadi pedagang sukses.

            Ia kembali ke kampung halamannya untuk meneguhkan kekuasaan raja Majapahit atas wilayah Negara Daha. Di Majapahit sendiri, komunitas Muslim telah terbangun sejak awal kerajaan ini berdiri. Oleh karena itu, pengaruh Islam tidak hanya terlihat di Majapahit, tetapi juga di wilayah yang menjadi vasal Majapahit, termasuk wilayah pesisir Kalimantan. Tidak menutup kemungkinan para pedagang dari Majapahit yang datang ke Negara Daha dan wilayah lain di Kalimantan adalah pedagang Muslim. Menurut Yusliani Noor, hal ini ditunjukkan dengan bukti-bukti arkeologis nisan bercorak Islam di barat Kalimantan, kawasan Tanjungpura, yang bercorak Majapahit. Sekar Sungsang sendiri bahkan diduga kuat adalah pemeluk Islam yang berupaya membangun pusat kuasa Islam di Banjarmasin, sekitar Negara Daha. (Islamisasi Banjarmasin, hlm. 108)   

            Salah satu anak Sekar Sungsang bernama Raden Sira Panji Kesuma. Kemungkinan besar Sira Panji telah memeluk Islam. Untuk menghindarkan intrik istana Dipa dan Daha, ia diberi sebuah wilayah yang dihuni oleh etnis Ngaju. Bersama dengannya, etnis ini bersedia membangun komunitas baru di kawasan Muara Bahan dan Kahuripan yang mereka sebut Bakumpai. Dua kawasan ini sangat ramai dikunjungi oleh para pedagang dari Jawa, Melayu, Makassar, Wajo, Gujarat, dan Cina.

            Sangat mungkin antara akhir abad 15, etnis Bakumpai yang dipimpin Sira Panji Kesuma telah memeluk agama Islam. Pembentukan Islam sebagai identitas etnis ini tentulah memerlukan proses yang lama. Sebagai pemimpin Biaju atau Ngaju, Sira Panji Kesuma memiliki hubungan kekerabatan dengan Raden Sekar Sungsang. Friksi berbagai kepentingan, termasuk kuatnya pengaruh Hindu-Budha di kalangan kerabat Negara Daha, menyebabkan Sira Panji Kesuma membangun komunitas sendiri di Rantauan Bakumpai. Daerah tersebut kemudian menjadi sebutan untuk identitas etnisnya, yakni etnis Bakumpai.

            Meskipun telah memeluk Islam, Raden Sira Panji Kesuma tidak menampilkan kerajaan baru. Kepemimpinannya masih berada dalam wilayah kekuasaan Negara Daha. Oleh sebab itu, Sira Panji dan komunitas Bakumpai awal tidak membangun masjid dan tidak menampilkan simbol-simbol Islam lainnya. (Islamisasi Banjarmasin, hlm. 116-117)   

            Hubungan antara Majapahit dan Kalimantan dimanfaatkan oleh orang-orang Islam sebagai jalur dakwah ke pulau ini. Bandar dagang Majapahit di pesisir utara Jawa, seperti Gresik dan Tuban, telah lama didatangi oleh mubaligh Islam yang juga pedagang bangsa Arab. Datang pula mubaligh dan pedagang dari Aceh dan Malaka. Para pedagang Muslim memanfaatkan jalur dagang Jawa-Kalimantan yang sudah lama terbangun bahkan sejak sebelum Majapahit berdiri. Dengan pelan namun pasti, terbangunlah komunitas Muslim di pesisir Kalimantan.

            Pada 1470, Raden Paku atau Sunan Giri putra Maulana Ishaq yang saat itu masih berumur 23 tahun berlayar ke Kalimantan dan tiba di Muara Bahan. Kedatangannya sebagai mubaligh sambil membawa barang dagangan dengan tiga buah kapal bersama juragan Champa yang terkenal bernama Abu Hurairah. Sesampainya di pelabuhan, datanglah penduduk berduyun-duyun membeli barang dagangannya. Kepada penduduk miskin, barang-barang itu diberikannya gratis. (Saifuddin Zuhri, Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya di Indonesia, hlm. 386)

            Penyebaran Islam di kalangan penduduk Banjarmasin dilakukan dengan hati-hati dan bijak. Para mubaligh berusaha tidak menyinggung perasaan penduduk yang masih beragama Hindu-Budha dan sangat fanatik kepada Majapahit. Begitu fanatiknya, hingga muncul doktrin di kalangan mereka, “Jangan meniru adat istiadat bangsa lain kecuali adat istiadat Majapahit.” Akan tetapi setelah zaman Majapahit berakhir dan lahir Kerajaan Demak, fanatik mereka beralih kepada Demak. Mereka memandang Demak sebagai mercu suar. (hlm. 390) Wallahu a‘lam.     

 

Ust. Isa Anshari