Berita Bohong (HOAX)

123

Semua tentu sepakat bahwa berita bohong itu menyebalkan. Alih-alih memberi informasi justru menyesatkan. Munculnya berita bohong bisa karena banyak sebab, misalnya untuk memecah belah, fitnah, pembunuhan karakter, atau profokasi.

Terkhusus kabar bohong tentang Islam dan umat Islam menunjukkan bahwa permusuhan antara kebatilan dan kebaikan tak terelakkan. Narasi diciptakan meskipu berisi kebohongan untuk mendiskreditkan Islam dan para pembawa pesan. Peristiwa di zaman Nabi terkait hadits ifki menunjukkan adanya orang-orang munafik yang memendam kebencian kepada kaum muslimin. Mereka tidak senang bila umat Islam tenang.

Umat Islam harus terus waspada.  Musuh-musuh kebenaran tak pernah menyerah membuat tipu daya dan dusta kepada kaum beriman.   Mereka ingin umat Islam terus saling bermusuhan.

Keberadaan kaum munafik yang menghembuskan dusta itu berbahaya. Namun, akan lebih berbahaya bila kaum muslimin mempercayainya. Apalagi ikut menyebarkan dusta yang ia terima.

Allah telah mengajarkan kepada kita etika mengonsumsi berita.

Pertama, bila berita itu menyangkut keburukan orang beriman, dahulukan prasangka baik padanya.  Ketika istri Rasulullah difitnah, seorang wanita muslimah menemui suaminya. “Wahai Abu Ayyub, tidakkah engkau dengar apa yang dikatakan banyak orang tentang Aisyah?” Abu Ayyub menjawab,“Ya. Itu adalah berita bohong. Apakah engkau melakukan perbuatan itu (zina)?” Ummu Ayyub menjawab, “Tidak. Demi Allah, saya tidak melakukan perbuatan itu.” Abu Ayyub berkata,“Demi Allah, Aisyah itu lebih baik dari kamu.”

Ya, sesama muslim mestinya berbaik sangka, apalagi jelas-jelas yang membawa berita adalah penista agama dan kroninya. 

Kedua, lakukan kroscek kepada pembawa berita. Terlebih bila si pembawa berita adalah orang yang tidak paham agama. Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6).

Mintalah bukti kebenaran suatu berita dari si pembawa berita. Jika ia bisa mendatangkan buktinya, maka terimalah. Jika ia tidak bisa membuktikan, maka tolaklah berita itu di depannya; karena ia seorang pendusta. Dan cegahlah masyarakat agar tidak menyampaikan berita bohong yang tidak ada dasarnya sama sekali. Dengan demikian, berita itu akan mati dan terkubur di dalam dada pembawanya ketika kehilangan orang-orang yang mau mengambil dan menerimanya.

 

Ust. Muhtadawan B.