Cari Aman di Tempat Rawan

291

Manusia diciptakan memiliki sisi lemah. Lemah menghadapi penyakit, lemah menghadapi kefakiran, lemah kesiapannya menghadapi kenyataan yang berbeda dengan harapan. Ia juga lemah secara fisik dan lemah untuk menggapai cita-cita yang tinggi.  Begitupun untuk menghindar dari besarnya bahaya yang datang silih berganti mengancam sepanjang hayat. Terlebih lagi untuk menggapai kenikmatan surgawi dan terbebas dari neraka yang siksanya tak terperi.

Allah Ta’ala berfirman,

“Dan manusia dijadikan bersifat lemah.” (QS. an-Nisa’: 28).

Bahkan manusia juga memiliki sisi lemah dalam hal kemuan dan tekad. Mudah berubah pendirian, mudah tergoda dan putus asa. Ibnu Katsir menafsirkan makna lemah dalam ayat tersebut, lidha’fihi fi nafsihi wa dha’fi ‘azmihi wa himmatihi, yakni lemah jiwanya, lemah tekad, dan semangatnya.

 

Tempat Perlindungan yang Rawan

Dengan kelemahan itu manusia berusaha mencari ‘kekuatan lain’ untuk menolong dirinya meraih apa yang dicita dan melindungi diri dari bahaya yang mengancam dirinya. Akan tetapi, amat disayangkan di antara manusia justru mencari perlindungan kepada makhluk yang lemah seperti dia atau bahkan lebih lemah lagi.

Padahal, tempat perlidungan selain Allah yang mereka sangkakan itu sejatinya tempat yang rawan dari bahaya yang menimpa. Bahkan Allah mengumpamakannya dengan sarang laba-laba. Allah berfirman,

“Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.” (QS. al-Ankabut [29]: 41).

Secara fisik, rumah laba-laba adalah rumah yang lemah, rapuh, tidak bisa melindungi dari panas dan hujan, dari angin, dari dingin, apalagi dari timpukan batu atau ranting yang patah menimpanya. Meskipun secara unsur pembuatannya konon sangat kuat dan bentuknya tampak indah.

Itulah perumpamaan orang yang mengambil perlindugan selain Allah dan bertawakal kepada selain-Nya, hakikatnya ia sedang berlindung di sarang laba-laba.

Seperti orang yang mencari keselamatan ketempat para dukun yang dianggap memiliki kekuatan lebih. Mendatangi dukun berarti mendatangi bahaya, seperti layaknya bersembunyi di sarang laba-laba. Ia seperti serangga yang masuk ke jaring laba-laba, tidak tahunya itu adalah jerat laba-laba untuk menjebak mangsanya.

Hal ini persis dengan kehidupan para dukun yang memasang jaring untuk mencari mangsa dan memeras masyarakat yang bodoh. Dan tak jarang kita dengar, ada dukun yang akhirnya membunuh pelanggannya setelah memerasnya.

Ada yang menjadikan jin sebagai tambatan pengharapan dan tempat perlindungan. Dia mengira bahwa jin mampu mengatasi segala problemnya, dan melindungi segala kepentingannya. Ini juga tempat yang rawan bahaya, bukan tempat perlindungan yang aman. Karena jin hanyalah makhluk seperti manusia juga, sama-sama lemah, menanggung beban dan memiliki masalah sendiri dalam hidupnya. Jikalau jin memberikan sebagian ‘keuntungan’, maka kerugian dan kemadharatan yang ditimpakan lebih banyak. Maka, tidaklah dihasilkan dari usaha manusia ini selain dosa dan kerugian. Maksud hati terhindar dari bahaya dan gangguan, tapi yang dimintai perlindungan justru menjadi sumber dosa dan bencana.

Allah Ta’ala berfirman,

Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (QS. al-Jin: 6)

Ada dua kemungkinan makna dari ayat tersebut sebagaimana yang dijelaskan oleh Syeikh as-Sa’di. Pertama bahwa perbuatan tersebut menambah dosa dan keburukan bagi jin yang dimintai bantuan. Dikarenakan jin tersebut akan menjadi sombong, pongah merasa dirinya hebat dan semakin suka memperdaya manusia. Kemungkinan kedua, perbuatan tersebut menambah dosa dan keburukan bagi manusia yang meminta bantuan. Dikarenakan manusia itu akan senantiasa was-was dan takut akan gangguan jin sehingga akhirnya selalu ber-isti’adzah kepada jin ketika menemui sesuatu yang membuatnya khawatir, dan jatuhlah ia kepada kesesatan.

Ibnu Katsier rahimahullah menjelaskan ayat tersebut, “Yakni kami dahulu berpandangan bahwa kami (jin) lebih utama daripada manusia karena manusia sering meminta perlindungan kepada kami. Bila mereka berada di sebuah lembah atau suatu tempat yang mengerikan seperti hutan dan tempat-tempat lain yang dianggap angker. Sebagaimana yang sudah menjadi kebiasaan orang-orang Arab di masa jahiliyah mereka. Mereka meminta perlindungan kepada pemimpin jin ‘penunggu’ di tempat mereka beristirahat agar mereka tidak diganggu oleh kaumnya. Persis seperti ketika seseorang memasuki kota musuh mereka di bawah jaminan perlindungan orang besar yang berpengaruh di kota itu. Ketika jin melihat bahwa manusia itu selalu meminta perlindungan  kepada mereka karena takut kepada para jin, maka justru jin-jin itu makin berulah untuk membuat manusia lebih takut, lebih was-was dan kecut hatinya. Dan ketika manusia semakin takut kepada jin, maka mereka lebih banyak meminta perlindungan kepada jin, inilah yang dijelaskan oleh Qatadah rahimahullah sehubungan dengan firman-Nya, “Maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (QS al-Jin 6)

Yakni makin menambah manusia berdosa dan jin pun makin bertambah berani kepada manusia. Maka, meminta perlindungan kepada jin berarti menjerumuskan diri ke jurang sengsara dan dosa.

 

Tempat Rawan yang Disangka Aman

Ada lagi orang yang menggantungkan keselamatan dan pengharapannya kepada jimat yang dikalungkan di leher, atau dipakai sebagai gelang tangan. Atau diletakkan di bagian tertentu di rumahnya untuk melindungi harta dan rumah tangga mereka dari bahaya yang tampak dan tidak tampak sebagaimana yang mereka yakini. Sungguh, ini juga menjadi sarana perlindungan yang rapuh dan rawan dengan bahaya. Dia sudah terlanjur mempercayakan keselamatannya kepada jimat itu, sementara jimat itu tidak tak berfaedah apa-apa dan tak mampu berbuat apapun untuk meolongnya. Sedangkan Allah juga tidak sudi menolong mereka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَعَلَّقَ تَمِيمَةً فَلاَ أَتَمَّ اللَّهُ لَهُ وَمَنْ تَعَلَّقَ وَدَعَةً فَلاَ وَدَعَ اللَّهُ لَهُ

Barangsiapa yang menggantungkan tamimah (jimat pemudah urusan), maka Allah tidak akan menyempurnakan urusannya. Barangsiapa yang menggantungkan wada’ah (jimat penangkal bahaya), maka Allah tidak akan menjamin (keselamatan)nya. ” (HR. Ahmad, hadits hasan)

Bahkan, selagi dia masih menggantungkan keselamatannya kepada jimat, maka selamanya dia tidak akan bahagia dan beruntung. Imron bin Hushain radhiyallahu ‘anhu berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat di lengan seorang pria ada gelang yang dinampakkan padanya. Pria tersebut berkata bahwa gelang itu terbuat dari kuningan. Lalu beliau berkata, “Untuk apa engkau memakainya?” Pria tadi menjawab, “Ini adalah wahinah (pengusir sial dan kelemahan). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda,

أَمَا إِنَّهَا لاَ تَزِيدُكَ إِلاَّ وَهْناً انْبِذْهَا عَنْكَ فَإِنَّكَ لَوْ مِتَّ وَهِىَ عَلَيْكَ مَا أَفْلَحْتَ أَبَداً

 “Justru ia tdiak menambah untukmu selain kelemahan. Buanglah! Seandainya engkau mati dalam keadaan masih mengenakan gelang tersebut, engkau tidak akan beruntung selamanya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Adapun sebagian manusia yang mengaku modern, ada yang mengandalkan perlindungan keselamatan mereka dengan teknologi. Bukanlah sisi cela itu pada kreasinya dalam mengembangan teknologi. Namun jika hal itu disertai kesombongan dan menantang murkanya Allah dengan maksiat, lalu mengandalkan teknologi sebagai antisipasi, maka sungguh murka Allah tak dapat dicegah oleh teknologi. Jikalau mereka menemukan alat pencegah bencana, Allah Mahakuat untuk menimpakan adzab dengan cara yang lebih kuat atau jenis bencana yang tidak akan mampu mereka hadapi. Simaklah firman Allah Ta’ala,

“Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah.” (QS. al-Hajj: 73).

Berapa banyak juga manusia yang menyangka bahwa harta kekayaan yang ia miliki akan dapat menjaganya dari kemiskinan. Atau penguasa yang ia pilih dan dukung akan dapat melindungi kepentingannya, atau melalui ilmu pengetahuan dan teknologi yang ia kira akan dapat menjaganya. Namun demikian semua ternyata tidak dapat melindungi mereka dari marabahaya di dunia, apalagi kelak di akhirat. Harta bisa ludes seketika, penguasa bisa ingkar janji atau tumbang, dan ilmu pengetahuan serta teknologi tidak dapat menangkal beragam bahaya dan bencana. Maka tidak ada tempat perlindungan paripurna selain Allah, dengan mendekat kepada-Nya, memohon belas kasih-Nya dan mentaati segala aturan-Nya. Wallahu a’lam bishawab.

(Abu Umar Abdillah)