Khutbah Jumat: Hati Gersang Karena Iman Telah Usang

138

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ

,أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ

اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ

ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ

وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

Jamaah jum’at rahimakumullah

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, puji syukur kita panjatkan kepada Allah yang telah memberi kita nikmat kesehatan dan lisan. Semoga karunia tersebut dapat membuat kita bersyukur dengan sebenar-benarnya. Yaitu, menggunakan semua nikmat tersebut untuk menjalankan ketaatan kepada Allah. Shalawat dan salam tak lupa kita sanjungkan kepada Rasulullah, kepada keluarganya, para shahabat dan ummatnya yang konsisten dan komitmen dengan sunnahnya. Amin ya Rabbal ‘alamin.

Wasiat takwa kembali khatib sampaikan kepada para jamaah semuanya. Takwa adalah usaha kita menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya. Allah l tidak mewajibkan sesuatu melainkan ada manfaatnya bagi manusia. Tidak pula Allah mengharamkan sesuatu, melainkan ada madharat atau bahaya bagi kita. Karena itu, takwa menjadi bekal terbaik kita dalam menjalani kehidupan di dunia ini dan kehidupan akhirat yang kekal abadi nanti.

 

Jamaah jum’at rahimakumullah

Saat dikalahkan Nabi Musa as, tukang sihir Fir’aun segera bertaubat. Mereka tersungkur sujud, dan menyatakan keimanannya di hadapan semua orang yang menyaksikannya, termasuk Fir’aun yang sebelumnya menjadi majikannya. Ujian berat pun langsung mereka hadapi,

“Fir’aun berkata, “Apakah kamu beriman kepadanya sebelum aku memberi izin kepadamu?, Sesungguhnya (perbuatan ini) adalah suatu muslihat yang telah kamu rencanakan di dalam kota ini, untuk mengeluarkan penduduknya dari padanya; Maka kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu ini);

“Demi, Sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kakimu dengan bersilang secara bertimbal balik, kemudian sungguh-sungguh aku akan menyalib kamu semuanya.”

Tapi lihatlah jawaban mereka terhadap ancaman Fir’aun,

“Sesungguhnya kepada Allah-ah Kami kembali. Dan kamu tidak menyalahkan kami, melainkan karena kami telah beriman kepada ayat-ayat Tuhan Kami ketika ayat-ayat itu datang kepada kami”. (mereka berdoa): “Ya Rabb Kami, Limpahkanlah kesabaran kepada Kami dan wafatkanlah Kami dalam Keadaan berserah diri (kepada-Mu)”. (QS al-A’raf 123-124)

Bagitulah dahsyatnya iman saat pertama kali datang. Besarnya pengorbanan tak tanggung-tanggung untuk dikerahkan. Beratnya resiko dipikul dengan sepenuh kekuatan, meski nyawa harus dipertaruhkan.

Tapi, iman bukanlah keadaan yang stagnan. Iman bisa turun, bisa juga naik. Bisa usang seperti usangnya pakaian, bisa pula diperbaharui kembali. Iman itu bisa tumbuh dan berkembang, bisa semakin kokoh, akarnya menghunjam, namun bisa pula sebaliknya. Seumpama pohon yang ditelantarkan, makin layu daunnya, kian rapuh batangnya dan tidak mustahil akan tercabut akar dari tanahnya. Bagaimana perjalanan iman kemudian, tergantung cara merawat dan melestarikannya.

 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Proses lunturnya iman umumnya berbeda dengan keadaan saat pertama iman datang. Iman datang langsung meningkat tajam, tapi turun dan lapuk secara perlahan. Bahkan seringkali pemiliknya tidak merasa kehilangan, dan tidak pula mendeteksi terkikisnya iman sedikit demi sedikit.

Saat kita kehilangan gairah untuk melakukan ketaatan, tidak pula bergegas menyambut tawaran pahala yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya, saat itulah kita harus mulai waspada. Jangan-jangan iman kita mulai usang, dan keyakinan kita makin berkurang. Karena salah satu tanda lemahnya iman adalah lemahnya kemauan seseorang untuk menjalankan ketaatan.

Iming-iming menggiurkan di akhirat tidak lagi mampu membuat orang yang lemah iman untuk bersegera menyambut seruan kebaikan. Seperti keadaan orang munafik yang digambarkan oleh Nabi,

 

لَيْسَ صَلاَةٌ أَثْقَلَ عَلَى الْمُنَافِقِينَ مِنَ الْفَجْرِ وَالْعِشَاءِ ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا

“Tiada shalat yang lebih berat bagi orang munafik melebihi beratnya mereka menjalankan shalat fajar dan isyak (dengan berjamaah), seandainya mereka mengetahui pahala pada keduanya, niscaya mereka akan mendatanginya, meskipun dengan merangkak.” (HR. Bukhari)

Seandainya iman di hati sehat, yakin akan kebenaran janji Nabi, tentu mereka akan mendatangi shalat jamaah, meskipun dengan susah payah. Tapi jika iman di hati telah pudar, maka kesehatan, kelonggaran waktu dan dekatnya posisi rumah dengan masjid masih belum dianggap kemudahan untuk mendatangi shalat jamaah.

Begitupun dengan tawaran pahala 27 derajat bagi siapa yang menjalankan shalat berjamaah di masjid, tidak juga menyebabkannya bergegas mengambil peluang ini. Berbeda ceritanya jika seandainya mereka dijanjikan hadiah uang 27 juta, tunai di dunia. Pasti mereka akan rela antri dan berdesak-desakan untuk memasukinya. Padahal 27 juta itu tak ada nilainya sama sekali bila dibandingkan dengan nilai 27 derajat di akhirat. Tapi, lemahnya keyakinan menyebabkan orang enggan untuk menunaikan shalat berjamaah.

Sebagaimana dalam urusan shalat, untuk amal ketaatan yang lain pun tak jauh beda. Lemah iman menyebabkan seseorang menjadi bakhil untuk membelanjakan hartanya di jalan Allah. Sebab dia tidak yakin, jika harta yang dikeluarkan itu benar-benar akan diganti dengan yang lebih baik, di dunia maupun di akhirat.

Belum lagi untuk urusan ketaatan yang menghajatkan pengorbanan, juga resiko di perjalanan, maka lebih berat lagi bagi mereka untuk menunaikannya. Seperti berdakwah, amar ma’ruf nahi munkar dan jihad fii sabilillah.

Adapun orang yang sehat imannya, dia tak hanya sekedar menjalankan ketaatan. Ia bahkan merasa sangat ringan dan betah berada di atas ketaatan. Seperti yang diungkapkan oleh Utsman bin Affan, “Andai saja hati kita bersih, tentu kita tak akan bosan membaca al-Qur’an.” Atau seperti yang diungkapkan oleh seorang ulama salaf, “telah tua umurku, telah rapuh tulangku, sehingga aku hanya mampu membaca al-Baqarah, Ali imran dan an-Nisa’ saja ketika shalat malam.”

Subhanallah….!

 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Ketika penyakit lemah iman mulai menjalar, maka secara perlahan pula, kepekaan seseorang terhadap dosa akan menjadi tumpul. Penyakit ini juga menyebabkan penderitanya kehilangan imunitas, kekebalan ataupun proteksi hati dari segala dosa. Berita tentang siksa akhirat dan ancaman bagi pelaku dosa, disikapi sebagai tak lebih dari sekadar informasi dan maklumat belaka. Bukan lagi sebagai peringatan keras, yang mampu membuatnya mundur dan menjauh dari daerah larangan Allah yang berupa dosa dan maksiat.

Faktor kebiasaan dan pengulangan menjadi penyebab lunturnya keimanan dan melemahnya tali keyakinan. Hingga akhirnya dosa dianggap sebagai perbuatan yang layak mendapat permakluman. Dari sinilah, setan mulai menggoyahkan pendiriannya. Alasan ‘keumuman’, suara mayoritas, adat yang meluas dipaksakan sebagai representasi suatu kebenaran.

Apa iya ini perbuatan dosa? Mengapa banyak yang melakukannya? Masak iya mayoritas manusia akan disiksa? Begitu setan mengikis batu demi batu dari benteng pertahanan iman kita. Terus menerus, hingga akhirnya runtuhlah bentengn itu secara keseluruhan.

Kita mungkin lupa, atau pura-pura lupa, bahwa Allah tidak pernah menjadikan suara mayoritas sebagai ukuran kebenaran. Dan Allah juga tidak mustahil menyiksa kaum mayoritas, jika mereka memang layak mendapatkan siksa. Seperti kaum Nuh, Kaum Luth dan kaum Nabi-nabi lain yang ternyata lebih didominasi orang yang sesat katimbang yang mengikuti hidayah.

 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Penyakit lemah iman tak hanya bisa diderita oleh orang awam. Orang alim pun tak mustahil menderita penyakit ini. Kuatnya iman seseorang tidak selalu berbanding lurus dengan banyaknya pengetahuan seseorang terhadap ilmu syar’i. Ada kalanya, seseorang memiliki banyak pengetahuan tentang fikih, tafsir, hadits dan cabang-cabang ilmu lainnya, namun dia tidak selamat dari kelemahan iman. Padahal, jika lemah iman menjangkiti orang semacam ini, tingkat bahayanya jauh lebih besar dari orang biasa.

Karena orang yang alim mengerti celah-celah dalil, mengetahui siasat untuk bisa berkelit darinya, dan bisa menipu umat dengan kepandaiannya dalam berdalil. Ketika ia melakukan perbuatan yang bertentangan dengan syariat, ia bisa berargumen dan memelintir dalil. Dia menjadikan sebagai dalih di hadapan orang-orang awam.

Akhirnya, orang awam akan melakukan kemaksiatan yang sama, lalu menjadikan pendapat ulama’ suu’ itu sebagai argumen. Maka kerusakan pun semakin meluas.

 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Demikianlah khutbah pada kesempatan kali ini. Semoga bermanfaat bagi khatib maupun bagi jamaah sekalian.

Akhir kata, marilah kita berdoa semoga kita diberi kekuatan untuk menjaga kualitas iman kita. Diberi Kekuatan untuk mengembalikan iman kita jika suatu saat lemah. Dan diberi bimbingan agar iman senantiasa ada di dalam jiwa, hingga ajal menjemput kita. amin.

 

وَالْعَصْرِ . إِنَّ الإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ . إِلاَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ 

 

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْن، وَالعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ، وَلاَ عُدْوَانَ إِلاَّ عَلَى الظَّالِمِيْنَ، وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَلِيُّ الصَّالِحِيْنَ، وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا

عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ إِمَامُ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، وَأَفْضَلُ خَلْقِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ، صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى

إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ

اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

 

Oleh: Ust. Abu Umar Abdillah/Khutbah Jumat

 

Baca Khutbah Jumat Lainnya: Minder Taat Akhirnya Maksiat, Kandas Karena Malas, Pejabat; Orang yang Paling Butuh Nasihat

 


Belum Baca Majalah Ar-risalah Edisi Terbaru? Dapatkan Di Sini

Majalah hati, majalah islam online yang menyajikan khutbah jumat, artikel islam keluarga dan artikel islam lainnya