Khutbah Jumat: Ketakwaan Melahirkan Keberanian

34

KHUTBAH JUMAT

Ketakwaan Melahirkan Keberanian

Oleh: Ust. Taufik Anwar

 

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ ,أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ

قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا

أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

 

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Kita bersyukur kepada Allah atas limpahan nikmat dan karunia-Nya. Semoga, nikmat dan karunia dari Allah dapat kita gunakan untuk beramal shalih.

Shalawat dan Salam semoga tercurah kepada nabi Muhmmad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarganya, para pengikut sunah dan seluruh umatnya sampai hari kiamat.

 

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Ketika pasukan kaum Muslimin dikalahkan dalam perang Uhud dan beberapa orang shahabat gugur sebagai syuhada, tersiar isu bahwa Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam telah terbunuh. Bahkan seorang bernama Abu Qami’ah mengaku telah membunuh Rasullullah padahal ia hanya memukul beliau dan menyebabkan beliau terluka. Tersiarnya kabar bohong itu memengaruhi hati banyak shahabat dan mengacaukan barisan kaum muslimin. Hal itu menjadikan mereka lesu dan lemah untuk melanjutkan pertempuran.

Ibnu Abi Nujaih menceritakan sebagaimana dikutip oleh ibnu Katsir dalam tafsirnya, bahwa seorang shahabat Muhajirin bertanya kepada seorang Anshar yang masih berlumuran darah, “Hai fulan, apakah engkau merasa atau mendengar bahwa Muhammad shalallahu alaihi wasallam, telah terbunuh?” Orang Anshar itu menjawab, “Jika Muhammad telah terbunuh maka ia telah menyampaikan risalahnya. Bertempurlah terus membela agamamu.”

Dalam keadaan demikian, turunlah surat Ali Imran ayat: 144, “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa Rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad). Barang siapa yang berbalik ke belakang maka ia tida dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”

Kemudian Allah melanjutkan firman-Nya, “Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang tertentu waktunya..” Ayat ini menyuntikkan energi keberanian kepada orang-orang yang mulai melemah semangatnya untuk terus bertempur. Sebab, bergerak ke depan untuk melawan musuh atau lari ke belakang tidak akan mengurangi atau menambah umur seseorang.

Selanjutnnya Allah berfirman membesarkan hati para Mukminin dan menghibur mereka dari kekalahan dalam perang Uhud. Berapa banyak nabi yang berperang dan bersama mereka sahabat-sahabat mereka yang bertakwa.

وَكَأيِّنْ مِنْ  نَبِيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّونَ كَثِيْرٌ فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ الله وَمَا ضَعُفُوا وَمَا السْتَكَانُوا وَاللهُ يُحِبُّ الصَّابِرِيْنَ

“Dan berapa banyak nabi yang berperang didampingi sejumlah besar dari pengikutnya yang bertakwa. Mereka tidak (menjadi) lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah dan menjadi lesu, tidak pula menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang bersabar.” (QS. Ali Imran: 146).

Ribbiyuna katsir menurut Ibnul Hasan adalah ulama yang banyak jumlahnya. Mereka adalah para ulama yang sabar yakni yang berbakti dan bertakwa.

Qatadah menjelaskan bahwa mereka, ribbiyun, orang-orang yang bertakwa tidak lemah semangat karena terbunuhnya Nabi mereka dan tidak menyerah. Mereka tidak pernah mundur dari kewajiban membantu para nabi dan agama mereka. Mereka senantiasa berjuang membela para rasul dan risalahnya hingga bersua dengan Allah.

 

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Ayat tersebut menggambarkan salah satu karakter orang yang bertakwa, yaitu mereka tidak pernah lemah karena gangguan dan rintangan yang menimpanya di jalan Allah. Mereka juga tidak patah semangat dan tidak menyerah kepada musuh.

Karenanya, para shahabat dikenal sebagai orang-orang yang berani dalam memperjuangkan kebenaran. Imam Adz-Dzahabi dalam Siyar A’lamun Nubala menceritakan keberanian Nasibah binti Kaab, seorang shahabiyah Rasulullah. “Siang itu,” tutur Nasibah, “Saya menuju Uhud untuk menyaksikan pertempuran kaum muslimin. Awalnya tentara muslim memenangkan pertempuran. Namun ketika pasukan Islam mulai kalah, saya langsung terjun ke medan laga. Saya halau segala serangan yang datang ke arah Rasulullah dengan pedang saya.” Hingga di sekeliling Rasulullah hanya tersisa sekitar sepuluh orang dan di antanya adalah Nusaibah, suami, dan dua putranya. Dengan gagah berani mereka menghalau segala serangan yang datang untuk melukai Rasulullah.

Begitulah keberanian para shahabat yang tidak akan datang selain dari ketakwaan mereka kepada Allah.

 

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Kisah keberanian lainnya adalah seorang tabiin bernama Said bin Jubair ketika berhadapan dengan al-Hajaj bin Yusuf ats-Tsaqafi. Dalam Shuwar min hayatit Tabiin, Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya mengisahkan bahwa al-Hajaj bertanya kepada Ibnu Jubair, “Siapa namamu?” Ia menjawab, “Said bin Jubair, yang artinya orang yang bahagia putra dari orang yang perkasa.” Al-Hajaj menimpali dengan ketus, “Engkau adalah Syaqi bin Kasir, yang artinya orang celaka putra dari orang yang lumpuh. Namun dengan cerdas ia menjawab, “Ibuku lebih mengetahui namaku daripada engkau.”

Al-Hajaj bertanya kepada Ibnu Jubair, “Bagaimana pendapatmu tentang diriku?” Ibnu Jubair menjawab, “Engkau lebih tahu tentang dirimu sendiri.” “Aku ingin mendengar pendapatmu,” Al-Hajjaj mendesak. Ibnu Jubair menjawab, “Itu akan menyakitkan dan menjengkelkanmu.” “Aku harus tahu dan mendengarnya darimu,” kata al-Hajaj. “Yang kuketahui engkau telah melanggar kitabullah,” kata Ibnu Jubair, “engkau mengutamakan hal-hal yang tampak hebat padahal hal itu menghancurkan dan menjerumuskanmu ke neraka.”

 

 Jamaah Jumat Rahimakumullah

Ketakwaan akan melahirkan sikap merendah dan takut kepada Dzat yang Maha Agung. Namun ia melahirkan sikap berani dan tabah menghadapi makar dan kezaliman sekalipun harus berhadapan dengan penguasa. Ketakwaan melahirkan keberanian untuk membela syariat Allah, Rasulullah, dan al-Qur’an. Ketakwaan tidak melahirkan pribadi rapuh yang mudah putus asa saat menghadapi gangguan dan rintangan dalam perjalanan menuju Allah.

Ketakwaan tidak melahirkan pribadi yang permisif terhadap kebatilan dan kemungkaran. Ketakwaanlah yang membuat seorang wanita seperti Nasibah berani maju ke medan jihad. Ketakwaanlah yang membuat Said bin Jubair mampu melawan kezaliman.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ اْلعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُهُ يَغْفِرْلَكُمْ إِنَِّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

 

Khutbah Kedua

 

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْن، وَالعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ، وَلاَ عُدْوَانَ إِلاَّ عَلَى الظَّالِمِيْنَ، وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَلِيُّ الصَّالِحِيْنَ، وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ إِمَامُ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، وَأَفْضَلُ خَلْقِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ، صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ

اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ