Khutbah Jumat: Manusia Bervisi Akhirat

953

Khutbah Jumat:
Manusia Bervisi Akhirat

إِنَّ اْلحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ ونستغفره ونستهديه و نتوب اليه ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا من يهدى الله

فلا مضل له ومن يضلله فلا هادي له, أشهد أن لاإله إلا الله وأشهد أن محمدا عبده ورسوله, اللهم صلى على محمد وعلى اله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلي يوم الدين

أما بعد, قال تعالى فى القران الكريم, أعوذ بالله من الشيطان الرجيم

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ

وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبا

ياأيها الذين امنوا اتقوا الله وقولوا قولا سديدا يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم ومن يطع الله وؤسوله فقد فاز فوزا عظيما

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : فإن أصدق الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم وشر الأمور

محدثتها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وفي رواية أبى داود وكل ضلالة فى النار

 

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Saya wasiatkan kepada diri saya pribadi, juga kepada jamaah sekalian, marilah kita pergunakan sisa-sisa usia yang kita tidak tahu kapan berakhir, untuk lebih meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah. Antara lain dengan meletakkan kecintaan kita kepada Allah, Rasulullah, dan kepada jihad fi sabilillah di atas kecintaan kita kepada apa saja dan siapa saja di muka bumi ini.

Dari Zaid bin Tsabit Radhiyallahu anhu, ia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ ، فَرَّقَ اللهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ ِ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ ، وَمَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ نِيَّـتَهُ ، جَمَعَ اللهُ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِيْ قَلْبِهِ ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ.

“Barangsiapa tujuan hidupnya adalah dunia, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia tidak mendapatkan dunia kecuali menurut ketentuan yang telah ditetapkan baginya. Barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, Allâh akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Allah dan Rasulullah mencela sikap tamak kepada dunia. Bahkan, Allah menjelaskan rendahnya kedudukan dunia dalam banyak ayat di dalam alQur-an. Di antaranya, Allah berfirman:

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imran: 185).

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

مَالِيْ وَلِلدُّنْيَا ؟ مَا أَنَا وَالدُّنْيَا؟ إِنَّمَا مَثَلِيْ وَمَثَلُ الدُّنْيَا كَمَثَلِ رَاكِبٍ ظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا

 “Apalah arti dunia bagiku. Sesungguhnya perumpamaan dunia bagiku adalah seperti pengendara yang tidur siang di bawah rindangnya pohon di siang hari terik, lalu dia beranjak pergi dan meninggalkannya.” (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi)

Jamaah jumat Rahimakumullah

Apabila seorang hamba menjadikan dunia sebagai tujuan hidupnya dan mengesampingkan urusan akhiratnya,

maka Allah akan menjadikan urusan dunianya tercerai-berai, berantakan, serba sulit, serta menjadikan hidupnya selalu diliputi kegelisahan. Allah menjadikan kefakiran di depan matanya. Hatinya tidak pernah merasa cukup dengan rezeki yang Allah berikan kepadanya.

Sesungguhnya Allah telah menetapkan bagi manusia rezekinya. Dunia yang didapatkannya hanya seukuran ketentuan yang telah ditetapkan baginya, tidak lebih, meskipun ia bekerja keras, membanting tulang dari pagi hingga malam dengan mengorbankan kewajibannya beribadah kepada Allah, mengorbankan hak-hak istri, anak, orang tua, dan lainnya.

Imam Ibnul Qayyim berkata,“Pecinta dunia tidak akan terlepas dari tiga hal: (1) Kesedihan (kegelisahan) yang terus-menerus, (2) Kecapekan (keletihan) yang berkelanjutan, dan (3) Kerugian yang tidak pernah berhenti.

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Seorang muslim akan menjadikan akhirat sebagai tujuan utama hidupnya dan menjalani hidupnya sesuai tuntunan yang digariskan Allah. Allah berfirman:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّـهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ اللَّـهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّـهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ ﴿٧٧﴾

“Dan carilah apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) dunia, dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, serta janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Qs. Al-Qashash: 77)

Seorang mukmin selalu berusaha dan mengerahkan segala daya upaya untuk memperoleh rezeki yang halal, memakmurkan bumi sesuai aturan yang diridhai Allah Azza wa Jalla, serta menikmati dunia tanpa menimbulkan kemudharatan bagi agama dan akhiratnya. Inilah makna yang terkandung dalam tafsir firman Allah,

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّـهُ الدَّارَ

“Dan carilah apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat.”

Seorang muslim akan menjadikan dunia sebagai tempat mencari bekal untuk akhirat yang kekal. Dia jadikan dunia sebagai tempat untuk mempersiapkan diri dengan melakukan ketaatan dan mengerjakan amal-amal shalih dengan ikhlas karena Allah dan menjauhkan larangan-larangan-Nya, karena dia yakin pasti mati dan pasti menjadi penghuni kubur dan pasti kembali ke akhirat. Karena itu, dia selalu berusaha untuk menjadi penghuni surga dengan berbekal iman, takwa, dan amal-amal yang shalih.

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Seorang Muslim akan menjadikan akhirat sebagai tujuan hidupnya. Karena itu, ia menjadikan dunia sebagai tempat mengumpulkan bekal untuk akhirat dengan bekal terbaik yaitu takwa. Takwa, yaitu melaksanakan perintahperintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Apabila seorang Muslim beriman dan bertakwa kepada Allah, maka ia akan diberi rezeki dari arah yang tidak diduga dan diberikan jalan keluar dari problematikanya. Allah berfirman dalam surat thalaq: 2-3:

مَن يَتَّقِ اللَّـهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا ﴿٢﴾ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah subhanahu wata’ala maka Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. At-Talaq: 2-3)

Ibnu Abbas menjelaskan makna, “Dia akan mengadakan baginya jalan keluar,” maksudnya, Allah akan menyelamatkan ia dari setiap kesulitan di dunia dan akhirat.”

Umar bin Utsman as-Shadafi berkata, “Siapa saja yang bertakwa kepada Allah, lalu melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi maksiat maka Allah akan mengeluarkannya dari yang haram menuju yang halal, dari kesempitan menuju kelapangan, dari neraka menuju surga, serta diberi rezeki dari arah yang tidak ia sangka dan harapkan.”

Semoga Allah menjadikan kita orangorang yang bervisi akhirat. Senantiasa memudahkan urusan dunia dan akhirat kita. Memberikan jalan keluar atas setiap masalah dan memberikan rezeki halal dari arah yang tak disangka-sangka.

 

Khutbah Kedua

 

إِنَّ اْلحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ ونستغفره ونستهديه و نتوب اليه ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا من يهدى الله

فلا مضل له ومن يضلله فلا هادي له, أشهد أن لاإله إلا الله وأشهد أن محمدا عبده ورسوله, اللهم صلى على محمد وعلى اله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلي يوم الدين

 الَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَعَلَى خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِمْ وَطَرِيْقَتِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

 اللهم اغفِرْ لِلْمُسْلِمينَ وَالمسْلِمَاتِ والمؤمنينَ والمؤمناتِ وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَاَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ

اللهمَّ انْصُرْ جُيُوسَ المُسْلِمِيْنَ وَعَسَاكِرَ المُوَحِّدِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَكَ أَعْدَاءَ الدِّينِ وَأَعْلِ كَلِمَتَكَ إلي يَوْمِ الدِّينِ اللهُمَّ انْصُرْ دُعَاتَنَا وَعُلَمَائنَاَ المَظْلوُمِيْنَ تَحْتَ وَطْأَةِ الظالِمِين وَفِتْنَةِ الفَاسِقِينَ وَحِقْدِ الحَاقِدِيْنَ وَبُغْضِ الحَاسِدِين وَخِيَانَةِ المُنَافِقِيْنَ

اللَّهُمَّ ارزُقنا حُبَّكَ، وحُبَّ مَنْ يَنْفَعُنا حُبُّهُ عندَك، اللَّهُمَّ مَا رَزَقْتَنا مِمَّا أُحِبُّ فَاجْعَلْهُ قُوَّةً لَناَ فِيمَا تُحِبُّ، اللَّهُمَ مَا زَوَيْتَ عَنِّا مِمَّا نحِبُّ فَاجْعَلْهُ فَرَاغاً لنا فِيمَا تُحِبُّ

اللَّهُمَّ إِنِّا نعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ

اللهُمَّ اكْفِنَا بِحَلالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

وَصَلِّ عَلي خَيْرِ خَلْقِكَ وَأَفْضَلِ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ وَعَلي آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا

وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ العَالمَين