Kultum Ramadhan: Hama Pahala di Bulan Mulia

126

Ramadhan kembali hadir menghiasi rentetan sejarah hidup kita di dunia. Sebuah periode waktu yang sarat kemuliaan dan keistimewaan. Bulan agung yang di dalamnya terlimpah segala keutamaan dan kebaikan. Jika umur kita seperti untaian kalung dari bebatuan, mungkin  Ramadhan akan seperti mutiara besar yang indah mencolok di antara bebatuan lain. Tentunya, jika bulan istimewa ini kita isi dengan kebaikan dan ketaatan. Namun jika kita isi dengan keburukan, Ramadhan akan menjadi batu hitam yang juga terlihat kontras dibanding yang lain; besar tapi hitam dan berdebu.

Rayuan hawa nafsu menggelayut di depan kita, mengajak kepada perbuatan buruk persis seperti bulan-bulan sebelum Ramadhan. Utamanya amal-amal buruk yang terlihat dan terasa ringan, tapi dosanya besar. Maksiat akan menjadi hama jahat yang mampu memusnahkan pahala dan membuat kita gagal panen. Salah satu hama pahala yang paling layak diwaspadai adalah dosa lisan. Ringan, sering dilakukan secara tak sadar tapi menyimpan bahaya besar.

Baca Juga: Mengenyam Lezatnya Shalat Malam

Rasulullah bersabda yang artinya,“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan suatu kata yang tak begitu ia pedulikan, padahal perkataan itu menyebabkannya terperosok ke dalam api neraka, yang lebih jauh dari jarak antara timur dan barat.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Yahya bin ‘Uqbah: “Aku mendengar Ibnu Mas’ud berkata: ‘Demi Allah yang tidak ada sesembahan yang benar selain-Nya, tidak ada sesuatu yang lebih pantas untuk lama dipenjarakan dari pada lisan.”

Saat membicarakan dosa lisan, biasanya tema yang populer adalah ghibah, membicarakan keburukan orang. Ini wajar karena ghibah memang hampir semua orang memiliki potensi yang sama besar untuk melakukan dosa ini. Berbeda dengan dosa-dosa lain seperti berbohong, mengumpat dengan kata-kata kasar lagi kotor, memfitnah, adu domba dan sebagainya. Untuk rentetan dosa besar ini, kaum muslimin insyaallah tidak pernah melakukannya. Tapi ghibah, bahkan sambil ngaji pun kadangkala lisan masih kepleset melakukannya. Oleh karenanya, pastikan Ramadhan kali ini, ghibah dijadikan daftar pantangan utama saat berbicara.

Selain ghibah, ada satu keburukan lisan yang juga sangat patut diwaspadai, yaitu debat kusir. Memperdebatkan atau saling sanggah dalam masalah-masalah yang tidak bermanfaat. Atau mungkin tentang persoalan yang bermanfaat tapi sebenarnya tidak perlu diperdebatkan. Misalnya, memperdebatkan soal cara berpakaian, parfum yang paling cocok dipakai, peci yang nyentrik dan yang lainnya. Selagi masih taraf obrolan biasa sih tidak masalah. Hanya saja, kadangkala obrolan bisa bisa berubah menjadi perdebatan ketika masing-masing ingin mempertahankan pendapatnya, lawan bicara sedikit menyinggung, atau cara bicara yang sedikit kasar dan ketus.

Kaum muslimin harus mewaspadai hal ini. Saling sanggah dalam masalah yang tidak bermanfaat dicela oleh syariat dan para ulama. Rasulullah bersabda,

 

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِى رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا

“Aku menjamin dengan rumah di pinggir surga bagi orang yang meninggalkan pertengkaran walaupun ia dipihak yang benar.” (HR Abu Dawud).

Imam Malik dalam kitab al I’tsham berkata, “Tak akan pernah bahagia orang yang suka berdebat. Dan tidaklah engkau menjumpai seseorang yang suka berdebat kecuali di hatinya tersimpan sebuah penyakit.”

Alih-alih meraih manfaat, perdebatan justru sering merusak mood dan menyemai bibit kebencian juga dendam. Tema yang dibahas sepele, tapi karena dibawa ribut dalam perdebatan, akhirnya menumbuhkan permusuhan. Oleh karenanya, menghindari debat kusir dan eyel-eyelan dalam masalah tak penting akan menyelamatkan hati. Hati akan lebih tenang dan mood lebih terjaga. Semangat ibadah tidak rusak, dan Ramadhan pun akan menjadi lebih indah.

Baca Juga: Mereguk Lezatnya Shaum Ramadhan

Salah satu tips untuk menghindari perdebatan tak berguna adalah menghilangkan rasa ingin menonjol, ingin diakui dan tak ingin diremehkan. perasaan inilah yang akan mendorong seseorang berusaha mempertahankan pendapatnya. Memilih diam, mengalah dan tidak ingin mendapat pengakuan dalam hal-hal yang memang sepele tidak akan merusak martabat anda. Bahkan, sikap mengalah, berlapang hati menerima perbedaan dan tidak ngotot saat ngobrol akan membuat anda tampak lebih dewasa dan berwibawa.

Debat kusir, ghibah dan berbagai amal buruk yang keluar dari lisan, hendaknya dihindari dan waspadai. Hama satu ini memiliki kekuatan penghancur pahala yang besar, tapi sering diremehkan. semoga Ramadhan kali ini adalah momen panen raya pahala bagi kita semua. Aamiin. Wallahua’lam. 

 

oleh: Ust. Taufik Anwar/Kultum Ramadhan/Materi Kultum