Kultum Ramadhan: Indahnya Nostalgia Penghuni Surga

57

Kultum Ramadhan

Indahnya Nostalgia Penghuni Surga

 

فَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ يَتَسَاءَلُونَ ﴿٥٠ قَالَ قَائِلٌ مِّنْهُمْ إِنِّي كَانَ لِي قَرِينٌ ﴿٥١

“Lalu sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain sambil bercakap cakap. Berkatalah salah seorang di antara mereka, ”Sesungguhnya aku dahulu (di dunia) mempunyai seorang teman…” (QS. Ash Shaffat: 50-51)

 

Jerih payah perjuangan, akan terasa manis dikenang saat seseorang telah berhasil mencapai tujuan. Derita dan duka lara yang pernah dilalui pun menjadi cerita indah setelah bahagia datang. Seperti seseorang yang untuk bersekolah dan menuntut ilmu harus mengenyam pahitnya kesabaran saat belajar dan keterbatasan di negeri rantau akan senang mengenang peristiwa tersebut setelah ia sukses menyelesaikan pendidikan.

Atau seorang businesman yang harus jatuh bangun merintis usaha akan mengenang peristiwa sulit itu ssebagai kisah indah saat ia telah sukses membangun bisnisnya. Seperti juga liku-liku seseorang yang
menghadapi aral yang terjal saat menuju gerbang pernikahan, kelak ujian itu menjadi kisah romantis yang dikenang selalu. Itulah indahnya bernostalgia. Suatu cara menghibur diri dengan cara mengingat suka duka meraih sesuatu yang diimpikan.

Baca Juga: Kultum Ramadhan: Buta Hati di Dunia, Buta Mata di Akhirat

Dari semua nostalgia yang pernah ada dan akan ada, tak ada nostalgia yang lebih indah dari nostalgia penghuni surga. Saat mereka telah bergelimang dengan kenikmatan, telah sirna penderitaan dan kesusahan, maka bernostalgia menjadi tambahan hiburan bagi mereka.

Ibnul Qayyim dalam bukunya yang fenomenal Hâdil Arwah ila Bilâdil Afrah, perjalanan ruh ke negeri kebahagiaan, memberi satu judul bab dengan kalimat, “Fî Ziyârati Ahlil Jannah ba’dhuhum ba’dha wa tadzâkurihim ma kâna bainahum fid dunya,” yakni bab tentang penghuni surga yang saling mengunjungi satu sama lain dan bernostalgia terhadap kenangan yang pernah mereka alami di dunia. Sebuah judul yang unik dan membuat kita penasaran, dasar manakah yang beliau jadikan sebagai sandaran, benarkah penghuni surga saling bernostalgia.

Mungkin kita sering membacanya, namun luput dari perhatian kita. Karena ternyata, ada ayat yang gamblang menjelaskan hal ini, yakni firman. Allah Ta’ala,

 

فَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ يَتَسَاءَلُونَ ﴿٥٠ قَالَ قَائِلٌ مِّنْهُمْ إِنِّي كَانَ لِي قَرِينٌ ﴿٥١

“Lalu sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain sambil bercakap cakap. Berkatalah salah seorang di antara mereka, ”Sesungguhnya aku dahulu (di dunia) mempunyai seorang teman…” (QS. Ash Shaffat: 50-51)

Allah mengabarkan bahwa penghuni surga saling berhadap-hadapan satu sama lain, mereka bercengkerama dan saling bertanya tentang suka dukanya di dunia. Lalu mereka saling bercerita dan mengenang nostalgia mereka saat di dunia. Hingga ada di antara mereka berkata, ”Sesungguhnya
aku dahulu (di dunia) mempunyai seorang teman…” (Ash Shaffat 50-51)

Tak ada sesuatu yang lebih indah untuk dikenang selain liku-liku mereka di dunia saat menghadapi godaan dan gangguan, dan bagaimana beratnya menahan kesabaran di dunia, hingga Allah menyelamatkan sampai di jannah. Di antara mereka ada yang hampir terpengaruh dengan bujuk rayu temannya di dunia yang menanamkan keraguan terhadapnya akan adanya hari kebangkitan di dunia.

Allah mengisahkan seorang penghuni jannah yang mengenang saat di dunia yang digoda oleh temannya,

 

قُولُ أَإِنَّكَ لَمِنَ الْمُصَدِّقِينَ ﴿٥٢ أَإِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَعِظَامًا أَإِنَّا لَمَدِينُونَ

“yang berkata, ‘Apakah kamu sungguh-sungguh termasuk orang-orang yang membenarkan (hari berbangkit)? Apakah bila kita telah mati dan kita telah menjadi tanah dan tulang-belulang, apakah sesungguhnya kita benar-benar (akan dibangkitkan) untuk diberi pembalasan’.” (QS. ash-Shaffat: 52-53).

Ketika itu, ia pun segera mengingat temannya itu, dan ia ingin tahu bagaimana keadaannya sekarang setelah di akhirat. Maka iapun berkata:

 

قَالَ هَلْ أَنتُم مُّطَّلِعُونَ ﴿٥٤ فَاطَّلَعَ فَرَآهُ فِي سَوَاءِ الْجَحِيمِ ﴿٥٥ قَالَ تَاللَّـهِ إِن كِدتَّ لَتُرْدِينِ ﴿٥٦ وَلَوْلَا نِعْمَةُ رَبِّي لَكُنتُ مِنَ الْمُحْضَرِينَ ﴿٥٧

“Maka iapun berkata, ‘Maukah kamu meninjau (temanku itu)? Maka ia meninjaunya, lalu dia melihat temannya itu di tengah-tengah naar menyala-nyala. Ia berkata (pula),”Demi Allah, sesungguhnya kamu benarbenar hampir mencelakakanku, jikalau tidak karena nikmat Rabbku pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret (ke naar).” (QS. Ash-Shaffat: 54-57)

Perbincangan para penghuni surga tak hanya menyangkut pribadinya semata, tapi juga bercerita tentang suka duka keluarganya. Masih di bukuyang sama, Ibnul Qayyim membuat sub judul, “fi tadzâkuri ahil Jannah ma kâna bainahum fi Dârid dunya,” yakni tentang penduduk jannah yang bernostalgia (mengenang) di antara mereka saat di dunia. Lalu beliau menyebutkan:

 

وَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ يَتَسَاءَلُونَ﴿٢٥ قَالُوا إِنَّا كُنَّا قَبْلُ فِي أَهْلِنَا مُشْفِقِينَ ﴿٢٦ فَمَنَّ اللَّـهُ عَلَيْنَا وَوَقَانَا عَذَابَ السَّمُومِ

“Dan sebagian mereka menghadap sebagian yang lain, saling tanya menanya. Mereka berkata,” sesungguhnya kami dahulu, sewaktu berada di tengah-tengah keluarga kami merasa takut akan di azhab. Maka Allah memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azhab neraka.” (QS. ath-Thur: 25-27).

Ketika mereka bernostalgia, maka mereka mengenang masa-masa sulit yang mereka alami saat mencari ilmu, memahami al-Qur’an dan asSunnah. Hal ini lebih menyenangkan bagi mereka daripada kenikmatan
makan maupun minum. Bagaimana tidak, setelah mereka berada dalam satu keluarga orang yang beriman, melewati masa-masa hidup di dunia denga suka dan duka, mereka juga sempat kehilangan anggota keluarga yang dicintainya, karena memang Allah mewafatkan mereka bukan dalam waktu yang bersamaan, lalu setelah sekian lama berpisah, akhirnya Allah mengumpulkan mereka kembali di jannah.

Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma berkata, “Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat keluarga orang mukmin menjadi satu level dengannya, meskipun amal mereka levelnya berada di bawahnya. Itu semua agar Allah menyempurnakan kebahagiaannya. Lalu beliau membacakan firman Allah Ta’ala,

 

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُم مِّنْ عَمَلِهِم مِّن شَيْءٍ ۚ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ ﴿٢١

“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka.” (QS. ath-Thur: 21).

Begitulah, Allah akan menyatukan satu keluarga orang mukmin tanpa mengurangi keutamaan salah satu di antara mereka. Tak ada yang diturunkan derajatnya untuk bersatu dengan keluarganya, justru anggota
keluarga yang berada di level bawah akan dinaikkan ke derajat yang paling tinggi di antara mereka. Alangkah indahnya pertemuan mereka ketika itu.

Alangkah mengesankan pula ketika mereka bernostalgia dan mengenang masa-masa hidup di dunia. Semoga Allah mengumpulkan kita dengan keluarga dan orang-orang yang kita cintai di jannah-Nya, aamiin.

 

Kultum Ramadhan/Majalah ar-risalah/Ust. Abu Umar Abdillah