Kultum Ramadhan: Berjaya di Atas Takwa

27

Kutum Ramadhan: Berjaya di Atas Takwa

وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

“Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertaqwa”.

(QS. al-A’raf: 128)

Selalu ada bisikan setan yang menakut-nakuti dengan resiko duniawi ketika seseorang hendak menjalani konsekuensi iman. Tak sepi pula halangan dan rintangan yang mengganggu jalan, hingga ancaman dari musuh-musuh dari kalangan setan jin dan setan manusia. Akan tetapi, ada kaidah qur’aniyah yang membuat orang mukmin memilih untuk melaju dan tegar berada di jalan takwa. Kaidah yang menenangkan jiwa dan mengusir rasa was-was, kekhawatiran dan ketakutan. Yakni kaidah yang berbunyi “wal ‘aaqibatu lil muttaqiin,”  dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertaqwa”. (QS. Al-A’raf 128)

Kalimat ini pernah diucapkan oleh Nabi Musa alaihissallam pada saat memberikan motivasi dan kabar gembira kepada orang-orang yang beriman bersama beliau. Bahwa kemenangan akan didapat orang-orang yang beriman di dunia dan akhirat selagi mereka mau melazimi takwa.

Kalimat yang serupa ditujukan kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, dengan kalimat ‘wal ‘aqibatu lit taqwa.”

Disebutkan pula kaidah ini setelah Allah mengisahkan kisah tentang Qarun di akhir surat al-Qashash.

Al-Qur’an juga banyak mengisahkan, bagaimana kesungguhan para Nabi dan Rasul dalam merealisasikan takwa, meski apa yang diperintahkan Allah kepada mereka itu secara dhahir bertentangan dengan jalan pikiran dan perasaan umumnya manusia.

Pada saat Ibrahim alaihissalam diperintahkan oleh Allah untuk menyembelih puteranya, beliau tidak tahu sebelumnya, bahwa nantinya Ismail akan digantikan dengan seekor domba. Yang beliau tahu bahwa beliau harus menjalankan perintah Rabbya, lalu Allah memberikan kejutan yang membahagiakannya, sebagai balasan atas kesetiaan beliau terhadap perintah Rabbnya, maka kesudahan yang baik adalah bagi orang yang bertakwa.

Baca Juga: Kultum Ramadhan: Buta Hati di Dunia, Buta Mata di Akhirat

Sebagiamana juga Nabi Musa alaihissalam juga tidak tahu sebelumnya, bahwa nantinya laut akan terbelah setelah tongkat beliau dipukulkan ke lautan. Yang beliau tahu bahwa itu adalah perintah Allah, dan pasti Allah memberikan jalan keluar baginya.

Nabi Nuh alaihissalam juga tidak tahu bahwa akan terjadi banjir bandang, saat beliau membuat kapal di musim kemarau hingga ditertawakan kaumnya. Beliau hanya menjalankan perintah, lalu Allah memberikan kesudahan yang baik bagi beliau dan orang-orang yang mengimaninya.

Kaidah ini berlaku tak hanya di akhirat, tapi juga di dunia, baik secara fardi maupun jama’i. Yakni selagi seseorang atau kaum muslimin konsisten dengan takwa, maka Allah akan memberikan kesudahan yang baik kepada mereka.

Memang sepantasnya Allah memenangkan orang-orang yang bertakwa kepada-Nya, berpihak di pihak mereka, dan membahagiakan mereka.

Seorang mukmin merasa yakin dengan ketentuan Allah, karena Hanya Allahlah yang maha mengetahui segala sesuatu. Maka, jika Allah mensyari’atkan kepadanya tentang sesuatu, pastilah Dia itu mensyari’atkan atas dasar ilmu-Nya, yang meliputi segala sebab yang dapat menghilangkan mafsadat dan mendatangkan maslahat bagi orang yang melaksanakan syari’at-Nya. Dan untuk segala problem dan masalah, selalu ada jalan keluar untuk mereka.

Bagaimana mungkin orang yang mengikuti aturan Allah akan menemui jalan buntu, sedangkan Allah yang kuasa memberikan petunjuk dan menyesatkan jalan. Bagaimana mungkin seseorang akan kelaparan, sedangkan dia menjaga batasan-batasan yang Allah gariskan dalam mencari rizki.

Ketika menafsirkan firman Allah Ta’ala,

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. ath Thalaq: 2-3)

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata, “Barangsiapa bertakwa, sementara rezkinya menyempit karena terputusnya berbagai hubungan, niscaya Allah akan mengadakan baginya jalan keluar berupa kecukupan.”

Dan alangkah bagusnya penafsiran Umar bin Utsman Ash Shadafi rahimahullah tentang ayat ini, “Barangsiapa yang mengikuti ketentuan-ketentuan Allah dan menjauhi maksiat kepada-Nya, Allah akan mengeluarkannya dari haram menuju halal, dari kesempitan menuju kelapangan, dan menghindarkan dari neraka menuju surga.”

Bahkan, tak ada sesuatu yang lebih menjamin kesejahteraan anak keturunan dibandingkan takwa. Allah Ta’ala berfirman,

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّـهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

 “Dan hendaklah bertakwa kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka.” (QS. An Nisa’: 9)

Al-Qasimi rahimahullah berkata, “Di dalam ayat ini Allah menunjukkan, bahwa karena rasa takutnya meninggalkan keturunan yang lemah, para orang tua membimbing anak-anak mereka dengan takwa dalam semua perkara mereka, sehingga terpeliharalah mereka dan mendapat pertolongan dari-Nya. Ayat tersebut juga menunjukkan sisi bahaya yang mengancam anak-anak mereka, jika takwa kepada Allah sirna dari diri mereka. Ini sesuai dengan kaidah, “Dengan memelihara yang ushul (pokok) maka terpelihara pula yang  furu’ (cabang).”

Hal senada dikatakan oleh Muhammad bin Munkadir, “Sesungguhnya Allah akan memelihara seorang anak melalui seorang ayah yang shalih, seoran cucu melalui anak yang shalih pula, dan memelihara negeri di mana mereka tinggal di dalamnya serta wilayah yang mengelilinginya. Dan mereka semua senantiasa berada dalam pemeliharaan dan perlindungan Allah.” Dan gelar shalih hanya diperuntukkan bagi seseorang yang bertakwa.

Maka, selagi kita menjalankan konsekuensi takwa dalam menjalankan segala bentuk perintah Allah, juga dalam hal meninggalkan segala bentuk larangannya, tak perlu takut akan resiko dunia. Berbesar hati dan bergembiralah dengan kemudahan yang akan didapatkan, tercapainya tujuan dan terhindar dari berbagai hal yang ditakutkan. Wallahu a’lam bishawab.

 

Kultum Ramadhan/Majalah ar-risalah/Ust. Abu Umar Abdillah