Makna Mendalam dari Sayyidul Istighfar

30

 

اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّى لا إِلَهَ إِلا أَنْتَ، خَلَقْتَنِى وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَىَّ، وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِى، فَاغْفِرْ لِى، فَإِنَّهُ لا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلا أَنْتَ

“Ya Allah sesungguhnya Engkau adalah Rabb-ku, Tiada Ilah kecuali Engkau, Engkau telah menciptakanku, sedang aku adalah hamba-Mu, aku berada di atas janjimu dan berusaha menunaikan janjiku padamu sekuat tenagaku, aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan jelekku, aku mengakui nikmat-Mu yang Engkau berikan kepadaku dan aku mengakui segala dosa yang pernah aku perbuat, maka ampunilah diriku, sesungguhnya tiada yang mampu mengampuni dosa kecuali Engkau ya Allah.”

 

Bagi sebagian orang, berdoa dengan bahasa ibu (bahasa Indonesia, Jawa atau lainnya) dirasa lebih menyentuh dan berkesan daripada berdoa dengan bahasa Arab. Yang kami maksud adalah doa secara umum, bukan doa dalam shalat atau ibadah tertentu. Sebab dengan bahasa sendiri, curahan hati terasa lebih terwakili oleh ungkapan-ungkapan yang bisa langsung dipahami oleh pikiran. Berbeda dengan doa dalam bahasa Arab yang terkadang arti dari doa adalah hafalan tersendiri. Akibatnya penghayatan terhadap permohonan menjadi kurang. Doapun menajdi kurang berkesan. Bahkan kadangkala hanya terasa seperti wirid biasa. Jika begini istijabah bisa tersendat karena yang meminta tidak memahami apa yang tengah ia minta kepada Rabbnya.

Di sisi lain, berdoa dengan ungkapan buatan sendiri, akan menghilangkan dua kebaikan; pertama kebaikan sunah, kedua kebaikan dari pilihan kata yang telah diberikan Nabi. Karenanya, alternatifnya bukan meninggalkan doa dalam bahasa Arab, tapi mencoba memahami arti dan kandungan makna dalam doa-doa warisan Nabi dalam bentuk aslinya (bahasa Arab). Alasanya, pertama karena Nabi SAW telah mengajarkan berbagai macam doa untuk berbagai hajat manusia. Mulai dari urusan dunia seperti doa agar sembuh dari penyakit, diringankan hutang, masuk WC hingga urusan akhirat seperti permohonan ampun, jannah, perlindungan dari neraka, diringankan saat hisab dan sebagainya. Sebagian besar sifatnya spesifik dan sebagiannya umum. Nah, jika ada yang dari Nabi, mengapa mesti buat sendiri?

Kedua, pilihan kata dan ungkapan dari Nabi adalah yang terbaik, paling tepat dan diridhai oleh Dzat yang hendak kita minta karunia-Nya. Jelas, karena beliau dibimbing langsung oleh wahyu. Karenanya, doa-doa yang beliau ajarkan selalu mengandung makna yang dalam dan penuh hikmah. Harus dalam bentuk originalnya yaitu bahasa Arab, karena pengalihan bahasa (terjemah) dapat menghilangkan kandungan makna yang dicakup. Untuk itu, mari kita kaji satu persatu makna dari doa-doa yang diajarkan Rasulullah.

Kita mulai dari Sayidul Istighfar, Penghulu dari Istighfar sebagaimana yang tertera di atas. Mengapa dinamakan Sayidul Istighfar? Imam at Thayibi menjelaskan, “Karena doa ini mengandung semua unsur taubat maka diambillah kata Sayid untuk menamainya.”

“Ya Allah sesungguhnya Engkau adalah Rabb-ku, Tiada Ilah kecuali Engkau, Engkau telah menciptakanku sedang aku adalah hamba-Mu”. Pilihan kata dalam kalimat ini mencakup ikrar tauhid rububiyah dan ilahiyah yang paling mendasar. Ikrar rububiyatullah adalah pengakuan bahwa Allah adalah Pencipta dan Pengatur seluruh makhluk. Sedang ikrar uluhiyah adalah ikrar bahwa manusia adalah hamba dan Allah-lah ilah sesembahan mereka. Permulaan yang sangat baik untuk mengawali permohonan.

“aku berada di atas sumpah dari-Mu dan janji-Mu sekuat tenagaku”.  ‘ahdika atau sumpah dari-Mu, adalah sumpah yang diambil ketika manusia dikeluarkan dari rusuk bapak mereka, “ Bukankah aku adalah Rabb-Mu?” dan ia menjawab, “Benar.” Sedang wa’duka atau janji-Mu adalah janji Allah bahwa barangsiapa wafat dalam keadaan muslim dan tidak menyekutukan Allah, maka Allah akan memasukkannya ke dalam Jannah. Karenanya, setiap muslim harus berdoa agar diwafatkan dalam keadaan beriman, seperti doa Nabi Yusuf, “ matikanlah aku dalam keadaan muslim, dan pertemukanlah aku dengan orang-orang yang shalih”. Penambahan kata mastatho’tu (sekuat tenagaku) diperlukan karena manusia tidak akan mampu melaksanakan seluruh perintah Allah dan meninggalkan sama sekali seluruh laranganya juga mensyukuri setaip detail nikmat dari-Nya. Ungkapan ini menandaskan kerendahan sang hamba dan kelemahan dirinya, serta kemurahan sang Khaliq karena tidak membebani hamba-Nya kecuali sebatas kemampuannya.

“Aku berlindung kepada-Mu dari semua perbuatan burukku, aku mengakui nikmat-Mu yang Engkau berikan kepadaku dan aku mengakui semua dosa yang pernah aku perbuat.”

Di dalam bahasa arab, istighfar bukan hanya ucapan meminta ampun, tapi juga harus disertai pengakuan diri (I’tiraf) akan segala dosa dan karunia dari Allah. Pepatah arab mengatakan, a’ I’tiraf yamhu al il iqtiraf, pengakuan atas kesalahan akan menghapus kesalahan, sebagaimana pengingkaran atas kesalahan adalah sebuah kesalahan. Kalimat yang pertama benar-benar mengesankan kelemahan manusia dan kembalinya mereka kepada Allah, ketika mereka berlindung kepada Allah dari perbuatan buruk yang dilakukan oleh organ tubuh mereka atas dorongan nafsu mereka sendiri. Pengakuan nikmat dalam kalimat ini tidak diikat dengan penyebutan nikmat tertentu agar maknanya menyeluruh, menunjukkan betapa banyak nikmat yang telah diberikan. Dan pengakuan dosa adalah pengakuan terhadap segala dosa yang yang telah tercatat.

 “Maka ampunilah diriku, sesungguhnya tiada yang mampu mengampuni dosa kecuali Engkau ya Allah.”

Tidak ada yang bisa dan berhak mengampuni dosa dan kesalahan selain Allah. Maka hanya kepada-Nya-lah istighfar dan segala permohonan ampun ditujukan. Sebagaimana pula, hanya Allahlah yang berhak menerima atau menolak amal kebaikan, bukan malaikat atau siapapun. Pada akhirnya semuanya akan kemabli kepada-Nya dan berserah sepenuhnya kepada Dzat Yang telah menciptakan segalanya.

Nah, bukankah doa pilihan Rasulullah ini benar-benar sarat makna dan hikmah yang luar biasa? Wallahua’lam.

(Keterangan doa ini disarikan dari: Syarh Ibnu Bathal, IX/98, Aunul Ma’bud II/107, Faidhul Qadir IV/157).

 

Oleh: Ust. Taufik Anwar/Doa