Maraknya Tren Membeda-bedakan Ustadz dan Ulama’

43

Maraknya dakwah Islam di Indonesia layak kita syukuri. Terlebih saat banyak dai mulai melek teknologi dan menggunakan alat informasi sebagai media dakwah. Masyarakat menjadi lebih mudah untuk mendapatkan asupan ilmu. Sayangnya, masyarakat kerap dibuat resah dengan munculnya perdebatan dan saling menyalahkan di antara beberaapa oknum dai yang kemudian menjadi viral di media sosial.

Setiap manusia memiliki perbedaan, baik secara keilmuan maupun penyampaian. Adapun perbedaan keutamaan dan posisi di sisi Allah, tidak ada orang yang tahu. Hal itu termasuk perkara gaib yang Allah tidak perlihatkan kepada orang yang diberi keutamaan. Sehingga perkara itu diserahkan kepada (Allah) yang paling mengetahui terhadap makhluknya. Dia yang paling tahu akan keikhlasan dan kejujuran makhluk. Dan Dia pula yang lebih mengetahui siapa yang paling dekat dengan-Nya Subhanahu Wata’ala.

Baca Juga: Sunnah Pergantian Generasi Islam

Sementara perbedaan antara ulama dalam sisi keilmuan, maka yang memberikan penilaain hal itu bukan untuk orang awam. Akan tetapi penilaian yang jujur adalah ahli ilmu yang jujur pada dirinya dalam menilai mereka dan dia termasuk spesialis dalam bidang tersebut.

Tidak kita dapati para ulama sibuk memberikan klasifikasi dan penilaian posisi para ulama, Kecuali kalau ada kemaslahatan atau peristiwa tertentu yang mengharuskan hal itu. Tidak ada pada mereka (para ulama) sikap meremehkan satu sama lain. Tajudin As-Subki rahimahaullah mengatakan, “Memperbincangkan para imam agama, dan saling membandingkan di antara mereka yang belum sampai pada tingkatannya, itu hal yang tidak bagus. Dikhawatirkan akibat buruknya di dunia dan akhirat. Sedikit sekali orang yang terjerumus dalam hal ini dapat selamat. Terkadang hal ini merupakan sebagai sebab terjerumus kepada ulama yang dapat menghancurkan tempat.” (Al-Asybah Wan Nazoir, 2/328)

Dahulu, para ulama telah mengetahui kedudukan para ulama dari sisi keutamaan dan ilmunya. Mereka rendah hati dan meninggikan kedudukan orang yang telah mendahuluinya dari kalangan ahli ilmu.

Baca Juga: Pembunuhan Karakter

Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Sementara ahli ilmu yang bermanfaat berbeda dengan ini. Mereka berprasangka jelek kepada dirinya dan berprasangka baik kepada ulama salaf terdahulu. Mengakui dalam hati dan dirinya akan keutaman dari ulama salaf terdahulu. Tidak mampu menyamai derajat atau bahkan mendekatinya. Alangkah indahnya ungkapan Abu Hanifah, ketika beliau ditanya tentang Al-Qomah dan Al-Aswad siapa di antara kedunyanya yang lebih mulia? Beliau menjawab, “Demi Allah kita tidak layak untuk menyebutkannya, bagaiamana mungkin kita membedakaan keutamaan di antara keduanya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah telah menyatakaan perkataan berharga,

“Bahwa menyibukkan diri dengan membeda-bedakan keutamaan di antara sebagian mazhab, syekh yang diikuti dan meremehkan orang lain, termasuk dasar ahli bid’ah. Manhaj orang Rafidhoah dan Syi’ah. Bahkan hal itu merupakan kebiasaan ahli kitab sebelum kita. “Dan orang-orang Yahudi berkata: “Orang-orang Nasrani itu tidak memiliki keutamaan”, dan orang-orang Nasrani berkata: “Orang-orang Yahudi tidak memiliki keutamaan…

Seharusnya bagi setiap orang Islam yang bersaksi tiada tuhan melainkan Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah, menjadikan tujuan utamanya adalah mengesakan Allah dengan beribadah hanya kepada-Nya tanpa menyekutukan-Nya, serta mentaati utusan-Nya dan berputar di porosnya dimana saja ia dapatkan. Hendaknya mereka mengetahui bahwa sebaik-baik makhluk setelah para Nabi adalah para shahabat. Jangan membela seseorang dengan mutlak kecuali hanya untuk Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam. Tidak juga membela kelompoknya dengan mutlak kecuali hanya para shahabat radhiallahu anhum ajma’in.

Petunjuk hanya berputar bersama Rasul dimana ia berada dan berputar di sekitar para shahabat beliau. Kalau mereka (para shahabat) telah bersepakat (ijma’), maka mereka tidak akan bersepakat pada kesalahan. Berbeda dengan pengikut para ulama, terkadang mereka bersepakat pada kesalahan.” (Lihat Majmu Fatawa)

Baca Juga: Dibalik Media

Seorang muslim semestinya tidak disibukkan dengan membeda-bedakan para ulama, siapa di antara mereka yang lebih banyak ilmunya. Biarkan hal itu kepada orang yang spesial di bidangnya.

Hal itu berarti menyibukkan diri pada hal yang merugikan dirinya, disamping menyia-nyiakan waktu. Para ulama itu sampai pada derajat seperti itu, karena mendapatkan taufik dari Allah dengan keikhlasan dan kesungguhannya disertai sikap bersusah payah dengan mencurahkan waktu dalam belajar, bersungguh-sunguh melakukan perjalanan, mengeluarkan harta dalam membeli buku.

Maka hendaknya mereka yang sibuk dengan memberikan penilain, menyibukkan diri seperti para ulama tersebut. Hendaknya mereka memberikan sanjungan dan penghormatan bagi setiap orang yang berkhidmat untuk agama Allah dengan mengajarkan orang ilmu yang bermanfaat. Karena para ulama adalah pewaris para Nabi. Tidak layak bersikap terhadap  pewaris Nabi kecuali apa yang sesuai dengan hak yang harus mereka dapatkan seperti mengakui keutaman, ilmu serta amal baiknya kepada masyarakat. Wallahu a’lam.

 

Oleh: Muhtadawan/Terkini