Menumbuhkan Akhlak Anak Sejak Usia Dini

28

Setiap orang tua, tentu memiliki harapan besar bagi buah hatinya. Semua itu, tak hanya tersirat dalam sorot mata yang penuh pinta. Bahkan goresan pena “semoga menjadi anak sholeh/ sholehah” tertulis dengan berjuta impian dalam setiap lembar doa menyambut lahirnya makhluk kecil, yang sekian lama dinantikannya.

Namun seiring berjalannya waktu, tak sedikit orang tua yang justru mengeluhkan kehadiran anaknya. Katanya, mereka berkembang tak sesuai harapan. Apa pasalnya? Anak yang semula nampak lucu dan menyenangkan, kini sering berkata kasar, membantah orang tua bahkan tidak mengerti adab atau sopan santun. Hmm… kalau begitu, siapa ya yang harus diluruskan?

Jujur, para orang tua sering mengabaikan pendidikan akhlak bagi anaknya sejak usia dini. Bukan bermaksud menyalahkan, tapi nyatanya terkadang kita tak bisa membedakan antara al khuluq (akhlak) dengan al khim (watak). Bahkan para orang tua sering menyamaratakan keduanya. Padahal, akhlak adalah tabiat yang bisa dibentuk. Sedangkan watak lebih kepada tabiat yang bersifat naluri.

Mari kita simak perkataan Ibn Qoyyim dalam kitabnya Ahkamul Maulud,  “Yang sangat dibutuhkan oleh anak adalah perhatian terhadap akhlaknya. Dia akan tumbuh menurut apa yang dibiasakan oleh pendidiknya ketika kecil. Jika sejak kecil ia terbiasa marah, keras kepala, tergesa-gesa dan mudah mengikuti hawa nafsu, serampangan, tamak dan seterusnya, maka akan sulit baginya memperbaiki hal tersebut ketika dewasa. Perangai ini akan menjadi sifat dan perilaku yang melekat pada dirinya. Jika tidak dibentengi betul dari hal itu, maka pada suatu ketika semua perangai itu akan muncul. Jadi, bila kita temui akhlak yang menyimpang dari kebanyakan manusia, bisa jadi karena pendidikan akhlak yang dilaluinya.”

Baca Juga: Jangan Cemas Bila Anak Tak Paham Pelajaran di Sekolahan

Maka jangan terburu-buru menyalahkan anak atau guru mereka di sekolah. Mungkin tanpa disadari, kita telah menanamkan deretan kekeliruan yang kemudian menjadi tabiatnya. Boleh jadi kita membiarkan mereka serba terburu-buru dalam menjalankan sesuatu. Makan terburu-buru, berangkat sekolah terburu-buru bahkan sholat pun terburu-buru. Hingga kebiasaan ini melekat, menjadi pribadi egois dan selalu kemrungsung dalam setiap tindak tanduknya. Atau, mungkin juga tanpa disadari kita selalu mengikuti kemauan anak. Hingga anak-anak tumbuh sebagai manusia manja dan keras kepala yang selalu berusaha memenuhi hawa nafsunya. Tanpa peduli dengan orang yang ada di sekitarnya.

Pertanyaan selanjutnya, bagaimanakah membangun akhlak yang mulia itu? Jawabnya ada pada “Pendidikan Adab”.

Akhir-akhir ini, banyak orang tua yang cenderung melalaikan pendidikan adab bagi anak-anaknya. Menganggapnya sebagai hal sepele yang dapat diabaikan. Atas nama pola pendidikan modern, para orang tua membiarkan perilaku anak tanpa pagar sopan santun yang dibenarkan. Ia tidak tahu, yang demikian itu berarti menyiapkan anak-anak untuk berbuat durhaka. Ia tidak tahu bahwa menanamkan adab merupakan hak anak atas bapaknya sebagaimana hak mereka untuk diberi makan, dan minum yang menjadi kewajiban orang tuanya.

Sebenarnya urgensi adab akan tampak jelas dalam kehidupan seorang anak ketika bermuamalah dan bergaul. Khususnya bagaimana mereka menghormati yang tua maupun memperlakukan yang lebih muda. Rasulullah bahkan memberikan perhatian besar terhadap hal ini. Ibn Abbas meriwayatkan dari Ibn Majah, Rasulullah bersabada, “Muliakanlah anak-anak kalian dan perbaikilah adab mereka.”

Baca Juga: Salah Kaprah Mendidik Anak

Tak heran, para salafush sholih juga memiliki perhatian besar terhadap hal ini. Mereka menumbuhkembangkan anak diatas pilar adab mulia. Ibrahim bin Habib bin Syahid menceritakan bahwa ayahnya pernah berucap, “Datangilah para fuqaha dan para ulama, dan belajarlah dari mereka. Ambillah adab, akhlak dan petunjuk mereka. Karena hal itu lebih aku sukai daripada banyak bicara.”

Jelaslah kini. Tujuan utama perhatian terhadap akhlak dibangun agar menjadi karakter dan perangai dalam diri anak. Adab yang baik akan menghasilkan akal yang efektif. Sedangkan dari akal yang efektif akan melahirkan  kebiasaan- kebiasaan yang baik. Dari kebiasaan baik melahirkan karakter terpuji; dari karakter terpuji melahirkan amal shalih; dan dari amal shalih akan mendapatkan keridhaan Allah SWT. Bila Allah ridha, maka akan muncul kejayaan bagi umat ini. In syaAllah.

Pendeknya, persoalan adab atau sopan santun bukanlah perkara main-main. Hal ini dapat menjadi tabiat yang sulit diubah bila telah melekat kuat. Masih banyak para orang tua yang membiarkan anaknya berlaku ‘tidak sopan’ ketika bertamu. Masih banyak anak-anak yang orang tuanya rajin menghadiri majelis takllim –bahkan sekolah di SDIT- namun tak peduli dengan orang yang lebih tua. Rupanya, ini juga PR besar bagi kita semua.

 

Oleh: Redaksi/Parenting Anak/Majalah ar-risalah edisi 166