Fadhilah

Menjadi Da’i Hingga Setelah Mati

Ada orang yang telah dikubur mati, namun ia masih beramal di muka bumi. Ada pula orang yang jasadnya masih bergentayangan di muka bumi, namun keberadaannya seperti orang yang telah mati.

Orang yang tidak menyambut hidayah, menutup mata dari aturan-aturan yang telah Allah tetapkan, dan cuek terhadap syariat-Nya, hakikatnya ia seperti orang yang telah mati, meskipun jasadnya masih berkeliaran ke sana kemari. Ia tak bisa mengambil manfaat apapun untuk dirinya, apalagi memberikan manfaat bagi orang lain.

Abdullah bin Mubarak rahimahullah berkata:

وَفِي الْجَهْلِ قَبْلَ اْلمَوْتِ مَوْتٌ لِأَهْلِهِ … وَأَجْسَامُهُمْ قَبْلَ الْقُبُوْرِ قُبُوْرٌ

“Kebodohan adalah kematian bagi ahlinya, sebelum ia mati meninggalkan dunia. Jasadnya adalah kuburan bagi (ruh)nya, sebelum (tanah menjadi) kuburannya.” (Ighatsatul Lahfan, Ibnul Qayyim al-jauziyah)

 

Perumpamaan Tentang Hidup dan Mati

Kebodohan yang dimaksud di sini adalah kebodohan terhadap ilmu syar’i. Jika orang buta tidak bisa mengambil manfaat dengan adanya cahaya, maka orang yang cuek dan berpaling terhadap aturan syar’i adalah orang yang buta atau bahkan mati hatinya. Ia tidak bisa mengambil manfaat dari cahaya kebenaran yang telah Allah turunkan melalui lisan Rasul-Nya.

Adapun orang yang menerima hidayah setelah tadinya sesat dan tak tahu apa-apa, ia seperti orang yang hidup dari kematiannya. Allah menyebutkan perumpamaan tentangnya di dalam frman-Nya,

“Dan Apakah orang yang sudah mati kemudian Dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu Dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am: 122).

Begitulah Allah memberikan perumpamaan bagi orang yang menerima ilmu dan hidayah, dan orang yang menampiknya. Ibnu Katsier menafsirkan ayat tersebut, “Allah telah membuat perumpamaan orang mukmin yang tadinya mati, yakni berada dalam kesesatan dan kebingungan, lalu Allah menghidupkannya. Yakni menghidupkan hatinya dengan iman, dan memberikan taufik kepadanya untuk mengukuti Rasul-Nya.

 

Menjadi Da’i Setelah Mati

Orang yang menyambut ilmu syar’i dan mengamalkannya, bukan saja memiliki hakikat hidup hakiki di dunia, bahkan ia masih bisa menjadi da’i yang menyeru manusia ke jalan Allah.

Jasadnya telah terkubur di dalam tanah, namun ilmunya masih tersebar di permukaannya. Dengan ilmu yang ditinggalkannya ia masih mampu mengajak manusia ke jalan Allah, mencegah dari perbuatan maksiat, mengingatkan yang alpa, mengajari yang belum tahu dan mengingatkan manusia dari maksiat dan dosa.

Tatkala semasa hidupnya seseorang yang hatinya diterangi oleh cahaya ilmu dan hidayah berjalan di muka bumi dengan aturan Rabbnya, lalu menginspirasi orang lain untuk berbuat seperti apa yang ia perbuat, maka ia adalah seorang pelopor kebaikan bagi orang-orang yang di belakangnya;baik yang tinggal satu masa dengannya maupun bagi generasi-generasi setelahnya.

Tatkala kita membaca kisah para Nabi, juga tentang kesungguhan para sahabat, tabi’in maupun tabi’ut tabi’in dalam mengabdi kepada Allah, hingga kita termotivasi untuk melakukan hal yang sama, maka mereka adalah da’i, sedangkan kita adalah mad’u (obyek dakwah)nya. Mereka mendapat pahala kebaikan karena memberi teladan yang baik kepada orang-orang di belakangnya. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,

مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً، فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا، وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْء

”Barangsiapa yang mempelopori satu sunnah yang baik dalam Islam, maka ia mendapatkan pahala seperti orang yang mengikutinya.” (HR Muslim)

Para ulama yang meninggalkan bekas berupa buku pintar dan karya-karya tulisnya, adalah cara mereka menjadi da’i hingga setelah kematiannya. Bukankah tatkala kita membaca karya Imam an-Nawawi misalnya, kita serasa belajar kepada beliau dan beliau serasa mengajar kita? Dengan membacanya kitapun mendapatkan faedah yang nyata, dan alangkah banyak umat yang mengambil manfaat dari tulisan-tulisannya.

Baca Juga: Bijak Menasehati Tanpa Menyakiti

Benarlah kata Ibnu al-jauzi rahimahullah, bahwa karya para ulama itu ibarat anak yang hidup hingga hari Kiamat. Artinya, karya-karya tersebut bisa menjadi sumber penghasilan pahala bagi penulisnya yang ikhlas, yang nilainya tergantung sejauh mana peredaran ilmunya dan hingga kapan ilmu itu dimanfaatkan orang. Inilah yang disebut dengan al-ilmu yuntafa’u bihi, ilmu yang dimanfaatkan orang lain, salah satu pahala yang terus mengalir setelah pemiliknya meninggal.

Tapi, bagi orang-orang yang tidak memiliki kapabilitas ilmu untuk berkarya, masih ada pilahn lain untuk dijadikan sebagai ’atsar’ (jejak) yang ia tinggalkan setelah matinya. Ia masih bisa berdakwah setelah ia meninggalkan dunia ini. Yakni dengan membangun atau berpartisipasi dalam pendirian lembaga atau markas-markas dakwah misalnya. Selagi proyek-proyek dakwah yang dibangun itu masih berjalan, maka para pendiri dan orang-orang yang berperan di dalamnya mendapat pahala seperti para pengelolanya yang masih hidup. Ia mendapat pahala dakwah sebagaimana yang dilakukan oleh penerusnya yang menjalankan misi dakwah ilallah. Baik pahala sebagai pelopor kebaikan, maupun sebagai orang yang mengajak atau menunjukkan kepada kebaikan.

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِه

”Barangsiapa yang menunjukkan suatu kebaikan, maka baginya kebaikan seperti orang yang melakukannya, tanpa mengurangi pahala orang yang melakukannya.” (HR Muslim)

Wallahu a’lam bishawab.

 

Oleh: Ust. Abu Umar Abdillah/Penata Hati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *