Fastabiqul Khairaat, Perlombaan Ke Puncak Kemuliaan

1

Umar bin Khathab radhiallahu anhu  meriwayatkan, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkan kami untuk bersedekah, dan ketika itu bertepatan saya sedang memiliki banyak harta. Maka saya bergumam, “Jika memang aku bisa mengungguli Abu Bakar, inilah saatnya.” Beliau melanjutkan ceritanya, “Maka saya datang dengan membawa separuh dari hartaku, lalu ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bertanya, “Apa yang kamu tinggalkan untuk keluargamu?” Saya menjawab, “Sama dengan apa yang aku bawa.” Lalu datanglah Abu Bakar dengan membawa semua harta yang beliau punya, lalu Nabi shallallahu alaihi wasallam bertanya, “Wahai Abu Bakar, apa yang kamu tingalkan untuk keluargamu?” Beliau menjawab, “Aku tinggalkan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya.” Maka saya katakan, “Memang saya tidak pernah mampu mengalahkan Abu Bakar.”

Baca Juga: Kesempatan Berharga Bersama Orangtua

Inilah musabaqah dalam urusan akhirat. Sebagaimana kita juga sering mengumandangkan “fastabiqul khairaat,” berlombalah dalam kebaikan. Ini adalah syiar yang sering kita dengar dan juga kita ucapkan. Hanya saja, pengaruh yang ditimbulkan dari ajakan ini seperti kurang membekas. Padahal para salaf dahulu sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu Rajab al-Hambali menjelaskan dalam Latha’iful Ma’arif bahwa ketika mereka mendengar firman Allah Azza wa Jalla, “fastabiqul Khairaat” mereka memahami bahwa maksudnya agar masing-masing orang bersungguh-sungguh usahanya untuk menjadi pemenang bagi yang lain dalam kemuliaan. Juga supaya bersegera untuk menggapai derajat yang tinggi ini. Di antara mereka ketika melihat orang lain mampu beramal dengan apa yang tidak mampu ia kerjakan, maka ia khawatir bahwa orang lain telah menang atas dirinya, dan ada kadar sesal karena kehilangan keutamaan sebagai pemenang dalam kebaikan. Mereka berlomba meraih ketinggian derajat akhirat dan saling berusaha mengungguli satu sama lain untuk menggapainya. Namun setelah itu datanglah generasi-geneasi selanjutnya yang berkebalikan keadaannya. Persaingan yang ketat terjadi semata dalam perkara dunia yang hina dan fana.”

Memang sepantasnya perlombaan dan persaingan itu dalam hal mengejar sesuatu yang berharga dan utama. Karena itulah, setelah menyebut berbagai kenikmatan jannah Allah berfirman,

 

وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ

Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (QS. Al-Muthaffifin: 26)

Imam Ath-Thabari menyebutkan sifat berlomba dalam urusan akhirat merupakan sifat puncak dan tertinggi dari orang-orang yang berbakti. Beliau menjelaskan, “Dan untuk meraih kenikmatan yang dicapai oleh orang-orang yang berbakti hendaklah manusia berlomba-lomba. Dan berlomba tentunya dalam hal-hal yang bernilai dan berharga, bukan dalam urusan yang sepele dan remeh temeh. Dan itulah asal arti kata “Al-Munafasah” yang berasal dari kata “nafis” yaitu hal yang bernilai dan berharga dan sangat menarik untuk diperebutkan manusia. Maka untuk kenikmatan yang tidak terhingga tersebut manusia sepatutnya tidak boleh mengalah dan harus berusaha lebih baik dan lebih dahulu dari orang lain.

Al-Alusi rahimahullah menambahkan, didahulukannya objek, “Dan untuk yang demikian itu” atas perintah berlomba-lomba adalah untuk menarik perhatian atau sebagai batasan bahwa hanya untuk urusan akhirat hendaknya orang-orang itu berlomba-lomba, tidak untuk urusan yang lainnya.”

Adanya perintah berlomba dalam kebaikan sekaligus untuk mengalihkan fokus kebanyakan manusia yang lebih suka berlomba-lomba dalam kemaksiatan dan kemegahan dunia. Padahal kecenderungan ini bisa menyebabkan manusia lalai dari tujuan hidup, melestarikan hasad dan abai terhadap batasan halal dan haram. Inilah yang dikhawatirkan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam terjadi atas umatnya. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,

 

فَوَاللَّهِ مَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ ، وَلَكِنِّى أَخْشَى أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمُ الدُّنْيَا كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ قَبْلَكُمْ ، فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا ، وَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ

“Demi Allah, bukanlah kefakiran yang aku khawatirkan terjadi atas kalian, tetapi aku khawatir jika dunia dibentangkan luas atas kalian, kemudian karenanya kalian berlomba-lomba untuk meraihnya sepertimana orang-orang sebelum kalian saling berlomba. Maka akhirnya kalian binasa karenanya sebagaimana mereka juga binasa karenanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Baca Juga: Sabar dan Shalat, Kunci dari Semua Maslahat

Alangkah bijak apa yang dikatakan Hasan al-Bashri berkata, “Jika Anda melihat ada orang yang mengungguli Anda dalam hal dunia, maka unggulilah ia dalam perkara akhirat.” Karena untuk mengungguli orang lain dalam hal akhirat cukup dengan potensi yang kita miliki lalu memanfaatkannya untuk sebanyak dan sebagus mungkin amal ketaatan. Wuhaib bin al-Warad berkata, “Jika Anda mampu menjadi orang yang tak terkalahkan dalam mengabdi kepada Allah, maka lakukanlah.” Berbeda halnya dengan berlomba dalam kemegahan dunia, kita akan kandas lantaran keterbatasan apa yang kita miliki.

Berlomba dalam kebaikan tak hanya berarti bisa mengalahkan orang lain dalam kebaikan, namun juga mengalahkan rekor kebaikan yang pernah dilakukan sebelumnya. Ada kisah menarik, bagaimana Umar bin Abdul Aziz rahimahullah mengalami beberapa fase dalam hal cita-cita. Sebagaimana yang beliau katakan kepada Raja’ bin Haiwah, “Wahai Raja’! Sungguh, saya mempunyai jiwa ambisius. Jika saya telah berhasil merealisasikan sesuatu pastilah saya ingin sesuatu yang di atasnya lagi. Saya mempunyai hasrat untuk menikahi putri pamanku, Fatimah binti Abdul Malik. Saya pun berhasil menikahinya. Kemudian saya ingin memegang kepemimpinan. Saya pun berhasil memegang kekuasaan. Kemudian saya ingin memegang khilafah. Saya pun berhasil menjadi khalifah. Dan sekarang wahai Raja’’, saya ingin mendapat surga, maka aku berharap termasuk ahli surga.”

Wallahu muwaffiq.

 

Oleh: Ust. Abu Umar Abdillah/Tafsir Qalbi

 

%d bloggers like this: