Kultum Ramadhan: Pribadi Luhur, Laksana Tanah yang Subur

54

Ada pribadi luhur, yang memiliki sifat keutamaan karena ilmunya, amalnya maupun dakwahnya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengumpamakan mereka laksana tanah yang subur. Beliau bersabda,

“Perumpamaan petunjuk dan ilmupengetahuan yang oleh karena itu Allah mengutus aku untuk menyampaikanya, seperti hujan lebat jatuh ke bumi; bumi itu ada yang subur, menyerap air, menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rumput-rumput yang banyak.” Lalu Nabi menyebutkan ciri-ciri pribadi tersebut,

فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ فِي دِيْنِ اللَّهِ وَنَفَعَهُ
مَا بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ فَعَلِمَ وَعَلّمَ

“Begitulah perumpamaan orang yang belajar agama, yang mau memanfaatkan sesuatu yang oleh karena itu Allah mengutus aku menyampaikannya, dipelajarinya dan diajarkannya.” (HR> Bukhari dan Muslim)

Inilah pribadi yang paling sempurna dalam menunaikan amanah ilmu. Ia ibarat tanah yang subur. Saat turun air hujan, dia mampu
menyerapnya sehingga air itu menjadi nutrisi yang membuat dirinya menjadi lebih ‘hidup’. Lalu dari tanah itu tumbuhlah tanaman-tanaman yang menghasilkan daun, buah ataupun biji-bijian yang bermanfaat bagi makhluk hidup lain, seperti manusia dan hewan.

Begitulah pribadi yang luhur. Saat jalan hidayah sampai kepadanya ia menyambut dengan suka cita. Ketika datang ilmu menghampiri dirinya, dia serap dengan begitu antusiasnya. Maka dengan ilmu maupun hidayah itu ia menjadi hidup setelah matinya, atau lebih sehat dari keadaan semula. Ia juga seperti orang yang bisa melihat setelah tadinya buta. Allah berfirman,

“Dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia…” (QS. al-An’am)

Baca Juga: Buta Hati di Dunia, Buta Mata di Akhirat

Yaitu mendapat petunjuk, bagaimana menempuh jalan yang dilaluinya dan bagaimana dia harus berbuat. Sedangkan cahaya yang dimaksud aalah al-Qur’an, sebagai sumber ilmu dan petunjuk. Ilmu dan hidayah yang diserap itu tak hanya membuatnya menjadi hidup dan mengetahui jalan yang benar, namun juga membuahkan hasil yang bisa dipetik oleh orang lain. Buah berupa amal dan akhlak yang
baik, juga berupa pengajaran dan bimbingan yang dengannya umat menjadi terbimbing ke jalan benar.

Sebagaimana tanah subur menjaga amanah hujan agar sesuai dengan faidah diturunkannya, maka pribadi luhur yang memiliki karakter ini juga mampu menjaga amanah ilmu dari awal hingga akhirnya.

Karena dia sadar, bahwa ilmu adalah amanah, dan kelak ia akan dimintai tanggungjawabnya. Kelak, sebelum kedua kaki anak Adam
beranjak pada hari Kiamat, ia akan ditanya tentang empat perkara; dan salah satunya adalah,

وَمَاذَا عَمِلَ فِيمَا عَلِم

“dan perihal ilmunya, apakah yang telah ia kerjakan dengannya.” (HR. Tirmidzi)

Pribadi laksana tanah subur ini menjaga dan mengawal amanah ilmu dengan tiga cara; Pertama, dia menyerap segala ilmu yang
bermanfaat. Sebagaimana kesuburan tanah diawali dengan menyerap air hujan, maka kebaikan manusia juga diawali dari ilmu syar’i.
Rasulullah bersabda,

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ

“Barangsiapa dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Dia akan memberikan pemahaman agama kepadanya.” (HR> Bukhari dan Muslim)

Maka barang siapa yang mendapat anugerah pemahaman terhadap ilmu syar’i, berarti ia telah mendapatkan anugerah yang agung. Sebagaimana firman Allah, “Dan (juga karena) Allah telah menurunkan Kitab (Al-Qur-an) dan hikmah (As-Sunnah) kepadamu dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum engkau ketahui. Karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu sangat besar.” [QS. An-Nisa’: 113]

Amanah yang kedua terkait dengan ilmu adalah mengamalkannya. Dan ini adalah tujuan ilmu yang sesungguhnya. Karenanya, seseorang belum dikatakan berilmu sebelum dia mengamalkan ilmunya. Innamal ‘aalimu man ‘amila bimaa alima, Orang yang berilmu adalah orang yang mengamalkan apa yang telah dia ketahui ilmunya.

Baca Juga: Al-Quran Bukan Bacaan Biasa

Amanah yang ketiga adalah mengajarkan kepada yang lain. Tak harus menunggu sempurna ilmu untuk menyampaikan. Bahkan tidak dipersyaratkan untuk sempurna dalam hal amal untuk mengajarkan kepada yang lain. Hasan al-Bashri pernah berkata kepada Mutharrif bin ‘Abdillah, “Nasihatilah sahabatmu”. Ia menjawab, “Tapi saya takut menyuruh seseorang sementara saya tidak berbuat.” Hasan al-Bashri berkata,

“Semoga Allah merahmatimu, apakah ada di antara kita yang mampu melakukan semua yang dikatakannya? Setan sangatlah ingin
mendapatkan bagian dari alasan semisal ini, hingga tidak ada seorang pun yang berani menyuruh berbuat kebaikan dan mencegah
kemunkaran.”

Hal senada diungkapkan oleh Sa’id bin Jubair rahimahullah, “Seandainya seseorang tidak boleh mengajak kepada kebaikan dan
mencegah kemunkaran hingga tidak ada dosa sedikitpun padanya, niscaya tidak ada seorang pun yang akan mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemunkaran.”

Hanya saja, hendaknya seseorang bersungguh-sungguh untuk mencari ilmu, berusaha kerasa untuk mengamalkan, dan bermujahadah untuk mengajarkan kepada yang lain. Inilah tipe kepribadian luhur laksana tanah yang subur. Orang yang mendapatkan derajat luhur sebagai orang yang berilmu seperti yang Allah firmankan, “Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan
orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. al-Mujadalah: 11)

Oleh: Ust. Abu Umar Abdillah/Kultum Ramadhan