Kultum Ramadhan: Buta Hati di Dunia, Buta Mata di Akhirat

16

Al-Qurthubi dalam tafsirnya menyebutkan dari Ibnu Abbas dan Muqatil yang meriwayatkan bahwa Ibnu Ummi Maktum berkata, “Wahai Rasulullah, di dunia ini saya adalah orang yang buta, apakah di akhirat saya juga akan buta? Lalu turunlah ayat,

 

أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا ۖ فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَـٰكِن تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

“Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada..” (Al-Hajj: 46).

Yakni barangsiapa di dunia hatinya buta terhadap Islam, maka di akhirat dia akan masuk neraka. Demikian dijelaskan oleh al-Qurthubi.
Tak semua orang yang memiliki kelengkapan indera mampu menangkap kebenaran. Bukan karena lemahnya indera, namun karena cacatnya iradah (kemauan) untuk mencari kebenaran, atau lebih suka menggunakan inderanya sesuai keinginan nafsunya, bukan sesuai kehendak Penciptanya.

Semestinya dengan indera mata, mereka bisa membaca ayat-ayat Qur’aniyah yang menunjukkan kebenaran secara terang benderang. Mereka juga bisa melihat ayat-ayat Kauniyah, sehingga bisa memahami dahsyatnya penciptaan yang otomatis menunjukkan keagungan Penciptanya.

Mereka tidak menggunakan matanya untuk melihat, telinganya untuk mendengar dan akalnya untuk memahami kebenaran, hingga mereka tidak mengenalnya dan tidak pula berpihak kepada kebenaran. Bukan inderanya yang lemah, tapi yang buta dan tuli adalah hatinya.

Baca Juga: Qalbun Salim, Hati yang Selamat dari Syubhat dan Syahwat

Mereka adalah orang yang tak mau tahu petunjuk Allah yang seharusnya menjadi panduan hidup manusia. Tidak mau membaca al-Qur’an, tidak pula sudi mendatangi majelis ilmu sehingga mendengarkan petunjuk yang terkandung dalam al-Qur’an. Mereka lebih suka
menggunakan mata, telinga dan pikirannya untuk yang lain sembari berpaling dari al- Qur’an.

Buta hati adalah sebenar-benar bencana, karena dengannya seseorang tidak bisa mengenali nikmat Allah atas dirinya. Dia tidak juga membedakan mana jalan menuju keselamatan dan mana jalan yang menjerumuskan kepada kesengsaraan. Yang baik dikatakan buruk dan sebaliknya, yang semestinya musuh malah dijadikan teman, dan begitulah semua barometer bisa terbolak-balik.

Meski di dunia mereka melek matanya, namun kelak di akhirat, Allah akan bangkitkan mereka dalam keadaan buta lantaran hatinya buta saat di dunia. Allah Ta’ala berfirman,

 

وَمَن كَانَ فِي هَـٰذِهِ أَعْمَىٰ فَهُوَ فِي الْآخِرَةِ أَعْمَىٰ وَأَضَلُّ سَبِيلًا

“Dan barang siapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).” (QS al-Isra’ 72)

Qatadah menjelaskan ayat tersebut, “Barangsiapa yang di dunia ini buta terhadap nikmat-nikmat Allah, juga terhadap bukti penciptaan dan keagungan- Nya, maka di akhirat dia akan lebih buta dan lebih tersesat jalannya.”

Baca Juga: Dari Mata Turun ke Hati, Jaga Mata Bersihkan Diri

Sedangkan Ibnu Katsier menjelaskan dari sudut panang yang lain, “Yakni barangsiapa yang di dunia ini buta terhadap bukti-bukti yang menunjukkan bahwa Allah adalah Esa dalam mencipta dan mengurus makhluknya, maka dalam hal akhirat yang tak kasat mata tentu dai lebih buta dan ebih sesat.”

Gejala buta hati di dunia bisa dilihat dari fokus perhatian dan usahanya. Yang mereka lihat, dengar dan pikirkan hanya dunia semata. Mereka tidak pedulikan urusan akhirat, seperti yang difirmankan oleh Allah Ta’ala,

يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِّنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ

“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (QS. Ar-Rum:7)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as- Sa’di berkata, “Pikiran mereka hanya fokus dengan urusan dunia sehingga lalai terhadap urusan akhiratnya. Mereka tidak berharap masuk surga dan tidak pula takut akan neraka. Inilah tanda kebinasaan mereka, bahkan dengan akalnya mereka tidak bisa meraba. Usaha mereka memang menakjubkan seperti kemampuan menemukan atom, listrik, angkutan darat, laut dan udara. Sungguh menakjubkan pikiran mereka, seolah-olah tidak ada kaum lain yang mampu menandinginya, sehingga orang lain begitu remeh dalam pandangan mereka. Akan tetapi sayang, mereka jahil dalam urusan akhirat dan tidak tahu bahwa kepandaiannya justru akan membinasakan dirinya.”

Maka Allah membenci orang yang hanya pandai dalam hal dunia, atau bahkan menjadi seorang pakar, namun dia jahil dalam urusan
agamanya. Amat disayangkan jika seseorang mampu menempuh jenjang strata-3 dalam hal ilmu dunia, namun pengetahuan agamanya
tidak beranjak dari level TK. Rasulullah bersabda yang artinya,

“Sesungguhnya Allah Ta’ala membenci orang yang pandai dalam urusan dunia namun bodoh dalam perkara akherat”.
(HR. Al-Hakim, dishahihkan oleh al-Albani)

Ini tidak menunjukkan bahwa ilmu dunia itu cela, akan tetapi sisi celanya adalah ketika seseorang tidak mau belajar tentang ilmu akhirat. Tapi, ilmu akhiratlah yang bisa menunjukkan agar ilmu dunianya bisa berfaidah untuk dirinya dan orang lain, baik di dunia maupun di akhirat.

Tanpanya, kepandaiannya bisa jadi akan menjadi bumerang bagi dia. Mungkin akan menyalahgunakan ilmu, atau setidaknya dia tidak mendapat pahala apa-apa dengan jerih payah dan usahanya, karena tidak ada panduan bagaimana keahlianya bisa bernilai di sisi Allah Ta’ala.

Semoga Allah anugerahkan kita kebaikan di dunia dan akhirat.

 

Oleh: Ust. Abu Umar Abdillah/Kultum Ramadhan