Rugi Berat Karena Siasat Jahat

354

Ada kejahatan yang dilakukan secara spontan, yakni ketika seseorang mendapati adanya kesempatan atau peluang lalu timbul niat jahat, dan akhirnya terjadilah kejahatan. Namun ada juga jenis kejahatan yang dilakukan dengan perencanaan. Ini yang lebih membahayakan, lebih kejam dan lebih menyakitkan. Inilah yang disebut makar atau siasat jahat.

 

Rugi Berat Karena Siasat Jahat
Dan dari sekian bentuk siasat jahat, yang paling keji adalah ketika makar ditujukan kepada Islam, penyeru kebenaran ataupun kaum muslimin yang menjadi sasaran karena keislamannya. Seperti makar yang dilakukan oleh orang-orang musyrik terhadap Nabi kita shallallahualaihi wasallam, sebagaimana firman Allah,

“Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu.” (QS al-Anfal 30)

Namun Allah tidak membiarkan kekasih-Nya berada dalam jeratan makar musuhnya. Allah berfirman,

“Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.” (QS al-Anfal: 3O]

Bahwa gangguan tetap menimpa beliau, itu maknanya Allah menguji kesabaran beliau dan mengengkat derajat dengan kesabaran itu.  Dan ketika Allah menangguhkan kemenangan bagi beliau, itu untuk menguji keyakinan beliau kepada Rabbnya, dan kesudahan yang baik adalah bagi beliau, betapapun dahsyat makar musuh kepada beliau.

Oleh karena itu, ketika rencana jahat terhadap Rasulullah semakin banyak dan tipu daya terhadap beliau semakin besar maka Allah menghibur beliau dengan ayat-ayat yang agung yang membangkitkan kepercayaan diri, ketenangan, harapan, dan kelegaan. Allah berfirman,

وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِاللَّـهِ ۚ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلَا تَكُ فِي ضَيْقٍ مِّمَّا يَمْكُرُونَ ﴿١٢٧﴾ إِنَّ اللَّـهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوا وَّالَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ ﴿١٢٨

“Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. (QS. An-Nahl: 127-128].

Kaidah ini tak hanya berlaku bagii Nabi shallallahu alaihi wasallam saja, namun juga bagi setiap muslim yang berpegang kepada kebenaran dan khususnya para dai yang menempuh jalan dakwah beliau yang menjadi sasaran tipu daya dan rencana jahat musuh-musuh Allah.

Seperti akhir-akhir ini, makin ketara bagaimana siasat jahat begitu deras ditimpakan kepada Islam dan kaum muslimin, bahkan hampir merata di penjuru dunia kaum muslimin.. Makar yang bertujuan untuk melumpuhkan kekuatan kaum muslimin, merusak ekonomi, genoside atau upaya pemusnahan terhadap eksistensi kaum muslimin dan pengaruhnya. Juga pelecehan terhadap hal-hal yang diagungkan di dalam Islam sebagaimana yang kerap terjadi di negeri kita ini.

Tapi yakinlah, barangsiapa bersama Allah maka dia tidak akan bisa dikalahkan oleh orang-orang yang melakukan tipu daya dan rencana jahat. Kuncinya adalah konsisten dan bersabar di atas kebenaran, berjuang sesuai arahan al-Qur’an, dan selebihnya Allah yang akan menyelesaikan.

Fir’aun setangguh itu mati tenggelam di laut. Namrud sekokoh itu mati karena seekor nyamuk. Dan sejarah dipenuhi oleh kisah tentang kesudahan yang baik berpihak kepada kebenaran dan pembawanya. Semua menjadi bukti kebenaran akan kaidah yang Allah firmankan,

وَلَا يَحِيقُ الْمَكْرُ السَّيِّئُ إِلَّا بِأَهْلِهِ

“Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri.” (QS. Fathir: 43]

Al-alamah Ibnu Asyur berkata menjelasakan sisi bahaya siasat jahat, “Karena secara tabiat, manusia adalah makhluk sosial. Ketika sekelompok manusaia tidak merasa aman satu sama lain, maka mereka akan saling mencurigai satu sama lain dan mereka berinisiatif untuk menghacurkan orang lain sebelum mereka dihancurkan oleh tipu daya orang lain. Hal ini akan mengakibatkan kerusakan yang besar di alam ini. Dan Allah tidak menyukai kerusakan dan tidak menyukai kemadharatan bagi hamba-hamba-Nya.” Karena itulah, Allah akan mengembalikan siasat jahat kepada pelakunya sebagai bentuk keadilan dari-Nya.

Dalam kitab ibnu al-Mubarak, Zuhud, dengan sanadnya dari az-Zuhri disebutkan bahwa, telah sampai kepada kami bahwa Rasulullah bersabda,

لاَ تَمْكُرْ وَلاَ تُعِنْ مَاكِراً فَإِنَّ اللهَ يَقُوْلُ )وَلاَ يُحِيْقُ اْلمَكْرُ السَّيِّئُ إِلَّا بِأَهْلِهِ)

“Janganlah membuat makar (rencana jahat) dan jangan pula menolong orang yang membuat makar karena Allah berfirman, “makar yang jahat itu tidak akan menimpa kecuali orang yang merencanakannya sendiri.”

Ini adalah kaidah yang sangat bermanfaat dalam kehidupan. Dari zaman ke zaman telah terbukti akan kebenaran kaidah ini. Siapapun yang melakukan siasat jahat baik terhadap personal maupun terhadap kebenaran, maka kebinasaan dan kerugian akan menimpa pelakunya sendiri, dan kesudahan yang baik justru berpihak kepada korban. Seperti kisah makar saudara-saudaar Yusuf alaihis salam terhadap beliau. Allah mengisahkan,

وَمَا كُنتَ لَدَيْهِمْ إِذْ أَجْمَعُوا أَمْرَهُمْ وَهُمْ يَمْكُرُونَ ﴿١٠٢

“Padahal kamu tidak berada pada sisi mereka, ketika mereka memutuskan rencananya (untuk memasukkan Yusuf ke dalam sumur) dan mereka sedang mengatur tipu daya. (QS. Yusuf: 1O2]

Namun akhirnya, happy ending, kesudahan yang baik justru berpihak kepada Nabi Yusuf alaihi wasallam. Beliau bahkan mendapatkan derajat kemuliaan dalam hal dunia dan akhirat.

 

Siasat Jahat Bermula dari Hasad

Kaidah al-Quran ini berlaku umum dan padanya terdapat peringatan keras  akan akibat buruk yang ditimbulkan oleh rencana jahat atau makar. Dari sini, secara umum rencana jahat yang bertujuan untuk mencelakakan orang lain, masuk dalam kaidah ini. Kaidah ini sering kita dapati dengan ungkapan, “Barangsiapa yang menggali lubang untuk saudaranya, ia sendiri yang akan terperosok ke dalamnya.”

Belajar dari kaidah ini, seorang muslim akan membuang jauh-jauh siasat jahat terhadap saudaranya muslim. Ia tidak menimpakan hasad atas nikmat yang ada pada saudaranya, apalagi timbul niatan jahat untuk mengambil alih secara bathil, atau ingin melenyapkannya dari genggaman saudaranya. Api hasad tidaklah membakar melainkan atas penyulutnya. Ketika seseorang yang hasad akan nikmat yang ada pada orang lain, maka hatinya akan senantiasa terbakar oleh kegalauan. Ia sedih saat orang lain senang, dan ia senang saat orang lain sedih. Sementara kebaikan akan hangus terbakar oleh kedengkian.

Baca juga : Siapa Bersyukur Takkan Tersungkur

Orang yang hasad berarti melakukan zhan yang buruk kepada Allah. Seakan Allah salah alamat dalam membagi karunianya. Seperti orang yang berpandangan, “Saya lebih pinter dari Fulan, kenapa ia lebih kaya?” Atau kata-kata, “Si Fulan istrinya lebih cantik, padahal ia tidak lebih tampan dari saya,” dan ungkapan-ungkapan semisalnya. Ia menagnggap seakan Allah keliru dalam membagi rejeki. Perasaan seperti ini bisa menimbulkan iri hingga memunculkan siasat jahat. Siasat untuk merebut nikmat atau sekedar menghilangkan nikmat yang ada pada orang lain.

Akan tetapi, siasat ini tidaklah bermanfaat bagi pelakunya, dan Allah tidak akan memenagkannya. Bagaimana ia akan menang, sementara posisi para pendengki berada dalam pihak yang berseberangan dengan Allah karena prasangka buruknya kepada-Nya? Justru siasat buruknya menjadi senjata makan tuan yang merugikan dirinya sendiri.

Kesempurnaan iman seseorang akan didapatkan dengan membersihakan jiwanya dari sifat hasad, dan diisi dengan pengharapan yang baik bagi saudaranya, sebagaimana ia berharap kebaikan untuk dirinya sendiri. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian sehingga ia mencintai untuk saudaranya, apa yang ia cintai untuk dirinya.” (HR Bukhari)

Jika kita ingin sejahtera, maka kita juga senang jika saudara kita sejahtera. Jika kesehatan menjadi sesuatu yang kita dambakan, maka kita juga ingin saudara kita mendapat kesehatan, dan begitulah seharusnya dalam urusan yang lain. Wallahu a’lam bishawab. (Abu Umar Abdillah)