Sejarah Para Tuhan Kaum Nuh

17

Ada lima berhala yang dituhankan kaum Nuh: Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr. Beberapa riwayat sejarah menyatakan bahwa asal usul tuhan-tuhan ini sebenarnya adalah manusia yang shalih. Salah satu riwayat mengatakan, Wadd adalah anak dari Adam. Adam memiliki 20 anak lelaki dan 20 anak perempuan. Beberapa nama yang diriwayatkan adalah Qobil, Habil, Shalih, Abdurrahman, Abdul Harits dan Wadd atau yang disebut Syits. Adapun Suwa’, Yaghuts, Yauq dan nasr ada yang menyebutkan mereka adalah anak Wadd ada pula yang menyatakan mereka adalah saudara Wadd.

Rentang waktu antara Adam dan Nabi Nuh adalah 10 qurun (abad). Jika qurun yang dimaksud Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam tersebut adalah seratus tahun, maka nabi Nuh diutus menjadi rasul seribu tahun setelah Adam.  Di masa antara inilah kehidupan manusia mulai berkembang. Pada masa awal, mereka mengikuti ajaran Nabi Adam. Bahkan Qobil yang dikisahkan membunuh saudaranya pun seorang muslim.

Wadd sendiri adalah anak Adam yang sangat shalih. Dia ditokohkan di tengah saudara-saudaranya dan paling berbakti kepada Nabi Adam.

Setelah keturunan Adam mulai banyak, semakin banyak pula orang yang menjadi pengikut Wadd. Demikian pula keshalihan Suwa’, Yaghuts dan Nasr mendapat banyak simpati dari saudara-saudara dan keturunannya. Hingga suatu saat, tibalah ajal menjemput mereka.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan, “Suatu ketika ada obrolan tentang Yazid bin al-Muhallab di dekat Abu Jakfar (al- Baqir) saat beliau sedang shalat. Setelah selesai shalat, Abu Jakfar mendekat dan berkata,

“Kalian membicarakan Yazid bin al-Muhallab. Dia itu dibununh di tempat pertama disembahnya tuhan selain Allah. Ada “Wadd”, dia dahulunya adalah muslim yang shalih yang sangat dicintai kaumnya. Pasca kematiannya, mereka berkumpul di kuburnya dan bersedih. Melihat hal itu, Iblis menjelma menjadi manusia. Dia berkata kepada mereka, “Aku melihat kesedihan kalian akan orang ini. Maukah kalian aku lukiskan wajah yang serupa dengannya di tempat ibadah kalian agar kalian dapat mengingatnya?” Orang-orang menjawab, “Ya silakan.” Iblis pun memahat patung yang serupa dengan Wadd dan meletakkannya di tempat ibadah mereka. Melihat betapa seringnya mereka mengingat Waad, Iblis kembali menawarkan, “Maukah aku buatkan patung yang serupa dengan itu untuk ditempatkan di rumah-rumah kalian agar kalian bisa lebih sering mengingatnya?” mereka menjawab, “Ya.” lalu Iblis pun membuat patung-patung yang serupa dengan Wadd untuk setiap rumah. Tradisi mengenang Wadd ini berlanjut dari generasi ke generasi. Dan pada generasi jauh, akhirnya patung Wadd disembah.”

Penyembahan berhala semakin merajalela. Tidak hanya patung Wadd saja yang dipertuhankan tapi juga patung-patung lain; Suwa’ Yaghuts, Yauq dan Nasr. Pada saat inilah Allah mengutus Nabi Nuh. Disebutkan bahwa Nabi Nuh diutus menjadi Rasul pada saat berumur 50 tahun. Beliau berdakwah mengajak kaumnya untuk meningalkan penyembahan berhala dan kembali menyembah Allah dan menjadi muslim.

Dari kisah ini, ada beberapa poin penting yang perlu kita resapi, diantaranya;

  • Pertama, mengenai tipu daya Iblis. Untuk membentuk sebuah dosa terbesar berupa syirik, Iblis tidak secara langsung menyuruh manusia menyembah selain Allah. Dengan halus, Iblis seakan justru membantu ibadah mereka dengan cara membuatkan lukisan dan patung untuk mengenang leluhur yang shalih. Dan benar, lukisan dan patung ini awalnya memang tidak disembah dan semakin menambah semangat dalam ibadah. Iblis tidak langsung memetik buahnya. Buah kesyirikan itu matang setelah berlalu beberapa generasi dan distrosi sejarah secara sistematis dilakukan, dari sekadar untuk mengenang leluhur menjadi menyembah para leluhur.

Mengetahui efektivitas pola ini, Iblis dan setan pun terus menggunakan metode ini dan mengembangkannya. Penyembahan Uzair dan Isa oleh kaum Yahudi dan Nashrani pun tidak jauh-jauh dari metode ini. Awalnya, kaum nashrani mengimani Isa sebagai Rasul, yang kemudian di angkat ke langit. Namun lambat laun, persepsi ini dirusak sembari dibangun ulang dengan menyusupkan keyakinan bahwa Isa adalah anak tuhan atau penjelmaan lain dari tuhan. Perbuatan bid’ah pun sama. Awalnya dilakukan para moyang sebagai bagian dari budaya, tapi kemudian setan memasukkannya ke dalam ritual ibadah dan keyakinan. Latta yang disembah kaum musyrik, dahulunya adalah orang baik yang senantiasa menggiling gandum untuk disedekahkan kepada orang-orang yang berhaji.

  • Kedua, mengenai susahnya dakwah di tengah kaum Nuh. Pernahkah kita bertanya, mengapa dakwah selama 950 tahun hanya menghasilkan belasan pengikut? Tentu salah jika yang kita evaluasi adalah dakwahnya Nabi Nuh. Beliau sudah berdakwah sesuai wahyu-Nya, siang malam, dengan beragam metode. Dengan ini, tidak ada penghalang lain selain faktor kaum Nuh yang memang luar biasa keras kepala. Tapi sekeras apapun manusia, bukankah ada kemungkinan generasi selanjutnya bisa lebih lunak dan moderat? Dan bukankah Nabi Nuh berdakwah dari generasi ke generasi?

Ternyata, Ibnu Katsier menyebutkan, faktor utama mengapa kaum Nuh begitu susah didakwahi adalah karena mereka secara konsisten mewariskan kekufuran kepada generasi setelahnya. Dikisahkan bahwa setiap kali seorang anak mulai berakal, orangtuanya pasti mendoktrin anaknya agar jangan mempercayai Nuh dan pengikutnya. Doktrin ini terus dicecar sampai dewasa hingga menyatu dengan pikiran dan perasaan si anak. Inilah yang menjadi dinding penghalang masuknya iman di hati kaum Nuh. Sebuah kekufuran yang diwariskan secara turun temurun.

Ibnu Katsier menyebutkan, faktor utama mengapa kaum Nuh begitu susah didakwahi adalah karena mereka secara konsisten mewariskan kekufuran kepada generasi setelahnya. Dikisahkan bahwa setiap kali seorang anak mulai berakal, orangtuanya pasti mendoktrin anaknya agar jangan mempercayai Nuh dan pengikutnya. Doktrin ini terus dicecar sampai dewasa hingga menyatu dengan pikiran dan perasaan si anak.

Peran orangtua dalam membentuk sebuah generasi memang tak diragukan lagi. Seperti yang disabdakan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa keyakinan anak akan sangat dipengaruhi orangtuanya. Jika mereka menanamkan keimanan, anak akan tumbuh menjadi manusia beriman. Sebaliknya jika yang mereka tanamkan kekufuran, maka kekufuran akan turun-temurun menjadi akidah dalam silsilah nasabnya. Wallahua’lam.

Oleh: Ust. Taufik Anwar/Akidah