Sisipkan Satu Ketaatan Di sela Seribu Kemaksiatan

70

Suatu kali Suhail bin Amru melakukan suatu perjalanan bersama istrinya. Di tengah perjalanan keduanya bertemu dengan kawanan perampok dan merampas semua yang dibawanya, baik harta maupun makanan. Para perampok duduk menikmati makanan dan bekal yang didapatkan, terlihat pemimpin perampok tidak ikut makan. Ketika itu Suhail bertanya kepadanya, ‘Kenapa kamu tidak ikut makan bersama mereka?” Dia menjawab,”Saya sedang puasa.” Maka heranlah Suhail lalu ia bertanya,”Kamu merampok tetapi berpuasa?”

Ia menjawab, “Aku biarkan satu pintu antara aku dengan Allah agar suatu kali aku bisa masuk (bertaubat) kepadanya.”

Setelah selang beberapa lama, Suhail bertemu dengan perampok itu dalam keadaan berhaji. Ia telah menjadi seorang ahli ibadah yang zuhud.

Baca Juga: ‘Wukuf’ di Negeri Sendiri

Sebuah pelajaran berharga, jangan sampai kita menutup pintu yang terbuka antara kita dengan Allah, meskipun banyak kesalahan dan dosa yang kita lakukan. Karena bisa jadi dari satu pintu itu Allah hendak memperbaiki kita di pintu-pintu ketaatan yang lain sekaligus menutup bagi kita pintu-pintu kemaksiatan. Karena setiap kebaikan akan menghasilkan kebaikan setelahnya.

Seperti juga orang yang berdoa sementara ia masih terbiasa menikmati yang syubhat atau bahkan yang haram. Jangan sampai berfikir untuk berhenti berdoa dengan asumsi doanya tak terkabul. Bisa jadi melalui pintu doa Allah bukakan pintu muhasabah (mawas diri), lalu memberi taufik untuk meninggalkan yang haram, sekaligus memberi anugerah terkabulnya doa.

Baca Juga: Cara Allah Menjaga Iman Hamba-Nya

Kasus lain dalam hal shalat, jangan sampai berfikir untuk berhenti karena belum mendapatkan buahnya, yakni tercegah dari perbuatan keji dan mungkar. Yang seharusnya adalah berusaha memperbaiki kualitas shalat hingga Allah akan memberikan buahnya.

Sebagaimana kita tidak meremehkan satu pintu kebaikan di tengah banyaknya kemaksiatan yang dilakukan, begitupun sebaliknya. Jangan meremehkan satu pintu maksiat di tengah banyaknya ketaatan yang dilakukan. Bisa jadi melalui satu pintu maksiat ini setan masuk dan hendak menyeretnya kepada maksiat-maksiat yang lain. Banyak pula kisah tragis orang yang murtad karena bermula dari satu maksiat yang diremehkan. Dan memang tabiat dosa akan berbuntut munculnya dosa berikutnya. Semoga Allah memberikan taufik kepada kita kepada ketaatan, dan melindungi kita dari dosa dan kemaksiatan, Amiin.

 

Oleh: Ust. Abu Umar Abdillah/Muhasabah