Suami Tanpa Rasa Cemburu

146

Namanya ‘Dayyuts’. Satu di antara manusia yang Allah tidak akan melihatnya di hari kiamat nanti, juga tidak akan dimasukkan ke dalam jannah. Tentu saja ia adalah sebutan yang tidak pantas melihat betapa besar ancaman Allah kepadanya, meski bagi sebagian orang yang tidak mengerti, kata itu terdengar indah di telinga. Ya, dayyuts adalah dosa besar!

‘Dayyuts’ adalah sebutan untuk suami atau pengendali keluarga yang tidak memiliki rasa cemburu (ghirah), meski anggota keluarganya melakukan perbuatan keji dan tidak senonoh. Dia membiarkan mereka melakukan hal itu meski dia tahu, melihatnya, dan mestinya, mampu menindaknya. Baik secara lisan maupun tindakan.

Dia membiarkan kemungkaran terjadi dalam wilayah kekuasaannya tanpa perasaan terluka. Dalam hal ini, patutlah kiranya jika kita merenungkan hikmah dari Imam al-Hasan, “Demi Allah, tidaklah seorang suami yang selalu menuruti apa kata dan keinginan istrinya, melainkan Allah akan mengekangnya di neraka.”

Dayyuts adalah suami yang mandul menjalankan perannya sebagai penyelamat keluarganya dari api neraka. Dia salah menempatkan arti cinta dan kasih sayang kepada istri dan anak-anaknya. Terbuai oleh angan-angan kosong tentang arti kebahagiaan, namun tidak tahu untuk apa berkeluarga selain menyetujui apa saja yang menjadi kesenangan anggota keluarganya meski hal itu bertentangan dengan syariat. Dia adalah suami yang menghambakan diri kepada istri dan anak-anaknya, bukan kepada Allah.

Wujud perilaku dayyuts bisa bermacam-macam. Suami yang memiliki kecukupan materi, terbuai oleh kenikmatan dunia dan terpesona oleh gaya hidup modern yang materialistik. Merasa bahwa hal itulah yang seharusnya mereka lakukan, bahkan mereka banggakan. Tanpa malu bersama istri dan anak-anaknya mengunjungi tempat-tempa hiburan atas nama lifestyle, membiarkan anggota keluarga ber-tabarruj (bersolek) dengan tujuan memamerkan kecantikan mereka kepada publik, seolah ingin menunjukkan kesuksesannya membiayai kecantikan itu.

Ada juga yang membiarkan anggota keluarganya berkenalan dengan lawan jenis non mahram atas nama pergaulan modern, bercampur baur tanpa hijab, menebarkan senyum kepada semua orang, bernyanyi-nyanyi di karaoke, atau berjoget di klub-klub malam. Atau membuka pintu rumah selebar-lebarnya untuk siapapun yang datang bertamu, baik dia ada di rumah atau tidak, bahkan mengizinkan anggota keluarganya dibawa pergi keluar oleh si tamu itu atas dalih kebebasan, aktifitas ektra kurikuler, belajar bersama, atau sekedar jalan-jalan menghirup udara segar di luar sana.

Dia tidak menyadari bahwa apa dilakukannya bukanlah sebuah kebaikan. Hal itu sangat menghinakan, tidak pantas, dan memalukan. Karena hilangnya ghirah dalam hati seseorang, berarti pertanda matinya hati dan lemahnya iman. Padahal rasa cemburu itulah yang akan menghidupkan hati dan menggerakkan kebaikan atas anggota badan dengan menolak berbagai perilaku maksiat yang dilakukannya.

Dayyuts adalah suami yang menjerumuskan orang-orang yang menjadi tanggungannya di akhirat nanti ke dalam kerusakan dan kehancuran yang nyata. Orang-orang yang harusnya dia kasihi dan cintai, dibiarkannya terinjak-injak kehormatan mereka tanpa pembelaan yang berarti. Pertanda kebodohan dan kelemahan sekaligus! Padahal Rasulullah telah bersabda, “Cukuplah seseorang disebut ‘berdosa’ jika dia menelantarkan orang-orang yang menjadi tanggungannya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Hibban)

Wahai para suami yang bingung menjalani perannya, di manakah ghirah kalian? Mengapa kalian melupakan kewajiban asasi kalian sebagai pengayom dan pelindung keluarga? Kenapa kalian biarkan wanita-wanita kalian keluar rumah tanpa hijab, sedang hal itu merusakkan penghalang antara mereka dengan Allah?

Padahal sebagai kepala keluarga, kita mestinya merasa sakit hati dan cemburu jika maksiat telah dilakukan oleh anggota keluarga kita. Kenyataan pahit bukti kegagalan kepemimpinan kita yang harusnya membuat kita marah dan bergegas melakukan perbaikan untuk menegakkan hukum Allah di dalam keluarga kita. Dalam hal ini, Imam ad-Dzahabi mengatakan, “Sungguh tidak ada kebaikan sama sekali padanya, (yakni) pada orang yang tidak memiliki kecemburuan.”

Tahukah kita tentang kecemburuan shahabat Sa’ad bin Ubadah? Dia pernah berkata, “Sekiranya aku melihat seorang laki-laki berduaan dengan istriku, niscaya akau akan menyabetnya dengan pedang!” Dan ketika ucapan itu akhirnya disampaikan kepada Rasulullah, beliau bersabda, “Apa kalian merasa heran akan ghirah Sa’ad? Demi Allah, aku lebih cemburu daripadanya, demi Allah, aku lebih cemburu dari padanya!” Subhanallah!

Sekarang saatnya kita berbenah untuk menunjukkan kedudukan kita sebagai kepala keluarga sejati. Yang peduli akan kebaikan asasi bagi anggota keluarga kita dengan tidak membiarkan berbagai bentuk penyimpangan syariat terjadi di bawah kendali kita. Sebab kita akan ditanya tentang hal itu semua.

Bukan sekadar memenuhi kebutuhan duniawi atas materi dan fasilitas hidup, namun juga pemenuhan atas kebutuhan arahan dan bimbingan dalam menjalani kebenaran hidup yang bersumber dari al-Qur’an dan sunah Rasulullah. Inilah bukti cinta dan kasih sayang yang sebenarnya. Setuju?

 

Oleh: Redaksi/Keluarga