Bersahabat dengan Malaikat

Orang mu’min sungguh berbahagia dengan keimanannya. Allah menurunkan kitab-Nya melalui rasul-Nya yang mulia baik dari kalangan malaikat maupun dari jenis manusia untuk memberi petunjuk kepada mereka dengan perantaraan kitab itu. Allah berfirman:

الم ﴿١ ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ ﴿٢ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ ﴿٣

Alif Laam Miim. Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya ; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka…(Al-Baqarah: 1-3).

Allah mensifati keimanan kepada-Nya dan kepada apa yang tidak dinampakkan-Nya, beriman kepada yang ghaib, termasuk kepada malaikat. Dengan mengimani kitab-Nya seorang mu’min mendapatkan informasi mengenai makhluk-makhluk-Nya yang ghaib dari sumber yang benar, bukan khurofat dan bukan pula penggambaran dari sumber yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Keberadaan manusia selalu berhubungan dengan malaikat sejak masih dalam bentuk nuthfah sampai masuk lahad. Malaikat pula yang diperintah oleh Allah untuk mencatat rizki dan ‘amalnya, ajal dan ketetapan saqowah dan sa’adah-nya. Ada malaikat yang selalu menyertainya tak pernah berpisah dengannya, malaikat juga yang mencabut ruh saat tiba ajalnya, membawa ruhnya kepada penciptanya, mengirimkan siksa dan kenikmatan sewaktu di alam barzakh, meneguhkan orang mu’min tatkala mendapatkan pertanyaan dengan seizin-Nya dst.

 

Malaikat Menyertai dan Mencatat ‘Amal

Malaikat adalah junuud ar-Rahman, tentara ar-Rahman. Qalbu orang yang merasakan kehadirannya akan istiqomah dalam melaksanakan perintah-perintah Allah, karena tidak ada perkataan dan perbuatan seorang hamba yang lepas dari pengawasan, kesaksian dan pencatatannya.

Orang yang beriman akan merasa malu untuk menyelisihi Rabb-nya dan bermaksiyat kepada-Nya baik dalam keadaan rahasia maupun terang-terangan. Toh semua ada saksi, ada catatan dan nantinya akan dihisab. Allah berfirman,  …(yaitu) ketika dua malaikat mencatat amal perbuatannya, satu duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. (QS. Qaaf: 17-18).

Juga kalam-Nya, Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (‘amal pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. al-Infithar: 10-12).

Ketika mereka menganggap bahwa Allah tidak mendengar dan tidak mengetahui apa yang mereka kerjakan, Allah membantahnya, “Apakah mereka mengira, bahwa Kami tidak mendengar rahasia dan bisikan-bisikan mereka? Sebenarnya (Kami mendengar), dan utusan-utusan (malaikat-malaikat) Kami selalu mencatat di sisi mereka”. (QS. Az-Zukhruf: 80).

Orang yang beriman, tidak akan tega menyakiti malaikat yang selalu menyertainya dalam kebaikan, mencatat semua perkataan dan perbuatan baiknya. Pun juga perbuatan buruknya tanpa tercecer. Makhluk Allah yang mulia itu selalu bersamanya kecuali dalam dua keadaan, yakni ketika sedang berada di kamar kecil dan ketika dia sedang berjima’ dengan istrinya. Di luar dua keadaan itu orang yang beriman tidak akan menyakitinya dengan melakukan sesuatu yang dapat menyakiti penjaganya yang mulia itu dengan perkataan maupun dengan perbuatan.

 

Teman Dalam Ketaatan

Kadang, dalam usaha untuk bersungguh-sungguh menjalankan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, seorang mu’min merasakan keterasingan dari lingkungan, tak ada teman, tak ada dukungan dan support dari manusia di sekelilingnya. Secara manusiawi, hal itu tentu membuatnya merasa ter-alienasi, kesepian, bahkan ketakutan. Tetapi orang yang beriman merasa yakin terhadap keberadaan teman dan ma’iyyah-nya meski tak nampak, para malaikat yang selalu taat dan tak pernah ma’shiyat. Mereka membantu mukminin dalam ‘amal, mendoakannya, memintakan ampun dan memohonkan surga kepada Allah.

Dalam firman-Nya, (Malaikat-malaikat) yang memikul `Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Rabb-nya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan), “Ya Rabb kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan-Mu dan peliharalah mereka dari siksa neraka yang bernyala-nyala, ya Rabb kami,  masukkanlah mereka ke dalam surga `Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang saleh di antara bapak-bapak mereka, dan isteri-isteri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana, dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan. …”. (QS. Al-Mu’min: 7-9).

Orang yang beriman tak kan merasa sendirian. Lantaran itu mereka menjadi lebih mampu untuk bersabar dalam kesulitan di jalan jihad menegakkan agama Allah. Tatkala orang-orang bodoh menjahili mereka, menghina dan mentertawakan kenylenehannya semata-mata karena merealisir tuntunan nabi-Nya pada masa keterasingan, mereka merasa masih ada penduduk langit yang bersamanya taat kepada Allah, menemani, menjadi sahabat, membisiki untuk tetap tenang dalam keimanan, memotivasi untuk tetap sabar dan menentramkannya, membangkitkan keberanian untuk menempuh dan melanjutkan jalan yang mengantarkannya kepada keridhaan Allah.

Tentara Allah dari kalangan malaikat menyertainya, beribadah seperti dia beribadah, menghadapkan wajahnya kepada-Nya sebagaimana dia menghadap, bertasbih seperti dia bertasbih, mendoakan supaya langkahnya mendapat berkah, meringankan bebannya, menyebut-nyebut kebaikannya di hadapan Allah. Maka dengan itu seorang mu’min tidak merasa sendirian di jalan menuju Rabb-nya.

Ternyata seorang mu’min menempuh jalan menuju Allah bersama para penempuh yang agung, bersama mayoritas makhluk Allah yang taat kepada-Nya, malaikat yang mulia, para anbiyaa’, bersama langit dan bumi. Maka dia memiliki banyak teman setia dalam kesendiriannya, sandaran yang kuat kepada-Nya. Hamba yang beriman mempunyai indera yang benar dalam memandang dan mensikapi keadaan sehingga dia menjadi lebih bersabar dan tenang hati.

Dengan keyakinan seperti itu orang mu’min memandang penghalangan manusia di jalan Allah tak akan menggoyahkan, apalagi memalingkannya dari jalan itu, justru semakin menambah teguh dan mujahadah.

Betapa beruntungnya orang yang selalu memuliakan teman-seiringnya dari kalangan malaikat yang tak nampak oleh panca inderanya, tetapi qalbu-nya mampu merasakan kedekatannya.

Oleh: Redaksi/ruhiyah

Tiga Cara Manusia Dihisab Sebelum Masuk Surga

Di dunia ini tidak ada dua orang beriman yang memiliki derajat keimanan yang sama. Sejuta orang beriman, sejuta pula tingkat keimanan mereka. Namun demikian, hanya ada tiga cara, bagaimana mereka akan masuk surga di hari akhir kelak. Ketiga cara itu adalah: masuk surga tanpa hisab, masuk surga dengan hisab yang ringan, dan masuk surga dengan hisab yang berat. Masing-masing orang yang beriman dipersilakan memilih salah satunya, dan tidak ada sesuatu pun yang memaksa mereka untuk memilihnya. Tidak juga Allah, karena Dia telah berfirman,

إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا

Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir. (QS. al-Insan: 3)

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ

Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar. (QS. Fathir: 32)

Ayat di atas juga menjelaskan bahwa mereka yang masuk surga tanpa hisab disebut dengan sabiq bilkhairat, mereka yang masuk surga dengan hisab yang ringan disebut muqtashid, dan mereka yang masuk surga setelah hisab yang berat disebut zhalim linafsih.

Jumlah mereka yang masuk surga tanpa hisab ini lebih sedikit dibandingkan mereka yang masuk surga dengan hisab, baik yang ringan ataupun yang berat. Demikian Ibnu Katsir menyitir pendapat ulama dalam tafsir beliau.

 

Masuk Surga Tanpa Hisab

Sabiq bilkhairat, yang akan masuk surga tanpa hisab, secara bahasa berarti orang yang bersegera menuju kebaikan. Mereka adalah orang-orang yang aqidahnya lurus tiada tercampuri kemusyrikan. Tentang mereka dan kemurnian tauhid mereka yang menjadi syarat utama, Rasulullah ﷺ bersabda,

يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِي سَبْعُونَ أَلْفًا بِغَيْرِ حِسَابٍ هُمُ الَّذِينَ لاَ يَسْتَرْقُونَ وَلاَ يَتَطَيَّرُونَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ (رواه البخاري ومسلم)

Akan masuk surga tanpa hisab 70.000 orang dari ummatku. Mereka adalah orang-orang yang tidak meminta untuk diruqyah, tidak melakukan tathayyur, dan hanya bertawakkal kepada Allah. (HR.  al-Bukhari dan Muslim)

Baca Juga: Keadaan Manusia yang Terakhir Kali Masuk Surga

Ibnu Taimiyyah dalam Fatawa vol. VII menjelaskan bahwa mereka juga orang-orang yang melaksanakan semua kewajiban yang Allah bebankan dan menjauhi semua larangan-Nya. Selain itu, sisa waktu yang mereka miliki, mereka isi dengan amalan sunnah. Yang makruh? Jangankan yang makruh, untuk yang mubah pun mereka pilih-pilih demi menjaga diri dari terjerumus kepada yang haram.

 

Masuk Surga Dengan Hisab yang Ringan

Muqtashid berarti orang yang sedang, tidak buruk dan tidak istemewa. Perbedaan mereka dengan sabiq bilkhairat pada amalan sunnah dan sikap mereka terhadap yang makruh dan yang mubah. Untuk semua kewajiban dan larangan, muqtashid memenuhi aturan Allah sebagaimana mestinya. Begitu pula dengan aqidahnya.

Tentang hisab yang akan mereka jalani Rasulullah saw bersabda,

لَيْسَ أَحَدٌ يُحَاسَبُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلاَّ هَلَكَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَيْسَ قَدْ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى ( فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا ) فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُمَّ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا ذَلِكِ الْعَرْضُ وَلَيْسَ أَحَدٌ يُنَاقَشُ الْحِسَابَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلاَّ عُذِّبَ (رواه البخاري ومسلم)

“Setiap orang yang menjalani hisab pada hari kiamat pasti celaka.”Aku pun bertanya, “Wahai Rasulullah, bukankah Allah ta’ala telah berfirman, Barangsiapa menerima kitabnya dengan tangan kanannya, maka ia akan dihisab dengan hisab yang ringan.’” Beliau saw menjawab, “Hanyasanya itu adalah al-‘aradl (sekedar diperlihatkan), dan tidak ada seorang pun menghadapi hisab pada hari kiamat kecuali ia akan diadzab.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

 

Masuk Surga Dengan Hisab Yang Berat

Zhalim linafsih atau orang yang menzhalimi diri sendiri adalah orang yang tahu adanya kewajiban dan larangan, namun mereka sengaja melanggarnya, dan lalu ia meninggalkan dunia sebelum sempat bertaubat dari dosa itu (selain syirik dan kufur akbar). Lalu di akhirat, status mereka adalah tahtal masyiah (tergantung kepada kehendak Allah); jika Allah menghendaki bisa saja mereka langsung mendapatkan ampunan, dan jika Allah menghendaki lainnya, maka mereka mesti disucikan dulu di atas api neraka. Dalam hal ini Allah berfirman,

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. (QS. an-Nisa`: 116)

Kepastian masuknya zhalim linafsih ke dalam surga dapat dilihat secara jelas dan tegas dari kandungan dua hadits berikut ini.

إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ وَأَهْلُ النَّارِ النَّارَ يَقُولُ اللَّهُ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ مِنْ إِيمَانٍ فَأَخْرِجُوهُ فَيَخْرُجُونَ قَدِ امْتُحِشُوا وَعَادُوا حُمَمًا فَيُلْقَوْنَ فِي نَهْرِ الْحَيَاةِ فَيَنْبُتُونَ كَمَا تَنْبُتُ الْحَبَّةُ فِي حَمِيلِ السَّيْلِ أَوْ قَالَ حَمِيَّةِ السَّيْلِ وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُمَّ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلَمْ تَرَوْا أَنَّهَا تَنْبُتُ صَفْرَاءَ مُلْتَوِيَةً  (رواه البخاري ومسلم)

Apabila penghuni surga telah masuk surga dan penghuni neraka telah masuk neraka, Allah akan berfirman, “Barangsiapa di hatinya ada seberat biji sawi keimanan, keluarkanlah ia (dari neraka)!” Maka mereka akan keluar dalam keadaan hangus dan menghitam legam, kemudian mereka akan dilemparkan ke nahrul hayah (sungai kehidupan), lalu mereka akan tumbuh seperti tumbuhnya biji yang dibawa aliran air.” Lalu beliau melanjutkan, “Tidakkah kalian tahu bahwa biji tumbuh berwarna kuning dan meliuk.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

يَخْرُجُ قَوْمٌ مِنَ النَّارِ بَعْدَ مَا مَسَّهُمْ مِنْهَا سَفْعٌ فَيَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ فَيُسَمِّيهِمْ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَهَنَّمِيِّينَ  (رواه البخاري ومسلم)

Akan keluar dari neraka satu kaum setelah mereka terjilat oleh apinya, lalu mereka masuk ke dalam surga. Para penghuni surga menamai mereka dengan al-jahannamiyyun (mantan penghuni jahannam). (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Baca Juga: Meminta Surga Yang Paling Utama

Sebenarnyalah jika saja seseorang melanggar aturan Allah lalu ia bertaubat dengan tulus (baca: taubat nashuha) maka paling kurang ia masuk kategori muqtashid, dan akan masuk surga dengan hisab yang ringan. Bukankah Rasulullah ﷺ pun beristighfar sesedikitnya 70 kali dalam sehari-semalam?

Penutup

Tentu saja faktor anugerah Allah dan keadilan-Nya berhubungan erat dengan ketiga cara masuk surga ini. Jelas-jelas Rasulullah ﷺ bersabda,

لَنْ يُنَجِّيَ أَحَدًا مِنْكُمْ عَمَلُهُ قَالُوا وَلاَ أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ وَلاَ أَنَا إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللَّهُ بِرَحْمَةٍ (رواه البخاري ومسلم)

“Sekali-kali amal seseorang dari kalian tidak akan menyelamatkannya.” Para sahabat bertanya, “Tidak juga dirimu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Tidak juga aku, namun karena aku dinaungi Allah dengan rahmat(-Nya) (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Akhirnya, termasuk kategori yang mana pun masing-masing kita ~menurut pandangan kita sendiri~ selayaknya menyimak atsar yang dicantumkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsir beliau terhadap ayat ke-32 dari surat Fathir ini, supaya kita tidak tertimpa ‘ujub (bangga diri) atau ghurur (tertipu).

‘Uqbah bin Shahban al-Hanna`iy pernah bertanya kepada ummul mukminin, ‘Aisyah ra tentang siapakah yang dimaksud oleh Allah dalam surat Fathir ayat 32. Ibunda ‘Aisyah menjawab, “Wahai anakku, mereka semua akan masuk surga. Sabiq bilkhairat adalah mereka yang telah mendahului kita di masa Rasulullah ﷺ dan beliau menjanjikan surga bagi mereka. Muqtashid adalah para sahabat Nabi yang senantiasa meneladani beliau. Zhalim linafsih adalah orang-orang seperti diriku dan dirimu.” Wallahu a’lam.

 

Oleh: Ust. Imtihan as-Syafi’i/Akidah Islam

 

Pemahaman Ahlus Sunnah Tentang Ru’yatullah (Melihat Allah)

وَقُلْ يَتَجلَّى اللهُ للخَلْقِ جَهْرةً … كَمَا البدْرُ لا يَخْفى وَرَبُّكَ أَوْضَحُ

Allah menampakkan diriNya kepada hambanya (mukmin) dengan jelas

Sebagaimana bulan purnama yang tampak jelas tanpa ada kesamaran dan Rabmu lebih jelas.

 

Mungkinkah manusia melihat Allah (ru’yatullah)?, bait diatas menetapkan aqidah Ahlus sunnah wal Jama’ah dalam masalah ru’yatullah, serta menerangkan pendapat-pendapat menyimpang dalam pembahasan ini.

Kelompok sesat jahmiyah dan mu’tazilah berpendapat bahwa makhluk tidak dapat melihat Allah, mereka berkata, sesungguhnya Allah tidak bisa dilihat, karena sesuatu yang bisa dilihat adalah berjism (berjasad), sedangkan Allah tidak berjasad maka Ia tidak terlihat. Kelompok ini menolak ru’yatullah baik di dunia maupun di akhirat.

Sebagian sufi ada yang berpendapat bahwa Allah dapat dilihat baik di dunia maupun di akhirat. Ini juga pendapat yang batil.

Yang benar dalam masalah ini adalah bahwa Allah Ta’ala dapat dilihat di akhirat oleh para penghuni surga. Adapaun di dunia maka tidak ada makhluk yang dapat melihat-Nya. Seorang Nabi saja tidak bisa melihat Allah di dunia, apa lagi kita. yaitu Nabi Musa ‘alaihissalam ketika meminta kepada Allah untuk dapat melihat-Nya,  Allah Ta’ala berfirman :

“Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Allah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Rabku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Allah berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihatKu, tapi lihatlah ke bukit itu, Maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihatKu”. tatkala Rabnya Menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, Dia berkata: “Maha suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman.” (QS. Al A’raf : 143).

Adapun di akhirat maka Allah Ta’ala memberikan kekuatan kepada ahli surga untuk melihat-Nya. Mereka beriman ketika di dunia walaupun belum pernah melihatnya, maka Allah memuliakan mereka di surga dengan kenikmatan berupa kemampuan untuk melihat-Nya. Sebagaimana ditunjukkan oleh dalil-dalil, baik dari Al Qur’an maupun As-Sunnah As-Shahihah.

Sedangkan orang kafir, mereka yang tidak beriman kepada Allah ketika di dunia, maka Allah memberikan hijab kepada mereka ketika di akhirat, Allah Ta’ala berfirman:

“Sekali-kali tidak, Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar tertutup/terhalang dari Rab mereka.” (QS. Al Muthaffifin: 15)

Ini berarti, orang kafir tidak bisa melihat Allah di akhirat karena Allah memberikan penutup atas mereka dan sebaliknya orang-orang mukmin bisa melihat Allah. Diantara dalil yang bisa dijadikan sandaran dalam ru’yatullah di akhirat adalah:

“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik dan tambahannya.” (QS. Yunus : 26)

Pahala terbaik adalah surga dan tambahannya adalah melihat wajah Allah, ini adalah penafsiran sahabat diantaranya adalah Abu Bakar, khudaifah bin Yaman, Ibnu Abbas dan yang lain Radhiallahu’anhum. (tafsir Ibnu katsir)

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ ﴿٢٢ إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ

“Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabnyalah mereka melihat.” (QS. Al Qiyamah : 22-23)

Jelas sekali ayat ini menerangkan bahwa orang mukmin di akhirat nanti akan melihat Allah dengan mata mereka. Adapun dalam ayat 103 surat al-An’am:

لَّا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ ۖ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ ﴿١٠٣

“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah yang Maha Halus lagi Maha mengetahui.”

Kata Al-Idrak dalam surat al-An’am tidaklah sama artinya dengan kata an-Nadhar dalam surat al-Qiyamah. Lebih jelasnya perhatikan kalimat ini, anda bisa melihat matahari tapi tidak bisa meliputinya (tidak dapat mengetahui secara detail, berapa besarnya, kandungan senyawanya dll). Ini di antara makhluk, lalu bagaimama makhluk meliputi Al Khaliq? Jadi ahli surga dapat melihat Allah dengan mata mereka namun mereka tidak dapat meliputi Allah Subhanahu wa ta’ala.

Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ كُنَّا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَظَرَ إِلَى الْقَمَرِ لَيْلَةً يَعْنِي الْبَدْرَ فَقَالَ إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا الْقَمَرَ لَا تُضَامُّونَ فِي رُؤْيَتِهِ

Dari Jarir bin ‘Abdullah berkata, “Pada suatu malam kami pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau lalu melihat ke arah bulan purnama. Kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan purnama ini. Dan kalian tidak akan saling berdesakan dalam melihat-Nya. (HR. Bukhari)

Hadits shahih ini memperkuat pendapat ahlus sunnah wal jama’ah dalam masalah ru’yatullah. Dan Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dalam hadits ini tidak menyamakan Allah dengan bulan purnama, tetapi menyamakan cara melihat bulan dan cara melihat Allah, dengan mata, tidak berdesak-desakan dan melihat dengan jelas tanpa ada sesuatu yang menghalangi. Wallahua’alam bis shawab.

 

Oleh: Ust. Taufik el-Hakim/Akidah 

Baca Surat Yusuf Saat Hamil, Anak Jadi Setampan Nabi Yusuf?

 

Seorang ibu yang hamil muda tampak rajin membaca al-Qur’an, namun berulang-ulang yang dibaca hanyalah Surat Yusuf. Tatkala ditanya alasannya, ternyata ia mendambakan seorang anak laki-laki. Ada lagi yang hamil tua, melakukan hal yang sama. Ketika ditanya sebabnya, ternyata hasil USG menunjukkan janin berkelamin laki-laki, maka si ibu ingin anaknya terlahir dengan fisik setampan Nabi Yusuf alaihissalam. Bahkan ada yang menjadikan bacaan surat Yusuf atau sebagiannya sebagai alat untuk membuat wanita tertarik kepadanya, sebagaimana para wanita bangsawan terpukau oleh ketampanan Yusuf alaihissalam.

 

Antara Surat Yusuf dan Ketampan Keturunan.

Memang ada fadhilah-fadhilah khusus dari ayat maupun surat-surat tertentu di dalam al-Qur’an. Tapi, surat apa dan berkhasiat apa tidak boleh didasari oleh dugaan, rekaan atau pengalaman pribad seseorang. Harus ada dalil shahih yang kemudian bisa dijadikan sandaran keyakinan dan diamalkan.

Meskipun telah menjadi tradisi yang diyakini dan dijalani, ternyata tak ada dalil yang menyebutkan bahwa bacaan Surat Yusuf  berkhasiat menjadikan anak menjadi tampan. Dan bahkan di dalamnya juga tidak menyebut suatu doa permohonan supaya mendapatkan anak yang tampan. Para ulama salaf terdahulu pun tak ada yang memberikan anjuran bagi ibu hamil untuk menjalani ritual khusus tersebut.

Baca Juga: Suka Sesama Jenis, Bawaan Atau Penyimpangan?

Barangkali tradisi itu didasari oleh asumsi bahwa kandungan Surat Yusuf dominan mengisahkan kehidupan Nabi Yusuf alaihissalam. Sayangnya, ‘image’ yang ditangkap oleh kebanyakan kaum muslimin perihal kisah hanyalah sebatas bahwa beliau seorang Nabi yang terkenal ketampanannya.  Lalu diambillah kesimpulan, bahwa bacaan Surat Yusuf diduga bisa menjadi sebab datangnya anugerah anak yang tampan. Mestinya amal didasarkan atas ilmu, bukan karena dugaan atau sangkaan.

Ayat yang mengandung makna permohonan agar dikaruniai anak, justru ada di surat lain. Bukan permohonan supaya anaknya tampan, tapi supaya shalih. Yakni pada Surat ash-Shaffaat yang menyebutkan doa Nabi Ibrahim alaihissalam,

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

“Wahai rabbi, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih.”(QS. ash-Shaffat: 100).

Atau doa lain yang Allah ajarkan:

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا  [الفرقان/74]

“Wahai Rabbi, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. al-Furqan: 74).

Permohonan untuk mendapatkan anak shalih dan keturunan yang bertakwa jauh lebih baik daripada permohonan mendapatkan anak tampan. Karena penilaian Allah tergantung pada amal, bukan pada bentuk fisik. Sebagaimana hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam,

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

“Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk fisik maupun harta kalian, akan tetapi Dia melihat pada hati dan amal kalian.” (HR. Muslim).

Ringkasnya, tak ada khasiat khusus bacaan Surat Yusuf yang berhubungan dengan permohonan untuk  mendapatkan anak laki-laki yang tampan.

 

Faedah Surat Yusuf

Meski tak ada khasiat khusus yang berkaitan dengan permohonan keturunan, keutamaan dan faedah Surat Yusuf tetap luar biasa, dan tidak terkurangi sisi kesempurnaannya. Maka wajib bagi kita mengkaji kandungan isinya yang bertabur faedah di dalamnya.

Bahkan Allah membuka kisah tentang Yusuf dengan firman-Nya:

“Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan al-Quran ini kepadamu.” (QS. Yusuf: 3).

Allah yang mengisahkan, Allah pula yang menyebutnya sebagai sebaik-baik kisah, maka pastilah banyak pelajaran  berharga  yang bisa kita dapatkan dalam kisah Yusuf yang terkandung dalam surat ini.

Baca Juga: Daripada Zina di Sembarang Tempat, Mending Dibikinin Tempat?

Memang begitulah adanya. Bagi yang membaca, mendengar, apalagi yang mengetahui maknanya, ayat-ayat di dalam surat Yusuf  akan membawa ketenangan hati. Bukan sekadar sastranya yang super indah, tapi juga sangat menyentuh. Karenanya, para sahabat radhiyallahu ‘anhum ketika mereka mengalami kebosanan, mereka datang kepada Rasulullah, lalu beliau membacakan surat Yusuf  sebagai penghibur. Dengannya kegundahan menjadi sirna, harapan menjadi tumbuh kembali dan semangat kembali menyala.

Kisah Yusuf alaihissalam mengajarkan kepada kita bahwa dibalik musibah yang menimpa, ada rencana indah yang Allah siapkan. Berapa kali Yusuf  alahissalam menghadapi makar dan musibah, namun selalunya itu menjadi jembatan kemuliaan dan kebahagiaan bagi beliau. Beliau pernah dibuang ke sumur, dijadikan budak, dijebloskan ke dalam penjara, hingga akhirnya menjadi insan yang paling mulia di zamannya. Baik dalam pandangan manusia maupun Penciptanya.

Beliau juga menghadapi bujuk rayu dan godaan yang menggiurkan, namun beliau tetap teguh pendirian. Ini menjadi permisalan dan teladan manusia dalam menghadapi ujian; baik yang menyenangkan maupun yang menyusahkan. Wallahu a’lam bishawab.

 

Oleh: Ust. Abu Umar Abdillah/Syubhat

 

Biografi Iblis, Si Pembangkang Hingga Akhir Zaman

Kita semua tahu musuh utama seorang muslim adalah setan. Tapi seberapa tahu kita bahwa setan punya pimpinan dan setan punya standar operasi yang digencarkan oleh pimpinannya? Berikut biografi Iblis, si bos besar setan.

 

Asal Muasal

Bangsa Jin lebih dahulu menempati bumi daripada manusia. Tatkala mereka berbuat kerusakan di muka bumi, Allah mengutus sepasukan Malaikat. Para malaikat memerangi, mengusir dan mendesak mereka hingga ke lautan. Salah satu jin ditangkap dan dibawa ke langit. Di langit, Jin tersebut menjadi penjaga Jannah.

Dialah Iblis. Dahulu namanya Azazil atau al-Harits dan kuniyahnya Abu al-Kurdus. Dalam riwayat lain, Iblis pernah menjadi ketua malaikat penjaga langit dunia, memiliki empat sayap, rajin beribadah dan memiliki wawasan luas. Diciptakan dari unsur api dan

derajatnya hampir sama dengan malaikat karena sangat rajin beribadah.

 

Awal Mula Pembangkangan

Saat Allah menciptakan Adam dan menyuruh seluruh malaikat termasuk Iblis untuk bersujud, Iblis menolak perintah Allah. Dia tidak sudi melakukan sujud penghormatan tersebut semata karena sombong. Allah pun melaknatnya dan melemparkannya ke dunia.

Iblis menolak perintah ini karena memang sebagai jin, dia memiliki pilihan antara melaksanakan dan mengabaikan. Adapun malaikat, semua tercipta dengan karakter sama yaitu tidak akan pernah memaksiati perintah Allah.

Pembangkangan selanjutnya dilakukan Iblis saat memperdaya Hawa dan Adam agar memakan buah larangan yang dia sebut sebagai buah kekekalan (Khuldi). Intensitas rayuannya membuat Hawa terpedaya dan menjerumuskan diri dan juga suaminya melanggar laragan Allah. Keduanya pun memakan buah yang oleh Iblis disebut sebagai buah khuldi dan kemdian diusir oleh Allah dari surga menuju dunia.

Baca Juga: Empat Pelajaran Berharga dari Kisah Adam dan Godaan Hawa

Dan Iblis, penolakannya untuk sujud menghormati Adam sangat dimurkai Allah. Iblis pun dilaknat dan kemudian diusir ke dunia bersama Adam dan Hawa.

Iblis pun memohon kepada Allah agar dikekalkan hingga Kiamat. Tujuannya satu, balas dendam pada Adam dan anak turunnya karena membuat dirinya terlaknat. Allah menyetujui hal ini dengan segala kebaijaksanaan dan ilmu-Nya. Iblis dan bala tentaranya akan menjadi ujian bagi bani Adam.

Ada pendapat ngawur yang menyatakan bahwa iblis lebih baik dari malaikat karena hanya mau bersujud kepada Allah dan tidak mau sujud kepada Adam. Pendapat ini jelas ngawur, pertama karena sujud tersebut adalah sujud penghormatan, bukan ibadah. Kedua, Allah yang memerintahkan dan perintah-Nya mutlak, termasuk untuk sujud sekalipun. Ketiga, jika memang sujud itu hanya trik untuk menguji, maka seluruh malaikatlah yang akan dilaknat, sedang Iblis satu-satunya yang lulus. Kenyataannya tidak demikian.

 

Istana Iblis

Pasca Pengusiran dari langit, Iblis membangun kerajaannya di bumi. Dia membangun singgasananya di atas lautan. Setan-setan menjadi bala tentaranya.

Saat Ibnu Shayyad ditanya oleh Rasulullah mengenai apa yang dia lihat, Ibnu Shayyad melihat Singgasana di atas lautan yang dikelilingi ular-ular. Lalu Rasulullah mengatakan bahwa itu adalah Arsy-nya Iblis.

Dari Arsy inilah Iblis memerintah dan menerima laporan hasil kerja bala tentaranya. Dan dari sinilah segala bentuk godaan maksiat bermula. Prestasi mereka dinilai berdasar tingkat maksiat dan dosa dari manusia yang mereka goda. Dalam sebuah riwayat disebutkan, perceraian merupakan hasil godaan yang paling diapresiasi oleh Iblis. Jika ada anak buahnya yang berhasil menceraikan pasangan suami isteri, dia akan didekatkan kepada Iblis dan diberi mahkota.

Baca Juga: Imma’ah, Tukang Ikut-ikutan Mayoritas Orang

Wallahua’lam, tidak ada yang tahu letak kerajaan Iblis. Tidak sedikit yang berasumsi bahwa area lautan di Segitiga Bermuda-lah kerajaan Iblis berada. Dugaan ini didasarkan pada beragam misteri dan kecelakakaan pesawat dan kapal di area tersebut. Namun, semuanya hanyalah dugaan semata.

 

Musuh Iblis Terkuat

Musuh terkuat iblis dan bala tentaranya adalah orang-orang “mukhlas”. Siapakah orang yang mukhlas? Mukhlas adalah orang yang keikhlasannya sudah menjadi “habit” atau kebiasaan. Seakan-akan, setiap amalnya senantiasa dilingkupi keikhlasan dan sudah tidak perlu usaha lebih keras untuk ikhlas. Tingkat dibawahnya adalah mukhlis, yatu orang yang hatinya masih harus bekerja keras agar bisa ikhlas dalam beramal.

Jika seseorang telah menjadi mukhlas, akan ada dinding antara dirinya dengan setan hingga setan sulit menggoda dan mencuri keikhlasannya. Dialah yang dikecualikan Iblis dari manusia pada umumnya.

“(Iblis berkata) Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlas di antara mereka (Qs. Shad: 82-83)

 

Dicekik Nabi Muhammad 

 

عَنْأَبِي الدَّرْدَاءِ ، قَالَ : قَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فَسَمِعْنَاهُ , يَقُولُ : ” أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْكَ ، ثُمَّ قَالَ : أَلْعَنُكَ بِلَعْنَةِ اللَّهِ ثَلَاثًا وَبَسَطَ يَدَهُ كَأَنَّهُ يَتَنَاوَلُ شَيْئًا ” , فَلَمَّا فَرَغَ مِنَ الصَّلَاةِ , قُلْنَا : يَا رَسُولَ اللَّهِ , قَدْ سَمِعْنَاكَ تَقُولُ فِي الصَّلَاةِ شَيْئًا لَمْ نَسْمَعْكَ تَقُولُهُ قَبْلَ ذَلِكَ , وَرَأَيْنَاكَ بَسَطْتَ يَدَكَ , قَالَ : ” إِنَّ عَدُوَّ اللَّهِ إِبْلِيسَ جَاءَ بِشِهَابٍ مِنْ نَارٍ لِيَجْعَلَهُ فِي وَجْهِي , فَقُلْتُ : أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ، ثُمَّ قُلْتُ : أَلْعَنُكَ بِلَعْنَةِ اللَّهِ فَلَمْ يَسْتَأْخِرْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ، ثُمَّ أَرَدْتُ أَنْ آخُذَهُ , وَاللَّهِ لَوْلَا دَعْوَةُ أَخِينَا سُلَيْمَانَ لَأَصْبَحَ مُوثَقًا بِهَا يَلْعَبُ بِهِ وِلْدَانُ أَهْلِ الْمَدِينَةِ ” 

 

Dari Abu Darda berkata, “Rasulullah shalat dan tetiba kami mendengar Beliau mengucapkan, “Aku berlindung kepada Allah darimu.” Lantas Beliau mengucap lagi, “Aku melaknatmu dengan laknat Allah” sebanyak tiga kali. Kemudian beliau membentangkan tangannya seakan-akan Beliau tengah meraih sesuatu. Usai shalat, kami bertanya, “Wahai Rasulullah, kami tadi mendengar anda mengucapkan  ucapan yang belum pernah kami dengar sebelumnya dan kami melihat anda menjulurkan tangan anda.” Rasulullah menjawab, “Sesungguhnya tadi Iblis si musuh Allah datang membawa obor dan ingin membakar mukaku dengannya. Maka aku berkata, “Aku berlindung kepada Allah darimu sebanyak tiga kali. Lalu Aku berkata, “Aku melaknatmu dengan laknat Allah.” Tapi Iblis masih belum mau pergi dan akupun berniat menangkapnya. Demi Allah, kalau saja bukan karena doa saudaraku Sulaiman, Iblis itu akan terikat sampai pagi dan akan menjadi mainan anak-anak Madinah.” (HR Muslim).

Dalam riwayat lain Nabi mencekik lehernya hingga beliau mampu merasakan basahnya air liur Iblis karena cekikan Beliau.

 

Dilaknat Sampai Kiamat

Kehidupan abadi yang dimiliki Iblis digunakan untuk menyesatkan manusia dan membawa mereka menuju tempat akhir si Pembangkang. Dendam ini menyeret anak-anak Adam yang terpedaya ke dalam neraka. Meski demikian, nasib akhir setiap manusia yang celaka bukanlah menjadi tanggung jawab Iblis, tapi tanggung jawab masing-masing. Kelak, manusia memang akan menyalahkan Iblis, namun Iblis akan berlepas diri dan menyatakan bahwa dia hanya memperdaya dan manusia sendirilah yang percaya. Wal iyadzu billah. Semoga Allah menyelamakan kita dari tipu daya iblis dan tentaranya.

(Taufik anwar/Al-Bidayah wa an Nihayah, Juz I Bab Ma Warada fi Khalqi Adam)

 

Al-Quran dan Hadits: Dua Pedoman dalam Menyandarkan Agama Islam

 

Bangunan yang ditegakkan tanpa pondasi tentulah akan goyah dan roboh dengan mudahnya, begitu juga bangunan yang didirikan diatas pondasi yang tidak kuat dan tak sempurna, maka tinggal menunggu runtuhnya.

Agama Islam haruslah didirikan di atas pondasi yang kuat, agar tidak goyah diterpa badai dan tak runtuh dilanda gempa. Ia harus didasari dengan kitab Allah yaitu Al-Quran dan pentunjuk Rasul yang berupa sunah-sunnahnya. Yaitu dengan membenarkan Qur’an dan sunnah, melaksanakan perintah-perintahnya dan meninggalkan larangan-larang nya.

seorang muslim Tidak boleh mendirikan agamanya hanya dengan Al-Quran saja dan meninggalkan hadits, atau sebaliknya mendirikan agamanya hanya dengan hadits saja dan meninggalkan al-Qur’an. Tak boleh pula mendirikan agamanya dengan mengedepankan akalnya dan mengesampingkan al-Quran dan sunnah.

Baca Juga: Tauhid Rububiyyah Saja Tidak Cukup

Bila petunjuk Al-Quran dan Sunnah Rasulillah yang dijadikan pedoman dalam mendasari agamanya, maka ia akan mendapatkan janji Allah, yaitu tidak akan tersesat dan tidak pula celaka. Allah subhanahu wata’ala berfiman:

“Lalu Barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (QS. Thaha: 123)

Ibnu Katsir menukilkan perkataan Ibnu Abbas dalam menafsirkan ayat ini, yaitu barang siapa yang membaca Al-Quran, beramal dengannya maka ia tidak akan tersesat di dunia dan tidak akan sengsara di akhirat.

Mengamalkan Al-Quran harus disertai dengan sunnah (mengikuti petunjuk Rasul), karena Allah sendiri dalam Al-Quran berfirman:

“Katakanlah: Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” (QS. Ali Imran: 31)

Maksud dari firman Allah, “Ikutilah Aku” adalah ikutilah Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam. Dan kita bisa mengikuti Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dengan cara meneliti khabar dan hadits yang benar-benar shahih datang dari beliau shallallahu’alaihi wasallam. Baik periwayatannya mutawatir maupun ahad. Dan Semua khabar shahih yang datang dari Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam meskipun ahad bisa dijadikan hujjah dan landasan dalam permasalahan aqidah dan ibadah.

Ada 6 kriteria dalam mengikuti Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam, apabila kita bisa mempraktekannya maka kita mendirikan agama kita diatas pondasi yang kuat.

Pertama, jenis. Misalnya dalam hewan qurban, jenisnya telah ditentukan seperti onta, sapi dan kambing. Bila seseorang berkurban dengan ayam, maka tidak diterima amalnya karena jenisnya tidak sesuai yang ditetapkan.

Kedua, dalam kadarnya. Yaitu sebagian ibadah ditentukan kadar dan ukurannya, misalnya shalat isya’ jumlah rakaatnya empat. Maka kalau ada yang shalat isya’ tiga rekaat atau lima rekaat dengan sengaja, tidak diterima bahkan berdosa.

Ketiga, tempat. Sebagian ibadah ditentukan tempatnya seperti ibadah haji, wuqufnya di arafah, mabitnya di muzdalifah. Kalau seseorang melakukan wuquf di ka’bah maka tidak diterima amalnya.

Keempat, waktu. Telah maklum bahwa ibadah puasa yang wajib adalah di bulan Ramadhan, waktunya harus dibulan Ramadhan. Bagi yang sengaja (tidak dalam keadaan menqadha) puasa wajib sebulan penuh di bulan muharram, maka puasanya tidak sah.

Kelima, kaifiyah atau tata caranya. Misalnya wudhu, apabila tidak sesuai dengan tata cara yang diajarkan Rasul maka wudhunya tidak sah, seperti memulai wudhu dari kaki, mengusap kepala, hingga yang terakhir mencuci ke dua tangan.

Dan yang terakhir, sebab. Kalau seorang muslim beribadah dengan sebab yang tidak dimasyru’kan, maka ini merupakan kebid’ahan. Seperti shalat tahajjud yang sebab pelaksanannya karena hari itu tanggal 1 muharram, atau hari itu adalah hari kelahirannya. Maka amalannya tertolak, dan pelakunya mendapatkan dosa.

Baca Juga: Syirik, Mengharap Syafaat Peroleh Laknat

Sungguh sengsaranya orang yang melaksanakan ibadah dengan mengikuti akal dan hawa nafsunya serta mengesampingkan petunjuk Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam, sudah capek di dunia dengan persangkaan amal shalihnya, tapi di akhirat tidak mendapatkan pahala. Sebuah permisalan di dunia yang tidak kita inginkan, seorang perkerja di suatu perusahan yang sudah bekerja keras seharian selama sebulan penuh, tapi ketika tanggal satu, ketika ingin mengambil gajinya, ternyata di dianggap oleh perusahaan tidak melaksanakan kerjanya dengan benar dan tidak mendapatkan gaji yang selama sebulan kemarin di idam-idamkan.

Lalu bagaimana dengan akhirat kita, tentunya kita tidak ingin bila catatan amal kita di ahkirat kosong karena amalan yang kita kerjakan di dunia tidak dianggap Allah dan tidak diterima karena tidak mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam.

Bila kita bisa mendirikan agama islam ini diatas Al Quran dan petunjuk Rasul, maka kita akan lulus dari ujian di dunia yang berupa syubhat, syahwat, kebid’ahan dan menuruti hawa nafsu kemudian bisa mendapatkan keberuntungan di akhirat dengan mendapat keridhaanNya serta terhindar dari kemarahan Allah, adzabNya dan terhindar dari nereka. Nasalullahal ‘afiyah

 

Oleh: Ust. Taufik Al-Hakim/Akidah

Benarkah Ruh Sujud di Bawah Arsy Saat Manusia Tidur?

Ruh adalah persoalan ghaib sehingga manusia hanya bisa tahu tentangnya apabila Allah dan Rasul-Nya memberi tahu. Informasi tentang ruh yang paling utama dan pertama adalah firman Allah Ta’ala berikut,

 

اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا ۖ فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَىٰ عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَىٰ إِلَىٰ أَجَلٍ مُّسَمًّى ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) ‘jiwa’ (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir.” [QS. Az-Zumar: 42]

Ibnu Katsir memaparkan,

 

فِيهِ دَلَالَةٌ عَلَى أَنَّهَا تَجْتَمِعُ فِي الْمَلَأِ الْأَعْلَى، كَمَا وَرَدَ بِذَلِكَ الْحَدِيثُ الْمَرْفُوعُ الَّذِي رَوَاهُ ابْنُ مَنْدَهْ وَغَيْرُهُ.

“Di dalam makna ayat ini terkandung dalil yang menunjukkan bahwa semua jiwa dikumpulkan di al-mala` al-a’la, seperti yang disebutkan di dalam hadits marfu’ yang diriwayatkan oleh Ibnu Mandah dan lain-lainnya. Di dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan melalui hadits ‘Ubaidillah bin ‘Umar, dari Sa’id bin Abu Sa’id, dari ayahnya, dari Abu Hurairah yang telah mengatakan bahwa Rasulullah pernah bersabda,

 

إِذَا أَوَى أَحَدُكُمْ إِلَى فِرَاشِهِ فلْينْفُضْه بِدَاخِلَةِ إِزَارِهِ، فَإِنَّهُ لَا يَدْرِي مَا خَلَفَهُ عَلَيْهِ، ثُمَّ لِيَقُلْ: بِاسْمِكَ رَبِّي وَضَعْتُ جَنْبِي، وَبِكَ أَرْفَعُهُ، إِنْ أَمْسَكْتَ نَفْسِي فَارْحَمْهَا، وَإِنْ أَرْسَلْتَهَا فَاحْفَظْهَا بِمَا تَحْفَظُ بِهِ عِبَادَكَ الصَّالِحِينَ

“Apabila seseorang di antara kalian hendak menempati tempat tidurnya, hendaklah terlebih dahulu menyapu tempat tidurnya dengan bagian dalam kainnya, karena sesungguhnya dia tidak mengetahui kotoran apa yang telah ditinggalkannya pada peraduannya itu. Kemudian hendaklah ia mengucapkan doa, “Dengan menyebut nama Engkau, ya Tuhanku, aku letakkan lambungku dan dengan menyebut nama Engkau aku mengangkat (membangunkan)nya. Jika Engkau memegang jiwaku, maka kasihanilah ia; dan jika Engkau melepaskannya, maka peliharalah ia sebagaimana Engkau memelihara hamba-hamba-Mu yang shalih.” (Shahih Al-Bukhari, 8/87 dan Shahih Muslim, 8/77)

Perhatikan firman Allah dan hadits Nabi di atas. Allah dan Nabi menggunakan kata nafs untuk manusia yang tidur, bukan ruh. Jadi yang digenggam Allah saat manusia tidur adalah nafs, bukan ruh. Sedangkan ketika manusia mati maka yang digenggam Allah adalah jiwa dan ruh sekaligus. Ini analisis saya, mohon maaf saya bukan ahli tafsir, sama sekali. Lalu apakah analisis saya ini betul?

Ada keterangan dari Syaikh Abu Bakar Al-Anbari,

 

وفرّق بعض العلماء بين النفس و الروح فقال الروح هو الذي به الحياة و النفس هي التي بها العقل فإذا نام النائم قَبَضَ الله نفسه ولم يقبض روحه والروح لا يُقبض إلاّ عندَ الموتِ

Ada sebagian ulama membedakan antara nafs dan ruh. Diantara ulama menyatakan, ruh adalah sesuatu yang dengannya manusia hidup, sementara nafs adalah sesuatu yang dengannya manusia berakal. Sehingga ketika seseorang tidur, Allah genggam jiwanya dan tidak mengambil ruhnya. Dan ruh itu tidak akan diambil oleh Allah kecuali ketika kematian.

 

وبعض اللغويين يُسَوِّي بين النفس والروح فيقول هما شيء واحد إلاّ أنّ النفس مؤنثة والروح مذكّر

“Dan sebagian pakar bahasa Arab menyamakan nafs dan ruh dan diantara pakar bahasa tersebut berkata, keduanya adalah sesuatu yang satu, hanya saja nafs adalah kata Kata gantinya permpuan sementara ruh berkategori laki-laki.” (Kitab Az-Zahir fi Ma’ani Kalimat An-Nas)

Keterangan tersebut didukung oleh Syaikh Ahmad Al-Fayumi Al-Hamawi,

 

وَمَذْهَبُ أَهْلِ السُّنَّةِ أَنَّ الرُّوحَ هُوَ النَّفْسُ النَّاطِقَةُ الْمُسْتَعِدَّةُ لِلْبَيَانِ وَفَهْمِ الْخِطَابِ وَلَا تَفْنَى بِفَنَاءِ الْجَسَدِ وَأَنَّهُ جَوْهَرٌ لَا عَرَضٌ وَيَشْهَدُ لِهَذَا قَوْله تَعَالَى {بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ}

“Madzhab Ahlus-Sunnah menyatakan bahwasanya ruh adalah nafs sebagai piranti untuk berbicara yang memang digunakan untuk mendapatkan kejelasan, memahami pembicaraan, dan ruh tidak hilang dengan hancurnya jasad, dan ruh adalah esensi yang tidak tampak namun dapat menyaksikan, sebagaimana firman Allah, “Akan tetapi mereka hidup di sisi Tuhan mereka dan mendapatkan rizqi dari-Nya.” [QS. Ali ‘Imran: 169] [Kitab Al-Mishbah Al-Munir 1/242]

Banyak juga ulama yang menyamakan ruh dan nafs. Jadi kita boleh-boleh saja menyamakan ruh dan nafs, boleh juga membedakannya. Sebab kedua sikap tersebut ada dalilnya. Jika di hadits di awal tadi kita tahu bahwa Nabi menyebut nafs diambil oleh Allah sewaktu manusia tidur, di hadits berikut ini, Nabi menyebut ruh manusialah yang diambil oleh Allah.

 

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ قَبَضَ أَرْوَاحَنَا وَلَوْ شَاءَ لَرَدَّهَا إِلَيْنَا فِي حِينٍ غَيْرِ هَذَا

“Wahai manusia, sesungguhnya Allah menggenggam ruh kita, kalau saja Allah mau, pasti Allah kembalikan ruh kita kepada kita pada waktu yang berbeda.” [Al-Muwaththa`li Al-Imam Malik] Namun jika kita baca riwayat hadits secara utuh, nampaknya kata ruh yang digunakan Nabi sebenarnya bermakna nafs. Jadi hadits ini memiliki makna, disebut ruh jika jiwa yang diambil dari manusia yang tidur tidak dikembalikan oleh Allah dan itulah kematian.

Atau hadits tersebut tidak dimaknai bahwa nafs dan ruh berbeda. Hadits tersebut sebenarnya tetap menyebut ruh Rasulullah dan para shahabat dicabut oleh Allah dan memang semuanya saat itu mengalami kematian, hanya saja kemudian Allah mengembalikan ruh mereka semua dan menghendaki hidup kembali. Hadits tersebut adalah kisah bangun kesiangan Rasulullah dan para shahabat sepulang dari sebuah peperangan hingga waktu dhuha. Ternyata benar, ada riwayat lain yang mempertegas makna ini,

 

إنكم كنتم أمواتاً، فرد الله إليكم أرواحكم

“Sesungguhnya kalian mati, namun Allah mengembalikan ruh kalian kepada kalian.” [Musnad Abu Ya’la Al-Mushili]

Sekarang saatnya kita mencari tahu apa betul ruh orang yang tidur terbang ke angkasa lalu sujud di bawah ‘Arsy sampai terbangun dari tidur? Majelis Fatwa Uni Emirat Arab pimpinan Syaikh Dr. Muhammad Mathar Salim Al-Ka’bi menjelaskan,

 

وَقَدْ جَاءَ فِي النَّوْمِ عَلَى طَهَارَةٍ مَا يَقْتَضِي عُرُوجَ الرُّوحِ وَسُجُودَهَا تَحْتَ الْعَرْشِ وَأَعْلَى الْجَنَّةِ تَحْتَ الْعَرْشِ كَمَا ثَبَتَ فِي الْحَدِيثِ الصَّحِيحِ أَنَّ الْفِرْدَوْسَ أَعْلَى الْجَنَّةِ وَسَقْفَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ كَمَا رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ فِي شُعَبِ الْإِيمَانِ بِإِسْنَادِهِ إلَى عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ : إنَّ الْأَرْوَاحَ يُعْرَجُ بِهَا فِي مَنَامِهَا إلَى السَّمَاءِ فَتُؤْمَرُ بِالسُّجُودِ عِنْدَ الْعَرْشِ فَمَنْ بَاتَ طَاهِرًا سَجَدَ عِنْدَ الْعَرْشِ وَمَنْ كَانَ لَيْسَ بِطَاهِرٍ سَجَدَ بَعِيدًا مِنْ الْعَرْشِ قَالَ الْبَيْهَقِيُّ : هَكَذَا جَاءَ مَوْقُوفًا انْتَهَى .

Dan sungguh telah ada riwayat tentang tidur dalam keadaan suci yang menjadikan ruh naik ke langit dan sujud di bawah ‘Arsy dan Surga tertinggi ada di bawah ‘Arsy. Sebagaimana telah tetap dalam hadits shahih bahwasanya Firdaus adalah Surga yang tertinggi dan atapnya adalah ‘Arsy Allah. Sebagaimana juga diriwayatkan oleh Imam Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman dengan sanadnya hingga ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash, bahwasanya beliau berkata, “Sesungguhnya ruh-ruh naik dalam tidurnya ke langit, kemudian diperintahkan untuk sujud di bawah ‘Arsy. Maka barangsiapa tidur dalam keadaan suci maka ruhnya akan sujud di bawah ‘Arsy, dan barangsiapa tidur dalam keadaan tidak suci, maka sujudnya jauh dari ‘Arsy.” Imam Al-Baihaqi memberi catatan, “Demikianlah adanya secara mauquf.”

Lalu, oleh karena hadits ini mauquf apakah kita tidak boleh menjadikan hadits ini sebagai dalil aqidah, artinya kita boleh atau tidak meyakini bahwa ruh orang yang tertidur sujud di bawah ‘Arsy. Kendati hadits ini mauquf namun bisa dihukumi marfu’ karena (1) Bukan ijtihad; (2) Bukan dari Ahli Kitab; (3) Bukan menjelaskan makna bahasa; (4) ‘Abdullah bin ‘Amr sedang menafsirkan QS. Az-Zumar: 42; (5) Lafazhnya mauquf; (6) Ada hadits shahih lain yang menaungi yaitu hadits perintah untuk berwudhu sebelum tidur.

Akhirnya, oleh karena para ulama di kursi majelis fatwa UEA menjadikan hadits mauquf tersebut sebagai hujjah (dalil), maka sebagai orang awam, kita pun mengikuti jejak mereka. Kita boleh mengikuti jejak mereka dan meyakini bahwa ruh orang yang tertidur sujud di bawah ‘Arsy. Boleh pula menolak menerima periwayatan hadits mauquf dari ‘Abdullah bin ‘Amr di atas, asalkan kita punya rujukan ulama muhaddits yang menolaknya.

Satu hal yang harus digaris-bawahi, bahwa masalah ruh adalah masalah ghaib, harus berhati-hati dalam membahasnya, tidak boleh berpendapat tanpa dalil, dan sebaiknya fokus pada masalah aqidah yang lainnya, atau fokus pada amaliyah, salah satunya yaitu berwudhu ketika hendak tidur.

 

Oleh: Redaksi/Akidah

 

Baca Juga:

Hukum Mengucapkan “Al-Marhum” Untuk Orang Meninggal

Ada sebuah tradisi yang sudah mengakar di Indonesia ketika menuliskan nama seseorang yang sudah meninggal atau menyebut namanya dalam suatu pembicaraan. Orang-orang biasanya mengatakan al-marhum atau menulis dengan singkatan (alm). Dengan harapan, apa yang diucapkan tersebut akan menjadi doa bagi orang yang telah meninggalkan mereka, dan untuk menghormati jasa-jasa mereka ketika masih hidup. 

Bagaimana Hukumnya?

Syaikh Ibnu Utsaimin ditanya bagaimana hukumnya ketika ada yang meninggal, orang-orang mengucapkan,

يَاأَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ

 ارْجِعِي إِلىَ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَةً

Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang puas lagi diridhoi-Nya.  (QS. Al Fajr:27-28)

 

Jawaban beliau: Hal ini tidak boleh diucapkan terhadap seseorang secara khusus karena merupakan bentuk persaksian bahwa orang tersebut termasuk golongan yang ada pada ayat.

Dalam fatwa lain juga dinyatakan bahwa menyebut orang yang meninggal dengan sebutan al-marhum (yang dirahmati) atau al-maghfur (yang diampuni) juga tidak diperbolehkan. Karena hal itu merupakan klaim bahwa orang tersebut adalah orang mendapat rahmat, padahal kita tidak mengetahui hakikatnya. Yang diperbolehkan adalah “ghafarahullah” (semoga Alah mengampuninya) atau “rahimahullah” (semoga Allah merahmatinya) yang sifatnya doa, bukan klaim.

 

Redaksi/Disarikan dari Fatwa Syaikh Utsaimin dan Syaikh bin Baz

 

Baca Juga: 

4 Alasan Kaum Muslimin Dilarang Mengikuti Perayaan Natal

Mendekati penghujung tahun di tiap tahunnya, selalu saja ada polemik mengenai perayaan natal. Ada sebagian kaum muslimin yang berujar bahwa tidak mengapa mengucapkan “selamat hari natal”, “Merry Christmas” dan bentuk ucapan lainnya kepada saudara, tetangga maupun teman yang beragama Nashrani. Lebih dari itu, ada sebagian yang ikut-ikutan meramaikan perayaan ini dengan membuat hiasan pohon cemara yang dihiasi dengan pernak-pernik dan lampu berwarna-warni di rumah-rumah mereka. Alasannya karena menghormati dan ikut merasa bahagia dengan hari raya tersebut.

Bagi sebagian orang Islam yang tidak mau ikut merayakan atau sekedar mengucapkan kata-kata selamat kepada saudara Nashrani pun mendapat label ‘intoleran’ dan ‘anti kebhinnekaan’. Padahal belum tentu yang bilang begitu sudah toleran dan berkebhinnekaan.

Dalam Islam, hari raya merupakan bentuk syiar dan pengagungan. Artinya, bila seorang muslim mengikuti hari raya diluar Islam, secara tidak langsung ia ikut mengagungkan perayaan tersebut. Belum lagi ketika mengucap, “selamat natal”, artinya ia mengakui akan kelahiran Yesus Kristus dalam versi mereka. Yang mana, hal-hal ini sangat riskan dan bisa mencederai akidah seorang muslim.

Setidaknya ada empat dalil yang mengharamkan seorang muslim mengikuti perayaan orang-orang kafir, termasuk hari raya natal, Valentine, Easter day (hari Paskah), April Mop dan lainnya;

 

1.Tasyabbuh

Rasulullah bersabda,

 

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa ikut-ikutan dengan suatu kaum, maka ia termasuk dalam golongan mereka.” (HR. Abu Dawud)

Sahabat Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu berkata: “Siapa yang mengikuti perbuatan orang-orang kafir, kelak di hari kiamat ia akan merugi bersama orang-orang kafir tersebut. Siapa yang mengikuti perbuatan kekufuran seseorang, perbuatan tersebut bisa juga membuat orang yang mengikutinya menjadi kafir dan siapa yang mengikuti perbuatan dosa besar seseorang, maka perbuatannya tersebut akan membuatnya terkena dosa besar juga.”

Tidak semua bentuk ikut-ikutan dengan orang kafir itu dilarang. Sebagaimana Syaikh Shalih al-Munajjid menjelaskan ada tasyabbuh yang haram dan ada juga bentuk mengikuti yang tidak dilarang. Adapun yang dilarang adalah segala perbuatan peribadatan dan syariat yang mengandung keyakinan dan tidak pernah ada syariat dalam Islam yang membolehkan. Sedangkan menggunakan atau mengikuti mereka dalam urusan dunia yang bukan merupakan bentuk ibadah dan syariat, maka selama ada manfaatnya tidaklah mengapa.

 

2.Bentuk Loyal Pada Kekufuran

Mengikuti perayaan mereka, artinya mengamini dan mendukung keyakinan yang mereka bawa. Padahal mereka sendiri telah mengingkari apa yang kita yakini. Allah berfirman,

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِم بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَاءَكُم مِّنَ الْحَقِّ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu,……”(QS. al-Mumtahanah: 1)

 

3.Hari Raya Adalah Pengagungan dan Keyakinan Dalam Sebuah Agama

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

 

إن لكل قوم عيدا، وهذا عيدنا

“Sesungguhnya tiap-tiap kaum itu memiliki hari raya, dan adapun hari ini (hari raya idul fitri) adalah hari raya kita (kaum muslimin).” (HR. Muslim)

Islam memilki hari raya, begitu juga mereka orang-orang diluar Islam juga memiliki semisalnya. Siapa yang mencari-cari hari raya diluar ketetapan Islam, maka ia telah memuliakan hari raya tersebut, demikian juga ia telah mengagungkan dan meyakini sebagaimana orang-orang kafir meyakininya dengan sepenuh hati.

 

4.Sifat Orang Mukmin Tidak Menghadiri Majelis Kekufuran

Allah berfirman,

 

وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ

“Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu……………”(QS. al-Furqan: 72)

Sebagian para ulama’ diantaranya; Dhahak, Thawus dan Muhammad bin Sirin mereka menafsirkan ayat ini dengan hari raya orang-orang kafir. Sifat orang beriman yang tersebut dalam ayat ini adalah mereka yang menjauhi perayaan hari raya orang-orang kafir dan tidak memiliki kecondongan untuk mengikuti.

Hal ini dikuatkan oleh Imam Malik yang mengutip hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

 

” من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فلا يجلس على مائدة يدار عليها الخمر “

“Siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya ia tidak menghadiri perkumpulan yang didalamnya disajikan khamr. (HR. Muslim)

Sebagaimana diketahui, hampir di tiap tempat perayaan orang-orang kafir, disana disajikan minuman keras dan berbagai hidangan lain yang mengandung unsur haram lainnya.

Menambahkan hal ini, Ibnul Qayyim rahimahullahu dalam kitab Ahkamu Ahli Dzimmi Ia berkata, 

“Mengucapkan selamat pada perayaan orang non muslim adalah perbuatan haram menurut syariat. Seperti mengucap, “Semoga terberkati di harimu ini” dan semisalnya. Seperti halnya ia telah mengucap selamat untuk sujud pada salib. Hal ini lebih besar dosanya di sisi Allah, bahkan lebih besar dari mengucap selamat pada orang yang meminum khamr atau membunuh seseorang. Siapa yang mengucap keselamatan pada pelaku bid’ah, maksiat, atau bahkan kekufuran, maka sejatinya ia telah mengundang murka Allah.”

Demikian beberapa nash syar’I sebagai landasan akan haramnya mengikuti dan ikut meramaikan perayaan hari-hari besar orang kafir. Semoga Allah senantiasa memberikan kita keistiqamahan untuk tetap berada di jalan yang Ia ridhai. (dari Islamqa.info)

 

Oleh: Redaksi/Terkini

 

Baca Juga: 

Hari Raya, Syiar dan Identitas Keyakinan

Say No To Valentine

Hukum Memajang Pohon Natal Untuk Hiasan

Rahmatan Lil’alamin Versi Anu

Rahib Yahudi dan Nashrani Menjual Agama Untuk Mengais Dunia

Allah menciptakan manusia tujuannya tak lain adalah untuk beribadah. Ibadah yang sudah ada juklak (petunjuk pelaksanaan) nya dan juga ibadah yang mencakup segala apa yang diridhai Allah. Namun, tak cukup di situ, manusia dituntut untuk berikhtiyar guna mencukupi kebutuhan jasmaninya yang berupa; sandang, pangan dan papan. Keduanya saling terkait dan tidak bisa mendominasi salah satunya, yang berakibat timpang salah satunya.

Maka siapa yang hidup  di dunianya dihabiskan hanya untuk melakukan Ibadah yang sudah ada juklaknya (Ibadah Mahdhah) sehingga kebutuhan fisiknya tercampakkan, padahal dia mampu melakukannya dan tidak terhalang, maka dia tercela. Barang siapa yang hanya sibuk mengurus kebutuhan jasmaninya tanpa mempedulikan ibadah mahdhah kepada yang menciptakan dan menjamin kebutuhan hidupnya, maka dia bak  binatang ternak.

 

Baca Juga: 411, 212 dan 412 Merupakan Fenomena Penyibak Tabir

 

Barang siapa yang menunaikan ibadah mahdhah sesuai yang diajarkan oleh Rasul, sementara pemenuhan kebutuhan fisiknya tidak mempedulikan arahan umum serta batas halal-haram yang telah ditentukan, maka akan berimbas kepada tidak diterimanya ibadah mahdhah yang diamalkannya dengan susah payah. Barang siapa yang menjadikan ibadah mahdhah-nya sebagai sarana untuk mendapatkan kebutuhan fisik-dunianya, apalagi digunakan untuk mengejar kemewahan, maka dia terjerembab kedalam kesalahan menjual agama untuk mendapatkan dunia. Allah berfirman:

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ كَثِيرًا مِنَ الْأَحْبَارِ وَالرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya kebanyakan orang-orang ‘alim Yahudi dan rahib-rahib Nashrani benar-benar makan harta manusia dengan jalan bathil dan mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. [QS.At-Taubah : 34].

 

Para Rahib Memanipulasi Ummat Untuk Memenuhi Kebutuhan Dunia

Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya Tafsir al-Qur-an al-‘Adhim menjelaskan bahwa para pendeta Yahudi dan para rahib Nashrani adalah merupakan para tokoh, para pemimpin di lingkungan mereka, dimana mayoritas mereka tidak beres dalam urusan harta; bukan hanya tidak ada transparansi dan akuntabilitas dalam penerimaan dan penggunaan dana, akan tetapi mereka juga cenderung memanfaatkan posisinya sebagai pemimpin agama di tengah kaumnya yang dapat menetapkan berbagai pungutan untuk memuaskan syahwat mereka kepada harta dunia dengan mengatasnamakan Tuhan. Secara tegas beliau menulis, “Yang demikian itu karena mereka memenuhi hasrat dunia mereka dengan menjual agama, dengan menggunakan posisi dan dan kepemimpinannya di tengah umat manusia…”.

Ada dua hal dapat terpisah sendiri-sendiri dan dapat pula saling berjalin-berkelindan. Pertama, tidak transparan dan akuntabel dalam pendanaan umat semata-mata karena kelemahan teknis administrasi. Kedua, akuntabilitas-nya buruk dan kerakusan syahwatnya kepada dunia tinggi, sehingga buruknya administrasi sengaja digunakan untuk menutupi kerakusan itu. Ketiga, akuntabilitasnya bagus, mereka tidak malu melindungi kerakusannya terhadap dunia dengan justifikasi regulasi. Dengan demikian kerakusannya dilindungi secara legal.

Membantu memudahkan orang lain dalam melaksanakan ibadah mahdhoh merupakan perbuatan kebajikan yang dapat menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah dan berbuah pahala, kecintaan, surga dan ridha-Nya. Tetapi tentu  ada syaratnya, yakni ketika pelaku kebaikan tadi tidak mengambil upah dari perbuatan baiknya kecuali sebatas kebutuhan dhoruriyah (primer) dan hajiyah (sekunder) saja. Lebih elok lagi jika kebutuhannya dipenuhi dari usaha yang tidak ada hubungannya dengan perbuatannya menolong dan membantu orang lain dalam melaksanakan amal ibadah mahdhah tersebut.

 

Baca Juga: Hilir Sekularisme Merusak Moral Bangsa

 

Kasus First Travel adalah gambaran rusaknya konstruksi pemahaman banyak pihak dari stake holder dalam mengurus urusan umat Islam khususnya. Pembuat dan pengontrol regulasi yang tidak peka terhadap masalah, lamban menangani gejala pelanggaran baik dari sisi regulasi maupun pengawasan. Pelaku kejahatan yang rusak pemahaman agamanya dan memanfaatkan celah kelemahan regulasi dan pengawasan untuk memuaskan syahwat dunianya.

Pelaku mengorbankan manusia banyak yang memanfaatkan jasa yang ditawarkannya, untuk meraih dunia dan keindahannya dengan cara curang. Alih-alih mencukupkan diri dengan mengambil sebatas kebutuhan saja, bahkan biaya ibadah tersebut digunakan secara curang untuk mengongkosi kehidupan mewahnya yang bak raja dan ratu. Jerih payah penjual kerupuk, tukang loundry dan orang-orang kecil yang menabung uang receh dari hari ke hari demi kerinduannya berziarah ke Baitullah kandas di tangan orang avonturir yang memburu dunia dengan menjual agamanya.

 

Oleh: Redaksi/fikrah

 

Cara Allah Menjaga Iman Hamba-Nya

Selalu ada target dan tujuan dalam setiap langkah kita. Dan tak sedikit dari tujuan itu tertunda atau bahkan luput dari kita, meskipun tujuan itu berupa kebaikan atau sesuatu yang nantinya kita niatkan sebagai sarana kebaikan. Ingin segera kaya agar bisa sedekah, ingin segera sembuh dari sakit agar kuat menjalankan ibadah, atau ingin berhaji menyempurnakan rukun Islam namun belum diberi kemampuan.

Namun tak perlu patah arang saat tujuan baik belum terpegang. Bisa jadi Allah ingin kita lebih gigih untuk berjuang. Yang dengannya Allah berikan pahala atas kesungguhan dan kesabaran. Atau dengannya Allah hendak menjaga hati kita dari kotoran, yang jika hari ini tujuan kebaikan dalam genggaman boleh jadi ada ujub yang justru menihilkan pahala kesungguhan.

 

Baca Juga: Waspadai Ngedrop Iman Pasca Ramadhan

 

Selagi kita menjaga hak Allah, niscaya Allah menjaga kita ‘ihfazhillaha yahfadzka’. Menjaga hak Allah dalam hal perintah yang harus kita kerjakan. Dan juga dalam hal larangan yang harus kita tinggalkan. Selagi ini yang kita kerjakan, niscaya Allah akan melindungi, menolong dan menjaga kita. Dan penjagaan yang paling berfaedah bagi kita adalah penjagaan iman, agar ia tetap bersemayam di hati, dan terus bertambah kadarnya dan semakin terang cahayanya.

Karena Allah Mahatahu tentang keadaan hati para hamba-Nya, maka Dia menjaga dengan cara-Nya, meskipun cara itu tidak langsung dimengerti oleh hamba-Nya.

Di antara hamba Allah ada yang terjaga keimanannya di suatu kondisi dalam keadaan fakir, yang jika dihamparkan banyaknya harta untuknya saat itu, niscaya akan rusaklah imannya, maka Allah menjaganya dengan cara menunda pemberiannya hingga saat yang paling tepat. Ada pula di antara hamba-Nya yang terjaga keimanannya ketika diberi kekayaan, yang jika dia ditimpa kefakiran niscaya imannya akan rusak. Di antara hamba Allah ada yang imannya terjaga dengan diuji sakit, yang seandainya ketika itu dia dalam keadaan sehat, maka akan rusaklah imannya, atau dia akan menggunakan sehat untuk maksiat. Di antara hamba Allah ada yang punya keinginan menjalankan sebagian jenis ibadah, namun Allah belum memperkenankannya, Karena Allah hendak menghindarkan ia dari ujub yang akan merusak pahala amalnya.

 

Baca Juga: Ketaatan Adalah Ujian

 

Seperti orang yang belum berkesempatan untuk berhaji, tak selalunya ia dalam kondisi buruk. Begitu pula tentang jabatan dan pangkat, yang jelas Allah mengatur dan mengurus hamba-Nya sesuai dengan ilmu-Nya, sedangkan ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, tetaplah husnuzhan, berprasangka baik kepada Allah, niscaya yang kita panen adalah kebaikan. Wallahu a’lam.

 

Oleh: Abu Umar Abdillah

 

Berbuat Nakal Dengan Alasan Karena Takdir

 

Pertanyaan: 

Ustadz, ana pernah ditanya adik kelas mengenai takdir Allah. Dia adalah mantan anak nakal. Dia ingin taubat dan memperbaiki dirinya, tapi di sela perjuangannya itu, terlintas perasaan yang meragukan. Katanya, Allah sudah menetapkan takdir baik dan buruknya seseorang, berarti percuma kalau kita ingin baik sedangkan kita telah dicatat di Lauh Mahfuzh sebagai orang buruk.

Bagaimana memahamkan anak seperti ini? Jazaakallah khairan katsiran.

Muslimah- Lamongan

 

Jawaban:

Saudari yang shalihah, beriman kepada takdir Allah merupakan salah satu rukun iman, hingga masalah ini harus kita perhatikan dengan hati-hati agar tidak keliru. Dalam masalah ini ada beberapa hal yang harus kita padukan. Yaitu tentang keadilan Allah, ilmu-Nya, kuasa-Nya, dan usaha manusia beserta hukum sebab akibatnya.

Kita harus percaya bahwa Allah Mahaadil yang akan memberi balasan setiap perbuatan makhuk-Nya sesuai dengan keadilan-Nya secara layak. Sehingga setiap kebaikan dan keburukan akan mendapatkan balasan yang pantas. Selain itu, kita percaya bahwa kuasa Allah meliputi segala sesuatu, yang tidak akan pernah mampu ditolak oleh siapapun.

Ilmu Allah sangatlah luas. Dia Mahatahu atas segala yang terjadi di alam semesta ini, baik yang sudah,sedang, maupun belum terjadi, bahkan sebelum langit dan bumi ini diciptakan-Nya. Tidak ada sehelai daun yang gugur kecuali Dia mengetahuinya. Demikian juga seluruh kejadian yang ada, mustahil terjadi di luar ilmu-Nya.

 

Baca Juga: Istri Sering Memakai Baju Seksi

 

Sebagai manusia kita dikaruniai kemampuan dan akal untuk memilih dan berusaha. Dalam konteks inilah berlaku hukum sebab akibat, dimana siapa menanam akan memanen. Semua yang kita lakukan karena kita memang ingin melakukannya. Sehingga tidak ada alasan untuk berhenti berikhtiar dan menyalahkan Allah (naudzubillah min dzalik) ketika kita terjerumus ke dalam maksiat dengan alasan takdir. Lagipula, bukankah takdir Allah adalah rahasia yang kita tidak pernah tahu rinciannya? Dia tidak membeberkan apa yang akan terjadi besok pagi kepada kita secara detil.

Untuk itu, tidak ada alasan untuk menyerah tanpa daya sebelum berusaha.

Kita baru boleh mengatakan bahwa ini takdir Allah jika telah terjadi. Dan jika yang terjadi adalah kemaksiatan, kita percaya ada hikmah di balik peristiwa itu karena Allah Maha Bijaksana disertai perasaan menyesal dan janji untuk tidak mengulanginya. Namun jika yang terjadi adalah kebaikan, kita harus bersyukur karena Allah memberi kemudahan. Semoga hari-hari berikutnya juga seperti ini.

Terakhir, jangan terlalu banyak berbicara tentang takdir agar setan tidak mempermainkan kita untuk kemudian menyesatkan kita. Wallahu a’lam

 

Oleh: Redaksi/Konsultasi

Tauhid Rububiyyah Saja Tidak Cukup

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab menuliskan dalam kitabnya “Al Qowa’idul Arba’” tentang kaedah memahami syirik. Beliau membuka kitabnya dengan menjelaskan tentang al-Hanifiyah yang merupakan agama Nabi Ibrahim. Yaitu beribadah kepada Allah dengan memurnikan ibadah hanya untuk-Nya saja.

Dengan agama al-hanifiyah inilah Allah memerintahkan semua manusia dan untuk tujuan inilah Allah menciptakan mereka, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku (saja)” (QS.Adz-Dzaariyaat: 56).

Jika kita telah mengetahui bahwa Allah menciptakan kita untuk beribadah kepada-Nya, maka ibadah harus disertai dengan tauhid, sebagaimana shalat, tidak akan sah tanpa bersuci. Oleh karena itulah, jika syirik mencampuri ibadah, rusaklah ibadah itu, sebagaimana hadats bila mencampuri kesucian.

Jika sudah mengetahui kalau syirik bercampur dengan ibadah, maka akan merusaknya, menyebabkan gugurnya semua amalan pelakunya dan menyebabkan pelakunya menjadi orang yang kekal di dalam Neraka, tentulah Anda akan mengetahui bahwa perkara yang paling penting bagi Anda adalah mempelajari masalah ini (kesyirikan), semoga dengannya Allah berkenan membebaskan Anda dari jaring kesyirikan ini, yaitu kesyirikan kepada Allah, yang Allah Ta’ala telah berfirman tentangnya:

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاء

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang berada di bawah (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya” (QS.An-Nisaa`: 116).

Pengetahuan tentang syirik bisa didapatkan dengan memahami empat kaidah yang telah Allah Ta’ala sebutkan dalam Kitab-Nya.

Kaidah pertama:

القَاعِدَةُ الأُوْلَى: أَنْ تَعْلَمَ أَنَّ الْكُفَّارَ الَّذِيْنَ قَاتَلَهُمْ رَسُوْلُ اللهِ يُقِرُّوْنَ بِأَنَّ اللهَ تَعَالَى هُوَ الخَالِقُ المُدَبِّرُ، وَأَنَّ ذٰلِكَ لَمْ يُدْخِلْهُمْ في الإسْلامِ، والدَّلِيْلُ: قَوْلُهُ تَعَالَى﴿قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنْ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنْ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنْ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ﴾[يونس:31

Hendaknya engkau mengetahui bahwa orang-orang kafir yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam perangi, mereka semua mengakui bahwa Allah Ta’ala adalah Pencipta dan Pengatur Alam Semesta. Namun, pengakuan mereka ini tidaklah dapat memasukkan mereka ke dalam Islam. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang Kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup serta siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka Katakanlah “Mengapa kamu tidak bertakwa  (kepada-Nya)?” (QS. Yunus [10] : 31 )

Baca Juga: Islam, Nama dan Esensi

Orang-orang kafir yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam perangi, mereka semua mengakui tauhid rububiyah (mengakui Allah sebagai pencipta dan pemberi rezeki). Namun pengakuan mereka ini tidaklah memasukkan mereka ke dalam islam, tidaklah diharamkan darah dan harta mereka.

Hal ini menunjukkan bahwa  tauhid bukanlah pengakuan dalam perkara rububiyah saja dan syirik bukanlah syirik dalam perkara rububiyah saja. Bahkan tak ada seorangpun yang mengingkari tauhid rububiyah kecuali makhluk yang penuh dengan keragu-raguan. Setiap orang pasti mengakui tauhid yang satu ini.

Tauhid rububiyah adalah mengakui bahwa Allah adalah Pencipta, Pemberi rizki, Yang Menghidupkan, Yang Mematikan, Pengatur (Alam Semesta). Defenisi lainnya, tauhid rububiyah adalah mengesakan Allah dalam perbuatan-Nya.

Tidaklah seorang makhluk pun yang mengakui bahwa ada pencipta selain Allah,  Pemberi rizki selain Allah, atau Yang menghidupkan dan mematikan selain-Nya. Bahkan orang-orang musyrik mengakui bahwa Allah adalah Pencipta, Pemberi rizki, Yang Menghidupkan, Yang Mematikan, dan Pengatur (Alam Semesta ). Perhatikanlah firman Allah Ta’ala,

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ

”Dan Sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” tentu mereka akan menjawab: “Allah“.(QS. Luqman [31] : 25 ).

Allah Ta’ala juga berfirman,

قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ (86) سَيَقُولُونَ لِلَّهِ

“Katakanlah: “Siapakah yang Empunya langit yang tujuh dan yang Empunya ‘Arsy yang besar?”. Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah”. (QS. Al Mu’minun [23] : 86-87 ). Bacalah akhir surat Al Mu’minun, niscaya engkau akan dapati bahwa orang-orang musyrik mengakui tauhid rububiyah. Demikian juga halnya dalam surat Yunus, Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنْ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنْ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنْ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ

“Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang Kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka Katakanlah “Mengapa kamu tidak bertakwa  (kepada-Nya)?” (QS. Yunus [10] : 31 ). Mereka (orang-orang musyrik) telah mengakui sifat-sifat rububiyah ini.

Ingatlah, tauhid bukanlah hanya tauhid rububiyah saja, sebagaimana yang diyakini oleh ahli kalam dan ahli logika yang mereka nyatakan sebagai aqidah mereka. Orang-orang semacam ini hanya mengakui tauhid adalah pengakuan bahwa Allah adalah Pencipta, Pemberi rizki, Yang Menghidupkan, dan Yang Mematikan. Di antara perkataan mereka adalah “Allah itu Esa dalam Dzat-Nya dan tidak terbagi. Allah itu Esa dalam sifat-Nya dan tidak ada yang serupa dengan-Nya. Allah itu Esa dalam perbuatan-Nya dan tidak ada sekutu bagi-Nya”. Semua ini yang disebutkan oleh mereka (ahli kalam) adalah sebatas pada tauhid rububiyah saja. Kalian silakan merujuk pada kitab-kitab mereka. Kalian akan mendapati bahwa definisi mereka terhadap tauhid tidaklah lepas dari tauhid rububiyah saja.

Baca Juga: Janji Sebelum Segala Janji

(Perlu diketahui bahwa) tauhid rububiyah bukanlah tauhid yang Allah minta untuk disampaikan melaui pengutusan Rasul. (Juga perlu diketahui bahwa) pengakuan terhadap tauhid ini semata tidak akan bermanfaat bagi pelakunya. Karena pengakuan semacam ini juga diakui oleh orang musyrik dan orang kafir. Dan hal ini tidak mengeluarkan mereka (orang-orang musyrik) dari kekafiran lalu memasukkan mereka dalam Islam. Mengenai tauhid ini saja termasuk kesalahan yang besar.

Barangsiapa yang hanya meyakini tauhid rububiyyah semata, maka itu tidak lebih dari aqidah Abu Jahal dan Abu Lahab. Namun sayang, inilah yang diyakini oleh para intelektual muslim saat ini, mereka hanya mengakui tauhid rububiyah saja dan tidak sampai beranjak kepada tauhid uluhiyah. Ini adalah kekeliruan yang sangat besar dalam pendefenisian tauhid.

Adapun syirik, mereka (ahli kalam) mengatakan, “Syirik adalah meyakini adanya pencipta dan pemberi rizki selain Allah“. Maka kita katakan , “Ini adalah perkataan Abu Jahal dan Abu Lahab.” Pembesar musyrik Quraisy ini tidaklah mengatakan, ”Sesungguhnya ada pencipta dan pemberi rizki selain Allah.” Bahkan yang mereka akui yaitu : Allah adalah Pencipta, Pemberi rizki, Yang Menghidupkan dan Yang Mematikan. (Redaksi/Akidah)

 

Tema Terkait: Akidah, Tauhid, Rububiyyah

 

Kawan tapi Lawan

Banyak orang bilang, persahabatan itu butuh pembuktian, pengorbanan untuk sang kawan. Yang karenanya, kita rela mengorbankan sesuatu untuk sang kawan. Tapi apakah setiap orang yang mengharap pengorbanan kita itu benar-benar kawan? Jika sang kawan itu menuntut pengorbanan iman dan menanggalkan keyakinan, sesungguhnya dia bukanlah kawan, tetapi lawan. Karena yang dianggap kawan itu justru menjerumuskan kita kepada kesengsaraan dan penyesalan. Seperti apa yang Allah kisahkan dalam firman-Nya,

“Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan jadi teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari al-Qur’an, ketika al-Qur’an telah datang kepadaku. Dan syaitan itu tidak akan menolong manusia”. (QS. Al-Furqan: 28-29)

Imam Ath Thabary rahimahullah menjelaskan bahwa di dalam ayat ini Allah menyebutkan tentang kondisi orang yang menzalimi diri sendiri dan menyekutukan Rabbnya, kelak di hadapan-Nya dia sangat menyesal atas apa yang ia lakukan semasa di dunia. Dan ia juga mencela dirinya, menyalahkan dirinya karena telah mematuhi teman-teman akrabnya yang telah menyesatkannya dari jalan Allah. Ayat ini diturunkan berkenaan dengan ‘Uqbah bin Abi Mu’ith yang telah murtad setelah ia masuk Islam karena mengharapkan keridhoan teman akrabnya Ubay bin Khalaf. Yakni ketika Uqbah duduk di sisi Nabi Shalallaahu alaihi wasalam dan mendengarkan ucapan beliau, lalu Ubay bin Khalaf memakinya dan dia terus memaki Uqbah, hingga akhirnya dia pun murtad dari Islam untuk menghindar dari cacian Ubay bin Khalaf, ia lebih condong kepada apa yang diinginkan kawannya daripada apa yang dikehendaki oleh Allah.

Disangka Kawan

Ayat ini tak hanya berlaku khusus bagi Uqbah dan Ubay, namun bagi siapapun yang menjalin persahabatan dengan temannya, hingga ke tingkat akrab yang dapat memberikan pengaruh dalam sikap dan perilakunya, bahkan mengorbankan keimanannya demi keinginan kawannya. Maka hakikatnya yang dianggap kawan itu adalah lawan. Karena pengorbanan terhadapnya demi mendapatkan ridhanya tak berbuah selain sengsara. Pun kawan yang menjerumuskan itu tak mampu menolongnya dari siksa. Seperti setan yang membujuk manusia untuk kufur lalu tidak mau bertanggung jawab terhadap akibatnya.

Baca Juga: Teman Beda Agama 

“Seperti (bujukan) setan ketika dia berkata kepada manusia, “Kafirlah kamu”, maka tatkala manusia itu telah kair, maka ia berkata, “Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta alam.” (QS. al-Hasyr: 16).

Ada lagi yang mengatakan, bahwa kawan adalah yang membersamaimu dalam suka dan duka; senang ketika kamu senang, menghiburmu di saat susah. Namun apakah setiap orang yang berperilaku kepada kita sedemikian rupa benar-benar menjadi kawan sejati? Tidak, bahkan sebagiannya adalah musuh. Jika ia senang melihatmu terjerumus dalam kesenangan yang mengandung dosa, maka sejatinya dia adalah musuh dan bukan kawan. Rasa senang yang ditampakkannya akan semakin membuatmu semakin semangat dalam bermaksiat. Makin percaya bahwa apa yang andai peroleh itu sah-sah saja, bahkan utama. Padahal itu adalah perkara yang mengandung dosa. Seperti ucapan selamat kepada teman yang memiliki pacar baru, atau kepada rekan yang ‘sukses’ dengan bisnis riba atau pendapatan haram yang lain. Atau seperti turut kegirangan saat kawannya memenangkan suatu perjudian. Termasuk juga ketika kawannya berhasil menyakiti orang lain secara zhalim.

Terlebih jika ia turut mendukung dan membantu mewujudkan suatu keinginan yang bertentangan dengan syariat, maka ini termasuk praktik ta’aawun ‘alal itsmi wal ‘udwan, bersekongkol dalam dosa dan permusuhan yang jelas dilarang oleh Allah.

Ternyata adalah Lawan

Tidak setiap orang yang mendukungmu untuk meraih keinginanmu itu layak dijadikan kawan. Sebagian bahkan layak untuk disebut sebagai musuh atau lawan. Pada saat terlintas keinginan pada kesenangan nisbi yang mematikan hati, yang diperlukan saat itu adalah teman yang bias ‘ngerem’ dan menyadarkan kekhilaanmu. Tapi jika yang hadir itu justru mendorongmu untuk terus maju, maka sebenarnya dia adalah musuhmu. Seperti Haman di sisi Fir’aun, seorang teknolog yang mewujudkan keinginan-keinginan Fir’aun untuk berlaku sewenang-wenang dan ingkar kepada Allah, maka hakikatnya Haman itu adalah musuh bagi Fir’aun, karena menjadi sebab Fir’aun terus dengan tindakannya yang melampaui batas.

Sama saja dengan para penguasa dari zaman ke zaman, ketika kesewenangan dan kekafirannya disahkan dan didukung oleh para tokoh dan bawahannya, maka sebenarnya mereka itu menjadi musuh satu sama lain yang saling menjerumuskan kepada kebinasaan dan kesengsaraan.

Baca Juga: Berteman Dengan Orang-Orang Shalih

Maka tidak setiap orang yang mendukungmu itu bisa dianggap sebagai kawan. Bahkan Iblis pun berlagak empati lalu memberi ‘nasihat’ dan dukungan kepada Adam alaihissalam. Iblis tahu, betapa Adam ingin terus hidup di surga sebagaimana Iblis juga tahu betapa penasarannya Adam terhadap pohon yang dilarang oleh Allah meski sekedar didekati, apalagi untuk dinikmati. Melihat celah itu, mulailah Iblis beraksi. Ia melakukan ‘cuci otak’ terhadap Adam dengan hembusan yang memperdayakan, yang seakan dia berada di pihak Adam. Iblis sebut pohon larangan itu sebagai syajaratul khuldi, pohon kekekalan. Ini seperti yang Allah kisahkan,

“Kemudian setan membisikan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata, “Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa” (QS. Thaha: 120)

Iblis juga meyakinkan bahwa ia berada di pihak Adam dan bahwa dirinya sebagai kawan hanya bisa menasihati,

“Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya, “Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasihat kepada kamu berdua.” (QS al-A’raf: 21)
Lalu merasuklah racun pemikiran itu di benak Adam, ia pun tersihir oleh kata-kata Iblis dan menganggap Iblis berada di pihaknya, ingin dirinya tetap berada di dalam surga, hingga kemudian Adam melakukan usulan Iblis yang berbuah penyesalan tiada tara. Maka jelaslah akhirnya, bahwa Iblis adalah musuh yang nyata bagi Adam dan keturunannya.

Sekarang Kawan Nanti Menjadi Lawan

Tanpa kita harus berlaku su’uzhan kepada orang di sekitar kita, tapi hendaknya kita tetap waspada siapa orang-orang yang berada dekat dengan kita. Jangan sampai kecolongan menjadikan orang yang menjerumuskan kita kepada dosa sebagai kawan. Apalah artinya keakraban di dunia jika nantinya menjadi musuh yang akan saling mencela dan menyakiti di akhirat. Apalah artinya senang bersama di dunia jika berakhir dengan penderitaan neraka selamanya.  

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.”(QS. az-Zukhruf: 67)

Syeikh as-Sa’di dalam tafsirnya Taisir al-Kariimir Rahman menjelaskan bahwa jika kasih sayang dalam persahabatan yang kita jalin dengan teman kita bukan didasari karena Allah, maka kelak hal itu akan berbalik menjadi permusuhan di hari kiamat. Apalagi jika teman kita itu mengajak dan menjerumuskan kita ke dalam perbuatan-perbuatan yang dimurkai oleh Allah seperti kesyirikan dan kemaksiatan, maka bisa dipastikan dia akan menjadi musuh yang nyata bagi kita di hari kiamat.

Adapun Imam al-Baghawi dalam Tasir al-Baghawi menyebutkan bahwa kelak orang-orang yang berteman di atas kemaksiatan dan kesesatan akan berkata, “Wahai Rabb-ku, sesungguhnya si fulan dahulu mencegahku untuk berbuat taat kepada-Mu dan kepada Rasul-Mu, dan ia (justru) menyuruhku untuk berbuat dosa dan melarangku dari berbuat kebaikan. Dia juga mengabarkan kepadaku bahwa kelak aku tidak akan pernah bertemu dengan-Mu. Lalu ia berkata, “Alangkah ia seburuk-buruk saudara, sejahat-jahat sahabat dan sejelek-jelek teman.”

Maka jangan salah memilih kawan jika tak ingin berbuah penyesalan (Abu Umar Abdillah/Pertemanan/Muthalaah

 

Tema Terkait: Pertemanan, Keimanan, Muthalaah

Yang Menyenangkan Tak Selalunya Haram

Al-Haula’ adalah istri seorang lelaki shalih, shahabat Rasulullah, Utsman bin Mazhun. Lama sudah Haula tak merasakan sentuhan suaminya semenjak sang suami memutuskan untuk meninggalkan segala bentuk kenikmatan dunia, termasuk berkumpul bersama istrinya. Suatu ketika ummul Mukminin Aisyah bertanya kepadanya, “Ada apa denganmu wahai Haula’? Kenapa kamu berubah? Kamu tak lagi menyisir rambutmu dan tidak berhias.” Ia menjawab, “Untuk apa saya menyisir rambut dan berhias sementara sudah lama suami saya tak lagi memedulikan saya.”

Ketika Rasulullah mengetahui keadaan tersebut, beliau mengutus shahabat untuk menjumpai Utsman dan mengonfirmasi kabar tersebut. “Ada apa denganmu wahai Utsman?” tanya sang utusan. Utsman menjawab, “Saya meninggalkannya karena Allah supaya bisa berkonsentrasi dalam beribadah.” Utusan itu pun menemui Rasulullah dan menyampaiakan tentang kondisi Utsman yang mengekang jiwanya dan hanya ingin beribadah.

Rasulullah bersabda, “Saya akan menyiksamu kecuali jika kamu kembali kepada keluargamu.” Utsman menjawab, “Saya puasa (sunnah) ya Rasulullah.” “Berbukalah,” tegas Rasulullah, maka Utsman pun menaatinya.

Kemudian Haula’ mendatangi ibunda Aisyah dengan rambut yang telah tersisir dan wajah yang tampak telah berhias. “Apa yang terjadi?” tanya ibunda Aisyah. “Saya telah mendapatkan kebenaran sebagaimana yang diperoleh orang lain.”

Baca Juga: Melunasi Cicilan Barang Haram

Islam bukanlah agama kerahiban yang menghalangi pemeluknya untuk menikmati hal-hal yang indah dan menyenangkan. Islam mengakomodir fitrah manusia selama hal itu baik dan dihalalkan oleh Allah serta sesuai dengan kadar kemanusiaanya. Bila demikian, aktifitas tersebut akan menjadi perilaku baik dan Allah tidak akan menyiksa pelakunya karena aktifitas tersebut lebih dekat pada kemuliaan.

Allah tidak mengharamkan perhiasan selama tidak menimbulkan gejolak di dunia dan madharat untuk akhirat. Penulis kitab Nidaaaturrahman li ahlil iman, menuliskan bahwa senang terhadap perhiasan merupakan sebab utama munculnya peradaban. Ia akan melahirkan gairah untuk mengetahui sunatullah dan tanda-tanda keagungan-Nya yang fenomenal. Hal ini tentunya tidak tercela. Yang perlu menjadi perhatian, jangan sampai berebih-lebihan dalam memanfaatkannya dan lupa bersyukur kepada yang memberi nikmat. Salah satu bentuk berlebih-lebihan adalah sibuk dengan kenikmatan dunia sampai lupa beribadah kepada Allah.

Allah bahkan mewajibkan umat Islam untuk menggunakan perhiasan dalam firman-Nya,

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?” Katakanlah: “Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat”. Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui.” (QS. Al-a’raf: 31-32)

Allah mengisyaratkan bentuk-bentuk kesenangan yang dihalalkan dalam firman-Nya,

“Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan; dan diharamkan atasmu (menangkap) binatang buruan darat, selama kamu dalam ihram. Dan bertakwalah kepada Allah Yang kepada-Nya-lah kamu akan dikumpulkan.” (QS. Al-Maidah: 96).

 

Jangan mengharamkan hal yang dihalalkan.

Rasulullah diutus oleh Allah untuk mengubah tradisi dan kebiasaan umat sebelumnya yang berlebihan dalam masalah ini hingga seolah ibadah kepada Allah hanya dapat diperoleh ketika manusia meninggalkan semua kesenangan duniawinya. Para rahib Yahudi dan pastur Nasrani, bahkan dilarang untuk menikah. Islam mengubah standar yang telah mereka lebih-lebihkan, memberikan petunjuk agar memberikan hak yang seimbang bagi badan dan ruh. Diantara sifat Nabi Muhammad adalah, “menghalalkan yang baik dan mengharamkan yang buruk.” (QS. Al-A’raf: 157).

Allah berfirman dalam surat al-Maidah: 87,

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُحَرِّمُوا طَيِّبَاتِ مَا أَحَلَّ اللَّـهُ لَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا ۚ إِنَّ اللَّـهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ( ٨٧

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”

 

Sufisme bukan budaya Islam

Perbuatan berlebih-lebihan dalam menjaga diri hingga mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah masih dianut oleh beberapa kalangan kaum sufi. Sebagian mereka melarang dirinya dari memakan daging dan mencukupkan diri dengan sayuran (vegetarian). Mereka percaya konsumsi daging akan mengikis sifat welasasih dan memunculkan sikap kebinatangan.   

Imam at-Thabari menjelaskan, “tidak boleh seorang muslim mengharmkan bagi dirinya apa yang terlah dihalalkan oleh Allah termasuk makanan, pakaian, dan pernikahan. Sebab hal ini akan menjerumuskan dalam kesulitan.”

Oleh karenanya, Rasulullah melarang Utsman bin Mazhun yang menelantarkan istrinya. Rasulullah juga menetapkan bahwa tidak ada keutamaan apa-apa bagi orang yang meninggalkan apa yang dihalalkan Allah. Keutamaan dan kebaikan akan diperoleh dengan mengerjakan apa yang dianjurkan oleh Allah, mengamalkan apa yang dikerjakan oleh Rasulullah, serta mengikuti para salafus shalih.

Baca Juga: Iman, Butuh Bukti Bukan Hanya Teori

At-thabari juga mengatakan, “jika sesorang menyangka bahwa kebaikan adalah dengan meninggalkan semua yang dihalalkan Allah maka persangkaan itu salah besar. Karena yang paling utama untuk dilakukan manusia adalah memperbaiki dan memenuhi kebutuhan dirinya agar bisa berkonsentrasi beribadah kepada Allah. Tiada yang lebih berbahaya baginya selain memakan makanan yang buruk dan tidak bergizi karena justru akan merusak akal dan melemahkan anggota badan.”

Suatu kali seseorang datang kepada Hasan al-Bashri dan berkata, “saya mempunyai tetangga yang tidak mau makan manisan.” Kemudian Hasan al-Bashri bertanya, “kenapa?” Orang itu menjawab, “Katanya karena ia tidak mampu mensyukuri nikmat itu kepada-Nya.” Kemudian beliau menimpali, “Apakah dia minum air dingin?” “Ya,” jawabnya. Kemudian beliau berkata, “tetanggamu itu bodoh, sesungguhnya mensyukuri nikmat Allah yang terdapat pada air dingin lebih besar daripada mensyukuri nikmat Allah yang terdapat pada manisan.”

Suatu hari imam al-Auzai bertemu Ibrahim Bin Adham yang merupakan ahli ibadah sedang membawa kayu bakar di pundaknya. Auzai berkata, “Ya Abu Ishak, sampai kapan engkau melakukan hal ini?” ia menjawab, “Semua temanmu melakukan ini.”

Ia kemudian berkata, “Coba perhatika wahai Abu Umar, aku mendengar sebuah riwayat bahwa barang siapa menafkahkan hartanya untuk memeroleh sesuatu yang halal maka berhak mendapat surga.” (Redaksi/Akidah/Salaf)

 

Tema Terkait: Akidah, Halal, Haram