Tiga Cara Manusia Dihisab Sebelum Masuk Surga

86

Di dunia ini tidak ada dua orang beriman yang memiliki derajat keimanan yang sama. Sejuta orang beriman, sejuta pula tingkat keimanan mereka. Namun demikian, hanya ada tiga cara, bagaimana mereka akan masuk surga di hari akhir kelak. Ketiga cara itu adalah: masuk surga tanpa hisab, masuk surga dengan hisab yang ringan, dan masuk surga dengan hisab yang berat. Masing-masing orang yang beriman dipersilakan memilih salah satunya, dan tidak ada sesuatu pun yang memaksa mereka untuk memilihnya. Tidak juga Allah, karena Dia telah berfirman,

إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا

Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir. (QS. al-Insan: 3)

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ

Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar. (QS. Fathir: 32)

Ayat di atas juga menjelaskan bahwa mereka yang masuk surga tanpa hisab disebut dengan sabiq bilkhairat, mereka yang masuk surga dengan hisab yang ringan disebut muqtashid, dan mereka yang masuk surga setelah hisab yang berat disebut zhalim linafsih.

Jumlah mereka yang masuk surga tanpa hisab ini lebih sedikit dibandingkan mereka yang masuk surga dengan hisab, baik yang ringan ataupun yang berat. Demikian Ibnu Katsir menyitir pendapat ulama dalam tafsir beliau.

 

Masuk Surga Tanpa Hisab

Sabiq bilkhairat, yang akan masuk surga tanpa hisab, secara bahasa berarti orang yang bersegera menuju kebaikan. Mereka adalah orang-orang yang aqidahnya lurus tiada tercampuri kemusyrikan. Tentang mereka dan kemurnian tauhid mereka yang menjadi syarat utama, Rasulullah ﷺ bersabda,

يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِي سَبْعُونَ أَلْفًا بِغَيْرِ حِسَابٍ هُمُ الَّذِينَ لاَ يَسْتَرْقُونَ وَلاَ يَتَطَيَّرُونَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ (رواه البخاري ومسلم)

Akan masuk surga tanpa hisab 70.000 orang dari ummatku. Mereka adalah orang-orang yang tidak meminta untuk diruqyah, tidak melakukan tathayyur, dan hanya bertawakkal kepada Allah. (HR.  al-Bukhari dan Muslim)

Baca Juga: Keadaan Manusia yang Terakhir Kali Masuk Surga

Ibnu Taimiyyah dalam Fatawa vol. VII menjelaskan bahwa mereka juga orang-orang yang melaksanakan semua kewajiban yang Allah bebankan dan menjauhi semua larangan-Nya. Selain itu, sisa waktu yang mereka miliki, mereka isi dengan amalan sunnah. Yang makruh? Jangankan yang makruh, untuk yang mubah pun mereka pilih-pilih demi menjaga diri dari terjerumus kepada yang haram.

 

Masuk Surga Dengan Hisab yang Ringan

Muqtashid berarti orang yang sedang, tidak buruk dan tidak istemewa. Perbedaan mereka dengan sabiq bilkhairat pada amalan sunnah dan sikap mereka terhadap yang makruh dan yang mubah. Untuk semua kewajiban dan larangan, muqtashid memenuhi aturan Allah sebagaimana mestinya. Begitu pula dengan aqidahnya.

Tentang hisab yang akan mereka jalani Rasulullah saw bersabda,

لَيْسَ أَحَدٌ يُحَاسَبُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلاَّ هَلَكَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَيْسَ قَدْ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى ( فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا ) فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُمَّ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا ذَلِكِ الْعَرْضُ وَلَيْسَ أَحَدٌ يُنَاقَشُ الْحِسَابَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلاَّ عُذِّبَ (رواه البخاري ومسلم)

“Setiap orang yang menjalani hisab pada hari kiamat pasti celaka.”Aku pun bertanya, “Wahai Rasulullah, bukankah Allah ta’ala telah berfirman, Barangsiapa menerima kitabnya dengan tangan kanannya, maka ia akan dihisab dengan hisab yang ringan.’” Beliau saw menjawab, “Hanyasanya itu adalah al-‘aradl (sekedar diperlihatkan), dan tidak ada seorang pun menghadapi hisab pada hari kiamat kecuali ia akan diadzab.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

 

Masuk Surga Dengan Hisab Yang Berat

Zhalim linafsih atau orang yang menzhalimi diri sendiri adalah orang yang tahu adanya kewajiban dan larangan, namun mereka sengaja melanggarnya, dan lalu ia meninggalkan dunia sebelum sempat bertaubat dari dosa itu (selain syirik dan kufur akbar). Lalu di akhirat, status mereka adalah tahtal masyiah (tergantung kepada kehendak Allah); jika Allah menghendaki bisa saja mereka langsung mendapatkan ampunan, dan jika Allah menghendaki lainnya, maka mereka mesti disucikan dulu di atas api neraka. Dalam hal ini Allah berfirman,

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. (QS. an-Nisa`: 116)

Kepastian masuknya zhalim linafsih ke dalam surga dapat dilihat secara jelas dan tegas dari kandungan dua hadits berikut ini.

إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ وَأَهْلُ النَّارِ النَّارَ يَقُولُ اللَّهُ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ مِنْ إِيمَانٍ فَأَخْرِجُوهُ فَيَخْرُجُونَ قَدِ امْتُحِشُوا وَعَادُوا حُمَمًا فَيُلْقَوْنَ فِي نَهْرِ الْحَيَاةِ فَيَنْبُتُونَ كَمَا تَنْبُتُ الْحَبَّةُ فِي حَمِيلِ السَّيْلِ أَوْ قَالَ حَمِيَّةِ السَّيْلِ وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُمَّ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلَمْ تَرَوْا أَنَّهَا تَنْبُتُ صَفْرَاءَ مُلْتَوِيَةً  (رواه البخاري ومسلم)

Apabila penghuni surga telah masuk surga dan penghuni neraka telah masuk neraka, Allah akan berfirman, “Barangsiapa di hatinya ada seberat biji sawi keimanan, keluarkanlah ia (dari neraka)!” Maka mereka akan keluar dalam keadaan hangus dan menghitam legam, kemudian mereka akan dilemparkan ke nahrul hayah (sungai kehidupan), lalu mereka akan tumbuh seperti tumbuhnya biji yang dibawa aliran air.” Lalu beliau melanjutkan, “Tidakkah kalian tahu bahwa biji tumbuh berwarna kuning dan meliuk.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

يَخْرُجُ قَوْمٌ مِنَ النَّارِ بَعْدَ مَا مَسَّهُمْ مِنْهَا سَفْعٌ فَيَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ فَيُسَمِّيهِمْ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَهَنَّمِيِّينَ  (رواه البخاري ومسلم)

Akan keluar dari neraka satu kaum setelah mereka terjilat oleh apinya, lalu mereka masuk ke dalam surga. Para penghuni surga menamai mereka dengan al-jahannamiyyun (mantan penghuni jahannam). (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Baca Juga: Meminta Surga Yang Paling Utama

Sebenarnyalah jika saja seseorang melanggar aturan Allah lalu ia bertaubat dengan tulus (baca: taubat nashuha) maka paling kurang ia masuk kategori muqtashid, dan akan masuk surga dengan hisab yang ringan. Bukankah Rasulullah ﷺ pun beristighfar sesedikitnya 70 kali dalam sehari-semalam?

Penutup

Tentu saja faktor anugerah Allah dan keadilan-Nya berhubungan erat dengan ketiga cara masuk surga ini. Jelas-jelas Rasulullah ﷺ bersabda,

لَنْ يُنَجِّيَ أَحَدًا مِنْكُمْ عَمَلُهُ قَالُوا وَلاَ أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ وَلاَ أَنَا إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللَّهُ بِرَحْمَةٍ (رواه البخاري ومسلم)

“Sekali-kali amal seseorang dari kalian tidak akan menyelamatkannya.” Para sahabat bertanya, “Tidak juga dirimu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Tidak juga aku, namun karena aku dinaungi Allah dengan rahmat(-Nya) (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Akhirnya, termasuk kategori yang mana pun masing-masing kita ~menurut pandangan kita sendiri~ selayaknya menyimak atsar yang dicantumkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsir beliau terhadap ayat ke-32 dari surat Fathir ini, supaya kita tidak tertimpa ‘ujub (bangga diri) atau ghurur (tertipu).

‘Uqbah bin Shahban al-Hanna`iy pernah bertanya kepada ummul mukminin, ‘Aisyah ra tentang siapakah yang dimaksud oleh Allah dalam surat Fathir ayat 32. Ibunda ‘Aisyah menjawab, “Wahai anakku, mereka semua akan masuk surga. Sabiq bilkhairat adalah mereka yang telah mendahului kita di masa Rasulullah ﷺ dan beliau menjanjikan surga bagi mereka. Muqtashid adalah para sahabat Nabi yang senantiasa meneladani beliau. Zhalim linafsih adalah orang-orang seperti diriku dan dirimu.” Wallahu a’lam.

 

Oleh: Ust. Imtihan as-Syafi’i/Akidah Islam