Khutbah Iedul Adha 1441 H: Memaknai Takbir

Khutbah Iedul Adha 1441H:
Memaknai Takbir

إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بالله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إله إلا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

يَاأَيُّهاَ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ الله كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

أمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ الله وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه و سلم وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ.

اللَّهُ أَكْبَرُ ، اللَّهُ أَكْبَرُ ، لا إله إلا الله ، اللَّهُ أَكْبَرُ ، اللَّهُ أَكْبَرُ ولله الحمد…  اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا لا إله إلا الله ، اللَّهُ أَكْبَرُ ، اللَّهُ أَكْبَرُ ولله الحمد وَلَا نَعْبُدُ إلَّا اللَّهَ مُخْلِصِينَ له الدَّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

 

Jamaah shalat Ied Rahimakumullah

Pada pagi yang berbahagia ini, marilah kita tingkatan rasa syukur kita kepada Allah atas segala nikmat-Nya yang dilimpahkan kepada kita, nikmat sehat dan kesempatan sehingga kita bisa hadir di sini melaksanakan sholat Idul Adha berjama’ah, mudah-mudahan langkah kita diberkahi oleh Allah Amien. Tidak lupa, kita bersyukur juga kepada Allah atas nikmat yang paling besar dalam hidup kita, yaitu nikmat Iman dan Islam. Nikmat hidayah, hidup di atas jalan kebenaran yang tidak mungkin digantikan dengan apapun dari kehidupan dunia ini. Allah berfirman,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“ Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu. “ (Qs. al-Maidah: 3)

Jamaah shalat ied Rahimakumullah

Hari ini kalimat takbir menggema diseluruh penjuru dunia. Gema takbir menyadarkan kita akan kebesaran Allah dan betapa kerdil dan lemahnya kita sebagai manusia.

Kalimat takbir, Allahu Akbar, Allah Mahabesar, merupakan kalimat yang luar biasa dan diberkahi. Allah adalah Dzat yang Mahatinggi, Dia Mahabesar dan tidak ada yang lebih besar dari-Nya. Dia adalah Raja yang segala sesuatu tunduk kepada-Nya.

Takbir merupakan proklamasi atas kemahabesaran Allah dan ketundukan diri dari kesombongan dan keangkuhan.

Allah Mahabesar dari segala sesuatu secara Dzat, kemampuan, dan ketetapannya. Makna yang agung tersebut menghadirkan kepercayaan diri bagi seorang muslim. Ia akan selalu berprasangka baik kepada Allah. Rintangan tak akan menghentikan langkahnya. Ancaman tak akan membuatnya takut. Apa yang terlewat tak membuatnya merasar. Allahu Akbar, Allah yang Mahabesar, Mahakuasa, dan Mahapenyayang tidak akan membiar khasyahnya, harapannya, dan cintanya kepada sang pencipta. Ia pun takut bermaksiat dan selalu berusaha untuk taat dan tunduk pada syariat.

Jamaah shalat ied Rahimakumullah

Keyakinan atas kemahabesaran Allah mematrikan tsiqah dan ketenangan.

ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّـهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِن دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّـهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

“Kuasa Allah yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Rabb) yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah itulah yang batil dan sesungguhnya Allah Dialah yang Mahatinggi dan Mahabesar.” (QS. Al-hajj: 62).

Dialah Allah yang Mahatinggi dan Mahabesar. Tiada yang dizalimi dengan hukumnya. Dia memuliakan orang yang dikehendakinya dan merendahkan orang yang dikehendaki. Semua makhluk kecil dihadapan keagungan-Nya.

Iman dan keyakinan kepada kebesaran dan keagungan Allah menjadikan lisan senantiasa berdzikir, bersyukur, dan memuji-Nya. Menggerakkan anggota badan untuk mengagungkan, mencintai, dan tunduk kepadanya dengan ibadah.

Allahu akbar, Allahu akbar, la ilaha illallah Allahu akbar

Allahu akbar, adalah pekik perjuangan. Para pahlawan memekikkannya di medan-medan pertempuran. Dengannya mereka merasakan kekuatan, kemuliaan, kebanggaan, dan keikhlasan.

Khalid bin walid memimpin perang Yarmuk dengan pekik takbir. Shalahuddin al-Ayyubi menaklukkan al-Quds dengan pekik takbir. Muhammad al-Fatih membebaskan konstantinopel dengan pekik takbir. Diponegoro memimpin perang jawa dengan pekik takbir. Bung Tomo memimpin perang 10 November di Surabaya dengan pekik takbir.

Dan kelak, jamaah Rahimakumullah. Di akhir zaman, takbir menjadi senjata pamungkas untuk mengalahkan musuh.

Rasulullah bersabda, “Kiamat tidak akan terjadi hingga Konstantinopel diserbu oleh 70 ribu orang dari bani Ishak. Begitu mereka mendatangi kota tersebut, mereka hanya singgah tanpa menyerang dengan senjata maupun menembakkan sebatang panah. Mereka mengucapkan Lailahaillallah wallahu akbar tiba-tiba takluklah bagian kota yang berada di laut. Kemudian mereka mengatakan lagi Lailahaillallah wallahu akbar takluklah bagian kota yang berada di darat. Lalu mereka mengucapkan kembali Lailahaillallah wallahu akbar dan terbukalah bagi mereka gerbang kota bagi mereka. Mereka pun masuk dan mendapatkan banyak ghanimah.

Allahu akbar adalah kalimat hebat dalam sejarah. Kalimat yang menjadikan segala sesuatu tampak kecil. Tidak ada musuh yang besar. Tidak ada kekuasaan yang besar. Tidak ada tirani yang besar. Semuanya kecil dihadapan Allah.

Allahu akbar, Allahu akbar, la ilaha illallah Allahu akbar

Allahu akbar adalah kalimat yang agung dan menjaga. Jika setan mendengarnya ia menjadi kecil, hina, dan lemah. Keagungan Allah menekan pengaruh setan. Rasulullah menyebutkan dalam hadits bahwa Saat adzan berkumandang yang diawali dengan kalimat takbir maka setan pun lari terkentut-kentut. Maka saat setan berkeliaran bertakbirlah maka ia akan lari tunggang langgang.

Takbir adalah dzikir yang mulia dan ibadah yang besar. Allah memerintahkan hamba-Nya untuk bertakbir dan mencintai takbir. “Dan Rabbmu agungkanlah.” (QS. al-Mudatsir: 3). Allah juga berfirman, “Dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya.” (QS. Al-Isra: 111)

Allahu akbar, Allahu akbar, la ilaha illallah Allahu akbar

Dengan takbir, mengagungkan Asma’-Nya, kesedihan larut, bencana / kesusahan hilang, kekhawatiran terangkat, kesulitan tersingkap. Dengan takbir, kehidupannya akan lapang dan penyakitnya disembuhkan. Umar berkata, “ucapan seorang hamba, Allahu akbar lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (tafsir Qurtubi)

Maha benar Allah yang berfirman,

وَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّـهِ الَّذِي لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُن لَّهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُن لَّهُ وَلِيٌّ مِّنَ الذُّلِّ ۖوَكَبِّرْهُ تَكْبِيرًا

“Dan katakanlah, ‘Segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan Agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya.” (QS. Al-Isra: 111)

Wabah yang melanda bangsa kita juga merupakan bukti keagungan Allah yang maha besar dan betapa lemah dan kecilnya manusia. Mahluk kecil berupa virus mampu memporak porandakan tatanan masyarakat. Maka tak layak kita sombong dan hanya Allah sajalah yang layak untuk sombong karena Allah maha Besar. Allahu akbar.

Semoga takbir yang keluar dari lisan kita adalah takbir yang muncul dari dalam hati. Takbir yang tak sekedar gema tanpa makna, namun takbir pengagungan yang melahirkan kesadaran atas lemahnya diri dan keagungan Allah al-Kabir

اللهم لك الحمد كما ينبغي لجلال وجهك وعظيم سلطانك

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والاموات إنك سميع قريب مجيب الدعاء يا قاضي الحاجات

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ  

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ  وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ  وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

 

Download Booklet Sakunya dengan Klik Ini:
Khutbah Iedul Adha 1441H

 

Hukum Jual Kulit Qurban & Memberi Upah Bagi Tukang Sembelih

Sebentar lagi kaum muslimin kedatangan hajat berupa penyembelihan hewan qurban di hari iedul adha. Banyak kaum muslimin yang belum memahami sepenuhnya tentang fikih qurban. Olehnya tidak sedikit yang menyamakan qurban dengan ibadah menyembelih seperti biasa. Padahal tentu beda. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan; di antaranya tentang menjual daging dan kulit hewan qurban dan memberi upah panitia qurban dengan daging. Bagaimana hukumnya? kita simak berikut ini,

Haram hukumnya memberikan daging sembelihan kepada tukang sembelihan sebagai upah baginya, sebagaimana pendapat Imam Malik, Imam Syafi’i dan ahlu ra’yu, sebagaimana sabda Rasulullah:

أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَقُومَ عَلَى بُدْنِهِ وَأَنْ أَتَصَدَّقَ بِلَحْمِهَا وَجُلُودِهَا وَأَجِلَّتِهَا وَأَنْ لَا أُعْطِيَ الْجَزَّارَ مِنْهَا . قَالَ : نَحْنُ نُعْطِيهِ مِنْ عِنْدِنَا

Dari Ali Bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku diperintahkan oleh Rasulullah ﷺ supaya mengurus untanya, serta kulit dan kelasanya (punuk), dan kiranya aku tidak akan memberikan sedikitpun dari binatang udhiyah tersebut kepada tukang sembelih, Ali menambahkan: Kami memberikan upah dari uang pribadi. (HR. Bukhari & Muslim)

Berkaitan dengan menjual daging dan kulit hewan kurban, maka tersebut dalam hadits berikut ini,

Dari Sa’id, sesungguhnya Qatadah bin Nu’man memberitahu kepadanya, bahwa Nabi berdiri lalu bersabda, “Aku pernah memerintahkan kalian agar tidak makan daging udhiyah sesudah tiga hari untuk memberi kelonggaran kepada kamu, tetapi sekarang aku halalkan bagi kalian, karena itu makanlah daripadanya sesukamu. Dan janganlah kamu jual daging hadya dan daging udhiyah, makanlah, sedekahkanlah dan pergunakanlah kulitnya tetapi jangan kamu jual dia, sekalipun sebagian dari dagingnya itu kamu berikan, maka makanlah sesukamu”. (HR. Ahmad )

Al-Qurthubi berkata, “Hadits ini menunjukkan, bahwa kulit binatang udhiyah atau hadya dan punuknya tidak boleh dijual, karena kata julud (kulit) dan Ajillah (punuk) itu ma’thuf (dihubungkan) dengan lahm (daging) jadi hukumnya sama. Para ulama’ sepakat, daging udhhiyah itu tidak boleh dijual. Maka begitu pula kulitnya dan punuknya.

Adapun bila diberikan kepada tukang sembelih karena kefakirannya, atau sebagai hadiah maka tidak mengapa, karena dia juga berhak untuk mengambilnya sebagaimana orang lain. Bahkan, dia lebih pantas untuk menerimanya, karena dia telah mengurusnya dan telah mengorbankan dirinya untuk hal itu. Wallahu a’lam

Oleh: Redaksi/Fikih

Khutbah Iedul Fitri 1440 H: Menjadi Muslim di Segala Musim

MENJADI MUSLIM DI SEGALA MUSIM

Ust. Abu Umar Abdillah/Majalah ar-risalah

Download  versi PDF di sini: Khutbah Iedul Fitri PDF

 

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله

لا اله الا الله و الله أكبر

الله أكبر و لله الحمد

إِنَّ اْلحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ ونستغفره ونستهديه و نتوب اليه ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا من يهدى الله

فلا مضل له ومن يضلله فلا هادي له, أشهد أن لاإله إلا الله وأشهد أن محمدا عبده ورسوله, اللهم صلى على محمد وعلى اله

وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلي يوم الدين

أما بعد, قال تعالى فى القران الكريم, أعوذ بالله من الشيطان الرجيم

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ

وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً

ياأيها الذين امنوا اتقوا الله وقولوا قولا سديدا يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم ومن يطع الله وؤسوله فقد فاز فوزا عظيما

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : فإن أصدق الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم وشر الأمور

محدثتها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وفي رواية أبى داود وكل ضلالة فى النار

 

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar

Laa ilaaha illallah huwallahu akbar

Allahu akbaar walillahil hamdu

 

Jama’ah Shalat Ied yang Dimuliakan Allah

Marilah kita panjatkan segala puji bagi Allah ta’ala yang telah mengumpulkan kita pagi ini dengan menyandang beribu nikmat. Terutama sehat yang merupakan Sayyidun na’imid dunya -nikmat dunia yang paling besar dan nikmat Islam yang merupakan Sayyidun naimil akhirah -nikmat yang paling besar untuk akhirat.

Setiap nikmat, menuntut kita untuk bersyukur. Sedangkan makna syukur adalah ‘tashriifun ni’mah ‘ala muraadi mu’thiihi’, menggunakan nikmat sesuai dengan kehendak Pemberinya. Maka insan yang bersyukur adalah yang mampu menggunakan nikmat Allah sesuai dengan apa yang telah digariskan syariat dan tidak menggunakan nikmat sebagai sarana untuk bermaksiat. Seberapa durhakanya seorang anak yang diberi sepatu oleh ayahnya, kemudian dipakainya sepatu tersebut untuk menempeleng ayahnya? Tapi lebih durhaka lagi orang yang diberi nikmat oleh Allah namun dia pergunakan nikmat tersebut sebagai sarana bermaksiat kepada Allah. Harta untuk berfoya di dalam dosa, sehatnya untuk maksiat. Kekuatannya untuk menyokong kemungkaran. Begitulah, karena hak Allah untuk diagungkan lebih besar dari hak ayah untuk dihormati anaknya.

 

Jama’ah Shalat Ied yang Berbahagia

Baru saja kita ‘mentas’ dari bulan penggemblengan iman, bulan yang didalamnya terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan. Bulan dibukanya pintu-pintu kebaikan dan disingkirkannya banyak rintangan iman. Bulan kemudahan untuk menjalankan segala bentuk ketaatan. Keberhasilan kita di bulan penggemblengan terlihat di bulan-bulan berikutnya.

Namun, fenomena lunturnya iman selalu terulang di penghabisan Ramadhan. Masjid-masjid yang semula penuh sesak, kini kembali sepi. Bacaan al-Quran tak terdengar lagi, hingar-bingar musik memekakkan telinga dan kemaksiatan kembali merajalela. Inilah kondisi manusia selepas Ramadhan. Peristiwa ini seakan merupakan rekaman ulang dari tahun-tahun yang telah lalu. Berakhirnya Ramadhan diiringi pula dengan rampungnya seluruh amalan. Awal Syawal menjadi start untuk berpacu dalam maksiat,saat untuk menumpahkan gejolak nafsu yang tertahan selama sebulan. Bekas amal Ramadhan nyaris sirna tak tersisa.

Sungguh, fenomena ini menunjukkan betapa cepat manusia berubah. Pagi hari, di hari terakhir Ramadhan, manusia masih nampak khusyu’, dekat dengan ketaatan dan tak berhasrat terhadap kemaksiatan. Namun sore harinya, berubah bagai serigala lapar yang lepas dari kandang. Pagi hari di awal Syawal, mereka masih khusyu’ dengan shalat ‘ied, bersemangat meneriakkan takbir dan mengagungkan Allah. Namun sejurus kemudian, mereka meremehkan Allah dan mengundang murka-Nya dengan maksiat dan dosa. Masjid kosong dari shalat jamaah lantaran sibuk mundar-mandir ke rumah tetangga. hiburan haram penuh sesak oleh manusia yang ingin melampiaskan syahwatnya.

Begitu cepatnya pikiran manusia berubah… alangkah kilatnya keyakinan manusia berpindah… benarkah usia dunia semakin renta dan telah dekat datangnya kiamat? Hadits ini menjadi bukti kebenaran kabar dari Rasulullah ﷺ  tentang hal ini. Beliau bersabda,

 

بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنْ الدُّنْيَا

“Bersegeralah untuk beramal (karena akan ada) fitnah seperti gelapnya malam, yang mana seseorang beriman pada pagi harinya, namun di petang harinya kafir. Dan pada sore harinya mukmin namun pada pagi harinya kafir, dia menjual agamanya dengan sedikit kepuasan dunia, ” (HR. Muslim)

Imam Muhammad bin Abdurrahman al-Mubaarakfuri dalam kitabnya “Tuhfatul Ahwazhi bisyarhijami’ at-Tirmidzi” berkata, “Fitnah tersebut adalah fitnah yang besar dan ujian yang menggoncangkan, sedangkan maksud-gelapnya malam adalah lantaran dahsyatnya, gelapnya dan samarnya karena tidak jelas penyebabnya.”

Maksud dari pagi dan sore dalam hadits tersebut adalah dari waktu ke waktu, tidak hanya terkhusus pada waktu pagi dan petang saja. Seakan hal itu merupakan kinayah (kiasan) akan keadaan manusia yang labil, terombang-ambing, mudah berbolak-balik pendapatnya, mudah janji dan ringan mengingkari, begitu mudah amanah berganti dengan khiyanat, makruf dengan yang mungkar, sunnah dengan yang bid’ah dan mengganti  iman dengan kekufuran hanya karena sedikit kenikmatan dunia.

 

الله أكبر……………. الله أكبر………………… الله أكبر

Apa yang digambarkan Nabi ﷺ tersebut begitu pas dengan zaman di mana kita hidup ini. Betapa banyak manusia yang dulunya dikenal sebagai orang yang shalih, ternyata ia berubah menjadi bejat, adapula yang dikenal sebagai pejuang, akhirnya menjadi penjahat, dulunya pembela Islam, tiba-tiba berbalik memusuhi Islam, hanya karena secuil kue dunia.

Fenomena gonjang-ganjingnya kondisi manusia tersebut telah lama kita tengarai, bahkan semakin nampak setiap kali memasuki bulan syawal, sehari setelah manusia menyelesaikan tugasnya di bulan barakah. Begitu mudahnya manusia berubah, dari ketaatan menuju kemaksiatan, dari pahala menuju dosa dan dari cahaya menuju kegelapan hanya karena bergantinya waktu, hari ataupun bulan. Pergantian bulan ternyata begitu mengejutkan manusia. Ada perubahan frontal, pergantian total dan kemerosotan yang fatal.

Agar kita tidak masuk dalam daftar orang yang bersifat labil dan menjadi muslim musiman, sebelum jauh meninggalkan Ramadhan, ada baiknya kita mengenang kembali saat-saat indah bersama Ramadhan. Bulan yang melatih kesabaran, bulan takwa, bulan mujahadah, bulan rahmat dan bulan maghfirah, Kita serasa akrab dengan amal shalih, jauh dari dosa, kita sadar setelah tadinya lalai, bangun setelah tadinya terlelap dan seakan kita hadir setelah tadinya menghilang.

Kini, hri-hari itu berlalu sudah, sirnalah satu marhalah dan kehidupan kita yang mustahil hadir pada kali kedua. Maka hendaknya kita melihat, buah apa yang telah kita petik sebagai alumnus madrasah imaniyah, bulan penggemblengan dan bulan ujian ini?

Benarkah ijazah takwa dengan mumtaz telah kita sandang? Jika benar, hendaknya kita bersyuur kepada Allah. hendaknya kita memohon kepada Allah agar senantiasa diberi keteguhan dan istiqamah hingga ajal menjelang.

Jangan sampai menimpa kita, perumpamaan orang yang menata bata demi bata hingga berujud bangunan indah dan megah, namun tiba-tiba ia sendiri yang merobohkannya. Atau laksana mengurai benang yang telah dipintalnya. Allah berfirman:

 

وَلَا تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِن بَعْدِ قُوَّةٍ أَنكَاثًا

“Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benang yang sudah dia pinml dengcm kilat lalu menjadi cerai berai kembali. ” (QS. an-Nahl: 92)

ltulah perumpamaan orang yang telah bersusah payah membina jiwanya dengan amal shalih hingga merasakan nikmatnya taat dan manisnya munajat, tiba-tiba kembali ke lembah maksiat. Dia tinggalkan satu demi satu ketaatan-ketaatan yang telah dibangunnya selama Ramadhan, hingga lenyap tak tersisa.

Inilah gejala gagalnya Ramadhan. Karena buah yang buruk hanya dihasilkan oleh usaha yang buruk pula. Jika memang apa yang kita upayakan pada bulan Ramdhan adalah kebaikan, tentulah akan memetik panen kebaikan pula di bulan setelahnya. Seperti yang dikatakan sebagian salaf ‘inna min jazaa’il hasanah al-hasanatu ba’daha wa inna min uquubatis sayyi’ah as-sayyi’atu ba’daha’, pahala bagi orang yang mengerjakan kebaikan adalah dia akan mengerjakan kebaikan setelahnya, dan balasan bagi orang yang melakukan keburukan adalah dia akan melakukan keburukan yang setelahnya.

 

الله أكبر……………. الله أكبر………………… الله أكبر

 

Ma’asyiral Muslimin Arsyadakumullah,

Hamba Allah yang baik adalah mereka yang terus menerus melakukan ketaatan kepada Allah, kokoh dalam menggenggam syariatnya, lurus berjalan di atas dien-Nya, tidak tersendat ibadahnya lantaran bergantinya bulan demi bulan, dari satu tempat ke tempat yang lain, dari satu masa ke masa yang lain, tiada goyah oleh seribu satu perubahan yang terjadi.

Seorang salaf pemah ditanya tentang suatu kaum yang menggebu-gebu amalnya di bulan Ramadhan, namun jika telah berlalu Ramadhan, mereka kembali malas. Beliau menjawab, “Seburuk-buruk kaum adalah mereka yang tidak mengenal Allah kecuali di bulan Ramadhan saja, sedangkan orang shalih adalah orang yang beribadah kepada Allah sepanjang tahun.

Tidak ada istimewanya seseorang yang bangun di saat manusia lain juga bangun, rajin di saat yang lain juga bersemangat. Yang istimewa adalah seseorang yang bisa bangun selagi yang lain terlelap, tetap sadar di saat yang lain terlena, dan tetap bermujahadah kendati yang lain melemah.

Allah berfirman,

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ

“Maka tetaplah istiqamah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu.” (QS. Hud: 112)

Juga sabda Nabi ﷺ.

قُلْ آمَنْتُ باللهِ ثُمَّ استَقِمْ

“Katakanlah, aku beriman kepada Allah kemudian istiqamahlah. ” (HR. Muslim)

Barangsiapa memperhatikan syariat Islam, niscaya akan mendapatkan bahwa Nabi telah telah menunjukkan cara untuk melestarikan segala amal shalih yang telah kita lakukan di bulan Ramadhan. Rasulullah ﷺ telah memberikan teladan amalan-amulan sunnah yang dianjurkan untuk kita ikuti.

Jika selama bulan Ramadhan kita melaksaksanakan shiyam penuh selama satu bulan, maka di bulan Syawal pun kita disunnahkan shaum selama enam hari

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan lalu menyambungnya dengan shiyam enam hari di bulan Syawal (selain tanggal satu), maka ia seperti mengerjakan shaum selama satu tahun.” (HR. Muslim)

Lebih utama lagi jika tiap pekan kita melaksanakan shiyam sunnah Senin dan Kamis. Ada juga shiyam tiga hari tiap bulan yaitu tanggal 13, 14 dan 15 tiap bulan Hijriyah (shaum bidh), shaum Asyura’ tanggal 9 dan 10 Muharram, shaum Arafah tanggal 9 Dzulhijjah, dan sebagainya.

Jika selama bulan Ramadhan kita melaksanakan sunnah Rasulullah ﷺ berupa shalat tarawih sebulan penuh, maka lebih utama lagi jika setiap malam kita membiasakan diri dengan qiyamullail, shalat tahajud untuk mengisi malam-malam kita. Inilah shalat sunnah yang paling utama, yang menjadi ciri dan kebiasaan calon penghuni jannah, sebagaimana yang Allah ceritakan perihal ahli jannah:

كَانُوا قَلِيلًا مِّنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ

“Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam.” (QS. adz-Dzariyat: 17)

Juga firman-Nya:

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَّكَ عَسَىٰ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا

“Dan pada sebagian malam bm tahajudlah kamu sebagai ibadah nafiluh (tambahan) bagimu, mmiah-mudahan Rabbmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (QS. al-Isra’: 19)

Setelah disyariatkan bagi kita zakat Fitrah di bulan Ramadhan, diwajibkan pula bagi kita untuk menunaikan zakat maal, zakat harta sebagai pembersih Harta kita. Karena di dalamnya terdapat hak-hak orang lain. Lebih baik lagi jika kita membiasakan mengeluarkan shadaqah diluar Ramadhan.

Tilawah al-quran, tidak hanya disyariatkan di bulan Ramadhan belaka, sebagaimana rambu-rambu di dalamnya tak hanya menuntun kita menapaki satu bulan saja, satu musim saja.

Begitupun dengan amal ibadah yang lain, karena Allah yang kita tahu ibadahi di bulan Ramadhan seharusnya pula kita ibadahi di luar Ramadhan, Wallahu a’lam

 

الله أكبر……………. الله أكبر………………… الله أكبر

 

Marilah kita akhiri khutbah ini dengan berdoa kepada Allah,

 

الَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَعَلَى خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِمْ وَطَرِيْقَتِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

 اللهم اغفِرْ لِلْمُسْلِمينَ وَالمسْلِمَاتِ والمؤمنينَ والمؤمناتِ وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَاَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ

اللهمَّ انْصُرْ جُيُوسَ المُسْلِمِيْنَ وَعَسَاكِرَ المُوَحِّدِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَكَ أَعْدَاءَ الدِّينِ وَأَعْلِ كَلِمَتَكَ إلي يَوْمِ الدِّينِ اللهُمَّ انْصُرْ دُعَاتَنَا وَعُلَمَائنَاَ المَظْلوُمِيْنَ تَحْتَ وَطْأَةِ الظالِمِين وَفِتْنَةِ الفَاسِقِينَ وَحِقْدِ الحَاقِدِيْنَ وَبُغْضِ الحَاسِدِين وَخِيَانَةِ المُنَافِقِيْنَ

اللَّهُمَّ ارزُقنا حُبَّكَ، وحُبَّ مَنْ يَنْفَعُنا حُبُّهُ عندَك، اللَّهُمَّ مَا رَزَقْتَنا مِمَّا أُحِبُّ فَاجْعَلْهُ قُوَّةً لَناَ فِيمَا تُحِبُّ، اللَّهُمَ مَا زَوَيْتَ عَنِّا مِمَّا نحِبُّ فَاجْعَلْهُ فَرَاغاً لنا فِيمَا تُحِبُّ

اللَّهُمَّ إِنِّا نعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ

اللهُمَّ اكْفِنَا بِحَلالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

وَصَلِّ عَلي خَيْرِ خَلْقِكَ وَأَفْضَلِ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ وَعَلي آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا

وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ العَالمَين

 

Download  versi PDF di sini: Khutbah Iedul Fitri PDF

 

Khutbah Iedul Adha: Taat Saat Ringan dan Berat

TAAT SAAT RINGAN DAN BERAT

Oleh: Ust. Abu Umar Abdillah/Majalah ar-risalah

 

إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنسْتعِينُهُ وَنسْتغْفِرُهُ وَنعُوذ باللهِ مِنْ شُرُورِ أَنفُسِنَا وَمِنْ سَيّئاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ ولا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون
يَاأَيُّهَاالنَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أما بعد

فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَديثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ اْلأُمُورِ مُحْدَثاَتِهَا وَكُلَّ مُحْدَثــَةٍ بدْعَةٌ وَكُلَّ بدْعَةٍ ضَلاَلةٌ وَكُلَّ ضَلاَلةٍ فيِ النَّارِ
الله أكبر الله أكبر لا إله إلا الله الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Jamaah shalat Idul Adha rahimakumullah

Hari ini kita merayakan hari raya Idul Adha. Kita kenang dan kita hayati bersama kisah sebuah keluarga di dalam mencapai dan mencari ridha Allah subhanahu wataala. Keluarga yang senantiasa taat kepada Allah, baik di saat ringan maupun berat.

Allah telah mengisahkan kepada kita, ketika Ibrahim alaihissalam berbahagia dengan kelahiran puteranya yang bertahun lamanya dinanti. Muhammad Ali As-shabuni di dalam tafsir beliau mengatakan bahwa Allah mengaruniakan putra pertama kepada Ibrahim ketika beliau berusia 120 tahun. Kurang lebih 75 sampai 80 tahun setelah usia pernikahan beliau. Allah perintahkan beliau membawa istrinya, Hajar dan juga puteranya yang bernama Ismail ke Bakkah atau Mekah, tempat yang sangat sepi, tandus tak ada pepohonan maupun cadangan air.

Saat beliau hendak meninggalkan keduanya, Hajar alaihassalam bertanya, “Mengapa Kau tinggalkan kami di sini?” Ibrahim tak mampu menjawab apa-apa. Lalu Hajar bertanya, “Apakah ini perintah Allah?” Beliau menjawab, “Iya.” Hajar pun berkata, “Kalau begitu, pastilah Allah tidak akan menelantarkan kami!”

Hajar alaihassalam tidak menyangka bahwa nantinya Mekah menjadi begitu makmur dan tak pernah sepi sedikitpun dari orang-orang yang mengunjunginya. Mata air zam-zam yang Allah anugerahkan untuk beliau berkahnya hingga sekarang dirasakan jutaan manusia setiap harinya.Yang beliau tahu ketika itu adalah beliau harus taat terhadap perintah Allah, dan kesudahan yang baik diberikan kepada hamba-Nya yang bertakwa.

Pun demikian ketika Ismail, putra yang kelahirannya ditunggu selama bertahun-tahun itu sudah dapat pergi bersama dengannya, pada saat anaknya betul-betul menjadi penyejuk matanya, beliau bermimpi diperintahkan oleh Allah untuk menyembelih putra yang dicintainya, sedangkan mimpi para Nabi adalah wahyu.

Kita dapat merasakan betapa berat ujian Nabi Ibrahim alaihissalam ketika itu, namun bagi beliau perintah Allah adalah segalanya, sehingga beliau berkata kepada putranya,

بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ

“Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!”

Kita saksikan betapa taatnya ia kepada Allah sehingga dengan mantap ia berkata,

يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّـهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

“Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

 

Jamaah shalat Idul Adha rahimakumullah

Di dalam tafsir Ibnu Katsir dikisahkan sebuah riwayat dari Abu Hurairah yang menceritakan tentang keluarga Nabi Ibarahim alaihissalam. Ketika Nabi Ibrahim bermimpi menyembelih putranya, setan berkata, “Jika kau tidak bisa menggoda mereka kali ini maka aku tidak akan menggodanya selama-lamanya.”

Ketika Ibrahim alaihissalam keluar bersama putra beliau, setan mendatangi istri beliau dan berkata, “Kemana Ibrahim pergi berasama anakmu?”

Beliau menjawab, “Untuk suatu keperluan.”

Setan menyangkal, “Dia pergi bukan untuk satu keperluan, tetapi dia pergi untuk menyembelih anakmu.”

Beliau berkata, “Mengapa dia hendak menyembelih anakku?”

Setan menjawab, “Ibrahim mengaku bahwa Rabbnya telah memerintahkan ia untuk itu.”

Beliau menjawab, “Alangkah baiknya jika dia melaksanakan perintah Rabbnya.”

Kemudian setan pergi dan menyusul putra Ibrahin lalu berkata, “Nak, hendak diajak kemana kamu oleh ayahmu?”

Beliau menjawab, “Untuk suatu keperluan.”

Setan berkata, “Dia mengajakmu bukan untuk satu keperluan, tetapi untuk menyembelihmu.”

Beliau bertanya, “Dengan alasan apa ayah hendak menyembelihku.”

Setan menjawab, “Dia mengaku bahwa Rabbnya memerintahkan hal itu.”

Maka beliau berkata, “Demi Allah jika Allah memerintahkan itu maka sudah seharusnya ayah mengerjakannya. Maka setan pun pergi meninggalkannya dengan putus asa.”

 

Jamaah shalat Idul Adha rahimakumullah

Saat Ibrahim alaihissalam diperintahkan oleh Allah untuk menyembelih puteranya, beliau tidak tahu sebelumnya bahwa nantinya Ismail akan digantikan dengan seekor domba. Yang beliau tahu bahwa beliau harus menjalankan perintah Rabbnya. Lalu Allah memberikan kejutan yang membahagiakan kepadanya, sebagai balasan atas kesetiaan beliau terhadap perintah Rabbnya. Maka kesudahan yang baik adalah bagi orang yang bertakwa.

Sebagaimana juga Nabi Musa alaihissalam tidak tahu sebelumnya, bahwa nantinya laut akan terbelah setelah tongkat beliau dipukulkan ke lautan. Yang beliau tahu bahwa itu adalah perintah Allah dan pasti Allah memberikan jalan keluar.

Nabi Nuh alaihissalam juga tidak tahu bahwa akan terjadi banjir bandang, saat beliau membuat kapal di musim kemarau hingga ditertawakan kaumnya. Beliau hanya menjalankan perintah, lalu Allah memberikan kesudahan yang baik bagi beliau dan orang-orang yang mengimaninya.

 

Jamaah shalat Idul Adha rahimakumullah

Jalan itu pula yang diikuti oleh para sahabat Nabi yang merupakan generasi terbaik umat ini. Mereka berjalan dengan menggunakan instrumen keimanan. Semangat keimanan melahirkan ruh-ruh ketaatan. Semboyannya adalah sami’na wa atha’na, kami mendengar dan kami taat. Tanpa ada keraguan apalagi kecurigaan terhadap syariat. Karena semua itu datang dari Yang Mahatahu dan Mahabijaksana.

Sepenggal kisah di malam Perang Ahzab bisa menjadi pelajaran berharga bagi kita. Saat itu udara sangat dingin menusuk tulang, kelaparan mendera, dan musuh mengancam kaum muslimin. Ketika itu Nabi shallallahu alaihi wasallam memberikan tawaran kepada para sahabat,

“Adakah seseorang yang mau berangkat untuk melihat apa yang dilakukan musuh lalu melaporkan kepada kita?” Nabi mempersyaratkan ia kembali dan Allah akan memasukkannya ke dalam jannah. Namun tak satupun berdiri karena memang beratnya kondisi mereka ketika itu. Nabi shallallahu alaihi wasallam mengulangi tawarannya dan menjanjikan bagi yang bersedia menjalankan tugas itu maka akan menjadi teman dekatnya di jannah. Pun tidak ada yang berdiri menyambut tawaran. Ketika tak ada satupun yang berdiri, maka Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,

يَاحُذَيْفَةُ، فَاذْهَبْ فَادْخُلْ فِي الْقَوْمِ فَانْظُرْ مَايَفْعَلُونَ وَلاَتُحْدِثَنَّ شَيْئًاحَتَّى تَأْتِيَنَا

‘Hai Hudzaifah, pergilah menyusup ke tengah-tengah mereka dan lihat apa yang mereka lakukan. Jangan kau bertindak apapun sampai engkau menemuiku.” (HR Ahmad)

Hudzaifah menyadari bahwa ini bukan lagi tawaran, melainkan perintah yang tidak ada alasan untuk membantah. Maka beliau pun berangkat meski dalam kondisi berat. Karena tidak ada jawaban lain bagi seorang mukmin ketika mendapat perintah dari Allah dan Rasul-Nya melainkan ucapan, “sami’na wa atha’na”, kami mendengar dan kami taat.

 

Jamaah shalat Idul Adha rahimakumullah

Tatkala larangan khamr diberlakukan dengan turunnya ayat tentang haramnya khamr maka serentak mereka mengatakan, “intahaina ya Rabb, Kami berhenti wahai Rabb!” Tak ada pilihan lain lagi selain itu.

Tatkala turun syariat hijab, para shahabiyah tidak meminta waktu untuk membuat mode hijab yang membuat mereka semakin cantik, tapi mereka langsung menyambar kain apapun yang ada didekat mereka.

Begitupun tatkala syariat jihad ditegakkan atas para shahabat, meski mengandung resiko harta dan nyawa, mereka berangkat menunaikan perintah Allah,

“Berangkatlah baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui” (QS. at-Taubah: 41)

Ayat ini menampik alasan-alasan orang yang malas dan was-was, dan para sahabat mampu menepis semua itu, mereka mendengar dan taat. Begitulah jawaban dan reaksi orang yang beriman pada saat menerima titah dari Rabbnya.

Ini berbeda dengan ahli kitab yang tatkala mendapat perintah dari Allah mereka berkata sami’na wa ashaina, kami mendengar dan kami durhaka. Allah Ta’ala berfirman,

“Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkat bukit (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman): “Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan dengarkanlah!” Mereka menjawab: “Kami mendengar tetapi tidak mentaati.” (QS. al-Baqarah: 93)

Berbeda pula dengan respon orang-orang munafik yang mengatakan “sami’na” kami mendengar, wahum laa yasma’un, padahal mereka tidak sudi mendengarkan. Allah Ta’ala berfirman,

“Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang (munafik) vang berkata “Kami mendengarkan, padahal mereka tidak mendengarkan.” (QS. al-Anfal: 21)

Itulah tiga tipe manusia yang Allah sebutkan di dalam al-Qur’an tatkala merespon perintah dan larangan dari Allah, hendaknya kita mawas diri, di kelompok mana kita berada. Mengikuti para Nabi dan para sahabat, ataukah ahli kitab dan munafiqin yang mewarisi tradisi Iblis dalam keengganannya untuk taat.

 

Jamaah shalat Idul Adha rahimakumullah

Marilah kita mantapkan di dalam hati sanubari kita bahwa kecintaan kita kepada keluarga, istri dan anak-anak kita, kepada harta benda yang kita kumpulkan diletakkan dibawah kecintaan kita kepada Allah subhanahu wataala.

Nabi Ibrahim mencintai istri dan anak-anak beliau, namun jelas kecintaan Nabi Ibrahim kepada Allah jauh lebih tinggi dibandingkan kecintaan kepada mereka. Kecintaannya kepada Allah menyebabkan ia siap berpisah dengan apapun ketika itu merupakan perintah dari Allah subhanahu wataala.

Marilah kita bermuhasabah, introspeksi diri. Jangan sampai hanya karena mencari harta yang tak seberapa ibadah kita menjadi tak sempurna. Hanya karena istri dan anak-anak tercinta kita lakukan hal-hal yang membuat Allah murka. Semuanya kita cinta tapi cinta kita kepada Allah lebih dari segalanya.

Semoga Allah jauhkan kita dari kesombongan dan pembangkangan dan menjadikan kita hamba yang senantiasa taat baik di saat ringan maupun berat.

Marilah kita akhiri khutbah Ied pada hari ini dengan berdoa kepada Allah:

الَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَعَلَى خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِمْ وَطَرِيْقَتِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

 اللهم اغفِرْ لِلْمُسْلِمينَ وَالمسْلِمَاتِ والمؤمنينَ والمؤمناتِ وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَاَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ

اللهمَّ انْصُرْ جُيُوسَ المُسْلِمِيْنَ وَعَسَاكِرَ المُوَحِّدِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَكَ أَعْدَاءَ الدِّينِ وَأَعْلِ كَلِمَتَكَ إلي يَوْمِ الدِّينِ اللهُمَّ انْصُرْ دُعَاتَنَا وَعُلَمَائنَاَ المَظْلوُمِيْنَ تَحْتَ وَطْأَةِ الظالِمِين وَفِتْنَةِ الفَاسِقِينَ وَحِقْدِ الحَاقِدِيْنَ وَبُغْضِ الحَاسِدِين وَخِيَانَةِ المُنَافِقِيْنَ

اللَّهُمَّ ارزُقنا حُبَّكَ، وحُبَّ مَنْ يَنْفَعُنا حُبُّهُ عندَك، اللَّهُمَّ مَا رَزَقْتَنا مِمَّا أُحِبُّ فَاجْعَلْهُ قُوَّةً لَناَ فِيمَا تُحِبُّ، اللَّهُمَ مَا زَوَيْتَ عَنِّا مِمَّا نحِبُّ فَاجْعَلْهُ فَرَاغاً لنا فِيمَا تُحِبُّ

اللَّهُمَّ إِنِّا نعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ

اللهُمَّ اكْفِنَا بِحَلالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

وَصَلِّ عَلي خَيْرِ خَلْقِكَ وَأَفْضَلِ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ وَعَلي آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا

وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ العَالمَين

 

DOWNLOAD VERSI PDF NYA DI SINI: Khutbah Iedul Adha 1439 H