Muslim Maluku Melawan Portugis

Di Maluku, umat Islam dengan sengit melawan Portugis selama 85 tahun (1520—1605). Portugis pertama datang ke Maluku pada 1512. Tiga tahun berikutnya, Portugis diizinkan mendirikan loji di Hitu sebagai tempat tinggal dan tempat penampungan rempah-rempah sehingga terjalinlah hubungan perdagangan antara Hitu dan Portugis.

LATAR BELAKANG PERLAWANAN

Namun demikian, hubungan ini tidak berlangsung lama karena ulah Portugis sendiri. Pada 1516 orang Portugis membawa minuman keras dari kapal untuk dijual. Malah orang Portugis sendiri yang minum sampai mabuk serta membuat kekacauan dalam pasar cengkeh di Hitu. Kejadian ini menimbulkan kemarahan masyarakat Hitu terhadap orang Portugis. Mereka menuntut penguasa Hitu, yaitu Empat Perdana, agar menghukum orang Portugis karena telah melanggar adat dan agama. Akhirnya orang Portugis disuruh pindah ke bagian selatan Hitu. (Maryam RL Lestaluhu, Sejarah Perlawanan Masyarakat Islam Terhadap Imperialisme di Daerah Maluku, hlm. 39-40)

Atas tindakan ini, pada 1520 Portugis menyerang Hitu dengan mempengaruhi penduduk di bagian selatan jazirah itu untuk membantu mereka. Menghadapi situasi itu, Empat Perdana Menteri tidak tinggal diam. Mereka memerintahkan seluruh rakyat turun ke pantai menghadapi musuh yang akan mendarat. Rakyat Hitu tidak gentar menghadapi serangan Portugis karena mati bagi mereka saat itu adalah mati syahid. Pertempuran satu lawan satu berlangsung dengan seru sampai petang, namun tidak ada kemenangan yang diraih oleh salah satu pihak. Pasukan Portugis mundur karena sudah malam, lalu berlayar pulang ke pangkalannya. Serangan pertama pihak Portugis ini merupakan awal permusuhan antara Hitu dan Portugis yang berlangsung selama ± 85 tahun. (hlm. 43-44)

PERLAWANAN MUSLIM HITU

Pertempuran kembali terjadi antara rakyat muslim Hitu dan orang Portugis pada 1525. Banyak orang Portugis mati terbunuh. Penduduk Hitu Selatan yang dulu membantu penyerangan Portugis pada 1520 juga mendapatkan balasan sehingga mereka lari menyelamatkan diri. Rakyat Hitu memperoleh kemenangan yang gemilang. Delapan tahun berikutnya (tahun 1533), Portugis mencoba mempengaruhi negeri Hatiwe, yaitu salah satu negeri Islam di jazirah Hitu bagian selatan, agar membantu mereka menyerang Hitu dari laut dan darat. Sebelum rencana penyerangan Portugis itu terlaksana, pasukan Hitu bersama pasukan bantuan dari Jepara menyerang Hatiwe terlebih dahulu. Pasukan Hitu tidak hanya menunggu Portugis di tempat, tapi diperintahkan untuk menghadang pasukan musuh dalam perjalanan sebelum tiba di Hitu. Dalam pertempuran-pertempuran yang terjadi sepanjang perjalanan ke Hitu, pasukan Portugis banyak menderita kerugian karena banyak yang mati. Senjata mereka banyak pula yang jatuh ke tangan pasukan Hitu. Pasukan Portugis mengundurkan diri ke Hatiwe sambil menunggu bantuan dari Goa. Namun bantuan yang ditunggu baru tiba pada 1537 dan terjadilah pertempuran antara pasukan Hitu dan pasukan Portugis.

Pada 1570 Portugis kembali menyerang Hitu di bawah pimpinan Sancho. Karena serangan ini, Empat Perdana Menteri bersama rakyat Hitu sampai harus berpindah ke Seram Barat. Melihat keberangkatan mereka, Portugis merasa puas karena musuhnya di jazirah Hitu sudah tidak ada lagi. Namun demikian, pada 1574 Empat Perdana Menteri bersama rakyat Hitu ditambah bantuan penduduk Seram Barat melakukan penyerangan dan berhasil mengusir Portugis dari Hitu. Keadaan pun menjadi tenang kembali. Namun, hal ini hanya bertahan selama 6 tahun. Pada 1580 pasukan Portugis di bawah pimpinan Panglima Paul Dirk Kastanya kembali datang dan membuat kekacauan. Dua tahun berikutnya, Portugis menyerang Mamala. Dalam pertempuran yang berlangsung 2 hari itu, orang-orang Mamala berhasil menghalau pasukan Portugis setelah dibantu oleh Perdana Menteri Tahalele II dengan pasukannya dari Hitu. (hlm 44-56)

PERLAWANAN MUSLIM TERNATE

Perlawanan bersenjata terhadap Portugis juga terjadi di Ternate. Pada mulanya, kerajaan Islam yang berada di Maluku bagian utara ini menjalin hubungan dagang dan perjanjian damai dengan Portugis. Namun setelah Portugis memonopoli perdagangan, menyebarkan agama Katolik dengan licik dan paksaan, serta mengadu domba antara penduduk Maluku, orangorang Ternate pun menjadi benci kepada mereka. Portugis juga sering turut campur dalam urusan pemerintahan dan bertindak sewenang-wenang terhadap para sultan. Hal ini menimbulkan kemarahan luar biasa dari masyarakat Maluku Utara terhadap bangsa Portugis. Kemarahan ini semakin bertambah ketika Sultan Khairun dan ibunya ditangkap dan diasingkan dalam benteng. Mereka berdua akhirnya dibebaskan karena rakyat memberontak. Di seluruh daerah kekuasaan Sultan Ternate, timbul kebencian terhadap Portugis. Kemarahan terhadap Portugis mencapai puncaknya ketika Sultan Khairun dibunuh secara kejam pada 18 Februari 1570 dalam benteng oleh pengkhianatan de Mesquita yang menjabat sebagai Gubernur Portugis di Ternate pada waktu tersebut. Akibat kejadian itu, Sultan Babullah yang telah menggantikan ayahnya segera bertindak keras terhadap Portugis, dengan mengusir mereka yang tinggal di luar benteng.

Sementara benteng Ternate (Sau Paulo) dikepung, Sultan Babullah mengirimkan angkatan perangnya ke Ambon di bawah pimpinan Kaicili Leliato untuk menghajar Portugis. Walaupun Kerajaan Tidore bermusuhan dengan Ternate, namun dorongan solidaritas Islam telah memaksa para sultan dan rakyat Maluku Utara membantu Ternate. Kepungan terhadap benteng telah mengakibatkan timbulnya wabah dan kelaparan sehingga para penghuni dalam benteng mulai menderita penyakit busung lapar. Melihat penderitaan orang-orang yang terkepung itu, timbullah rasa kasihan dalam hati Sultan Babullah. Dia kemudian menawarkan beberapa usul. Pertama, Portugis harus menyerahkan benteng dan meninggalkan Ternate dalam waktu 2 X 24 jam. Kedua, Orang-orang Portugis harus menyerahkan pembunuh Sultan Khairun dan kaki tangannya. Sejak saat itu, hubungan Portugis dengan Kesultanan Ternate tetap tegang sampai tiba saatnya mereka meninggalkan Maluku untuk selamanya pada 1606, setelah Ternate mengalahkan Portugis dengan bantuan Belanda dan Hitu. (hlm. 57-66)

Oleh: Ust. M. Isa Anshari/Sejarah Islam Indonesia

Khutbah Jumat: Baldatun Thayyibatun, Negeri Ideal yang Didambakan

 

إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِالله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى الله عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْراً

يَاأَيُّهاَ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِوَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ 

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا 

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا ,يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ ءَايَةٌ جَنَّتَانِ عَن يَمِينٍ وَشِمَالٍ كُلُوامِن رِّزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوالَهُ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ

أَمَّا بَعْدُ؛

فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Kita bersyukur kepada Allah atas limpahan karunia-Nya. Allah menempatkan kita di sebuah negeri yang dianugerahi banyak keistimewaan. Tanahnya mudah ditanami, banyak jenis pepohonan yang dapat tumbuh, hawa yang baik dan perairan yang luas. Sebuah nikmat yang luar biasa yang harus senantiasa kita syukuri. Syukur dalam arti mengguna kian nikmat itu untuk taat kepada-Nya, bukan hanya untuk memenuhi kesenangan nafsu pada kenikmatan dunia. Sebuah kenikmatan yang jika kita kufuri, akan berubah menjadi bencana yang membinasakan kita.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ keluarga dan juga orang-orang yang senantiasa teguh membela sunahnya hingga akhir zaman.

 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Belasan tahun lalu, sering kita dengar optimisme para pembesar negeri mengungkapkan impian negeri ini sebagai negeri ideal dengan slogan baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur’, sebuah negeri yang baik, dan diberi ampunan oleh Allah.

Seperti negeri Saba di era kejayaan dan kemakmurannya, hingga Allah menjadikannya sebagai percontohan dalam al-Qur’an. Tadinya, Saba’  adalah negeri yang aman, subur dan makmur . Bukan saja aman dari segala bentuk kriminal dan kejahatan yang dilakukan oleh manusia, namun juga tak ada ancaman dari hewan-hewan yang berbahaya. Bahkan Allah membersihkan hewan-hewan pengganggu dari negeri itu.

Allah berfirman,

لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ ءَايَةٌ جَنَّتَانِ عَن يَمِينٍ وَشِمَالٍ كُلُوامِن رِّزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوالَهُ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ

“Sesungguhnya bagi kaum Saba ada tanda (kekuasaan Rabb) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri.(kepada mereka dikatakan):”Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Rabb-mu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya.(Negerimu) adalah negeri yang baik(Baldatun Thayyibah) dan (Rabb-mu) adalah Rabb Yang Maha Pengampun”. (QS. Saba’:15)

Imam asy-Syaukani dalam Tafsir Fathul Qadir menyebutkan dari Imam Abdurrahman bin Zaid rahimahullah tentang firman-Nya, “Sesungguhnya bagi kaum Saba ada tanda (kekuasaan Rabb) di tempat kediaman mereka..”

Yakni, “mereka tidak melihat adanya nyamuk, lalat, kutu, kalajengking, ular dan hewan (pengganggu) lainnya.” Dalam kontek kekinian, barangkali termasuk virus dan bakteri yang membahayakan. Saba’ juga menjadi negeri yang sangat subur dan makmur. Dengan bendungan yang disebut sejarawan sebagai Bendungan Ma’rib, mengairi dua kebun yang terletak di sisi kanan dan sisi kiri wilayah mereka,

yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri.” (QS. Saba’: 15)

Ahli tafsir di kalangan tabi’in, Qatadah dan yang lain menggambarkan betapa subur dan makmurnya negeri Saba’, “Seorang wanita berjalan di bawah pepohonan dengan memanggul keranjang di kepalanya untuk mewadahi buah-buahan yang berjatuhan, maka keranjang itu penuh tanpa harus susah payah memanjat atau memetiknya.” Buah-buahan yang ada juga digambarkan dengan segala sifat kelezatan dan istimewa dibandingkan dengan buah-buahan yang ada di dunia. Begitulah ’baldatun thayyibatun’ bernama Saba’, yang sempat diimpikan masyarakat dan didongengkan para tokoh negeri ini.

 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Sekarang, slogan negeri yang baik itupun nyaris tak terdengar. Mungkin kurang percaya diri, atau malu untuk mengungkapkannya. Karena realita makin jauh dari impian. Harapan itupun seakan kandas sebelum mendekati titik yang diharapkan. Seakan potensi alam kita menjelma menjadi musuh dan dari arah itulah bencana dan musibah datang bergantian. Mengingatkan kita akan kondisi kaum Saba’ ketika mereka merubah syukur dengan kufur, maka dalam sekejap Allah menggantikan ni’mah (nikmat) dengan niqmah (bencana). Hujan lebat tiada henti, bendunganpun jebol dan terjadilah banjir besar. Firman Allah,

”Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr.” (QS. Saba’:16)

Berubahlah keadaan secara ekstrim, tak ada lagi rasa aman, tikus-tikus menggerogoti bendungan seperti yang disebutkan Ibnu Katsier. Tak ada lagi yang tumbuh selain pepohonan atau buah yang mereka tidak membutuhkannya atau tidak bisa memanfaatkannya.

 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Sungguh, dijadikannya Kaum Saba’ sebagai permisalan, agar kita mengambil pelajaran. Karena pada beberapa bagian, antara kita dan mereka ada kemiripan. Kemiripan dalam hal potensi alamnya yang subur, sekaligus kemiripan dari sisi musibah yang menimpa. Selayaknya kita berkaca diri, adakah kesamaan sebab antara Saba’ dan negeri kita, hingga kita juga mengalami bencana serupa?

Mungkin kita tak mau dipersalahkan, atau sebagian malah menganggap bahwa menghubungkan antara dosa dengan musibah hanyalah wujud simplifikasi (menggampangkan) masalah, atau bahkan dianggap tidak empati terhadap para korban bencana. Padahal, mengkaitkan bencana dengan dosa tidak berarti menuduh korban bencana itu menjadi biangnya dosa. Boleh jadi orang yang tidak terkena musibah juga turut andil dalam mengundang datangnya musibah. Baik dengan menyebarluaskan dosa, atau sekedar meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar. Karena kita ibarat penumpang dalam satu kapal, jika kita biarkan sebagian penumpang melobangi kapal untuk mendapatkan air, maka tatkala kapal tenggelam, tentu tidak hanya menimpa mereka yang melobangi kapal saja.

Meski telah kenyang dengan musibah dan kekhawatiran yang bertubi-tubi, Allah masih memberikan peluang kepada kita untuk bangkit. Menuju baldatun thayyibatun, sekaligus wa Rabbun ghafuur. Kalimat Allah mengampuni, mengandung konsekuensi bahwa untuk mendapatkan situasi negeri yang baik, kita harus bersedia bertaubat dan memohon ampunan-Nya. Dengan terlebih dahulu mengakui kesalahan, kesombongan dan kelancangan kita yang telah mencampakkan hukum dan aturan-aturan-Nya. Harus ada penyesalan, bertekad untuk tidak mengulangi maksiat lagi, dan menjadikan Islam sebagai jalan hidup baik secara personal, maupun komunal. Gairah untuk mencegah kemungkaran harus pula digalakkan, karena tanpanya, bencana belum akan dicabut, meski doa terus dilantunkan, Nabi ﷺ bersabda,

 

وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ الْمُنْكَرِ أَوْلَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ ثُمَّ تَدْعُونَهُ فَلاَ يُسْتَجَابُ لَكُمْ

“Demi yang jiwaku ada di tangan-Nya, hendaknya kamu mengajak yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, atau Allah akan mengirimkan bencana atas kalian, kemudian kalian berdoa namun tidak dikabulkan.” (HR Tirmidzi, hadits hasan)

Rabbij’al haadza baladan aaminan, war zuq ahlahu minats tsamaraati man aamina minhum billah wal yaumil aakhir. Wahai Rabbku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman, karuniakanlah penduduknya dengan buah-buahan, yakni mereka yang beriman kepada ALlah dan hari akhir. Amien

وَالْعَصْرِ ﴿١﴾ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ ﴿٢﴾ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ 

 

 

Khutbah Kedua

 

الْحَمْدَ لله الَّذِي أَنَارَ قُلُوْبَ عِبَادِهِ الْمُتَّقِيْنَ بِنُوْرِ كِتَابِهِ الْمُبِيْنِ وَجَعَلَ الْقُرْآنَ شِفَاءً لِمَا فِي الصُّدُوْرِ وَهُدَى وَرَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَي خَاتِمِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ سَيِّدِ نَا مُحَمَّدِ النَّبيِّ الْعَرَبِيِّ اْلأُمِّيِّنَ اَلَّذِي فَتَحَ اللهُبِهِ أَعْيُناً عُمْياً وَأَذَاناً صُمًّا وَقُلُوْبَاً غَلْفاً وَأَخْرَجَبِهِ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَي النُّوْرِ. صَلاَةً وَسَلاَماً دَائِمَيْنِ عَلَيْهِإِليَ يَوْمِ الْبَعْثِ وَ النُّشُوْرِ وَعَلَىآلِهِ الطَّيِّبِيْنَ اْلأَطْهَرِ وَأَصْحَابِهِ اْلأَبْرَارِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإحْسَانٍ إِلَي يَوْمِ الدِّيْنَ

 

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُواصَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمً

اَللَّهُمَّ صَلِّ  وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأصْحَابِهِوَمَنْ تَبِعَهُ بِإحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ. اَللَّهُمَّاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ.اَللَّهُمَّ لاَتُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ.اَللَّهُمَّاغْفِر لَناَ وَلِوَالِديْناَ وَلِلمُؤمِنِينَ يَومَ يَقُومُ الحِسَابُ. رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّبُ الرَّحِيْمِ. رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ

عِبَادَ الله،إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْا عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُاللهِ أَكْبَرُ

 

Oleh: Majalah ar-risalah/Khutbah Jumat

 

Baca Juga Khutbah Lainnya:
Solusi Andalan Saat Sulit dan Terjepit, Hati Gersang Karena Iman Telah Usang, Keluarga, Fondasi Utama Kekuatan Umat

 

Bahasa Melayu Sebagai Bahasa Ilmu

Salah satu prestasi besar para ulama dan dai di negeri ini adalah menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa Islam. Dalam Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928, bahasa Melayu secara resmi dinyatakan sebagai bahasa Indonesia. Bahasa ini menjadi bahasa yang menyatukan beragam suku dari Sabang sampai Merauke.

Oleh karena Islam merupakan agama ilmu, maka proses Islamisasi tentu juga merupakan proses penyebaran ilmu. Dengan demikian, Islamisasi bahasa Melayu berarti pula upaya menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa ilmu. Proses ini melibatkan penerjemahan bahasa Arab ke dalam bahasa Melayu karena kepada bangsa Arab lah pertama kali Islam diturunkan.

Menurut A.H. Johns, seorang ilmuwan dari The Australian National University, ada sekitar 15 hingga 20 persen kata-kata serapan dari bahasa Arab yang digunakan dalam bahasa Melayu.

Kata-kata serapan itutersebar luas ke berbagai bidang, mencakup iman, ibadat, fikih, sistem penanggalan, perdagangan, bidang pekerjaan dan profesi, pendidikan, perasaan, emosi, kesusastraan, ilmu, filsafat, dunia hewan, mineral, batu-batuan mulia, pakaian dan berbagai macam ornamen. Semua kata serapan itu sama-sama terkait dengan kehidupan perkotaan dalam sebuah lingkungan Islam atau yang telah mengalami Islamisasi, dan hampir semuanya berasal dari sumber-sumber sastra.

Berdasarkan bukti-bukti sejarah, penerjemahan dari bahasa Arab ke dalam bahasa Melayu itu mempunyai empat tahap perkembangan. Masing-masing tahap bisa dijelaskan sebagai berikut.

TAHAP PERTAMA

Tahap ini dimulai sejak kedatangan Islam pertama kali ke kepulauan Nusantara dan berakhir pada awal abad ke-11.

Pada tahap ini, penerjemahan Al-Qur’an menjadi materi utama. Dalam kehidupan umat Islam, kitab suci Al-Qur’an memiliki peranan sentral. Semua komunitas Islam membutuhkan salinan kitab suci itu. Oleh karenanya, menyalin Al-Qur’an, mengajar aturan melafalkannya, serta menerjemahkan maknanya ke dalam bahasa setempat merupakan kegiatan-kegiatan yang diperlukan. Pengalaman langsung menyalin Al-Qur’an serta meningkatnya jumlah orang yang dapat membaca kitab suci itu sangat berperan dalam memasyarakatkan pemakaian tulisan Arab dalam kegiatan tulis menulis dalam bahasa-bahasa setempat, sehingga wacana sastra yang ditulis dalam bahasa-bahasa lokal itu dapat juga ditulis dengan huruf suci tersebut.

Sebelum tradisi tulisan berkembang, penerjemahan Al-Qur’an dilakukan secara lisan melalui kutipan-kutipan pendek surat atau ayat ke dalam bahasa setempat, paling tidak surat yang paling sering dibaca dalam shalat wajib, terutama surat pertama, yakni Al-Fatihah. Meski demikian, dampak terjemahan lisan ini tak dapat dipandang sebelah mata. Pada masyarakat pra-modern, dampak yang ditimbulkan oleh penerjemahan lisan yang hanya mengandalkan pendengaran, peniruan dan hapalan ini ternyata tidak kalah dengan dampak yang timbul karena membaca tulisan.

TAHAP KEDUA

Tahap kedua berkembang ketika tulisan Arab semakin dikenal, dipakai secara luas, serta diadaptasi untuk menuliskan bahasa-bahasa setempat. Terjemahan antar-baris dan catatan-catatan pinggir dalam bahasa Melayu, dengan memakai huruf yang sama, merupakan alat bantu belajar yang berguna, serta menjadi panduan untuk menerjemahkan berbagai istilah dan ungkapan secara akurat, sekalipun terjemahan itu tetap lisan.

Bukti-bukti arkeologis tertua yang menunjukkan keberadaan Islam di Asia Tenggara adalah sebuah pilar bertulis huruf Arab di Phanrang, di wilayah pesisir tengah Vietnam, yang berasal dari tahun 1050. Temuan ini cocok dengan bukti yang tertua tentang pemakaian huruf Arab di wilayah tersebut, yakni batu nisan raja-raja Pasai (1237), serta bukti yang tertua mengenai penggunaan tulisan Arab untuk menuliskan bahasa Melayu pada Batu Trengganu (1303). Semua artefak ini dibuat pada tahap kedua tersebut.

TAHAP KETIGA

Tahap ketiga terjadi dengan munculnya terjemah antarbaris lengkap bagi seluruh naskah. Naskah sejenis tertua yang berhasil ditemukan adalah Al-‘Aqâ’id An-Nasafiyyah. Naskah itu adalah naskah dasar karya Abu Hafsh Umar Najmuddin, yang biasanya dikenal melalui nisbahnya “an-Nasafi”.

Naskah ini menyajikan penjelasan tentang sumber-sumber ilmu pengetahuan, hakikat dunia, sifat-sifat Allah, kemampuan (qudrah) manusia berbuat yang haq maupun bathil, adzab dan pahala dari Allah, serta kedudukan para nabi dan wali. Karya An-Nasafi ini merupakan kitab yang populer dan dipakai di banyak madrasah di seluruh dunia Islam. Menurut kajian Syed Muhammad Naquib Al-Attas, naskah tertua kitab ini di Asia Tenggara ditulis di Semenanjung Malaka pada 1590.

Naskah terjemahan antarbaris lain yang berasal dari masa yang sama adalah sebuah puisi dalam bahasa Arab berjudul Burdah karya Syarafuddin Muhammad bin Sa‘id Al-Busiri. Burdah berisi ungkapan rasa cinta dan puji-pujian bagi Nabi Muhammad serta mukjizat yang ada pada jubahnya. Burdah sangat berbeda dari naskah An-Nasafi karena bersifat persembahan cinta, sementara naskah An-Nasafi lebih teratur dan memiliki ketelitian intelektual.

TAHAP KEEMPAT

Tahap keempat ditandai dengan munculnya penulisan buku-buku berbahasa Arab oleh penulis-penulis Melayu yang pada gilirannya diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu. Pada tahap ini, semakin banyak karya asli berbahasa Melayu ditulis berdasarkan teks-teks dasar agama Islam, atau pembahasannya. Buku-buku itu menyajikan atau menciptakan karya-karya penting tentang ilmu agama Islam dalam bahasa Melayu, yang dimungkinkan oleh adanya terjemahan-terjemahan terdahulu dalam bahasa Melayu, termasuk terjemahan yang tidak pernah berbentuk tulisan.

Buku-buku tersebut merupakan hasil dari apa yang dapat disebut penyerapan kosakata, idiom dan dunia khayal dari pemikiran dan budaya Islam. Nuruddin Ar-Raniri, misalnya, memperkenalkan ilmu sejarah dalam bahasa Melayu melalui bukunya berjudul Arab, Bustân As-Salâthîn (Taman Raja-Raja), di samping karya-karya lainnya tentang fikih, tazkiyatun nafs dan eskatologi (ilmu tentang akhirat). Wallahu a‘lam.

 

Oleh: Ust. M. Isa Anshari/Sejarah Islam Nusantara

(Disadur dari “Penerjemahan Bahasa Arab ke Dalam Bahasa Melayu oleh A.H. Johns dalam Sadur, ed. Henri Chambert-Loir, hlm. 49-53)

 

Islamisasi dan Deislamisasi Bahasa Jawa

Groeneveldt mencatat bahwa jejak awal Islam di Jawa adalah pada masa pemerintahan Ratu Shima (674 M) di Kalingga. (Nusantara dalam Catatan Tionghoa, hlm. 20-21) Sayangnya, tidak ada catatan yang bisa menjelaskan secara detail proses Islamisasi selanjutnya. Islam mulai berkembang pesat pada abad 13 M. Meski pelan, pengaruh Islam mulai merambah kehidupan masyarakat Jawa. Sebagaimana bahasa Melayu, bahasa Jawa juga mendapatkan pengaruh Islam.

 

Islamisasi Bahasa Jawa

Salah satu bukti terjadinya Islamisasi bahasa Jawa adalah naskah karya Sunan Bonang yang diedit oleh B. J. O. Schrieke menjadi Het Boek van Bonang. Bahasa naskah ini adalah bahasa Jawa pertengahan, yaitu bahasa Jawa masa peralihan dari bahasa Jawa kuno ke bahasa Jawa baru yang masih digunakan hingga sekarang. Mengenai hal ini, R. M. Ng. Poerbatjaraka menyatakan, Serat punika basanipun taksih basa Djawi-tengahan gantjar, nanging isinipun bab agami Islam. Ukaranipun sadjak ketularan ukara basa Arab, amila angel tegesipun; ugi wonten tjengkokipun Malaju sawatawis, kados ta ana pon (ada pun).” Artinya, “Serat ini bahasanya masih menggunakan bahasa Jawa pertengahan gancar (tidak bersajak), tetapi isinya tentang agama Islam. Kata-katanya terlihat terpengaruh kata dalam bahasa Arab sehingga sulit diartikan. Ada juga sedikit serapan bahasa Melayu, seperti ana pon (ada pun).” (Kapustakan Djawi, hlm. 88)

Baca Juga: Strategi Portugis Melumpuhkan Islam Di Nusantara

Bahasa Jawa pertengahan digunakan mulai zaman Majapahit (abad 13) sampai abad 16 M. Pada periode itulah Sunan Bonang hidup. Bahasa yang digunakan putra Sunan Ampel ini dalam kitabnya banyak terpengaruh oleh kata-kata Arab. Beberapa kata masih murni disebutkan sebagaimana bahasa aslinya, seperti ushûl sulûk, qadîm, dzâtullâh, ‘isyq, ‘âsyiq, ma‘syûq, iman, tauhid, ma‘rifat, muhdats, murtadd, dhalâlah, bid‘ah, dan sebagainya. Beberapa kata terlihat sedang mengalami proses penyerapan ke dalam bahasa Jawa dan diucapkan dengan dialek Jawa, seperti sinalametaken (sing + selamet + aken) yang berarti memberinya keselamatan, angimanaken (ang + iman + aken) yang berarti mengimani, asifat (a + sifat) yang berarti mempunyai sifat, ingitsbataken (ing + itsbat + aken) yang berarti ditetapkan, ama‘dûmaken (a + ma‘dûm + aken) yang berarti menyatakan ma‘dûm (tiada), aja esak (e + syak) yang berarti janganlah kamu ragu, dan sebagainya. Kata-kata Arab tadi ternyata merupakan kata-kata kunci dalam agama Islam yang lazim digunakan dalam ilmu akidah maupun tasawuf.

 

Deislamisasi Bahasa Jawa

Meskipun Kitab Bonang menunjukkan ada upaya Islamisasi bahasa Jawa setidaknya pada abad 16, namun pada masa selanjutnya upaya ini kurang begitu berhasil dibanding dengan Islamisasi bahasa Melayu. Terutama sejak kekalahan Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa pada 1830, ada upaya sistematis yang dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda, misionaris maupun orientalis untuk memisahkan Islam dari budaya Jawa. Untuk memenuhi kebutuhan ahli Jawa berkebangsaan Belanda yang dapat berbicara bahasa Jawa dan memahami berbagai hal tentang Jawa, pada 1830 didirikanlah Instituut voor het Javaansche Taal (Lembaga Bahasa Jawa) di Surakarta, tempat ahli-ahli Jawa berkebangsaan Belanda kemudian mempelajari bahasa Jawa Surakarta dan melakukan kunjungan ke tempat-tempat seperti Dieng, Borobudur, dan Prambanan untuk melihat tradisi Jawa Kuno. Javanologi Belanda itu dengan minat besar terhadap bahasa Jawa kuno yang dilengkapi dana, metode, serta lembaga yang kuat segera membeberkan dangkalnya pemahaman orang Jawa terpelajar tentang tradisi Jawa kuno dan menjadi satu-satunya penakluk. Javanologi Belandalah yang “menemukan”, “mengembalikan”, dan membentuk serta memberikan makna terhadap masa lalu Jawa. Jika orang Jawa ingin kembali ke masa lalunya, mereka juga harus membaca karya-karya Javanolog Belanda yang ditulis dalam bahasa Belanda dan jika mungkin, melalui pendidikan Javanologi di negeri Belanda. (Takashi Shiraisi, Zaman Bergerak, hlm. 7-8)

Upaya memisahkan Islam dari budaya Jawa juga menjadi strategi misi Katolik sejak paruh pertama abad 20. Agama Islam harus dipisahkan dengan budaya Jawa, setidak-tidaknya dalam teori dan juga dalam praktek sejauh hal itu dimungkinkan. Semua konfrontasi langsung dengan agama Islam mesti dihindari. Dalam strategi ini, penyangkalan atas jati diri Muslim Jawa atau setidak-tidaknya peremehan atas unsur Muslim dalam budaya Jawa tetap merupakan sebuah faktor yang kuat. Untuk itulah, di sekolah-sekolah yang didirikan para misionaris di Jawa, seperti di sekolah Muntilan, penggunaan bahasa Melayu dihindari sejauh mungkin. Sebab, bahasa Melayu identik dengan bahasa kaum Muslim. Penggunaan bahasa Melayu dikhawatirkan akan menyiratkan dukungan terhadap agama Islam.

Baca Juga:Dakwah Islam Sebelum Wali Sanga

Imam Jesuit Frans van Lith mengatakan, “Dua bahasa di sekolah-sekolah dasar (yaitu bahasa Jawa dan Belanda) adalah batasannya. Bahasa ketiga hanya mungkin bila kedua bahasa yang lain dianggap tidak memadai. Melayu tidak pernah bisa menjadi bahasa dasar untuk budaya Jawa di sekolah-sekolah, tetapi hanya berfungsi sebagai parasit. Bahasa Jawa harus menjadi bahasa pertama di Tanah Jawa dan dengan sendirinya ia akan menjadi bahasa pertama di Nusantara.” (Lihat Karel A. Steenbrink, Orang-Orang Katolik di Indonesia 1808-1942, Jilid II, hlm. 686 dan 726)

Pada 1980-an, Nancy K. Florida, seorang profesor dari Universitas Michigan, mendokumentasikan naskah-naskah Jawa kuno yang ada di Keraton Kasunanan Surakarta, Istana Mangkunegaran, dan Perpustakaan Radya Pustaka di Solo. Betapa jengkelnya ia setelah mengetahui bahwa sebagian besar naskah Jawa yang telah diteliti para filolog Belanda mempunyai kecenderungan non-Islam atau anti-Islam, padahal bagian terbesar dari naskah Jawa yang tersimpan dalam perpustakaan bernuansa Islam. Sebuah katalog naskah Jawa dari Museum Sonobudoyo, Yogyakarta, juga menunjukkan kecenderungan yang sama. Oleh karena itu, kecurigaan Steenbrink tentang kecenderungan akademis untuk memisahkan Jawa secara konseptual dari Islam di kalangan ilmuwan zaman kolonial dan yang mempunyai kecenderungan orientalistik, apalagi dari kalangan gereja, ternyata dibenarkan oleh Florida. (Azyumardi Azra, Renaisans Islam Asia Tenggara, hlm. x) Wallahu a‘lam.

Oleh: Ust. M. Isa Anshari/Sejarah Islam Indonesia

Sumbangan Islam dalam Memajukan Negeri Ini

Sebagian orientalis berpendapat bahwa kedatangan Islam ke negeri ini tidak membawa pengaruh dan perubahan penting. Snouck Hurgronje, misalnya, menyatakan dalam bukunya Nederland en de Islam (hlm. 1) bahwa Islam baru masuk ke kepulauan Indonesia pada abad XIII setelah mencapai evolusinya yang lengkap. Snouck Hurgronje juga menyatakan dalam bukunya, Arabie en Oost Indie (hlm. 22), bahwa orang Islam di Indonesia sebenarnya hanya tampaknya saja memeluk Islam dan hanya di permukaan kehidupan mereka ditutupi agama ini. Ibarat berselimutkan kain dengan lubang-lubang besar, tampak keaslian sebenarnya, yang bukan Islam. Orientalis lain, J.C. Van Leur, bahkan menyimpulkan bahwa Islam tidak membawa perubahan mendasar sedikit pun di kepulauan Nusantara dan tidak juga perabadan yang lebih luhur daripada peradaban yang sudah ada.

Benarkah demikian?

 

Permulaan Zaman Modern

Kedatangan dan penyebaran Islam merupakan proses yang sangat penting dalam sejarah Indonesia. Oleh karena itulah, M.C. Ricklefs dalam bukunya yang berjudul A History of Modern Indonesia menulis permulaan munculnya zaman modern di Indonesia sejak kedatangan Islam. Hal ini berarti bahwa sebelum kedatangan Islam, Indonesia belum memasuki zaman modern. Begitu pula, Indonesia sudah memasuki zaman modern sebelum para penjajah Barat yang beragama Katolik dan Protestan datang ke negeri ini.

Baca Juga: Islam Sebagai Kekuatan Orang Aceh Melawan Portugis

Menurut Syed Muhammad Naquib Al-Attas, agama Islam yang datang ke negeri ini telah membawa suatu pemikiran baru dengan konsep-konsep rasionalisme, intelektualisme, dan penekanan kepada sistem masyarakat yang berdasarkan kepada kebebasan perseorangan, keadilan dan kemuliaan kepribadian insan. (Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu, hlm. 20) Dorongan baru yang dibawa oleh Islam itu telah menggalakkan perkembangan ilmu pengetahuan di Indonesia.

 

Perkembangan Ilmu

Setelah kedatangan Islam, perkembangan ilmu pengetahuan berlaku bukan saja di pusat-pusat kebudayaan di istana atau keraton, tetapi kegiatan intelektualisme ini turut juga tersebar di kalangan rakyat jelata. Dalam Islam, kewajiban belajar dan membaca, terutama kitab suci Al-Qur’an, sudah menjadi sesuatu yang mesti dilakukan oleh setiap manusia Indonesia muslim. Sejak dari kecil, seseorang sudah diasuh mempelajari huruf Arab agar bisa membaca Al-Qur’an dan kitab-kitab agama yang lain.

Dengan hal itu, gerakan pendidikan tidak lagi dimonopoli oleh istana-istana raja, tetapi tersebar luas di kalangan rakyat melalui institusi pendidikan, seperti madrasah, pesantren, masjid, langgar, surau dan lain-lain. Hasil dari pendidikan di berbagai institusi pengajian Islam, bahasa Melayu juga turut berkembang karena ia telah dijadikan sebagai bahasa pengantar dan bahasa ilmu pengetahuan. Melalui pendidikan Islam itu lahirlah cerdik pandai Indonesia, bukan saja ahli dalam bidang agama Islam, tetapi juga mengetahui cabang-cabang ilmu pengetahuan yang lain. (Ismail Hamid, Kesusastraan Indonesia Lama Bercorak Islam, hlm. 12-13)

 

Bahasa Melayu sebagai Bahasa Muslim

Bahasa Melayu kemudian menjadi bahasa muslim kedua terbesar yang digunakan oleh kaum muslim di wilayah Asia Tenggara. Selambat-lambatnya pada abad XVI, bahasa Melayu telah mencapai kedudukan sebagai bahasa religius dan kesusastraan. Dibandingkan dengan bahasa Melayu kuno pada prasasti batu abad VII dan VIII, bahasa Melayu baru yang menyebar itu telah mengalami evolusi yang mendalam. Bahasa Melayu kemudian ditulis dengan huruf Arab dan sedikit demi sedikit diimbuhi dengan sejumlah besar istilah baru yang diambil dari bahasa-bahasa Islam lainnya. Dalam sebuah kajian, R. Jones telah menghitung secara global 2.750 kata asal Arab (di antaranya 260 nama diri) dan 321 kata asal Persia. Selain itu, ada beberapa kata Hindustani dan beberapa kata Tamil yang juga masuk melalui perantaraan Islam. (Denys Lombard, Nusa Jawa Silang Budaya, Jilid II, hlm. 179)

Baca Juga: Dakwah Islam Sebelum Wali Sanga

Bahasa Melayu pun menjadi bahasa Islam dan berhasil menggerakkan ke arah terbentuknya kesadaran nasional. Untuk menghilangkan pengaruh Islam, sampai-sampai beberapa sekolah di Jawa yang didirikan oleh misionaris pada awal abad XX menghindari penggunaan bahasa Melayu sejauh mungkin. Imam Yesuit Frans van Lith, pendiri sekolah Muntilan berpendapat, ”Dua bahasa di sekolah-sekolah dasar (yaitu bahasa Jawa dan Belanda) adalah batasannya. Bahasa ketiga hanya mungkin bila kedua bahasa yang lain dianggap tidak memadai. Melayu tidak pernah bisa menjadi bahasa dasar untuk budaya Jawa di sekolah-sekolah, tetapi hanya berfungsi sebagai parasit. Bahasa Jawa harus menjadi bahasa pertama di Tanah Jawa dan dengan sendirinya ia akan menjadi bahasa pertama di Nusantara.” (Karel A. Steenbrink, Orang-Orang Katolik di Indonesia 1808-1942, Jilid II, hlm. 726)

 

Budaya Menulis

Mengikuti pengaruh di bidang bahasa adalah tersebarnya sedikit demi sedikit alas baru untuk menulis, yaitu kertas. Sebelum kedatangan dan penyebaran Islam, orang Indonesia biasanya menulis di daun lontar. Teknologi kertas baru menyebar seiring dengan kedatangan dan penyebaran Islam. Meskipun lebih mahal, namun kertas lebih awet dibandingkan daun lontar. Kertas dibuat oleh para ulama dan kyai untuk menyalin buku-buku agama. Kertas itu di Jawa dinamakan dluwang yang digarap dari bagian dalam kulit kayu pohon gluga. Pembuatan kertas dluwang dengan tangan itu biasa dilakukan di pesantren-pesantren. Kata kertas sendiri menunjukkan adanya hubungan erat antara bahasa Melayu dengan Arab dan Islam. Teknik yang pernah berjaya ini akhirnya merosot mulai abad XVII karena adanya impor kertas buatan Eropa secara besar-besaran. (Nusa Jawa Silang Budaya, Jilid II, hlm. 179))

Berdasarkan fakta-fakta di atas, tepatlah pernyataan bahwa Islam merupakan rahmat bagi alam semesta. Islam datang ke Indonesia dibawa oleh orang-orang yang berilmu dan berperadaban tinggi. Islam datang membawa pandangan hidup baru yang ditandai oleh munculnya semangat rasionalisme dan intelektualisme. Pandangan hidup baru ini kemudian mengubah pandangan hidup bangsa Indonesia yang sebelumnya dikuasai oleh dunia mitologi yang rapuh. Islam mengubah masyarakat Indonesia yang primitif menjadi masyarakat modern dan berilmu. Wallahu a‘lam.

 

Oleh: Ust. M. Isa Anshari, M.Si/sejarah Islam Indonesia

 

Respons Militer Kesultanan Aceh Terhadap Ekspansi Portugis

Kedatangan Portugis di Malaka pada 1511 mendorong aktif perlawanan dari orang-orang di wilayah tersebut. Atas dasar intoleransi beragama dan monopoli perdagangan, mereka mengancam hampir semua penduduk dan pengunjung Malaka dan sekitarnya. Akibatnya, beberapa kerajaan menantang orang Portugis, dengan Kesultanan Aceh Darussalam sebagai pihak yang paling gigih melakukannya. Oposisi ini diungkapkan melalui kegiatan militer, politik, perdagangan, dan semangat agama.

 

Bersatu Sebelum Melawan

Setelah menaklukkan Malaka pada 1511 dan menghalau pedagang Islam dari situ, Portugis berusaha menanamkan pengaruh di Pasai dan Pidie dengan mendukung salah satu pihak dalam perselisihan perebutan mahkota yang banyak terjadi di situ. Pada mulanya hubungan antara Kesultanan Pasai dan Kesultanan Pidie dengan Portugis berlangsung dengan baik. Ketika pertama kali datang di Pasai pada 1509, rombongan Portugis diterima dengan baik oleh Sultan Pasai. Di tempat ini, pemimpin rombongan Portugis, Diogo Lopez de Sequieira, bahkan sempat mendirikan tugu atau salib.

Sementara itu, kedatangan orang Portugis di Pidie bermula dari orang-orang mereka yang melarikan diri dari Malaka. Mereka diterima dengan tangan terbuka oleh Sultan Pidie. Alfonso d’ Albuquerque menyatakan penghargaannya terhadap sikap bersahabat Sultan Pidie dan memperbarui persekutuan yang telah dirintis oleh Sequieira. Kemudian ia meneruskan perjalanan ke Pasai.

Hubungan baik itu akhirnya kandas di tengah jalan karena ambisi Portugis yang memaksakan pengaruhnya di Malaka dan sekitarnya khususnya dan Kepulauan Nusantara umumnya. Akibatnya, hal ini mendorong semua unsur anti-Portugis, termasuk masyarakat pedagang kaya Islam, untuk bersatu di bawah panji-panji Aceh, sebuah kesultanan baru yang terbentuk pada sekitar 1500 di atas bekas-bekas Lamri kuno di ujung barat lau Sumatra. Antara 1519 dan 1524 Sultan Ali Mughayat Syah dari Aceh berhasil mengusir orang Portugis keluar dari Sumatra utara dan mulailah apa yang kemudian menjadi abad pertarungan sengit melawan orang asing Kristen ini. (Anthony Reid, Menuju Sejarah Sumatra, hlm. 5-6 dan William Marsden, Sejarah Sumatra, hlm. 376)

Pada awal abad 16 konsentrasi kekuatan Portugis sempat tidak dilawan oleh kaum Muslim di Nusantara. Inilah alasan penting yang membuat orang Portugis begitu cepat mencapai kesuksesan. Akan tetapi, setelah diketahui siapa bangsa Portugis sebenarnya, berbagai perlawanan muncul dari Aceh di barat hingga Maluku di timur. Kekuatan spiritual Islam memberikan kekuatan dan persatuan kepada dunia Islam. Hal ini membuat semua pedagang Muslim tidak hanya menjadi pengikut Islam, tetapi juga penyebar agama dan pembela keyakinan. Umat Islam pun bersatu memberikan perlawanan terhadap orang Portugis. (M. A. P. Meilink-Roelofsz, Persaingan Eropa dan Asia di Nusantara, hlm. 121-122)

 

Api Jihad Berkobar

Tidak seperti Pasai dan Pidie, Aceh sejak awal menunjukkan respons yang berbeda terhadap Portugis. Para penguasa Aceh tidak pernah berkompromi dengan Portugis. Mereka lebih memilih untuk menggunakan kekuatan militer sebagai gantinya. Sekitar tahun 1519, sebuah kapal di bawah komando Gaspar de Costa hilang di dekat Aceh. Orang-orang Aceh menyerang kapal itu, membunuh sejumlah orang dan menawan sisanya, termasuk de Costa. Nina Cunapam, syahbandar Pasai, harus membayar tebusan kepada Sultan Aceh, Ali Mughayat Syah, dan de Costa pun diserahkan kepadanya untuk dipulangkan ke Malaka. Selanjutnya, Sultan Ali Mughayat Syah berhasil mengusir semua pemukiman Portugis di Daya (1520), Pidie (1521) dan Pasai (1524). Ia terbukti menjadi penguasa yang kuat dan Sultan Aceh pertama yang mengendalikan seluruh wilayah Aceh yang disebut Aceh Darussalam. (Amirul Hadi, Aceh and The Portuguese, hlm. 53-54)

Tidak seperti Pasai dan Pidie, Aceh sejak awal menunjukkan respons yang berbeda terhadap Portugis. Para penguasa Aceh tidak pernah berkompromi dengan Portugis. Mereka lebih memilih untuk menggunakan kekuatan militer sebagai gantinya.

Setelah berhasil mengusir Portugis dari Aceh dan menyatukan kerajaan-kerajaan kecil di ujung utara Sumatra, Kesultanan Aceh kemudian aktif menyerang Portugis di Malaka. Serangan pertama terjadi pada 1537, yakni pada masa Sultan Alauddin Al-Kahar (1537-1571). Selanjutnya selama berada di Malaka (1511-1641), Portugis mengalami 13 kali serangan lagi dari Kesultanan Aceh, tapi selalu gagal. Dalam penyerangan ke Malaka, Kesultanan Aceh sering mendapatkan bantuan dari umat Islam di luar Aceh. Misalnya serangan pada 1567, yaitu pada zaman Sultan Mansur Syah. Pada waktu itu, Sultan Mansur Syah membawa sebuah armada besar yang berisi 15.000 orang Aceh, 400 orang Turki, dan 200 meriam. (Sejarah Sumatra, hlm. 389)

Dalam serangan pada 1569, Sultan Mansur Syah membentuk persekutuan dengan Ratu Jepara. Armadanya berkekuatan 90 kapal. Dua puluh lima di antaranya adalah kapal perang besar yang mengangkut 7.000 pasukan dan sejumlah artileri. Namun, serangan ini tidak berhasil. Pada 1574, Malaka dikepung oleh armada Ratu Jepara berkekuatan 300 kapal layar. Delapan puluh di antaranya jung berukuran 400 ton. Setelah mengepung kota itu selama 3 bulan, armada itu mundur dan kehilangan 5.000 orang. (hlm. 390)

Serangan Aceh yang cukup gemilang terjadi pada 1575 setelah armada dari Jawa itu meninggalkan Malaka. Sultan Mansur Syah memerintahkan untuk menyerang 3 fregat Portugis yang sedang berlabuh melindungi beberapa kapal perlengkapan. Akhirnya, ketiga fregat hancur beserta seluruh awaknya. William Marsden menggambarkan peristiwa ini sebagai pukulan dahsyat bagi Malaka. Jumlah pasukan yang tersisa adalah 150 orang dan sebagian besar jumlah ini non-efektif. Sultan Aceh segera mendaratkan pasukannya dan mengepung benteng. Benteng itu dihujani peluru meriam selama 17 hari. Tembakan-tembakan orang Portugis semakin mengendor. Setelah beberapa waktu, tembakan itu berhenti sama sekali karena gubernur berpendapat lebih baik menghemat persediaan amunisi yang tinggal sedikit untuk pertempuran terakhir. Sultan menjadi gelisah karena kesunyian yang tiba-tiba. Ia mengartikannya sebagai persiapan untuk sesuatu tipu muslihat berbahaya sehingga segera menghentikan pengepungan dan kembali ke Aceh. (390-391)

Demikianlah jihad Muslim Aceh melawan penjajah Portugis. Dalam sejarah, Muslim Aceh memang dikenal sebagai suku bangsa yang pantang menyerah kepada penjajah. Mereka lebih memilih bangkit melawan daripada diam menghinakan diri. Wallahu a‘lam.

Oleh: Ust. M. Isa Anshari/Ahli Sejarah Pemikiran Islam

Persaingan Dakwah Islam VS Misi Kristen Portugis di Nusantara

J. O. Schrieke, ahli sosiologi Belanda terkemuka, menyatakan bahwa penyebaran Islam di kepulauan Nusantara mengalami percepatan pada abad 16 M sebagai kelanjutan persaingan antara Islam dan Kristen yang sudah berlangsung lama di Arab, Semenanjung Iberia, dan Eropa. Dengan meyakinkan, ia menulis, “Kita tidak mungkin dapat memahami penyebaran Islam di Nusantara tanpa melihat adanya persaingan antara para pedagang Muslim dengan Portugis.” (Kajian Historis Sosiologis Masyarakat Indonesia, Jilid 2, hlm. 318)

 

Pro Kontra Teori Persaingan

Schrieke berpendapat bahwa teori umum tentang Islamisasi Nusantara gagal memberikan penjelasan yang mencukupi mengapa terdapat sedikit sekali kemajuan yang dicapai Islam sebelum abad 16, sementara setelah itu agama ini berkembang sangat pesat. (hlm. 318) Merujuk pada teori umum tersebut, Islam menyebar di tengah masyarakat melalui pernikahan antara pedagang Islam dengan wanita pribumi, kemudian menembus ke lingkaran para pemimpin dan pangeran, dan secara bertahap menjadi agama yang umum ada di seluruh kalangan.

Menurut Schrieke, suatu hal yang musykil bahwa Islamisasi di Nusantara terjadi hanya dan terutama karena pernikahan yang dilakukan sekelompok orang asing yang jumlahnya sangat kecil. Mereka berdiam hanya di beberapa tempat di pesisir, menikmati hak-hak istimewa, mengepalai kelompok mereka sendiri, dan berada di luar komunitas adat, serta kebanyakan mereka hanya tinggal sementara. Apalagi proses ini berjalan selama berabad-abad. (hlm. 315-316)

Sejak Schrieke mengemukakan teorinya, beberapa ilmuwan memberikan tanggapan. Ada yang mendukung dan ada pula yang mengkritiknya. Di antara pendukung Schrieke adalah W. F. Wertheim. Dalam bukunya, Masyarakat Indonesia dalam Transisi, Wertheim menulis bahwa ekspansi Islam di kepulauan Nusantara adalah akibat adanya orang Barat. Kedatangan orang Portugis terutama mendorong sekian banyak raja di Nusantara untuk menganut iman Islam sebagai gerakan politik untuk melawan penetrasi Kristen. (hlm. 153-154)

Baca Juga: Strategi Portugis Melumpuhkan Islam di Nusantara

Pendukung teori Schrieke lainnya adalah Anthony Reid. Ia menyatakan bahwa pada 1540-1600 terjadi polarisasi (pertentangan) antara Islam dan Kristen. Banyak orang di kota maupun desa beralih ke Islam dan menganggap dirinya bagian dari suatu komunitas Islam internasional. Identifikasi yang eksplisit ini terutama disebabkan oleh dua faktor: 1) hubungan pelayaran yang langsung dan padat antara Asia Tenggara dan laut Merah, dan 2) polarisasi yang meningkat antara Darul Islam dan musuh-musuhnya. (Asia Tenggara dalam Kurun Niaga, Jilid 2, hlm. 169)

Dari pihak pengkritik antara lain adalah Syed Muhammad Naquib Al-Attas. Ia menolak teori Schrieke tadi. Menurutnya, Islam tidak menganggap agama Kristen sebagai pesaing yang serius di Nusantara. Agama Kristen  baru memberi pengaruh pada abad 19 dan seterusnya. (Preliminary Statement on A General Theory of The Islamization of The Malay-Indonesian Archilepago, hlm. 31)

 

Wujud Persaingan

Terlepas dari pro dan kontra tentang teori Schrieke di atas, persaingan antara dakwah Islam dan misi Kristen memang merupakan fakta tak terbantahkan dalam sejarah Nusantara. Adanya persaingan yang oleh Schrieke ditafsirkan telah mempercepat penyebaran Islam di negeri ini bukan berarti orang Kristen Barat (Portugis) turut berjasa bagi usaha dakwah di Nusantara. Sejak pertama datang, Portugis telah membawa motif menyebarkan agama Kristen Katolik dan menaklukkan Islam. Dengan motif ini, tidak mungkin Portugis secara sengaja dan terencana membantu penyebaran Islam sehingga bisa dikatakan berjasa.

Sebelum Portugis datang, para pedagang Muslim telah berhasil membangun jaringan dakwah antarpulau di Nusantara. Jaringan dakwah yang semula hanya menyentuh daerah pesisir ini kemudian dilanjutkan oleh orang-orang Muslim pribumi ke daerah pedalaman. Proses Islamisasi itu terus bergerak bahkan hingga setelah Portugis meninggalkan Nusantara. Islam sendiri merupakan kekuatan antipenjajah. Kekuatan inilah yang mendorong umatnya untuk merespons kedatangan penjajah Portugis. Respons tersebut bisa berupa respons politik, ekonomi, militer maupun dakwah. Jadi, adanya percepatan penyebaran Islam di Nusantara pada abad 16 adalah imbas yang tidak pernah disengaja oleh Portugis.

Baca Juga: Citra Pribumi di Mata Penjajah Portugis

Sejak penaklukan Malaka pada 1511 dan seterusnya, Portugis menjadikan Nusantara sebagai medan perangnya melawan Islam dan para pedagang Muslim. Berbagai penaklukan mereka dibarengi kegiatan misionaris yang bersemangat. Hal ini membuat lawan mereka bertindak untuk membalasnya. Para pedagang yang terusir dari Malaka kemudian berdiam di Aceh. Setelah pertengahan abad 16, daerah ini menjadi pusat transit terpenting bagi perdagangan di Asia Barat dan negeri-negeri Islam di India dengan Nusantara. Islam mendapatkan simpati dan tersebar dengan sukses di Sumatra. Sebaliknya, Portugis selalu gagal menancapkan pengaruhnya di pulau ini.

Di wilayah timur Nusantara terdapat persaingan antara Islam dan Kristen yang tampak pada perebutan supremasi antara Portugis dengan para pangeran Muslim di Solor, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Ambon, Morotai, Banda, Seram, Guinea Baru, dan seterusnya. Portugis berusaha meluaskan kekuasaannya dengan mengkristenkan penduduk pribumi, sementara para pangeran daerah di sana berusaha memperkuat kedudukan mereka dengan menyebarkan Islam. (Kajian Historis Sosiologis Masyarakat Indonesia, Jilid 2, hlm. 321-323)

Sejak 1550-an pertikaian antara Islam dan Kristen di Ambon dan sekitarnya kian tajam sehingga banyak menghambat laju perkembangan misi Kristen. Meningkatnya pertikaian itu tak lepas dari usaha Sultan Hairun dari Ternate untuk mengintensifkan penyebaran Islam di Ambon dan sekitarnya. Berbagai tindakan curang pihak Portugis sejak pertengahan 1540-an hingga 1557 dan semakin banyaknya kerajaan di Maluku yang bersekutu dengan Portugis, membuat Hairun semakin kehilangan kepercayaan terhadap Portugis dan kian bersikap anti-Kristen. Pada 1558 Sultan Hairun mengirim pasukan untuk menyerang Pulau Buru dan Ambon. Pasukannya memaksa banyak orang Kristen untuk meninggalkan agamanya. (Jan S. Aritonang, Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam, hlm. 36)

Oleh:  Ust. M. Isa Anshari/Sejarah Islam Indonesia

Strategi Portugis Melumpuhkan Islam Di Nusantara

Ekspansi Portugis ke Nusantara pada abad 16 diwarnai oleh semangat anti-Islam. Sebab, Semenanjung Iberia –negeri mereka– pernah dikuasai oleh pemerintahan Muslim (711-1492). Dengan semangat ini, armada Portugis menjelajahi Laut Merah, Laut Arab dan Samudra Hindia untuk mengkristenkan umat Islam dan melakukan perdagangan. Untuk itu, Pulau Socotra di Selat Aden direbut pada 1505. Pada 1507, Hormuz, salah satu pusat perdagangan di Teluk Persia, juga ditaklukkan. Agar bisa menaklukkan Jeddah, sebuah armada laut Mamluk dihancurkan di Laut Merah pada 1509.

 

Mengkristenkan Pribumi

Pada 1500 dibentuk suatu komite bernama komite Cabral. Komite ini bertugas memberikan informasi kepada penguasa Calicut tentang permusuhan Portugis terhadap Muslim. Komite Cabral mengultimatum umat Islam bahwa Portugis merampas kapal dan harta umat Islam sebanyak mungkin. Jika umat Islam tidak bersedia murtad ke Kristen, mereka akan dihadapi dengan senapan dan pedang. Mereka akan diperangi tanpa kasih sayang.

Alfonso D’Albuquerque berencana membelokkan Sungai Nil untuk melumpuhkan Mesir, salah satu pusat perlawanan Islam. Selanjutnya Portugis akan menaklukkan Aden sehingga terbukalah jalan untuk menghancurkan Mekah untuk selamanya. Meksipun rencana itu tidak berhasil, permusuhan terhadap Islam tetap berlanjut. Mereka merampas dan membakar kapal dagang Muslim dan mengurangi impor Mesir dari Asia sehingga Gujarat dan Aden, dua pelabuhan dagang utama itu, mengalami kerugian.

Mesir sebenarnya sudah diminta untuk mencegah Kristenisasi Muslim secara paksa dan agar Portugis tidak menghalangi pelayaran ke India. Akan tetapi, Portugis rupanya telah bertekad untuk tetap menjalankan program Kristenisasi itu, sebagaimana disampaikan Raja Manuel kepada penguasa Calicut dalam suratnya, “…kami boleh percaya bahwa Tuhan kami tidak menakdirkan sesuatu yang menakjubkan seperti perjalanan kami ke India hanya untuk meningkatkan hubungan duniawi, tetapi juga untuk keuntungan spiritual dan keselamatan jiwa yang kami harus memberikan penghargaan yang lebih tinggi.” (B. J. O Schrieke, Kajian Historis Sosiologis Masyarakat Indonesia, Jilid 1, hlm. 53-54)

Pada 1511 Portugis berhasil menaklukkan Malaka. Setelah peristiwa ini, datanglah kapal-kapal Portugis berikutnya. Orang Portugis yang datang itu membawa misionaris yang giat menyebarkan agama Kristen. Franciscus Xaverius, misionaris yang masyhur, sering mengunjungi Malaka. Gereja Kristen Roma segera berdiri. Jemaatnya tidak hanya terdiri dari orang Portugis, tetapi juga orang Indo-Portugis, India, dan Cina. Orang Melayu Islam dari semula susah menerima agama Kristen. Pada 1557 Malaka sudah menjadi tempat tinggal seorang uskup, tetapi jumlah orang Kristen hanya beberapa ratus. (J. D. Wolterbeek, Geredja-Geredja di Negeri-Negeri Tetangga Indonesia, hlm. 85)

Ekspansi misionaris Portugis kemudian berlanjut ke wilayah lain di Nusantara, seperti Maluku, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Jawa Timur dan Nusa Tenggara Timur. Di wilayah tersebut, misi Portugis bersaing dengan dakwah Islam. Kedatangan Portugis memang antara lain untuk membendung dakwah Islam. (Jan. S. Aritonang, Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam di Indonesia, hlm. 40-46)

 

Membangun Koalisi Melawan Islam

Untuk menghadapi kekuatan Islam, Portugis sengaja membangun koalisi bersama pihak-pihak yang berseteru dengan umat Islam. Dalam pertarungannya melawan Turki Sunni, Portugis bersekutu dengan Persia Syiah. Upayanya untuk menghancurkan monopoli perdagangan dari para pedagang Muslim di pesisir India mendapat dukungan mayoritas penduduk Hindu. Orang Portugis menyediakan senjata api bagi para penguasa Hindu. Mereka mengimpor kuda dari Arabia dan Persia ke negara-negara di India bagian selatan. Di negara-negara tersebut, binatang-binatang ini tidak dikembangbiakkan walaupun sangat berguna bagi para penguasa Hindu untuk menghadapi ekspansi Muslim di daratan utama India. Oleh karena itu, para Maharaja menjadi bergantung pada orang asing.

Di wilayah Nusantara, orang Portugis juga berupaya menjalin hubungan erat dengan negara-negara Hindu Jawa. Mereka berupaya bersikap baik dengan para pedagang Hindu di wilayah ini. Hasilnya di pelabuhan laut Malaka, elemen Hindu memajukan permukiman Portugis. Setelah penaklukan, mereka menduduki posisi paling penting dalam kehidupan perniagaan di pelabuhan. (M.A.P. Meilink-Roelofsz, Persaingan Eropa dan Asia di Nusantara; Sejarah Perniagaan 1500-1630, hlm. 121-122)

Sejak dikudeta oleh Girindrawardhana pada 1478, hubungan penguasa Majapahit dengan umat Islam di Jawa menjadi buruk. Berbeda dengan raja-raja sebelumnya yang menghormati Islam, Girindrawardhana sangat membenci dan memusuhi Islam. Pada masa pemerintahannya (1478-1498) itulah terjadi perang pertama antara Demak dan Majapahit. (Solichin Salam, Sekitar Walisanga, hlm. 12)

[bs-quote quote=”Untuk menghadapi kekuatan Islam, Portugis sengaja membangun koalisi bersama pihak-pihak yang berseteru dengan umat Islam. Dalam pertarungannya melawan Turki Sunni, Portugis bersekutu dengan Persia Syiah. ” style=”default” align=”center” color=”#1872a5″][/bs-quote]

Raja berikutnya, Prabu Udara, tidak jauh berbeda dengan Girindrawardhana. Karena tidak senang melihat kemajuan Demak, pada 1512 ia mengirim utusan ke Malaka menghadap Albuquerque. Utusan ini menyerahkan hadiah berupa 20 buah gamelan kecil yang terbuat dari logam, 13 batang lembing dan lainnya. Maksud pengiriman utusan tadi adalah meminta bantuan Portugis guna memerangi kerajaan Islam Demak. Hal inilah yang memaksa Demak mengangkat senjata melawan Majapahit kedua kalinya pada 1517. (Solichin Salam, Sedjarah Islam di Djawa, hlm. 43 dan Saefuddin Zuhri, Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya di Indonesia, hlm. 331)

Pada 1522 panglima Portugis Henrique Leme mengadakan perjanjian persahabatan dengan raja Pajajaran. Raja Sunda ini menganggap Portugis dapat membantunya dalam perang melawan orang Islam yang di Jawa Tengah telah mengambil alih kekuasaan dari tangan raja Majapahit. Sebelum bantuan Portugis datang, Demak mengirim Sunan Gunung Jati pada 1525 untuk menduduki Banten. Dua tahun berikutnya, Sunda Kelapa berhasil diambil alih juga. Karena tidak tahu peristiwa ini, orang Portugis sempat datang ke Sunda Kelapa untuk mendirikan perkantoran berdasarkan perjanjian pada 1522. Oleh pasukan Sunan Gunung Jati, mereka ditolak dengan kekerasan senjata. (H. J. De Graaf, Kerajaan Islam Pertama di Jawa, hlm. 134-135)

 

Kolom ini ditulis oleh: Ust. M. Isa Anshari/Sejarah Islam Indonesia

Khutbah Jumat: Makna Hakiki dari Cinta pada Bangsa dan Tanah Air

إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِالله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى الله عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْراً

يَاأَيُّهاَ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِوَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ 

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا 

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا ,يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ ءَايَةٌ جَنَّتَانِ عَن يَمِينٍ وَشِمَالٍ كُلُوامِن رِّزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوالَهُ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ

أَمَّا بَعْدُ؛

فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, atas nikmat-nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Nikmat iman, nikmat Islam dan nikmat dapat membaca firman-firman-Nya yang terangkum dalam al-Quranul Karim. Itulah nikmat terbesar dalam hidup ini. Nikmat paling istimewa karena tanpanya, nikmat yang lain tidak akan berguna.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Juga kepada para shahabat, tabi’in dan orang-orang yang teguh mengikuti sunah Rasulullah sampai hari Kiamat.

Rasulullah senantiasa menasihatkan taqwa dalam setiap khutbahnya. Maka, khatib pun akan mengikuti sunah Beliau dengan menasehatkan wasiat serupa. Marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah. Berusaha menjalankan perintah-perintah-Nya dengan penuh cinta dan tidak  asal gugur kewajiban semata. Berusaha meninggalkan larangan-Nya, juga dengan penuh cinta meski sebenarnya nafsu sangat menginginkannya.

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Akhir-akhir ini, kita sering mendengar diskusi dan isu-isu seputar semangat kebangsaan dan nasionalisme. Dan Islam, seringkali disindir atau bahkan dituduh menjadi ideologi yang anti terhadap kebangsaan dan mengharamkan cinta tanah air dan bangsa. Sebenarnya bagaimana sikap seorang muslim terhadap hal ini?

Islam tidak mengharamkan umatnya untuk mencintai bangsanya, sukunya, juga tanah air atau negeri di mana dia tinggal. Cinta kepada hal-hal tersebut akan muncul secara alami karena kesamaan bahasa, tradisi, selera dan tempat tinggal. Cinta pada semacam ini bersifat thabi’i alias natural. Contoh kongkritnya, kebanyakan orang akan lebih memilih istri dari bangsa yang sama. Alasannya? Kesamaan bahasa. Kebanykan orang juga lebih memilih tinggal bersama orang-orang yang sebahasa dan sekultur karena hal itu akan memudahkan dalam banyak hal. Hal ini wajar dan dibolehkan.

Namun, kecintaan kita terhadap semua hal itu haruslah proporsional dan tidak boleh melebihi atau merusak kecintaan atas dasar iman dan Islam. Cinta pada saudara seiman dan seislam harus menjadi prioritas karena persaudaran inilah yang diakui oleh Allah. Semua dalil mengenai ukhuwah Islamiyah dalam al-Quran maupun hadits mengarah pada ikatan persaudaraan karena iman dan Islam, bukan yang lain. Jika kecintaan kepada bangsa, suku, dan tanah air melebihi kecintaan kita terhadap saudara seiman, berarti kita telah terjebak sikap ashobiyah jahiliyah atau fanatisme jahiliyah yang dicela dalam Islam.

Contoh kecintaan kepada bangsa dan tanah air yang melebihi cinta kepada saudara seiman adalah sikap abai dan tidak peduli pada penderitaan saudara seiman sebangsa apalagi lain bangsa dan negara. Saat saudara seiman dari bangsa lain menderita karena penindasan, pengusiran dan berbagai konflik, kita bersikap tidak peduli dan enggan membantu karena merasa mereka bukanlah saudara sebangsa dan setanah air. Padahal Iman dan Islam tidaklah dibatasi suku, warna kulit dan negara. Cinta dan persaudaraan Iman adalah persaudaraan manusia sedunia dan bahkan akhirat. Jika cinta kepada bangsa mengakibatkan fanatisme seperti ini, maka cinta semacam itu adalah tercela.

Jamaah Jumat Rahimakumullah

 Dakwah Rasulullah di awal berdirinya kedaulatan Islam di Madinah adalah menghapuskan fanatisme kesukuan antara Aus dan Khazraj dan menyatukan mereka dalam persaudaraan Islam. Rasulullah bersabda:

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ أَذْهَبَ عَنْكُمْ عُبِّيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ وَفَخْرَهَا بِالْآبَاءِ مُؤْمِنٌ تَقِيٌّ وَفَاجِرٌ شَقِيٌّ أَنْتُمْ بَنُو آدَمَ وَآدَمُ مِنْ تُرَابٍ لَيَدَعَنَّ رِجَالٌ فَخْرَهُمْ بِأَقْوَامٍ إِنَّمَا هُمْ فَحْمٌ مِنْ فَحْمِ جَهَنَّمَ أَوْ لَيَكُونُنَّ أَهْوَنَ عَلَى اللَّهِ مِنْ الْجِعْلَانِ الَّتِي تَدْفَعُ بِأَنْفِهَا النَّتِنَ

“Sesungguhnya Allah telah menghilangkan dari kalian kesombongan (fanatisme) ala Jahilliyah dan kebanggaan kalian dengan nenek moyang. (Yang ada adalah) orang beriman yang bertakwa dan orang yang jahat yang celaka. Kalian adalah anak cucu Adam, dan Adam tercipta dari tanah. Maka, hendaklah orang-orang meninggalkan kebanggaan mereka terhadap bangsanya; sebab mereka hanya (akan) menjadi arang jahannam, atau di sisi Allah mereka akan menjadi lebih hina dari serangga yang mendorong kotoran dengan hidungnya.” (HR Abu Daud).

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Selain tidak boleh melebihi dan menghalangi kecintaan pada saudara seiman, cinta pada saudara sebangsa dan setanah air juga tidak boleh membuat kita membiarkan mereka melakukan kezhaliman. Bukan disebut cinta namanya membiarkan saudaranya melakukan kezhaliman. Oleh karenanya, kepada saudara sesuku dan sebangsa pun kita harus tetap mengajak kepada hidayah Allah dan mencegah kemungkaran yang dilakukan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا إِلَى عَصَبِيَّةٍ وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ قَاتَلَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ مَاتَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ

Dari Jabir bin Muth’im, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukan termasuk golongan kami orang yang mengajak kepada ashabiyah (fanastisme), bukan termasuk golongan kami orang yang berperang karena ashabiyah dan bukan termasuk golongan kami orang yang mati karena ashabiyah.”[HR. Abu Dawud No.4456].

 
عَنْ بِنْتِ وَاثِلَةَ بْنِ الْأَسْقَعِ أَنَّهَا سَمِعَتْ أَبَاهَا يَقُولُ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْعَصَبِيَّةُ قَالَ أَنْ تُعِينَ قَوْمَكَ عَلَى الظُّلْمِ

Dari Putri Watsilah bin Al-Asqa’, ia mendengar Ayahnya berkata: Aku berkata, “Yaa Rasulullah, apa itu ashabiyah?”. Rasul menjawab: “Engkau menolong kaummu dalam kezaliman.”[HR. Abu Dawud No.4454].

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Dengan batasan ini kecintaan kita kepada saudara sebangsa dan setanah air justru akan lebih adil dan proprosional. Bukan cinta membabi buta yang membuat kita mengabaikan saudara seiman atau cinta yang mencelakakan karena membiarkan saudara sebangsa melakukan kezhaliman.

Tidak sedikit yang berkoar-koar cinta kepada bangsa dan tanah air, tapi diam saat saudara sebangsa terkena musibah. Diam saat saudara sebangsanya yang juga saudara seiman membutuhkan bantuan karena musibah atau dizhalimi oknum-oknum tak bertanggungjawab. Diam saat penjajah-penjajah modern dari kalangan kapitalis menginjak kedaulatan dan merebut sumber-sumber daya alam di tanah air sendiri.

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Banyak yang menuduh bahwa ukhuwah Islamiyah adalah fanatisme ekslusif yang mengabaikan orang diluar lingkupnya. Padahal jika kita melihat bagaimana cinta dan persaudaraan Rasulullah dan para shahabat, juga umat-umat Islam terdahulu, kita akan dapati bahwa kecintaan mereka pada Islam, eratnya persaudaraan mereka, akan menyebarkan cinta yang lebih luas kepada sekitarnya, kepada bangsanya dan kepada negeri di mana dia tinggal. Memang demikianlah. Kita baru bisa merasakan kesaktian islam sebagai rahmatan lil alamain, bukan ketika kendur dalam berislam tapi justru sebaliknya; saat kita kuat dalam berpegang teguh dengannya.

وَالْعَصْرِ ﴿١﴾ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ ﴿٢﴾ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ 

Khutbah Kedua

الْحَمْدَ لله الَّذِي أَنَارَ قُلُوْبَ عِبَادِهِ الْمُتَّقِيْنَ بِنُوْرِ كِتَابِهِ الْمُبِيْنِ وَجَعَلَ الْقُرْآنَ شِفَاءً لِمَا فِي الصُّدُوْرِ وَهُدَى وَرَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَي خَاتِمِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ سَيِّدِ نَا مُحَمَّدِ النَّبيِّ الْعَرَبِيِّ اْلأُمِّيِّنَ اَلَّذِي فَتَحَ اللهُبِهِ أَعْيُناً عُمْياً وَأَذَاناً صُمًّا وَقُلُوْبَاً غَلْفاً وَأَخْرَجَبِهِ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَي النُّوْرِ. صَلاَةً وَسَلاَماً دَائِمَيْنِ عَلَيْهِإِليَ يَوْمِ الْبَعْثِ وَ النُّشُوْرِ وَعَلَىآلِهِ الطَّيِّبِيْنَ اْلأَطْهَرِ وَأَصْحَابِهِ اْلأَبْرَارِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإحْسَانٍ إِلَي يَوْمِ الدِّيْنَ

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُواصَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمً

اَللَّهُمَّ صَلِّ  وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأصْحَابِهِوَمَنْ تَبِعَهُ بِإحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ. اَللَّهُمَّاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ.اَللَّهُمَّ لاَتُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ.اَللَّهُمَّاغْفِر لَناَ وَلِوَالِديْناَ وَلِلمُؤمِنِينَ يَومَ يَقُومُ الحِسَابُ. رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّبُ الرَّحِيْمِ. رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ

عِبَادَ الله،إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْا عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُاللهِ أَكْبَرُ

Oleh: Ust. Taufik Anwar/Khutbah Jumat

Baca Juga Khutbah Lainnya:
Solusi Andalan Saat Sulit dan Terjepit, Hati Gersang Karena Iman Telah Usang, Keluarga, Fondasi Utama Kekuatan Umat

Dakwah Islam Sebelum Wali Sanga

Hingga saat ini, banyak orang menganggap bahwa Islam baru masuk dan menyebar ke tanah Jawa pada masa akhir kerajaan Majapahit. Wali Sanga menjadi perintis jalan penyebaran Islam di Jawa. Periode Wali Sanga sendiri menurut versi yang masyhur terjadi pada abad 15-16 Masehi. Pada periode ini, penyebaran Islam di tetangga Jawa yang paling dekat, yaitu Sumatera dan Malaka, padahal telah memperlihatkan hasilnya. Beberapa kerajaan Islam telah lama muncul dan berkembang di dua wilayah tersebut. Sementara itu, Jawa seakan menjadi wilayah yang termarginalkan dari sentuhan dakwah Islam sehingga kedatangannya pun telat sekian abad dibanding Sumatera. Benarkah demikian?

Berbicara tentang Islamisasi Jawa, memang masih banyak hal yang terasa samar dan perlu dikaji berulang-ulang. Kesamaran itu di antaranya terjadi karena langkanya sumber tentang proses awal Islamisasi Jawa. Sumber-sumber yang ada lebih banyak memuat data periode saat Islam sudah berkembang. Berbeda dengan Sumatera, sumber tentang proses awal Islamisasi di wilayah ini masih bisa dilacak. Penulisan sejarah Islamisasi Sumatera pun menjadi lebih jelas dibanding Jawa. Terlepas dari faktor ini, harus dipahami bahwa Islamisasi adalah hasil dari interaksi bangsa Nusantara dengan dunia internasional, khususnya dengan bangsa yang sudah masuk Islam.  

 

Hubungan Jawa dengan Dunia Internasional

Dalam hubungan antarbangsa, nama Jawa sudah cukup lama dikenal di dunia internasional. Hal itu dibuktikan dengan disebutnya nama Jawadwipa dalam kitab Ramayana. Diceritakan, Sugriwa sang raja kera mengirimkan pasukannya ke empat mata angin untuk mencari Shinta. Salah satu daerah yang dituju adalah Jawadwipa. Menurut Prof. Sylvain Lévi, kitab ini ditulis tidak lebih dari abad 1 M. Ptolomy, ahli astronomi dari Iskandariah, menulis geografi dunia abad 2 M. Ia menyebut Jawa dengan Iabadiou. Menurutnya, “Iabadiou, yang berarti pulau jewawut (sejenis padi), konon adalah pulau yang sangat subur dan menghasilkan banyak emas.” Kronik China menyebutkan bahwa sekitar 132 M, Tiao Pien (Dewa Warman?), raja Ye-tioa (Jawadwipa), mengirimkan seorang duta ke Cina. Raja Cina menghadiahi Tiao Pien stempel emas dan pita ungu. (Bijan Raj Chatterjee, India and Java, 1933, hlm. 1 dan 22)

Data yang diungkap Prof. Bijan Raj Chatterjee di atas menunjukkan bahwa bangsa India, Mesir kuno (Koptik), dan China sudah lama mengenal Jawa dan berhubungan dengan penduduknya. Hubungan Jawa dengan Mesir kuno sendiri bahkan sudah terjalin berabad-abad sebelum Masehi. Donald Maclaine Campbell mengemukakan bahwa orang-orang dari barat yang pertama kali mengunjungi Jawa adalah orang-orang dari Laut Merah. Mereka datang dengan menaiki perahu pada permulaan 4.500 sebelum Masehi. (Java: Past and Present, Jilid 1, hlm. 20)

Jawa juga mempunyai hubungan yang sangat erat dengan Madagaskar di Afrika Timur. Dalam History of Madagascar, Flaccourt menyatakan bahwa bahasa yang digunakan oleh penduduk pulau ini penuh dengan kata-kata Jawa dan Melayu. Menurut Raempfer, fakta ini merupakan bukti hidup terjalinnya perdagangan antara Madagaskar dengan Jawa dan Sumatera sejak 2.500 tahun yang lalu. (Java: Past and Present, Jilid 1, hlm. 87)

Baca Juga: Citra Pribumi di Mata Penjajah, Portugis

Termasuk yang berhubungan cukup intens dengan orang Jawa adalah orang Arab. Sangat aneh jika orang Jawa sudah berlayar hingga Madagaskar dan menjalin hubungan dengan orang Mesir kuno, namun tidak mempunyai hubungan dengan orang Arab. Jazirah Arab berada di jalur yang dilewati orang Jawa ke Madagaskar. Orang Arab juga dikenal sebagai penjelajah bahari. Mereka membangun pemukiman di pantai barat Sumatera pada awal abad 1 M. Orang Arab tentu sudah lama menjalin hubungan dengan orang Jawa. Akan tetapi, kapan orang Arab pertama kali mengunjungi Jawa tidaklah diketahui meski beberapa abad sebelum Masehi mereka dipastikan sudah mengenal kepulauan Maluku. (ibid)         

     

Jejak Awal Islam di Jawa

Hubungan intens dengan dunia internasional menjadi mata rantai utama untuk menelusuri jejak awal Islamisasi Jawa. Apabila bangsa Arab, bangsa yang pertama kali menerima dan menyebarkan Islam, sudah sangat lama menjalin hubungan dengan bangsa Jawa, tentulah upaya Islamisasi Jawa juga sudah dilakukan sejak awal lahirnya agama ini. Jauh sebelum masa Wali Sanga, tentu sudah ada geliat dakwah di Jawa.

W.P. Groeneveldt dalam “Nusantara dalam Catatan Tionghoa” menceritakan bahwa seorang pemimpin pemukiman Arab di pantai barat Sumatera sempat berencana menyerang Kerajaan Kalingga di Jawa pada masa pemerintahan Ratu Shima (674 M). Akan tetapi, serangan ini dibatalkan ketika ia mendengar keadilan sang ratu dan kecintaan rakyat kepadanya. (hlm. 20-21) Rencana penyerangan itu sezaman dengan pemerintahan Mu‘awiyah bin Abi Sufyan di Damaskus. Pada saat tersebut, bangsa Arab telah memeluk Islam dan menjadi dai yang sangat giat. Ini menjadi jejak awal datangnya orang Islam ke Jawa. 

Baca Juga: Jaringan Islamisasi Jawa-Maluku

Jejak berikutnya diungkap Solichin Salam dalam bukunya Sekitar Wali Sanga. Ia menyatakan bahwa pada masa Mpu Sendok (929-949 M), banyak orang Jawa berdagang hingga Baghdad. Dari hubungan ini, pada masa Airlangga (1019-1042 M) atau setidaknya masa Jayabaya (1135-1157 M), terbentuklah komunitas muslim di daerah pantai Jawa. Salah satu buktinya, ditemukannya makam Fatimah binti Maimun di Leran Gresik (meninggal th 1082 M). (hlm. 9)

Jejak berikutnya diungkap Soetjipta Wirjosoeparto. Dalam disertasinya tentang Kakawin Gatutkacasyara, ia menyebutkan bahwa kitab karya Mpu Panuluh yang ditulis pada masa Jayabaya tersebut banyak menggunakan kata-kata dari bahasa Arab. Jejak lain diungkap oleh T.W. Arnold. Dalam The Preaching of Islam (hlm. 378), ia menulis bahwa pada akhir abad 12 M, putra tertua raja Pajajaran masuk Islam. Namanya Haji Purwa. Ia berusaha mengislamkan Pajajaran, namun gagal. 

Itulah sebagian jejak sejarah yang menunjukkan upaya dakwah Islam sebelum Wali Sanga. Jadi, Wali Sanga bukanlah pihak pertama yang berdakwah di Jawa. Mereka hanya melanjutkan dakwah yang telah dirintis para dai sebelumnya. Dakwah Wali Sanga ternyata lebih sukses dibandingkan dakwah para pendahulu mereka. Oleh karena itu, nama-nama dan kisah mereka selalu dikenang dalam ingatan orang Jawa. 

 

Oleh: Ust. Muh. Isa Anshari/Sejarah Islam Indonesia

Pengaruh Islam Pada Zaman Perdagangan Jawa

Aktivitas perdagangan di Nusantara mempunyai sejarah yang cukup lama. Hal ini menunjukkan bahwa peradaban di Nusantara juga telah muncul sejak lama. Kapan pertama kali hubungan dagang antara orang Nusantara dengan orang di dunia luar secara pasti memang tidak diketahui. Yang jelas, sejak sebelum Masehi, orang Nusantara telah melakukan pelayaran ke barat hingga Afrika dan ke timur hingga Cina untuk berdagang. Letak Nusantara yang berada di jalur kuno pelayaran dari Arab ke Cina membuat negeri ini ramai dikunjungi dan disinggahi berbagai bangsa.  

 

Pengaruh Islam terhadap Ramainya Lalu Lintas Perdagangan

Di antara bangsa yang berhubungan cukup intens dengan orang Nusantara adalah bangsa Arab. Pada awal abad 1 M, mereka membangun pemukiman di pantai barat Sumatra antara Padang dan Bengkulu. Kedatangan Islam (622 M) selanjutnya mendorong orang Arab semakin sering melakukan petualangan. Mereka tergerak untuk menyebarkan kepercayaan baru sambil melakukan aktivitas perdagangan. Oleh karena itu, hubungan dagang antara Arab dan Nusantara semakin intens.

Perdagangan kemudian menjadi jalan perintis bagi penyebaran Islam. Munculnya dua dinasti yang kuat, Khilafah Umayyah di barat (660-749 M) dan Dinasti Tang di timur (618-907 M), juga mendorong perdagangan laut antara wilayah barat dan timur Asia. Hal ini memberi peluang bagi perdagangan orang Arab untuk tumbuh dengan kuat. (Muhammad Redzuan Othman, “Islam and Cultural Heritage From Trade Relations Between The Middle East and The Malay World” dalam Journal of Islam and International Affair, hlm. 112-113)

Baca Juga: Dinamika Dakwah Islam di Kesultanan Banjarmasin

Bersama orang Afrika, Persia, India dan Cina, orang Arab mendominasi perdagangan di Samudra Hindia. Mereka saling berpartisipasi dalam perdagangan sesuai kemampuan dan kebutuhannya serta tidak menghalangi jalan bagi lainnya. Periode antara 41 H/661 M hingga 904 H/1498 tercatat sebagai periode dominasi Islam di wilayah tersebut. (Syauqi Abdul Qawi ‘Utsman, Tijârah Al-Muhîth Al-Hindî fî ‘Ashr As-Siyâdah Al-Islâmiyyah: 41-904 H/661-1498 M, hlm. 7 dan 35)

 

Dominasi Pedagang Jawa di Nusantara

Selain para pedagang asing, pedagang Melayu dan Jawa turut aktif meramaikan arus perdagangan di jalur Samudra Hindia. Orang Melayu dan Jawa menjadi pedagang perantara yang mendistribusikan komoditas di kepulauan Nusantara. Kedua suku bangsa ini bahkan sering terlibat persaingan dalam menguasai pasar.

Pada periode abad ke-12 hingga abad ke-15 menunjukkan bahwa perniagaan laut Jawa mengalami kemajuan besar. Bernard Vlekke berpendapat bahwa dalam masa ini perdagangan tadi berkembang secara cepat. Dalam abad ke-12 keadaan kerajaan Sriwijaya sangat maju. Perkebunan-perkebunan lada meluas dari Sumatera Selatan dan Banten. Menurut Vlekke, kemajuan perniagaan dalam abad ke-12 tadi besar pengaruhnya terhadap perkembangan kerajaan Kadiri menjadi negara laut yang utama. Kadiri kemudian berhasil tampil menggeser dominasi Sriwijaya yang menguasai wilayah barat Nusantara. Dalam waktu lima puluh tahun, daerah di bagian timur kepulauan Nusantara ditaklukkan oleh kerajaan Kadiri.

Sejak paruh kedua abad ke-12, sebuah sumber Cina menyebutkan bahwa Jawa lebih makmur secara perniagaan daripada Sriwijaya. Menurut sumber itu, negeri-negeri di luar Cina yang paling kaya berturut-turut adalah negeri Arab, Jawa, dan Sumatera. Jadi, rupanya kerajaan Kadiri (atau Daha: 1050-1222) pada waktu itu telah mengalahkan kebesaran Sriwijaya. (H. Burger, Sedjarah Ekonomis Sosiologis Indonesia, 25 dan 29)

Baca Juga: Kedatangan Si Perusak Kedamaian; Portugis

Pada periode itu, Sriwijaya (Palembang), Malayu (Jambi), Malaka dan Tumasik (Singapura) memang mampu membangun imperium perdagangan yang menguasai Nusantara. Akan tetapi, Jawa punya keunggulan penyeimbang karena posisinya di tengah dan tanah vulkaniknya subur. Jawa mampu bukan hanya menyokong populasi yang padat, tapi juga memberi makan Kepulauan Rempah-Rempah (Maluku) dan wilayah-wilayah lain yang tidak punya beras. Jadi, Jawa yang menyandarkan kekuatannya pada pertanian selalu menjadi pesaing imperium komersial yang menguasai Selat Malaka. Tambahan pula, keunggulan Jawa bukan hanya pada pertanian. Ia terletak di jalur antara Kepualauan Rempah-Rempah dan Selat Malaka. Ia selalu menyediakan tempat peristirahatan bagi pedagang-pedagang antara Timur dan Barat, dan dengan demikian sebagian kekuatannya juga bersandar pada perdagangan. (J. S. Furnivall, Hindia Belanda; Studi Tentang Ekonomi Majemuk, hlm. 3)  

Sebelum orang Jawa mulai mengunjungi pasar Malaka secara rutin, lalu lintas perdagangan yang ramai terjadi antara pelabuhan Jawa dan pelabuhan Sumatera bagian utara yang menjual lada dari Pasai. Sejak munculnya pelabuhan kecil ini, orang Jawa menjual beras dan rempah-rempah di sana dan membawa kembali muatan berupa lada. Para pedagang Jawa menikmati posisi yang sangat diuntungkan di Pelabuhan Pasai dan dikecualikan dari pajak impor dan ekspor. Mereka juga bisa mendapatkan muatan kembali yang bagus dan menguntungkan. Walaupun penguasa Pasai adalah seorang Muslim, hubungan vasal terus diperkuat. Hubungan ini diawali oleh sebuah perjanjian persahabatan yang tegas dengan kerajaan Hindu Jawa yang menjamin suplai rempah-rempah ke Pasai serta menyediakan pasar untuk ladanya. Hubungan vasal kemungkinan berawal dari masa kampanye Majapahit di Sumatera.

Sejak munculnya Malaka sebagai kota dagang, junk-junk Jawa sudah mulai mengatur haluan ke Malaka, bukan ke Pasai. Dalam segi apa pun, Pelabuhan Malaka lebih strategis dan aman daripada kondisi Pasai. Mungkin juga, Malaka sudah memiliki populasi yang lebih besar daripada Pasai. Artinya, Malaka adalah sebuah pasar yang lebih baik bagi beras Jawa. Di kalangan para pedagang yang menetap di Malaka, para pedagang skala besar adalah orang Keling dan Jawa.

Aktivitas perniagaan Malaka menyebabkan agama Islam tersebar ke wilayah yang lebih luas. Dalam hubungan ini, sepertinya perdagangan menjadi faktor yang sangat penting dalam penyebaran Islam di Nusantara. Sebagai contoh, Malaka memainkan peran penting dalam konversi Kepulauan Rempah melalui pelabuhan-pelabuhan laut di Jawa, yang mereka sendiri memeluk Islam akibat pengaruh Malaka. Sebagian juga bertanggung jawab terhadap perubahan keyakinan ini. (M.A.P. Meilink-Roelofsz, Persaingan Eropa dan Asia di Nusantara; Sejarah Perniagaan 1500-1630, hlm. 30-36) Wallâhu a‘lam.

 

Oleh: Ust. M. Isa Anshari/Sejarah Islam Indonesia

Kedatangan Si Perusak Kedamaian-Portugis

Pada abad 15 M, jalur perdagangan dari Malaka hingga Maluku sangat ramai. Berbagai suku bangsa terlibat di dalamnya, seperti Melayu, Jawa, Keling, Arab, Persia dan Cina. Meski berbeda ras dan agama, mereka mampu menjaga jalur tersebut tetap ramai, damai, dan tanpa monopoli salah satu pihak. Masing-masing pedagang saling menghormati. Akan tetapi, kedamaian jalur perdagangan itu hancur saat memasuki abad 16 M setelah Portugis datang. 

    

Euforia Kemenangan

Wilayah Portugis terletak di Semenanjung Iberia Eropa Barat. Sejak 711 M hingga beberapa abad kemudian, umat Islam pernah menguasai Semenanjung Iberia. Selanjutnya Semenanjung Iberia dikenal dengan nama Andalusia. Pada masa kejayaannya, Andalusia memancarkan sinar peradaban cemerlang yang menerangi Eropa. Selain Muslim, banyak orang Kristen dan Yahudi turut mengambil manfaat dengan menimba ilmu di sekolah-sekolahnya. Akan tetapi, sinar itu perlahan redup, kemudian padam. Kelemahan dan perpecahan internal di antara kaum Muslim menjadi celah bagi orang Kristen untuk menyerang mereka. Perebutan Andalusia dari tangan umat Islam ini oleh orang Kristen dinamakan Reconquista yang secara harfiah berarti “penaklukan ulang”. Di Portugis sendiri, kekuasaan Islam berakhir pada 1249 dengan ditaklukkannya Algarve oleh Afonso III

Setelah berhasil mengusir orang Moor –sebutan untuk orang Muslim– dari Semenanjung Iberia, Portugis mengalami euforia kemenangan. Mereka pun melanjutkan peperangan ke wilayah lain. Pada 1400, Raja Portugis Joao I (1385-1433) memerangi wilayah tetangganya yang seagama, Castilia. Peristiwa ini menyebabkan Sang Raja merasa bersalah. Oleh karena itu, ia ingin menebus kesalahannya dengan “mencuci tangan-tangan yang berdosa tersebut dengan darah orang kafir”. Ia kemudian mengumumkan perang salib untuk merebut Ceuta, yang terletak di pantai utara Afrika di seberang Gibraltar, dari tangan orang Islam. Pada 1415, Ceuta jatuh ke tangan Portugis. Setelah peristiwa ini, mulailah serangan secara berturut-turut atas kedudukan umat Islam

Putra Joao I, Henrique, melanjutkan usaha ayahnya untuk mengekang kekuasaan Islam di Afrika Utara hingga Selatan. Ia mendirikan sekolah navigasi untuk mendorong usaha-usaha ekpansi Portugis berikutnya. Oleh karena itu, namanya sering disebut Henrique sang Navigator. Meskipun belum pernah berlayar jauh, ia mengatur banyak perjalanan ke wilayah-wilayah yang baru dikunjungi Portugis. (C.P.F. Luhulima, Motif-Motif Ekspansi Nederland dalam Abad Keenambelas, hlm. 9-10)

 

Baca Juga: Awal Islamisasi di Banjarmasin

 

Pada 1460, tahun meninggalnya Don Henrique, orang Portugis sampai di pantai Guinea. Di sini mereka mengambil emas dan penduduk pribumi sebagai budak. Dua puluh enam tahun kemudian, Bartholomeus Diaz sampai di ujung selatan Afrika. Ia sebenarnya berharap dapat melintasi ujung ini agar bisa melanjutkan perjalanan ke wilayah di baliknya. Akan tetapi, ia terpaksa kembali ke Portugis karena kapalnya diserang badai. Ujung selatan Afrika itu kemudian dinamakan Tanjung Harapan.

Ekspedisi Portugis berikutnya dipimpin oleh Vasco da Gama. Ekspedisi ini sukses melewati ujung selatan Afrika. Begitu sampai di Samudra Hindia, Vasco da Gama menyaksikan kawasan tersebut sangat ramai. Banyak kapal berukuran jauh lebih besar dari kapal Portugis. Kapal-kapal itu membawa berbagai macam barang berharga. Yang lebih mengejutkan lagi bagi Portugis, pelayaran di Samudra Hindia didominasi oleh musuh mereka, orang Moor. (J.C. van Leur, Indonesian Trade and Society, hlm. 96 dan Bernard H.M. Vlekke, Nusantara, hlm. 97)

 

Menuju India

Tujuan Portugis selanjutnya adalah India, tempat yang mereka ketahui rempah-rempah berasal. Selain itu, Portugis juga menduga India adalah tempat kerajaan rahasia Pendeta John. Sejak lama Portugis ingin membangun sebuah persekutuan dengan sang Pendeta untuk mengobarkan kembali perang salib melawan orang Moor. (B.J.O. Schrieke, Kajian Historis Sosiologis Masyarakat Indonesia, Jilid 1, hlm. 53)

Oleh karena belum mengetahui jalur ke India, Portugis memanfaatkan jasa para navigator Muslim. J.C. van Leur menyebutkan bahwa Portugis dibantu oleh seorang Muslim Gujarat yang diberikan oleh penguasa Melinde (wilayah Kenya). Sementara itu, M.A.P. Meilink Roelofsz menyebutkan bahwa Ibn Iyas dan Ibn Majid –keduanya orang Arab– membantu pelayaran Portugis ke India.

Pada 1498, ekspedisi Vasco da Gama sampai di Calicut India. Di sini, orang Portugis disambut oleh para pedagang Maghribi dengan sikap mengejek dan menjelekkan mereka di hadapan penguasa Calicut, raja Zamorin. Tetapi apa daya, mereka juga memerlukan para pedagang Maghribi, yang mengerti bahasa setempat sekaligus bahasa Spanyol, itu. Mereka lalu mempersembahkan pemberian kepada raja, “dua belas lembar kain lakan bergaris-garis, dua belas buah jubah bertudung kepala, enam buah topi, empat cabang karang, enam buah pasu (bejana besar dari tanah untuk tempat air), sepeti gula serta dua gentong minyak dan madu.”

 

Baca Juga: Jaringan Islamisasi Jawa-Maluku

 

Pemberian ini memicu sindiran para pedagang Maghribi. Mereka menertawakannya. Mereka memandang pemberian Portugis itu terlalu remeh. Menurut mereka, pedagang Mekah yang paling miskin pun akan menganggap pemberian itu sangat tidak layak. (Denys Lombard, Nusa Jawa Silang Budaya, Jilid 2, hlm. 4)  

Portugis kemudian mendirikan kantor-kantor dagang di beberapa pelabuhan di India. Selain berdagang, Portugis juga menyebarkan agama Katholik. Dalam rombongan Vasco da Gama memang terdapat beberapa orang misionaris. Orang Portugis merasa bahwa penyebaran Katholik adalah tugas yang sejalan dengan penjajahan mereka. Pemimpin tertinggi Katholik saat itu, Paus Alexander VI, bahkan merestui hal ini. Dalam Perjanjian Tordesillas pada 4 Mei 1493, ia membagi dunia menjadi dua: bagian barat untuk Spanyol dan bagian timur untuk Portugis, dengan syarat kedua bangsa ini harus menyebarkan agama Katholik di wilayah yang mereka kuasai.

Setelah kunjungan pertama pada 1498, beberapa tahun kemudian Vasco da Gama kembali ke perairan India dengan perintah tegas dari raja Portugis untuk menghentikan semua pelayaran Arab antara Mesopotamia dan India. Setelah beberapa pertempuran dahsyat, ia berhasil mengontrol bagian barat Samudra Hindia bagi rajanya. Wallahu a‘lam.

 

Oleh: M. Isa Anshari/Sejarah Islam Indonesia   

Dinamika Dakwah Islam Di Kesultanan Ternate

Sebelum menjadi kesultanan, Ternate merupakan sebuah kerajaan yang berdiri pada abad 13 M dan memeluk semacam agama syamanisme. Ternate bersama Tidore, Bacan dan Jailolo adalah empat kerajaan bersaudara yang berasal dari keturunan yang sama. Kerajaan Ternate didirikan oleh Baab Mashur Malamo pada 1257. Kerajaan ini memiliki peran penting di kawasan timur Nusantara antara abad 13 hingga abad 17 M. Ternate menikmati kegemilangan di paruh abad ke-16 berkat perdagangan rempah-rempah dan kekuatan militernya. Pada masa jaya, kekuasaannya membentang mencakup wilayah Maluku, Sulawesi bagian utara, timur dan tengah; bagian selatan kepulauan Filipina hingga sejauh Kepulauan Marshall di Lautan Pasifik.

 

Membangun Masyarakat Islami

Raja Ternate pertama yang bergelar sultan adalah Zainal Abidin (memerintah 1486-1500). Sejak saat itu, Ternate secara resmi menjadi kesultanan Islam. Zainal Abidin sempat belajar Islam di Giri Jawa Timur. Sekembalinya ke Ternate, ia mengukuhkan Islam dengan memasukkannya dalam struktur politik, kemudian berusaha memperluas dan menanamkan ajaran Islam melalui pendidikan. Ia membuka sekolah dengan mengangkat guru-guru agama dari Jawa. Ia juga mewajibkan para pegawai daerah untuk mempelajari syariat Islam di Ternate.

Pada masa pemerintahan Sultan Zainal Abidin, Ternate mengalami kemajuan yang pesat bukan hanya di bidang keagamaan, melainkan juga di bidang ekonomi. Perdagangan yang dijalankan oleh orang-orang Ternate, Jawa, dan Melayu menjadi lebih ramai dengan datangnya orang-orang Arab. Kemajuan yang dialami oleh Ternate sempat menimbulkan iri hati kerajaan-kerajaan sekelilingnya. (Azyumardi Azra, Ensiklopedi Islam, Jilid 5, hlm. 99)

 

Memperadabkan Ternate

Setelah Sultan Zainal Abidin meninggal, Bayanullah naik menjadi sultan kedua Ternate (1500-1522). Di kalangan orang Barat, ia dikenal dengan nama Abu Lais atau Sultan Boleif. Ia adalah tokoh yang dipandang sangat pandai, terpelajar, ksatria dan pedagang ulung. Ludovido di Varthema, dalam sebuah lukisan yang dibuatnya semasa Bayanullah, melukiskan Sultan Ternate itu sebagai “seorang pria terhormat dari kota Roma”.

Sultan Bayanullah menyadari segi-segi negatif keadaan kawulanya. Sebagai seorang terpelajar dan terhormat, ia mempunyai keinginan besar untuk memperbaikinya. Pada masa pemerintahannya, sejumlah peraturan yang bertujuan memantapkan syariat Islam dan meningkatkan peradaban bagi kawula kesultanan dikeluarkan. Ada dua tindakan Sultan Bayanullah yang layak dicatat.

Pertama, Kesultanan Ternate menyatakan berlakunya hukum perkawinan Islam bagi seluruh kawula kesultanan yang beragama Islam. Sultan Bayanullah melakukan pembatasan poligami. Pada masa itu, rakyat Maluku utara baik yang sudah beragama maupun belum, seperti yang dikeluhkan oleh seorang misionaris Katholik, Franciscus Xaverius, tidak dapat hidup tanpa poligami. Kemungkinan tidak ada batasan jumlah wanita yang dipoligami. Sultan Bayanullah pun mengeluarkan sejumlah persyaratan berat, sehingga secara formal hampir tidak ada celah lagi yang dapat membawa seseorang untuk berpoligami.

Selain itu, Sultan Bayanullah juga melarang praktek pergundikan yang marak pada zaman tersebut, terutama di kalangan para bobato (sebutan pemimpin level bawah di Ternate). Ada bobato yang memelihara gundik hingga puluhan orang. Sultan Bayanullah membuat peraturan bahwa bobato yang memelihara gundik tanpa persetujuannya akan dipecat.

Peraturan lain yang ditegakkan oleh Sultan Bayanullah adalah memangkas biaya dan peningset dalam perkawinan yang memberatkan dan berlebihan. Sultan menerapkan syarat ijab kabul perkawinan, baik hal itu dilakukan secara Islam maupun adat.     

Kedua, semua kawula kesultanan, tanpa pandang bulu –baik Muslim maupun bukan— harus berpakaian secara Islami. Sultan Bayanullah melarang laki-laki memakai cawat, dan perempuan harus memakai pakaian yang menutup auratnya.

Kebijakan Sultan Bayanullah lainnya yang menyangkut Islam adalah peraturannya yang menentukan bahwa untuk diangkat dalam jabatan bobato, baik di pusat maupun daerah, seseorang harus beragama Islam. Dengan peraturan ini, hampir semua bobato kerajaan adalah Muslim. Dengan demikian, melalui pengaruh para bobato, rakyat Maluku didorong untuk memeluk Islam.

Setelah Zainal Abidin, Bayanullah dapat dipandang sebagai tokoh paling berjasa dalam penyebaran agama Islam, khususnya di wilayah Kesultanan Ternate. Di samping itu, Bayanullah merupakan sultan yang paling penting jasanya dalam penerapan prinsip-prinsip Islam ke dalam struktur dan lembaga-lembaga Kesultanan Ternate. Ia juga sukses mengeluarkan rakyatnya dari kesyirikan menuju tauhid. (M. Adnan Amal, Kepulauan Rempah-rempah, hlm. 66-68)

 

Menghadapi Kristenisasi

Saat pertama kali datang ke Banda pada 1512, Portugis disambut baik oleh pribumi Maluku. Sultan Ternate saat itu, Sultan Bayanullah, segera mengadakan hubungan persahabatan dengan Portugis. Portugis kemudian diberi izin untuk membangun benteng di Ternate. Hubungan persahabatan Ternate-Portugis ini berakhir dengan buruk akibat ulah Portugis sendiri. Di antara sebabnya adalah monopoli perdangan rempah-rempah dan Kristenisasi yang dilakukan Portugis kepada pribumi Maluku yang sudah beragama Islam.

Sultan Khairun (1535-1570) adalah tokoh yang menjadi kendala utama baik di bidang perdagangan maupun pelaksanaan konversi ke agama Kristen Katholik. Sebagai Sultan Ternate, Khairun mengeluarkan berbagai peraturan yang menghambat kedua hal tersebut. Di bidang perdagangan rempah-rempah misalnya, ia sangat pro perdagangan bebas dan menentang pungutan pajak penghasilan terhadap petani cengkih. Demikian pula, untuk menghadapi laju konversi yang sangat mengkhawatirkan, Khairun pernah mengadakan pertemuan dengan Sultan Tidore, Bacan dan Jailolo pada 1544 untuk membendung penginjilan yang dilakukan Misi Jesuit. Pertemuan itu menghasilkan keputusan untuk memisahkan pemukiman orang Islam dari pemukiman orang Kristen, dengan tujuan mencegah konversi orang-orang Islam ke dalam agama Kristen. (M. Adnan Amal, Portugis dan Spanyol di Maluku, hlm. 195) Wallahu a‘lam.

 

Ditulis Oleh: M. Isa Anshari 

 

Tema Lainnya:

Jaringan Islamisasi Jawa-Maluku

Islamisasi merupakan proses yang membentuk jaringan panjang di dunia Islam. Melalui aktivitas perdagangan, para dai berhasil membangun hubungan antarpulau. Jika Islam berhasil didakwahkan di satu pulau, maka dari pulau itu akan berangkat para dai untuk mendakwahkan Islam ke pulau lainnya. Demikianlah yang terjadi di kepulauan Nusantara. Dari ujung barat Sumatra, para dai yang banyak berprofesi sebagai pedagang kemudian melanjutkan gerak Islamisasi ke Jawa. Dari Jawa, gerak Islamisasi dilanjutkan ke pulau-pulau di sebelah utara dan timur, seperti Kalimantan, Madura, Sulawesi dan Maluku.   

Hubungan Dagang dan Dakwah

Sebelum kedatangan Portugis dan Spanyol ke Asia pada pergantian abad 15 ke 16 M, orang Jawa menguasai perdagangan laut di Kepulauan Nusantara. Periode 1300-1500 merupakan masa kejayaan perdagangan Jawa. Di sebelah barat, orang Jawa sejak 1286 menguasai Palembang –ibukota Sriwijaya– yang ramai dikunjungi para pedagang asing. Setelah Palembang mengalami kemunduran pada akhir abad 14 M, sejumlah pedagang Hindu Jawa melakukan eksodus. Mereka kemudian memindahkan aktivitas perdagangan ke Malaka. Di Malaka, para pedagang Hindu Jawa berhubungan dengan orang-orang Muslim dari Gujarat yang giat melakukan dakwah sehingga dengan cepat mereka memeluk Islam. (B. J. O. Schrieke, Kajian Historis Sosiologis Masyarakat Indonesia, Jilid 1, hlm. 19-21)

Baca Juga: Islam Nusantara dan Islam Arab

Aktivitas perniagaan Malaka menyebabkan agama Islam tersebar ke wilayah yang lebih luas. Dalam hubungan ini, perdagangan menjadi faktor yang sangat penting dalam penyebaran Islam di Nusantara. Malaka memainkan peran penting dalam konversi Kepulauan Maluku melalui pelabuhan-pelabuhan laut di Jawa, dimana mereka sendiri memeluk Islam akibat pengaruh Malaka. (M. A. P. Meilink-Roelofsz, Persaingan Eropa dan Asia di Nusantara, hlm. 33)   

Orang Jawa menjadi penghubung perdagangan rempah antara Maluku dengan Malaka. Tuban adalah pelabuhan terbesar di Jawa. Kota ini menjadi gudang besar rempah-rempah dari Maluku. Dari sini, rempah-rempah kemudian dibawa ke Malaka untuk dipasarkan ke India hingga Eropa di barat maupun ke Cina di timur. Sementara itu, kebutuhan beras di Maluku disuplai dari Jawa yang dikenal sebagai penghasil beras. (H. Burger, Sedjarah Ekonomis Sosiologis Indonesia 1, hlm. 33)          

Santri Giri Berdakwah di Maluku

Dengan memanfaatkan hubungan yang telah terbangun antara Jawa dan Maluku, pada akhir abad 15 berangkatlah seorang santri Giri asal Minangkabau bernama Dato’ Maulana Husain ke Ternate. Ia pandai membaca Al-Qur’an dan suaranya amat merdu. Hampir setiap malam ia membaca kitab suci itu dengan baik dan menarik pribumi Ternate. Akibatnya, banyak pribumi Ternate datang ke rumahnya sekadar mendengar tilawah Al-Qur’an. Jumlah mereka semakin membengkak dari hari ke hari.

Di antara pengunjung pribumi ini ada yang mengajukan permintaan agar diajarkan membaca Al-Qur’an seperti yang dilakukan Maulana Husain. Dengan cara halus, Maulana Husain mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah kitab suci orang Islam. Untuk membacanya, seseorang harus terlebih dahulu menjadi Muslim. Orang-orang Ternate tidak keberatan menerima persyaratan itu. Sejak saat itulah, mereka berbondong-bondong memeluk agama Islam. Maulana Husain membuka pengajian untuk mengajari mereka membaca Al-Qur’an dan agama Islam.

Maulana Husain juga ahli kaligrafi. Keahliannya digunakan untuk menulis ayat-ayat suci Al-Qur’an di atas sebilah papan. Keahlian ini membuat kawula Ternate kagum dan berhasrat mempelajarinya. Dakwah Maulana Husain akhirnya menerobos ke dalam istana. Kolano (gelar raja-raja Maluku sebelum Islam) Marhum sendiri tertarik dan sering mengundang Maulana Husain untuk membaca Al-Qur’an dan berdakwah di istana. Akhirnya, Kolano Marhum memeluk Islam dan memerintahkan para bobato dan keluarganya untuk mengikuti jejaknya. Dengan demikian, Kolano Marhum telah membidani lahirnya komunitas Muslim pertama kerajaan Ternate. Marhum wafat pada 1486. Untuk pertama kali dalam sejarah Kerajaan Ternate, seorang Kolano dimakamkan sesuai syariat Islam. (M. Adnan Amal, Kepulauan Rempah-rempah, hlm. 62-63)        

Sultan Ternate Nyantri ke Giri

Sepeninggal Marhum, putranya yang bernama Zainal Abidin menggantikan posisinya memimpin Ternate. Ia adalah pemimpin pertama Ternate yang bergelar sultan. Sejak kecil ia tumbuh dalam didikan Maulana Husain. Semangatnya untuk mempelajari Islam sangat tinggi. Oleh karena itu, pada 1495 ia berangkat ke Jawa guna melanjutkan belajar kepada Sunan Giri.

Ia diterima belajar di pesantren Giri selama 3 bulan. Di pesantren ini, ia dikenal sebagai Sultan Bualawa (Sultan Cengkih). Menjadi murid salah seorang Wali Sanga yang terkenal merupakan idamannya sejak remaja. Karena informasi yang disampaikan Maulana Husain, ia tahu betapa tinggi pengetahuan agama Sunan Giri. Zainal Abidin merupakan satu-satunya Sultan asal Maluku yang menimba ilmu dari salah seorang Wali Sanga.

Baca Juga: Awal Islamisasi Maluku

Selama di Giri, Sultan Zainal Abidin bertemu dengan pemimpin Hitu, Pati Tuban, yang juga disebut Pati Putik. Keduanya menjalin persahabatan dan kerja sama yang memberikan pengaruh agak lebih besar kepada Sultan Ternate yang waktu itu mempunyai kekuasaan yang luas. Selain itu, Sultan Zainal Abidin juga berhasil membina persahabatan dengan orang-orang Jawa yang berpengaruh dan berkuasa. Dalam pelayaran pulang, ia sempat singgah di Makasar dan Ambon untuk membangun hubungan persahabatan dengan berbagai penguasa lokal di sana.

Selama berada di Jawa, Sultan Zainal Abidin sempat merekrut beberapa guru agama. Yang paling terkenal dan terpandai di antara mereka adalah Tuhubahahul. Ia ikut ke Ternate dan membantu Sultan dalam menyebarkan agama dan budaya Islam di sana. Beberapa ulama diboyong ke Ternate, diberi tugas sebagai guru agama, muballigh, dan ada pula yang diangkat sebagai imam. Inilah cikal bakal lembaga Imam Jawa dalam struktur Bobato Akhirat pada pemerintahan kesultanan Ternate. (Kepulauan Rempah-rempah, hlm. 64-65; J. Keuning, Sejarah Ambon Sampai Akhir Abad ke-17, hlm. 3-4) Wallahu a‘lam. (Redaksi/Sejarah/Islamisasi)

 

Tema Terkait: Sejarah Islam, Nusantara, Islamisasi

Awal Islamisasi Banjarmasin

            Banjarmasin hari ini adalah ibu kota provinsi Kalimantan Selatan. Dahulu, pada abad 15 hingga abad 19, Banjarmasin adalah sebuah wilayah geografis untuk sebutan yang melingkupi Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Tenggara dan sebagian Kalimantan Timur. Kumpulan berbagai etnis yang tinggal di wilayah tersebut dinamakan masyarakat Banjar. (Yusliani Noor, Islamisasi Banjarmasin, hlm. 10)

Banjarmasin dalam Hubungan Internasional

            Meski kajian sejarah tentang Banjarmasin tidak seramai kajian sejarah tentang Sumatra dan Jawa, tetapi Banjarmasin bukanlah wilayah sepi tanpa aktivitas. Disebutnya nama Banjarmasin dalam beberapa literatur asing menjadi bukti bahwa wilayah ini telah lama dikenal dan dikunjungi orang. Tentunya ada interaksi antara pengunjung dengan pihak yang dikunjungi.

            Pada abad 7, I-Tsing menyebut nama Mo-Ho-Sin dalam berita yang ditulisnya. Nama ini ditafsirkan oleh Junjiro Takasusu sebagai sebutan untuk Banjarmasin. Dalam berbagai peta kuno yang dibuat orang-orang Eropa, sebutan untuk wilayah Kalimantan bagian Selatan, Tengara dan Tengah adalah Banjarmasin. Dalam Fig. 74, peta yang dibuat Willem Lodewijcksz tahun 1598 disebutnya Bandermacsin. Dalam peta yang dibuat oleh Theodor de Bry tahun 1602, Fig. 102, disebut Bandermach. Selanjutnya, Antonio Sanches membuat peta pada 1641 dengan menyebut Bandermasyn. Lalu dalam peta yang dibuat Jan Jansson pada 1557, ia menulis Banjermshin. (Islamisasi Banjarmasin, hlm. 12)

Dagang Sebagai Saluran Islamisasi

            Sebagaimana wilayah lain di Nusantara, awal masuknya Islam di Banjarmasin terjadi melalui perdagangan. Jauh sebelum Islam diterima secara resmi sebagai agama masyarakat Banjar, Banjarmasin telah masuk dalam jaringan dagang yang dibangun oleh para saudagar di Nusantara. Pedagang dari Sumatra (Melayu) dan Jawa sering mengunjungi wilayah ini. Pedagang dari Jawa bahkan berhasil mendirikan Kerajaan Negara Dipa (1387-1495) dan Kerajaan Negara Daha (1478-1526). Kerajaan Negara Dipa dibangun oleh Empu Jatmika; keturunan saudagar Keling, sedangkan Kerajaan Negara Daha dibangun oleh Raden Sekar Sungsang; anak keturunan penguasa Negara Dipa yang pernah melarikan diri dari rumahnya sewaktu masih kecil. Ia kemudian bertemu dengan pedagang dari Surabaya bernama Juragan Balaba dan menjadi anak angkatnya. Sebagaimana bapak angkatnya, Sekar Sungsang kemudian menjadi pedagang sukses.

            Ia kembali ke kampung halamannya untuk meneguhkan kekuasaan raja Majapahit atas wilayah Negara Daha. Di Majapahit sendiri, komunitas Muslim telah terbangun sejak awal kerajaan ini berdiri. Oleh karena itu, pengaruh Islam tidak hanya terlihat di Majapahit, tetapi juga di wilayah yang menjadi vasal Majapahit, termasuk wilayah pesisir Kalimantan. Tidak menutup kemungkinan para pedagang dari Majapahit yang datang ke Negara Daha dan wilayah lain di Kalimantan adalah pedagang Muslim. Menurut Yusliani Noor, hal ini ditunjukkan dengan bukti-bukti arkeologis nisan bercorak Islam di barat Kalimantan, kawasan Tanjungpura, yang bercorak Majapahit. Sekar Sungsang sendiri bahkan diduga kuat adalah pemeluk Islam yang berupaya membangun pusat kuasa Islam di Banjarmasin, sekitar Negara Daha. (Islamisasi Banjarmasin, hlm. 108)   

            Salah satu anak Sekar Sungsang bernama Raden Sira Panji Kesuma. Kemungkinan besar Sira Panji telah memeluk Islam. Untuk menghindarkan intrik istana Dipa dan Daha, ia diberi sebuah wilayah yang dihuni oleh etnis Ngaju. Bersama dengannya, etnis ini bersedia membangun komunitas baru di kawasan Muara Bahan dan Kahuripan yang mereka sebut Bakumpai. Dua kawasan ini sangat ramai dikunjungi oleh para pedagang dari Jawa, Melayu, Makassar, Wajo, Gujarat, dan Cina.

            Sangat mungkin antara akhir abad 15, etnis Bakumpai yang dipimpin Sira Panji Kesuma telah memeluk agama Islam. Pembentukan Islam sebagai identitas etnis ini tentulah memerlukan proses yang lama. Sebagai pemimpin Biaju atau Ngaju, Sira Panji Kesuma memiliki hubungan kekerabatan dengan Raden Sekar Sungsang. Friksi berbagai kepentingan, termasuk kuatnya pengaruh Hindu-Budha di kalangan kerabat Negara Daha, menyebabkan Sira Panji Kesuma membangun komunitas sendiri di Rantauan Bakumpai. Daerah tersebut kemudian menjadi sebutan untuk identitas etnisnya, yakni etnis Bakumpai.

            Meskipun telah memeluk Islam, Raden Sira Panji Kesuma tidak menampilkan kerajaan baru. Kepemimpinannya masih berada dalam wilayah kekuasaan Negara Daha. Oleh sebab itu, Sira Panji dan komunitas Bakumpai awal tidak membangun masjid dan tidak menampilkan simbol-simbol Islam lainnya. (Islamisasi Banjarmasin, hlm. 116-117)   

            Hubungan antara Majapahit dan Kalimantan dimanfaatkan oleh orang-orang Islam sebagai jalur dakwah ke pulau ini. Bandar dagang Majapahit di pesisir utara Jawa, seperti Gresik dan Tuban, telah lama didatangi oleh mubaligh Islam yang juga pedagang bangsa Arab. Datang pula mubaligh dan pedagang dari Aceh dan Malaka. Para pedagang Muslim memanfaatkan jalur dagang Jawa-Kalimantan yang sudah lama terbangun bahkan sejak sebelum Majapahit berdiri. Dengan pelan namun pasti, terbangunlah komunitas Muslim di pesisir Kalimantan.

            Pada 1470, Raden Paku atau Sunan Giri putra Maulana Ishaq yang saat itu masih berumur 23 tahun berlayar ke Kalimantan dan tiba di Muara Bahan. Kedatangannya sebagai mubaligh sambil membawa barang dagangan dengan tiga buah kapal bersama juragan Champa yang terkenal bernama Abu Hurairah. Sesampainya di pelabuhan, datanglah penduduk berduyun-duyun membeli barang dagangannya. Kepada penduduk miskin, barang-barang itu diberikannya gratis. (Saifuddin Zuhri, Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya di Indonesia, hlm. 386)

            Penyebaran Islam di kalangan penduduk Banjarmasin dilakukan dengan hati-hati dan bijak. Para mubaligh berusaha tidak menyinggung perasaan penduduk yang masih beragama Hindu-Budha dan sangat fanatik kepada Majapahit. Begitu fanatiknya, hingga muncul doktrin di kalangan mereka, “Jangan meniru adat istiadat bangsa lain kecuali adat istiadat Majapahit.” Akan tetapi setelah zaman Majapahit berakhir dan lahir Kerajaan Demak, fanatik mereka beralih kepada Demak. Mereka memandang Demak sebagai mercu suar. (hlm. 390) Wallahu a‘lam.     

 

Ust. Isa Anshari