Istriku Boros, Hemm…

Kutipan kalimat dalam judul di atas tentu sangat tidak sedap dibaca para istri. Betapa kalimat itu menyiratkan secara gamblang keluh-kesah suami terhadap borosnya istri. Namun, hendaklah para istri bersikap bijak terhadap lontaran keluhan suami seperti itu. Bahkan, istri yang bertakwa tentu akan menjadikan ‘kalimat pedas’ itu sebagai sarana muhasabah nafsiyah yang dahsyat. Benarkah aku boros?

Kalimat kritik tersebut seringkali meluncur dari lisan-lisan para suami saat mengobrol ke sana-ke mari dalam forum kaum lelaki. Atau paling tidak, kalimat itu barangkali banyak terukir dalam memori para suami, walaupun lisannya masih tertahan untuk memuntahkan ‘aib istri’ tersebut, demi menjaga kehormatan keluarganya.

Istri dalam Perangkap Konsumerisme

Israf atau berlebih-lebihan, alias boros, memang bukan hanya ‘dosa’ istri semata. Banyak juga para suami yang bergaya hidup boros dalam kesehariannya. Namun, secara kodrati, gejolak materialistis dan konsumerisme itu memang lebih banyak mendekam pada diri kaum wanita. Sampai ada seorang pujangga bernama Alqamah Al-Fahl yang menuturkan dalam syairnya :

Jika kalian menanyaiku tentang wanita

Maka akulah dokter yang sangat mengenal penyakit-penyakit wanita

Bila seseorang telah beruban atau hartanya sedikit

Ia takkan sedikit pun mendapat cinta mereka

Mereka menginginkan harta melimpah di mana mereka mengetahuinya

Dan bagi mereka, usia muda begitu menggairahkan

Tabiat boros yang mengental pada diri wanita ini begitu banyak mendapat cemoohan tiada tara. Orang-orang barat banyak melontarkan kritik yang tajam terhadap wanita bertipe boros ini. Simak beberapa ungkapan mereka yang sangat tidak sedap! Para istri jangan sewot dulu, sekali lagi, jadikan ini sebagai sarana muhasabah Anda. John Barrymore menuturkan, “Wanita itu satu-satunya makhluk yang tidak mengetahui apa yang harus dimilikinya, sebelum ia membelinya.” Alexandre Dumas berkata, “Pernikahan itu sama dengan perpindahan tabunganmu secara berangsung-angsur dari kantongmu ke kantong istrimu.” Salah seseorang dari mereka mengatakan, “Wanita itu penyejuk hati dan setan-setan penguras isi saku.” Sebuah pepatah Inggris mengatakan, “Wanita itu ibarat jalan, perawatannya membutuhkan biaya besar.” (Dikutip dari Ya Ma’syaran Nisa’ Rifqan bir Rijal, karya Dr. Najah binti Ahmad Zhihar).

Na’udzubillah min dzalik. Ajaran Islam yang hanif ini menolak mempersepsikan kaum wanita secara buruk dengan penilaian materialistis seperti ini. Islam sangat memuliakan kaum wanita. Terkait dengan wanita, ajaran Islam beredar untuk meluruskan tabiat wanita dan menshalihkan perilakunya. Merendahkan wanita adalah tabiat jahiliyah yang telah dikubur oleh Islam. Islam datang untuk merias wanita menjadi perhiasan dunia terindah, dengan keshalihan hati dan perilaku sebagai tolok ukurnya.

Jauhi Israf!

Islam secara tegas melarang kaum muslimin bersikap boros. Sikap boros merupakan perangkap setan untuk terus menghasung manusia menumpuk-numpuk harta, dan membelanjakannya secara berlebihan. Allah Ta’ala berfirman :

إِنَّ الْمُبَذِّرِيْنَ كَانُوْا إِخْوَانَ الشَّيَاطِيْنِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُوْرًا

Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan, dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Rabbnya.” (Al-Isra’ : 27)

Allah Ta’ala juga menegaskan, “Dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan” (Al-An’am : 141). As-Suddiy dalam menafsirkan firman Allah, “Wa la tusrifu”, ia mengatakan, “Janganlah kalian memberikan harta kalian sampai habis, setelah itu kalian duduk dalam keadaan fakir.” Ibnu Katsir mengatakan, “Jangan berlebih-lebihan dalam makanan, karena di dalamnya terdapat mudharat terhadap akal dan fisik.” Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu menuturkan, “Makanlah apa yang kamu inginkan, dan pakailah apa yang kamu inginkan, selagi tidak menimpa kamu dua perkara, yaitu sikap berlebih-lebihan dan sombong.” (Tafsir Ibnu Katsir, 6/190).

Islam membimbing kita untuk bersikap pertengahan; tidak boros dan tidak juga bakhil. Allah Ta’ala berfirman, “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian” (Al-Furqan : 67).

Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Dan orang-orang yang membelanjakan hartanya dengan tidak berlebih-lebihan dan tidak pula kikir, artinya mereka tidak bersikap boros dalam membelanjakan harta mereka dalam bentuk membelanjakannya melebihi hajat; dan tidak juga mereka bakhil kepada keluarga mereka dalam bentuk mengurang-ngurangi hak mereka, tidak mereka tahan-tahan, bahkan dengan bentuk adil dan yang terbaik, sebab sebaik-baik perkara adalah yang paling menengah, bukan ini dan bukan pula itu.” (Tafsir Ibnu Katsir, 10/322).

Jadilah Permata Terindah

Dalam sejarah perjalanan hidup para shahabiyah yang mulia terkandung teladan paling agung dan contoh paling indah. Fathimah Az-Zahra’ x memberi kita deskripsi nyata tentang seorang wanita muslimah yang penyabar, mengerti kondisi suami, dan tidak membebaninya dengan beragam permintaan. Suaminya, Ali bin Abi Thalib a, menghadapi situasi ekonomi yang sulit. Lantas, apa yang Fathimah lakukan? Apakah ia mengeluhkan nasibnya ini? Saksikan, apa yang dilakukannya!

Tatkala Fathimah x tak kuasa lagi menahan lapar dan dampak laparnya mulai nampak di wajahnya, Ali terkejut dengan perubahan ini dan ia segera menanyainya, “Kenapa engkau, wahai Fathimah?” “Sudah tiga hari saya tidak mendapati suatu makanan di rumah?,” jawab Fathimah. Ali bertanya lagi, “Kenapa engkau tidak memberitahuku?” “Pada malam pernikahanku, ayahku, Rasulullah n berpesan kepadaku, ‘Wahai Fathimah, bila Ali memberimu sesuatu, makanlah. Dan, bila tidak, maka jangan meminta kepadanya’,” jawab Fathimah. Subhanallah!

      Ali bin Abi Thalib a pernah membuat kriteria wanita terbaik, ia menuturkan, “Sebaik-baik wanita kalian adalah yang berbau wangi, memakan yang baik-baik; bila mengeluarkan harta, tidak berlebihan; dan bila menahannya, juga tidak berlebihan. Wanita seperti ini termasuk pekerja Allah. Dan, pekerja Allah itu tidak akan kecewa.” (Bahjatul Majalis, III : 33)

Wahai para istri, tidak bersikap boros itu permata. Tidak terlalu membebani suami dalam masalah keduniaan, itu permata. Bersikap qana’ah terhadap rezeki yang diberikan suami, itu permata. Membelanjakan harta suami secara baik, itu permata. Maka, kukuhkan Anda sekarang juga untuk menjadi permata terindah bagi suami Anda tercinta! Semoga bahagia! Wallahul musta’an.

 

Ust. Abu Ilyas Mu’afa | Rubrik Kewanitaan

 

Tidak Mau Tinggal dengan Mertua

Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Ustadz, saya menikah dan tinggal terpisah dengan rumah keluarga saya. Ada banyak masalah di antara istri dan ibu saya, sehingga mereka tidak bisa tinggal di satu rumah. Di satu sisi saya mencintai istri dan ingin agar dia bahagia, tapi di sisi lain saya ingin menjadi anak yang berbakti kepada orangtua.

Ustadz, orangtua saya meminta kami agar tinggal bersama mereka. Apa yang harus saya lakukan? Apakah saya harus mematuhi orang tua dan menceraikan istri jika dia tidak mau ikut tinggal bersama, atau saya harus lebih mengutamakan istri dan keluarga kecil saya?

Atas nasihat ustadz, saya sampaikan Jazakumullah khaira jazaa’.

Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Suami yang bingung

Di bumi Allah

Wa’alaikum salam wa rahmatullahi wa barakatuh

Suami yang dirahmati Allah, saya bisa memahami dilema yang sedang Anda alami atas dua keinginan sama-sama sulit. Di mana Anda berkeinginan kuat agar keduanya bisa berjalan beriringan dengan harmonis. Tetapi jika dua hal memang tidak bisa dipadukan, bukankah tidak bijaksana jika kita memaksakannya?

Dalam hal ini yang perlu Anda pahami pertama adalah wajibnya ketaatan dan pelayanan istri kepada suami adalah terhadap diri suami itu saja, bukan kepada keluarga besar suami. Sehingga jika Anda berkeinginan untuk membawa istri masuk ke dalam keluarga besar dan melayani mereka, Anda harus membicarakannya baik-baik sebelumnya. Hal ini agar istri menerimanya dengan ridha dan ikhlas sehingga mudah menjalankannya sebagai tambahan kebaikan baginya.

Namun di sisi lain, Anda juga harus memahami besarnya hak orang tua, terutama ibu atas diri Anda. Sehingga yang diperlukan adalah pembagian waktu yang baik, serta komunikasi yang sehat. Anda jelaskan kepada keduanya bahwa masing-masing memiliki hak atas diri Anda dan hal itu bukanlah untuk dipertentangkan.

Anda tidak bisa memaksa istri untuk tinggal bersama ibu Anda jika dia tidak ikhlas menerimanya. Namun hal itu hendaknya tidak menjadi penghalang untuk berbakti kepada ibu Anda. Carilah tempat yang tidak terlalu jauh sesuai kemampuan Anda agar tetap bisa mengunjungi dan berbakti kepada orang tua. Jangan menyerah untuk terus mengkomunikasikan pilihan Anda agar orangtua dan istri bisa mengerti dan ridha. Katakanlah bahwa hal itu justru demi kebaikan semua pihak.

Jangan lupa berdoa kepada Allah agar memberikan yang terbaik dan kemampuan untuk menyelesaikan maslah Anda dalam keridhaan-Nya.

Selamat mencoba dan sukses selalu.

Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

 

Oleh: Triasmoro Kurniawan/Konsultasi Keluarga

Suami Tanpa Rasa Cemburu

Namanya ‘Dayyuts’. Satu di antara manusia yang Allah tidak akan melihatnya di hari kiamat nanti, juga tidak akan dimasukkan ke dalam jannah. Tentu saja ia adalah sebutan yang tidak pantas melihat betapa besar ancaman Allah kepadanya, meski bagi sebagian orang yang tidak mengerti, kata itu terdengar indah di telinga. Ya, dayyuts adalah dosa besar!

‘Dayyuts’ adalah sebutan untuk suami atau pengendali keluarga yang tidak memiliki rasa cemburu (ghirah), meski anggota keluarganya melakukan perbuatan keji dan tidak senonoh. Dia membiarkan mereka melakukan hal itu meski dia tahu, melihatnya, dan mestinya, mampu menindaknya. Baik secara lisan maupun tindakan.

Dia membiarkan kemungkaran terjadi dalam wilayah kekuasaannya tanpa perasaan terluka. Dalam hal ini, patutlah kiranya jika kita merenungkan hikmah dari Imam al-Hasan, “Demi Allah, tidaklah seorang suami yang selalu menuruti apa kata dan keinginan istrinya, melainkan Allah akan mengekangnya di neraka.”

Dayyuts adalah suami yang mandul menjalankan perannya sebagai penyelamat keluarganya dari api neraka. Dia salah menempatkan arti cinta dan kasih sayang kepada istri dan anak-anaknya. Terbuai oleh angan-angan kosong tentang arti kebahagiaan, namun tidak tahu untuk apa berkeluarga selain menyetujui apa saja yang menjadi kesenangan anggota keluarganya meski hal itu bertentangan dengan syariat. Dia adalah suami yang menghambakan diri kepada istri dan anak-anaknya, bukan kepada Allah.

Wujud perilaku dayyuts bisa bermacam-macam. Suami yang memiliki kecukupan materi, terbuai oleh kenikmatan dunia dan terpesona oleh gaya hidup modern yang materialistik. Merasa bahwa hal itulah yang seharusnya mereka lakukan, bahkan mereka banggakan. Tanpa malu bersama istri dan anak-anaknya mengunjungi tempat-tempa hiburan atas nama lifestyle, membiarkan anggota keluarga ber-tabarruj (bersolek) dengan tujuan memamerkan kecantikan mereka kepada publik, seolah ingin menunjukkan kesuksesannya membiayai kecantikan itu.

Ada juga yang membiarkan anggota keluarganya berkenalan dengan lawan jenis non mahram atas nama pergaulan modern, bercampur baur tanpa hijab, menebarkan senyum kepada semua orang, bernyanyi-nyanyi di karaoke, atau berjoget di klub-klub malam. Atau membuka pintu rumah selebar-lebarnya untuk siapapun yang datang bertamu, baik dia ada di rumah atau tidak, bahkan mengizinkan anggota keluarganya dibawa pergi keluar oleh si tamu itu atas dalih kebebasan, aktifitas ektra kurikuler, belajar bersama, atau sekedar jalan-jalan menghirup udara segar di luar sana.

Dia tidak menyadari bahwa apa dilakukannya bukanlah sebuah kebaikan. Hal itu sangat menghinakan, tidak pantas, dan memalukan. Karena hilangnya ghirah dalam hati seseorang, berarti pertanda matinya hati dan lemahnya iman. Padahal rasa cemburu itulah yang akan menghidupkan hati dan menggerakkan kebaikan atas anggota badan dengan menolak berbagai perilaku maksiat yang dilakukannya.

Dayyuts adalah suami yang menjerumuskan orang-orang yang menjadi tanggungannya di akhirat nanti ke dalam kerusakan dan kehancuran yang nyata. Orang-orang yang harusnya dia kasihi dan cintai, dibiarkannya terinjak-injak kehormatan mereka tanpa pembelaan yang berarti. Pertanda kebodohan dan kelemahan sekaligus! Padahal Rasulullah telah bersabda, “Cukuplah seseorang disebut ‘berdosa’ jika dia menelantarkan orang-orang yang menjadi tanggungannya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Hibban)

Wahai para suami yang bingung menjalani perannya, di manakah ghirah kalian? Mengapa kalian melupakan kewajiban asasi kalian sebagai pengayom dan pelindung keluarga? Kenapa kalian biarkan wanita-wanita kalian keluar rumah tanpa hijab, sedang hal itu merusakkan penghalang antara mereka dengan Allah?

Padahal sebagai kepala keluarga, kita mestinya merasa sakit hati dan cemburu jika maksiat telah dilakukan oleh anggota keluarga kita. Kenyataan pahit bukti kegagalan kepemimpinan kita yang harusnya membuat kita marah dan bergegas melakukan perbaikan untuk menegakkan hukum Allah di dalam keluarga kita. Dalam hal ini, Imam ad-Dzahabi mengatakan, “Sungguh tidak ada kebaikan sama sekali padanya, (yakni) pada orang yang tidak memiliki kecemburuan.”

Tahukah kita tentang kecemburuan shahabat Sa’ad bin Ubadah? Dia pernah berkata, “Sekiranya aku melihat seorang laki-laki berduaan dengan istriku, niscaya akau akan menyabetnya dengan pedang!” Dan ketika ucapan itu akhirnya disampaikan kepada Rasulullah, beliau bersabda, “Apa kalian merasa heran akan ghirah Sa’ad? Demi Allah, aku lebih cemburu daripadanya, demi Allah, aku lebih cemburu dari padanya!” Subhanallah!

Sekarang saatnya kita berbenah untuk menunjukkan kedudukan kita sebagai kepala keluarga sejati. Yang peduli akan kebaikan asasi bagi anggota keluarga kita dengan tidak membiarkan berbagai bentuk penyimpangan syariat terjadi di bawah kendali kita. Sebab kita akan ditanya tentang hal itu semua.

Bukan sekadar memenuhi kebutuhan duniawi atas materi dan fasilitas hidup, namun juga pemenuhan atas kebutuhan arahan dan bimbingan dalam menjalani kebenaran hidup yang bersumber dari al-Qur’an dan sunah Rasulullah. Inilah bukti cinta dan kasih sayang yang sebenarnya. Setuju?

 

Oleh: Redaksi/Keluarga

Akhwat Menolak Lamaran Ikhwan yang Berwajah Buruk

PERTANYAAN:

Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Ustadz, bagaimana hukumnya menolak lamaran laki-laki yang berwajah buruk namun memiliki agama yang baik? Di satu sisi kami ingin menjadi wanita shalihah yang seringkali dipersepsikan sebagai ‘menerima laki-laki yang memiliki agama dan akhlak yang baik tanpa memandang hal-hal selainnya’. Namun di sisi lain, kami juga takut tidak ikhlas menjalankan kewajiban sebagai istri karena kecewa dengan fisik suami.

Atas nasihat ustadz, ana sampaikan jazakumullah khaira jazaa’

Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Seorang Akhwat yang gundah di bumi Allah

 

JAWABAN:

Wa’alaikum salam wa rahmatullahi wa barakatuh

Akhwat yang baik, esensi dalam sebuah pernikahan adalah kenyamanan batin (sakinah). Hal ini jika terwujud, akan memudahkan kita berkonsentrasi dalam membangun ketakwaan. Inilah yang terpenting untuk dibangun dalam sebuah keluarga islami. Bukan kumpulan materi bisu yang tidak menambah ibadah dan kebaikan seisi rumah, atau kebersamaan semu yang menyakitkan semua pihak di dalamnya.

Jika demikian adanya, maka ada banyak hal yang mestinya kita pertimbangkan ketika memutuskan untuk menerima lamaran seorang laki-laki. Standar agama dan akhlak pasti karena hal itu harga mati. Namun kebaikan agama dan akhlak saja, bagi banyak di antara kita, tidak menjadi jaminan adanya kenyamanan hati itu jika terdapat banyak sekali perbedaan antara suami dan istri. Baik yang berupa karakter, kebiasaan, kemampuan berfikir, kelancaran komunikasi, hingga penampilan fisik. Meski bagi sebagian yang lain, hal ini bisa saja tidak menjadi persoalan berarti.

Mengenai hal ini, Shahabat Umar bin Khattab pernah berkata, “Janganlah kalian nikahkan anak gadis kalian dengan laki-laki yang bertampang jelek karena wanita itu menyukai laki-laki yang ganteng sebagaimana laki-laki itu menyukai perempuan yang cantik!

Baca Juga: Bila Wanita Melamar Pria

Jadi, boleh saja seorang wanita menolak lamaran laki-laki ketika dia merasa tidak sreg dengannya. Hanya saja, jangan sampai hal ini menjadi sesuatu yang diprioritaskan untuk kemudian mengabaikan kualitas agama dan akhlak si pelamar. Sebab setelah berkeluarga nanti, keqawwaman laki-laki-lah yang mengambil peran terbesar guna teraihnya sakinah itu. Sehingga ketampanan fisik tanpa kemampuan mengayomi keluarga dan menyelesaikan masalah yang ada, juga akan mendatangkan kekecewaan yang besar.

Cobalah beristikharah agar Allah memilihkan yang terbaik, dan kita terhindar dari penyesalan di kemudian hari. Karena rencana Allah-lah yang akan terjadi, bukan keinginan kita. Sehingga kita harus belajar banyak untuk ridha dengan pilihan Allah.  Wallahu a’lam

Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

 

Oleh: Ust. Triasmoro Kurniawan/Konsultasi

Suami Saya Enggan Shalat, Bagaimana Hukum Pernikahan Kami?

PERTANYAAN:  

Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Maaf Ustadz, saya mohon pertimbangannya. Suami saya jika disuruh shalat wajib susah. Dia hanya menjawab, kalau kamu ikut campur urusanku mending bercerai saja. Saya bingung karena sudah punya dua orang putri. Putri yang kecil sangat dekat dengan ayahnya. Saya baca di ar-Risalah edisi pernikahan impian. Saya jadi merasa berkecil hati. Yang saya tanyakan, bagaimana hukum pernikahan kami? Waktu Ramadhan ia berpuasa dan shalat Jum’at, sedang yang lain tidak. Sekian jazakumullah khairan katsiran.

Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Ummu Abdillah, di bumi Allah

 

JAWABAN:

Wa’alaikum salam wa rahmatullahi wa barakatuh.

Ukhti fillah yang sedang bingung, saya bisa memahami kegelisahan anda dengan kondisi suami yang seperti itu. Mestinya sebagai imam keluarga, dialah yang menyuruh isteri dan anak-anaknya untuk mendirikan shalat, bukan sebaliknya. Kondisi seperti ini jelas tidak nyaman. Semoga anda segera memperoleh jalan keluar yang terbaik, insyaallah.

Menurut saya, masalah suami anda adalah masalah yang serius. Shahabat Umar radhiyallahu ‘anhu pernah berkata bahwa barangsiapa yang meremehkan shalat, maka dalam urusan selainnya dia akan lebih meremehkan lagi. Penjelasannya, kalau tentang hak Allah saja seseorang berani meremehkan, apalagi hak selain-Nya?

Carilah waktu untuk berbicara dari hati ke hati agar dia mengerti apa yang anda maui. Ingatkan juga tentang tujuan pernikahan kalian, dan tanggung jawab yang akan dipikulnya di akhirat kelak, jika dia meremehkan kewajibannya sebagai kepala rumah tangga. Katakan juga bahwa hal ini bukan urusannya saja, namun urusan seluruh anggota keluarga.

Ajaklah dia untuk hadir di majelis pengajian, agar pemahamannya tentang agama semakin bertambah baik. Temanilah dia dalam proses mencari nikmatnya ibadah, agar dia tidak menganggap shalat dan ibadah yang lain hanya merepotkan dan melelahkan. Jangan lupa untuk selalu berdoa agar Allah membukakan pintu hatinya untuk kebenaran. Yakinlah, doa adalah kekuatan utama ketika semua rumusan akal telah menemui jalan buntu.

Ukhti fillah, seandainya semua cara sudah ditempuh dan dia tetap kukuh untuk tidak mengerjakan shalat, bersiap-siaplah untuk mengajukan khulu’, yaitu pengajuan perceraian dari pihak isteri. Pedih memang. Namun ini adalah jalan terakhir, sebab tidak ada yang bisa diharapkan dari laki-laki seperti ini. Sebelum kesedihan anda akan bertambah-tambah.

Yakinlah Allah akan memberikan petunjuk terbaiknya jika anda melakukan semuanya karena Allah, bukan karena hawa nafsu saja. Karena itu, serahkan semuanya kepada-Nya saja. Wallahu a’lam,

Demikian, semoga bermanfaat!

 

Dijawab oleh: Ust. Tri Asmoro K

 

Baca Konsultasi Lainnya: 

Saya Rajin Ibadah, tapi Mengapa Jodoh tak Kunjung Datang?

Selalu Kena Marah Ibu Mertua, Bagaimana Solusinya?

Suami Punya Hutang, Apakah Istri Harus Melunasinya?

 

Selalu Kena Marah Ibu Mertua, Bagaimana Solusinya?

Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Ustadz, saya punya masalah dengan ibu mertua. Beliau selalu marah-marah dan kurang terima dengan berbagai hal yang saya lakukan. Padahal, insyaallah, saya selalu berusaha menjalankan tugas dengan baik, karena saya anak desa yang terbiasa dengan urusan kerumahtanggaan. Beliau sering marah dan menyinggung perasaan saya. Sayangnya, tipikal suami saya pendiam dan sering mengalah dengan ibu. Padahal satu dua kali saya juga butuh pembelaannya, sebab beberapa hal menurut saya sangat menyinggung perasaan. Apa memang birrul walidain itu harus seperti itu, Ustadz? Kalau iya, mungkin kesabaran saya yang kurang. Atas masukannya saya ucapkan terima kasih.

Muslimah, Jogja

 

Wa’alaikum salam wa rahmatullahi wa barakatuh.

Ukhti yang shalihah, persoalan yang muncul antara mertua dengan menantu adalah masalah yang sangat lazim. Ketidakcocokannya bisa karena kurangnya komunikasi, pengetahuan keagamaan yang lemah, hingga soal perbedaan selera dalam berbagai hal. Meski tidak mudah, bukan berarti tidak bisa diselesaikan. Semoga Allah memudahkan urusan Ukhti.

Yang pertama, cobalah bersyukur kepada Allah atas kesempatan beramal shalih dengan ibu mertua. Sebuah kesempatan langka yang tidak semua menantu mendapatkannya. Anggaplah beliau sebagai ibu sendiri agar lebih mudah memahami sikap dan tindakannya. Termasuk perasaan terikat dengan putra kesayangan, yang lahir dari rahimnya, kini terbagi kecenderungannya dengan Ukhti sebagai isteri. Kelak, Ukhti akan mengerti, insyaallah.

Perbaikilah pola komunikasi dengan cara yang lemah lembut agar terbentuk saling pengertian. Hormati, muliakan, cintai, dan sayangi beliau dengan tulus. Insyaallah hal itu bisa melunakkan hatinya. Sering-seringlah meminta nasihat atas suatu masalah agar Ukhti bisa melihat sudut pandang beliau. Selain akan membuat Ukhti bertambah luas wawasan, hal itu juga bisa menjadi masukan bagi suami untuk bersikap jika ternyata pandangan beliau menyimpang dari ajaran agama islam. Bagaimanapun, beliau berasal dari zaman dan pola pendidikan yang berbeda.

Jangan lupa untuk mempelajari selera beliau tentang suatu hal. Sebab selera seseorang terhadap sesuatu, akan sangat berpengaruh terhadap penilaiannya. Jadi bukan hanya soal selesai dikerjakan, tapi juga tentang bentuk dan tampilannya.

Selain itu, ingatkanlah suami tentang tanggung jawabnya untuk menciptakan keluarga yang sakinah, mawadah, wa rahmah terbebas dari campur tangan orang lain. Juga tentang kewajibannya untuk bersikap adil dengan timbangan syariat. Bisa menegur siapapun yang berbuat zhalim dan melanggar syariat dengan cara yang baik.

Dan kalau ternyata pilihannya adalah berpisah tempat tinggal, maka jangan lupakan silaturahmi dengan sering berkunjung. Syukur sambil membawa oleh-oleh. Juga jangan lupa mendoakan kebaikan bagi beliau secara khusus. Semoga bermanfaat!

Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

 

Oleh: Ust. Tri Asmoro/Konsultasi Keluarga

 

Baca Konsultasi Lainnya Juga: 

Pernah Dinodai Oleh Pacar dan Takut Memutusnya, Apa Solusinya?

Tidak Tahan dengan Kelakuan dan Penampilan Istri

Saya Rajin Beribadah, Tapi Jodoh tak Juga Kunjung Datang

 


Ingin berlangganan Majalah Islami tentang keluarga dan seluk-beluknya? Hubungi Keagenan Majalah ar-risalah terdekat di kota Anda, atau hubungi kami di nomer: 0852 2950 8085

Suami Punya Hutang, Apakah Istri Harus Melunasi?

Pertanyaan: 

Assalaamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Ustadz yang baik, suami saya memiliki hutang yang lumayan banyak. Apakah istri ikut menanggung hutang itu jika dia memiliki harta, sedang suami tidak memiliki harta untuk membayarnya?

Jazakumullah untuk jawaban dan perhatiannya.

Wassalaamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

 

Jawaban:

Wa’alaikum salam wa rahmatullahi wa barakatuh.

Ibu yang shalihah, di dalam Islam, seorang istri tidak berkewajiban menanggung nafkah untuk suaminya. Karena kewajiban menafkahi keluarga dibebankan kepada suami sebagai kepala keluarga. Pun harta seorang istri berapapun banyaknya adalah miliknya sendiri, dan tidak ada seorangpun yang boleh mengambilnya kecuali dengan kerelaan istri.

Di dalam surat an Nisa’ ayat 4, Allah berfirman, “Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.”

Ayat ini menjelaskan bahwa mahar istri yang asalnya dari suami saja, tidak boleh kembali dinikmati suami kecuali atas kerelaan istri, maka harta istri yang bukan dari suami lebih tidak boleh dinikmati suami tanpa kerelaan istri.

Dengan demikian, hukum asalnya adalah istri tidak wajib menanggung utang suami. Harta istri adalah miliknya sendiri dan dia bebas menggunakannya tanpa campur tangan orang lain, termasuk suaminya. Istri boleh menolak pembayaran hutang itu jika suami memaksa. Sebab tanpa kerelaan istri, haram hukumnya seorang suami mengambil dan menikmati harta istri.

Namun jika pembayaran hutang suami oleh istri adalah pemberian yang ikhlas tanpa paksaan, tanda cinta istri kepada suami setelah mempertimbangkan kemampuan masing-masing, juga upaya istri meraih amal shalih yang lebih banyak, tentu saja diperbolehkan. Bahkan ia adalah sebuah keutamaan.

Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat.

 

Oleh: Redaksi/Konsultasi

 

Artikel Konsultasi Lainnya: 

Menjadi Suami Rumah Tangga Seperti Nabi

Banyak suami merasa pekerjaan rumah tangga seperti menyapu, memasak, mencuci piring, momong anak adalah pekerjaan domestik istri. Banyak suami yang tak mau menyentuh ranah ini. “Saya paling tidak suka bila tidur saya terganggu, apalagi untuk mengganti popok anak,” ujar seorang bapak. Ada juga yang mengatakan, “Saya sudah sibuk seharian bekerja. Urusan rumah tangga urusan istri.”  Padahal, suatu hal yang baik apabila suami mau membantu pekerjaan rumah yang biasa dilakukan istri untuk meringankan pekerjaan dan beban keseharian istri.

Ummul mukminin, Aisyah pernah ditanya, “Apa yang dilakukan Nabi di rumah?” Beliau menjawab, “Beliau ikut membantu melaksanakan pekerjaan keluarganya.” (HR. Bukhari).

Dalam hadits ibunda Aisyah yang lainnya, beliau berkata, “Nabi saw menjahit kainnya, menjahit sepatunya, dan mengerjakan apa yang biasa dikerjakan oleh kaum wanita di rumah mereka.” (HR. Ahmad).

Baca Juga: Kisah Pasangan Harmonis Yang Paling Tragis

Tentu tak ada yang meragukan kesibukan Rasulullah, bukan? Beliau seorang Nabi dengan kesibukan dakwah yang luar biasa dan beliau juga seorang pemimpin. Namu, beliau sangat senang membantu pekerjaan istri beliau. Hal itu beliau lakukan kapan saja selagi beliau di rumah bersama istrinya.

Al-Aswad pernah bertanya kepada ibunda Aisyah, istri Rasulullah, mengenai apa yang dilakukan Nabi di rumah. Beliau mengatakan, “Beliau biasanya suka membantu urusan keluarganya, lalu ketika waktu shalat tiba, beliau pergi ke masjid untuk mengerjakan shalat.”

Catatan penting bagi para suami bahwa ketika tiba waktu shalat, Nabi meninggalkan pekerjaan rumahnya untuk pergi ke masjid. Rasulullah meninggalkan pekerjaannya saat panggilan adzan berkmandang di masjid. Tak ada istilah kena tanggung, pakaian masih kotor, dan lain sebagainya.

Nabi telah memberi teladan kepada para suami bahwa mengerjakan pekerjaan rumah bukanlah hal yang tabu. Suami harus menyadari bahwa meskipun tampak sepele, pekerjaan rumah tangga adalah pekerjaan yang berat. Istri dituntut untuk bisa melakukan banyak hal dalam satu waktu demi untuk berbakti kepada suaminya. Membuatnya senang dan betah di rumah.

 

Mari kita Tengok Kembali Kisah Fathimah, Putri Rasulullah

Fathimah merasa lelah dengan banyaknya pekerjaan rumah tangga yang harus ditanganinya. Dia pun pergi menemui Rasulullah untuk meminta seorang pembantu, yakni seorang wanita yang bisa membantunya.

Tatkala Fathimah memasuki rumah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, dia tidak mendapatkan beliau. Dia hanya mendapatkan Aisyah, Ummul Mukminin. Lalu Fathimah menyebutkan keperluannya kepada beliau. Tatkala Rasulullah tiba, ibunda Aisyah mengabarkan urusan Fathimah.

Beliau mempertimbangkan permintaan Fathimah. Kebetulan memang beliau mempunyai beberapa orang tawanan perang, di antaranya wanita. Tetapi tawanan-tawanan ini akan dijual dan hasilnya akan disalurkan kepada orang-orang Muslim yang fakir, yang tidak mempunyai tempat tinggal dan makanan. Lalu beliau pergi ke rumah Fatimah. Saat itu Fatimah dan suaminya hendak tidur. Beliau masuk rumah putrinya dan bertanya, “Saya mendapat kabar bahwa kamu datang untuk meminta satu keperluan. Apakah keperluanmu?”

Fathimah menjawab, “Saya mendengar kabar bahwa beberapa pembantu telah datang kepada engkau. Maka aku ingin agar engkau memberiku seorang pembantu untuk membantuku membuat roti dan adonannya. Karena hal ini sangat berat bagiku.”

Beliau berkata, “Mengapa engkau tidak datang meminta yang lebih engkau sukai atau lebih baik dari hal itu?” Kemudian beliau memberi isyarat kepada keduanya, bahwa jika keduanya hendak tidur, hendaklah bertasbih kepada Allah, bertakbir dan bertahmid dengan bilangan tertentu yang disebutkan kepada keduanya. Lalu akhirnya beliau berkata. “Itu lebih baik bagimu daripada seorang pembantu.”

Baca Juga: Saat Konflik Mendera Dalam Bahtera Keluarga

Ali tidak melupakan wasiat ini, hingga setelah istrinya meninggal. Hal ini disebutkan dalam hadits riwayat Muslim.

Oleh karenanya, ketika ada waktu, suami hendaknya berusaha membantu pekerjaan istri, semampu yang ia bisa.

Mengerjakan pekerjaan rumah bagi suami bukan berarti bertukar peran sebagaimana yang kita saksikan di dalam sinetron. Suami menyelesaikan semua pekerjaan rumah tangga, sementara istri duduk bermalas-malasan sambil bermain HP atau menonton TV. Karena salah satu tugas utama suami sebagai qowam keluarga adalah mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Namun, seorang suami selayaknya menunjukkan bahwa ia siap membantu istrinya bila mampu. Bila belum mampu tunjukkan minat untuk membantu. Kehadiran suami saat istri sedang melakukan pekerjaan rumah saja terkadang sudah cukup membahagiakan istri. Apalagi ikut mengiris bawang atau memasukkan bumbu ke dalam air yang terjerang panas untuk mematangkan hidangan, sungguh momen yang berkesan.

Jika suami tidak dapat melakukan hal ini, setidaknya ia memberikan pujian kepada istrinya dan memberikan senyuman tanda keridhaan kepadanya. Ketika ada sedikit kekurangan dari apa yang dilakukan istri, maklumi saja, tak perlu memarahi apalagi sampai memaki. Wallahu a’lam.  

 

Oleh: Redaksi/Keluarga 

Suami Tidak Komitmen

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Ustadz yang kami hormati, Saya seorang istri yang mengeluhkan tingkah laku suamiku akhir-akhir ini, padahal ia seorang pendakwah aktif dan seorang aktifis islam yang taat. Itu juga pilihanku untuk menikahi suami yang paham agama dan berdakwah. Tapi, akhir-akhir ini akhlak suamiku agak berubah, dia tidak komitmen dengan dengan janji-janjinya dan seringkali mengelak untuk mengakui kesalahannya.

Apa yang harus saya lakukan agar dia mau berubah seperti semula?

 

Jawaban :

Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.

Saudari muslimah yang kami cintai, Rasulullah menekankan dua hal penting dalam memilih kriteria calon suami yaitu agama dan akhlaknya, rasulullah bersabda,

“Apabila datang kepada kalian seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia”

Agama dan akhlak adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, tapi realitanya, banyak sekali pemuda muslim yang paham agama, mereka kurang dalam hal akhlak dan bergaul dengan sesamanya. Ada beberapa penyebab diantaraya ; karakter bawaan, keluarga dan teman dekatnya.

Sebagai pasangan suami istri dua pokok ini sangat runyam apabila salah satu dari keduanya alpa, kasih sayang yang hendaknya diberikan bisa menjadi dosa karena celaan dan kemuliaan akan menjadi hina karena ketidakpahaman.

Rasulullah Bersabda,

tidaklah kelembutan itu ada pada sesuatu melainkan akan menghiasinya,dan tidaklah ia dicabut dari sesuatu melainkan akan mencemarkanya.”

Saudariku, oleh karena itu sebelum kita mengetahui penawarnya, coba tanyakan pada diri pribadi anda, apakah anda sering keluar mengajar atau berdakwah? Seberapa sering anda melakukannya? Apakah ketika keluar anda meninggalkan hak dan kewajiban suami, apakah anda mengabaikan kebutuhan jasmani dan rohani suami, apakah anda selalu memaki dan mengomentari suami anda?

Seorang suami, terutama di masyarakat kita mereka tidak suka bila istri mereka lebih maju ketimbang dirinya, dalam bidang apapun. Begitu juga dalam urusan dakwah dan akademis. Istri memang orang yang paling dia cintai, tapi dia tidak mau kalau mengunggulinya.

Saudariku, sebelum jauh melangkah, berkomitmen lah untuk menjadikan diri anda sebagai pasangan dalam membantu suami agar lebih baik. Ini merupakan langkah dakwah bagi diri anda, terutama bila kalian berdua sudah mempunyai anak. Tumbuhkanlah kasih sayang kepada suami, perhatikan dan dengarkan keluh kesahnya, penuhilah kebutuhan jiwa dan raganya, sering-seringlah mempercantik diri dirumah dengan wewangian, dandan dan pakailah pakaian terbaik ketika menyambutnya. Dan yang terakhir hadirkanlah diri anda disaat suami membutuhkannya kapanpun dan dimanapun.

Semoga dengan langkah-langkah tersebut suami anda bisa segera kembali dan bisa memenuhi apa yang dia komitmenkan. Bersabarlah, karena untuk berubah membutuhkan proses. Tidak serta merta seperti membalikkan kedua telapak tangan. Wallahul musta’an

Mencoba Saling Memahami

Hampir satu tahun berlalu ketika saya mendapat undangan untuk membedah sebuah buku tentang curhat seorang istri di ibukota. Beberapa bulan kemudian membedah ‘pasangan’ buku itu sebagai pembanding. Secara umum, isinya tentang keinginan masing-masing ingin agar pasangannya bisa memahami dirinya dengan baik, agar hubungan mereka semakin berkualitas.

Sekarang hal ini menjadi trend dalam kajian-kajian bertemakan keluarga sakinah. Jadwal saya padat dengan permintaan kajiaan bertemakan ‘suamiku dengarkanlah curhatku’, sampai beberapa bulan ke depan. Gejala apa ini? Kesadaran untuk bisa memahami pasangan dengan lebih baik sedang tumbuh, atau banyak keluarga yang merasa tidak dimengerti karena gagal berkomunikasi, atau keduanya?

 

Baca Juga: Bila Rasa Bosan Dengan Pasangan Mulai Menjangkiti

 

Yang saya bedah, sebenarnya, bukan buku baru. Namun tema yang cenderung ‘abadi’ tentang rahasia pernikahan bahagia, yaitu pemahaman yang baik tentang pasangan, jelas punya nilai kekinian yang sangat cukup untuk selalu dikaji. Dan buku ini bisa menjadi batu loncatannya. Apalagi faktanya, banyak pasangan suami istri yang gagal mewujudkan keluarga bahagia meski mereka sama-sama memiliki niat baik. Sehingga terasa aneh jika kedua belah pihak yang sama memiliki niat untuk bahagia, namun akhirnya gagal meraihnya.

Tapi fakta menunjukkan fenomena itu. Bahwa kebahagiaan keluarga tak cukup dibangun hanya dari niat baik semata. Selain faktor ilmu yang memadai sebagai bekal, faktor pamahaman akan pasangan memiliki saham yang kuat untuk mencapai kebahagiaan yang didambakan itu. Bukan saja akhirnya, masing-masing lebih bisa memahami, mengerti, dan menghargai pasangan, namun juga menjadi lebih sehat dalam berkomunikasi.

Mendudukkan persoalan secara benar dan proporsional dan bukan hanya berdasarkan asumsi. Sebab kenyataan yang harus diterima dengan baik oleh pasangan suami istri adalah bahwa lelaki dan perempuan tidak sama, dan tidak akan pernah sama, sampai kapanpun.

Para perempuan yang secara alami memiliki kecenderungan ‘keluar gua’, atau tidak sabar untuk membagi persoalan yang dihadapinya kepada orang lain, nyatanya tidak mudah membaginya justru kepada para suami mereka. Keenganan itu muncul, entah karena suami memang terlihat sangat sibuk sampai tidak memiliki waktu untuk sekedar berbincang ringan dan santai, atau adanya kekhawatiran jika gayung tak bersambut sehingga menambah luka hati, atau malah khawatir jika pembicaraan yang diinginkan menjadi tambahan beban suami yang sudah terlihat berat.

 

Baca Juga: Kisah Pasangan Harmonis Paling Tragis

 

Dengan bahaya isyarat dan pertanda, para istri ingin agar para suami bisa mengerti dan memahami posisi mereka. Namun seringkali hal itu tidak mudah karena berbagai hal. Sehingga momen kajian dengan tema seperti ini menjadi ajang untuk memahamkan kepada para suami tentang siapa sebenarnya para perempuan yang kini menjadi para istri itu. Tentang perbedaan mereka dengan para lelaki, harapan dan keinginan, hingga sikap seperti apa yang mereka rindukan dimunculkan para suami dalam kehidupan berumah tangga.

Dalam situasi seperti inilah, seringkali saya merasa menjadi juru bicara para istri kepada para suami untuk bisa menyampaikan berbagai persoalan itu. Mereka berharap saya bisa berbicara dengan jelas dan runtut, lengkap dengan dalil-dalil tanggung dibutuhkan, sedang saya berharap para suami yang mendengarkan menemukan pencerahan. Apalagi dengan pendekatan amanah yang harus dipertanggungjawabkan di sisi Allah kelak. Agar kita tidak menjadi arogan dan sensitif ketika diingatkan akan tanggung jawab sebagai suami atau istri, untuk kemudian marah-marah secara emosional.

Sebab pernikahan tidak bisa kita klaim sebagai milik kita sendiri, sehingga mengabaikan batasan syar’i tentang hak dan kewajiban dengan alasan ini rumah tangga saya, dan melarang orang lain untuk ikut campur. Tetapi pernikahan adalah ibadah yang jika syarat penerimaannya diabaikan, maka akan sangat melelahkan bagi pelakunya tanpa jaminan penerimaan dari Allah sebagai amal shalih kita.

 

Baca Juga: Ujian Keimanan Pasangan Beriman

 

Berbagai kajian ini adalah upaya saling menasihati dan mengingatkan agar kita melakukan semua tindakan kita dengan sadar dan bertanggung jawab, berdasarkan ilmu yang cukup dan keikhlasan hati agar menjadi tambahan amal shlih kita di sisi Allah, dan bukan menjadi ajang eksploitasi pasangan dengan berlindung di balik dalil-dalil syar’i. Juga sebagai alat bantu untuk melihat posisi pasangan kita secara lebih adil. Bahwa kita tidak bisa mengabaikan perasaan pasangan dalam hidup berumah tangga sebab dia juga bekerja keras untuk kebahagiaan keluarga dan berharap hasil yang setimpal. Di sisi lain, harapan mewujudkan keluarga yang bahagia, yang samara, betul-betul merupakan kerja ta’awun yang melibatkan seluruh anggota keluarga sehingga menjadi ringan dan melegakan.

Saya berdoa agar diberi kesehatan agar upaya menghidupkan kajian-kajian keluarga bisa memberi manfaat yang maksimal. Karena saya rindu melihat keluarga-keluarga yang bahagia dalam arti yang sebenarnya. Kententraman batin yang kuat, komunikasi yang sehat, hingga output berpa anak-anak shalih sebagai tabungan akhirat benar-benar bisa terwujud. Semoga!