Ibunda Para Ulama

Orang-orang hebat tak pernah jauh dari rahim yang taat. Maka sungguh benar makna syair di atas. Bahwa seorang ibu yang taat, shalihah, akan mencetak sebuah bangsa, yang nantinya akan membentuk sebuah peradaban luhur. Dan itu bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah, yang dapat dilakukan sesaat saja. Ta’dib, pendidikan, adalah perpaduan dari kesabaran panjang, perjuangan berat, kesungguhan tak kenal lelah, dan doa yang tak pernah putus menggetarkan langit.

Mari berkenalan dengan mereka, para ibunda shalihat, yang dari rahim mereka, lahirlah para ulama Islam. Sejarah menuangkan tinta emasnya mengabadikan keharuman nama mereka, yang telah berhasil mencetak sebuah bangsa, membentuk peradaban dengan ilmu dan pekerti yang luhur.

Ibunda Imam Malik

Beliau lah yang memakaikan baju bagus kepada putranya, Malik, memakaikan ‘imamah (penutup kepala yang lazim di Arab), lalu memotivasi putranya, “Pergilahke Rabi’ah (Rabi’ah Ar-Ra’yi, guru Imam Malik), bergurulah kepadanya, ambillah adabnya sebelum ilmunya!”

Adab sebelum ilmu. Masya Allah! Betapa beliau faham, bahwa ilmu tidak berarti apa-apa tanpa adab yang baik.

Dan adab ini betul-betul ter-shibghah dalam diri Imam Malik. Kelak, beliau sangat menghormati ilmu, memuliakan haditshadits Rasulullah ﷺ, dengan memakai pakaian bagus dan memakai wewangian setiap kali hendak mengajar.

Imam Malik juga pernah menegur murid-muridnya saat ada yang meninggikan suara di majlis beliau. Beliau menganggap bahwa itu sama seperti meninggikan suara di hadapan Rasul. Padahal Allah melarang para shahabat untuk meninggikan suara di hadapan Rasul.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَن تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنتُمْ لَا تَشْعُرُونَ ﴿٢﴾

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari.”  (QS. Al-Hujurat: 2)

Kelak, Imam Malik akan menjadi Imam Dar Al-Hijrah (Imamnya kota Madinah). Penulis kitab hadits Al-Muwaththo’, kitab yang menjadi dasar utama dan inti dari kitab-kitab hadits berikutnya.

Ibunda Imam Sufyan Ats-Tsauri

“Anakku, tuntutlah ilmu. Dan ibu akan mencukupimu dengan hasil memintal.” Itulah ucapan Ibunda Sufyan Ats-Tsauri saat putranya ragu.

Ingin menuntut ilmu, namun keyatiman dan kemiskinan menjadi kendala. Wasiat beliau kepada putranya, “Anakku, jika kamu menulis 10 huruf, lihatlah apakah hatimu bertambah khusyu’, lembut dan elok? Jika kamu tidak mendapatkannya, ketahuilah bahwa ilmu itu akan membahayakanmu, dan tidak membawa manfaat bagimu.”

Ilmu yang bermanfaat, itulah yang ditekankan oleh beliau. Ilmu yang menjadikan seseorang semakin dekat dengan Rabb-nya, hati bertambah takut, dan iman serta taqwa yang meningkat. Beliau juga yakin, bahwa Allah akan mencukupi hamba-Nya yang bersungguhsungguh karena-Nya.

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّـهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ ﴿٦٩﴾

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-‘Ankabut: 69)

Kelak, putranya akan menjadi Amirul Mukminin fil Hadits (pemimpin kaum mukmin dalam hadits).

Ibunda Imam Asy-Syafi’i

Asy-Syafi’i kecil lahir di Gaza, Palestina. Yatim, miskin. Usia 2 tahun, sang ibunda membawanya ke Makkah, kampung halaman keluarga ayah.

Keyatiman, kemiskinan bukanlah suatu penghalang dari seseorang menjadi mulia dengan ilmu. Beliau yakin akan hal ini. Dalam asuhan sang ibunda, Asy-Syafi’i hafal Qur’an usia 7 tahun. Hafal kitab AlMuwaththo’ karya Imam Malik (gurunya) usia 13 tahun.

Kelak, Asy-Syafi’i menjadi salah satu Imam Madzhab yang diikuti. Beliau diberi gelar Nashir Al-Haq Wa As-Sunnah (penolong kebenaran dan sunnah Nabi). Penulis 140 kitab.

Madzhabnya menjadi rujukan muslimin hingga kini. Bahkan, madzhab beliau dipakai oleh sebagian besar dari kita, muslimin Indonesia.

Ibunda Imam Al-Bukhari

Al-Bukhari lahir di Bukhara, Samarkand. Anak kecil yatim yang pernah buta. Sang ibunda tak pernah putus mendoakannya di sepertiga malam. Hingga suatu malam, sang ibunda berjumpa dengan Nabi Ibrahim as dalam tidurnya, “Wahai ibu, sungguh Allah telah mengembalikan kedua mata putramu karena kamu sering berdoa kepada-Nya.” Keesokan harinya, penglihatan Al-Bukhari benar-benar telah kembali.

Bahagia dengan kembalinya penglihatan putranya, sang ibunda mewakafkan hidup putranya untuk ilmu. Usia 16 tahun, sang ibunda mengajaknya umrah ke Makkah bersama saudaranya. Seusai umrah, Al-Bukhari menetap di Makkah untuk menuntut ilmu. Sementara ibundanya kembali pulang bersama saudaranya.

Kelak, Al-Bukhari menjadi Syaikh AlMuhadditsin (gurunya para ahli hadits). Kitab beliau, Shahih Al-Bukhari, menjadi kitab rujukan paling shahih setelah Al-Quran.

Sungguh, doa seorang ibu untuk kebaikan dan keshalihan putra-putrinya adalah kendaraan terbaik bagi mereka menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Jimat keramat yang menjaga mereka sepanjang hidup.

Karena seyakin apapun kita terhadap upaya kita, kita tetap tidak sanggup menggenggam hidup kita sendiri. Lebih-lebih kehidupan anak-anak kita, cucu kita dan keturunan kita selanjutnya. Maka kepada Allah lah kita sungkurkan kening, mengakui kehinaan diri dan memohon penjagaan-Nya dengan penuh harap. Allah sebaik-baik penjaga, sebaik-baik pelindung hamba-Nya. Allahu a’lam

Oleh: Redaksi/Keluarga

Andai Boleh Memilih Waktu Kematian

Telah duduk bersama, tiga ulama’ tabi’in, ahli ibadah, dan ahli zuhud, mereka adalah Sufyan Ats-Tsaury, Yusuf bin Asbath dan Wuhaib bin Al-Warad rahimahumullah, berbicara tentang kematian,

Ats-Tsauri berkata: Saya tidak suka jika mati mendadak sebelum hari ini, akan tetapi hari ini aku mengharapkan kematian.

Yusuf : Mengapa (anda berangan-angan jika kematian datang hari ini-pent)?

Ats-Tsauri : Karena aku takut fitnah !

Yusuf : Adapun saya, tidak membenci jika masih diberi umur panjang..

Ats-Tsauri : Mengapa engkau membenci kematian?

Yusuf : Agar aku dapat bertemu dengan suatu hari yang aku bertaubat di dalamnya dan beramal shalih. Bagaimana menurut pendapatmu wahai Wuhaib?

Wuhaib : Saya tidak memilih ini dan itu, apa yang aku suka adalah apa yang disukai oleh Allah Subahanahu!

Adapun Sufyan Ats-Tsauri, beliau takut jika dirinya terjebak oleh fitnah zaman dan tipu daya syetan, beliau melihat adanya perubahan dalam perilaku masyarakat, telah terjadi perbedaan antara manhaj salaf dengan manhaj khalaf, sehingga beliau lebih suka jika kematian datang daripada hidup (dalam keadaan terkena fitnah-pent), hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Nabi Yusuf ‘Alaihis Salam di dalam Al-Kitab Al-Aziz:

تَوَفَّنِي مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ ﴿١٠١

“wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang shalih” (QS. Yusuf : 101).

Telah diriwayatkan hal itu oleh Imam Al-Bukhari rahimahullah tatkala beliau berdo’a agar Allah mencabut nyawanya lantaran beliau khawatir bila terkena fitnah dan hawa nafsu.

Hal itu tidaklah berarti pesimis menghadapi tantangan hidup, bukan pula karena adanya kemadharatan yang menimpa mereka lalu merasa tidak kuat memikulnya, akan tetapi waspada terhadap datangnya fitnah yang datang laksana malam yang gelap gulita.

Dan jika Ats-Tsauri takut terhadap dirinya kalau-kalau akan terjebak kepada fitnah, padahal beliau hidup pada generasi yang utama, lantas agaimana dengan kita hari ini? Kita hidup di zaman yang penuh sesak dengan fitnah dan hawa nafsu, badai kegoncangan dan kebinasaan meliputi di manapun kita berada? Saat di mana dosa dengan bangga menari di depan mata, kebanyakan manusiapun telah berpihak kepadanya. Pernahkah kita mengkhawatirkan seperti apa yang dikhawatirkan oleh Sufyan Ats- Tsauri?  Bahkan kebanyakan kita hanya mengkhawatirkan nasib perut di masa depan. Pekerjaan semakin sulit didapat, kebutuhan meningkat dan persaingan hidup semakin ketat.

Yusuf bin Asbath memiliki sikap yang lain, beliau secara terang-terangan mengatakan bahwa tidak membenci jika diberi umur yang panjang, dan Ats-Tsauri memahami maksud pernyataan Yusuf bahwa hal itu berarti Yusuf membenci kematian dan berangan-angan jika dia masih hidup lama, maka beliaupun menanyakan sebabnya. Sebagai jawabannya, menurut Yusuf, umur yang panjang berarti kesempatan untuk mengganti apa-apa yang telah dia tinggalkan dan kesempatan untuk melipatgandakan amal shalihnya, sehingga hidup di dunia  baginya adalah tempat untuk beramal dan bersabar, maka mengapakah tergesa-gesa untuk pergi (dari dunia) sedangkan dia masih mendapatkan hari di mana dia mendapatkan kesempatan untuk mengangkat derajatnya di akherat?

Kita bandingkan dengan kita hari ini, kebanyakan atau bahkan seluruhnya sepakat dengan pendapat Yusuf dalam hal keinginan berumur panjang. Hanya saja berbeda dalam hal tujuan. Umur panjang seakan identik dengan kesempatan memuaskan syahwat, menunda taubat, atau berarti lama mengenyam indahnya jagat.

Adapun Wuhaib bin Al-Warad tidak menetapkan pilihan atas dirinya, kapan dia akan mati. Beliau katakan bahwa apa yang dipilihkan oleh Allah Subhanah bagi manusia adalah lebih baik dari pilihan manusia atas dirinya sendiri.

Maka, sesuatu yang paling dicintai oleh Allah adalah sesuatu yang beliau cintai pula. Dengan sikap ini, maka hati seorang mukmin dipenuhi dengan rasa ridha, bahagia dan aman, dia melihat kehidupan serba indah, tiada rasa takut dan rasa khawatir, tidak sedih dan tidak gelisah, karena dia ridha dengan apa yang diridhai oleh Allah.

Tiga sikap, namun yang dituju adalah sama, husnul khatimah. Bisa jadi yang paling rajih adalah sikap yang terakhir, karena dia ridha dan yakin akan rahmat Allah, sekalipun sikap kedua lebih rajih dari sikap yang pertama, karena di dalamnya ada angan-angan, cita-cita dan berharap untuk mendapatkan kebaikan dalm hidupnya. Dan karena sikap kedua merealisasikan hadits yang mulia yang mana Rasulullah ﷺ bersabda: “Janganlah salah seorang di antara kalian berangan-angan untuk mati karena adanya kemadharatan yang menimpanya dan sabda Nabi : “janganlah salah seorang di antara kalian berangan-angan untuk mati, jika dia dalam keadaan berbuat baik ia dapat menambah kebaikannya, dan jika dia masih berbuat jahat ia dapat bersegera untuk taubat.”

Kapanpun kita mengharapkan datangnya ajal, tentunya bekal untuk menghadapinya kita siapkan dari sekarang, karena tidak selalu ajal datang sesuai dengan waktu yang diinginkan seseorang.

Oleh: Redaksi/Renungan

Maraknya Tren Membeda-bedakan Ustadz dan Ulama’

Maraknya dakwah Islam di Indonesia layak kita syukuri. Terlebih saat banyak dai mulai melek teknologi dan menggunakan alat informasi sebagai media dakwah. Masyarakat menjadi lebih mudah untuk mendapatkan asupan ilmu. Sayangnya, masyarakat kerap dibuat resah dengan munculnya perdebatan dan saling menyalahkan di antara beberaapa oknum dai yang kemudian menjadi viral di media sosial.

Setiap manusia memiliki perbedaan, baik secara keilmuan maupun penyampaian. Adapun perbedaan keutamaan dan posisi di sisi Allah, tidak ada orang yang tahu. Hal itu termasuk perkara gaib yang Allah tidak perlihatkan kepada orang yang diberi keutamaan. Sehingga perkara itu diserahkan kepada (Allah) yang paling mengetahui terhadap makhluknya. Dia yang paling tahu akan keikhlasan dan kejujuran makhluk. Dan Dia pula yang lebih mengetahui siapa yang paling dekat dengan-Nya Subhanahu Wata’ala.

Baca Juga: Sunnah Pergantian Generasi Islam

Sementara perbedaan antara ulama dalam sisi keilmuan, maka yang memberikan penilaain hal itu bukan untuk orang awam. Akan tetapi penilaian yang jujur adalah ahli ilmu yang jujur pada dirinya dalam menilai mereka dan dia termasuk spesialis dalam bidang tersebut.

Tidak kita dapati para ulama sibuk memberikan klasifikasi dan penilaian posisi para ulama, Kecuali kalau ada kemaslahatan atau peristiwa tertentu yang mengharuskan hal itu. Tidak ada pada mereka (para ulama) sikap meremehkan satu sama lain. Tajudin As-Subki rahimahaullah mengatakan, “Memperbincangkan para imam agama, dan saling membandingkan di antara mereka yang belum sampai pada tingkatannya, itu hal yang tidak bagus. Dikhawatirkan akibat buruknya di dunia dan akhirat. Sedikit sekali orang yang terjerumus dalam hal ini dapat selamat. Terkadang hal ini merupakan sebagai sebab terjerumus kepada ulama yang dapat menghancurkan tempat.” (Al-Asybah Wan Nazoir, 2/328)

Dahulu, para ulama telah mengetahui kedudukan para ulama dari sisi keutamaan dan ilmunya. Mereka rendah hati dan meninggikan kedudukan orang yang telah mendahuluinya dari kalangan ahli ilmu.

Baca Juga: Pembunuhan Karakter

Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Sementara ahli ilmu yang bermanfaat berbeda dengan ini. Mereka berprasangka jelek kepada dirinya dan berprasangka baik kepada ulama salaf terdahulu. Mengakui dalam hati dan dirinya akan keutaman dari ulama salaf terdahulu. Tidak mampu menyamai derajat atau bahkan mendekatinya. Alangkah indahnya ungkapan Abu Hanifah, ketika beliau ditanya tentang Al-Qomah dan Al-Aswad siapa di antara kedunyanya yang lebih mulia? Beliau menjawab, “Demi Allah kita tidak layak untuk menyebutkannya, bagaiamana mungkin kita membedakaan keutamaan di antara keduanya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah telah menyatakaan perkataan berharga,

“Bahwa menyibukkan diri dengan membeda-bedakan keutamaan di antara sebagian mazhab, syekh yang diikuti dan meremehkan orang lain, termasuk dasar ahli bid’ah. Manhaj orang Rafidhoah dan Syi’ah. Bahkan hal itu merupakan kebiasaan ahli kitab sebelum kita. “Dan orang-orang Yahudi berkata: “Orang-orang Nasrani itu tidak memiliki keutamaan”, dan orang-orang Nasrani berkata: “Orang-orang Yahudi tidak memiliki keutamaan…

Seharusnya bagi setiap orang Islam yang bersaksi tiada tuhan melainkan Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah, menjadikan tujuan utamanya adalah mengesakan Allah dengan beribadah hanya kepada-Nya tanpa menyekutukan-Nya, serta mentaati utusan-Nya dan berputar di porosnya dimana saja ia dapatkan. Hendaknya mereka mengetahui bahwa sebaik-baik makhluk setelah para Nabi adalah para shahabat. Jangan membela seseorang dengan mutlak kecuali hanya untuk Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam. Tidak juga membela kelompoknya dengan mutlak kecuali hanya para shahabat radhiallahu anhum ajma’in.

Petunjuk hanya berputar bersama Rasul dimana ia berada dan berputar di sekitar para shahabat beliau. Kalau mereka (para shahabat) telah bersepakat (ijma’), maka mereka tidak akan bersepakat pada kesalahan. Berbeda dengan pengikut para ulama, terkadang mereka bersepakat pada kesalahan.” (Lihat Majmu Fatawa)

Baca Juga: Dibalik Media

Seorang muslim semestinya tidak disibukkan dengan membeda-bedakan para ulama, siapa di antara mereka yang lebih banyak ilmunya. Biarkan hal itu kepada orang yang spesial di bidangnya.

Hal itu berarti menyibukkan diri pada hal yang merugikan dirinya, disamping menyia-nyiakan waktu. Para ulama itu sampai pada derajat seperti itu, karena mendapatkan taufik dari Allah dengan keikhlasan dan kesungguhannya disertai sikap bersusah payah dengan mencurahkan waktu dalam belajar, bersungguh-sunguh melakukan perjalanan, mengeluarkan harta dalam membeli buku.

Maka hendaknya mereka yang sibuk dengan memberikan penilain, menyibukkan diri seperti para ulama tersebut. Hendaknya mereka memberikan sanjungan dan penghormatan bagi setiap orang yang berkhidmat untuk agama Allah dengan mengajarkan orang ilmu yang bermanfaat. Karena para ulama adalah pewaris para Nabi. Tidak layak bersikap terhadap  pewaris Nabi kecuali apa yang sesuai dengan hak yang harus mereka dapatkan seperti mengakui keutaman, ilmu serta amal baiknya kepada masyarakat. Wallahu a’lam.

 

Oleh: Muhtadawan/Terkini

Ulama, Syiar dan Wali Allah

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ ,أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

 

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Kita bersyukur kepada Allah atas limpahan nikmat dan karunia-Nya. Semoga, nikmat dan karunia dari Allah dapat kita gunakan untuk bermala shalih.

Shalawat dan Salam semoga tercurah kepada nabi Muhmmad Shallallahua ‘alai wa sallam, kepada keluarganya, para pengikut sunah dan seluruh umatnya sampai hari kiamat.

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Ada kisah menarik dalam kehidupan seorang ulama besar, mujahid pemberani dan donatur muslim terkaya di zamannya, yang bernama Ibnu Mubarak. Suatu ketika ada seorang Yahudi yang ingin menjual rumahnya. Pada saat itu, harga rumah di daerah tersebut seharga 1000 dirham, namun si yahudi menjual dengan harga 2000 dirham. Saat ditanya, mengapa rumahmu begitu mahal? Si Yahudi menjawab, karena rumahku berdekatan dengan Ibnul Mubarak. Dia seorang muslim yang shalih dan baik hati. Kalian pasti senang punya tetangga seperti Ibnul Mubarak. Jadi, harga lokasi rumahku yang dkeat dengannya kuharagai 1000 dirham, dan bangunannya 1000 dirham.

Masyyaallah, pada zaman dahulu, para ulama begitu dihargai. Bahkan rumah yang berada didekat rumahnya pun dihargai mahal. Tak hanya itu, di jaman dahulu, seorang ulama lebih dihormati daripada seorang gubernur atau khalifah sekalipun.

Dikisahkan bahwa suatu ketika, sang Khalifah harun ar-rasyid berkunjung ke kota Riqah. Ketika datang, sang Khalifah melihat orang-orang berlarian menuju suatu tempat. Mereka berdesak-desakan sampai-sampai sandal-sandal terputus dan debu berterbangan. Lalu muncullah seorang wanita bertanya pada orang-orang, “Ada apa?” dijawab, “Orang alim dari Khurasan tiba di riqqah, namanya Ibnul Mubarak.” Wanita itu berkata, “Demi Allah, inilah raja, tapi bukan raja Harun ar rasyid yang tidak bisa mengumpulkan orang kecuali dengan polisi.”

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Ulama adalah pewaris Nabi. Mereka mewarisi ilmu dan juga amal shalih, karena yang pantas disebut ulama adalah yang benar dan luas ilmunya, serta shalih amalnya. Merekalah pelita umat dari gelapnya kebodohan. Kebodohan apa? Kebodohan terhadap syariat Allah, petunjuk, dan hidayah Allah. Mereka mewarisi tugas seorang nabi berupa ta’limul jahil wa irsyadud dholl, mengajari orang yang tidak tahu dan memberi petunjuk orang yang tersesat.

Ulama juga merupakan wali Allah. Allah berfirman dalam hadits Qudsi:

مَنْ عَادَى لِـيْ وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْـحَرْبِ ،

“Barangsiapa memusuhi wali-wali-Ku, Aku telah mengumumkan perang kepadanya…” (HR al Bukhari).

Dan wali-wali Allah adalah ulama dan orang-orang yang beriman. Imam asy Syafi’I mengatakan, “ Jika para ulama bukan wali Allah, niscaya Allah tidak memiliki wali sama sekali.”

Memang benar, ulama adalah wali-wali Allah. Merekalah pilar-pilar penyangga agama ini. Ilmu, ketakwaan dan dakwah mereka adalah nyawa yang menjaga dien ini tetap berdetak. Wjar jika Allah memberi kehormatan khusus kepada mereka. Dalam hadits di atas dijelaskan, sesiapa yang memusuhi ulama, berarti telah menyatakan perang terhadap Allah.

Allah telah memuliakan para ulama dengan firman-Nya:

يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءامَنُواْ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلْعِلْمَ دَرَجَـٰتٍ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Niscaya Alloh akan mengangkat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu dengan beberapa tingkatan. Dan Allah Maha mengetahui terhadap apa yang kalian lakukan.” [al-Mujadilah: 11]

Ilmu yang dimaksud di sini bukan lain adalah ilmu agama, karena itulah ilmu yanbg paling mulia. Jika Allah memuliakan orang-orang yang diberi ilmu, maka bagaimana mungkin kita tidak turut memuliakannya?

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Sebagai umat islam, kita wajib menghormati para ulama. Dari ormas manapun dia berasal, asalkan keilmuan dan keshalihannya diakui, maka dia adalah ulama. Kita menghormati mereka secra baik dan proporsional, tidak berlebihan tapi juga jangan sampai meremehkan. Kita juga wajib membela mereka saat dizhalimi oleh musuh-musuh Islam. Membela ulama berarti menjaga para pewaris Nabi, dan itu juga berarti menjaga dien ini.

Ibnu ‘Abbas rodhiyallohu ‘anhuma berkata, “Barangsiapa mengganggu seorang fakih, berarti dia telah mengganggu Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam. Dan barangsiapa mengganggu Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam berarti dia telah mengganggu Alloh ‘azz wa jalla.”

Di zaman fitnah semacam ini, penjagaan dan pembelaan kita terhadap para ulama semstinya lebih dikuatkan lagi. Musuh-musuh Islam dari golongan kafir, syiah dan komunis mulai berani lancang terhadap para ulama. Orang-orang yang tak berilmu pun dapat dengan mudah menghina, melecehkan, membantah dan mengkritik tanpa adab kepada seorang ulama di media sosial. Mereka berusaha mengkriminalkan para ulama, mencari-cari kesalahan ulama dan merusak kehormatan mereka dengan berbagai fitnah dan tuduhan palsu. Kita bela para ulama dengan ragam cara yang kita mampui.

Dan satu hal yang perlu kita waspadai adalah fitnah dari musuh islam. Jangan sampai kita mudah terhasut saat mereka mencoba menyebar berita bahwa seorang ulama telah berzina, menrima suap atau apapun kabar buruk dari mereka.

Bukan berarti para ulama selalu bersih dan suci dari dosa, tapi memang sudah menajdi tugas kita untuk senantiasa berhusunuzhan terlebih dahulu terhadap segala fitnah dan tuduhan yang dialamatkan kepada orang-orang mulia. Saat orang-orang munafik memfitnah Ibunda Aisyah berzina, orang-orang beriman tetap berhusunuzhan dan tak mau terseret hasutan meski mereka juga tidak bisa membuktikan.

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Zaman ini memang zaman penuh keprihatinan. Anak muda tak menghormati orangtua, orang bodoh menghina ulamanya dan orang jujur justru akan terancam hidupnya. Sebaliknya, artis-artis menjadi idola, para penguasa lebih tunduk pada konglomerat kaya, dan para pengkhianat serta pembohong justru dipercaya.

Di tengah karut marut kondisi zaman, ilmu, iman dan semangat pembelaan terhadap kebenaran harus senantiasa kita tingkatkan. Jangan sampai saat ditanya Allah kelak, di mana diri kita saat wali Allah dihina, kita tidak mampu menajwabnya. Saat kita ditanya, apa yang sudah kita lakukan untuk membela dien-Nya, membela wali-Nya, membela saudara-saudara mukmin dari fitnah dan makr musuh islam, kita pun tidak mampu menajwabnya. Wal iyadzu billah, padahal sekecil apapun pembelaan pasti akan ada nilainya, sebagaimana sekecil apapun pengabaian dan ketidakpedulian pasti juga akan ada hukumannya. Wallahua’lam.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ اْلعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُهُ يَغْفِرْلَكُمْ إِنَِّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْن، وَالعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ، وَلاَ عُدْوَانَ إِلاَّ عَلَى الظَّالِمِيْنَ، وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَلِيُّ الصَّالِحِيْنَ، وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ إِمَامُ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، وَأَفْضَلُ خَلْقِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ، صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ

اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

(Ust. Taufik Anwar)

 

Diri Celaka Saat Ulama Dicela

Para ulama mereka adalah “jembatan” syariah. Mereka tempat bertanya untuk berbagai permasalahan syar’i. Mereka pula yang menjelaskan makna firman Allah dan mensyarah hadits-hadits Nabi saat didapati ada yang belum jelas dalam keduanya. Merekalah yang membela agama Allah dari berbagai syubhat yang dilancarkan oleh orang-orang yang tidak suka dengan agama Allah. Mereka yang menjaga kemurnian akidah Ahlussunnah wal Jamaah. Mereka adalah para pembela syariah dan oleh karena itu mereka disebut waratsatul anbiya` (para pewaris nabi-nabi). Para Nabi tidak mewariskan dinar ataupun dirhan. Mereka mewariskan ilmu.

Belakangan ini ada beberapa golongan, bahkan kaum mulimin sendiri yang mencaci dan merendahkan para ulama kerena lagi-lagi masalah dunia. Iming-iming dunia memang menyilaukan mata, sampai pada akhirnya membutakan hati dan pikiran. Karena fatwa yang dianggap tidak sesuai dengan kemauan mereka, mereka mencari kekurangan dan aib-aib dari para ulama, sungguh menyesakkan dada.

Baca juga : Anjing pun Tak Rela Nabi Dihina

Belum lagi kepanikan para penguasa yang mencoba membenturkan masyarakat dengan para ulama, dengan pencitraan negatif dan penciptaan opini buruk pada pribadi ulama tersebut, akhirnya masyarakat mencaci, menghina dan menganggap ulama sesat, ulama bayaran dan lain semisalnya.

Syaikh Utsaimin berkata, Menghina ulama adalah dosa paling besar, karena bukan hanya menghinanya tapi juga menghina ilmu yang dia bawa. Secara tidak langsung dia akan menghina agama dan menghina syariat agama, kumpulan ilmu yang ulama bawa adalah risalah agama, bukan perniagaan dunia.
Ibnu Asaakir berkata,

إن لحوم العلماء مسمومة، وسنة الله في هتك أستار منتقصيهم معلومة، فمن أطلق لسانه في العلماء بالانتقاص والثلب، ابتلاه الله عز وجل قبل موته بموت القلب

“Sesungguhnya daging para ulama itu beracun. Permusuhan Allah terhadap orang yang melecehkan kehormatan para ulama juga sudah maklum. Dan, barangsiapa yang menyibukkan lisannya untuk menjelek-jelekkan para ulama, maka Allah akan menimpakan musibah kepadanya sebelum kematiannya dengan kematian hati”.

Betapa mulia para Ulama dan begitu rendahnya orang yang menghinanya, sampai Allah mengancam bagi para pencela Ulama dengan mematikan hati mereka, dengan begitu husnul khatimah hanyalah ilusi belaka karena hatinya mati tiada menginggat illahi. Mari kita berlindung kepada Allah agar melindungi lisan kita dari perkataan buruk, cacian dan umpatan.

Kunci Kebangkitan Umat Islam

Sekilas Dari Tarikh

Umat Islam, dalam perjalanan panjang sejarahnya, pernah mengalami kekalahan total menghadapi serbuan Tatar. Baghdad, ibu kota kekhalifahan Islam luluh lantak, lebih satu juta muslim dibantai, perpustakaan dibakar habis. Khalifah dan seluruh perangkat pemerintahan dibunuh kecuali satu orang, perdana menteri Al-Qami, penganut  syiah rafidhah yang membukakan jalan bagi serangan dahsyat tersebut.

Meskipun demikian, tak berapa lama pasukan Tatar yang menakutkan itu dapat dikalahkan oleh pasukan Islam Mamalik dari Mesir dibawah pimpinan Saifuddin Quthuz, tepatnya di pertempuran’Ain Jalut. Penghancur kekhalifahan itu dihentikan kejahatannya oleh beliau dan pasukannya yang didukung oleh para ulama’.

Kelurusan Tashawwur

Ibnu Qayyim di dalam I’lamulMuwaqqi’in mengatakan bahwa benarnya pemahaman dan lurusnya iradah (tujuan) merupakan dua nikmat atau karunia Allah paling besar, satu tingkat dibawah nikmat hidayah memeluk Islam.

Kedua nikmat tersebut harus dipelihara, dijaga dan dilindungi dari segala sesuatu yang akan merusaknya. Maka dalam kitab Zaad al-Ma’ad  beliau menjelaskan bahwa tingkatjihad yang kedua yaitu terbentuknya pribadi muslim dan irodahnya rasyidah, kedua nikmat tersebut harus dijaga jangan sampai dirusak oleh syaithan. Sebab syaithan mempunyai dua senjata andalan untuk merusak dan menghancurkannya dengan syubhatdan syahwat. (Zaad al-Ma’aad, jilid III, hal 10).

Syubhat adalah kelirumemahami manhaj Islam yang lurus ini dengan masuknya cara pandang terhadap Islam yang asing, yang tidak ada sumbernya dalam khazanah Islam. Sedangkan syahawat adalah masuknya motivasi, dorongan dan kehendak yang keluar dari mencari keridlaan Allah. Itulah dua senjata pamungkas Iblis dan kabilahnya untuk merusak dan mengeluarkan kembali manusia muslim dari Islam.

Syarat Kebangkitan Kembali

Mengapa pasukan Tatar yang ganas dan telah berhasil memporak-porandakan ibu kota khilafah Islam itu dapat dihancurkan dan dihalau dari tanah umat Islam kembali ke Mongolia hanya dalam hitungan beberapa tahun? Begitu cepatnya mereka hancur. Begitu cepatnya umat Islam bangkit kembali menemukan jati dirinya.

Umat Islam, sekalipun mengalami kekalahan telak di Baghdad, bahkan khilafah jatuh, tetapi tidak kehilangan segalanya. Karena, pemahaman terhadap Islam dengan meyakini kemuliaannya tetap tergambar jelas dalam hati dan pikiran umat. Selain itu, Masih banyak ulama’ yang tetap memandu, menjadi suluh, membentengi dan mengarahkan tashawwur umat  agar tidak berubah, dan agar iradahnya tetap lurus. Syaikh Izzuddin bin AbdusSalam adalah salah satunya, dan yang paling berpengaruh di zaman itu.

Sekalipun umat pada saat itu sangat menderita, dirampas hartanya dankehormatannya.Nyawa mereka menjadi mainan pasukan Tatar yang tidak mempunyai hati (menurut Dr. Raghib as-Sirjani dalam Qishshotut-Tatar minal-bidaayah ilaa ‘Ain Jaaluut).Umat Islam dilanda phobia luar biasa.Meskipun begitu, tidak pernah terlintas dalam hati dan pikiran umat Islam bahwa musuh mereka yang menang itu lebih mulia. Tidak terdetik di dalam benak mereka bahwa cara hidup musuhnya lebih baik. Hakekat iman dan ketinggiannya tidak terhapus. Apalagi tentara penghancur itu yang selalu mengancam bagian dunia Islam lain yang tersisa itu ahlaknya lebih dekat kepada binatang daripada manusia.

Masih Ada Qudwah Shalihah

Tetap teguhnya jati diri sebagai umat pilihan, kebanggaan terhadap ketinggian agama, merupakan kekuatan potensial dahsyat untuk bangkit dan merebut kembali kemuliaan jika kesempatan terbuka dan ditemukan pemimpin yang mampu menggali potensi kekuatan tersebut menjadi kekuatan riil.

Paduan sosok figur ulama dan umarayang jujur, bersungguh-sungguh, kuat memegang prinsip, lemah lembut kepada umat dan mampu menjadi teladan merupakan kunci membangkitkan potensi kekuatan menjadi kekuatan riil yang menakutkan musuh. Dalam episode sejarah penghancuran pasukan Tatar di ‘Ain Jalut, sosok pribadi itu ada pada paduan antara Saifuddin Quthuz sebagai sultan dan Syaikh ‘Izzuddin bin ‘Abdus-Salam sebagai ulama yang teguh memegang prinsip.

Umat Islam Terjerat Sekularisme

Sekularisme liberal mengharuskan manusia menganggap semua agama sama. Mereka mengkampanyekan taswiyah al-adyan (penyamaan semua agama). Keyakinan ini memandang bahwa semua agama itu sama, semua menuju kepada tuhan, semua mengajarkan kebaikan, hanya jalannya yang berbeda-beda. Anehnya, keyakinan rusak seperti ini diterima oleh sebagian ummat Islam. Tentu saja hal ini lantaran sudah begitu kronisnya kebodohan umat Islam terhadap agamanya, dan sudah pasti hal itu disebabkan oleh sangat sedikitnya ulama rabbaniyyun yang melaksanakan perannya memberi suluh kepada umat.

Permisalan ulama rabbaniyyun itu seperti obor yang menerangi umat di tengah gulita malam yang pekat. Ketiadaannya berarti umat berjalan dalam kegelapan tanpa penerang dan tanpa pembimbing. Akibatnya hidup mereka tak terarah; meninggalkan perintah Allah, menerjang larangan-Nya, memakan barang haram dan tidak berhati-hati terhadap perkara yang syubhat.

Kampanye kaum sekuler liberal dengan menggunakan ‘cendekiawan muslim’ yang telah rusak tashawwur-nya seperti dalam kasus taswiyah-al-adyan, ibarat di tengah gelapnya malam ada seorang pembawa obor menuntun manusia, tetapi manusia itu dibimbingnya terjun ke dalam jurang. Keilmuan saja tidak cukup, perlu kejujuran dan khasyah (takut) kepada Allah. Khasyahmemang ilmu yang pertama kali dicabut oleh Allah menurut sahabat Hudzaifah bin Yaman.

 

Baca Juga: Pengaruh Islam Pada Perdagangan Jawa

 

Bagaimana mungkin seorang ‘muslim sekuler’ yang menganggap semua agama sama diharap untuk menegakkan syari’at Allah? Sedangkan syari’at tidak hanya menghalalkan darah orang muslim yang murtad, bahkan syari’at memerintahkan hadd bunuh baginya. Mungkin masih ada toleransi tidak melaksanakan hadd tersebut karena lemah dalam istitho’ah, tetapi meyakini bolehnya seorang muslim berpindah kepada agama lain tanpa konsekuensi hukum dalam syari’at, merupakan kekufuran.

Merupakan suatu hal yang mustahil untuk bangkit kembali bagi suatu umat yang sudah tidak lagi meyakini bahwa prinsip hidupnya memiliki keunggulan. Tak ada harapan bagi seorang muslim untuk menjadi elemen kebangkitan umat Islam, ketika dia sudah tidak lagi meyakini bahwa Islam ya’lu wa laa yu’la ‘alayh. Dari keyakinan atas prinsip kebenaran dan ketinggian Islam ini ruh kebangkitan umat itu mengambil manba’(sumber). Siapa yang meminum air kehinaan tak dapat diharap kebangkitannya. Wal-‘iyaadzu bilLaah.