Prioritas Dakwah

Dalam sebuah kesempatan Syaikh bin Baz ditanya, apakah hal-hal yang harus diprioritaskan dalam dakwah. Apakah kegiatan sosial semacam pembangunan masjid dan pemberian bantuan bagi kaum lemah, ataukah mendakwahi pemerintah untuk menerapkan syariat Islam dan memerangi berbagai kerusakan?

Pertanyaan ini kemudian beliau jawab dengan ulasan yang cukup panjang. Seperti yang beliau sebutkan di majalah Majalah Al-Buhuts Al-Islamiyah, edisi 32, hal.119, Syaikh Ibnu Baz mengatakan bahwa yang wajib atas para ulama adalah memulai dengan apa yang para Rasul ﷺ mulai, yang berkaitan dengan masyarakat kuffar dan negara-negara non Islam, yaitu mengajak kepada Tauhidullah (beribadah hanya kepada Allah) dan meninggalkan penyembahan kepada selain Allah, beriman kepada Allah sesuai dengan kemuliaan dan keagunganNya, beriman kepada Rasul-Nya ﷺ dan mencintainya berikut para pengikutnya.

Itu tekanan pertama yang dilakukan. Maka tak ayal jika hal ini adalah pekerjaan yang cukup berat. Sebab tidak mudah bagi seorang dai untuk berani mengambil beban ini sendirian. Lebih banyak dai mengambil beban yang ringan dan menghindari sesuatu yang berat bagi dirinya.

Inilah yang seharusnya menjadi perhatian para dai. Betapa dai harus menyampaikan kebenaran kepada ummatnya. Bagaimana mereka benar benar memberikan peringatan atas hadirnya kaum kafir yang memusuhi islam.

Kedua, Syaikh Bin Baz mengatakan bahwa hendaknya para dai mengajak kaum muslimin di setiap tempat untuk senantiasa berpegang teguh dengan syariat Islam dan selalu konsisten, menasehati para penguasa, membantu dan membimbing orang-orang yang perlu dibantu dan dibimbing.

Dai benar-benar hadir di tengah-tengah umat. Tidak hanya ada ketika dalam kondisi baik saja, tetapi juga hadir dalam kondisi yang kurang menguntungkan. Mengajak umat untuk senantiasa berpegang kepada syariat yang haq. Menghindari perdebatan, dan lebih mengutamakan tersyiarkan kebaikan kebaikan agama di tengah masyarakat luas.

Bahkan lebih daripada itu, dai juga bisa mengambil peran untuk menasihati para penguasa. Menjadikan nasihat itu sebagai alat untuk memperbaiki keadaan agar semakin diridhai Allah. Karena tipikal penguasa bisa saja lupa dan lalai dengan kekuasaannya. Merasa berkuasa dan punya kekuatan penuh, akhirnya mudah tergelincir pada kezaliman.

Selain itu, dai dai juga harus meluangkan waktunya untuk membimbing orang-orang yang butuh bimbingan. Mereka yang secara intensif butuh disapa dengan ilmu. Didekati dengan hati dan dikuatkan tekadnya untuk selalu menjadi baik.

Ketiga, Syaikh Bin Baz juga mengatakan bahwa hendaknya para ulama senantiasa eksis dalam berdakwah, antusias terhadap kegiatan-kegiatan sosial, mengunjungi para penguasa dan memotivasi mereka untuk berbuat kebaikan serta menganjurkan mereka untuk memberlakukan syari’at dan menerapkannya pada masyarakat.

Dai tidak hanya duduk di balik meja menyampaikan dakwah. Tetapi ia hadir menyapa ummat dengan aksi-aksi sosial. Menggalang dana dan menyalurkannya kepada orang orang yang membutuhkan.

Dengan begitu, umat akan merasa terbantu. Tidak hanya diberikan dalil dan ayat saja, tetapi juga dibantu kebutuhan kebutuhan dan kesulitan-kesulitannya.

Tentu saja akan lebih baik jika aksi sosial ini menjadi sebuah program berkelanjutan. Ada semangat yang berterusan berkibar. Sambung menyambung menjadi aktitivas yang terus berlaku dan bermanfaat.

Mereka yang paham akan senantiasa tahu bahwa, sesuap makanan untuk mereka yang kelaparan akan lebih baik daripada membangun infrastruktur yang megah dan besar.

Orang lapar bisa dibantu sehingga dia tidak kelaparan. Mereka yang miskin dan tidak beruntung bisa dibantu dengan sedekah produktif yang akan menaikkan level kehidupan sosial ekonomi mereka.

Ditambah lagi, dai harus mampu mengakses penguasa. Bukan dalam rangka untuk ikut hidup mulia, tetapi untuk terus memberikan masukan dan nasihat. Yakni terus mendorong penguasa untuk memudahkan terjadinya pelaksanaan syariat Islam secara mudah di masyarakat.

Membantu para pemegang amanah untuk terus bisa tsabat di jalan Allah. Tegak berdiri dalam kebenaran dan benar benar menjauhi kezaliman yang mungkin saja bisa terjadi.

Hal ini sebagai pengamalan firman Allah Azza wa Jalla. “Maka demi Rabbmu, mereka pada (hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya” [QS. An-Nisa: 65]

Dan firmanNya. “Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yanjg yakin ?” [QS. Al-Maidah: 50]

Dan masih banyak lagi ayat-ayat lain yang semakna.

Itulah tiga hal pokok yang perlu para dai perhatikan dalam amanahnya. Jangan sampai mereka bekerja dan beramal tetapi tidak tahu arah apa yang ingin mereka tuju. Karena perjalanan tanpa tujuan itu melelahkan dan tidak akan menggapai apa apa.

Oleh: Ust. Burhan Shadiq/Fikih Dakwah

Khutbah Jumat: Manusia Bervisi Akhirat

Khutbah Jumat:
Manusia Bervisi Akhirat

إِنَّ اْلحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ ونستغفره ونستهديه و نتوب اليه ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا من يهدى الله

فلا مضل له ومن يضلله فلا هادي له, أشهد أن لاإله إلا الله وأشهد أن محمدا عبده ورسوله, اللهم صلى على محمد وعلى اله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلي يوم الدين

أما بعد, قال تعالى فى القران الكريم, أعوذ بالله من الشيطان الرجيم

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ

وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبا

ياأيها الذين امنوا اتقوا الله وقولوا قولا سديدا يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم ومن يطع الله وؤسوله فقد فاز فوزا عظيما

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : فإن أصدق الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم وشر الأمور

محدثتها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وفي رواية أبى داود وكل ضلالة فى النار

 

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Saya wasiatkan kepada diri saya pribadi, juga kepada jamaah sekalian, marilah kita pergunakan sisa-sisa usia yang kita tidak tahu kapan berakhir, untuk lebih meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah. Antara lain dengan meletakkan kecintaan kita kepada Allah, Rasulullah, dan kepada jihad fi sabilillah di atas kecintaan kita kepada apa saja dan siapa saja di muka bumi ini.

Dari Zaid bin Tsabit Radhiyallahu anhu, ia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ ، فَرَّقَ اللهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ ِ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ ، وَمَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ نِيَّـتَهُ ، جَمَعَ اللهُ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِيْ قَلْبِهِ ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ.

“Barangsiapa tujuan hidupnya adalah dunia, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia tidak mendapatkan dunia kecuali menurut ketentuan yang telah ditetapkan baginya. Barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, Allâh akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Allah dan Rasulullah mencela sikap tamak kepada dunia. Bahkan, Allah menjelaskan rendahnya kedudukan dunia dalam banyak ayat di dalam alQur-an. Di antaranya, Allah berfirman:

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imran: 185).

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

مَالِيْ وَلِلدُّنْيَا ؟ مَا أَنَا وَالدُّنْيَا؟ إِنَّمَا مَثَلِيْ وَمَثَلُ الدُّنْيَا كَمَثَلِ رَاكِبٍ ظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا

 “Apalah arti dunia bagiku. Sesungguhnya perumpamaan dunia bagiku adalah seperti pengendara yang tidur siang di bawah rindangnya pohon di siang hari terik, lalu dia beranjak pergi dan meninggalkannya.” (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi)

Jamaah jumat Rahimakumullah

Apabila seorang hamba menjadikan dunia sebagai tujuan hidupnya dan mengesampingkan urusan akhiratnya,

maka Allah akan menjadikan urusan dunianya tercerai-berai, berantakan, serba sulit, serta menjadikan hidupnya selalu diliputi kegelisahan. Allah menjadikan kefakiran di depan matanya. Hatinya tidak pernah merasa cukup dengan rezeki yang Allah berikan kepadanya.

Sesungguhnya Allah telah menetapkan bagi manusia rezekinya. Dunia yang didapatkannya hanya seukuran ketentuan yang telah ditetapkan baginya, tidak lebih, meskipun ia bekerja keras, membanting tulang dari pagi hingga malam dengan mengorbankan kewajibannya beribadah kepada Allah, mengorbankan hak-hak istri, anak, orang tua, dan lainnya.

Imam Ibnul Qayyim berkata,“Pecinta dunia tidak akan terlepas dari tiga hal: (1) Kesedihan (kegelisahan) yang terus-menerus, (2) Kecapekan (keletihan) yang berkelanjutan, dan (3) Kerugian yang tidak pernah berhenti.

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Seorang muslim akan menjadikan akhirat sebagai tujuan utama hidupnya dan menjalani hidupnya sesuai tuntunan yang digariskan Allah. Allah berfirman:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّـهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ اللَّـهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّـهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ ﴿٧٧﴾

“Dan carilah apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) dunia, dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, serta janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Qs. Al-Qashash: 77)

Seorang mukmin selalu berusaha dan mengerahkan segala daya upaya untuk memperoleh rezeki yang halal, memakmurkan bumi sesuai aturan yang diridhai Allah Azza wa Jalla, serta menikmati dunia tanpa menimbulkan kemudharatan bagi agama dan akhiratnya. Inilah makna yang terkandung dalam tafsir firman Allah,

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّـهُ الدَّارَ

“Dan carilah apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat.”

Seorang muslim akan menjadikan dunia sebagai tempat mencari bekal untuk akhirat yang kekal. Dia jadikan dunia sebagai tempat untuk mempersiapkan diri dengan melakukan ketaatan dan mengerjakan amal-amal shalih dengan ikhlas karena Allah dan menjauhkan larangan-larangan-Nya, karena dia yakin pasti mati dan pasti menjadi penghuni kubur dan pasti kembali ke akhirat. Karena itu, dia selalu berusaha untuk menjadi penghuni surga dengan berbekal iman, takwa, dan amal-amal yang shalih.

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Seorang Muslim akan menjadikan akhirat sebagai tujuan hidupnya. Karena itu, ia menjadikan dunia sebagai tempat mengumpulkan bekal untuk akhirat dengan bekal terbaik yaitu takwa. Takwa, yaitu melaksanakan perintahperintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Apabila seorang Muslim beriman dan bertakwa kepada Allah, maka ia akan diberi rezeki dari arah yang tidak diduga dan diberikan jalan keluar dari problematikanya. Allah berfirman dalam surat thalaq: 2-3:

مَن يَتَّقِ اللَّـهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا ﴿٢﴾ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah subhanahu wata’ala maka Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. At-Talaq: 2-3)

Ibnu Abbas menjelaskan makna, “Dia akan mengadakan baginya jalan keluar,” maksudnya, Allah akan menyelamatkan ia dari setiap kesulitan di dunia dan akhirat.”

Umar bin Utsman as-Shadafi berkata, “Siapa saja yang bertakwa kepada Allah, lalu melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi maksiat maka Allah akan mengeluarkannya dari yang haram menuju yang halal, dari kesempitan menuju kelapangan, dari neraka menuju surga, serta diberi rezeki dari arah yang tidak ia sangka dan harapkan.”

Semoga Allah menjadikan kita orangorang yang bervisi akhirat. Senantiasa memudahkan urusan dunia dan akhirat kita. Memberikan jalan keluar atas setiap masalah dan memberikan rezeki halal dari arah yang tak disangka-sangka.

 

Khutbah Kedua

 

إِنَّ اْلحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ ونستغفره ونستهديه و نتوب اليه ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا من يهدى الله

فلا مضل له ومن يضلله فلا هادي له, أشهد أن لاإله إلا الله وأشهد أن محمدا عبده ورسوله, اللهم صلى على محمد وعلى اله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلي يوم الدين

 الَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَعَلَى خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِمْ وَطَرِيْقَتِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

 اللهم اغفِرْ لِلْمُسْلِمينَ وَالمسْلِمَاتِ والمؤمنينَ والمؤمناتِ وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَاَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ

اللهمَّ انْصُرْ جُيُوسَ المُسْلِمِيْنَ وَعَسَاكِرَ المُوَحِّدِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَكَ أَعْدَاءَ الدِّينِ وَأَعْلِ كَلِمَتَكَ إلي يَوْمِ الدِّينِ اللهُمَّ انْصُرْ دُعَاتَنَا وَعُلَمَائنَاَ المَظْلوُمِيْنَ تَحْتَ وَطْأَةِ الظالِمِين وَفِتْنَةِ الفَاسِقِينَ وَحِقْدِ الحَاقِدِيْنَ وَبُغْضِ الحَاسِدِين وَخِيَانَةِ المُنَافِقِيْنَ

اللَّهُمَّ ارزُقنا حُبَّكَ، وحُبَّ مَنْ يَنْفَعُنا حُبُّهُ عندَك، اللَّهُمَّ مَا رَزَقْتَنا مِمَّا أُحِبُّ فَاجْعَلْهُ قُوَّةً لَناَ فِيمَا تُحِبُّ، اللَّهُمَ مَا زَوَيْتَ عَنِّا مِمَّا نحِبُّ فَاجْعَلْهُ فَرَاغاً لنا فِيمَا تُحِبُّ

اللَّهُمَّ إِنِّا نعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ

اللهُمَّ اكْفِنَا بِحَلالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

وَصَلِّ عَلي خَيْرِ خَلْقِكَ وَأَفْضَلِ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ وَعَلي آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا

وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ العَالمَين

 

 

Khutbah Iedul Adha 1441 H: Memaknai Takbir

Khutbah Iedul Adha 1441H:
Memaknai Takbir

إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بالله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إله إلا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

يَاأَيُّهاَ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ الله كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

أمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ الله وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه و سلم وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ.

اللَّهُ أَكْبَرُ ، اللَّهُ أَكْبَرُ ، لا إله إلا الله ، اللَّهُ أَكْبَرُ ، اللَّهُ أَكْبَرُ ولله الحمد…  اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا لا إله إلا الله ، اللَّهُ أَكْبَرُ ، اللَّهُ أَكْبَرُ ولله الحمد وَلَا نَعْبُدُ إلَّا اللَّهَ مُخْلِصِينَ له الدَّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

 

Jamaah shalat Ied Rahimakumullah

Pada pagi yang berbahagia ini, marilah kita tingkatan rasa syukur kita kepada Allah atas segala nikmat-Nya yang dilimpahkan kepada kita, nikmat sehat dan kesempatan sehingga kita bisa hadir di sini melaksanakan sholat Idul Adha berjama’ah, mudah-mudahan langkah kita diberkahi oleh Allah Amien. Tidak lupa, kita bersyukur juga kepada Allah atas nikmat yang paling besar dalam hidup kita, yaitu nikmat Iman dan Islam. Nikmat hidayah, hidup di atas jalan kebenaran yang tidak mungkin digantikan dengan apapun dari kehidupan dunia ini. Allah berfirman,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“ Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu. “ (Qs. al-Maidah: 3)

Jamaah shalat ied Rahimakumullah

Hari ini kalimat takbir menggema diseluruh penjuru dunia. Gema takbir menyadarkan kita akan kebesaran Allah dan betapa kerdil dan lemahnya kita sebagai manusia.

Kalimat takbir, Allahu Akbar, Allah Mahabesar, merupakan kalimat yang luar biasa dan diberkahi. Allah adalah Dzat yang Mahatinggi, Dia Mahabesar dan tidak ada yang lebih besar dari-Nya. Dia adalah Raja yang segala sesuatu tunduk kepada-Nya.

Takbir merupakan proklamasi atas kemahabesaran Allah dan ketundukan diri dari kesombongan dan keangkuhan.

Allah Mahabesar dari segala sesuatu secara Dzat, kemampuan, dan ketetapannya. Makna yang agung tersebut menghadirkan kepercayaan diri bagi seorang muslim. Ia akan selalu berprasangka baik kepada Allah. Rintangan tak akan menghentikan langkahnya. Ancaman tak akan membuatnya takut. Apa yang terlewat tak membuatnya merasar. Allahu Akbar, Allah yang Mahabesar, Mahakuasa, dan Mahapenyayang tidak akan membiar khasyahnya, harapannya, dan cintanya kepada sang pencipta. Ia pun takut bermaksiat dan selalu berusaha untuk taat dan tunduk pada syariat.

Jamaah shalat ied Rahimakumullah

Keyakinan atas kemahabesaran Allah mematrikan tsiqah dan ketenangan.

ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّـهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِن دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّـهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

“Kuasa Allah yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Rabb) yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah itulah yang batil dan sesungguhnya Allah Dialah yang Mahatinggi dan Mahabesar.” (QS. Al-hajj: 62).

Dialah Allah yang Mahatinggi dan Mahabesar. Tiada yang dizalimi dengan hukumnya. Dia memuliakan orang yang dikehendakinya dan merendahkan orang yang dikehendaki. Semua makhluk kecil dihadapan keagungan-Nya.

Iman dan keyakinan kepada kebesaran dan keagungan Allah menjadikan lisan senantiasa berdzikir, bersyukur, dan memuji-Nya. Menggerakkan anggota badan untuk mengagungkan, mencintai, dan tunduk kepadanya dengan ibadah.

Allahu akbar, Allahu akbar, la ilaha illallah Allahu akbar

Allahu akbar, adalah pekik perjuangan. Para pahlawan memekikkannya di medan-medan pertempuran. Dengannya mereka merasakan kekuatan, kemuliaan, kebanggaan, dan keikhlasan.

Khalid bin walid memimpin perang Yarmuk dengan pekik takbir. Shalahuddin al-Ayyubi menaklukkan al-Quds dengan pekik takbir. Muhammad al-Fatih membebaskan konstantinopel dengan pekik takbir. Diponegoro memimpin perang jawa dengan pekik takbir. Bung Tomo memimpin perang 10 November di Surabaya dengan pekik takbir.

Dan kelak, jamaah Rahimakumullah. Di akhir zaman, takbir menjadi senjata pamungkas untuk mengalahkan musuh.

Rasulullah bersabda, “Kiamat tidak akan terjadi hingga Konstantinopel diserbu oleh 70 ribu orang dari bani Ishak. Begitu mereka mendatangi kota tersebut, mereka hanya singgah tanpa menyerang dengan senjata maupun menembakkan sebatang panah. Mereka mengucapkan Lailahaillallah wallahu akbar tiba-tiba takluklah bagian kota yang berada di laut. Kemudian mereka mengatakan lagi Lailahaillallah wallahu akbar takluklah bagian kota yang berada di darat. Lalu mereka mengucapkan kembali Lailahaillallah wallahu akbar dan terbukalah bagi mereka gerbang kota bagi mereka. Mereka pun masuk dan mendapatkan banyak ghanimah.

Allahu akbar adalah kalimat hebat dalam sejarah. Kalimat yang menjadikan segala sesuatu tampak kecil. Tidak ada musuh yang besar. Tidak ada kekuasaan yang besar. Tidak ada tirani yang besar. Semuanya kecil dihadapan Allah.

Allahu akbar, Allahu akbar, la ilaha illallah Allahu akbar

Allahu akbar adalah kalimat yang agung dan menjaga. Jika setan mendengarnya ia menjadi kecil, hina, dan lemah. Keagungan Allah menekan pengaruh setan. Rasulullah menyebutkan dalam hadits bahwa Saat adzan berkumandang yang diawali dengan kalimat takbir maka setan pun lari terkentut-kentut. Maka saat setan berkeliaran bertakbirlah maka ia akan lari tunggang langgang.

Takbir adalah dzikir yang mulia dan ibadah yang besar. Allah memerintahkan hamba-Nya untuk bertakbir dan mencintai takbir. “Dan Rabbmu agungkanlah.” (QS. al-Mudatsir: 3). Allah juga berfirman, “Dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya.” (QS. Al-Isra: 111)

Allahu akbar, Allahu akbar, la ilaha illallah Allahu akbar

Dengan takbir, mengagungkan Asma’-Nya, kesedihan larut, bencana / kesusahan hilang, kekhawatiran terangkat, kesulitan tersingkap. Dengan takbir, kehidupannya akan lapang dan penyakitnya disembuhkan. Umar berkata, “ucapan seorang hamba, Allahu akbar lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (tafsir Qurtubi)

Maha benar Allah yang berfirman,

وَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّـهِ الَّذِي لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُن لَّهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُن لَّهُ وَلِيٌّ مِّنَ الذُّلِّ ۖوَكَبِّرْهُ تَكْبِيرًا

“Dan katakanlah, ‘Segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan Agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya.” (QS. Al-Isra: 111)

Wabah yang melanda bangsa kita juga merupakan bukti keagungan Allah yang maha besar dan betapa lemah dan kecilnya manusia. Mahluk kecil berupa virus mampu memporak porandakan tatanan masyarakat. Maka tak layak kita sombong dan hanya Allah sajalah yang layak untuk sombong karena Allah maha Besar. Allahu akbar.

Semoga takbir yang keluar dari lisan kita adalah takbir yang muncul dari dalam hati. Takbir yang tak sekedar gema tanpa makna, namun takbir pengagungan yang melahirkan kesadaran atas lemahnya diri dan keagungan Allah al-Kabir

اللهم لك الحمد كما ينبغي لجلال وجهك وعظيم سلطانك

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والاموات إنك سميع قريب مجيب الدعاء يا قاضي الحاجات

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ  

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ  وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ  وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

 

Download Booklet Sakunya dengan Klik Ini:
Khutbah Iedul Adha 1441H

 

Hukum Jual Kulit Qurban & Memberi Upah Bagi Tukang Sembelih

Sebentar lagi kaum muslimin kedatangan hajat berupa penyembelihan hewan qurban di hari iedul adha. Banyak kaum muslimin yang belum memahami sepenuhnya tentang fikih qurban. Olehnya tidak sedikit yang menyamakan qurban dengan ibadah menyembelih seperti biasa. Padahal tentu beda. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan; di antaranya tentang menjual daging dan kulit hewan qurban dan memberi upah panitia qurban dengan daging. Bagaimana hukumnya? kita simak berikut ini,

Haram hukumnya memberikan daging sembelihan kepada tukang sembelihan sebagai upah baginya, sebagaimana pendapat Imam Malik, Imam Syafi’i dan ahlu ra’yu, sebagaimana sabda Rasulullah:

أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَقُومَ عَلَى بُدْنِهِ وَأَنْ أَتَصَدَّقَ بِلَحْمِهَا وَجُلُودِهَا وَأَجِلَّتِهَا وَأَنْ لَا أُعْطِيَ الْجَزَّارَ مِنْهَا . قَالَ : نَحْنُ نُعْطِيهِ مِنْ عِنْدِنَا

Dari Ali Bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku diperintahkan oleh Rasulullah ﷺ supaya mengurus untanya, serta kulit dan kelasanya (punuk), dan kiranya aku tidak akan memberikan sedikitpun dari binatang udhiyah tersebut kepada tukang sembelih, Ali menambahkan: Kami memberikan upah dari uang pribadi. (HR. Bukhari & Muslim)

Berkaitan dengan menjual daging dan kulit hewan kurban, maka tersebut dalam hadits berikut ini,

Dari Sa’id, sesungguhnya Qatadah bin Nu’man memberitahu kepadanya, bahwa Nabi berdiri lalu bersabda, “Aku pernah memerintahkan kalian agar tidak makan daging udhiyah sesudah tiga hari untuk memberi kelonggaran kepada kamu, tetapi sekarang aku halalkan bagi kalian, karena itu makanlah daripadanya sesukamu. Dan janganlah kamu jual daging hadya dan daging udhiyah, makanlah, sedekahkanlah dan pergunakanlah kulitnya tetapi jangan kamu jual dia, sekalipun sebagian dari dagingnya itu kamu berikan, maka makanlah sesukamu”. (HR. Ahmad )

Al-Qurthubi berkata, “Hadits ini menunjukkan, bahwa kulit binatang udhiyah atau hadya dan punuknya tidak boleh dijual, karena kata julud (kulit) dan Ajillah (punuk) itu ma’thuf (dihubungkan) dengan lahm (daging) jadi hukumnya sama. Para ulama’ sepakat, daging udhhiyah itu tidak boleh dijual. Maka begitu pula kulitnya dan punuknya.

Adapun bila diberikan kepada tukang sembelih karena kefakirannya, atau sebagai hadiah maka tidak mengapa, karena dia juga berhak untuk mengambilnya sebagaimana orang lain. Bahkan, dia lebih pantas untuk menerimanya, karena dia telah mengurusnya dan telah mengorbankan dirinya untuk hal itu. Wallahu a’lam

Oleh: Redaksi/Fikih

Khutbah Jumat: Rugi Nian Ibadah Di Tepian

 

Khutbah Jumat:
Rugi Nian
Ibadah di Tepian

 

الْحَمْدُ للهِ الكَرِيمِ المَنَّانِ، صَاحِبِ الفَضلِ وَالجُودِ وَالإِحْسَانِ، يَمُنُّ وَلا يُمَنُّ عَلَيْهِ، سُبْحَانَهُ لا مَلْجَأَ مِنْهُ إِلاَّ إِلَيْهِ، أَحْمَدُهُ بِمَا هُوَ لَهُ أَهلٌ مِنَ الْحَمْدِ وَأُثْنِي عَلَيْهِ، وَأُومِنُ بِهِ وَأَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضلِلْ فَلا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، حَثَّ عِبَادَهُ عَلَى الإِخْلاصِ فِي العَطَاءِ، وَنَهَاهُمْ عَنِ المَنِّ وَالرِّيَاءِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ، قَدَّرَ نِعَمَ اللهِ حَقَّ قَدْرِهَا، وَأَجْهَدَ نَفْسَهُ بِالقِيَامِ بِشُكْرِهَا، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ، وَرَضِيَ اللهُ عَنِ التَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا المُؤْمِنُونَ

أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ تَعاَلَى ، وَصِيَّةُ اللهِ لَكُمْ وَلِلأَوَّلِيْنَ. قَالَ تَعَالَى: ( وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُواْ اللَّهَ وَإِن تَكْفُرُواْ فَإِنَّ للَّهِ مَا فِى السَّمَاواتِ وَمَا فِى الأرْضِ وَكَانَ اللَّهُ غَنِيّاً حَمِيداً) (النساء:131)

Jamaah Jumat rahimakumullah

Kita bersyukur kepada Allah atas limpahan karunia-Nya. Allah menempatkan kita di sebuah negeri yang dianugerahi banyak keistimewaan. Tanahnya mudah ditanami, banyak jenis pepohonan yang dapat tumbuh, hawa yang baik dan perairan yang luas. Sebuah nikmat yang luar biasa yang harus senantiasa kita syukuri. Syukur dalam arti mengguna kian nikmat itu untuk taat kepada-Nya, bukan hanya untuk memenuhi kesenangan nafsu pada kenikmatan dunia. Sebuah kenikmatan yang jika kita kufuri, akan berubah menjadi bencana yang membinasakan kita.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ keluarga dan juga orang-orang yang senantiasa teguh membela sunahnya hingga akhir zaman.

 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Telah jelas dalil-dalil syar’i tentang perintah masuk Islam secara kafah, tentang keharusan mengisi hidup hanya untuk ibadah, juga tentang larangan mencampuradukkan yang benar dengan yang bathil.

Tapi sayang, tidak semua orang yang mengaku dirinya beriman lantas menerima seluruh totalitas syariat secara integral. Bukan karena tidak mampu, tapi karena memiliki pilihan lain. Dia hanya mengambil sebagian, lalu membuang sebagian yang lain.

Allah berfirman,

 

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَعْبُدُ اللَّـهَ عَلَىٰ حَرْفٍ ۖ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ ۖ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انقَلَبَ عَلَىٰ وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ ﴿١١﴾

“Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi, Maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam Keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.”(QS. al-Hajj: 11)

 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Mujahid dan Qatadah berkata ketika menafsirkan firman Allah yang artinya, “Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi..” “Maksud ‘ala harfin adalah di atas keraguan.” Ulama yang lain berkata, “berada di tepian, yakni masuk agama di tepian, jika sesuai dengan seleranya dia ikut, tapi jika tidak maka dia menghindar.”

Kedua makna tersebut saling menguatkan satu sama lain. Ketika seseorang ragu, maka ia tidak total dalam melangkah, iapun memilih berjalan di tepian. Ketika datang kepadanya suatu aturan syar’i, ia memilah dan memilih. Seakan pada syariat itu ada sisi kekurangan. Atau ada kesalahan yang tersisipkan.

Padahal Allah yang menciptakan manusia beserta alam semesta, Dia pula yang paling tahu, mana yang baik dilakukan manusia, mana pula yang berbahaya bagi mereka. Karena itu Allah memberikan rambu-rambu untuk manusia secara sempurna dengan syariat-Nya.

 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Adapun manusia, dengan kelemahan logika, hipotesa dan analisanya, kerap kali keliru. Menyangka sesuatu sebagai hal yang bermanfaat, padahal sejatinya adalah madharat. Atau menyangka seseuatu sebagai keburukan, ternyata selaksa manfaat terdapat di dalamnya,

Allah Berfriman,

وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّـهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ ﴿٢١٦﴾

 “…boleh Jadi kamu membenci sesuatu, Padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, Padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS al-Baqarah 216)

Contoh sebentuk ibadah di tepian adalah orang yang tak mau meninggalkan adat syirik, atau tradisi yang mengandung dosa, demi menjaga kelestarian adat leluhurnya. Mereka itulah kaum yang disindir oleh Allah dalam firman-Nya,

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنزَلَ اللَّـهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ۗ أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ ﴿١٧٠﴾

“Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi Kami hanya mengikuti apa yang telah Kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. (Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?”. (QS al-Baqarah: 170)

 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Dia menjalankan sebagian aturan syariat, tapi juga mengambil kebiasaan nenek moyang meskipun bertentangan dengan syariat, atau bahkan tradisi syirik yang menyebabkan hapusnya seluruh amalan.

Sebagian lagi beribadah dipinggiran karena orientasinya hanyalah dunia semata. Apa yang menurutnya menguntungkan dunia, dia akan memakainya, dan aturan syariat yang menurutnya merugikan dunianya, atau mengandung resiko, ia tidak mau memakainya.

Ketika dia merasa diuntungkan secara materi karena agama, dia mengatakan, “Islam memang bagus.” Tapi ketika yang dialami sebaliknya, dia berkata, “agama ini memang buruk.”

Keuntungan tersebut bisa berupa harta, jabatan atau sanjungan. Kerugian yang dimaksud juga hanya diukur dari situ. Contoh dari fenomena seperti ini banyak sekali. Seperti seseorang yang ingin mendapat pengakuan keshalihannya di lingkungan yang islami, atau situasi agamis. Tapi dia juga ingin unjuk gigi, menampakkan keberaniannya melanggar syariat di tengah situasi hura-hura atau hiburan yang mengedepankan hawa nafsu dan dosa.

 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Berbagai fenomena cara ibdah di tepian itu divonis Allah sebagai kerugian. Bahkan kerugian di dunia dan akhirat. Di dunia, orang yang tidak mantap dengan satu pilihan, akan didera kebimbangan. Dia akan bingung dalam menentukan pilihan yang saling berlawanan. Pilihan untuk menjalankan syariat, dan pilihan untuk memuaskan keinginannya, atau kemauan untuk mendapat ridha dari makhluk atau aneka berhala yang dipertuhankan. Keadaannya seperti yang digambarkan oleh Allah,

رَبَ اللَّـهُ مَثَلًا رَّجُلًا فِيهِ شُرَكَاءُ مُتَشَاكِسُونَ وَرَجُلًا سَلَمًا لِّرَجُلٍ هَلْ يَسْتَوِيَانِ مَثَلًا ۚ الْحَمْدُ لِلَّـهِ ۚ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ ﴿٢٩﴾

“Allah membuat perumpamaan (yaitu) seorang laki-laki (budak) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan dan seorang budak yang menjadi milik penuh dari seorang laki-laki (saja); Adakah kedua budak itu sama halnya?” (QS az-Zumar: 29)

Kerugian lain, umumnya manusia tidak menyukai sikap ‘mendua’ seperti ini. Jarang sekali orang seperti itu memiliki sahabat atau teman yang bisa dipercaya. Orang yang baik-baik tak menyukai orang yang tidak konsisten dalam kebaikan. Begitupula, teman-temannya dalam dosa ingin pula mendapatkan loyalitas dia dalam kemungkaran. Maka orang yang beribadah di tepian justru tidak mendapatkan tempat di hati rata-rata manusia. Kerugian mana yang lebih berat dari hilangnya ketenangan hati dan keterasingan dari sesama manusia?

 

Jamaah Jumat rahimakumullah

Lebih mengenaskan lagi, kerugian itu tak akan terbayar di akhirat. Bahkan, kerugian yang lebih besar menunggunya. Neraka adalah tempat orang yang menduakan Allah dengan selain-Nya, tempat pengidola para pendosa, dan tempat orang-orang yang sengaja memilih maksiat sebagai jalannya. Sedangkan jannah diperuntukkan bagi orang yang tunduk dan taat terhadap syariat yang dibawa oleh Nabi ﷺ. Beliau bersabda, “Semua orang akan masuk jannah, kecuali yang enggan?” Para shahabat bertanya, “Siapakah orang yang enggan itu wahai Rasulullah?” Beliau bersabda,

مَنْ أَطَاعَنِى دَخَلَ الْجَنَّةَ ، وَمَنْ عَصَانِى فَقَدْ أَبَى

“Barangsiapa yang mentaatiku maka dia masuk jannahm dan barangsiapa yang mendurhakaiku, maka dia enggan (untuk masuk jannah.).” (HR Bukhari)

 

أقُولُ قَوْلي هَذَا وَأسْتغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ لي وَلَكُمْ، فَاسْتغْفِرُوهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ، وَادْعُوهُ يَسْتجِبْ لَكُمْ إِنهُ هُوَ البَرُّ الكَرِيْمُ.

 

Khutbah Kedua

 

الْحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ، تَفَضَّلَ وَأَكْرَمَ، وَأَعْطَى وَأَنْعَمَ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، عَطَاؤُهُ مَمْدُودٌ، وَنِعَمُهُ عَلَى عِبَادِهِ بِلا حُدُودٍ، وَكُلُّ شَيْءٍ مِنْهُ وَإِلَيْهِ، لا مِنَّةَ لأَحَدٍ مِنْ خَلْقِهِ عَلَيْهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ البَشِيرُ النَّذِيرُ، أَعْطَاهُ رَبُّهُ مِنَ الخَيْرِ الكَثِيرَ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَأصَحْابِهِ أَجْمَعِينَ، وَالتَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

هَذَا وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا عَلَى إِمَامِ الْمُرْسَلِيْن، فَقَدْ أَمَرَكُمُ اللهُ تَعَالَى بِالصَّلاَةِ وَالسَّلاَمِ عَلَيْهِ فِي مُحْكَمِ كِتَابِهِ حَيْثُ قَالَ عَزَّ قَائِلاً عَلِيْمًا

(( إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا))

اللَّهُمَّ صَلِّ وسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ وسَلّمْتَ عَلَى سَيِّدِنا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنا إِبْرَاهِيْمَ، فِي العَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدُّعَاءِ

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ

رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ

رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللهِ :(( إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ )).وَ أَقِمِ الصَّلاَةَ إِنَّ الصَّلاَةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَ الْمُنْكَرِ وَ لَذِكْرَ اللهِ أَكْبَرُ وَ اللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.

 

Bersahabat dengan Malaikat

Orang mu’min sungguh berbahagia dengan keimanannya. Allah menurunkan kitab-Nya melalui rasul-Nya yang mulia baik dari kalangan malaikat maupun dari jenis manusia untuk memberi petunjuk kepada mereka dengan perantaraan kitab itu. Allah berfirman:

الم ﴿١ ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ ﴿٢ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ ﴿٣

Alif Laam Miim. Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya ; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka…(Al-Baqarah: 1-3).

Allah mensifati keimanan kepada-Nya dan kepada apa yang tidak dinampakkan-Nya, beriman kepada yang ghaib, termasuk kepada malaikat. Dengan mengimani kitab-Nya seorang mu’min mendapatkan informasi mengenai makhluk-makhluk-Nya yang ghaib dari sumber yang benar, bukan khurofat dan bukan pula penggambaran dari sumber yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Keberadaan manusia selalu berhubungan dengan malaikat sejak masih dalam bentuk nuthfah sampai masuk lahad. Malaikat pula yang diperintah oleh Allah untuk mencatat rizki dan ‘amalnya, ajal dan ketetapan saqowah dan sa’adah-nya. Ada malaikat yang selalu menyertainya tak pernah berpisah dengannya, malaikat juga yang mencabut ruh saat tiba ajalnya, membawa ruhnya kepada penciptanya, mengirimkan siksa dan kenikmatan sewaktu di alam barzakh, meneguhkan orang mu’min tatkala mendapatkan pertanyaan dengan seizin-Nya dst.

 

Malaikat Menyertai dan Mencatat ‘Amal

Malaikat adalah junuud ar-Rahman, tentara ar-Rahman. Qalbu orang yang merasakan kehadirannya akan istiqomah dalam melaksanakan perintah-perintah Allah, karena tidak ada perkataan dan perbuatan seorang hamba yang lepas dari pengawasan, kesaksian dan pencatatannya.

Orang yang beriman akan merasa malu untuk menyelisihi Rabb-nya dan bermaksiyat kepada-Nya baik dalam keadaan rahasia maupun terang-terangan. Toh semua ada saksi, ada catatan dan nantinya akan dihisab. Allah berfirman,  …(yaitu) ketika dua malaikat mencatat amal perbuatannya, satu duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. (QS. Qaaf: 17-18).

Juga kalam-Nya, Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (‘amal pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. al-Infithar: 10-12).

Ketika mereka menganggap bahwa Allah tidak mendengar dan tidak mengetahui apa yang mereka kerjakan, Allah membantahnya, “Apakah mereka mengira, bahwa Kami tidak mendengar rahasia dan bisikan-bisikan mereka? Sebenarnya (Kami mendengar), dan utusan-utusan (malaikat-malaikat) Kami selalu mencatat di sisi mereka”. (QS. Az-Zukhruf: 80).

Orang yang beriman, tidak akan tega menyakiti malaikat yang selalu menyertainya dalam kebaikan, mencatat semua perkataan dan perbuatan baiknya. Pun juga perbuatan buruknya tanpa tercecer. Makhluk Allah yang mulia itu selalu bersamanya kecuali dalam dua keadaan, yakni ketika sedang berada di kamar kecil dan ketika dia sedang berjima’ dengan istrinya. Di luar dua keadaan itu orang yang beriman tidak akan menyakitinya dengan melakukan sesuatu yang dapat menyakiti penjaganya yang mulia itu dengan perkataan maupun dengan perbuatan.

 

Teman Dalam Ketaatan

Kadang, dalam usaha untuk bersungguh-sungguh menjalankan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, seorang mu’min merasakan keterasingan dari lingkungan, tak ada teman, tak ada dukungan dan support dari manusia di sekelilingnya. Secara manusiawi, hal itu tentu membuatnya merasa ter-alienasi, kesepian, bahkan ketakutan. Tetapi orang yang beriman merasa yakin terhadap keberadaan teman dan ma’iyyah-nya meski tak nampak, para malaikat yang selalu taat dan tak pernah ma’shiyat. Mereka membantu mukminin dalam ‘amal, mendoakannya, memintakan ampun dan memohonkan surga kepada Allah.

Dalam firman-Nya, (Malaikat-malaikat) yang memikul `Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Rabb-nya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan), “Ya Rabb kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan-Mu dan peliharalah mereka dari siksa neraka yang bernyala-nyala, ya Rabb kami,  masukkanlah mereka ke dalam surga `Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang saleh di antara bapak-bapak mereka, dan isteri-isteri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana, dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan. …”. (QS. Al-Mu’min: 7-9).

Orang yang beriman tak kan merasa sendirian. Lantaran itu mereka menjadi lebih mampu untuk bersabar dalam kesulitan di jalan jihad menegakkan agama Allah. Tatkala orang-orang bodoh menjahili mereka, menghina dan mentertawakan kenylenehannya semata-mata karena merealisir tuntunan nabi-Nya pada masa keterasingan, mereka merasa masih ada penduduk langit yang bersamanya taat kepada Allah, menemani, menjadi sahabat, membisiki untuk tetap tenang dalam keimanan, memotivasi untuk tetap sabar dan menentramkannya, membangkitkan keberanian untuk menempuh dan melanjutkan jalan yang mengantarkannya kepada keridhaan Allah.

Tentara Allah dari kalangan malaikat menyertainya, beribadah seperti dia beribadah, menghadapkan wajahnya kepada-Nya sebagaimana dia menghadap, bertasbih seperti dia bertasbih, mendoakan supaya langkahnya mendapat berkah, meringankan bebannya, menyebut-nyebut kebaikannya di hadapan Allah. Maka dengan itu seorang mu’min tidak merasa sendirian di jalan menuju Rabb-nya.

Ternyata seorang mu’min menempuh jalan menuju Allah bersama para penempuh yang agung, bersama mayoritas makhluk Allah yang taat kepada-Nya, malaikat yang mulia, para anbiyaa’, bersama langit dan bumi. Maka dia memiliki banyak teman setia dalam kesendiriannya, sandaran yang kuat kepada-Nya. Hamba yang beriman mempunyai indera yang benar dalam memandang dan mensikapi keadaan sehingga dia menjadi lebih bersabar dan tenang hati.

Dengan keyakinan seperti itu orang mu’min memandang penghalangan manusia di jalan Allah tak akan menggoyahkan, apalagi memalingkannya dari jalan itu, justru semakin menambah teguh dan mujahadah.

Betapa beruntungnya orang yang selalu memuliakan teman-seiringnya dari kalangan malaikat yang tak nampak oleh panca inderanya, tetapi qalbu-nya mampu merasakan kedekatannya.

Oleh: Redaksi/ruhiyah

Agar Bertetangga Nikmat Dirasa

“Alhamdulillah, keluarga si fulanah akhirnya pindah ke kampung sebelah.” Ujar seorang ibu kepada tetangganya. Sang ibu tersebut mengungkapkan rasa gembiranya karena kepindahan keluarga fulanah yang selama ini menjadi tetanganya. Lumrah saja ia gembira, karena memang keluarga Fulanah termasuk keluarga yang kurang disenangi,  tidak pernah mau kerja bakti, ngomel ketika dimintai iuran sosial dan seabrek akhlaq buruk lainnya melekat pada keluarga si fulanah tersebut. Sehingga para tetangga merasa sesak dengan keberadaan mereka bahkan berharap mereka pergi dengan segera.

Barangkali kisah serupa acap kita jumpai di sekeliling kita. Ketidakberesan dalam berinteraksi dengan tetangga berbuah ketidaknyamanan.

 

Masuk Jannah Karena Tetangga

Tetangga adalah orang yang terdekat dengan kita setelah keluarga. Dari merekalah kita mendapatkan bantuan pertama kali ketika keluarga kita tertimpa musibah atau kita butuh pertolongan. Maka selayaknya kita labuhkan segala kebaikan kepada mereka agar kita mendapatkan jannah-Nya.

Nabi ﷺ pernah ditanya, “Wahai Rasulullah, si Fulanah itu biasa shalat malam, shaum di siang hari, melakukan kebaikan dan bersedekah, tapi dia suka mengganggu tetangga dengan lisannya.” Rasulullah ﷺ pun bersabda, “Dia tidak punya kebaikan. Dia termasuk penduduk neraka.” Para sahabat bertanya lagi, “Sementara si Fulanah (wanita yang lain) hanya menjalankan shalat wajib, bersedekah hanya dengan sepotong keju, tapi tak pernah mengganggu siapa pun.” Rasulullah menyatakan, “Dia termasuk penduduk jannah.” (HR. Al Bukhari)

Bahkan beliau mengancam keras orang yang mengganggu tetangganya. Beliau bersabda;

“Demi Allah tidak beriman! Demi Allah tidak beriman! Demi Allah tidak beriman!” Beliau pun ditanya, “Siapa, wahai Rasulullah?” Jawab beliau, “Orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya.” (HR. Al-Bukhari)

 

Apakah Kita Tergolong Orang Baik?

Seseorang mendatangi Rasulullah ﷺ bertanya, “Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku suatu amalan jika aku mengerjakannya maka aku dapat masuk jannah. Beliau menjawab, ”Jadilah Engkau seorang muhsin (orang yang baik perangainya).” Orang itu bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana aku tahu bahwa aku seorang muhsin?” Beliau menjawab, “Bertanyalah kepada tetanggamu, jika mereka mengatakan bahwa kamu itu orang muhsin, berarti memang kamu orang baik. Namun jika mereka mengatakan bahwa kamu itu seorang orang yang musi’ (buruk perangainya) berarti memang kamu orang yang buruk’. (HR. Al Hakim).

Dari sini jelaslah bagi kita bahwa untuk mengevaluasi diri apakah kita termasuk orang yang baik atau orang yang buruk, cukuplah kita melihat komentar tetangga tentang kita. Merekalah yang paling dekat dengan kita sehingga mereka lebih mengetahui akhlak kita yang sebenarnya. Mungkin ketika di luar kita akan tunjukkan kelakuan baik sehingga manusia bisa kita kelabuhi. Namun lain halnya dengan tetangga, mereka tidak bisa kita tipu. Mereka tahu benar akhlaq kita yang sebenarnya.

Betapa pentingnya berbuat baik kepada tetangga, sampai-sampai Jibril  menekankan dalam wasiatnya kepada Nabi ﷺ.

مَا زَالَ جِبْرِيْلُ يُوْصِيْنِيْ بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ

“Jibril selalu berwasiat kepadaku tentang tetangga sampai-sampai aku menyangka bahwa tetangga akan dijadikan sebagai ahli waris.” (HR. Al-Bukhari)

 

Menumbuhkan Rasa Cinta Antar Tetangga

Tentunya semua berharap, para tetangga menyukai keberadaan kita. Tidak merasa sesak hati dan risih dengan kehadiran keluarga kita sehingga selalu mengharapkan kepindahan kita. Ada beberapa langkah agar benih cinta tumbuh meninggi antar kita dengan tetangga, diantaranya dengan saling bertegur sapa dan mengucapkan salam.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Maukah kalian aku tunjukkan pada sesuatu yang jika kalian melakukannya maka kalian akan saling mencintai: sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Ahmad)

Rasulullah SAW juga menganjurkan kita untuk selalu berbagi bila punya kelebihan rezeki. Karena saling memberikan hadiah akan melahirkan kecintaan di antara sesama, sebagaimana sabda beliau:

 تَهَادَوْا تَحَابُّوا

‘’Salinglah memberi hadiah, niscaya kalian akan saling mencintai.”(HR. Malik)

Hadiah atau pemberian tidak harus sesuatu yang bernilai mahal. Sekedar membagi lauk  dan sayuran yang kita masak bisa menumbuhkan rasa kasih sayang antar tetangga. Dalam memberikan hadiah kita utamakan tetangga yang paling dekat pintunya dengan kita. Karena merekalah yang pertama kali melihat apa yang keluar dan masuk dari rumah kita, sehingga kemungkinan mereka memiliki harapan dan keinginan,  Dan merekalah yang paling cepat menyahut jika dipanggil ketika kita memerlukan, terutama ketika musibah menimpa kita.

Imam Adz Dzahabi dalam kitabnya Al Kabaair menyebutkan sebuah riwayat bahwa pada hari kiamat nanti seorang tetangga yang miskin akan mengikuti tetangga yang kaya sambil mengadu, “Wahai Rabbku, tanyakan kepadanya mengapa ia menghalangiku dari kebaikannya dan menutup untukku uluran tangannya?”

Semoga kita bisa menjadi tetangga yang baik dan dikaruniai tetangga yang baik pula. Karena itulah satu diantara kebahagiaan di muka bumi ini.

Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

أَرْبَعٌ مِنَ السَّعَادَةِ: الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، وَالْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ، وَالْجَارُ الصَّالِحُ وَالْمَرْكَبُ الْهَنِيءُ

“Empat hal yang termasuk kebahagiaan seseorang: istri yang shalihah, tempat tinggal yang luas, tetangga yang baik, dan kendaraan yang nyaman.” (HR. Ibnu Hibban)

Wallahul Musta’an

Oleh: Ust. Abu Hanan/Fadhilah Amal

Dibalik Ucapan, “Ngomong itu mudah, prakteknya Susah!”

Di antara indahnya hidup masyarakat Islam adalah adanya tanashuh (saling menasihati) satu sama lain. Saat kita alpha, ada yang mengingatkan, saat kita lemah ada yang menguatkan dan saat kita sedih ada yang memberi kabar gembira. Tapi apa jadinya tatkala kita memberi masukan kepada seseorang yang sedang mengalami musibah atau menghadapi musibah lalu dijawab, “Ngomong itu mudah, praktiknya itu yang susah!” Saat itu lidah kitapun akan kelu, tak bisa berkata-kata lagi. Dan yang lebih penting lagi, bagaimana seandainya kalimat itu justru keluar dari mulut kita?

Ungkapan yang semisal itu juga seringkali kita dengar. M isalnya pada saat seseorang menghibur orang yang sedang ditimpa musibah lalu dijawab, “Sabar itu ada batasnya!”, Atau, “Kamu bicara seperti itu karena tidak mengalami seperti apa yang aku alami!” Dan ungkapan lain yang semisalnya.

Padahal, ketika seseorang menasihati orang lain, bukan berarti dirinya mengklaim bisa dengan mudah menjalankan tuntutan sabar. Justru karena beratnya kesabaran, maka Allah perintahkan orang-orang beriman untuk berwasiat dalam kesabaran.

Satu sisi, ungkapan itu berpotensi membungkam saudara sesama muslim dari memberikan nasihat. Dengan kata lain, ia telah menghalangi orang lain untuk menyeru yang ma’ruf. Karena efek dari ucapan itu menjadikan seseorang menjadi canggung untuk memberikan masukan yang berfaedah untuk orang lain. Padahal, ad-dienu an-nashihah, agama itu nasihat. Bagaimana agama seseorang bisa terjaga tanpa adanya saling menasihati satu sama lain.

Imam al-Khaththabi rahimahullah mengatakan bahwa kata nasihat diambil dari lafadz “nashahar-rajulu tsaubahu” (نَصَحَ الرَّجُلُ ثَوْبَهُ), artinya, lelaki itu menjahit pakainnya. Para ulama mengibaratkan perbuatan penasihat yang selalu menginginkan kebaikan orang yang dinasihatinya, sebagaimana usaha seseorang memperbaiki pakaiannya yang robek. Alangkah naif jika itikad baik itu dibalas dengan penolakan. Padahal sejatinya setiap muslim membutuhkan nasihat orang lain untuk bisa istiqamah dan juga terjaga kemaslahatan urusannya.

Hingga karena pentingnya nasihat, sampai-sampai Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengambil bai’at untuk saling menasihati.

Diriwayatkan dari Jarir radhiyallaahu‘anhu,

بَايَعْتُ رسولَ الله – صلى الله عليه وسلم – عَلَى إقَامِ الصَّلاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، والنُّصْحِ لِكُلِّ مُسْلِمٍ

Aku berbai’at (berjanji setia) kepada Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam untuk menegakkan shalat, menunaikan zakat, dan memberi nasihat kepada setiap muslim.” (HR Muttafaq alaih )

Meskipun tidak diminta, ketika kita  mendapati saudara kita hampir terjatuh ke dalam suatu keburukan, melakukan pelanggaran syar’i, berbuat sesuatu yang memudharatkan dirinya, atau perbuatan yang lainnya, maka tugas kita adalah menasihatinya walaupun ia tidak memintanya. Kita memang harus bersabar sebagai orang yang menasihati, meski ada respon yang tidak baik dari orang yang kita nasihati. Akan tetapi, tatkala kita berada dalam posisi yang dinasihati, hendaknya bisa mengambil manfaat dari nasihat tersebut. Karena cirikhas seorang mukmin itu bisa mengambil manfaat dari setiap peringatan,

“Berilah peringatan, sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (QS adz-Dzariyat: 55)

Maka orang yang menampik peringatan dari orang lain, berarti dia tidak bisa mengambil manfaat dari nasihat. Pada saat itu, jatuh pula derajat keimanannya karena tidak menyandang sebagian sifat dari orang-orang yang beriman.

Saat kita diberi nasihat dan diingatkan, jangan pula kemudian mengungkapkan kata-kata yang bernada putus asa. Seperti ungkapan di atas. Karena ungkapan semacam itu juga menunjukkan kelemahan jiwa seseorang yang tidak memiliki optimis, atau hampir masuk pada karakter putus asa. Sebagian lagi mengucapkan kata-kata itu setelah benar-benar berputus asa dan sengaja ‘memelihara’ keputusasaannya itu.

Seorang muslim senantiasa memiliki sifat optimis, dan menjauhi sifat putus asa.Di samping tidak akan menyelasikan masalah, putus asa juga  berpotensi memperburuk situasi, karena emosi negatif dan tidak lagi semangat untuk memperbaiki diri. Di samping hal itu memang dosa dan menjadi karakter orang-orang kafir.

“dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat serta pertolongan Allah. Sesungguhnya tidak berputus asa dari rahmat dan pertolongan Allah itu melainkan kaum yang kafir”. (QS. Yusuf: 87)

Ketika seorang muslim menyadari kelemahan dirinya dalam menghadapi persoalan, mereka tetap memiliki zhan (persangkaan) yang baik dan senantiasa optimis. Karena meskipun dirinya lemah, dai memiliki Allah Yang Mahakuat, dan kuasa atas segala sesuatu. Tak ada yang mustahil bagi Allah jika Dia menghendaki, meskipun itu tampak sulit bagi kita. Begitupun sebaliknya, hal yang tampak begitu mudah bisa menjadi mustahil jika tidak dikehendaki oleh Allah.

Persangkaan baik kepada Allah itu tidak sama dengan prasangka baik kepada makhluk. Prasangka baik kepada Allah berarti doa, dan Allah akan memberi hamba-Nya sesuai dengan apa yang menjadi persangkaan hamba-Nya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman,

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى

Aku sesuai dengan persangkaan hamba pada-Ku” (Muttafaqun ‘alaih).

Mengenai makna hadits di atas, Al Qodhi ‘Iyadh berkata, “Sebagian ulama mengatakan bahwa maknanya adalah Allah akan memberi ampunan jika hamba meminta ampunan. Allah akan menerima taubat jika hamba bertaubat. Allah akan mengabulkan do’a jika hamba meminta. Allah akan beri kecukupan jika hamba meminta kecukupan. Ulama lainnya berkata maknanya adalah berharap pada Allah (roja’) dan meminta ampunannya” (Syarh Muslim, Imam an-Nawawi).

Jika demikian, dengan alasan apalagi seorang muslim berputus asa? Semoga setelah ini kita lupakan ungkapan-ungkapan yang mengandung sikap putus asa dan prasangka buruk kepada Allah. Wallahul muwaffiq.

 

Oleh: Abu Umar Abdillah/Motivasi

KHUTBAH JUMAT: MURAQABAH PERISAI MAKSIAT, PEMICU TAAT

Khutbah Jumat: 
MURAQABAH PERISAI MAKSIAT, PEMICU TAAT

 

إِنَّ الْحَمْدُ لِلَّهِ نَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا. مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ ، أَرْسَلَهُ بِالْحَقِّ بَشِيرًا وَنَذِيرًا بَيْنَ يَدَيْ السَّاعَةِ مَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ رَشَدَ وَمَنْ يَعْصِهِمَا فَإِنَّهُ لَا يَضُرُّ إِلَّا نَفْسَهُ وَلَا يَضُرُّ اللَّهَ شَيْئًا.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

قال الله تعالى:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ؛

فإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ  وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ

 

Jamaah Shalat Jumat Rahimakumullah

Kita bersyukur kepada Allah yang masih memberikan iman dan islam di dalam jiwa dan raga. Dua karunia sebagai bekal Sentosa di dunia dan alam setelahnya. Allah juga masih memberi kita nikmat aman menjalankan syariat agama. Menunaikan shalat tanpa todongan senjata, membaca quran dan mengagungkan syiar islam tanpa takut hilang nyawa.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad, keluarga, para shahabat dan orang-orang yang mengikuti sunah Rasulullah hingga hari kiamat.

Tak lupa khatib mewasiatkan takwa kepada diri khatib pribadi dan kepada jamaah semua, lantaran takwa menjadi bekal terbaik untuk menghadap sang pencipta.

Jamaah Shalat Jumat Rahimakumullah

Abdullah bin Dinar pernah menceritakan, “Kami keluar bersama Umar bin Khaththab menuju Makkah, kami melewati suatu jalan, lalu berpapasan dengan seorang penggembala yang baru turun dari perbukitan, Umar menyapanya, “Wahai penggembala, juallah seekor kambingmu kepada kami!” Penggembala itu menjawab bahwa dia hanyalah seorang budak yang menggembalakan kambing majikannya. Umar berkata (menguji), “Katakan saja kepada majikanmu bahwa kambing itu telah dimakan srigala!” Dengan spontan sang penggembala menjawab, “(Kalau demikian) lantas di manakah Allah?” Sungguh jawaban yang cerdas. Jawaban yang muncul dari ketulusan jiwa dan kepekaannya akan pengawasan Allah. Seandainya dia mau berbohong, mungkin saja majikannya percaya dengan laporan palsunya, tetapi Allah Mahatahu. Jawaban ini membuat Umar trenyuh hingga beliau meneteskan air matanya. Keesokan harinya beliau mendatangi majikan budak tersebut untuk membelinya dan memerdekakannya.

Jamaah Shalat Jumat Rahimakumullah

Hari ini berita tentang perselingkuhan dan perzinaan berjejal begitu banyak. Korupsi dan kolusi merajalela di setiap lini dan tempat kerja. Koruptor pun santai saja selagi petugas audit tak mencium bau busuknya. Padahal bisa saja mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tak akan mampu bersembunyi dari Allah.

 َ يَسْتَخْفُونَ مِنَ النَّاسِ وَلَا يَسْتَخْفُونَ مِنَ اللَّـهِ وَهُوَ مَعَهُمْ إِذْ يُبَيِّتُونَ مَا لَا يَرْضَىٰ مِنَ الْقَوْلِ ۚ وَكَانَ اللَّـهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطًا﴿١٠٨ 

“Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak dapat bersembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka.” (QS. an-Nisa’: 108)

Maksiat terjadi karena adanya kemauan atau terbukanya peluang melakukannya. Namun, keduanya bisa dicegah dengan muraqabatullah, merasa diawasi oleh Allah. Muraqabatullah menjadikan seseorang sadar bahwa setiap gerak-gerik dan kerlingan matanya selalu diawasi oleh Dzat yang akan memberikan sangsi kepadanya ketika berdosa. Tak ada tempat dan kesempatan yang memungkinkan seseorang berbuat dosa tanpa sepengetahuan-Nya. Dengan begitu hilanglah kemauannya untuk berbuat dosa, meskipun tak ada orang lain bersamanya.

Jamaah Shalat Jumat Rahimakumullah

Muraqabah juga menumbuhkan rasa malu untuk berbuat dosa. Manusia yang ber-muraqabah menyadari bahwa Allah yang memberikan segala nikmat kepadanya, juga memantau setiap gerak-geriknya. Tak ada tempat bersembunyi dari-Nya agar dia bebas berbuat dosa. Malaikat yang menjaga di setiap bumi yang dia pijak akan menjadi saksi atas segala yang dilakukannya. Maka bagaimana dia akan durhaka kepadaNya di hadapan pengawasan-Nya.

Yang dia lakukan bahkan sebaliknya, dia ingin agar Dzat yang memberikan nikmat kepadanya melihat dirinya selalu dalam ketaatan kepada-Nya, sehingga Dia akan merasa ridha. Untuk itulah Ibnu Atha’ berkata: “Sebaik-baik ketaatan adalah muraqabatullah, merasa diawasi oleh Allah di setiap waktu.” Kesempurnaan muraqabatullah diraih manakala seseorang juga menyadari bahwa setiap gerak, nafas dan detik perbuatannya direkam dalam catatan malaikat. Kelak catatan itu akan diperlihatkan kepadanya. Terbuktilah bahwa tak ada yang terlewat dari perbuatannya, semua tercatat detail di dalamnya. Tidakkah kita malu jika catatan perbuatan kita dibuka di hari Kiamat sementara di sana terdapat rekaman dosa yang kita kerjakan di saat sembunyi?

Jamaah Shalat Jumat Rahimakumullah

Muraqabatullah membuat orang tidak hanya semangat berbuat baik di saat ramai namun loyo di saat sepi. Ia menyadari bahwa Dzat yang mengawasinya selalu memantau dirinya di saat ia berada di tengah banyak orang maupun saat sendirian.

أَوَلَا يَعْلَمُونَ أَنَّ اللَّـهَ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ ﴿٧٧

“Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui segala yang mereka sembunyikan dan segala yang mereka lakukan dengan terang-terangan?” (QS. al-Baqarah: 77)

Dia juga sadar bahwa malaikat yang mencatatnya takkan pernah pula bosan untuk menyertai dan mencatat perbuatannya: “(yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri.” (QS. Qaaf: 17)

Catatan yang terdapat dalam kitab itupun detail tak ada sedikitpun yang tercecer, hingga orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang tertulis di dalamnya, dan mereka akan berkata: “Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya.” (QS. al-Kahfi: 49)

Muraqabatullah menyebabkan seseorang beramal ketika sendirian sama bagusnya dengan apa yang dia lakukan ketika bersama banyak orang. Alangkah bagusnya seorang muslim tatkala menyendiri, lalu dia merasakan bahwa malaikat tidak akan berpisah darinya, diutus untuk menulis kebaikannya. Maka dia berkata kepada malaikat, “Tulislah (kebaikanku wahai malaikat), semoga Allah merahmati anda”, sehingga dia memenuhi lembaran kitabnya dengan kebaikan dan apa-apa yang bisa memperberat timbangannya: “Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (di mukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya, ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh,” (QS. Ali Imran : 30).

Untuk itu, para salaf tak membedakan amal antara yang lahir dan yang batin. Amalan tersembunyi mereka tidak menyelisihi apa yang mereka kerjakan secara terang-terangan, seperti Hasan al-Bashri yang disifatkan seorang tetangga sekaligus muridnya ‘amalan beliau di saat sendiri sama dengan amal beliau ketika di tengah orang banyak.’ Sebagian ada yang taqarrub mereka kepada Allah tatkala sendirian lebih banyak porsinya dari pada ketika terang-terangan karena khawatir timbul riya’ dan sum’ah. Seperti Ali bin Husain bin Ali, setiap kali kegelapan telah merayap, beliau mengusung sekarung gandum di punggungnya untuk diberikan kepada fakir miskin di Madinah, beliau mengetuk pintu, meletakkan gandum tersebut lalu pergi tanpa diketahui oleh orang yang beruntung mendapatkan bantuannya.

Jamaah Shalat Jumat Rahimakumullah

Sudah selayaknya hamba yang cerdas tidak coba-coba menjamah wilayah dosa yang dilarang sang Pencipta karena Allah takkan sedikitpun terlena dalam mengawasinya.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

KHUTBAH KEDUA

إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أشْهَدُ أنْ لاَ إِلٰه إلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

الَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَعَلَىخُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِمْ وَطَرِيْقَتِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

اللهم اغفِرْ لِلْمُسْلِمينَ وَالمْسُلْماتِ والمؤمنينَ والمؤمناتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُم واَلأَمْوَاتِ

اللهمَّ انْصُرْ جُيُوسَ المُسْلِمِيْنَ وَعَسَاكِرَ المُوَحِّدِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَكَ أَعْدَاءَ الدِّينِ وَأَعْلِ كَلِمَتَكَ إلي يَوْمِ الدِّينِ اللهُمَّ انْصُرْ دُعَاتَنَا وَعُلَمَائنَاَ المَظْلوُمِيْنَ تَحْتَ وَطْأَةِ الظالِمِين وَفِتْنَةِ الفَاسِقِينَ وَحِقْدِ الحَاقِدِيْنَ وَبُغْضِ الحَاسِدِين وَخِيَانَةِ المُنَافِقِيْنَ

اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُولُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مُصِيبَاتِ الدُّنْيَا ، وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا ، وَأَبْصَارِنَا ، وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا ، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا ، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا ، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا ، وَلا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا ، وَلا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا ، وَلا مَبْلَغَ عِلْمِنَا ، وَلا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لا يَرْحَمُنَا

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

وَصَلِّ اللَّهُمَّ عَلي خَيْرِ خَلْقِكَ وَأَفْضَلِ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ وَعَلي آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا

وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ العَالمَين

Pendidikan Anak, Tanggung Jawab Siapa

Entah siapa yang memulai, namun pembagian tugas: suami mencari nafkah dan istri mengurus rumah tangga, menjadi sebuah teori atas nama agama dan adat yang tak terbantahkan. Sungguh, ini tidak ada hubungannya dengan kesetaraan gender atau banyaknya muslimah yang bekerja di luar rumah dengan beragam alasan. Tapi nyatanya, ada juga para suami yang menyerahkan sepenuhnya urusan rumah kepada istri. Ya, sepenuhnya tanpa syarat. Mulai dari hal-hal remeh seperti sekadar menyapu nasi sisa yang tercecer (bekas makan anak-anaknya sendiri), sampai urusan strategis yang sering dianggap sepele, yaitu pendidikan anak.

Ironis. Ketika dalam sebuah keluarga muslim pasangan suami istri saling melempar tanggung jawab urusan ini. Suami sibuk di luar rumah demikian pula dengan sang istri. Akhirnya, anak diserahkan kepada pembantu atau seharian penuh berada di sekolah-sekolah terpadu tanpa kontrol orang tua. Orang Jawa bilang, “Pasrah bongkokan.” Ayah-ibu tiba di rumah dalam keadaan sangat payah, sehingga hampir tak ada selera untuk bercanda dengan anak-anaknya. Lebih ironis lagi, bila sibuknya sang ayah atau ibu tersebut, disebabkan urusan dakwah untuk memperbaiki akhlak orang lain, namun lupa kepada keluarganya. Lupa bahwa anak-anaknya jauh lebih berhak diperhatikan daripada orang lain.

“Hai orang-orang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka, yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At Tahrim : 6)

“Dan perintahkanlah keluargamu menjalankan sholat dan sabar dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rejeki kepadamu, Kami lah yang memberi rejeki kepadamu. Dan akibat [yang baik di akherat] adalah bagi orang yang takwa.” (QS. Thaha : 13)

Mari kita renungi. Kita kembalikan semua pada fitrahnya.

Kita semua telah hafal di luar kepala, bahwa ibu adalah madrosatul ula, sekolah yang pertama bagi anak-anaknya. Tak heran, bila anak sering dianggap imitasi dari para orang tua, terlebih ibu. Lihatlah bagaimana cara mereka marah, bagaimana cara mereka berbicara, berpakaian atau bertingkah laku. Mungkin, para ibu akan tertawa sendiri bila menyadarinya. Maka sangat disayangkan bila anak-anak kita mendapat metode pendidikan yang salah dari sang ibu. Lebih menyedihkan lagi, bila pendidikan pertama ini justru didapat dari orang lain, mengingat betapa sibuknya ibu dengan pekerjaannya, dengan hobinya, dengan teman-temannya, dengan pengajiannya, dan sebagainya.

Padahal di antara tugas seorang ibu yang sholihah adalah untuk mendidik anak-anaknya, untuk menjaga kesucian dan kebersihan, menjaga kehormatan dan keberanian, serta meninggalkan gemerlap perhiasan dan kesenangan dunia. Semua itu agar mereka tumbuh sebagai anak-anak yang hanya hidup dengan islam dan untuk islam.

Lalu dimana ayah?

Dalam Islam ayah memiliki kedudukan yang agung dan mulia. Karena ayah adalah pemimpin dalam keluarga. Ia bertanggung jawab atas keistiqamahan seluruh anggota keluarga. Ialah istri dan anak-anaknya.

“Dan ketahuilah bahwa kalian adalah pemimpin dan akan ditanya tentang yang dipimpinnya”. (HR. Muslim)

Akan tetapi kesibukanlah yang sering dijadikan alasan oleh para ayah sehingga kesulitan mencari waktu luang untuk berkumpul dengan anggota keluarga. Hampir tak ada waktu untuk sekadar mendengarkan keluhan, mengarahkan, mendengarkan pendapat atau mengajak bicara. Istri pun sering tidak mendapat kesempatan untuk berdiskusi atau membicarakan program-program dalam keluarga. Bisa juga kebersamaan yang ada itu hanya sebatas formalitas saja. Ayah bersama laptopnya, ibu sibuk dengan teman-temannya di negeri dumay (dunia maya), anak-anak menonton televisi, semua asyik dengan dunianya sendiri-sendiri. Berkumpul dalam satu atap, namun semua membisu. Bisu dan tenggelam dalam alamnya masing-masing.

Padahal peran ayah dalam mendidik anak tak kalah pentingnya. Dia memiliki andil untuk membantu istri dengan cara menjelaskan dan mendiskusikan  metode pendidikan bagi anak-anaknya serta langkah-langkah operasional untuk mewujudkan semua itu. Karena anak-anak biasanya lebih sering berinteraksi dengan ibu. Namun tanpa bantuan suami, sulit rasanya bagi seorang istri memahami hakekat pendidikan yang benar dan mengokohkan keinginan mencetak generasi-generasi terbaik dari anak-anaknya.

Mari kita perhatikan, bagaimana lelaki terbaik umat ini berinteraksi dengan anak-anak. Imam Tirmidzi meriwayatkan hadits dari Abdullah ibn Buraidah, dari ayahnya, “Aku mellihat Rasulullah ﷺ sedang berkhutbah, kemudian datang Al-Hasan dan Al-Husain yang mengenakan gamis berwarna merah berjalan dengan langkah tertatih-tatih. Maka beliau turun dari mimbar lalu menggendong keduanya dan mendudukkan di hadapannya. Beliau pun bersabda, ‘Maha benar Allah dalam firmanNya, ‘Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu adalah ujian.’ Aku melihat kedua anak ini tertatih-tatih, maka aku tidak sabar, sehingga aku memotong pembicaraanku dan aku mengangkat keduanya.” Hmm…Sebuah pemandangan unik yang mungkin tak akan ditemui dari para ayah zaman sekarang.

Maka bisa dipastikan bahwa urusan pendidikan anak, bukan melulu tanggung jawab suami atau hanya menjadi tugas istri. Keduanya disyari’atkan untuk bahu membahu dalam menjalankannya. Akan tetapi para istri semestinya bersabar atas kelalaian suami yang dilakukan tanpa unsur kesengajaan. Bahkan tak menjadi penghalang bagi langkah suami dalam berbagai urusan. Sebaliknya para suami juga tidak boleh tenggelam dalam dunianya, hingga menelantarkan keluarganya. Rasulullah bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya dan aku adalah orang yang paling baik diantara kalian kepada keluargaku”. (HR. Tirmidzi)

Selanjutnya yang perlu kita pahami bersama bahwa, pendidikan anak bukan merupakan pekerjaan main-main. Inilah pekerjaan lintas generasi yang berawal dari rumah. Dari kita, orang tuanya. Sebuah pekerjaan yang membutuhkan kesabaran. Sebuah pekerjaan yang buah manisnya tidak bisa kita nikmati seketika, namun berbuntut panjang bahkan hingga ke negeri akhirat.

Oleh: Redaksi/Majalah ar-risalah

 

Mencari Tipe Kepribadian Diri dengan Al-Quran

Allah memberikan bakat dan potensi yang berbeda-beda di antara manusia. Dengan bakat itu, manusia berusaha mendapatkan kualitas penghidupan yang layak. Meskipun, tidak semua orang dengan mudah memahami bakat dirinya di awal-awal usia. Sebagian lagi bahkan dianggap gagal menemukan bakatnya dan sebagian lagi gagal mengoptimalkan potensinya.

Adalah wajar jika kemudian banyak berkembang di era kini; tes, pelatihan dan training kepribadian untuk mencari karakter diri. Targetnya, seseorang bisa memahami bakat dan karakter paling dominan pada dirinya, peluang karir yang memiliki peluang besar sukses untuk diterjuni, serta tantangan apa yang mungkin akan dihadapi.

Begitulah usaha manusia demi kebahagiaan dunia yang umurya berkisar antara 60 sampai 70 tahun, atau lebih sedikit bagi yang dipanjangkan umurnya. Itu belum dipotong masa ‘berjuang’ dan jerih payahnya untuk sampai pada titik kemapanan dan hidup nyaman. Juga akhir-akhir usia senja yang meski kenikmatan tersedia, ia sudah tidak mampu lagi merasainya.

Tes-tes semacam itu dikemas dalam pelatihan yang bertujuan untuk mengenal watak pribadi, karakter psikis, penelusuran bakat dan minat, gali potensi dan sebagainya agar tak salah dalam memilih karir duniawi. Teori diambil dari orang-orang Barat atau mungkin juga dipadu dengan toeri-teori orang Timur. Tidak sepenuhnya salah memang, karena sebagiannya bisa jadi disimpulkan dari pengalaman panjang atau dari penelitian dari sumber yang banyak.

Akan tetapi, adakah perhatian yang sama  kita lakukan untuk menilai karakter diri, dikaitkan dengan masa depan akhirat kita, lalu mengacu dan mengambil dari sumber yang valid terpercaya dan tiada salah di dalamnya?

Banyak yang lupa, bahwa sebenarnya Al-Qur’an telah komplit menyebutkan segala tipe dan kriteria manusia terpuji, lengkap dengan tingkatan dan jenis amal unggulannya. Begitupun dengan segala kriteria manusia tercela, lengkap dengan tingkatan dan jenis-jenis keburukannya. Seperti apapun karakter dan jenis manusia, termasuk masing-masing kita, Al-Qur’an telah menyebutkan tentangnya. Persoalannya, tidak banyak yang serius menjadikan Al-Qur’an sebagai cermin kepribadian, atau menjadikannya sebagai acuan meniti ‘karir’ akhiratnya.

Allah Ta’ala befirman,

لَقَدْ أَنزَلْنَا إِلَيْكُمْ كِتَابًا فِيهِ ذِكْرُكُمْ ۖ أَفَلَا تَعْقِلُونَ ﴿١٠﴾

“Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat ‘dzikrukum’ (penyebutan tentang dirimu atau) sebabsebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya?” (QS. Al-Anbiya’: 10)

Makna “dzikrukum” dalam ayat ini banyak disebutkan para ulama tafsir. Ada yang memaknai sebagai kemuliaan di dunia dan akhirat, sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam al-Qurthubi. Dan memang al-Qur’an adalah barometer kemuliaan sebagaimana hadits nabi ﷺ,

إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ

 “Sesungguhnya Allah mengangkat derajat suatu kaum dengan kitab ini (Al Qur’an) dan menghinakan kaum yang lain dengan kitab ini pula.“ (HR. Muslim)

Ada pula yang yang memaknai “dzikrukum” sebagai peringatan, ini juga tepat karena al-Qur’an adalah adz-Dzikr. Dan ada pula makna dzikrukum adalah yang menyebutkan perihal (karakter) kalian. Yakni bahwa segala jenis tipe manusia sejatinya telah disebutkan di dalam al-Qur’an, sebagaimana yang diisyaratkan oleh Ahnaf bin Qais rahimahullah. Sayangnya, hanya sedikit orang yang konsen dan memiliki ketertarikan untuk mengulik kepribadian diri dengan cara ini.

Di antara sedikit orang yang secara serius melakukan tes kepribadian dengan Al-Qur’an adalah Ahnaf bin Qais rahimahullah, seorang tabi’in senior, murid dari Amirul Mukminin Umar bin Khathab radhiyallahu anhu. Muhammad bin Nashr al-Marwazy dalam Mukhtashar Qiyaamul Lail mengisahkan tentang Ahnaf. Suatu kali beliau duduk merenungi firman Allah, “Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat ‘dzikrukum’ (penyebutan tentang dirimu atau) sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya?” (QS. Al-Anbiya’: 10)

Tatkala membaca ayat tersebut, beliau bergumam, “Saya akan membuka lembar demi lembar mushaf al-Qur’an, untuk mencari ayat yang menyebutkan tentang karakter diriku, hingga aku tahu, tipe orang seperti apa aku, dan kaum mana yang paling mirip dengan diriku.”

Begitulah al-Qur’an setiap kali dibaca, memberikan inspirasi positif bagi yang mau mentadaburi. Mencari tipe kepribadian diri di sini bisa dimaknai menggali potensi lebih yang Allah anugerahkan kepada masing-masing manusia. Karena sebagaimana perolehan rejeki harta, rejeki berupa potensi amal ataupun ibadah masing-masing manusia berbeda-beda jenis unggulannya, juga tingkat perolehannya. Ini seperti yang dikatakan oleh Imam Malik rahimahullah, “Innallaha qassamal a’mal kama qassamal arzaq,” Allah membagi amal, itu seperti membagi rejeki. Pintunya bermacam-macam, pendapatannya juga berbeda-beda.

Sudahkah kita temukan unggulan amal kita sebagaimana kita temukan pintu rejeki kita? Atau bahkan belum pernah mencarinya? Abu Lahab sudah menemukan jati dirinya di dalam al-Qur’an, yakni di dalam Surat al-Lahab. Lalu di manakah posisi kita, ayat berapa dari Surat apa? Semoga lekas menemukannya, aamiin.

Oleh: Ust. Abu Umar Abdillah/Motivasi

Muslim Maluku Melawan Portugis

Di Maluku, umat Islam dengan sengit melawan Portugis selama 85 tahun (1520—1605). Portugis pertama datang ke Maluku pada 1512. Tiga tahun berikutnya, Portugis diizinkan mendirikan loji di Hitu sebagai tempat tinggal dan tempat penampungan rempah-rempah sehingga terjalinlah hubungan perdagangan antara Hitu dan Portugis.

LATAR BELAKANG PERLAWANAN

Namun demikian, hubungan ini tidak berlangsung lama karena ulah Portugis sendiri. Pada 1516 orang Portugis membawa minuman keras dari kapal untuk dijual. Malah orang Portugis sendiri yang minum sampai mabuk serta membuat kekacauan dalam pasar cengkeh di Hitu. Kejadian ini menimbulkan kemarahan masyarakat Hitu terhadap orang Portugis. Mereka menuntut penguasa Hitu, yaitu Empat Perdana, agar menghukum orang Portugis karena telah melanggar adat dan agama. Akhirnya orang Portugis disuruh pindah ke bagian selatan Hitu. (Maryam RL Lestaluhu, Sejarah Perlawanan Masyarakat Islam Terhadap Imperialisme di Daerah Maluku, hlm. 39-40)

Atas tindakan ini, pada 1520 Portugis menyerang Hitu dengan mempengaruhi penduduk di bagian selatan jazirah itu untuk membantu mereka. Menghadapi situasi itu, Empat Perdana Menteri tidak tinggal diam. Mereka memerintahkan seluruh rakyat turun ke pantai menghadapi musuh yang akan mendarat. Rakyat Hitu tidak gentar menghadapi serangan Portugis karena mati bagi mereka saat itu adalah mati syahid. Pertempuran satu lawan satu berlangsung dengan seru sampai petang, namun tidak ada kemenangan yang diraih oleh salah satu pihak. Pasukan Portugis mundur karena sudah malam, lalu berlayar pulang ke pangkalannya. Serangan pertama pihak Portugis ini merupakan awal permusuhan antara Hitu dan Portugis yang berlangsung selama ± 85 tahun. (hlm. 43-44)

PERLAWANAN MUSLIM HITU

Pertempuran kembali terjadi antara rakyat muslim Hitu dan orang Portugis pada 1525. Banyak orang Portugis mati terbunuh. Penduduk Hitu Selatan yang dulu membantu penyerangan Portugis pada 1520 juga mendapatkan balasan sehingga mereka lari menyelamatkan diri. Rakyat Hitu memperoleh kemenangan yang gemilang. Delapan tahun berikutnya (tahun 1533), Portugis mencoba mempengaruhi negeri Hatiwe, yaitu salah satu negeri Islam di jazirah Hitu bagian selatan, agar membantu mereka menyerang Hitu dari laut dan darat. Sebelum rencana penyerangan Portugis itu terlaksana, pasukan Hitu bersama pasukan bantuan dari Jepara menyerang Hatiwe terlebih dahulu. Pasukan Hitu tidak hanya menunggu Portugis di tempat, tapi diperintahkan untuk menghadang pasukan musuh dalam perjalanan sebelum tiba di Hitu. Dalam pertempuran-pertempuran yang terjadi sepanjang perjalanan ke Hitu, pasukan Portugis banyak menderita kerugian karena banyak yang mati. Senjata mereka banyak pula yang jatuh ke tangan pasukan Hitu. Pasukan Portugis mengundurkan diri ke Hatiwe sambil menunggu bantuan dari Goa. Namun bantuan yang ditunggu baru tiba pada 1537 dan terjadilah pertempuran antara pasukan Hitu dan pasukan Portugis.

Pada 1570 Portugis kembali menyerang Hitu di bawah pimpinan Sancho. Karena serangan ini, Empat Perdana Menteri bersama rakyat Hitu sampai harus berpindah ke Seram Barat. Melihat keberangkatan mereka, Portugis merasa puas karena musuhnya di jazirah Hitu sudah tidak ada lagi. Namun demikian, pada 1574 Empat Perdana Menteri bersama rakyat Hitu ditambah bantuan penduduk Seram Barat melakukan penyerangan dan berhasil mengusir Portugis dari Hitu. Keadaan pun menjadi tenang kembali. Namun, hal ini hanya bertahan selama 6 tahun. Pada 1580 pasukan Portugis di bawah pimpinan Panglima Paul Dirk Kastanya kembali datang dan membuat kekacauan. Dua tahun berikutnya, Portugis menyerang Mamala. Dalam pertempuran yang berlangsung 2 hari itu, orang-orang Mamala berhasil menghalau pasukan Portugis setelah dibantu oleh Perdana Menteri Tahalele II dengan pasukannya dari Hitu. (hlm 44-56)

PERLAWANAN MUSLIM TERNATE

Perlawanan bersenjata terhadap Portugis juga terjadi di Ternate. Pada mulanya, kerajaan Islam yang berada di Maluku bagian utara ini menjalin hubungan dagang dan perjanjian damai dengan Portugis. Namun setelah Portugis memonopoli perdagangan, menyebarkan agama Katolik dengan licik dan paksaan, serta mengadu domba antara penduduk Maluku, orangorang Ternate pun menjadi benci kepada mereka. Portugis juga sering turut campur dalam urusan pemerintahan dan bertindak sewenang-wenang terhadap para sultan. Hal ini menimbulkan kemarahan luar biasa dari masyarakat Maluku Utara terhadap bangsa Portugis. Kemarahan ini semakin bertambah ketika Sultan Khairun dan ibunya ditangkap dan diasingkan dalam benteng. Mereka berdua akhirnya dibebaskan karena rakyat memberontak. Di seluruh daerah kekuasaan Sultan Ternate, timbul kebencian terhadap Portugis. Kemarahan terhadap Portugis mencapai puncaknya ketika Sultan Khairun dibunuh secara kejam pada 18 Februari 1570 dalam benteng oleh pengkhianatan de Mesquita yang menjabat sebagai Gubernur Portugis di Ternate pada waktu tersebut. Akibat kejadian itu, Sultan Babullah yang telah menggantikan ayahnya segera bertindak keras terhadap Portugis, dengan mengusir mereka yang tinggal di luar benteng.

Sementara benteng Ternate (Sau Paulo) dikepung, Sultan Babullah mengirimkan angkatan perangnya ke Ambon di bawah pimpinan Kaicili Leliato untuk menghajar Portugis. Walaupun Kerajaan Tidore bermusuhan dengan Ternate, namun dorongan solidaritas Islam telah memaksa para sultan dan rakyat Maluku Utara membantu Ternate. Kepungan terhadap benteng telah mengakibatkan timbulnya wabah dan kelaparan sehingga para penghuni dalam benteng mulai menderita penyakit busung lapar. Melihat penderitaan orang-orang yang terkepung itu, timbullah rasa kasihan dalam hati Sultan Babullah. Dia kemudian menawarkan beberapa usul. Pertama, Portugis harus menyerahkan benteng dan meninggalkan Ternate dalam waktu 2 X 24 jam. Kedua, Orang-orang Portugis harus menyerahkan pembunuh Sultan Khairun dan kaki tangannya. Sejak saat itu, hubungan Portugis dengan Kesultanan Ternate tetap tegang sampai tiba saatnya mereka meninggalkan Maluku untuk selamanya pada 1606, setelah Ternate mengalahkan Portugis dengan bantuan Belanda dan Hitu. (hlm. 57-66)

Oleh: Ust. M. Isa Anshari/Sejarah Islam Indonesia

TAKUT, TAPI BUKAN SEMATA TERJANGKIT CORONA

Masih belum hilang rasa was-was dan takut terkait wabah  virus Corona (COVID-19) yang menghebohkan dunia nyata. Bagaimana tidak, ada wabah yang begitu mudah menyebar dan begitu luas jangkauannya. Hingga pemerintah Saudi menutup visa umroh sebagai antisipasi terhadap wabah corona.

Di berbagai belahan dunia juga muncul kepanikan-kepanikan terhadap wabah ini. Semestinya, rasa takut kita bukan semata-mata khawatir terjangkiti wabah berbahaya tersebut. Tapi lebih dari itu, jangan-jangan kesalahan kita, dosa-dosa yang dilakukan manusia sudah melampaui batas, plus minimnya amar ma’ruf nahi munkar hingga mengundang datangnya murka Allah. Atau setidaknya mendatangkan teguran dari Allah Ta’ala. Karena terjadinya musibah secara merata adalah di antara penanda maraknya dosa, terutama riba dan zina.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallan bersabda, ”Tidaklah nampak perbuatan keji (zina) di suatu kaum, sehingga dilakukan secara terang-terangan kecuali akan tersebar di tengah-tengah mereka tha’un (wabah) dan penyakit-penyakit yang tidak pernah menjangkiti generasi sebelumnya.” (HR Ibnu Majah, shahih)

Tak ada salahnya mewaspadai tersebarnya wabah Corona dengan hal-hal logis yang bisa dilakukan. Akan tetapi, waspada terhadap dosa yang menjadi sebab secara syar’i seharusnya lebih ditakuti.

Tak ada jalan yang lebih efektif untuk menyudahi wabah dan bencana melebihi taubat, berhenti dari dosa, dan menghentikan orang lain yang berbuat mungkar. Karena jika wabah menyebar karena dosa, lalu antisipasi bisa dilakukan, maka Allah Kuasa untuk mendatangkan yang lebih rumit Iagi dan lebih berbahaya ketika manusia terus melakukan dosa, nas’alullahal ‘aafiyah.

Wabil khusus bagi mereka yang diberi amanah kekuasaan dan bisa mencegah kemungkaran dengan tangan atau kekuasaannya, tentu lebih dituntut lagi. Sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Khalifah al-Muqtadi biamrillah.

Pada tahun 478 H, Imam Ibnu Katsir menceritakan dalam kitabnya Al-Bidayah Wan Nihayah  bahwa pada Bulan Muharram tahun 478 H terjadi Gempa di Arjan yang menyebabkan hancurnya bangunan dan hewan ternak banyak yang mati. Juga menyebar penyakit Demam dan Wabah di Iraq, Hijaz dan Syam, yang menyebabkan kematian secara masal. Ketika itu Khalifah Al Muqtadi biamrillah menggalakkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar di setiap tempat. Alat-alat maksiat dihancurkan, khamr dimusnahkan, dan bahkan orang-orang nekat berbuat munkar diusir, hingga kemudian wabah reda dan tak ada lagi bencana-bencana yang berarti.

Semoga saja, langkah yang sama dilakukan oleh pemangku amanah rakyat, aamiin.

Oleh: Ust. Abu Umar Abdillah/Muhasabah

Khutbah Jumat: Jannah, Hanya Bagi yang Mempu Membayar Harga

Khutbah Jumat

Jannah, Hanya Bagi yang Mampu Membayar Harganya

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.

يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ

 

Segala puji kita bagi Allah Rabb semesta atas berbagai macam nikmat yang telah dianugerahkan pada kita semua. Apa pun nikmat yang Allah berikan patut kita syukuri walau itu sedikit.

مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيلَ لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيرَ

Barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia sulit untuk mensyukuri sesuatu yang banyak.” (HR. Ahmad)

Semoga kita menjadi hamba Allah yang bersyukur dan dapat memanfaatkan nikmat yang ada dalam ketaatan dan ketakwaan pada Allah.

Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi besar Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga kepada para sahabat, para tabi’in, serta para ulama yang telah memberikan contoh yang baik pada kita.

JAMAAH JUMAT RAHIMAKUMULLAH

Rasulullah bersabda

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ بْنِ قَعْنَبٍ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ ثَابِتٍ وَحُمَيْدٍ عَنْ

نَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتأ

النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ

Telah bercerita kepada kami Abdullah bin Maslamah bin Qa’nab, telah bercerita kepada kami Hammad bin Salamah dari Tsabit dan Humaid, dari Anas bin Malik berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Jannah dikelilingi oleh berbagai hal yang tidak menyenangkan dan neraka dikelilingi dengan syahwat.” (HR Muslim)

Nabi mengabarkan kepada kita bahwa jannah dikelilingi oleh berbagai hal yang umumnya tidak disukai oleh manusia. Siapapun yang ingin mendapatkan Jannah mesti siap menempuh jalan yang penuh onak dan duri, jalan perjuangan yang melelahkan, pengorbanan harta, tenaga, usia dan bahkan nyawa, kendati hawa nafsu menentangnya. Terpampang pula di hadapannya seribu satu rintangan yang tak diingini oleh nafsu yang cenderung rehat dan berfoya-foya.

Sebaliknya, neraka terselubungi oleh sejuta pesona yang menggiurkan orang untuk menjamahnya, serasi dengan selera nafsu dan angkara. Sehingga banyak manusia terkecoh oleh jerat dan perangkapnya.

Teraihnya jannah hanyalah apabila manusia sanggup bermain dengan aturan dan rambu-rambu yang telah ditetapkan oleh Sang Pemiliki Jannah (Allah) berupa perintah dan larangan. Mengikuti rambu-rambu tersebut membutuhkan kesabaran ekstra dan pengorbanan yang luar biasa.

Karena umumnya perintah adalah sesuatu yang berat diterima oleh selera hawa nafsunya. Adapun wujud larangan biasanya justru sesuatu yang diingini oleh syahwatnya. Namun inilah harga yang telah ditentukan oleh Pemiliknya.

Allah mensifatkan keadaan penghuni jannah dengan firman-Nya:

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ﴿٤٠ فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ ﴿٤١

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya jannahlah tempat tinggal (nya).” (QS An-Nazi’at 40-41)

JAMAAH JUMAT RAHIMAKUMULLAH

Mush’ab bin Umair, rela meninggalkan segala kemewahannya ketika diboikot orang tua sejak masuk Islam. Dari pemuda yang paling keren, paling halus bajunya, paling wangi minyaknya bagaikan photo model dan paling didamba gadis-gadis di Mekah. Akhirnya beliau tinggalkan semuanya karena Islam. Bahkan tatkala syahid di medan perang, hanya burdah yang dimilikinya untuk menutup tubuhnya, jika ditutpkan kakinya kelihatan kepalanya dan jika ditutupkan kepalanya terlihat kakinya.

Beliau tahu, itulah alat tukar untuk meraih jannah. Demi melihatnya nabi bersabda, “Sungguh di Mekah dahulu aku tidak melihat orang yang lebih halus pakaiannya dan lebih rapi rambutnya daripada kamu.

Namun sekarang rambutmu kusut masai dan tubuhmu hanya ditutup dengan sehelai burdah.” Lalu beliau bersabda perihal Mush’ab dan pahlawan lain yang gugur:

نَّكُمُ الشُّهَدَاءُ عِنْدَ إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ يَشْهَدُ أ

اللهِ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ

“Sungguh Rasulullah (aku) bersaksi bahwa kalian adalah syuhada di sisi Allah pada hari kiamat.”

JAMAAH JUMAT RAHIMAKUMULLAH

Jannah tidaklah disediakan bagi mereka yang tak mau membayar harga, bakhil dalam mengorbankan apa yang dimilikinya untuk mendapatkannya. Bukan pula untuk manusia yang berangan untuk meraihnya namun tak sudi menempuh jalannya. Allah menceritakan perihal orang-orang yang tidak turut serta dalam perang Tabuk:

لَوْ كَانَ عَرَضًا قَرِيبًا وَسَفَرًا قَاصِدًا لَّاتَّبَعُوكَ وَلَـٰكِن بَعُدَتْ عَلَيْهِمُ الشُّقَّةُ ۚوَسَيَحْلِفُونَ بِاللَّـهِ لَوِ اسْتَطَعْنَا لَخَرَجْنَا مَعَكُمْ يُهْلِكُونَ أَنفُسَهُمْ وَاللَّـهُ يَعْلَمُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ ﴿٤٢

“Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak berapa jauh, pastilah mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka. Mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah: “Jikalau kami sanggup tentulah kami berangkat bersama-samamu” Mereka membinasakan diri mereka sendiri dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta.” (At-Taubah 42)

Maka adakah pantas bagi seseorang telah mengaku cinta kepada Allah, berangan ingin mendapat jannah, namun ia enjoy dengan maksiat, foya-foya, dan tidak memiliki perhatian terhadapp urusan agamanya?

Hamba Allah yang tulus ingin mendapatkan jannah akan berupaya memahami ilmu menuju jannah, mengamalkannya dan bersabar atas gangguan yang dihadapannya serta berpaling dari pantangan-pantangan Jannah adalah bukti konkrit manusia yang ingin mendapatkan jannah.

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu berkata, “enam perkara, apabila ada pada diri seseorang maka ia betul-betul mencari jannah dan menjauh dari neraka, yakni mengenal Allah kemudian mentaatinya, mengenal setan kemudian memusuhinya, mengenal kebenaran kemudian mengikutinya, mengenal kebathilan kemudian menjauhinya, mengenal dunia kemudian mengesampingkannya menggunakannya untuk kepentingan akherat) dan mengenal akherat kemudian memburunya.”

JAMAAH JUMAT RAHIMAKUMULLAH

Jika para pemburu jannah harus mencurahkan pengorbanan segala yang dimilikinya, bukan berarti para calon penghuni neraka tidak butuh pengorbanan untuk mendaftar menjadi penghuninya.

Musuh-musuh Islam pun mencurahkan segala tenaga, bersusah payah dan mengorbankan apa yang mereka punya untuk menukarnya dengan neraka. Allah berfirman:

وَلَا تَهِنُوا فِي ابْتِغَاءِ الْقَوْمِ ۖ إِن تَكُونُوا تَأْلَمُونَ فَإِنَّهُمْ يَأْلَمُونَ كَمَا تَأْلَمُونَ ۖ وَتَرْجُونَ مِنَ اللَّـهِ مَا لَا يَرْجُونَ ۗ وَكَانَ اللَّـهُ عَلِيمًا حَكِيمًا ﴿١٠٤

“Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan.” (QS An-Nisa’ 104)

Begitupula dengan para pemburu yang melalaikan akheratnya. Belum ada ceritanya para penggandrung dunia merasa puas dengan apa yang telah di tangannya.

Dia akan senantiasa berjuang, berkorban dan bekerja keras untuk memburu keinginan nafsunya yang mustahil akan didapatkannya. Akan tetapi:

عَامِلَةٌ نَّاصِبَةٌ ﴿ ٣﴾ تَصْلَىٰ نَارًا حَامِيَةً

“Bekerja keras lagi kepayahan, (lalu) memasuki api yang sangat panas (neraka).” (QS Al-Ghasiyah 3-4)

JAMAAH JUMAT RAHIMAKUMULLAH

Siapapun manusia sesungguhnya ia akan menuai hasil perbuatannya di dunia. Yang kafir ataupun yang mukmin, yang shalih maupun yang thalih, yang kaya ataupun yang papa. Hasil yang diperoleh tergantung dengan besarnya pengorbanan dan tujuan ia berkorban.

Jika para pemburu neraka berkorban dan berjuang untuk mendapatkan kebinasaannya, tentulah pengorbanan kita untuk mendapatkan kenikmatan Jannah harus lebih dituntut.

Hendaknya kita tidak segera merasa bangga dan merasa cukup dengan amal yang telah kita usahakan, karena kenikmatan jannah yang disediakan untuk kita terlampau besar bila dibandingkan dengan upaya kita. Imam Syafi’i berkata, “jika anda takut ujub, maka ingatlah tiga perkara, yakni ridha siapa yang dia cari, kenikmatan apa yang dia inginkan dan kebinasaan mana yang hendak dia jauhi.

Barangsiapa yang merenungkan ketiganya, niscaya akan merasa kecillah apa yang telah dia usahakan.”

 

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ

Khutbah Kedua

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ

اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلاَمِ وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَبَارِكْ لَنَا فِى أَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُلُوبِنَا وَأَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعْمَتِكَ مُثْنِينَ بِهَا قَابِلِيهَا وَأَتِمَّهَا عَلَيْنَا

اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى

اَللَّهُمَّ اكْفِنا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِى الأُمُورِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْىِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Muslimah Itu Berperan Bukan Baperan

Islam sebagai pandangan hidup, telah menyediakan solusi untuk berbagai permasalahan yang ada pada manusia untuk seluruh zaman dan pada semua tempat. Dengan kata lain, jika islam diterapkan secara sempurna, maka pastinya kaum muslimin meningkat taraf berpikirnya dan akan mampu memecahkan segala permasalahan hidupnya.

Islam diturunkan untuk mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, dengan sesamanya serta dirinya sendiri. Sebagai makhluk ciptaan Allah Subhanahu Wa Ta’aala, dalam beberapa hal pria dan wanita memiliki hak dan kewajiban yang sama. Misalnya, mereka sama-sama wajib memenuhi ibadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’aala, sama-sama wajib untuk mencintai Allah dan Rasul- Nya lebih daripada yang lain, serta sama- sama wajib melakukan amar ma’ruf na mungkar.

Mereka sama-sama berhak mendapatkan surga, sama-sama berhak untuk didengarkan pendapatnya dan yang lainnya. Selain memberikan hak dan kewajiban yang sama, Allah juga memberikan keistimewaan kepada masing-masing pria dan wanita dalam rangka mengabdi kepada-Nya dalam kehidupa dunia.

Allah menciptakan keistimewaan bukanlah untuk menjadi alasan yang untuk saling meremehkan satu sama lain, tetapi saling melengkapi dan menyadari bahwa mereka tak bisa hidup secara normal tanpa kehadiran yang lainnya.

Di antara peran muslimah dalam menyongsong kebangkitan islam adalah menjadi panutan bagi masyarakat dan teladan bagi umat. Dalam hidupnya, seorang wanita juga wajib berdakwah menyerukan islam di komunitas dimana ia berada, dakwah dalam artian ini adalah mengajak orang agar cenderung kepada islam. Tetapi yang perlu digaris bawahi disini ialah pengkhususan dakwah wanita.

Seorang wanita mempunyai keistimewaan penyampaian ‘hati ke hati’, seorang wanita harus menjalankan peran pengemban dakwahnya lebih kepada masalah-masalah yang disitu melibatkan kaumnya. Ia mestilah lebih paham dalam hal-hal kewanitaan, walaupun tidak mengabaikan hal-hal yang lain. Selain itu seorang wanita mestilah menjadi contoh di lingkungan tempat ia berada, tidak eksklusif, berusaha memahami masyarakat tempat ia tinggal berbaur dan melebur dengannya, tanpa mengorbankan hal prinsipal yang ia anut.

Peran perempuan yang tidak kalah penting adalah menjadi sahabat bagi suaminya. Banyak sekali hadits yang mengabarkan tentang pentingnya peran wanita dalam rumah tangga, khususnya perannya sebagai seorang istri. Hal ini berarti bahwa wanita yang telah dan akan menjadi istri sangatlah besar pengaruhnya pada aktivitas sang suami.

“Wanita adalah tiang negara” tampaknya bukanlah sesuatu yang berlebihan, bahkan bisa dikatakan
“wanita adalah tiang peradaban”. Banyak sekali hadits yang mengabarkan keistimewaan wanita. Hal itu bisa dilihat pada fungsi seorang ibu dalam mendidik anak-anaknya.

Anak adalah cerminan orangtua, seorang anak yang besar biasanya lahir dari keluarga yang baik. Ibu memegang peranan yang sangat penting dalam pengajaran ini. Oleh Allah Subhanahu Wa Ta’aala seorang ibu telah ditempatkan pada kemuliaan yang sangat tinggi menyangkut masalah pendidikan anak. Itulah mengapa tolak ukur seorang anak ditentukan dari ibunya. Pendidikan yang baik sejak dini akan melahirkan generasi yang taat pada Allah.

Namun, tidak berarti peran utama perempuan sebagai ibu dan pengatur rumah tangga (ummum wa rabbah al-bayt) menjadikan dirinya tidak punya kiprah di tengah masyarakat. Tugas ini terdapat dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’aala surah at-Taubah ayat 71. Dalam ayat ini Allah Subhanahu Wa Ta’aala menggariskan bahwa perempuan memiliki kewajiban yang sama dengan laki-laki dalam melakukan amar makruf nahi munkar di tengah masyarakat. Mereka tolong-menolong (ta’awun) dalam menegakkan aktivitas yang menjadi pilar kehidupan bermasyarakat tersebut, termasuk keluarga di dalamnya. Allah Subhanahu Wa Ta’aala pun telah memerintahkan laki-laki dan perempuan untuk berdakwah, dan mengurus ummat.

Mendidik diri menjadi muslimah sejati adalah sebuah kewajiban. Menempa diri untuk lebih baik juga
harus dilakukan. Sehingga kompetensi yang dimiliki cukup memadai ketika terjun di medan dakwah.
Belajar tegar selayaknya muslimah pejuang, sahabiyah di zaman Rasulullah Shallallahu
‘alaihi Wasallam. Nama mereka hingga kini tetap terngiang karena ada jejak kebaikan yang
ditinggalkan. Hari-hari mereka tidak sepi dari aktivitas, bergegas untuk menyambut seruan Allah Subhanahu Wa Ta’aala, melewatkan waktu untuk berjuang di jalan Allah melalui apa saja.

Sebagai seorang muslimah yang mampu berperan, maka seorang perempuan harus mampu mengesampingkan masalah pribadi dengan keumatan, berdaya guna, serta masalah yang hadir tidak membuat dirinya mangkir dari amanah dan menyelisih ukhuwah. Sebab setiap yang dirasakan tak lain sebagai wujud cinta Allah padanya.

Berbeda dengan muslimah yang baperan. Mudah menyerah ketika datang masalah, hatinya penuh amarah ketika ada yang tidak seperti yang diharapkan, ukurannya bukan Allah tapi pada hawa nafsunya. Padahal lika-liku dakwah akan berjumpa dengan ujian dan kesulitan. Jika demikian, tentu ia harus bisa mendewasakan diri. Berupaya sekuat tenaga untuk menangguhkan pribadinya agar tidak mudah terjatuh bila ada yang memberati langkahnya.

Muslimah berperan bukan baperan harus menyadari bahwa dirinya adalah pengemban dakwah, teladan bagi masyarakat. Karena itu, ia harus mampu menjadi ibu teladan, istri teladan, anak teladan yang berbakti kepada orangtua, tetangga yang baik, serta kerabat yang rajin bersilaturahmi.

Oleh: Redaksi/Wanita