Memanah, Hiburan yang Mengantarkan ke Jannah

Ketika dalam kepenatan; setelah bekerja seharian, atau selama sepekan penuh, biasanya orang akan melepaskan kepenatannya dengan mencari hiburan. Pergi ke tempat rekreasi, bermain game, dan hiburan-hiburan yang lainnya. Tanpa sadar kesemua hiburan yang mereka cari itu sia-sia dan tak bernilai pahala, meskipun menyenangkan dan bisa melepaskan kepenatan. Berbeda dengan hiburan yang satu ini.

Berlatih memanah adalah olah raga yang menyenangkan, permainan yang mengasyikkan, namun tidak dianggap laghwun dan sia-sia. Banyak sekali motivasi Nabi SAW kepada umatnya untuk belajar memanah. Di antaranya, sabda Nabi SAW,

 

إِنَّ اللَّهَ لَيُدْخِلُ بِالسَّهْمِ الْوَاحِدِ ثَلَاثَةً الْجَنَّةَ صَانِعَهُ يَحْتَسِبُ فِي صَنْعَتِهِ الْخَيْرَ وَالرَّامِيَ بِهِ وَالْمُمِدَّ بِهِ وَقَالَ ارْمُوا وَارْكَبُوا وَِلأَنْ تَرْمُوا أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ تَرْكَبُوا

“Sesungguhnya Allah akan memasukkan tiga orang ke dalam jannah karena satu anak panah, orang yang membuatnya dengan tujuan baik, orang yang melemparkannya dan orang yang menyiapkannya. Hendaklah kalian memanah dan berkuda, sedangkan memanah lebih aku sukai daripada berkuda.” (HR Tirmidzi, beliau mengatakan, hadits hasan shahih).

Ada pahala bagi yang membuat panah, ada ganjaran bagi yang melemparkan panah, dan dijanjikan Jannah orang yang menyiapkan anak panah bagi yang hendak memanah, dan tidak sia-sia pula orang yang berjalan untuk mengambil anak panah dari tempat sasaran ketika latihan. Inilah sisi yang tidak tergantikan dari keutamaan memanah, meskipun dalam banyak hal fungsi panah bisa diganti dengan senjata-senjata modern.

 

Baca Juga: Terapi Cupping, Sehat Tanpa Efek Samping

 

Begitu kuat hasungan Nabi SAW kepada umatnya untuk belajar memanah, hingga banyak keringanan khusus yang berlaku  bagi orang yang memanah. Suatu kali Nabi bersama Abu Bakar dan Umar melewati orang-orang yang berlatih memanah. Salah seorang yang hendak melepaskan anak panah berkata, “Demi Allah, ini pasti kena!” Ternyata panahnya meleset. Lalu Abu Bakar berkata, “ia telah melakukan dosa wahai Rasulullah!” Tapi Rasulullah bersabda, “Sumpahnya orang yang sedang berlatih memanah itu tidak dianggap laghwun, tidak berdosa dan tidak ada kafarahnya.” (HR. Thabrani)

Bahkan berjalannya seseorang untuk mengambil anak panah, dari tempat memanah dengan sasaran bernilai satu kebaikan pada setiap langkahnya, sebagaimana hadits Thabrani. Ini tidak berlaku dalam permainan yang lain. Dari sisi hiburan, permainan ini juga menghibur, dan mungkin ada bumbu canda ria di dalamnya. Imam al-Auza’y menyebutkan kesaksian dari Bilal bin Sa’ad tentang para sahabat yang beliau lihat, “Saya menjumpai suatu kaum, mereka mondar mandir antara tempat memanah dengan sasaran, mereka saling bercanda satu sama lain, namun ketika malam tiba, mereka khusyuk laksana para rahib.”

Sayang, hanya sedikit dari kaum muslimin yang melirik pada permainan yang menyenangkan dan berpahala ini, sedikit pula para mubaligh dan penulis yang memiliki perhatian dalam masalah ini. Ibnul Qayyim al-Jauziyah adalah satu dari ulama yang memiliki perhatian besar tentangnya. Dalam buku karya beliau yang berjudul al-Furusiyah, beliau bukan saja memberikan motivasi, membahas hukum-hukum yang terkait dengannya, bahkan sampai soal teknis bagaimana cara duduknya, cara memegang busur, menarik talinya, membidiknya, hingga cara melepas anak panah dari busurnya.

Maka dari itu, sudah saatnya kita sebagai orang muslim mencari hiburan yang mendatangkan pahala dan melatih ketangkasan. Daripada mencari hiburan yang sia-sia dan tak mendatangkan pahala.

 

Oleh: Abu Umar Abdillah 

 

 

Menahan Sendawa Meraih Pahala

Sendawa atau glege’en (Jawa) adalah keluarnya udara dari lambung melalui mulut. Saat menelan makanan, sedikit banyak ada udara yang ikut tertelan. Demikian pula saat merokok, minum minuman bersoda, bahkan saat stress seseorang bisa menelan udara. Sendawa adalah proses alamiah yang normal. Namun bukan berarti kita bebas bersendawa seenaknya. Menurut urf atau tata kesopanan umum, bersendawa dengan keras sangatlah tidak sopan. Apalagi dalam majelis atau jamuan makan.

Rasulullah Bersabda, 

 

عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ تَجَشَّأَ رَجُلٌ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: كُفَّ جُشَاءَكَ عَنَّا فَإِنَّ أَطْوَلَكُمْ جُوعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَكْثَرُكُمْ شِبَعًا فِي دَارِ الدُّنْيَا 

Dari Ibnu Umar berkata, ” Salah seorang lelaki bersendawa di dekat Nabi SAW, beliau berkata, “Tahan sendawamu! Karena orang yang paling sering kenyang di dunia akan menjadi orang yang paling banyak lapar di akhirat nanti.” (Riwayat At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ath-Thabrani, dan yang lainnya)

Nabi SAW sendiri memerintahkan agar kita menahan sendawa sebisa mungkin. Dalam Syarhu as Sunah dijelaskan, menahan artinya mengurangi. Tidak menahan atau sengaja membiarkan sendawa akan mengurangi kewibawaan seseorang, apalagi jika telah menjadi kebiasan. Tak jarang sendawa bisa membuat jijik orang lain. Sering kita melihat, ada yang seperti tak ambil peduli saat sendawa. Sendawanya begitu lepas tanpa beban. Hadits di atas adalah nash yang melarang membiarkan kebiasan buruk tersebut.

Ada dua cara mengurangi sendawa: Pertama, menghindari kebiasaan makan hingga kenyang apalagi terlalu kenyang. Sebab faktor utama penyebab sendawa adalah banyaknya udara yang ikut tertelan saat makan. Dengan makan secukupnya, lambung memiliki ruang untuk menampung makanan, air dan udara.

Dinyatakan oleh Al-Mabarkafuri dalam Tuhfatul Ahwadzi, “(Hadits) itu menunjukkan bahwa kenyang adalah dilarang, karena rasa kenyanglah yang seringkali menyebabkan orang bersendawa.”

Kedua, menahan sendawa setiap kali akan keluar. Meski sulit, tapi sebenarnya hal ini tidak berbahaya. Udara dalam lambung akan diserap melalui pencernaan atau dibuang melalui anus. Tapi paling tidak, kita bisa menahan sendawa agar tidak mengeluarkan bunyi keras yang menjijikkan.

Terlalu sering bersendawa adalah fenomena yang patut diwaspadai. Bisa jadi, hal itu diakibatkan penyakit seperti radang kerongkongan (esofagitis), mag atau gastritis, serta ulkus peptikum, kerusakan mukosa (selaput lendir) lambung yang lebih berat.

Sebenarnya kita bisa berkaca pada diri sendiri. Jika perasaan kita menjadi tidak enak, jijik atau mungkin muak melihat orang lain bersendawa terlalu keras, tentunya kita tidak ingin orang lain memandang dan merasa demikian terhadap kita. (Redaksi/Fadhilah Amal)

 

Fadhilah Amal Lainnya:

 

Ziarah Kubur, Mengingat Mati Melembutkan Hati

Beberapa waktu yang lalu, setelah menunaikan shalat berjamaah mata saya tertuju  pada sebuah stiker yang ditempel di kaca masjid: “Keranda Airlines. Satu-satunya penerbangan tepat waktu dan bebas hambatan. On time, no delay, no cancel.” Setelah membacanya, saya tersenyum kecil sambil bergumam dalam hati, “Ide cerdas dan unik, sebuah nasehat singkat untuk jamaah masjid agar selalu mengingat kematian yang datangnya tiba-tiba, 24 jam non stop. Keranda mayit selalu siap menunggu kita. Jika ajal sudah tiba  tidak bisa lagi untuk ditunda”.

Pembaca, Rasulullah SAW pernah mengingatkan umatnya agar selalu mengingat hal yang akan memutuskan berbagai kenikmatan yaitu kematian. Pernah seorang wanita mengadu kepada Aisyah ra. tentang kekerasan hatinya. Maka  Aisyah memberikan saran, “Perbanyaklah mengingat kematian, niscaya hatimu akan lembut.” Lalu wanita itu melaksanakan saran Aisyah, sehingga hatinya menjadi lembut. Kemudian ia datang untuk berterima kasih kepada Aisyah.

Kematian adalah akhir dari kehidupan di dunia ini tetapi bukan akhir dari segalanya. Karena setelah kematian, ada alam kubur, hari kebangkitan dan alam akherat. Banyak cara yang bisa kita kerjakan untuk mengingat kematian. Diantaranya dengan berziarah kubur. Rasulullah SAW bersabda:

 

 نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا

“(Dahulu) aku pernah melarang kalian berziarah kubur, maka (sekarang) berziarahlah kalian.” (HR. Muslim) Dalam sebuah riwayat: “…karena akan mengingatkan pada kematian.”

Setiap orang yang meninggal dunia pasti akan mengalami alam kubur, baik dia dikuburkan atau tidak. Alam kubur dikenal juga dengan sebutan alam barzah yang berarti pembatas antara alam dunia dan alam akhirat. Alam kubur akan menjadi taman-taman jannah jika dia orang yang taat kepada Allah dan menjadi lubang neraka jika ia termasuk orang yang selalu bermaksiat kepada-Nya. Sedangkan kuburan adalah tempat jasad dikuburkan, sementara ruh berada di alam barzah.

Terkadang kesibukan terhadap urusan dunia bisa menyebabkan hati seseorang menjadi kering dan keras. Akibatnya ia malas beribadah, mudah berbuat maksiat dan tidak ada empati kepada orang-orang yang lemah. Dengan disyari’atkannya ziarah kubur, manusia akan selalu ingat bahwa kelak dia akan mengalami seperti apa yang dialami penghuni kubur. Sehingga ia akan berusaha untuk beramal sebaik mungkin agar persinggahannya di alam kubur menjadi taman-taman jannah yang menyejukkan hati. Ketika melihat kuburan yang sunyi, gelap, dan timbunan tanah di atasnya serta bayangan dari setiap peristiwa yang terjadi di dalamnya; hati dan jiwanya akan tergerak untuk mempersiapkan diri menghadapi kematian, menyibak segala keangkuhan dan kedurhakaan yang menyelimutinya. Yang akhirnya akan membawanya pada satu titik kesadaran bahwa tiada yang istimewa dalam dirinya selain  taqwa yang menghiasi hati.

 

Bidah dan Kesyirikan Di Kuburan

Rasulullah SAW tidak mengkhususkan hari tertentu untuk berziarah. Kapan pun waktunya, ziarah kubur hukumnya sunah. Ziarah kubur disyareatkan untuk dua tujuan. Bagi peziarah agar selalu ingat dengan kematian, sedang bagi penghuni kubur agar dia mendapatkan ampunan dari Allah karena doa dan permohonan ampunan yang dipanjatkan oleh peziarah. Maka ucapan yang beliau ajarkan kepada para sahabatnya ketika berziarah kubur adalah:

 

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤمِنِيْنَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لاَحِقُوْنَ أَنْتُمْ لَنَا فرَطٌ وَنَحْنُ لَكُمْ تَبَعٌ وَأَسْأَلُ اللهَ لَنَا لَكُمُ الْعَافِيَةِ

“Assalamu’alaikum wahai penduduk kubur dari kalangan kaum mukminin dan muslimin. Kami Insya Allah akan menyusul kalian. Kalian telah mendahului kami, dan kami akan mengikuti kalian. Semoga Allah memberikan ampunan kepada kami dan kalian.”(HR. An Nasai)

Namun sering kita dapatkan di masyarakat, justru kedatangan mereka ke kuburan melenceng dari dua tujuan di atas. Ada diantara mereka yang justru berbuat kebid’ahan dan kesyirikan yang belum pernah diajarkan oleh Rasulullah, begitu pula salaful ummah.

Sering kita jumpai karena merasa belum puas jika hanya mengangkat kedua tangannya ketika mendoakan penghuni kubur, para peziarah melakukan sujud di kuburan, meratap dengan berlinangan air mata serta mengusap-usap dan mencium kuburannya. Tidak sampai disitu, tanah kuburannya dibawa pulang sebagai oleh-oleh keluarganya untuk mendapatkan barakah atau sebagai penolak bala’. Padahal tujuan diizinkannya ziarah kubur -sebagaimana yang telah disebutkan- adalah untuk mendoakan penghuni kubur, bukan meminta doa kepada penghuni kubur.

Satu masalah penting yang juga harus diperhatikan bagi peziarah kubur adalah menjauhi hujr yaitu ucapan-ucapan batil. Sebagaimana sabda Rasulullah :

“…maka barangsiapa yang ingin berziarah maka lakukanlah dan jangan kalian mengatakan ‘hujr’ (ucapan-ucapan batil).” (HR. Muslim) dalam riwayat lain: “…dan janganlah kalian mengucapkan sesuatu yang menyebabkan kemurkaan Allah.” (HR. Ahmad).

Diantara bentuk ucapan batil ketika ziarah kubur adalah meratapi si mayit dengan berteriak-teriak memanggil namanya, mengucapkan kata-kata yang mengandung arti celaka dan makan-makan di area pekuburan sambil membicarakan urusan dunia. Bahkan ada diantara mereka yang tertawa terbahak-bahak padahal jenazah berada di hadapannya.

Maka, mari kita berziarah sesuai dengan sunah Rasulullah untuk melembutkan hati dan agar kita selalu ingat mati. Jangan kotori ziarah kubur kita dengan amalan bid’ah dan kesyirikan, karena justru hanya akan mengeraskan dan mengotori hati dan sangat mungkin akan mendatangkan murka ilahi. Wallahu a’lam. (Redaksi/Fadhilah Amal)

 

Tema Lainnya: Fadhilah Amal, Ziarah Kubur, Kematian

Al-Aqsha, Masjid Suci Para Nabi

Masjid al-Aqsha yang terletak di jantung kota Yerusalem Palestina, merupakan masjid kedua yang didirikan di muka bumi setelah Masjidil Haram di kota Mekah. Sebagian besar para Ulama menegaskan bahwa para Malaikat dan Nabi Adam lah yang mendirikan masjid tersebut setelah mendirikan Masjidil Haram dalam waktu 40 tahun.

Sepeninggal Nabi Adam AS pembangunan dan pemakmuran Masjid al-Aqsha di lanjutkan oleh Nabi Nuh pada sekitar tahun 2000 SM, lalu dilanjutkan oleh Nabiyullah Ishak dan Ya’kub dan diperbaharui oleh Nabi Sulaiman pada tahun 1000 SM. Yang mana saat itu beliau berdoa 3 hal; bijaksana dalam berhukum, kerajaan yang tidak akan dimiliki satupun orang setelahnya dan siapa saja yang pergi ke Masjid al-Aqsha dengan niat shalat/beribadah di dalamnya, ia akan diampuni dosa-dosanya sebagaimana ia baru terlahir ke dunia.

Kemudian Nabi melanjutkan sabdanya dalam hadits yang berkaitan dengan riwayat tersebut, “Doa pertama dan kedua telah dikabulkan oleh Allah dan semoga yang ketiga diberikan kepada umatku.” (HR. Ibnu Majah)

Baca Juga: Masjid Akhir Zaman, Isi Tak Seindah Bangunan

 

Mana Yang Disebut al-Aqsha?

Banyak orang beranggapan bahwa Masjid al-Aqsha adalah masjid dengan kubah emas yang sering kita lihat di media sosial, atau masjid yang berkubah tinggi dengan 7 pintu besar. Pada nyatanya kedua masjid tersebut masuk ke area masjid al-Aqsha. Halaman Masjidil Aqsha memiliki luas sekitar 144×1000 m2, yang didalamnya mencakup isi dari Qubatus Shakhra’ (Dome of the Rock) masjid yang berkubah emas, Al-Jami’ al-Qibli (masjid yang memiliki 7 pintu dan menara yang agak lancip) dan beberapa masjid di sekitarnya.

Berbeda dengan dua masjid agung lainnya yaitu Masjid Nabi dan Masjidil Haram, masjid al-Aqsha semenjak dibangun pertama kali oleh Nabi Adam dan diperbaharui oleh Nabi Sulaiman belum pernah mengalami perluasan.

Maka siapa saja yang yang mendirikan shalat di komplek masjid al-Aqsha, entah itu di emperannya, di masjid yang berkubah emas, di bawah pohon, atau di salah satu kubah-kubahnya, shalatnya akan dilipat gandakan pahalanya. Sebagaimana nabi bersabda,

صلاة في مسجدي هذا أفضل من أربع صلوات فيه ولنعم المصلى وليوشكن أن لا يكون للرجل مثل شطن فرسه من الأرض حيث يرى منه بيت المقدس خير له من الدنيا جميعا

“Satu shalat di masjidku lebih utama dari empat shalat padanya, dan ia adalah tempat shalat yang baik. Dan hampir-hapir seseorang memiliki tanah seukuran tali kekang kudanya dan dari tempat itu terlihat Baitul Maqdis lebih baik baginya dari seisi dunia” (HR. Hakim)

 

Kemuliaan Masjid al-Aqsha

Banyak hadits menyebut kemuliaan dari masjid al-Aqsha, mulia karena Nabi sendiri yang menjelaskannya dan Nabi sendiri yang megalaminya. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, Sahabat Ibnu Abas RA berkata, “Adapun Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam saat di Mekah berkiblat ke Masjidil Aqsha padahal disampingnya Ka’bah, kemudian setelah 16 bulan hijrah ke Madinah beliau menggeser kiblatnya ke Ka’bah.”

Kemuliaan lainnya bahwa Nabi di Isra’ kan dalam peristiwa Isra’ Mi’raj menuju Masjid Al-Aqsha dan Beliau memulai mi’raj ke langit ketujuh dari masjid tersebut. Allah bisa saja memilih Masjidil Haram untuk Isra’ dan Mi’raj, akan tetapi Allah memilih Masjid al-Aqsha agar kaum muslimin memahami kebesaran dan kemuliaannya.

Selain beberapa hadits yang telah tertulis sebelumnya, Nabi melaarang seseorang untuk berletih-letih safar (bepergian) kecuali ke tiga tempat, yaitu;

لا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلا إِلَى ثَلاثَةِ مَسَاجِدَ: الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ، وَمَسْجِدِ الرَّسُولِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَسْجِدِ الأَقْصَى

“Jangan berletih-letih untuk safar kecuali ke tiga masjid; Masjidil Haram, Masjid Nabi dan Masjid al-Aqsha.” (Muttafaq ‘alaih)

Demikian besar keagungan yang dimiliki masjid Al-Aqsha, semoga suatu saat kita dianugerahi nikmat agar bisa safar dan shalat disana.

Baca Juga: Masjid Makmur, Fadhilah Tertabur

Masjid al-Aqsha sepenuhnya hak kaum muslimin yang diwariskan oleh para Nabi dan Rasul sebelum Nabi Muhammad dan berakhir di tangan Beliau. Ia merupakan anugerah Allah kepada kaum muslim sebagai penyempurna risalah Islam dari risalah-risalah yang dibawa para Nabi terdahulu yang diwujudkan Masjid suci. Adapun sebagai orang yang beriman, kita wajib meyakininya dan wajib untuk menjaga dan membelanya. Sungguh dusta bila ada kelompok yang merebutnya dan mengklaim bahwa masjid tersebut warisan Nabi Sulaiman, padahal beliau adalah Nabi yang diimani oleh kaum muslimin. Wallahu a’lam

(disarikan dari; Islamstory.com)

Terapi Cupping Sehat Tanpa Efek Samping

Michael Pelps namanya, menjadi perbincangan di berbagai media sosial setelah kedapatan sekujur punggungnya penuh dengan bekas merah bundar. Ia adalah atlet renang yang tampil di nomor 200 meter gaya kupu-kupu di olimpiade Rio 2016 dan telah mengoleksi 22 medali emas. Public pun bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi dengannya hingga akhirnya mereka tahu bahwa itu adalah bekas terapi Cupping (bekam). Dan ternyata Bekam sedang ngetren di Rio de Janeiro.

Pengobatan dengan bekam sebenarnya sudah dikenal dan dipraktekkan semenjak ribuan tahun lamanya. Beberapa peradaban yang mengenalkan metode ini adalah cina, babilonia, dan mesir. Dahulu mereka memakai peralatan seadanya seperti tanduk hewan, tembaga dan barang lainnya. Hari ini sudah semakin canggih dan terdepan.

Dalam Islam bekam (Hijamah) sendiri merupakan pengobatan yang sering dilakukan Rasulullah, sebagaimana sabdanya yang dirayatkan dari Ibnu Abas :

الشِّفَاءُ فِي ثَلاثَةٍ شَرْبَةِ عَسَلٍ وَشَرْطَةِ مِحْجَمٍ وَكَيَّةِ نَارٍ وَأَنْهَى أُمَّتِي عَنِ الْكَيِّ

Kesembuahan itu ada pada tiga hal, yaitu meminumkan madu, pisau pembekaman,pengobatan dengan besi panas. Dan aku melarang umatku melakukan pengobatan dengan besi panas”. (HR. Bukhori no. 5681).

Hadits ini memberikan faedah bahwa salah satu pengobatan terbaik diantara tiga cara yang disampaikan Nabi adalah dengan Hijamah. Tidak perlu diragui lagi, apa yang beliau sampaikan merupakan perkataan wahyu, jadi tidak perlu khawatir dan menyangsikan metode ini. Hal ini sudah diakui oleh banyak orang bahkan non muslim semisal Michael Pelps diatas. Dia sudah merutini terapi ini lebih dari lebih dari dua tahun. Bekam sangat efektif untuk meredakan ketegangan otot yang seringkali berujung kram dan nyeri, jelasnya. Dia sudah mencoba berbagai terapi lainnya, tapi kecocokannya jatuh pada bekam.

Bekam bukan sekedar pengobatan atau terapi yang dituntunkan oleh Rasul, bahkan Malaikat pun memerintahkan ini kepada Nabi Muhammad. Dalam sebuah riwayat yang diriwayatkan Al-albani Ketika Rasulullah melakukan isra’ beliau melewati para malaikat dan mereka semua berkata :

يا محمد عليك بالحجامة

“Wahai Muhammad Berbekamlah kamu”.

Dalam sebuah riwayat disebutkan Rasulullah pernah membekam kepalanya, antara kedua lengannya dan diantara telapak kakinya. Kemudian beliau memberikan upah kepada tukang bekamnya (Abu thaibah). Cukup sudah contoh dari baginda Nabi ini menjadikan kita yakin untuk bebekam.

Dalam dunia kedokteran, berbekam diakui bermanfaat untuk melancarkan peredaran darah, menghindarkan penyakit saraf dan penyakit berat lainnya. Selain itu bekam dapat menghilangkan rasa malas dan jorok juga membantu ingatan dan menjauhkan dari hafalan buruk.  Bekam bila dilakukan secara teratur dapat mencegah timbulnya penyakit yang lebih berat atau lebih parah. Karena zat-zat yang berbahaya bagi tubuh manusia, seperti kolesterol, asam urat, dan sebagainya dapat dikeluarkan melalui cara berbekam.

Ibnul Qoyim berkata: berbekam di kaahil (antara kedua bahu) akan bermanfaat untuk menhilangkan nyeri bahu dan tenggorokan, sedang berbekam di akhdaani (urat samping leher) bermanfaat untuk menyembuhkan penyakit bagian kepala seperti mata, hidung, gigi dan telinga. Hal tersebut terjadi karena kebanyakan darah atau sarafnya rusak.

 

KEUTAMAAN BEKAM MENURUT SUNNAH

Agama Islam sebagai risalah yang agung, berbagai risalah tersibak darinya, dari ilmu kedokteran, kesehatan, astronomi dan masih banyak lainnya. Salah satunya bekam ini, sebagai wahyu dari malaikat tentunya bekam sekedar pengobatan, tapi juga memilik keagungan yang luar biasa tentunya.

 

BEKAM MERUPAKAN PENGOBATAN TERBAIK YANG DIAJARKAN NABI.

Sebagaimana sabdanya,

إن أفضل ما تداويتم به الحجامة أو هو من أمثل دوائكم

“ Sesungguhnya pengobatan yang paling utama bagi kalian adalah berbekam atau termasuk obat yang baik.” (HR.Muslim no 1545).

Dalam hadits lain Rasul menyebutkan,

إِنْ كَانَ فِي شَيْءٍ مِنْ أَدْوِيَتِكُمْ أَوْ يَكُونُ فِي شَيْءٍ مِنْ أَدْوِيَتِكُمْ خَيْرٌ فَفِي شَرْطَةِ مِحْجَمٍ

“Apabila ada kebaikan dalam pengobatan yang kalian lakukan, maka kebaikan itu ada pada sayatan bekam” (HR.Bukhari & Muslim).

Baca juga : Wajah Bercahaya Tidak Tersentuh Api Neraka

BEKAM SEBAGAI PENANGKAL SIHIR

Dalam riwayat yang disampaikan oleh Abu Ubaid dengan sanad hasan dari Abdurrahman bin Abi Laila mengabarkan bahwa Rasulullah saw pernah terkena penyakit karena sihir seorang Yahudi . Sebagai tindakan penyembuhan sihir tersebut, Rasulullah saw minta dibekam pada bagian kepalanya dengan menggunakan tanduk.

Mengapa bisa demikian, karena sihir memiliki pengaruh merusak tubuh, terutama unsur darah dan metabolisme dalam badan. Bila pengaruh itu sudah mengenai salah satu organ tubuh maka satu-satunya cara ialah mengeluarkan zat  busuk yang mengganggu tersebut. Cara yang paling tepat dan manjur adalah dengan berbekam. Tindakan ini terbukti benar, karena sesuai dengan pendapat pakar kesehatan yang menegaskan, “ Sebuah zat yang harus dikeluarkan dari dalam tubuh harus dipaksa keluar dari pengendapannya dengan menggunakan berbagai metode yang layak digunakan untuk mengeluarkan zat-zat berbahaya dari dalam tubuh.

 

ADAPUN BEBERAPA WAKTU YANG BAIK UNTUK BERBEKAM ADALAH SEBAGAI BERIKUT.

“Berbekamlah dengan barokah dari Allah yaitu pada hari kamis, dan jangan berbekam di hari rabu, jum’at, sabtu dan ahad. Dan berbekamlah pada hari senin dan selasa karena pada hari itu Allah mengangkat penyakit dari Nabi Ayub, dan Allah memberikan cobaan padanya pada hari rabu, maka tidaklah muncul penyakit kusta dan lepra kecuali pada hari rabu atau pada malamnya”. (HR. Ibnu Majah dengan riwayat yang hasan).

Rasulullah juga bersabda,  “Sebaik-baik hari untuk berbekam adalah pada tanggal 17,19 dan tanggal 21” (HR.Ahmad).

Begitu banyak faedah dan keutamaan dari berbekam, selain untuk pengobatan juga mendapat barokah dari Allah swt. Jadi pastikan ketika kita berbekam, bukan ikut-ikutan para artis dan atlit Barat, melainkan karena mengikuti sunnah Rasulullah. Mari kita jaga kesehatan dengan berbekam.

Keutaman Air Zamzam

Pada bulan Juli 2011 sebuah media besar di Inggris melaporkan bahwa air zamzam telah tercemar dan terkontaminasi zat berbahaya. Dan meminum air zamzam dapat menimbulkan penyakit seperti kanker. Berita itu dilansir BBC berdasarkan hasil penelitian terhadap air mineral dalam botol, yang diberi label “Air Zamzam”. Bahayanya, air botolan itu mengandung arsenik tiga kali lebih tinggi dari level yang diperbolehkan.

Menteri Urusan Haji Arab Saudi mengatakan bahwa tuduhan pencemaran air zamzam adalah “pencemaran publik” yang dilancarkan musuh-musuh Islam dan beliau menegaskan bahwa pengelolaan air zamzam melalui proses panjang dari para ahli di bidangnya dan selalu dipantau oleh para ahlinya setiap hari. Bukti nyata akan kedustaan tuduhan ini adalah sejarah para jama’ah haji sejak dahulu kala hingga sekarang yang minum air zamzam. Lebih-lebih jama’ah haji zaman dahulu yang datang menaiki hewan dan berdebu, datang dengan membawa penyakit, minum secara langsung dengan gayung, yang semua itu menurut para dokter merupakan faktor tersebarnya penyakit. Adakah di antara mereka yang sakit karena minum air zamzam? Tidak, bahkan sebaliknya, banyak di antara mereka yang sembuh dari penyakit mereka selepas minum air zamzam. Semua itu merupakan bukti nyata akan penjagaan Allah yang luar biasa terhadap air zamzam ini.

Air yang diberkahi   

Zamzam (زمزم) dalam bahasa Arab berarti banyak, melimpah-ruah. Air zamzam dianggap sebagai air yang diberkahi Allah.

Zamzam merupakan sumur mata air yang terletak di kawasan Masjidil Haram, sebelah tenggara Kabah, berkedalaman 42 meter. Menurut riwayat, mata air tersebut ditemukan pertama kali oleh Siti Hajar setelah berlari-lari bolak-balik antara bukit Safa dengan bukit Marwah, atas petunjuk Malaikat Jibril.

Khasiat zamzam       

Hasil penelitian sampel air di Eropa dan Saudi Arabia menunjukkan bahwa Zamzam mengandung zat fluorida yang punya daya efektif membunuh kuman, layaknya seperti sudah mengandung obat. Lalu perbedaan air Zamzam dibandingkan dengan air sumur lain di kota Mekah dan Arab sekitarnya adalah dalam hal kuantitas kalsium dan garam magnesium. Kandungan kedua mineral itu sedikit lebih banyak pada air zamzam. Itu mungkin sebabnya air zamzam membuat efek menyegarkan bagi jamaah yang kelelahan. Tambahan lagi, hasil laboratorium Eropa menunjukkan bahwa zamzam layak untuk diminum, sehat untuk diminum. Ini otomatis menjawab tuduhan buruk yang dilontarkan musuh-musuh Islam.

Nabi saw pernah bersabda,

خَيْرُ مَاءٍ عَلَى وَجْهِ الأَرْضِ مَاءُ زَمْزَمَ فِيهِ طَعَامٌ مِنَ الطُّعْمِ وَشِفَاءٌ مِنَ السُّقْمِ

            “Sebaik-baik air di muka bumi adalah air zam-zam. Air tersebut bisa menjadi makanan yang mengenyangkan dan bisa sebagai obat penyakit.” (HR. AT Thabrani. As Silsilah Ash Shahihah no. 1056)

Hadits diatas ini menunjukkan dengan jelas tentang keutamaan air zamzam dan khasiatnya yang tidak dimiliki oleh air-air lainnya.

Yang pertama: Menunjukkan keberkahan air zamzam, yang bisa berfungsi seperti makanan, dapat mengenyangkan orang yang meminumnya. Diantara bukti tentang hal ini adalah pernyataan Abu Dzar Al Ghifari ra, “Selama 30 hari, aku tidak mempunyai makanan kecuali air zamzam. Aku menjadi gemuk dan lemak perutku menjadi sirna. Aku tidak mendapatkan dalam hatiku kelemahan lapar.”

Kedua: Air zamzam juga bisa menjadi obat penawar. Dan ini adalah keajaiban lainnya yang sangat menakjubkan.

Imam Ibnu Qayyim rhm menceritakan pengalamannya berkaitan dengan cara menyembuhkan penyakitnya dengan air zamzam. “Saya dan selain saya telah mencoba untuk berobat dengan air zamzam dari berbagai macam penyakit, akhirnya saya mendapati keajaiban yang luar biasa dan saya mendapatkan kesembuhan dengan izin Allah.”

Ada kisah lain di zaman sekarang. Seorang jamaah haji dari Blitar menderita penyakit batu ginjal. Selama beribadah haji ia mengkonsumsi obat yang telah diresepkan oleh dokter. Namun obat yang dibawa dari indonesia tersebut akhirnya habis. Sudah berusaha mencari di apotik Mekah ternyata tidak ada. Sementara darah selalu keluar menyertai air seni setiap kali ia kencing. Tidak putus asa, karena tidak tahan dengan rasa sakit yang luar biasa akhirnya ia minum air zamzam kurang lebih 3 liter. Setengah jam kemudian ia merasa ingin buang air kecil. Di dalam kamar mandi terdengar suara benda keras jatuh. Ternyata sebutir batu kecil telah keluar bersamaan dengan air kencing. Alhamdulillah, sungguh benar sabda Rasulullah saw.

Terkabul keinginannya

Rasulullah juga menyebutkan tentang keutamaan air zamzam yang lain. Bahwa Allah akan mengabulkan keinginan setiap peminumnya, tergantung pada niatnya, baik untuk kebutuhan dunia ataupun akhirat.

عَنْ جَابِرٍ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللَّهِ يَقُوْلُ: مَاءُ زَمْزَمَ لمِاَ شُرِبَ لَهُ

            Dari Jabir berkata, “Saya mendengar Rasulullah bersabda, ‘Air zamzam itu tergantung niat orang yang meminumnya.  (HR. Ibnu Majah dan Ahmad, derajatnya Hasan)

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, seorang ulama’ dari kalangan sahabat yang mahir dalam menafsirkan Al Quran. Ketika beliau meminum air zam-zam, doa yang dilantunkan adalah:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْماً ناَفِعاً ، وَرِزْقاً وَاسِعاً وَشِفَاءً مِنْ كُلِّ دَاءٍ

            “Ya Allah, kami memohon kepada-Mu, ilmu yang bermanfaat, rizqi yang melimpah, dan kesembuhan dari setiap penyakit.”

BACA JUGA : Mendapat Ijabah Saat Minum Air Barakah

Banyak para ulama salaf yang minum air zamzam dengan menghadirkan beragam niat karena mereka tahu betul bahwa do’a saat minum air zamzam adalah mustajab sebagaimana dikabarkan oleh Nabi. Ada yang berdoa agar mendapatkan ilmu yang bermanfaat, dimudahkan dalam menghapal hadits, sembuh dari berbagai penyakit, tepat dalam memanah, serta berbagai manfaat dunia dan akhirat lainnya. Kemudian mereka mendapatkan apa yang mereka minta sesuai dengan niatnya.

Al-Humaidi berkata, “Saya pernah berada di sisi Sufyan bin Uyainah, lalu beliau menceritakan kepada kami sebuah hadits: ‘Air zamzam tergantung keinginan seorang yang meminumnya’. Tiba-tiba ada seorang lelaki bangkit dari majelis, kemudian kembali lagi seraya mengatakan, ‘Wahai Abu Muhammad, bukankah hadits yang engkau ceritakan kepada kami tadi tentang zamzam adalah hadits yang shahih?’ Jawab beliau, ‘Benar.’ Lelaki itu lalu berkata, ‘Baru saja aku meminum seember air zamzam dengan harapan engkau akan menceritakan kepadaku seratus hadits.’ Akhirnya, Sufyan berkata kepadanya, ‘Duduklah.’ Lelaki itu pun duduk dan Sufyan menceritakan seratus hadits kepadanya.”

Telah masyhur dari Imam Syafi’i bahwa beliau minum air zamzam dengan niat untuk pandai memanah sehingga dalam sepuluh kali memanah beliau tepat sebanyak sembilan kali mengenai sasaran. Dalam riwayat lain, beliau berkata, “Saya minum air zamzam untuk tiga hal: (1) pintar memanah maka dalam sepuluh kali saya tepat semua mengenai sasaran, (2) pandai dalam agama maka sebagaimana kalian lihat sendiri sekarang, (3) untuk masuk surga maka saya berharap untuk mendapatkannya kelak.”

Jika demikian, masihkah kita meragukan kebenaran sabda Rasul saw dan justru mempercayai kabar dusta dari orang-orang kafir. Semoga Allah berikan keberkahan lewat minum air zamzam. Aamiin.

Wajah Bercahaya Tidak Tersentuh Api Neraka

 

Bersama kekasih masuk surga adalah dambaan setiap manusia. Apalagi kekasih tersebut adalah Rasulullah saw. Lantas, bagaimana caranya agar kelak bisa  menjadi teman dekat Nabi di akherat nanti?

Rabi’ah bin Kaab Al Aslami bercerita, “Saya pernah bermalam bersama Rasulullah saw, lalu aku membawakan air wudhunya dan air untuk hajatnya. Maka beliau bersabda kepadaku, “Mintalah kepadaku.” Maka aku berkata, “Aku meminta kepadamu agar aku menjadi teman dekatmu di surga.” Nabi bersabda, “Adakah permintaan yang lain?”. Aku menjawab, “Tidak ada, itu saja.” Maka beliau menjawab:

فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ

          “Bantulah aku untuk mewujudkan keinginanmu dengan banyak melakukan sujud.” (HR. Muslim)

Sujud termasuk ibadah yang teragung dan dicintai Allah, karena di dalamnya terkandung kesempurnaan penghinaan dan perendahan diri kepada Allah Ta’ala. Bagaimana tidak, kepala yang merupakan anggota tubuh yang terletak paling atas ia sungkurkan ke tanah sebagai bentuk ketundukan kepada Allah Sang pencipta.

Ma’dan bin Abi Thalhah Al Ya’mariy, ia berkata, “Aku pernah bertemu Tsauban -bekas budak Rasulullah saw-,  lalu aku berkata padanya, ‘Beritahukanlah padaku suatu amalan yang karenanya Allah memasukkanku ke dalam surga’.” Atau Ma’dan berkata, “Aku berkata pada Tsauban, ‘Beritahukan padaku suatu amalan yang dicintai Allah’.” Ketika ditanya, Tsauban malah diam.

Kemudian ditanya kedua kalinya, ia pun masih diam. Sampai ketiga kalinya, Tsauban berkata, ‘Aku pernah menanyakan hal yang ditanyakan tadi pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda,

عَلَيْكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ لِلَّهِ فَإِنَّكَ لاَ تَسْجُدُ لِلَّهِ سَجْدَةً إِلاَّ رَفَعَكَ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْكَ بِهَا خَطِيئَةً

          ‘Hendaklah engkau memperbanyak sujud kepada Allah. Karena tidaklah engkau memperbanyak sujud karena Allah melainkan Allah akan meninggikan derajatmu dan menghapuskan dosamu’.” Lalu Ma’dan berkata, “Aku pun pernah bertemu Abu Darda’ dan bertanya hal yang sama. Lalu sahabat Abu Darda’ menjawab sebagaimana yang dijawab oleh Tsauban padaku.” (HR. Muslim)

Memperbanyak sujud dalam shalat, maksudnya adalah memperbanyak shalat itu sendiri, khususnya shalat sunnah.

Ketika seorang hamba khilaf sehingga terjerumus dalam dosa, maka cara menghapusnya adalah dengan memperbanyak sujud. Dengannya diampuni dosa dan ditinggikan derajatnya, sebagaimana termaktub dalam hadits di atas.

BACA JUGA : Menahan Amarah Menggapai Jannah

Saat seseorang bersujud, itulah waktu yang paling dekat antara hamba dengan Rabbnya.

أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ ، فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ

           “Sesungguhnya saat yang paling dekat antara seorang hamba dengan Rabbnya adalah ketika ia sedang bersujud, maka perbanyaklah doa ketika itu” (HR Muslim).

Karena sujudlah, seorang manusia mendapat predikat Ibadurrahman, hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang, dan dijamin masuk surga.

“Dan Ibadurrahman (hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang) ialah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang jahil menyapa, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. Dan, mereka adalah orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka.” (QS al-Furqan: 63-64).

Wajah yang kita sungkurkan ke tanah untuk sujud, kelak akan bercahaya pada hari kiamat nanti. Semua umat manusia sejak zaman Nabi Adam sampai datangnya hari kiamat nanti akan dikumpulkan oleh Allah dalam sebuah tempat. Karena begitu banyaknya manusia pada waktu itu, banyak yang kesulitan untuk mengenali keluarga dan teman-temannya. Namun, itu tidak berlaku bagi Rasulullah sebagai manusia pilihan Allah. Beliau akan sangat mudah mengenal semua umatnya yang ada di padang mahsyar.

Beliau bersabda:

“Setiap orang dari umatku pasti aku kenal pada hari kiamat kelak.” Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana Anda mengenal mereka, padahal mereka diantara banyak makhluk?” Sabdanya, “Bagaimana pendapatmu bila ditengah kumpulan kuda warna hitam terdapat seekor kuda yang terdapat warna putih cerah di dahinya? Bukankah engkau dapat mengenalinya?” Jawab mereka “Ya”. Sabdanya “Sesungguhnya pada hari itu umatku memancarkan cahaya putih di keningnya bekas sujud dan cahaya putih wajah, tangan, dan kakinya bekas wudhu.” (HR. Ahmad)

Itulah sekian diantara keutamaan sujud. Bahkan, anggota tubuh yang biasa kita gunakan untuk bersujud kepada Allah, selain bercahaya tidak akan tersentuh api neraka.

إِذَا أَرَادَ اللهُ رَحْمَةَ مَنْ أَرَادَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ أَمَرَ اللهُ الْمَلاَئِكَةَ أَنْ يُخْرِجُوْا مَنْ كاَنَ يَعْبُدُ اللهَ فَيُخْرِجُوْنَهُمْ وَيَعْرِفُوْنَهُمْ بِآثَارِ السُّجُوْدِ وَحَرَّمَ اللهُ عَلَى النَّارِ أَنْ تَأْكُلَ أَثَرَ السُّجُوْدِ فَيَخْرُجُوْنَ مِنَ النَّارِ فَكُلُّ ابْنِ آدَمَ تَأْكُلُهُ النَّارُ إِلَّا أَثَرَ السُّجُوْدِ

          “Apabila Allah menghendaki ahli neraka diberi rahmat, Allah akan memerintahkan malaikat untuk mengeluarkan orang-orang yang menyembah kepada Allah, lalu mereka mengeluarkannya. Mereka dikenal karena adanya bekas sujud pada dahinya dan Allah mengharamkan api neraka memakan (membakar) tanda bekas sujud sehingga mereka dikeluarkan dari neraka. Semua anggota badan anak Adam akan dimakan oleh api neraka, kecuali tanda bekas sujud.” (HR. Bukhari)

Jika demikian, lantas apa yang menghalangi kita untuk memperbanyak sujud, wahai hamba Allah yang penuh dengan dosa dan selalu berharap akan ampunan-Nya. Allahul Musta’an.

Cintai Mereka Sepenuh Hati

“Aku hanya takut aja mbak, kata orang merawat mertua itu susah. Si Fulanah, mertuanya cerewet. Apa saja yang dilakukan pasti salah. Setiap kali habis pengajian, mertuanya yang tidak shalat itu pasti marah-marah. Bagaimana dengan saya ya mbak?, katanya, ibu mertua mau ikut saya jika bapak udah nggak ada”. Ungkap salah seorang ibu muda di sebuah perbincangan.

Mengurus orangtua baik orangtua sendiri ataupun mertua, terkadang memang menjadi momok menakutkan bagi sebagian besar kalangan. Bayangan betapa susahnya ketika harus memadukan selera yang berbeda, dari cara mengatur rumah, anak, belanja, hingga masalah rasa masakan. Terlebih jika keduanya sudah terbilang pikun atau bahkan cacat fisik, dalam artian salah satu atau lebih dari anggota badannya tidak berfungsi. Rasa takut akan kian menyergap dengan balutan rasa jijik ketika harus mencebokinya kita istinjak, mengganti bajunya ketika ngompol, dan lain sebagainya. Meski tak jarang dari mereka yang sebenarnya faham masalah agama, tentang bagaimana harusnya memperlakukan orang tua, khususnya mertua.

 

Bukan teori semata    

Ayat-ayat tentang perintah untuk berbakti kepada orang tua, mungkin sudah puluhan kali dibaca. Hadits-hadits yang menjanjikan segudang pahala bagi orang yang berbakti pada orang tuanya sudah sering didengar. Kebanyakan orang seringnya manggut-manggut tanda setuju ketika berkutat pada dunia teori. Menerima tanpa beban sedikitpun. “Ya, memang harus begitu kan, berbakti pada mereka?” begitu komentarnya. Bahkan tak jarang mereka menjadi kritikus ulung tatkala melihat orang yang durhaka pada orang tuanya. Tapi dalam tataran realita hanya sedikit orang yang mampu istiqamah untuk selalu bersabar menghadapi orang tuanya. Sedikit pula orang yang pada satu kondisi mampu bersabar, namun tidak pada kondisi tertentu. Tapi ia berusaha keras melawan rasa tidak ikhlas yang menyesak dalam dada. Selebihnya adalah orang-orang yang lebih mengedepankan hawa nafsunya, tidak mau tahu dengan orang tua.

Untuk bisa ikhlas dan istiqomah dalam berbakti pada orang tua, ada beberapa hal yang harus kita renungkan, supaya kita tidak termasuk kategori orang yang celaka sebagaimana tersebut dalam sabda Nabi,

رَغِمَ أَنْفُ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ، مَنْ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا، فَلَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ

             “Sungguh celaka, sungguh celaka, sungguh celaka, orang yang mendapati salah satu atau kedua orang tuanya lanjut usia, namun ia tidak masuk syurga karenanya.”  (HR. Muslim)

 

Mengingat agungnya pahala

Berbakti pada kedua orang tua merupakan amal yang paling utama setelah shalat.

Abdullah bin Mas’ud ra berkata, “Aku bertanya kepada Nabi saw, ‘Amal apakah yang paling utama?’ Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Shalat pada waktunya (dalam riwayat lain disebutkan shalat di awal waktunya).’ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?’ Nabi menjawab: ‘Berbakti kepada kedua orang tua.’ Aku bertanya lagi: ‘Kemudian apa?’ Nabi menjawab, ‘Jihad di jalan Allah’ (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka tidak heran, tatkala Ibu dari Iyas bin Muawiyah meninggal dunia, Iyas menangis. Ada yang bertanya kepada beliau, “Mengapa engkau menangis?” Beliau menjawab, “Aku memiliki dua buah pintu yang terbuka untuk menuju surga dan sekarang salah satu pintu tersebut sudah tertutup.”

Kita bisa renungkan kembali kisah salah seorang dari tiga orang yang terjebak dalam gua. Bagaimana Allah selamatkan mereka lantaran salah seorang diantara mereka bertawasul kepada Allah dengan amal shaleh yang telah ia lakukan, yaitu berbakti kepada orang tua.

 

Membayangkan kengerian adzabNya

Adzab durhaka pada orang tua merupakan salah satu adzab yang disegerakan di dunia. Berapa banyak kisah sedih yang tercipta dari jaman dahulu hingga sekarang karena kesalahan yang satu ini.

“Ada dua pintu (amalan) yang disegerakan balasannya di dunia; kedhaliman dan durhaka (pada orang tua). (HR. Hakim)

Semua itu bisa terjadi karena ijabahnya doa orang tua yang merasa terdhalimi oleh anaknya. Kemudian ia menengadahkan tangannya ke langit, mengadukan sakit hatinya kepada Allah, maka doa orang tua ini akan bergerak dan berhembus menuju angkasa, menembus awan, mencapai langit, dan diamini oleh para malaikat, kemudian Allah ta’ala mengabulkannya. Itu baru di dunia, belum adzab Allah di neraka. Maka berhati-hatilah kita dari berbuat dhalim dan durhaka kepada kedua orang tua!

 

Mertua adalah orang tua kita juga

Bagi seorang istri, berbakti kepada mertua merupakan sebuah keharusan. Karena mereka sejatinya adalah orang tuanya juga. Ketika seorang menikah, seseorang tidak boleh hanya menginginkan pasangannya saja, tapi juga seluruh keluarga besarnya. Jadi otomatis, ia harus menjadikan orang tua pasangan sebagai orang tuanya juga.

Hendaknya seorang isteri mampu menghantarkan suaminya menjadi anak yang berbakti pada kedua orang tuanya. Jangan sampai seorang isteri menjadi penyebab suami masuk neraka hanya karena lebih mengutamakan dirinya dibanding kedua orang tuanya, terutama ibunya.

 

Sadar akan hari tua

Kalau kita menyadari bahwa apa yang dialami orangtua kita juga akan kita alami, pastilah kita akan lebih berhati-hati. Tentunya kita tidak ingin diacuhkan oleh anak kita, dibuang ke panti jompo, tatkala hari tua menyapa dan hilang keperkasaan. Pastinya kita ingin terbahagiakan dengan senyum dan kasih tulus serta kesabaran seorang anak ketika diri kembali menjadi anak-anak.

Yah, dengan bersabar sementara waktu merawat orang tua yang sudah lanjut usia, menahan kepahitan yang mendera, insya’ Allah kelak kita akan dapatkan manisnya cinta dari anak-anak kita. (UmHan)

 

Tetaplah Berdoa Meski Ijabah Belum Menyertainya

Syaikh Khalid bin Sulaiman Ar Rabi’ dalam kitabnya, Min Ajaaibid Du’a’ berkisah: Ada seorang ibu yang senantiasa mendoakan anaknya yang banyak melakukan perbuatan dosa. Di suatu malam ia melakukan shalat tahajud dengan khusyu’, memohon kepada Allah supaya buah hatinya dijadikan sebagai anak yang shalih dan bermanfaat baginya di dunia dan akherat. Tanpa terasa waktu Subuh pun tiba, terdengar suara muadzin ‘asshalatu khairum minan naum.’

Saat itulah terdengar suara langkah kaki turun dari lantai atas. Suara kaki itu semakin mendekati kamar dan akhirnya masuk ke dalamnya. Ibu itu pun mengangkat kepalanya dan didapatinya anak yang  tadi didoakan, tangannya basah oleh air wudhu. Diciumnya kepala buah hatinya yang akan berangkat menunaikan shalat Subuh. Dipandanginya sosok buah hatinya itu dengan mata sembab oleh air mata. Dan sejak itu pula buah hatinya terus berada dalam ketaatan.

Kisah di atas adalah salah satu contoh dari sekian banyak pengaruh dari sebuah doa. Ibnu Qayyim rhm. Berkata, “Doa merupakan sarana paling kuat untuk mencegah musibah maupun mendatangkan apa yang diinginkan.”

Pentingnya Doa

Sebagai hamba yang lemah, manusia senantiasa membutuhkan pertolongan Allah. Bahkan setiap hela nafas dan derap langkahnya tidak bisa terlepas dari pertolonganNya. Salah satu upaya yang bisa ditempuh agar bisa mendapatkan pertolongan dari Allah adalah melalui doa.

Begitu sombongnya manusia, jika merasa tidak membutuhkan Allah karena mengandalkan kekuatan dan kecerdasan yang dimilikinya sehingga tidak mau berdoa. Rasulullah saw saja sebagai manusia pilihan Allah terus berdoa kepadaNya di malam perang Badar, begitu mengetahui jumlah pasukan musuh lebih banyak dan persenjataan mereka lebih lengkap. Beliau berdoa dengan sungguh-sungguh hingga selendang beliau terjatuh. Akhirnya Allah pun mengabulkan doanya.

Ternyata para Nabi sebelum Muhammad saw sudah melazimi doa dalam setiap masalah yang dihadapinya. Disebabkan doa, Nabi Nuh beserta orang-orang yang beriman bersamanya diselamatkan oleh Allah dan orang-orang kafir ditenggelamkan. Nabi Yunus selamat dari perut ikan paus setelah tiga malam berada dalam kegelapannya, disebabkan oleh doa. Karena doa pula, kesulitan yang menimpa Nabi Ayyub diangkat oleh Allah. Dan Nabi Musa pun diselamatkan oleh Allah karena doa yang dilantunkannya.

Para salaf shalih juga terbiasa berdoa untuk kebaikan diri, keluarga dan kaum muslimin. Juga secara khusus mendoakan orang yang telah berjasa terhadap dirinya dan umat Islam. Kabarnya, Imam Ahmad selalu mendoakan ustadznya, Imam Syafi’i setelah menunaikan shalat. Pernah beliau berkata kepada putra Imam Syafi’i, “Ayahmu termasuk enam orang yang aku doakan setiap selesai shalat. Ka’ab bin Malik selalu mendoakan As’ad bin Zurarah setiap kali mendengar adzan Jum’at. Ketika ditanya alasannya, Ka’ab menjawab, “Karena saya teringat jasa beliau, beliaulah orang yang pertama kali mengimami shalat Jumat di Madinah.”

Mereka juga berdoa untuk kebinasaan musuh-musuh Allah yang selalu berusaha menghalangi tegaknya Islam di muka bumi. Rasulullah saw, selama satu bulan penuh mendoakan kebinasaan untuk Ri’al, Dzakwan dan ‘Usyayah yang telah mengekskusi para sahabatnya di sumur Ma’unah. Bilal bin Rabah memiliki kebiasaan yang menakjubkan.

Setiap waktu sahur menjelang adzan Subuh, sambil menunggu masuknya waktu, ia berdiri untuk berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya aku memuji-Mu dan memohon pertolongan-Mu untuk kehancuran  orang-orang Quraisy dalam menegakkan dien-Mu.” Setelah itu barulah ia mengumandangkan adzan.

Ketika doa belum dikabulkan

Sangat mungkin ada diantara kita yang sudah berdoa kepada Rabbnya, memohon sesuatu, ia terus berdoa dan terus berdoa, namun selama itu doanya belum dikabulkan oleh Allah. Lalu saat itu juga ia berhenti berdoa dan berputus asa, merasa doanya tidak akan terkabul selamanya. Padahal Rasulullah telah bersabda:

 يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ فَيَقُولُ قَدْ دَعَوْتُ فَلَا أَوْ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي

            Doa seseorang dari kalian akan senantiasa dikabulkan selama ia tak tergesa-gesa hingga mengatakan, ‘Aku telah berdoa kepada Rabbku, namun tidak atau belum juga dikabulkan untukku.’ (HR. Muslim)

Ada banyak faktor yang menyebabkan keterlambatan terkabulnya sebuah doa. Dan mesti kita yakini bahwa Allah memiliki hikmah di balik keterlambatan ini. Boleh jadi hamba yang berdoa tersebut belum memenuhi syarat terkabulnya doa, seperti menghadirkan hati, waktu yang kurang tepat atau tidak memperhatikan adab ketika berdoa.

Bisa jadi karena dosa yang telah ia kerjakan sehingga menjadi penghalang terkabulnya doa. Bisa jadi juga Allah mengabulkan dalam bentuk yang lain, yaitu dijauhkan dari sesuatu yang buruk yang akan menimpanya. Atau boleh jadi Allah akan menyimpan pahala doa itu dan kelak akan mendapatkan balasannya di akherat.

Atau, mungkin saja terhalangnya kita dari ijabah karena memang Allah ingin agar kita terus-menerus memohon dan bersimpuh di hadapan-Nya. Tsabit rhm. pernah berkata, “Tidaklah seorang mukmin berdoa kepada Allah dengan satu doa kecuali malaikat Jibril diutus untuk memenuhi kebutuhannya, lalu Allah berfirman, ‘Janganlah kamu bersegera mengabulkan doanya. Sungguh Aku suka mendengar suara hamba-Ku yang mukmin’.”

Maka, marilah kita terus berdoa, karena doa adalah ibadah. Jika toh Allah belum mengabulkan permintaan kita, kita tetap akan mendapat pahala karenanya. (abu hanan)

Apa Yang Kita Kerjakan Pasca Ramadhan?

Tanpa terasa Ramadhan telah pergi meninggalkan kita. Bulan yang penuh berkah, maghfirah dan rahmat Allah itu telah berlalu meninggalkan kita. Bulan di saat hati-hati manusia begitu mudah untuk melakukan ketaatan. Suatu masa dimana orang-orang berlomba-lomba melakukan berbagai bentuk amal shalih.

PASCA RAMADHAN

Para salaf begitu merasakan kesedihan yang mendalam saat menyadari bahwa Ramadhan sebentar lagi akan pergi. Mereka berdoa kepada Allah selama enam bulan agar diterima amalan ibadah mereka selama bulan Ramadhan tersebut, kemudian mereka berdoa lagi selama enam bulan agar dipertemukan kembali dengan bulan Ramadhan di tahun yang akan datang.

Mâ ba’da Ramadhân, hari-hari setelah bulan Ramadhan adalah masa-masa yang paling mencemaskan bagi para salaf. Mereka takut akan amalan yang tertolak; shiyam di siang hari menahan lapar, qiyamul lail yang panjang, tilawah yang berulang kali khatam, berlomba menginfakkan harta, serta segudang amalan ibadah lainnya yang mereka lakukan selama Ramadhan, semuanya itu telah menjadi sebuah kekhawatiran terbesar bagi diri mereka. Mereka lebih banyak bermuhasabah dalam sebuah tanda tanya, “Apakah amal ibadahku di bulan Ramadhan kemarin diterima oleh Allah swt.?”

Ibnu Rajab berkata, “Sebagian ulama salaf menampakkan kesedihan di hari raya Idul Fitri, seseorang kemudian bertanya kepadanya, “Sesungguhnya hari ini adalah hari bersuka ria dan bersenang-senang. Kenapa engkau malah bermuram durja? Ada apa gerangan?”. “Ucapanmu benar, wahai sahabatku,” kata orang tersebut. “Akan tetapi, aku hanyalah hamba yang diperintahkan oleh Rabbku untuk mempersembahkan suatu amalan kepada-Nya. Sungguh aku tidak tahu apakah amalanku diterima atau tidak.”

Alangkah bahagianya orang-orang yang diterima amalnya, dan sungguh celaka mereka yang ditolak.  Abdullah bin Mas’ud ra pernah berkata, “Siapakah gerangan di antara kita yang diterima amalannya untuk kita beri ucapan selamat, dan siapakah gerangan di antara kita yang ditolak amalannya untuk kita ucapkan bela sungkawa.”

Ramadhan memang sudah pergi meninggalkan kita, namun bukan berarti berlalu pula amalan-amalan shalih yang telah kita kerjakan. Memang dalam sebelas bulan ke depan tidak ada shaum wajib lagi seperti di bulan Ramadhan, tapi hari-hari ke depan kita masih memiliki amalan shaum yang lain, seperti shaum sunnah 6 hari di bulan Syawal. Rasulullah saw menyebutkan fadhilahnya:

 مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

          “Siapa yang mengerjakan shaum Ramadhan, kemudian dilanjutkan dengan enam hari shaum di bulan Syawwal, maka itu adalah seperti shaum sepanjang tahun.” (HR. Muslim)

Masih ada shaum sunnah Daud, Senin dan Kamis, shaum ayyabul bidh, shaum ‘Arafah, ‘Asyura dan sebagainya. Qiyamul lail juga masih tetap bisa kita lakukan, bahkan beliau bersabda,

“Shalat yang paling utama sesudah shalat wajib adalah qiyamul lail.” (Muttafaqun ‘alaih).

Di samping itu ada juga berbagai amalan shalat sunnah Rawatib yang berjumlah dua belas raka’at, yaitu empat raka’at sebelum shalat Zhuhur dan dua raka’at sesudahnya, dua raka’at sesudah Maghrib, dua raka’at sesudah Isya’ dan dua raka’at sebelum Subuh. Rasulullah saw bersabda,

”Seorang hamba yang setiap harinya senantiasa mengerjakan shalat sunah sebanyak dua belas raka’at -selain shalat wajib-, niscaya Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah di surga.” (HR. Muslim).

Seorang mukmin mestinya tetap akan senantiasa melakukan berbagai amalan kebajikan yang lain seperti bersedekah, membaca Al Quran, dan lain sebagainya meski sudah di luar bulan Ramadhan.

Melanjutkan berbagai amalan yang telah digalakkan di bulan Ramadhan menandakan diterimanya shiyam Ramadhan, karena apabila Allah ta’ala menerima amal seorang hamba, pasti Dia menolongnya dalam meningkatkan perbuatan baik setelahnya.

Seorang salaf berkata,  “Barangsiapa mengerjakan kebaikan kemudian melanjutkannya dengan kebaikan lain, maka hal itu merupakan tanda atas terkabulnya amal pertama. Demikian pula sebaliknya, jika seorang melakukan suatu kebaikan lalu diikuti dengan amalan yang buruk maka hal itu merupakan tanda tertolaknya amal yang pertama.”

Jangan sampai kita menjadi seperti perempuan gila yang tinggal di Mekah pada zaman dahulu, namanya Riithah bintu Amru. Dia telah memintal benangnya seharian penuh dengan pintalan yang kuat, lalu dia menguraikan kembali pintalannya itu. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلاَ تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنْكَاثًا

          “Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali.. (QS. An-Nahl: 92)

Apa yang kita katakan terhadap seorang perempuan yang duduk selama sebulan penuh membuat baju dari wol dengan alat tenun, hingga mendekati selesai pembuatan baju itu dia membongkar dan merusak tenunan yang telah dia buat?. Perumpamaan ini menggambarkan kondisi sebagian kita, sebulan penuh dia hiasi hari-harinya dengan berbagai amal shalih, namun begitu berlalu bulan Ramadhan begitu cepatnya dia kembali kepada perbuatan dosa dan maksiat. Wal ‘iyadzu billah.

Baca Juga: Mereguk Lezatnya Shaum Ramadhan

Semoga Allah selalu memberikan kekuatan kepada kita untuk menjaga keseinambungan amal pasca Ramadhan dan menghindari diri  dari berbagai bentuk kemaksiatan. Selanjutnya, kita dipertemukan kembali dengan Ramadhan yang akan datang. Allahul Musta’an. (abu hanan)

# Pasca Ramadhan # Pasca Ramadhan # Pasca Ramadhan

Berteman Dengan Orang Shalih

Berteman Dengan Orang Shalih – Manusia tidak bisa hidup sendiri, ia membutuhkan teman untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya. Memilih teman bukan perkara sepele, karena teman mempunyai pengaruh yang besar bagi seseorang dalam hidupnya, baik yang bersifat duniawi maupun ukhrawi. Banyak orang yang terjerumus ke dalam lubang kemaksiatan dan kesesatan karena terpengaruh teman yang buruk. Namun juga tidak sedikit orang yang mendapatkan hidayah dan banyak kebaikan disebabkan bergaul dengan teman-teman yang shalih.

Pengaruh teman buruk

Teman yang buruk memberikan pengaruh yang begitu dahsyat. Mereka akan selalu mencari cara bagaimana merusak fitrah temannya atau menghalang-halanginya agar tidak berbuat kebaikan hingga akhirnya terperangkap dalam kekafiran dan kemaksiatan.

Abu Thalib adalah salah satu dari sekian contoh tentang dahsyatnya pengaruh seorang teman yang buruk. Di saat ajal menjelang, Rasulullah menuntun pamannya tersebut agar mengucapkan kalimat tauhid, laa ilaha illallah. Namun ia enggan, karena lebih terpengaruh kepada teman akrabnya yaitu Abu Jahal yang selalu berpesan agar tidak meninggalkan agama nenek moyang mereka. Akhirnya Abu Thalib pun meninggal dalam kekafiran.

Bukti lain yang terjadi hari ini adalah para pecandu narkoba dan minuman keras. Sebagian mereka terjerumus kedalamnya karena akibat pengaruh teman yang buruk.  Teman yang buruk ini pun menjebaknya untuk mencicipi barang haram ini secara gratis dengan dalih macam-macam hingga akhirnya mereka menjadi  pecandu yang sebenarnya. Padahal sebelumnya ia seorang yang taat kepada Allah, juga patuh kepada orang tuanya. Wal ‘iyadzubillah.

Maka tepatlah sabda Nabi saw:

“Janganlah engkau berkawan kecuali dengan orang beriman dan janganlah memakan makananmu kecuali orang bertakwa.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Rasulullah memberikan permisalan teman yang baik dan teman yang buruk:

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ ، وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ ، أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً

            “Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang shalih dan orang yang jelek adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak wangi dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari)

Demikianlah permisalan yang diberikan Rasulullah tentang berteman. Bahkan jika kita ingin mengetahui seseorang apakah ia shalih atau thalih (jahat), maka lihatlah temannya. Jika teman-temannya adalah orang shalih, ia akan menjadi orang shalih pula. Sebaliknya, jika teman-teman disekitarnya jahat dan bejat, hampir dipastikan bahwa ia tidak jauh dari sifat teman-temannya. Rasulullah saw bersabda:

“Seseorang akan mengikuti kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian”. (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan Ahmad).

Rasulullah juga mengajarkan doa kepada kita agar terhindar dari teman yang buruk.

اَللَّهُـمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُبِكَ مِنْ يَوْمِ السُّوْءِ، وَمِنْ لَيْلَةِ السُّوْءِ، وَمِنْ سَاعَةِ السُّوْءِ، وَمِنْ صَاحِبِ السُّوْءِ، وَمِنْ جَارِ السُّوْءِ فِيْ دَارِ الْـمُقَامَةِ

            “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari hari yang buruk, malam yang buruk, waktu yang buruk, teman yang jahat, dan tetangga yang jahat di lingkungan di mana aku tinggal menetap.” (HR.Thabrani)

Karena khawatir mendapat teman yang buruk, salah seorang tabi’in yang bernama Alqamah, ketika masuk ke Negeri Syam langsung menuju masjid untuk melaksanakan shalat dua rakaat. Kemudian dia panjatkan sebuah doa: “Ya Allah, berilah aku kemudahan untuk mendapatkan teman yang baik di negeri ini.” Akhirnya Allah mempertemukannya dengan teman yang shalih, seorang sahabat Rasul bernama Abu Darda’.

Barakah bersama teman shalih

Allah memerintahkan agar selalu bersama dengan orang-orang yang baik.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar (jujur).” (QS. At Taubah: 119).

Di antara berkah berteman dengan orang shalih adalah dengan melihat mereka saja sudah memberikan motivasi kebaikan tersendiri.

Al Fudhail bin ‘Iyadh berkata,

“Pandangan seorang mukmin terhadap mukmin yang lain akan mengilapkan hati.”

Maksud beliau, bahwa dengan hanya memandang orang shalih, hati seseorang bisa kembali tegar. Oleh karenanya, jika orang-orang shalih dahulu kurang semangat dan tidak tegar dalam ibadah, mereka pun mendatangi orang-orang shalih lainnya. Umat nabi Nuh adalah contohnya. Tujuan mereka membuat patung orang-orang shalih pada waktu itu, agar ketika melihatnya mereka termotivasi untuk melakukan amal shalih sebagaimana yang dulu pernah dikerjakan oleh mereka. Namun pada akhirnya anak cucu mereka menjadikan patung-patung tersebut sebagai sesembahan selain Allah.

Manfaat lain berteman dengan orang shalih, di saat kita sakit mereka ketika menjenguk bukan hanya membawa buah-buahan yang terkadang malah tidak termakan, namun juga mendoakan dan menguatkan kita agar selalu bersabar. Terlebih nanti ketika kita meninggal dunia, mereka bukan hanya sekedar datang untuk bela sungkawa tetapi juga memohonkan ampunan untuk kita di saat shalat jenazah serta menghantarkan kita sampai ke kuburan. Belum lagi ketika di akherat, dalam sebuah hadits Rasulullah menyampaikan bahwa mereka kelak akan memberikan syafaat kepada temannya dulu ketika di dunia.

Rasulullah bersabda:

“Setelah orang-orang mukmin itu dibebaskan dari neraka, demi Allah, Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian begitu gigih dalam memohon kepada Allah untuk memperjuangkan hak untuk saudara-saudaranya yang berada di dalam neraka pada hari kiamat. Mereka memohon, ‘Wahai Rabb kami, mereka itu (yang tinggal di neraka) pernah berpuasa bersama kami, shalat, dan juga haji.

Dijawab: ”Keluarkan (dari neraka) orang-orang yang kalian kenal.” Hingga wajah mereka diharamkan untuk dibakar oleh api neraka. Para mukminin inipun mengeluarkan banyak saudaranya yang telah dibakar di neraka, ada yang dibakar sampai betisnya dan ada yang sampai lututnya.…” (HR. Muslim).

Berkaitan dengan hadits ini, imam Hasan Al Bashri berpesan:

”Perbanyaklah berteman dengan orang-orang yang beriman. Karena mereka memiliki syafaat pada hari kiamat.”

Imam Ibnul Jauzi menasehatkan kepada teman-temannya:

“Jika kalian tidak menemukan aku di surga, maka tanyakanlah tentang aku kepada Allah. Ucapkan: ’Wahai Tuhan kami, hambaMu fulan, dulu dia pernah mengingatkan kami untuk mengingat Engkau.” Kemudian beliau menangis.

Semoga Allah memberikan karunia kepada kita teman yang shalih. Karena manfaatnya bukan hanya sekedar kita dapatkan di dunia, namun juga kelak di akherat sana. Allahul Musta’an. (abu hanan)

Keutamaan Ibadah Umrah

Keutamaan Ibadah Umrah – Allah Ta’ala berfiman :

Dan sempurnakanlah ibadah haji dan ‘umrah karena Allah.” (QS. Al Baqarah: 196).

Ulama Syafi’iyah dan Hambali berpendapat bahwa ‘umroh itu wajib sekali seumur hidup, yaitu dengan dalil surat albaqaroh ayat 196, terdapat kata perintah dalam ayat tersebut (yaitu : sempurnakalah), dan perintah di dalam alqur’an makna asalnya adalah untuk menandakan kewajiban, kecuali ada dalil lain yang memalingkan peritah tersebut menjadi tidak wajib.

Banyak sekali fadhilah yang disebutkan dalam hadits, sehingga bisa menguatkan motivasi kita untuk segera melakukan kewajiban ini, diantaranya adalah :

  1. Menghilangkan Kefakiran Dan Dosa

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِي الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَلَيْسَ لِلْحَجِّ الْمَبْرُورِ ثَوَابٌ دُونَ الْجَنَّةِ

Dari Abdullah, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ikutkanlah antara haji dan umrah, keduanya dapat menghilangkan kefakiran dan dosa sebagaimana peniup api menghilangkan kotoran besi, emas, serta perak. Dan tidak ada pahala bagi haji selain Surga.” (HR. Tirmidzi, Nasai, Ibnu Majah dan Ahmad)

  1. Umrah Yang Satu Dengan Umrah Yang Berikutnya Menghapuskan Dosa Diantaranya

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ

Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Umrah demi ‘umrah berikutnya menjadi penghapus dosa antara keduanya dan haji mabrur tidak ada balasannya kecuali surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)

  1. Mengeraskan Suara Talbiyah Adalah Ketaatan Kepada Nabi Kita Shallallahu’alihi Wasallam

عَنْ خَلَّادِ بْنِ السَّائِبِ الْأَنْصَارِيِّ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَتَانِي جِبْرِيلُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَمَرَنِي أَنْ آمُرَ أَصْحَابِي وَمَنْ مَعِي أَنْ يَرْفَعُوا أَصْوَاتَهُمْ بِالْإِهْلَالِ أَوْ قَالَ بِالتَّلْبِيَةِ يُرِيدُ أَحَدَهُمَا

Dari Khallad bin As Saib Al Anshari dari ayahnya bahwa Rasulullah shallAllahu wa’alaihi wa sallam bersabda:

“Jibril shallallahu ‘alaihi wasallam telah datang kepadaku dan memerintahkanku agar memerintahkan para sahabatku dan orang-orang yang bersamanya untuk mengeraskan suara mereka ketika bertahlil atau (beliau mengatakan) talbiyah.” Beliau menginginkan salah satu darinya.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, Malik dan Darimi)

  1. Ikut Bertalbiyah Dan Menjadi Saksi Di Akhirat

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُلَبِّي إِلَّا لَبَّى مَنْ عَنْ يَمِينِهِ أَوْ عَنْ شِمَالِهِ مِنْ حَجَرٍ أَوْ شَجَرٍ أَوْ مَدَرٍ حَتَّى تَنْقَطِعَ الْأَرْضُ مِنْ هَاهُنَا وَهَاهُنَا

Dari Sahl bin Sa’ad, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah seorang muslim bertalbiyah kecuali yang berada di samping kanan dan kirinya akan ikut bertalbiyah, baik itu batu, pohon dan tanah keras hingga ke ujung bumi.”

BACA JUGA : Umrah di Bulan Ramadhan

  1. Haji Dan Umrah Adalah Jihadnya Wanita

عَنْ عَائِشَةَ بِنْتِ طَلْحَةَ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ عَلَى النِّسَاءِ جِهَادٌ قَالَ نَعَمْ عَلَيْهِنَّ جِهَادٌ لَا قِتَالَ فِيهِ الْحَجُّ وَالْعُمْرَةُ

Aisyah radliallahu ‘anha, bertanya; “Wahai Rasulullah, apakah jihad juga wajib bagi wanita? ‘ Beliau menjawab: ‘Ya. Bagi kaum wanita mempunyai kewajiban berjihad tanpa berperang, yaitu haji dan umrah.” (HR. Ibnu Majah)

  1. Didoakan Rasulullah Untuk Mendapat Ampunan

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُحَلِّقِينَ قَالُوا وَلِلْمُقَصِّرِينَ قَالَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُحَلِّقِينَ قَالُوا وَلِلْمُقَصِّرِينَ قَالَهَا ثَلَاثًا قَالَ وَلِلْمُقَصِّرِينَ

Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ya Allah, ampunilah orang-orang yang mencukur rambutnya”. Orang-orang berkata: “Dan juga bagi orang-orang yang hanya memendekkan rambutnya?”. Beliau tetap berkata: “Ya Allah, ampunilah orang-orang yang mencukur rambutnya”. Beliau mengucapkannya hingga tiga kali, baru kemudian bersabda: Dan juga orang-orang yang hanya memendekkan rambutnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

  1. Umrah Di Bulan Ramadhan Seperti Haji

قَالَ عَطَاءٌ سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ يُحَدِّثُنَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِامْرَأَةٍ مِنْ الْأَنْصَارِ سَمَّاهَا ابْنُ عَبَّاسٍ فَنَسِيتُ اسْمَهَا مَا مَنَعَكِ أَنْ تَحُجِّي مَعَنَا قَالَتْ لَمْ يَكُنْ لَنَا إِلَّا نَاضِحَانِ فَحَجَّ أَبُو وَلَدِهَا وَابْنُهَا عَلَى نَاضِحٍ وَتَرَكَ لَنَا نَاضِحًا نَنْضِحُ عَلَيْهِ قَالَ فَإِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فَاعْتَمِرِي فَإِنَّ عُمْرَةً فِيهِ تَعْدِلُ حَجَّةً

Atha` berkata, saya mendengar Ibnu Abbas menceritakan kepada kami, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada seorang wanita dari kalangan Anshar -Ibnu Abbas menyebutkan namnya, tetapi aku lupa: “Apa yang menghalangimu untuk melaksanakan haji bersama kami?” wanita itu menjawab, “Kami tidak mempunyai apa-apa kecuali dua ekor Unta, yang satu ekor dipakai suamiku pergi haji bersama anaknya sedangkan yang satu lagi ia tinggalkan agar dipakai menyiram kebun.” Beliau bersabda: “Kalau bulan Ramadlan tiba, maka tunaikanlah umrah, sebab umrah di bulan Ramadlan menyamai ibadah haji.” (HR. Muslim)

Memuliakan Marbut Masjid

Masjid adalah baitullah, rumah Allah yang di dalamnya disembah dan senantiasa disebut nama-Nya. Tidak ada tempat yang lebih baik di muka bumi dari pada masjid Allah. Rasulullah saw bersabda,

أَنَّ خَيْرَ الْبِقَاعِ الْمَسَاجِدُ ، وَأَنَّ شَرَّ الْبِقَاعِ الأَسْوَاقُ

          “Sebaik-baik tempat adalah masjid, dan seburuk-buruk tempat adalah pasar.” (HR. At Thabarani dan Al Hakim)

Ibnu Abbas ra mengatakan,“Masjid adalah rumah Allah di muka bumi yang menyinari para penduduk langit, sebagaimana bintang-bintang di langit yang menyinari penduduk bumi”

Karena begitu mulianya masjid maka pekerjaan mengurus masjid pun tentunya termasuk amalan yang mulia.

Pernahkah kita memperhatikan seorang petugas yang mengurusi kebersihan masjid atau yang lebih terkenal dengan sebutan Marbot Masjid? Mungkin kita tidak peduli dengan mereka, karena di mata kita terkadang pekerjaan itu dianggap pekerjaan orang rendahan. Bahkan ada sebagian orang dengan nada nyinyir menjuluki mereka dengan JaMesBon, maksudnya Penjaga Mesjid dan Tukang Kebon.

Padahal, Marbot memegang peranan penting dalam menjaga kebersihan dan kenyamanan masjid sebagai tempat ibadah, sehingga jama’ah masjid merasa nyaman dan tenang pada saat beribadah. Kekhusyu’an kita diantaranya akan sangat bergantung kepada jasa mereka. Kenyamanan ibadah shalat kita di masjid juga sangat bergantung pada jasa mereka. Adakalanya, seorang Marbot juga mengurusi hal-hal yang berurusan dengan ibadah, seperti mengumandangkan adzan dan juga menjadi imam cadangan. Tugas Marbot ini sungguh begitu berat.

Bagaimana tidak, dengan tugas dan rutinitas yang menjadi beban tanggungjawabnya setiap hari maka ia otomatis akan kehilangan kesempatan untuk mencari nafkah dan bekerja seperti manusia biasa lainnya. Hampir seluruh waktunya akan tersita untuk masjid, karena harus stand by 24 jam mengurusi segala kegiatan di masjid. Mereka rela mengerjakan itu semua demi melaksanakan perintah Rasulullah saw.

“Rasulullah saw memerintahkan membangun masjid di kampung dan membersihkan serta memberinya wangi-wangian” (HR. Ahmad, Abu Daud dan Tirmidzi)

Inilah letak kemuliaan para Marbot dalam pandangan Allah maupun manusia. Dengan tugas mulia yang diembannya plus banyak tanggungjawab yang dibebankan kepadanya maka selayaknya para Marbot ini mendapat apresiasi yang layak. Namun kemuliaan mereka kadang tak sebanding dengan gajinya yang terbilang kecil.

Merekapun seringnya juga tidak dihormati, tak diperhatikan dan tak dihargai orang lain atas kerja keras mulianya tersebut. Jargon keikhlasan demi melayani tamu Allah kadang terlontar dari para pengurus agar mereka tidak banyak menuntut apalagi demo menuntut kesejahteraan. Sungguh tak adil rasanya mencampakkan hak-hak mereka padahal mereka telah banyak berkorban untuk ummat Islam dengan penuh perjuangan.

Rasulullah saw adalah sosok yang sangat menghormati petugas kebersihan masjid. Syahdan, ada seorang wanita tua berkulit legam. Namanya tidak terkenal di kalangan sahabat. Beberapa ulama ahli sejarah juga tidak mengetahui persis nama aslinya. Ia lebih dikenal dengan panggilan Ummu Mahjan. Ia pun bukan shahabiyah yang ikut terjun ke medang jihad atau menghafal ribuan hadits. Amalannya sederhana, beliau senantiasa membersihkan kotoran dan dedaunan dari masjid dengan menyapu dan membuangnya ke tempat sampah. Ia melakukan hal yang sama dari hari ke hari. Amalannya istiqamah meski dianggap hal yang sepele.

Perbuatan kecil itu bernilai besar di mata Rasulullah saw. Begitu istimewanya Ummu Mahjan di mata Rasulullah sampai-sampai kekasih Allah swt itu menegur para sahabatnya yang tidak memberitahukan kepada beliau perihal kewafatannya.

Teguran Nabi Muhammad saw kepada para sahabatnya itu dikisahkan dalam hadis Abu Hurairah ra bahwa ada seorang wanita yang berkulit hitam yang biasanya membersihkan masjid, suatu ketika Rasulullah saw merasa kehilangan dia, lantas beliau bertanya tentangnya. Mereka telah berkata, “Dia telah wafat.” Rasulullah saw bersabda, “Mengapa kalian tidak memberitahukan hal itu kepadaku?” Abu Hurairah berkata, “Seolah-olah mereka menganggap bahwa kematian Ummu Mahjan itu adalah hal yang sepele.” Rasulullah saw bersabda, “Tunjukkan kepadaku di mana kuburnya!” Maka mereka menunjukkan kuburnya kepada Rasulullah saw kemudian beliau menyalatkannya, lalu bersabda:

إِنَّ هٰذِهِ الْقُبُورَ مَمْلُوءَةٌ ظُلْمَةٌ عَلَى أَهْلِهَا، وَإِنَّ اللّٰهَ يُنَوِّرُهَا لَهُمْ بِصَلاَتِي عَلَيْهِمْ

          “Sesungguhnya para penghuni kuburan ini diliputi kegelapan. Sekarang Allah meneranginya lantaran aku shalat atas mereka.” ( HR. Bukhari dan Muslim)

Semoga Allah merahmati Ummu Mahjan ra yang sekalipun beliau seorang yang miskin dan lemah, akan tetapi beliau turut berperan dalam perjuangan Islam sesuai dengan kemampuannya. Beliau adalah pelajaran bagi kita, kaum muslimin bahwa tidak boleh menganggap sepele suatu amal sekalipun kecil. Meski hanya menjadi petugas kebersihan masjid.

Muliakan mereka, dari uang kas masjid bisa dimanfaatkan sebagiannya untuk menanggung biaya hidup mereka beserta keluarganya, juga pendidikan anak-anaknya. Bila perlu suatu saat memberikan bonus kepada mereka, sekedar untuk membahagiakan hatinya. Sehingga dia akan tetap istiqamah dalam menjalankan tugas yang mulia ini, menjadi Marbot Masjid. (abu hanan)

Meraih Pahala Syahid Meski Belum Berjihad

Keluarga besar Pondok Pesantren Miftahul Huda Sambi Boyolali berduka karena musibah yang terjadi pada pertengahan bulan Januari lalu. Lima santri mereka yang sedang duduk di kelas dua tsanawiyah meninggal dunia karena tenggelam di sungai. Kronologinya, sepuluh santri berjalan melalui tepian saluran irigasi dengan bergandengan tangan.

Tiba-tiba seorang di antara mereka terpeleset, sehingga sembilan santri lainnya ikut terseret masuk ke dalam bak kontrol irigasi. Pengelola pondok pesantren dibantu warga setempat berusaha melakukan tindakan penyelamatan. Lima di antaranya dapat ditolong, sedangkan lima santri yang lain terjebak di dalam pusaran air bak kontrol irigasi. Setelah berhasil diangkat, kelimanya tidak bisa diselamatkan nyawanya.

Musibah tersebut merupakan ujian berat bagi keluarga pesantren, apalagi bagi orang tua para santri yang menjadi korban. Perasaan sedih dan terpukul begitu dirasakan oleh mereka. Tentu saja, karena mereka telah kehilangan anak-anak didik dan putra-putra yang tentu amat dicintainya, untuk selamanya. Apalagi mereka tergolong masih anak-anak, atau pasnya anak-anak yang baru menginjak usia remaja.

Umurnya kira-kira sebaya dengan umur Nabi Ismail saat diperintahkan untuk disembelih. Al Quran menyebutnya dengan istilah falamma balagha ma’ahus sa’ya (maka tatkala anak itu sampai pada umur yang sanggup berusaha bersama-sama nabi Ibrahim), maksudnya saat menginjak usia remaja dan sudah bisa diajak bekerja. Mufassir menyebutkan kira-kira berumur 13 tahun.

Namun yang menentramkan hati, mereka meninggal dunia dalam kondisi yang baik (husnul khatimah) insya Allah. Karena, selain berstatus sebagai thalabul ilmy, mereka meninggal dalam keadaan tenggelam, dan meninggal dalam keadaan seperti itu mendapat pahala syahid.

Makna Syahid

Syahid secara bahasa merupakan turunan dari kata sya-hi-da yang artinya bersaksi atau hadir. Saksi kejadian, artinya hadir dan ada di tempat kejadian.   Ulama berbeda pendapat tentang alasan mengapa mereka disebut syahid. Al Hafidz Ibnu Hajar menyebutkan pendapat ulama tentang makna syahid. Diantaranya, karena orang yang mati syahid hakekatnya masih hidup, seolah ruhnya menyaksikan, artinya hadir. Ada juga yang berpendapat, karena Allah dan para malaikatnya bersaksi bahwa dia ahli surga. Pendapat lainnya, karena ketika ruhnya keluar, dia menyaksikan bahwa dirinya akan mendapatkan pahala yang dijanjikan.

Macam-Macam Syahid

Kata syahid adalah istilah syar’i, digunakan untuk menyebut orang yang meninggal di medan jihad dalam rangka menegakkan kalimat Allah. Namun Rasulullah saw juga menyebutkan istilah syahid bagi mereka yang meninggal di luar medan jihad:

الشَّهَادَةُ سَبْعٌ سِوَى الْقَتْلِ في سَبِيلِ اللَّهِ الْمَطْعُونُ شَهِيدٌ وَالْغَرِقُ شَهِيدٌ وَصَاحِبُ ذَاتِ الْجَنْبِ شَهِيدٌ وَالْمَبْطُونُ شَهِيدٌ وَصَاحِبُ الْحَرِيقِ شَهِيدٌ والذي يَمُوتُ تَحْتَ الْهَدْمِ شَهِيدٌ وَالْمَرْأَةُ تَمُوتُ بِجُمْعٍ شَهِيدٌ

“Mati syahid itu ada tujuh, selain yang terbunuh di jalan Allah: Meninggal karena tha’un, meninggal karena tenggelam, meninggal karena sakit tulang rusuk, meninggal karena sakit perut, meninggal karena terbakar, meninggal karena tertimpa benda keras, dan wanita yang meninggal karena mengandung atau melahirkan bayinya juga syahid.” (HR. Abu Daud).

Tujuh syahid yang dimaksud oleh hadits di atas adalah Syahid Akhirat saja, bukan Syahid Dunia Akhirat. Hal itu dikarenakan mati syahid ada tiga macam; Syahid Dunia Akhirat, Syahid Akhirat saja, dan Syahid Dunia saja.

Syahid Dunia Akhirat, adalah seorang muslim yang gugur di medan perang/jihad untuk meninggikan Kalimatullah. Syahid golongan ini tidak dimandikan dan tidak dishalati, tapi langsung dikebumikan dengan darah yang ada padanya dengan pakaian yang dikenakannya.

Syahid Dunia saja, maksudnya orang yang gugur dalam jihad tetapi niat jihadnya bukan karena Allah, seperti berjihad karena riya’, sum’ah, mendapat ghanimah dan lain lain. Syahid golongan ini diperlakukan seperti syahid dunia akhirat dari segi tidak dimandikan dan tidak dishalati, tetapi di akhirat tidak mendapatkan apa-apa.

Syahid Akhirat saja, adalah orang-orang yang wafat karena sebab-sebab yang dinyatakan oleh nash seperti sakit perut/diare, tertimpa reruntuhan, terbakar, tenggelam, melahirkan dan lain-lain, seperti yang disebutkan hadits di atas. Sehingga mereka mendapatkan pahala mati syahid namun tetap diperlakukan seperti mayat muslim pada umumnya, yakni dimandikan, dan dishalati.

Syahid Tanpa Jihad?           

Kenapa orang yang meninggal dunia selain di medan jihad bisa mendapatkan gelar syahid? Al Hafidz Al Aini mengatakan,

“Mereka mendapat gelar syahid secara status, bukan hakiki. Dan ini karunia Allah untuk umat ini, dimana Dia menjadikan musibah yang mereka alami (ketika meninggal dunia) sebagai pembersih atas dosa-dosa mereka, dan ditambah dengan pahala yang besar, sehingga mengantarkan mereka mencapai derajat dan tingkatan para syuhada hakiki. Karena itu, mereka tetap dimandikan, dan ditangani sebagaimana umumnya jenazah kaum muslimin.”

Imam Suyuthi menyebutkan bahwa Syahid Akhirat merupakan kekhususan bagi umat Nabi Muhammad saw. Umat sebelumnya tidak ada yang mendapatkan pahala Syahid Akherat, mereka mendapatkan pahala Syahid Dunia Akherat saja yaitu saat meninggal terbunuh di medan perang.

Pahala Syahid

Allah memberikan pahala istimewa kepada orang yang meninggal dunia dalam keadaan syahid. Rasulullah menyebutkan:

“Orang yg mati syahid mendapatkan enam hal di sisi Allah: Diampuni dosa-dosanya sejak pertama kali darahnya mengalir, diperlihatkan kedudukannya di surga, diselamatkan dari siksa kubur, dibebaskan dari ketakutan yg besar, dihiasi dgn perhiasan iman, dinikahkan dengan bidadari dan dapat memberikan syafaat kepada tujuh puluh orang kerabatnya.” (HR. Ibnu Hibban)

Subhanallah, begitu mulianya orang yang dipilih oleh Allah meninggal dunia dalam keadaan syahid.  Sedih, memang iya, namun semoga keluarga tidak terus menerus berlarut dalam kesedihan. Mestinya mereka bahagia, karena anak-anak mereka telah dipilih oleh Allah meninggal dunia dalam keadaan syahid. Bahkan mendapatkan dua pahala syahid sekaligus, insyaAllah. Pertama, meninggal karena tenggelam. Kedua, status mereka sedang thalabul ilmi. Rasulullah saw pernah menyebutkan:

“Barangsiapa keluar dari rumahnya dalam rangka mencari ilmu maka ia fi sabilillah (berada di jalan Allah) hingga kembali.” (HR. Tirmidzi)

BACA JUGA : Berteman Dengan Orang Shalih

Ulama’ menyebutkan, meski thalibul ilmi (penuntut ilmu) belum berangkat jihad ke medan perang, namun kesibukan mereka dalam mengkaji ilmu akan mendapatkan pahala sebagaimana pahalanya mujahid. Wallahu a’lam.

Semoga untaian kata-kata di atas bisa menjadi pelipur lara bagi keluarga yang ditinggalkan -dan juga bagi siapa saja yang mendapatkan ujian semisal- sehingga bisa sabar dan tabah dalam menghadapi musibah tersebut.

Ya Allah, jadikanlah sisa hidup kami sebagai penambah amal kebaikan dan dan jadikanlah kematian kami sebagai penghenti dari melakukan amal keburukan. Aamiin.

Meringankan Derita Menuai Pahala

“Alhamdulillah washolnal ilaa biladus Syam..,” demikian kalimat yang diucapkan seorang ikhwah penjumpat saat penulis menginjakkan kaki di Suriah, bumi Syam, negeri yang diberkahi oleh Allah. Tiada henti bibir ini mengucapkan tahmid dan takbir, memuji dan mengagungkan Allah atas nikmat tersebut. Keinginan yang selama ini menjadi impian kini menjadi kenyataan.

Lega dan bahagia bercampur sedih menjadi satu. Bahagia karena bisa sampai di sana, sedih ketika melihat saudara-saudara muslim hidup terlunta-lunta menjadi pengungsi di negeri sendiri. Mereka tinggal di tenda-tenda pengungsian dengan fasilitas serba seadanya.

Di Suriah, pada pertengahan bulan November dan awal Desember sedang memasuki musim dingin. Siang hari suhunya hingga 8 derajat dan malam harinya hingga 0 derajat, air sampai membeku. Sehingga wajar jika jaket tebal tidak pernah lepas dari tubuh para pengungsi, terutama dari tubuh kami para Relawan Kemanusian yang mendapatkan amanah menyampaikan bantuan kepada para pengungsi di negeri Syam.

Tidak bisa bayangkan bagaimana nasib mereka nanti jika sudah benar-benar masuk musim dingin dan turun salju, biasanya terjadi pada  bulan Februari. Pernah suatu malam, hujan turun begitu derasnya disertai guntur dan angin kencang.

Dahan-dahan pohon pinus banyak yang patah sehingga menutupi jalanan. Air hujan pun masuk membasahi tempat tidur kami. Saat itu kami hanya bisa membayangkan bagaimana nasib saudara-saudara kami yang tinggal di tenda-tenda pengungsian.

Memang sampai saat itu para pengungsi masih tinggal di tenda-tenda. Agar air tidak mengalir masuk ke dalam tenda, mereka membuat parit di sekitar tenda tersebut. Sedangkan untuk mengusir rasa dingin dari tubuh, biasanya mereka menyalakan midfaah. Midfaah adalah alat penghangat manual yang terbuat dari semisal tong kecil.

Potongan kayu bakar dimasukkan ke dalamnya kemudian dinyalakan dengan api, sehingga akan muncul rasa hangat di sekitar alat tersebut selama api masih hidup. Atasnya diberi cerobong untuk membuang asap. Namun tidak setiap pengungsi yang tinggal di tenda-tenda memiliki alat ini.

Maka satu-satunya cara untk mengusir rasa dingin tersebut adalah dengan cara menutupi tenda-tenda mereka dengan daun-daun pinus atau menyelimuti tubuh mereka dengan selimut yg tebal, itupun jika mereka memiliki selimut.

Itulah sekelumit gambaran kondisi mereka saat ini. Maka, bantuan kita kaum muslimin dari seluruh penjuru dunia sangat mereka tunggu, baik berupa makanan, tenda, selimut tebal, jaket atau apa saja yang bisa meringankan derita mereka.

Masihkah kita berdiam diri tatkala ada sebagian dari saudara kita berteriak meminta pertolongan?!

Sementara dalam hadits Qudsi, Allah swt meminta pertanggung-jawaban kepada seorang hamba ketika ada saudaranya meminta bantuan namun dia tidak membantunya. Sebagaimana dalam shahih Muslim, Nabi saw pernah bersabda: Allah berfirman: “Wahai anak Adam, Aku sakit dan engkau tidak menjenguk-Ku.

Berkata sang hamba: ”Ya Rabb, bagaimana mungkin aku menjenguk-Mu sedangkan Engkau adalah Tuhan semesta alam?! Allah berfirman: tidakkah engkau tahu bahwa hamba-Ku fulan sedang sakit, jikalau engkau menjenguknya niscaya akan kau dapati Aku di sisinya. Wahai anak Adam, Aku meminta makan kepadamu dan engkau tidak memberi-Ku makan. Berkatalah sang hamba: wahai Rabb, bagaimana aku memberi-Mu makan sedangkan Engkau adalah Rabb semesta alam?! Allah menjawab: Tidakkah kau ketahui bahwa hamba-Ku fulan meminta kepadamu makan dan engkau tidak memberinya makan, tahukan engkau jikalau kau memberinya makan niscaya engkau akan mendapatinya di sisi-Ku” (HR. Muslim).

Lalu, akankah kita menghindar dari pertanyaan tersebut di hari kiamat kelak ?

Meneladai Salafus shaleh

Tolong menolong dan memberikan bantuan telah dicontohkan oleh para salafush shalih. Dalam kitab Hilyatul Auliya’ disebutkan, Umar bin Khaththab ra sering mendatangi para janda dan mengambilkan air untuk mereka pada malam hari. Pada suatu malam, Umar bin Khaththab dilihat oleh Thalhah ra masuk ke rumah seorang wanita.

Siang harinya Thalhah ra masuk ke rumah wanita itu, ternyata wanita itu adalah wanita tua, buta, dan lumpuh. Thalhah ra lantas bertanya, “Apa yang diperbuat laki-laki tadi malam terhadapmu?” Wanita itu menjawab, “Sudah lama orang itu datang kepadaku dengan membawa sesuatu yang bermanfaat bagiku dan mengeluarkanku dari kesulitan.” Thalhah ra lantas berkata, “Semoga ibumu selamat –kalimat nada heran-, hai Thalhah, kenapa engkau menyelidiki aurat Umar?”

Rasulullah saw pernah bersabda tentang pahala bagi mereka yang mau meringankan derita saudaranya:

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ

“Barangsiapa yang membantu seorang muslim (dalam) suatu kesusahan di dunia maka Allah akan menolongnya dalam kesusahan pada hari kiamat, dan barangsiapa yang meringankan (beban) seorang muslim yang sedang kesulitan maka Allah akan meringankan (bebannya) di dunia dan akhirat.” (HR Muslim)

Al-Kurbah (kesempitan) ialah beban berat yang mengakibatkan seseorang sangat menderita dan sedih. Meringankan (at-tanfîs) maksudnya berupaya meringankan beban tersebut dari penderita. Balasan bagi yang meringankan beban orang lain ialah Allah akan meringankan kesulitannya.

Imam an-Nawawi berkata: “Dalam hadits ini terdapat keutamaan menunaikan/membantu kebutuhan dan memberi manfaat  kepada sesama muslim sesuai kemampuan, (baik itu) dengan ilmu, harta, pertolongan, pertimbangan tentang suatu kebaikan, nasehat dan lain-lain”

Apapun bantuan yang kita berikan kepada mereka, insyaAllah akan membuat mereka tetap bisa tersenyum dalam menjalani beratnya ujian tersebut, terutama dalam menghadapi ganasnya musim dingin di bulan-bulan ini. Allahul Musta’an. (Abu Ahmad Hanan)