Menanamkan Aqidah Kepada Anak-Anak

91

 

“Mi, kalau Umi tidak punya uang, kakak nanti akan minta uang kepada Allah untuk membeli es krim. Dia Maha Pemberi dan Penyayang, kan?” Si Ibu gelagapan menjawab pertanyaan sulungnya itu. Apalagi saat si kecil ikut bertanya, “ Allah itu tinggal dimana sih, Mi?”

Seringkali sebagai orangtua, kita merasa kesulitan untuk menjelaskan masalah-masalah aqidiyah (keyakinan) kepada anak-anak. Karena Aqidah Islamiyah dengan ke-enam rukunnya yaitu; beriman kepada Allah, para Malaikat, Kitab-kitab, para Rasul, Hari Akhir serta Qadha’ dan Qadar, adalah persoalan ghaib yang berada di luar kemampuan akal dan panca indera untuk menjangkaunya.

Meski hal inilah yang menjadikan aqidah islamiyah menjadi unik dan khas, menjelaskannya kepada anak-anak membutuhkan keseriusan dan ketelatenan tersendiri. Bagaimanapun, kemampuan berfikir anak-anak yang masih sangat sederhana dan terbatas untuk mengenali hal-hal yang abstrak, menjadi penghalang yang tidak bisa diremehkan. Sementara kesalahan kita dalam memberi jawaban akan berakibat fatal, sebab jawaban itulah (mungkin) yang akan terekam di benak anak untuk seterusnya.

Baca Juga: Seni Menjawab Keingintahuan Anak

Menanamkan aqidah islamiyah kepada anak-anak sangatlah penting. Aqidah atau keyakinan yang tertanam akan menjadi acuan dan pegangan dalam mengarungi kehidupan mereka selanjutnya. Aqidah itu juga akan menjadi standar perbuatan yang mereka lakukan, serta menjadi pembanding setiap kali mereka menjumpai bentuk-bentuk perilaku baru.

Aqidah yang menghunjam kuat di dalam jiwa anak-anak, membantu mereka mengembangkan kemandirian dan kepercayaan diri, serta memudahkan mereka menjalani proses menuju manusia yang lebih bermoral dan berkepribadian lebih baik.

Mereka tumbuh bukan hanya berbasis pengetahuan umum dan memperturutkan hawa nafsu semata, namun jauh dari kehidupan yang religius, hal yang terbukti memiliki andil besar munculnya kanakalan dan kerusakan moral manusia.

Rahmat Allah

Merupakan rahmat Allah kepada manusia adalah Allah menciptakan mereka di atas fithrah. Allah berfirman,

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka, “Bukankah Aku ini Rabb kalian?” Mereka menjawab, “Betul, kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kalian tidak mengatakan, “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap (keesaan Tuhan) ini”. (QS. Al A’raaf: 172)

Ketika menjelaskan hadits “Setiap anak lahir dalam keadaan fitrah”, Syaikh Mulla Ali al-Qari berkata, “Yang dimaksudkan adalah fitrah Islam, yang berupa ketauhidan dan pengetahuan tentang Rabbnya”. Artinya, setiap manusia yang hadir ke dunia, lahir dalam keadaan mengenal Allah  dan mengakuinya. Ia diciptakan di atas karakter siap menerima syariat.

Mendiktekan Laa Ilaaha Illallah

Agar aqidah ini tertanam kuat dalam jiwa anak-anak, metode talqin (pendiktean) ternyata merupakan cara yang sangat efektif bagi anak-anak yang relatif sulit menerima penjelasan yang rasional dan abstrak. Metode ini juga tidak selalu menghajatkan bukti-bukti atau argumentasi yang nyata. Ini adalah karunia Allah, bahwa Dia telah melapangkan dada manusia untuk menerima iman tanpa memerlukan berbagai argumentasi yang berbelit atau bukti-bukti yang rumit.

Al Hakim meriwayatkan dari Ibnu Abbas sebuah sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Salam,

اافتحوا علي صبيانكم  أول كلمة  لا إله إلا الله, ولقنوهم عند الموت  لا إله إلا الله

“Mulakanlah kalimat Laa Ilaaha Illallah kepada anak-anak kalian, dan diktekanlah kepada mereka kalimat Laa Ilaaha Illallah saat menjelang kematian”

Para sahabat suka mengajarkan kalimat ini kepada anak-anak mereka, hingga menjadi kalimat pertama yang mereka hafalkan dan ucapkan dengan fasih. Sementara Ibnul Qayyim menganjurkan agar kalimat inilah yang pertama didengar oleh telinga anak-anak. Imam Ghazali mengatakan bahwa saat anak-anak telah menghafal kalimat ini, makna-maknanya akan tersingkap sedikit demi sedikit di masa yang akan datang. Maka mengajarkan aqidah kepada anak-anak hendaklah diawali dengan pemberian hafalan, kemudian pemahaman, kepercayaan, keyakinan dan pembenaran.

Mencintai Allah dan Rasulullah

Cinta adalah sumber kekuatan, juga pengorbanan. Untuk itu, aqidah islamiyah akan semakin kokoh menancap di dalam jiwa jika berdiri di atas dasar cinta kepada Allah dan Rasulullah-Nya. Ibarat tongkat bagi si buta, ia akan semakin menuntun manusia menyelesaikan persoalan-persoalan kehidupannya kelak. Mempermudah kesulitannya, memperingan rasa sakitnya, menjernihkan kekeruhannya dan mendekatkan jarak ke akhirat yang sering dianggap jauh. Rasulullah bersabda,

“Ikatan iman yang paling kuat adalah cinta dan benci karena Allah”. (HR. At-Thabrani)

Pada fase perkembangannya, manusia akan melakukan proses imitasi (peniruan) terhadap sosok yang dianggapnya teladan, untuk kemudian berusaha menyerupakan dirinya dengan sang tokoh itu. Dalam hal ini peneladanan terhadap Rasulullah mutlak perlu, karena beliau adalah teladan terbaik bagi manusia. Jauh dari sifat tercela dan akhlak yang hina. Allah berfirman,

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. (QS. Al Ahzab: 21)

Mengajarkan al-Qur’an

Menyakinkan anak-anak bahwa Allah adalah Rabb dan al-Qur’an adalah firman-Nya yang diwahyukan kepada Rasulullah, agar ruh al-Qur’an merasuki jiwa dan cahaya sinarnya menerangi akal mereka, dimulai dengan membacakan dan mengajaarkan al-Qur’an kepada mereka semenjak dini.

Hal ini akan menjadikan mereka mudah menerima dan memahami aqidah al-Qur’an dan tumbuh di atas keyakinan yang mantap, karena mereka menerima aqidah ini dalam satu paket, akal, jiwa dan hati mereka. Dari sini, melaksanakan serangkaian perintah dan menjauhi serangkaian larangan yang mereka temukan di dalam al-Qur’an menjadi tidak terasa sulit dan memberatkan. Banyak persoalan dan masalah yang mereka temukan di kemudian hari, baik berhubungan dengan keyakinan dan kejiwaan akan mereka pecahkan dan hadapi dengan mudah, Insya Allah.

Imam as-Suyuthi berkata, “Mengajarkan al-Qur’an kepada anak-anak merupakan salah satu pilar di antara pilar-pilar Islam, agar mereka tumbuh di atas fithrah. Begitu juga cahaya hikmah akan masuk ke dalam hati mereka lebih dahulu sebelum dikuasai hawa nafsu dan dinodai kemaksiatan dan kesesatan”.

Pengajaran al-Qur’an menjadi pijakan utama seluruh kemampuan anak-anak pada masa pertumbuhan mereka. Hal ini diawali dengan mengenalkan huruf-huruf hijaiyah dan dilanjutkan pengajaran isinya secara bertahap. Juga senantiasa membiasakan mendengarkan tilawah al-Qur’an.

Rasulullah bersabda,

“Ajarilah anak-anak kalian tiga hal; kecintaan kepada Nabi kalian, kecintaan kepada keluarga beliau dan membaca al-Qur’an. Karena sesungguhnya, para pembawa al-Qur’an iu berada di bawah naungan singgasana Allah, di hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, bersama para Nabi dan orang-orang pilihan-Nya ”. HR. At Thabrani dari Ali bin Abi Thalib. Al Munawi dalam Faidhul Qadiir menyatakannya sebagai hadits dha’if.

Banyak kita temukan para ulama terkemuka telah menghafalkan al-Qur’an pada usia yang sangat muda. Imam Syafi’i telah hafal al-Qur’an pada usia tujuh tahun, demikian juga Sahl bin Abdillah at- Tastari. Sementara Ibnu Sina dan Imam Nawawi pada usia sepuluh tahun.

Teguh Memegang Aqidah dan Siap Berkorban Karenanya

Sebuah aqidah atau keyakinan tentu saja memerlukan pengorbanan. Semakin kuat dan teguh sebuah aqidah yang dimiliki, semakin besar pengorbanan yang akan diberikan. Sebab aqidah yang menghunjam kuat di dalam jiwa akan membuahkan keyakinan yang mantap dan tanpa keraguan. Setiap pengorbanan yang dilakukan akan memberikan keamanan dan ketenangan batin serta kemanisan iman.

Baca Juga: Ajarkan Muraqabah Pada Anak, Agar Selamat Dunia Akhirat

Hari ini kita sebagai kaum muslimin menghadapi tantangan yang sangat berat untuk tetap berpegang teguh dan istiqamah di atas aqidah islamiyah yang kita miliki. Berbagai konspirasi keji yang bertujuan menjauhkan kaum muslimin dari aqidah, juga al-Qur’an menghadang dari seluruh penjuru kehidupan. Baik berupa berbagai studi keislaman yang (katanya) ilmiah namun ujung-ujungnya menyimpangkan Islam dari keotentikan ajarannya, berbagai pemikiran yang merusak aqidah, juga semangat menghamba hawa nafsu (hedonis) yang semakin menggila.

Semua itu tentu saja membutuhkan jiwa yang teguh memegang aqidah, juga kesiapan berkorban untuk mempertahankannya. Seperti memegang bara api, demikian Rasulullah pernah menyatakan.

Rasulullah tercinta mendidik para sahabat untuk siap berkorban di atas aqidah mereka, agar menjadi pribadi yang matang dan berpendirian. Beriman bukanlah sikap main-main, namun sebuah pilihan sadar tentang makna kebenaran, juga kesiapan menanggung semua risikonya. Rasulullah pernah menceritakan kisah ashabul uhdud kepada para sahabat, juga kisah-kisah lain yang menumbuhkan keberanian mereka untuk berkorban di atas keimanan mereka.

Kita temukan para ibu yang memberi motivasi anak-anak mereka agar berani berjihad fi sabilillah, kemudian bangga saat mendengar berita kesyahidan mereka. Juga anak-anak yang meminta peralata jihad dan menangis jika tidak diizinkan berangkat jihad. Dalam konteks yang lebih dekat dengan keseharian kita, melatih anak-anak untuk berbuat kebaikan kepada sesama, tidak berbohong dan selalu berkata jujur, apapun risikonya.

Keluarga

Akhirnya semua akan kembali kepada bagaimana keluarga memberikan perhatian terhadap aqidah anak-anak mereka. Menanamkan aqidah kepada anak-anak harus diawali dari rumah, sebelum mereka memperolehnya dari luar dan dihantam badai akhlak tercela. Ketidakpedulian orangtua dalam mempersiapkan aqidah anak-anak akan berakibat fatal.

Satu nasihat lagi, jangan menyerahkan pola asuh spiritul-terutama masalah aqidah kepada sekolah. Sebab banyak sekolah berlabel islam, namun mengacuhkan masalah yang sangat penting ini. Kita harus tetapi mengawasi dengan ketat agar tidak kecolongan. Wallahu A’lam.

Oleh: Ust. Triasmoro Kurniawan/Keluarga