Al-quran Relevan Sepanjang Jaman

310

Ketika diri telah dikuasai hawa nafsu, hal-hal yang mulanya haram akan mudah berbalik menjadi halal. Patokan kebaikan yang mulanya adalah al-Quran, karena nafsu lebih dominan, maka patokannya berubah mengikuti pola kepuasan si nafsu itu.

Pada dasarnya, siapa yang ilmunya mampu menguasai hawa nafsunya, ia akan lebih baik dari malaikat dan siapa yang nafsunya mengalahkan ilmunya, maka dia lebih buruk dari binatang. Karena Malaikat tercipta tanpa nafsu, sedangkan hewan diciptakan hanya untuk menuruti hawa nafsu.

Allah menghendaki agar manusia mampu mengendalikan hawa nafsu dengan ilmunya. Tapi setan tidak tinggal diam untuk membujuk manusia menuruti nafsunya. Ilmu dan hawa nafsu selalu berebut tempat dalam tiap pribadi manusia. Sungguh celaka bagi siapa yang nafsunya menjadi raja diatas ilmunya.

Ketika hawa nafsu terdepan dalam mengambil keputusan, yang ada hanyalah kerusakan dan salah kaprah. Orang yang berilmu tinggi belum tentu mampu mengendalikan hawa nafsunya. Tidak heran ketika seorang Kyai besar bergelar haji berkata bahwa al-Qur’an sudah tidak relevan pada jaman sekarang. Ayat kepemimpinan yang berlaku sepanjang masa, dipandang hanya berlaku pada jaman dahulu dan memilih pemimpin tidak perlu memakai dalil karena ini urusan politik bukan ibadah.

Pernyataan diatas jelas-jelas bathil dan tidak benar. Karena orang beriman meyakini bahwa dalam kondisi apapun syariat Islam secara komprehensip sesuai untuk diterapkan kapanpun dan dimanapun. Umat Islam akan baik selagi mereka mau mengambil petunjuk dari al-Quran dalam perkataan maupun perbuatan. Sebagaimana Nabi bersabda,

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ

“Aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.” (HR. Malik & Hakim)

Gaya bicara dan retorika pemuja hawa nafsu memang pandai dan cerdik. Terkesan cerdas, menggurui dan logis. Apalagi yang berkata memiliki gelar mentereng seperti doktor, cendekiawan, dan haji. Umat sangat mudah dikelabuhi dengan itu.

Fenomena ini telah digambarkan oleh Ibnu Mas’ud sekaligus solusinya. Beliau berkata,

“Sesungguhnya kalian nanti akan mendapatkan suatu kaum yang mengaku menyeru kalian kepada Kitabullah padahal sesungguhnya mereka membuang al-Quran di belakang punggung mereka, maka hendaknya kalian berpegang kepada ilmu. Dan hendaknya kalian mengikuti para salaf (sahabat, tabiut, tabi’in).”

Solusi yang diberikan sahabat diatas agar terhindar dari manisnya perkataan pemuja hawa nafsu tersebut adalah dengan ilmu. Yaitu ilmu syar’i yang diwariskan oleh Nabi. Dengan itu kita akan mengenali penyelewengan dan kecurangan orang yang menjadikan al-Quran sebagai umpan dan pemanis belaka.

kita juga senantiasa mengikuti para salaf; sahabat, tabi’in dan tabiut-tabi’in, karena merekalah yang paling paham akan al-Quran setelah Nabi Muhammad. Inilah jalan selamat dari tipu daya para pemuja hawa nafsu dan orang-orang munafik.