Ustadzku Sayang, Ustadzku Malang

170

Dulu, orang yang bergelar ustadz atau kyai sangat dihormati dan disegani di bangsa ini. Mereka tanpa pamrih berjuang membela NKRI sampai titik darah penghabisan. Ilmunya mereka sumbangkan suka rela di pondok pesantren dan berbagai pengajian tanpa mengharap imbalan, karena mereka bukan ustadz televisi yang mematok bayaran, mereka juga bukan PNS yang saat pensiun mendapat tunjangan. Keikhlasan dan ketawadhuan mereka dalam mentransfer ilmu, menjadikan siswa didik dan jamaahnya menaruh simpati dan haus akan tiap-tiap petuahnya. Mereka rela berjalan kaki sekian kilometer, mengayuh sepeda butut kesana-kemari demi terwujudnya pribadi islami di setiap langkap yang mereka tapaki dan setiap nafas yang mereka hela.

Ketika islam dihina dan direndahkan, serta-merta mereka menjadi garda terdepan membela dan menyuarakan keadilan. Meski aral merintang, demi izzatul islam semua mereka lakukan. Bagi mereka, Islam bukan sekedar busana yang bisa dicampakan kapan saja, Islam juga bukan sekedar pengakuan tanpa konsekwensi dan pembelaan. Bagi mereka Islam adalah segalanya, dengan Islam mereka jaya dan tanpa Islam mereka akan hina.

Akan tetapi setan tak akan tinggal diam melihat hamba-hamba yang ikhlas menyuarakan agama Islam. Setan tiba-tiba kejang dan mabuk kepayang saat kebaikan disuarakan dan kedzaliman ditekan. Setan mengirim utusan berwujud manusia untuk menghadang dakwah para ustadz dan kyai. Dengan makar yang masif dan keji, satu-persatu ustadz dan kyai yang berseberangan dengan utusan setan, di tuduh berbuat hal yang sangat tidak pantas dilakukan orang beriman. Seperti tuduhan berzina, menghina kepercayaan suatu agama sampai mencuri uang ummat.

Para pendakwah adalah wali Allah dan tangan panjang Rasulullah. Dakwah yang mereka lakukan adalah kelanjutan dakwah Nabi ‘Alaihi as-Shalatu wa-Salam, dengan begitu Allah tidak akan tinggal diam melihat wali-walinya dilukai meski hanya seujung jari. Allah mengajak perang kepada siapa saja yang menyakiti para walinya. Sebagaimana firman-Nya,

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ اللهَ تَعَالَـى قَالَ : مَنْ عَادَى لِـيْ وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْـحَرْبِ ، وَمَا تَقَرَّبَ عَبْدِيْ بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَـيَّ مِمَّـا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبُ إِلَـيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِيْ يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِيْ يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِيْ يَبْطِشُ بِهَا ، وَرِجْلَهُ الَّتِيْ يَمْشِيْ بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِيْ لَأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِـيْ لَأُعِيْذَنَّهُ».

Sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla berfirman, ’Barangsiapa memusuhi wali-Ku, sungguh Aku mengumumkan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada hal-hal yang Aku wajibkan kepadanya. Hamba-Ku tidak henti-hentinya mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku, Aku pasti memberinya. Dan jika ia meminta perlindungan kepadaku, Aku pasti melindunginya.” (HR. Bukhari).

Saat Allah Ta’ala sudah mengumumkan perang, tiada mungkin para utusan setan akan menang. Saat di dunia mereka berkuasa dan leluasa membuat makar sedemikian rupa, di akhirat tiada selangkahpun mereka mampu berlari dari adzab Allah. Andai mereka punya bongkahan emas sebesar gunung uhud untuk menebusnya, sungguh adzab Allah maha pedih dan dan menyakitkan.

Wahai para pendakwah yang senatiasa istiqamah di jalan kebaikan. Rintangan selalu ada dan ancaman dari setan selalu mengintai dari setiap sisi kehidupan kita. Tapi yakinlah, selama kita bersama Allah, Ia akan menolong kita dari segala pintu yang tidak diduga, Ia akan menjadikan musuh-musuh-Nya takhluk tak berdaya. Nabi bersabda, “Dan memohonlah pertolongan kepada Allah dan jangan merasa lemah.”

 

(Nurdin. AJ)