Begini Islam yang Toleran

41

Syaikh Abdullah al-Mohaisini menulis perang narasi tentang toleransi dalam telegramnya. Islam adalah agama yang toleran. Islam memiliki prinsip-prinsip dan ajaran-ajaran yang mengatur seluruh lini kehidupan manusia.

Rasulullah ﷺ telah mengajarkan kepada kita cara untuk bersikap toleran terhadap orang-orang kafir, tanpa mengorbankan Aqidah, tanpa menjilat. Salah satu toleransi yang Rasulullah ajarkan adalah ketika beliau menghapus beberapa kalimat dari perjanjian Hudaibiyah.

Hari ini toleransi itu banyak disalaharti. Perang narasi digaungkan untuk merusak pemahaman kaum Muslimin. Terutama karena musuh-musuh Islam terus memaparkan lewat media bahwa, “jika umat Islam ingin dicap sebagai umat yang toleran, maka umat Islam harus mengorbankan aqidah mereka.”

Di antara syubhat yang dipaparkan oleh media untuk mencoba menyesatkan para pemuda Muslim adalah ungkapan bahwa agama Islam adalah agama toleransi dan menyimpulkan bahwa kaum Muslimin tidak memiliki masalah dengan orang Yahudi dan Nasrani, masalah kita dengan mereka muncul hanya karena mereka menjajah tanah kita. Seandainya mereka tidak menjajah tanah kita, maka tidak ada masalah antara kita dengan mereka.

Baca Juga:Siapa Yang Intoleran?

Masalah antara kita dengan orang Yahudi dan Nasrani adalah bahwa mereka telah menyakiti Allah, karena mereka menisbatkan anak kepada Allah (Nasrani), dan menyatakan bahwa tangan Allah terbelenggu (Yahudi). Adapun toleransi dengan menganggap bahwa Yahudi dan Nasrani adalah agama samawi, maka sesungguhnya mereka telah menyimpang dari ajaran agama mereka yang benar. Karena jika seandainya mereka mengikuti ajaran agama mereka yang benar, maka hal tersebut akan menunjukkan mereka kepada Islam.

Oleh karena itu, Allah ﷻ berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِم بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَاءَكُم مِّنَ الْحَقِّ يُخْرِجُونَ الرَّسُولَ وَإِيَّاكُمْ ۙ أَن تُؤْمِنُوا بِاللَّـهِ رَبِّكُمْ إِن كُنتُمْ خَرَجْتُمْ جِهَادًا فِي سَبِيلِي وَابْتِغَاءَ مَرْضَاتِي ۚ تُسِرُّونَ إِلَيْهِم بِالْمَوَدَّةِ وَأَنَا أَعْلَمُ بِمَا أَخْفَيْتُمْ وَمَا أَعْلَنتُمْ ۚ وَمَن يَفْعَلْهُ مِنكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاءَ السَّبِيلِ ﴿١﴾

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan musuh-Ku dan musuhmu sebagai teman-teman setia sehingga kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal mereka telah ingkar kepada kebenaran yang disampaikan kepadamu. Mereka mengusir Rasul dan kamu sendiri karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu.” (QS. Al-Mumtahanah: 1).

Maka jangan sampai ungkapan-ungkapan dan slogan-slogan yang terus digemakan oleh media seperti itu membuat kita menjadi ragu-ragu. Begitu pula jangan sampai kita tertipu oleh orang-orang yang terus menggaungkan slogan-slogan tadi dan mengaitkannya dengan ayat-ayat al-Qur’an, padahal mereka mengingkari sebagian ayat al-Qur’an yang lain.

Ketika sebagian dari kaum Muslimin berusaha menjilat orang-orang kafir dengan cara mengorbankan Aqidah mereka agar dicap sebagai ‘Islam yang Toleran’, maka sesungguhnya permusuhan mereka kepada umat Islam tidaklah berkurang. Mereka tidak mengurangi pembantaian yang mereka lakukan di Afghanistan, Irak, Yaman, Suriah, dan lainnya. Toleransilah dalam sikap dan tingkah laku, bukan dalam permasalahan aqidah.

 

Oleh: Ust. Muhtadawan/Terkini