Bersiwak, Malaikat Mendekat Pahala Berlipat

40

Bersiwak atau menggosok gigi dengan menggunakan batang yang lembut dari pohon arok atau yang semisalnya adalah sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang sudah mulai dilupakan oleh kaum muslimin. Bahkan ada sebagian kaum muslimin yang merasa jijik jika harus melakukannya dan menganggap sebagai perbuatan jorok. Padahal amalan tersebut adalah termasuk kebiasan para Rasul: “Ada empat hal yang termasuk dari sunnah para Rasul: Malu, memakai minyak wangi, bersiwak dan menikah” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

“Ada empat hal yang termasuk dari sunnah para Rasul: Malu, memakai minyak wangi, bersiwak dan menikah” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

 

Sebenarnya banyak manfaat yang akan kita dapat kalau mau mengerjakannya, ٍٍٍbaik di dunia maupun di akherat. Manfaat yang paling besar adalah sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah SAW :

السِّوَاكُ مُطَهَّرَةٌ لِلْفَمِ، مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ

“Bersiwak itu sebagai pembersih mulut dan diridhai oleh Allah.” (HR. Ahmad dan An-Nasai)

Hadits diatas ternyata telah terbukti dalam dunia kesehatan. Dalam sebuah penelitaan, siwak ternyata mempunyai zat anti bakteri sehingga mampu mengurangi jumlah bakteri di dalam mulut. Sehingga gigi menjadi sehat dan mencegah timbulnya gigi berlubang. Di dalam siwak juga terdapat enzim yang mencegah penyakit gusi.

Bersiwak dianjurkan setiap waktu, namun ada waktu-waktu tertentu yang diutamakan karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam biasa melaksanakannya, diantaranya:

  • Setiap Akan Mengerjakan Shalat.

Rasulullah SAW pernah bersabda: “Kalau bukan karena akan memberatkan umatku maka akan kuperintahkan mereka untuk bersiwak setiap akan mengerjakan shalat”. (HR. Bukhari dan Muslim).

  • Setiap Bangun Tidur

Rasulullah SAW juga menganjurkan kepada kita agar bersiwak setiap bangun tidur. Karena tidur di malam hari menyebabkan bau mulut berubah. Menggosok gigi dengan siwak akan menghilangkan bau mulut dan akan menambah semangat setelah bangun tidur.

  • Setiap Kali Masuk Rumah

Beliau juga mengajarkan kepada kita agar bersiwak setiap kali masuk rumah. Salah seorang sahabat bertanya kepada ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha: “Apa yang pertama kali dilakukan oleh Rasulullah jika dia memasuki rumahnya?” Beliau menjawab: ”Bersiwak”. (HR. Muslim).

Sebuah teladan yang bagus dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebab, ketika seseorang keluar rumah, boleh jadi ia menyantap makanan atau minuman yang menyebabkan bau mulut. Maka dengan bersiwak bau itu akan hilang dan isteri yang menyambut tidak ‘tersiksa’ dengan bau tersebut.

 

Pahalanya Berlipat

Secara khusus Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan keistimewaan bagi orang yang menunaikan shalat dengan bersiwak terlebih dahulu dengan pahala 70 kali lipat dibanding yang tidak bersiwak. Beliau bersabda,

فَضْلُ الصَّلَاةِ بِالسِّوَاكِ عَلَى الصَّلَاةِ بِغَيْرِ سِوَاكٍ سَبْعِينَ ضِعْفًا

“Shalat dengan bersiwak (terlebih dahulu) lebih utama 70 kali dibanding yang tidak bersiwak.” (HR. Ahmad).

Bahkan beliau bersabda: “Mengerjakan shalat dua rakaat dengan bersiwak lebih aku cintai daripada mengerjakan tujuh puluh rakaat tanpa bersiwak.” (Sebagian ulama’ mendhaifkan hadits ini, namun ada yang menghasankannya bahkan menyatakannya shahih, diantaranya Ibnu Huzaimah, Al Hakim dan Abu Nua’im).

 

Malaikat Mendekat

Malaikat sebagai makhluk yang paling dekat dengan Allah akan merasa terganggu dengan bau yang tidak sedap yang keluar dari orang yang sedang mengerjakan shalat. Mereka akan merasa merasa senang dan betah berlama-lama di sisi orang yang sedang mengerjakan shalat jika sebelumnya bersiwak.

Dari Ali Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kami bersiwak. Apabila seorang hamba berdiri shalat, malaikat akan mendatanginya kemudian berdiri dibelakangnya dan mendekat untuk mendengar bacaan Al-Qur’an. Maka malaikat terus mendengar dan mendekat hingga meletakkan mulutnya di atas mulut hamba itu. Sehingga tidaklah dia membaca satu ayatpun kecuali akan masuk ke tenggorokan malaikat.” (HR. Baihaqi)

Bagaimana Dengan Sikat Gigi?

Sebagian ulama berpendapat bahwa bersiwak tidak bisa diganti dengan sikat gigi karena siwak berbeda dengan sikat gigi. Siwak memiliki banyak kelebihan dibandingkan sikat gigi, baik dari tinjauan syar’i maupun kesehatan. Namun pendapat yang benar, bahwa jika tidak terdapat akar atau dahan pohon untuk bersiwak maka boleh kita bersiwak dengan menggunakan sikat gigi atau kain. Karena illah (sebab) disyariatkannya siwak adalah untuk membersihkan gigi. Bahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersiwak dengan jarinya ketika berwudhu, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ali bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ”Beliau memasukkan jarinya (ke dalam mulutnya) ketika berwudlu dan menggerak-gerakkannya” (HR. Ahmad). Namun tentunya membersihkan gigi dengan kayu siwak lebih utama daripada dengan lainnya, karena lebih mengikuti sunah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang mulia.

 

Satu Siwak Untuk Berdua

Mungkin diantara kita merasa jijik jika harus menggunakan siwak orang lain, meskipun milik istri kita. Padahal Rasulullah dan istri beliau tercinta, Aisyah Radhiyallahu ‘anha telah memberikan teladannya kepada kita. Aisyah pernah berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersiwak, lalu siwak diberikan kepadaku untuk dicuci. Maka aku menggunakannya untuk bersiwak, kemudian (setelah aku gunakan) aku mencucinya, kemudian aku menyerahkannya kepada beliau.” (HR.Abu Daud).

Jika begitu banyak manfaat yang kita akan dapat dengan bersiwak, masihkah kita meremehkannya? Wallahu musta’an.

Redaksi/Fadhilah Amal