Tiga Wasiat Singkat Nan Padat Dari Rasulullah Kepada Seorang Shahabat

74

Allah mengutus Rasululullah sebagai seorang mu’allim (guru). Beliau bersabda, “Dan sesungguhnya aku diutus sebagai seorang guru.” (HR. Ibnu Majah).

Beliau menunaikan amanah tersebut dengan sebaik-baiknya sebagimana sahabat Muawiyah bin al-Hakam berkata,  “Aku belum pernah bertemu dengan seorang pendidik yang lebih baik pengajarannya daripada beliau.” (HR. Muslim)

 

عَنْ أَبِي أَيُّوبَ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ عَلِّمْنِي وَأَوْجِزْ قَالَ إِذَا قُمْتَ فِي صَلَاتِكَ فَصَلِّ صَلَاةَ مُوَدِّعٍ وَلَا تَكَلَّمْ بِكَلَامٍ تَعْتَذِرُ مِنْهُ وَأَجْمِعْ الْيَأْسَ عَمَّا فِي أَيْدِي النَّاسِ

Dari Abu Ayyub dia berkata, “Seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku (ilmu) yang singkat padat.” Beliau bersabda, “Apabila kamu (hendak) mendirikan shalat maka shalatlah seperti shalatnya orang yang hendak berpisah. Janganlah kamu mengatakan suatu perkataan yang akan kamu sesali. Berputus asalah dari apa yang dimiliki manusia.” (HR. Ibnu Majah, dihasankan Al-Albany)

Allah memberikan jawami’ul kalim (perkataan yang singkat tapi padat maknanya) kepada Rasulullah, sehingga kalimatnya ringkas dan mudah dihapal. Ketika ada laki-laki yang datang kepada Nabi dan meminta diajarkan ilmu yang singkat dan padat, Rasulullah memberikan tiga wasiat kepadanya.

 

Wasiat Pertama: Shalatlah Sebagaimana Orang yang Hendak Berpisah

Orang yang hendak berpisah, meninggalkan satu tempat menuju tempat yang lain, akan membawa sesuatu yang bermanfaat untuk bekal perjalanannya dan tentunya meninggalkan kebaikan kepada siapa saja yang ditinggalinya.

Bila kita tahu seandainya shalat kita adalah yang terakhir dan setelah itu kita mati, tentu kita akan membaguskan shalat tersebut. Kita akan berusaha untuk khusyu’ dan berharap shalat kita diterima oleh Allah. Khusyu’ ketika rukuk, tunduk dan menghina ketika sujud, serta tidak tergesa-gesa dalam shalat.

Rasulullah menjadikan shalat sebagai qurratu ‘aini. Sebagaimana sabdanya, “Dan dijadikan penyejuk mata hatiku dalam shalat.” (HR. Ahmad dan Nasa’i)

Rasulullah bersabda, “Wahai Bilal, (kumandangkan iqamah) untuk shalat. Dan buatlah kami istirahat dengannya.” (HR. Abu Daud dan Ahmad)

Baca Juga: 
Mereka yang Mendapatkan Pahala Tanpa Beramal

Itulah shalat bagi orang mukmin, istirahat dari kepenatan, kesusahan dan kesempitan dunia, menuju keluasan, kenyamanan dan kelapangan dalam shalat bermunajat kepada Allah.

Ia akan hidup dalam setiap detik yang dilalaui dalam shalatnya, menghayati setiap doa yang dibaca dan ayat yang didengar, merinding kulitnya ikut merasakan getaran iman. Bersegera kepada kebaikan dan takut serta lari dari tindak keji dan kemungkaran.

Jika shalat kita bagus maka kebahagiaan dan keselamatan yang didapat, Rasulullah bersabda, “Yang pertama kali dihisab (dihitung) dari perbuatan seorang hamba pada hari kiamat adalah shalat; jika shalatnya baik maka dia beruntung dan selamat, dan jika shalatnya rusak maka dia merugi. Apabila ada sesuatu yang kurang dari shalat wajibnya, Allah berfirman; maka lihatlah apakah hamba-Ku mempunyai shalat sunnah?” Lalu kekurangannya dalam shalat fardhu disempurnakan dengannya. Kemudian semua amalan ibadahnya juga seperti itu.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan Nasai)

 

Wasiat Kedua: Jagalah Lisan dan Jangan Mengatakan Suatu Perkataan yang Menyesalkan

Sebagaimana perkatan orang kafir, yang mengatakan, “Allah yang Maha Pemurah mempunyai anak.”

“Sesungguhnya kalian telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar. Hampir-hampir langit pecah karena Ucapan itu, dan bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh, Karena mereka mendakwakan Allah yang Maha Pemurah mempunyai anak.” (QS. Maryam: 88-91)

Langit bumi dan gunung hampir pecah, terbelah dan runtuh gara gara perkataan yang batil tersebut. Begitu ngerinya akibat perkataan mungkar yang terucap.

Baca Juga: 
Ziarah Kubur, Mengingat Mati Melembutkan Hati

Orang yang lahirnya Islam juga bisa keluar dari keislamannya gegara kalimat yang diucapkan, meskipun hanya candaan. Kisah orang-orang munafik di Tabuk perlu menjadi pelajaran. Mereka berkata, “Aku tidak pernah melihat orang yang perutnya lebih besar (rakus terhadap makanan), lebih suka berbohong serta pengecut ketika bertemu musuh dalam perang dari pada ahli qiro’ah kami (yang dia maksudkan adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya radhiallahu ‘anhum).” Maka turunlah ayat,

“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya Kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah, “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman…” (QS. At Taubah: 65-66).

Setiap perkataan ada yang mencatat, tidak akan luput perhurufnya. Bila jahat dan buruk perkataannya maka bisa menghantarkan kejurang neraka. Bila baik dan benar perkataannya maka akan mendapat keridhaan-Nya.

 

Wasiat Ketiga: Berputus asalah dari apa yang dimiliki manusia

‘Iffah (menjaga kehormatan), qonaah (menerima pemberian Allah), dan zuhud dari apa yang dimiliki manusia.

Jika manusia melihat seseorang yang Allah berikan kenikmatan yang lebih maka jiwanya akan meminta dan menuntut kenikmatan tersebut dan memandang kecil nikmat Allah yang sudah ada ditangannya. Ia menjadi rakus dan tamak untuk mendekati atau mendapatkan apa yang dimiliki orang lain. Bila tidak mendapatkannya dan justru upaya keras mengejar dunia itu malah menghancurkannya ia akan meminta-minta kepada manusia, sehingga hidup dalam kehinaan, dan  orang tidak suka padanya.

Seorang muslim harusnya berputus asa dari apa yang dimiliki manusia. Merasa tidak butuh terhadap apa yang dimiliki manusia, tapi hendaknya ia menggantungkan kebutuhan dan permintaannya hanya kepada Allah Azza wa Jalla.

Orang yang tidak meminta-minta dan menjaga kehormatannya, maka manusia akan mencitainya. Bila telah merasa cukup dengan pemberian Allah maka ia akan tercukupi dan merasa kaya. Bila jiwanya kaya dan terjaga kehormatannya maka ia hidup dengan mulia.

 

Oleh: Ust. Taufik al-Hakim/Fadhilah Amal