Kultum Ramadhan: Kenyang di Dunia, Lapar di Akhirat

77

Berlebihan saat makan bukanlah sifat orang-orang yang berjalan menuju Allah. Demikian pula orang yang senantiasa memperturutkan nafsu perutnya tanpa menimbang statusnya. Allah berfirman;

“Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.” (QS. Abasa: 24)

Perintah untuk memperhatikan makanan tentunya mencakup proses dan setatus kehalalannya. Makanan yang halal dan baik akan bermanfaat dan memberikan energi pada tubuh sehingga ia bisa melaksanakan kewajiban untuk beribadah kepada Allah.

Sebaliknya, makanan yang rendah kualitasnya dan haram cara mendapatkan maupun bendanya tentu akan mendatangkan penyakit, melemahkan badan, dan tentunya menyebabkan dosa. Tidak diterima amal ibadahnya dan tidak ijabah doanya. Rasulullah telah pula mengingatkan umatnya untuk tidak memenuhi nafsu perutnya. Beliau bersabda sebagaimana disampaikan oleh Miqdam bin Ma’dikarib,

 

عَنْ مِقْدَامِ بْنِ مَعْدِي كَرِبَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ أُكُلَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ

Dari Miqdam bin Ma’dikarib berkata, “Aku mendengar Rasulullah bersabda: “Manusia tidak memenuhi wadah yang buruk melebihi perutnya, cukup bagi manusia beberapa suapan yang menegakkan tulang punggungnya. Bila tidak bisa, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumnya, dan sepertiga untuk nafasnya.” (HR. Tirmidzi)

Banyaknya makan bukanlah sifat terpuji bagi seorang muslim. Orang yang banyak makannya, akan banyak minumnya. Orang yang banyak minumnya, ia akan banyak tidurnya, maka akan banyak dagingnya. Orang yang banyak dagingnya, maka akan keras hatinya, maka akan tenggelam dalam lumpur dosa.

 

Kenyang di Dunia

Rasulullah dan para shahabat lebih memilih lapar tenimbang hidup berlimpah makanan. Bukan karena tak memiliki makanan, namun mereka memilih keadaan yang lebih baik dan lebih sempurna daripada sebaliknya. Mereka makan dan minum sekadar untuk dapat melaksanakan ibadah, karena hanya untuk itu jin dan manusia diciptakan. Ibunda Aisyah menceritakan bagaimana kehidupan beliau bersama Rasulullah,

“Keluarga Muhammad tidak pernah kenyang walaupun dengan roti gandum dua hari berturut-turut sampai Beliau wafat.” (Muttafaqun alaihi).

Sebaliknya, terlalu banyak makan mengundang berbagai permasalahan. Amir bin Qois berkata, “Jauhilah oleh kalian kenyang, karena kenyang itu mengeraskan hati.” Malik bin Dinar menasihatkan bahwa tidak semestinya seorang mukmin menjadikan perutnya sebagai cita-citanya yang paling besar dan menjadikan syahwatnya menguasai dirinya. Abu Imran Al-Juwaini menuturkan,

“Sesungguhnya nafsu, jika lapar dan haus maka bersih hati dan lembut dan jika perut kenyang dan lega maka hatinya buta.” Beliau juga mengatakan, “Kunci dunia adalah kenyang dan kunci akhirat adalah lapar, dan pangkal segala kebaikan dunia dan akhirat adalah takut kepada Allah.

Baca Juga: Setan Dibelenggu, Nafsu Menghasutmu

Sesungguhnya Allah memberikan dunia ini kepada orang yang dicintai dan yang tidak, dan sesungguhnya lapar itu di sisi Allah ada
simpanan yang ditunda dan tidak diberikan kecuali kepada orang yang dicintai-Nya.” kenyang dengan yang haram berakibat fatal
Bila kenyang dengan yang halal saja banyak dihindari oleh para salaf karena dampak buruk yang mereka rasakan, apalagi dengan makan
haram. Islam sangat melarang pemeluknya memakan makanan haram. Sebab, karena makanan, doa kita bisa tidak dikabulkan.

Ibnu Abbas berkata bahwa Sa’ad bin Abi Waqash berkata kepada Nabi, “Ya Rasulullah, doakanlah aku agar menjadi orang yang dikabulkan doa-doanya oleh Allah.” Apa jawaban Rasulullah, “Wahai Sa’ad perbaikilah makananmu (makanlah makanan yang halal)
niscaya engkau akan menjadi orang yang selalu dikabulkan doanya. Dan demi jiwaku yang ada di tangan-Nya, sungguh jika ada
seseorang yang memasukkan makanan haram ke dalam perutnya, maka tidak akan diterima amalnya selama 40 hari dan seorang hamba yang dagingnya tumbuh dari hasil menipu dan riba, maka neraka lebih layak baginya.” (HR. At-Thabrani)

Dalam Al-Quran disebutkan, “Katakanlah, terangkanlah kepadaku tentang rezeki yang diturunkan oleh Allah kepadamu, lalu kamu
jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal. “Katakanlah, “Adakah Allah telah memberikan izin kepadamu (dalam persoalan
mengharamkan dan menghalalkan) atau kamu hanya mengada-adakan sesuatu terhadap Allah?” (QS. Yunus: 59).

Kenyang dengan makanan haram bisa berakibat fatal. Rasulullah bersabda,

“Ketahuilah bahwa suapan haram jika masuk ke dalam perut salah satu dari kalian, maka amalannya tidak diterima selama 40 hari.” (HR At-Thabrani).

Rasulullah juga bersabda,

“Tidaklah tumbuh daging dari makanan haram, kecuali neraka lebih utama untuknya.” (HR At Tirmidzi).

Begitu bahayanya mengonsumsi makanan haram, sampai Rasulullah mengajarkan sebuah doa:

اللَّهُمَّ اكْفِنَا بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ
وأغْنِنَا بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ 

“Ya Allah, cukupkanlah kami dengan rezeki- Mu yang halal dari memakan harta yang Engkau haramkan, dan cukupkanlah kami dengan kemurahan-Mu dari mengharapkan uluran tangan selain-Mu.” (HR. Tirmidzi)

Lapar Di Akhirat

Dunia laksana penjara bagi mukmin dan surga bagi orang kafir. Bila telah kenyang di dunia yang hanya sebentar, maka balasannya
adalah lapar dan dahaga di akhirat. Rasulullah pernah bersabda:

 

عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ تَجَشَّأَ رَجُلٌ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ كُفَّ عَنَّا جُشَاءَكَ فَإِنَّ أَكْثَرَهُمْ شِبَعًا فِي الدُّنْيَا أَطْوَلُهُمْ جُوعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Dari Ibnu Umar berkata, ada seorang lelaki bersendawa di sisi Nabi n, kemudian Nabi bersabda, “Hentikan sendawamu dari kami karena sesungguhnya kebanyakan orang yang kekenyangan di dunia kelak pada hari kiamat adalah orang yang paling lama merasakan laparan.” (Abu Isa berkata: Hadits ini hasan gharib dari jalur sanad ini, dan dalam bab ini ada hadits dari Abu Juhaifah. Dihasankan al-Albani dalam Jaami’ ash-Shaghir).

Penghuni neraka akan merasakan kelaparan yang amat sangat. Mereka akan meminta kepada para penghuni surga untuk memberikan kepada mereka sedikit makanan yang mereka miliki. Allah berfirman mengabarkan hal tersebut dalam firman-Nya, “Mereka tidak memiliki makanan dan minuman, sehingga kelaparan dan memintanya kepada penduduk surga, sedikit saja dari air dan makanan, “Dan
penghuni neraka menyeru penghuni surga: “Limpahkanlah kepada Kami sedikit air atau makanan yang telah direzekikan Allah kepadamu.” Mereka (penghuni surga) menjawab, “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu atas orangorang
kafir.” (QS.Al A’raf: 50).

Baca Juga: Yang Mengerikan di Bulan Ramadhan

Kalaupun ada itu adalah, “.. dhari’, yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar.” (QS. Al-Ghasyiyah: 6-7), dan “pohon zaqqum, makanan bagi orang yang banyak berdosa (orang kafir). Makanan ini seperti kotoran minyak yang mendidih di dalam perut, seperti mendidihnya air yang amat panas. (QS. Ad-Dukhan: 43-46).

Setelah menelan zaqqum, penduduk neraka sangat kehausan, dan yang ada hanya hamim dan ghassaq (nanah), “Mereka tidak
merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman, selain air yang mendidih dan ghassaq (nanah). Sebagai
pambalasan yang setimpal.” (QS. An-Naba: 24 – 26). “Mereka diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong
ususnya.” (QS. Muhammad: 15)

Ramadhan  hadir sebagai lahan pelatihan. Selama satu bulan kita dilatih mengendalikan nafsu untuk bisa masuk jannah melalui pintu ar-Rayan. Bagaimana bisa ‘mengetuk’ pintu ar Rayyan bila puasanya tidak benar. Apalagi memperturutkan syahwat perut dengan tidak berpuasa di bulan yang diwajibkan. Sementara, yang berpuasa saja ada yang dinilai Allah hanya mendapatkan lapar dan dahaga di dunia.

Apakah setelah di dunia hanya dihitung mendapat lapar dan dahaga kita juga mau kelaparan dan dahaga di akhirat seperti orang munafik dan orang kafir. Semoga Allah menjauhkan kita dari syahwat perut dan panasnya neraka. Allahumma amin.

 

Oleh: Redaksi/Kultum Ramadhan