Pengajian ibu-ibu, Kebun Pahala atau ladang Dosa?

15

Kalau ada pengajian, hampir bisa dipastikan audiens terbanyak pasti wanita, khususnya ibu-ibu. Minat dan semangat ibu-ibu untuk ngaji memang relatif lebih tinggi dibanding bapak-bapak. Tak heran jika banyak bermunculan pengajian khusus ibu-ibu di mana-mana.

Semangat ini patut disyukuri. Bagi seorang ibu, ngaji alias mempelajari Islam secara mendalam merupakan kebutuhan pokok. Bagaimana tidak? Ibu adalah guru sekaligus teladan utama bagi anaknya. Sosok yang paling dekat dan paling banyak memberi pengaruh bagi perkembangan raga maupun jiwa anak-anaknya, termasuk perkembangan ilmu agamanya. Pengaruhnya tetap signifikan meski di sekolah maupun tempat ngaji, anak-anak juga mendapat asupan ilmu. Semakin rajin mengaji, semakin banyak bekal ilmu yang dimiliki, semakin banyak pula yang bisa ia beri untuk anak-anaknya. Bukankah pepatah mengatakan, faaqidu syai’ la yu’thi, orang yang tidak punya, mana mungkin bisa memberi?

Baca Juga: Saat Ibu-ibu Nahi Munkar. Para Bapak pada kemana?

Ada kemungkinan semangat ngaji pada emak-emak ini merupakan warisan dari para shahabiyah dahulu. Para shahabiyah (shahabat Rasulullah dari kalangan wanita) biasa meminta majelis khusus wanita kepada Rasulullah. Mereka berkumpul di suatu tempat dan mengundang Rasulullah sebagai penceramahnya. Disebutkan dalam hadits;

عَنْ أَبِى سَعِيدٍ جَاءَتِ امْرَأَةٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ ذَهَبَ الرِّجَالُ بِحَدِيثِكَ ، فَاجْعَلْ لَنَا مِنْ نَفْسِكَ ، يَوْمًا نَأْتِيكَ فِيهِ تُعَلِّمُنَا مِمَّا عَلَّمَكَ اللَّهُ . فَقَالَ « اجْتَمِعْنَ فِى يَوْمِ كَذَا وَكَذَا فِى مَكَانِ كَذَا وَكَذَا » . فَاجْتَمَعْنَ فَأَتَاهُنَّ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَعَلَّمَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَهُ اللَّهُ

“Dari Abu Said, seorang wanita datang menghadap Rasulullah seraya berkata, “ Wahai Rasulullah, kaum lelaki sudah mendapatkan haditsmu. Harap anda bersedia membagi waktu untuk kami, satu hari yang kami bisa mendatangimu dan Engkau bisa mengajarkan kepada kami apa yang Allah ajarkan padamu. Rasulullah pun bersabda, “ Berkumpullah pada hari ini di tempat ini.” Para wanita pun berkumpul lalu Rasulullah datang dan mengajarkan mereka apa yang Allah ajarkan pada beliau.” (HR. Bukhari)

Jadi, sejak zaman Nabi, ibu ibu memang punya semangat ngaji yang tinggi. Warisan leluhur ini hendaknya tetap dijaga dan dilestarikan. Tanamkan semangat ngaji dalam diri dan militansi dalam mencari ilmu. Motivasilah diri sendiri agar terus semangat dan istiqomah dalam menuntut ilmu. Apalagi, ngaji juga memiliki banyak keutamaan; dinaungi para malaikat, didoakan penghuni langit dan bumi, dan ditetapkan sebagai manusia yang berada di jalan Allah (fi sabilillah) dan bukan di jalan setan dan kesesatan. Semua ini semestinya mampu membakar semangat.

 

Setan Tidak Rela Wanita Pergi Ngaji

Mencari ilmu itu fii sabilillah, sedang program utama setan adalah ‘yasyuddun naasa an sabilillah‘, membelokkan manusia dari jalan Allah. seperti disebutkan dalam al-quran.

Ada kalanya yang dibelokkan adalah niatnya. Caranya, menumpangi niat dengan benalu-benalu perusak seperti keinginan memamerkan sesuatu; kesuksesan suami atau anak atau barang baru, atau tebar pesona setelah mencoba kosmetik tertentu dan berbagai niat rusak lainnya.

Seperti kita ketahui, secara umum, hasrat wanita untuk terlihat cantik tidak hanya muncul saat dilihat lelaki saja tapi juga kepada sesama wanita. Keinginan mendapat apresiasi sebagai wanita yang mampu merawat diri, awet muda dan cantik juga muncul sam kuatnya saat bersama wanita.

Baca Juga: Maraknya Tren Membeda-Bedakan Ustadz Dan Ulama’

Sebaliknya, bagi yang memang semangatnya lemah, niat dan semangatnyalah yang ditekan setan. Caranya dengan memunculkan berbagai perasaan yang menyurutkan semangat untuk ngaji; minder, malas, tidak suka dengan seseorang dan alasan lain.

Selain benalu niat, pengajian juga kerap dirusak dengan kebiasaan-kebiasaan buruk yang hampir pasti nongol saat para emak-emak kumpul; gosip or ghibah, sampai membicarakan yang ngisi kajian, curhat-curhat gak penting yang kadang secara tak sengaja membuka aib suami dan keluarga, atau ngobrol sendiri saat pengajian berlangsung.

Majelis ilmu yang seharusnya sejuk dan khusyuk, mulai kotor oleh polusi maksiat dan pembicaraan ‘unfaedah’ alias tanpa makna. Kondisi ini kadang lebih parah manakala para emak-emak pengajian tidak mencacat atau merekam materi yang dikaji.

 

Paling Parah

Semakin runyam lagi ketika tiga hal buruk itu berkumpul menjadi satu. Niat tidak ikhlas, majelis dirusak dengan ghibah dan gossip dan tidak mencatat materi pengajiannya. Aktivitas ngaji pun menjadi majelis yang tidak mendapatkan manfaat ali-alih jadi wahana ngobrol bareng alias arisan antar emak-emak. Pulang-pulang dapatnya materi gunjingan bukan materi pengajian.

Jika seperti ini, program setan, yasyuddukum an sabilillah pun sukses besar.

Semangat mencari ilmu itu harus, tapi juga harus dibarengi dengan niat yang baik. Tanamkan bahwa ngaji bukan sekedar memenuhi kewajiban atau hanya karena ikut-ikutan, tapi sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan. Kebutuhan diri akan ilmu syar’I, seperti butuhnya badan pada nutrisi dan makanan bergizi.

Lalu, tinggalkan hal-hal yang bisa merusak mejelis ngaji ini. Stop berkata-kata, stop pamer dan stop mengobral gosip. Semoga Allah memudahkan urusan orang-orang yang ingin menjadi baik dan semakin baik lagi. Sebagaimana Nabi bersabda,

“Jika Allah menghendaki kebaikan pada diri seseorang, maka Allah akan memahamkan pada orang itu kebaikan (agama Islam).” (Muttafaq ‘alaih)

 Redaksi/Fenomena