Istriku Boros, Hemm…

Kutipan kalimat dalam judul di atas tentu sangat tidak sedap dibaca para istri. Betapa kalimat itu menyiratkan secara gamblang keluh-kesah suami terhadap borosnya istri. Namun, hendaklah para istri bersikap bijak terhadap lontaran keluhan suami seperti itu. Bahkan, istri yang bertakwa tentu akan menjadikan ‘kalimat pedas’ itu sebagai sarana muhasabah nafsiyah yang dahsyat. Benarkah aku boros?

Kalimat kritik tersebut seringkali meluncur dari lisan-lisan para suami saat mengobrol ke sana-ke mari dalam forum kaum lelaki. Atau paling tidak, kalimat itu barangkali banyak terukir dalam memori para suami, walaupun lisannya masih tertahan untuk memuntahkan ‘aib istri’ tersebut, demi menjaga kehormatan keluarganya.

Istri dalam Perangkap Konsumerisme

Israf atau berlebih-lebihan, alias boros, memang bukan hanya ‘dosa’ istri semata. Banyak juga para suami yang bergaya hidup boros dalam kesehariannya. Namun, secara kodrati, gejolak materialistis dan konsumerisme itu memang lebih banyak mendekam pada diri kaum wanita. Sampai ada seorang pujangga bernama Alqamah Al-Fahl yang menuturkan dalam syairnya :

Jika kalian menanyaiku tentang wanita

Maka akulah dokter yang sangat mengenal penyakit-penyakit wanita

Bila seseorang telah beruban atau hartanya sedikit

Ia takkan sedikit pun mendapat cinta mereka

Mereka menginginkan harta melimpah di mana mereka mengetahuinya

Dan bagi mereka, usia muda begitu menggairahkan

Tabiat boros yang mengental pada diri wanita ini begitu banyak mendapat cemoohan tiada tara. Orang-orang barat banyak melontarkan kritik yang tajam terhadap wanita bertipe boros ini. Simak beberapa ungkapan mereka yang sangat tidak sedap! Para istri jangan sewot dulu, sekali lagi, jadikan ini sebagai sarana muhasabah Anda. John Barrymore menuturkan, “Wanita itu satu-satunya makhluk yang tidak mengetahui apa yang harus dimilikinya, sebelum ia membelinya.” Alexandre Dumas berkata, “Pernikahan itu sama dengan perpindahan tabunganmu secara berangsung-angsur dari kantongmu ke kantong istrimu.” Salah seseorang dari mereka mengatakan, “Wanita itu penyejuk hati dan setan-setan penguras isi saku.” Sebuah pepatah Inggris mengatakan, “Wanita itu ibarat jalan, perawatannya membutuhkan biaya besar.” (Dikutip dari Ya Ma’syaran Nisa’ Rifqan bir Rijal, karya Dr. Najah binti Ahmad Zhihar).

Na’udzubillah min dzalik. Ajaran Islam yang hanif ini menolak mempersepsikan kaum wanita secara buruk dengan penilaian materialistis seperti ini. Islam sangat memuliakan kaum wanita. Terkait dengan wanita, ajaran Islam beredar untuk meluruskan tabiat wanita dan menshalihkan perilakunya. Merendahkan wanita adalah tabiat jahiliyah yang telah dikubur oleh Islam. Islam datang untuk merias wanita menjadi perhiasan dunia terindah, dengan keshalihan hati dan perilaku sebagai tolok ukurnya.

Jauhi Israf!

Islam secara tegas melarang kaum muslimin bersikap boros. Sikap boros merupakan perangkap setan untuk terus menghasung manusia menumpuk-numpuk harta, dan membelanjakannya secara berlebihan. Allah Ta’ala berfirman :

إِنَّ الْمُبَذِّرِيْنَ كَانُوْا إِخْوَانَ الشَّيَاطِيْنِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُوْرًا

Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan, dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Rabbnya.” (Al-Isra’ : 27)

Allah Ta’ala juga menegaskan, “Dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan” (Al-An’am : 141). As-Suddiy dalam menafsirkan firman Allah, “Wa la tusrifu”, ia mengatakan, “Janganlah kalian memberikan harta kalian sampai habis, setelah itu kalian duduk dalam keadaan fakir.” Ibnu Katsir mengatakan, “Jangan berlebih-lebihan dalam makanan, karena di dalamnya terdapat mudharat terhadap akal dan fisik.” Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu menuturkan, “Makanlah apa yang kamu inginkan, dan pakailah apa yang kamu inginkan, selagi tidak menimpa kamu dua perkara, yaitu sikap berlebih-lebihan dan sombong.” (Tafsir Ibnu Katsir, 6/190).

Islam membimbing kita untuk bersikap pertengahan; tidak boros dan tidak juga bakhil. Allah Ta’ala berfirman, “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian” (Al-Furqan : 67).

Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Dan orang-orang yang membelanjakan hartanya dengan tidak berlebih-lebihan dan tidak pula kikir, artinya mereka tidak bersikap boros dalam membelanjakan harta mereka dalam bentuk membelanjakannya melebihi hajat; dan tidak juga mereka bakhil kepada keluarga mereka dalam bentuk mengurang-ngurangi hak mereka, tidak mereka tahan-tahan, bahkan dengan bentuk adil dan yang terbaik, sebab sebaik-baik perkara adalah yang paling menengah, bukan ini dan bukan pula itu.” (Tafsir Ibnu Katsir, 10/322).

Jadilah Permata Terindah

Dalam sejarah perjalanan hidup para shahabiyah yang mulia terkandung teladan paling agung dan contoh paling indah. Fathimah Az-Zahra’ x memberi kita deskripsi nyata tentang seorang wanita muslimah yang penyabar, mengerti kondisi suami, dan tidak membebaninya dengan beragam permintaan. Suaminya, Ali bin Abi Thalib a, menghadapi situasi ekonomi yang sulit. Lantas, apa yang Fathimah lakukan? Apakah ia mengeluhkan nasibnya ini? Saksikan, apa yang dilakukannya!

Tatkala Fathimah x tak kuasa lagi menahan lapar dan dampak laparnya mulai nampak di wajahnya, Ali terkejut dengan perubahan ini dan ia segera menanyainya, “Kenapa engkau, wahai Fathimah?” “Sudah tiga hari saya tidak mendapati suatu makanan di rumah?,” jawab Fathimah. Ali bertanya lagi, “Kenapa engkau tidak memberitahuku?” “Pada malam pernikahanku, ayahku, Rasulullah n berpesan kepadaku, ‘Wahai Fathimah, bila Ali memberimu sesuatu, makanlah. Dan, bila tidak, maka jangan meminta kepadanya’,” jawab Fathimah. Subhanallah!

      Ali bin Abi Thalib a pernah membuat kriteria wanita terbaik, ia menuturkan, “Sebaik-baik wanita kalian adalah yang berbau wangi, memakan yang baik-baik; bila mengeluarkan harta, tidak berlebihan; dan bila menahannya, juga tidak berlebihan. Wanita seperti ini termasuk pekerja Allah. Dan, pekerja Allah itu tidak akan kecewa.” (Bahjatul Majalis, III : 33)

Wahai para istri, tidak bersikap boros itu permata. Tidak terlalu membebani suami dalam masalah keduniaan, itu permata. Bersikap qana’ah terhadap rezeki yang diberikan suami, itu permata. Membelanjakan harta suami secara baik, itu permata. Maka, kukuhkan Anda sekarang juga untuk menjadi permata terindah bagi suami Anda tercinta! Semoga bahagia! Wallahul musta’an.

 

Ust. Abu Ilyas Mu’afa | Rubrik Kewanitaan

 

Tidak Mau Tinggal dengan Mertua

Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Ustadz, saya menikah dan tinggal terpisah dengan rumah keluarga saya. Ada banyak masalah di antara istri dan ibu saya, sehingga mereka tidak bisa tinggal di satu rumah. Di satu sisi saya mencintai istri dan ingin agar dia bahagia, tapi di sisi lain saya ingin menjadi anak yang berbakti kepada orangtua.

Ustadz, orangtua saya meminta kami agar tinggal bersama mereka. Apa yang harus saya lakukan? Apakah saya harus mematuhi orang tua dan menceraikan istri jika dia tidak mau ikut tinggal bersama, atau saya harus lebih mengutamakan istri dan keluarga kecil saya?

Atas nasihat ustadz, saya sampaikan Jazakumullah khaira jazaa’.

Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Suami yang bingung

Di bumi Allah

Wa’alaikum salam wa rahmatullahi wa barakatuh

Suami yang dirahmati Allah, saya bisa memahami dilema yang sedang Anda alami atas dua keinginan sama-sama sulit. Di mana Anda berkeinginan kuat agar keduanya bisa berjalan beriringan dengan harmonis. Tetapi jika dua hal memang tidak bisa dipadukan, bukankah tidak bijaksana jika kita memaksakannya?

Dalam hal ini yang perlu Anda pahami pertama adalah wajibnya ketaatan dan pelayanan istri kepada suami adalah terhadap diri suami itu saja, bukan kepada keluarga besar suami. Sehingga jika Anda berkeinginan untuk membawa istri masuk ke dalam keluarga besar dan melayani mereka, Anda harus membicarakannya baik-baik sebelumnya. Hal ini agar istri menerimanya dengan ridha dan ikhlas sehingga mudah menjalankannya sebagai tambahan kebaikan baginya.

Namun di sisi lain, Anda juga harus memahami besarnya hak orang tua, terutama ibu atas diri Anda. Sehingga yang diperlukan adalah pembagian waktu yang baik, serta komunikasi yang sehat. Anda jelaskan kepada keduanya bahwa masing-masing memiliki hak atas diri Anda dan hal itu bukanlah untuk dipertentangkan.

Anda tidak bisa memaksa istri untuk tinggal bersama ibu Anda jika dia tidak ikhlas menerimanya. Namun hal itu hendaknya tidak menjadi penghalang untuk berbakti kepada ibu Anda. Carilah tempat yang tidak terlalu jauh sesuai kemampuan Anda agar tetap bisa mengunjungi dan berbakti kepada orang tua. Jangan menyerah untuk terus mengkomunikasikan pilihan Anda agar orangtua dan istri bisa mengerti dan ridha. Katakanlah bahwa hal itu justru demi kebaikan semua pihak.

Jangan lupa berdoa kepada Allah agar memberikan yang terbaik dan kemampuan untuk menyelesaikan maslah Anda dalam keridhaan-Nya.

Selamat mencoba dan sukses selalu.

Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

 

Oleh: Triasmoro Kurniawan/Konsultasi Keluarga

Akhwat Menolak Lamaran Ikhwan yang Berwajah Buruk

PERTANYAAN:

Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Ustadz, bagaimana hukumnya menolak lamaran laki-laki yang berwajah buruk namun memiliki agama yang baik? Di satu sisi kami ingin menjadi wanita shalihah yang seringkali dipersepsikan sebagai ‘menerima laki-laki yang memiliki agama dan akhlak yang baik tanpa memandang hal-hal selainnya’. Namun di sisi lain, kami juga takut tidak ikhlas menjalankan kewajiban sebagai istri karena kecewa dengan fisik suami.

Atas nasihat ustadz, ana sampaikan jazakumullah khaira jazaa’

Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Seorang Akhwat yang gundah di bumi Allah

 

JAWABAN:

Wa’alaikum salam wa rahmatullahi wa barakatuh

Akhwat yang baik, esensi dalam sebuah pernikahan adalah kenyamanan batin (sakinah). Hal ini jika terwujud, akan memudahkan kita berkonsentrasi dalam membangun ketakwaan. Inilah yang terpenting untuk dibangun dalam sebuah keluarga islami. Bukan kumpulan materi bisu yang tidak menambah ibadah dan kebaikan seisi rumah, atau kebersamaan semu yang menyakitkan semua pihak di dalamnya.

Jika demikian adanya, maka ada banyak hal yang mestinya kita pertimbangkan ketika memutuskan untuk menerima lamaran seorang laki-laki. Standar agama dan akhlak pasti karena hal itu harga mati. Namun kebaikan agama dan akhlak saja, bagi banyak di antara kita, tidak menjadi jaminan adanya kenyamanan hati itu jika terdapat banyak sekali perbedaan antara suami dan istri. Baik yang berupa karakter, kebiasaan, kemampuan berfikir, kelancaran komunikasi, hingga penampilan fisik. Meski bagi sebagian yang lain, hal ini bisa saja tidak menjadi persoalan berarti.

Mengenai hal ini, Shahabat Umar bin Khattab pernah berkata, “Janganlah kalian nikahkan anak gadis kalian dengan laki-laki yang bertampang jelek karena wanita itu menyukai laki-laki yang ganteng sebagaimana laki-laki itu menyukai perempuan yang cantik!

Baca Juga: Bila Wanita Melamar Pria

Jadi, boleh saja seorang wanita menolak lamaran laki-laki ketika dia merasa tidak sreg dengannya. Hanya saja, jangan sampai hal ini menjadi sesuatu yang diprioritaskan untuk kemudian mengabaikan kualitas agama dan akhlak si pelamar. Sebab setelah berkeluarga nanti, keqawwaman laki-laki-lah yang mengambil peran terbesar guna teraihnya sakinah itu. Sehingga ketampanan fisik tanpa kemampuan mengayomi keluarga dan menyelesaikan masalah yang ada, juga akan mendatangkan kekecewaan yang besar.

Cobalah beristikharah agar Allah memilihkan yang terbaik, dan kita terhindar dari penyesalan di kemudian hari. Karena rencana Allah-lah yang akan terjadi, bukan keinginan kita. Sehingga kita harus belajar banyak untuk ridha dengan pilihan Allah.  Wallahu a’lam

Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

 

Oleh: Ust. Triasmoro Kurniawan/Konsultasi

Bijak Mengelola Harta ala Istri Shalihah

[bs-quote quote=”“Kini, kau tlah jadi milikku dan aku telah menjadi milikmu. Semoga jiwa dan raga kita menyatu selamanya dalam cinta di bawah naungan-Nya…”.” style=”style-4″ align=”left” color=”#2677bf”][/bs-quote]

Sah-sah saja mengungkapkan kalimat mesra di samping setelah ijab-qobul dinyatakan. Setelah menikah, istri memang menjadi milik suami, begitupun sebaliknya. Keduanya disatukan oleh sebuah ikatan yang kuat, mitsaqan ghalidza. Sebuah ikatan yang menghalalkan jiwa dan raga masing-masing untuk pasangannya.

Cinta, kasih dan perhatian harus menyatu untuk menyongsong masa depan. Hanya saja, ikatan nikah bukanlah akad yang melebur hak kepemilikan atas suatu harta. MOU dalam nikah hanya mengikat suami untuk memberikan nafkah lahir dan batin kepada istri serta mu’asyarah bil ma’ruf, dan istri menaati suami dalam hal yang ma’ruf. Artinya, status kepemilikan harta masing-masing tidak lantas sama sekali melebur; milikku jadi milikkmu dan milikmu jadi milikku. Perpindahan tangan atas hak milik suatu harta disyaratkan adanya kerelaan dari pemiliknya atau ketentuan lain.

Allah berfirman;

وَلَا يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَأْخُذُوا مِمَّا آَتَيْتُمُوهُنَّ شَيْئًا

“Tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu dari yang telah kamu berikan kepada mereka.” (QS. al Baqarah: 229)

فَإِنْ طِبْنَ لَكُمْ عَنْ شَيْءٍ مِنْهُ نَفْسًا فَكُلُوهُ هَنِيئًا مَرِيئًا

“Jika mereka (istri-istri kamu) menyerahkan dengan penuh kerelaan sebagian mas kawin mereka kepadamu, maka terimalah pemberian tersebut sebagai harta yang sedap dan baik akibatnya.” (QS. an Nisa’: 4).

Ayat ini menegaskan bahwa istri berhak atas hartanya sendiri. Dalam ayat ini, harta tersebut berupa mahar yang diterimanya dari suami. Harta mahar itu mutlak menjadi miliknya. Demikian pula harta yang ia terima sebagai nafkah dari suami, atau harta warisan dari orangtuanya, atau ia peroleh dari bekerja.

Syaikh asy -Syinqithi menjelaskan bahwa harta wanita adalah miliknya pribadi. Ia berhak mengelolanya sesuai keinginan. Suami tidak berhak turut campur apalagi mengambil paksa. Sebab ada beberapa kasus, suami mengambil paksa semua harta istri yang diperoleh dari usahanya. Ini jika istri mampu mengelola hartanya dengan benar; tidak boros dan dihambur-hamburkan. Adapun jika istri tidak rasyidah (bijak) dalam mengelola hartanya, suami berhak ikut mengendalikan. Dasarnya adalah ayat 4 surat an nisa’. (Syarhul Mustaqni’ li Syinqithi VII/311).

Pun demikian pula harta suami. Selain harta yang diberikan kepada istri sebagai nafkah, hak milik suatu benda yang dibeli suami tetap menjadi miliknya. Istri tidak berhak mengambil alih hak kepemilikannya tanpa seijin suami. Kecuali jika suami tidak mencukupi kebutuhan keluarga, barulah istri berhak mengambilnya, bahkan meski dengan cara mengambil diam-diam. Seperti istri Abu Sufyan yang sampai harus mencuri harta suaminya karena saking pelitnya sang suami, pada saat itu, untuk mencukupi kebutuhannya. Disebutkan dalam hadits;

عَنْ عَائِشَةَ – رضى الله عنها – قَالَتْ هِنْدٌ أُمُّ مُعَاوِيَةَ لِرَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – إِنَّ أَبَا سُفْيَانَ رَجُلٌ شَحِيحٌ ، فَهَلْ عَلَىَّ جُنَاحٌ أَنْ آخُذَ مِنْ مَالِهِ سِرًّا قَالَ « خُذِى أَنْتِ وَبَنُوكِ مَا يَكْفِيكِ بِالْمَعْرُوفِ

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, Hindun Ibu Muawiyah berkata kepada Rasulullah, “Abu Sufyan itu orangnya sangat pelit. Bolehkah saya mengambil hartanya diam-diam? “ Rasulullah bersabda, “ Ambillah yang bisa mencukupimu dan anak-anakmu dengan ma’ruf.” (HR. Bukhari)

(Ma’ruf artinya kadar harta yang diambil cukup untuk menutupi kebutuhan menurut standar umumnya orang).

Jadi, istri berhak atas hartanya, suami juga berhak atas segala yang dimilikinya. Pemahaman mengenai hak harta ini sangat diperlukan agar jangan sampai terjadi kezhaliman. Misalnya suami menganggap bahwa harta istrinya adalah miliknya. Ia pun mengambil dan menggunakannya tanpa ijin tanpa memedulikan isteirnya. Menurut Syaikh asy-Syinqiti dalam lanjutan keterangan ayat di atas, perbuatan suami tersebut termasuk “aklu amwalin nas bil bathil” memakan harta orang lain dengan cara yang batil.

Atau sebaliknya, merasa sudah mendapat ijin dari Rasulullah, istri seenaknya saja menggunakan dan mengakuisisi harta suami, padahal semua kebutuhannya telah dicukupi. Semua ini dilarang. Namun begitu, jika suami atau istri ‘mencuri’ harta dari istri atau suaminya, tidak lantas dikenai had potong tangan meskipun jumlahnya mencapai nishab had.

Oleh karenanya, idealnya memang harus ada pembagian yang jelas antara nafkah untuk istri pribadi, hal mana harta tersebut akan menjadi miliknya, dengan anggaran untuk kebutuhan keluarga. Fungsinya agar istri benar-benar nyaman ketika hendak menggunakan suatu harta untuk keperluan pribadinya. Misalnya memberi uang saku untuk anak saudaranya atau bersedekah. Bukankah wanita disuruh banyak-banyak sedekah? Rasulullah bersabda:

يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ ، فَإِنِّى رَأَيْتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ

“Wahai para wanita, bersedekahlah karena aku lihat kalian menjadi mayoritas penduduk neraka.” (HR. Bukhari )

Jadi, para istri berhak meminta nafkah kepada suami dan menggunakannya sesuai keinginannya dengan baik. Kalaupun toh pada akhirnya uang tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, ya, memang seperti itulah yang dianjurkan. Bukankah orang yang paling berhak menerima sedekah seorang istri adalah suami dan anak-anaknya?

Dalam lanjutan hadits di atas dikisahkan bahwa setelah bersabda demikian, Zainab, istri Ibnu Mas’ud menemui rasulullah dan berkata, “ Wahai Nabi Allah, hari ini Engkau memerintahkan sedekah, saya punya perhiasan dan saya ingin menyedekahkannya. Tapi Ibnu Mas’ud mengklaim bahwa Dia dan anak-anaknyalah yang paling berhak atas sedekah saya.” Rasulullah bersabda, “ Ibnu Mas’ud benar. Suamimu dan anak-anakmu adalah orang yang peling berhak menerima sedekahmu.”

Jadi meskipun harta tersebut kembali lagi untuk keluarga, para istri bisa mendapat pahala sedekah. Benefitnya jadi berlipat; kebutuhan keluarga tercukupi, istri mendapat pahala sedekah dari Allah. Wallahua’lam.

 

Oleh: Ust. Taufik Anwar/Keluarga

 

Suami, Tunaikan Hak Istri Agar tak Merasa Dieksploitasi

Wanita-wanita shalihah adalah pemimpin rumah tangga suami-suami mereka. Merekalah para penjaga benteng keluarga dari unsur-unsur perusaknya, agar tidak menerobos masuk dan menghancurkannya tanpa sisa. Mereka bukan hanya menyuapkan makanan dan memberikan ASI sebagai minuman anak-anak. Namun, juga menyuapkan santapan iman dan memberi minuman berwujud prinsip-prinsip mulia yang barakah. Mereka perdengarkan untaian dzikir dan shalawat kepada Rasulullah agar ketakwaan menghunjam ke dalam dada seluruh anggota keluarga, dan agar kecintaan kepada Islam semakin mengkristal dari hari ke hari.

Karenanya, mereka haruslah wanita cerdas, pandai, terampil dan bertakwa kepada Allah. Dari para wanita shalihah inilah akan lahir generasi pembangun masyarakat menuju kebaikan dan kekuatan, atau suami-suami yang menemukan surga dunia. Dan terbentuklah pondasi bangunan komunitas masyarakat muslim. Keterlibatan wanita dalam proses pendidikan anak-anak dan pelayanan terhadap suami, setara dengan Jihad kaum laki-laki di medan perang dan Shalat di masjid. Sebuah karir yang akan mengangkat mereka menuju derajat yang tinggi dan mulia di sisi Allah, dan menempatkan mereka di barisan wanita-wanita agung sepanjang sejarah peradaban manusia.

Baca Juga: Untukmu Muslimah, Agar Berhiasmu Bernilai Ibadah

Tugas menjadi ibu dan istri ini sangatlah berat. Dan karenanya itulah, di samping kewajiban-kewajiban yang mereka kerjakan, mereka pun memiliki sejumlah hak yang harus mereka peroleh. Bukan saja agar mereka tidak merasa dieksploitasi, namun juga sebagai alat bantu agar pekerjaan mereka tidak terasa memberatkan, di samping sebagai bentuk penghargaan Islam untuk mereka. Allah berfirman,

“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajiban mereka menurut cara yang makruf”. (QS Al Baqarah; 228)

Tegasnya, ayat ini merupakan petunjuk bagi para suami bagaimana mereka menyeimbangan antara tuntutan yang mereka ajukan kepada para istri dan kewajiban yang harus mereka tunaikan. Ibnu Abbas berkata, “Sesungguhnya aku berhias untuk istriku, sebagaimana dia berhias untukku”.

Berikut ini hak istri yang harus dipenuhi:

  1. Hak Mendapat Bimbingan

Karena setiap aktifitas seorang muslim hakikatnya adalah ibadah, maka para istripun berhak mendapatkan bantuan guna menjaga kualitas ibadah dan ketakwaan mereka. Para suami berkewajiban membimbing dengan mengajarkan agama Islam agar mereka terhindar dari mengerjakan kedurhakaan kepada Allah Subhanaahu Wa Ta’ala. Atau memberi kesempatan kepada mereka untuk menghadiri majelis-majelis ilmu selama terjaga dari fitnah dalam ilmu-ilmu yang tidak dimampui para suami.

Termasuk di dalamnya adalah kewajiban menjaga kualitas ibadah istri dan anak-anak. Seperti membimbing mereka untuk menegakkan shalat, puasa, juga akhlak-akhlak islami dan ibadah-ibadah yang lain. Allah berfirman,

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu…”. (QS. At Tahrim: 6)

Menurut Muqatil, peliharalah diri kalian adalah keharusan mendidik diri dan keluarga dengan cara memerintahkan mereka mengerjakan kebaikan dan melarang mereka berbuat kejahatan. Sdn Imam Ali bin Abi Thalib menjelaskannya dengan, “Ajarkan kebaikan kepada diri dan keluarga kalian”.

  1. Hak diperlakukan Secara Makruf

Allah berfirman,

“Dan pergaulilah mereka secara makruf”. (QS. An Nisaa’: 19)

Wujudnya adalah memperlakukan mereka dengan memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka secara patut menurut ukuran yang wajar, dan pada batas-batas syariat. Seperti memberi mereka makan seperti apa yang di makan para suami. Demikian pula dalam hal minum, pakaian dan tempat tinggal. Tentu saja sesuai dengan kemampuan yang dimiliki para suami itu sendiri.

Dalam sebuah hadits riwayat Abu Dawud dab Ibnu Majah, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Salam pernah ditanya tentang hak istri dari suaminya oleh seorang shahabat. Kemudian beliau menjawab,

“Engkau memberinya makan jika engkau makan. Engkau memberinya baju jika engkau berpakaian. Dan janganlah engkau memukul wajah, jangan menghinakannya dan jangan memisahkannya kecuali di dalam rumah”.

Termasuk di dalamnya adalah segera pulang ke rumah setelah shalat Isya’ apabila tidak ada keperluan yang sangat penting, agar mereka tidak cemas, dan melahirkan kecemburuan.

  1. Hak Mendapat Penjagaan

Karena para suami adalah pemimpin bagi para istri, maka mereka bertanggung jawab dalam menjaga kehormatan dan kemuliaan mereka, dengan mewaspadai hal-hal yang bisa merendahkan dan menodai martabat mereka. Para suami harus melarang istri-istri mereka untuk berhias ala jahiliyah dan bergaul dengan selain mahram. Para suami juga harus memiliki kecemburuan atas istri-istri mereka sebagai bukti kepedulian mereka atas kehormatan para istri. Bukan malah bangga ketika istri-istri mereka dipuji kecantikan dan kemolekan mereka.

Termasuk di dalamnya adalah penjagaan atas aib mereka dengan tidak membeberkannya kepada khalayak ramai, baik fisik maupun akhlak. Sedang untuk urusan ranjang, larangan dari Rasulullah lebih tegas lagi. Sebab itu seperti setan laki-laki yang bersetubuh dengan setan perempuan di jalan dan dilihat orang lain.

  1. Hak Mendapatkan Maaf

Para wanita adalah manusia biasa yang kadang salah dan lupa. Mereka kadang juga memiliki kemampuan menunaikan sesuatu kewajiban yang tidak sesuai dengan keinginan para suami. Karenanya terlarang para suami mencari-cari kesalahan dan kekurangan istri-istri mereka, karena pasti akan mereka dapatkan. Namun akan lebih baik mencari kelebihan-kelebihan dan kebaikan mereka, ridha terhadap semua itu dengan berusaha membantu dan memberi kesempatan kepada mereka untuk mengembangkan kemampuan, serta tidak mempersulit memberi maaf kepada mereka jika ada hal-hal yang mengecewakan.

Sabda Rasulullah di dalam hadits riwayat Muslim,

“Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah. Jika ada satu akhlak yang tidak disenanginya, maka bisa jadi ada (akhlak) yang lain yang diridhainya”.

Bukan hanya menahan diri dari perilaku tidak terpuji kepada mereka, namun juga bersabar atas gangguan, kekeliruan dan kemarahan mereka.

  1. Hak diperlakukan dengan Adil

Ini apabila seorang suami memiliki lebih dari satu istri. Keadilan di antara para madu adalah dalam pemberian makan, minum, pakaian, tempat tinggal dan giliran bermalam. Condong kepada salah satu di antara mereka adalah perilaku sewenang-wenag, tidak adil dan haram hukumnya di sisi Allah Subhanaahu Wa Ta’ala. Rasulullah bersabda di dal hadits riwayat At Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah dan  An Nasaai,

“Barangsiapa memiliki dua istri sedang dia lebih condong kepada salah satunya, maka dia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan miring separuh tubuhnya”.

Alangkah indahnya jika masing-masing pihak yang bersekutu dalam membangun sebuah keluarga muslim mengetahui dan menunaikan kewajiban mereka. Tidak hanya saling menuntut dan menyalahkan, tapi mampu melihat kekurangan diri dan mengalah jika da hal-hal yang belum memuaskannya. Para suami harus thu bahwa mereka adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungan jawab di hadapan Allah. Juga bahwa para istri ternyata memiliki serangkaian hak yang seimbang dengan kewajiban mereka. Dan itu berarti kewajiban bagi para suami.

Baca Juga:Istri Shalihah pendukung Dakwah

Rasulullah bersabda dalam hadits riwayat At Tirmidzi dan Ibnu Majah,

“Ketahuilah, sesungguhnya kalian memiliki hak atas istri-istri kalian, dan mereka pun memiliki hak atas kalian”.

Bagaimana seorang suami bersikap di dalam rumah tangganya, sesungguhnya menunjukkan kualitas imannya. Tengok saja sabda Rasulullah di dalam sebuah hadits riwayat At Tirmidzi,

“Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Dan yang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik terhadap istri-istri mereka”.

Wallahu A’lam.

Oleh: Redaksi/Keluarga Islami

Untuk Muslimah: Agar Berhiasmu Bernilai Ibadah

Berhias merupakan suatu hal yang sangat lekat dengan kehidupan manusia, terutama bagi kaum wanita. Karena, wallahu a’lam, secara psikologis, rata-rata wanita lebih merasa tertuntut untuk selalu tampil menarik daripada laki-laki. Sehingga, bagi sebagian wanita, berhias menjadi sebuah kegemaran yang mengasyikan, yang terkadang mereka tanpa sadar menghabiskan waktu berjam-jam untuk merawat diri agar dapat selalu tampil anggun-mempesona. Beribu-ribu atau bahkan berjuta-juta rupiah rela mereka keluarkan sebagai anggaran berhias yang terkadang sangat melampaui batas. Semua itu dilakukan demi kecantikan dan penampilan fisik yang selalu menarik.

 

Agar Berhias Bernilai Ibadah

Islam tidak menafikan kegemaran berhias bagi wanita. Boleh-boleh saja wanita itu berhias, bahkan terkadang berhiasnya wanita bisa bernilai ibadah, tatkala itu dilakukan untuk membahagiakan hati suaminya tercinta. Bersolek di depan suami merupakan kebiasaan terpuji para istri penyejuk hati.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, ia menuturkan bahwa ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, wanita bagaimanakah yang paling baik?” Beliau menjawab:

“(Yaitu wanita) yang selalu membahagiakan (suami)nya bila dipandang, mematuhinya bila diperintah, dan tidak pernah menyelisihinya dalam hal diri dan hartanya dengan apa yang tidak disukai oleh suaminya.” (HR. Nasa’i dan Ahmad)

As-Sanadi menjelaskan, “Yang dimaksud membahagiakan (suami)nya bila dipandang, yakni karena kecantikannya secara lahir, atau kebagusan perilakunya secara batin dan senantiasa menyibukkan diri dengan ketaatan dan bertakwa kepada Allah.” (Hasyiyah As-Sanadi ‘ala Syarh An-Nasa’i, VI/68)

Islam melarang seorang suami yang telah lama bepergian meninggalkan istrinya untuk memasuki rumahnya di larut malam, karena dikhawatirkan saat itu istri dalam keadaan tidak berhias dan acak-acakan penampilannya. Sehingga yang demikian membuat rasa kecewa dan tidak simpatik dalam hati suami. Diriwayatkan dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia menuturkan, “Dahulu kami pernah bersama Rasulullah  dalam peperangan. Manakala kami telah tiba di kota Madinah, kami hendak segera memasukinya. Maka beliau bersabda:

Tundalah sebentar, hingga kita memasukinya di malam hari (waktu Isyak), agar wanita yang rambutnya acak-acakan bisa menyisirnya dan yang telah lama ditinggal pergi suaminya bisa mencukur bulu kemauluannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kata asy-sya’itsah artinya istri yang kepalanya berdebu dan rambutnya tidak beraturan. Disebut seperti itu, karena wanita yang suaminya tidak berada di rumah biasanya tidak memperhias diri. Sehingga, Rasulullah melarang memasuki rumah di waktu-waktu yang diperkirakan istri sedang tidak dalam kondisi berhias.

Demikianlah, Islam memberikan perhatian besar kepada para istri untuk menyenangkan hati suaminya. Walaupun, kurang bijak tatkala seorang suami selalu menuntut istrinya untuk senantiasa berdandan, sedangkan dirinya justru berpenampilan acak-acakan setiap hari di hadapan istrinya. Suami-istri harus saling menjaga perasaan hati pasangannya, agar keharmonisan akan terus mewarnai hari-hari bahagia mereka.

  

Jangan Mengubah Ciptaan Allah!

Islam telah memberikan rambu-rambu berhias yang harus diperhatikan oleh para wanita muslimah, agar mereka tidak terjebak kepada model berhias yang diharamkan. Walaupun, di zaman ini, dengan dalih mematut diri dan menjaga kecantikan, sebagian wanita justru menempuh cara-cara yang dilarang oleh agama. ‘Operasi plastik’ demi merawat kecantikan termasuk perkara haram yang telah ‘dihalalkan’ di zaman ini. Karena, di dalamnya terdapat unsur mengubah-ubah ciptaan Allah Ta’ala.

Baca Juga: Tetap Takwa Saat Jodoh Tak Kunjung Tiba

Ibnul Arabi mengatakan, “Sesungguhnya Allah telah menciptakan rupa, lalu membaguskannya dalam susunan bentuk yang asli. Selanjutnya membuat berbeda-beda kecantikan rupa-rupa tersebut, dan menjadikannya beberapa tingkatan. Barangsiapa hendak mengubah ciptaan Allah pada dirinya dan melenyapkan kebijaksanaan-Nya dalam rupa-rupa itu, berarti ia terlaknat, karena ia berani melakukan hal yang terlarang.” Imam Ath-Thabari menegaskan, “Wanita tidak boleh mengubah sesuatu pun dari bentuk yang ia telah diciptakan oleh Allah dalam bentuk tersebut, baik dengan tambahan atau pengurangan, demi memburu kecantikan, tidak untuk suami dan tidak pula untuk selainnya.”

 

Hindari Berhias Model Ini!

Ada beberapa aktivitas merawat kecantikan yang dilarang oleh Islam, dan seyogianya ditinggalkan oleh para wanita muslimah. Rasulullah telah bersabda :

Rasulullah telah melarang wanita yang bertato atau minta dibuatkan tato, yang menyambung rambutnya atau minta disambungkan, dan yang mencabut bulu alis atau yang minta dicabutkan.” (HR. an-Nasa’i)

Dalam hadits lain, diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, bahwa Rasulullah bersabda, “Allah telah melaknat wanita bertato dan yang dibuatkan tato, dan wanita yang mencabut bulu alis dan yang minta dicabutkan, serta yang merenggangkan giginya demi kecantikan, yang mengubah-ubah ciptaan Allah.” (HR. Tirmidzi)

Rasulullah telah melarang empat hal dalam aktivitas berhias.

Pertama, merenggangkan atau meruncingkan gigi demi kecantikan. Ini biasa dilakukan wanita tua agar tampak masih muda. Namun, jika tujuannya untuk terapi dan pengobatan, maka itu tidaklah dilarang. Misalnya, seorang wanita yang memiliki gigi yang menonjol (tongos) yang memperjelek penampilan dan mengganggu saat makan, atau memiliki gigi yang berlobang, maka ia boleh mencabutnya. Karena, menghilangkan cacat itu pada dasarnya diperbolehkan secara syar’i, kecuali ada dalil yang melarangnya.

Kedua, mencabut bulu alis. Yang dilakukan oleh para wanita masa kini, berupa membentuk bulu alis atau merampingkannya dengan menggunting, mencukur atau mencabuti sisi tepinya, maka itu termasuk an-namash (mencabut bulu alis) yang diharamkan.

Baca Juga: Pernah Dinodai Pacar, Bagaimana Solusinya?

Ketiga, menyambung rambut, yakni mengubah ciptaan Allah demi kecantikan, dengan cara menambahkan rambut palsu pada wanita, baik dari rambutnya sendiri atau dari rambut orang lain, dan baik rambut manusia atau yang selainnya.

Keempat, mentato tubuhnya, lalu dilukis di atasnya nama kekasihnya, gambar bunga-bungaan, lambang-lambang cinta, dan yang lainnya.  

Muslimah tampil cantik tidaklah dilarang. Namun, jangan lakukan cara-cara yang diharamkan. Jangan pula dipamerkan kepada semua orang di sepanjang jalan. Suguhkan kecantikanmu hanya teruntuk suamimu tercinta. Bagi yang belum menikah, sembunyikan kecantikanmu, dan niatkan itu hanya untuk suamimu kelak! Wallahul musta’an. 

 

Oleh: Redaksi/Muslimah

Suami Saya Enggan Shalat, Bagaimana Hukum Pernikahan Kami?

PERTANYAAN:  

Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Maaf Ustadz, saya mohon pertimbangannya. Suami saya jika disuruh shalat wajib susah. Dia hanya menjawab, kalau kamu ikut campur urusanku mending bercerai saja. Saya bingung karena sudah punya dua orang putri. Putri yang kecil sangat dekat dengan ayahnya. Saya baca di ar-Risalah edisi pernikahan impian. Saya jadi merasa berkecil hati. Yang saya tanyakan, bagaimana hukum pernikahan kami? Waktu Ramadhan ia berpuasa dan shalat Jum’at, sedang yang lain tidak. Sekian jazakumullah khairan katsiran.

Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Ummu Abdillah, di bumi Allah

 

JAWABAN:

Wa’alaikum salam wa rahmatullahi wa barakatuh.

Ukhti fillah yang sedang bingung, saya bisa memahami kegelisahan anda dengan kondisi suami yang seperti itu. Mestinya sebagai imam keluarga, dialah yang menyuruh isteri dan anak-anaknya untuk mendirikan shalat, bukan sebaliknya. Kondisi seperti ini jelas tidak nyaman. Semoga anda segera memperoleh jalan keluar yang terbaik, insyaallah.

Menurut saya, masalah suami anda adalah masalah yang serius. Shahabat Umar radhiyallahu ‘anhu pernah berkata bahwa barangsiapa yang meremehkan shalat, maka dalam urusan selainnya dia akan lebih meremehkan lagi. Penjelasannya, kalau tentang hak Allah saja seseorang berani meremehkan, apalagi hak selain-Nya?

Carilah waktu untuk berbicara dari hati ke hati agar dia mengerti apa yang anda maui. Ingatkan juga tentang tujuan pernikahan kalian, dan tanggung jawab yang akan dipikulnya di akhirat kelak, jika dia meremehkan kewajibannya sebagai kepala rumah tangga. Katakan juga bahwa hal ini bukan urusannya saja, namun urusan seluruh anggota keluarga.

Ajaklah dia untuk hadir di majelis pengajian, agar pemahamannya tentang agama semakin bertambah baik. Temanilah dia dalam proses mencari nikmatnya ibadah, agar dia tidak menganggap shalat dan ibadah yang lain hanya merepotkan dan melelahkan. Jangan lupa untuk selalu berdoa agar Allah membukakan pintu hatinya untuk kebenaran. Yakinlah, doa adalah kekuatan utama ketika semua rumusan akal telah menemui jalan buntu.

Ukhti fillah, seandainya semua cara sudah ditempuh dan dia tetap kukuh untuk tidak mengerjakan shalat, bersiap-siaplah untuk mengajukan khulu’, yaitu pengajuan perceraian dari pihak isteri. Pedih memang. Namun ini adalah jalan terakhir, sebab tidak ada yang bisa diharapkan dari laki-laki seperti ini. Sebelum kesedihan anda akan bertambah-tambah.

Yakinlah Allah akan memberikan petunjuk terbaiknya jika anda melakukan semuanya karena Allah, bukan karena hawa nafsu saja. Karena itu, serahkan semuanya kepada-Nya saja. Wallahu a’lam,

Demikian, semoga bermanfaat!

 

Dijawab oleh: Ust. Tri Asmoro K

 

Baca Konsultasi Lainnya: 

Saya Rajin Ibadah, tapi Mengapa Jodoh tak Kunjung Datang?

Selalu Kena Marah Ibu Mertua, Bagaimana Solusinya?

Suami Punya Hutang, Apakah Istri Harus Melunasinya?

 

Tetap Takwa, Saat Jodoh Tak Kunjung Tiba

Semua orang tentu mendambakan bisa menikah dan hidup bahagia bersama pasangannya. Terutama wanita. Mereka mulai berharap dan bermimpi tentang seorang suami semenjak masa remaja. Keinginan untuk segera menyempurnakan separuh agamanya cukup kuat pada wanita. Wanita ingin memiliki pasangan yang membuat hidupnya luar biasa dalam melalui hari hari dan kehadiran anak-anak yang menjadikan rumahnya serasa surga. Sungguh, wanita mana yang tidak menginginkan gambaran keluarga yang sempurna dalam hidupnya.

Setiap wanita menginginkan hal tersebut. Dan dengan keinginan ini, muncul tekanan bagi banyak wanita Muslim untuk menikah pada usia muda. Ya, bagi pria mungkin tak begitu menjadi soal, namun bagi wanita hal ini sering membuatnya tertekan.

Sebagian wanita bahkan menjadi rendah diri karena tak kunjung mendapatkan belahan jiwa. Ketika jodoh tak kunjung datang dan sebagian masyarat mulai menganggapnya sebagai perawan tua, pikiran buruk pun berkecamuk. Bagaimana bila umur saya sudah 25 dan belum menikah? Apa yang dikatakan kerabat saya? Mengapa Allah menguji saya dengan ujian ini? Apakah saya tidak cantik? Mungkin saya harus melepaskan jilbab saya… (Naudzubillah min dzalik)

Mereka mulai mengalami depresi saat melihat teman-temannya menikah. Banyak yang bahkan merasa seperti masa muda mereka terbuang jika tidak segera menikah saat masih muda.

Jika pikiran-pikiran itu sempat terlintas di benak Anda, waspadalah! Setan sedang ingin merusak hidup Anda karena ia tak senang pada jiwa-jiwa yang berbakti kepada Allah.

Bersabarlah, karena Allah berfirman, Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” (QS. At-Taubah: 51).

Bagaimana membuang pikiran negatif dan kesedihan?

 

1. Dedikasikan masa muda Anda untuk beribadah kepada Allah jika jodoh tak kunjung datang

Banyak alasan kenapa jodoh tak kunjung datang, namun bukan berarti masa muda Anda sia-sia. Dedikasikanlah hari-harimu dengan mendekatkan diri kepada Allah.

Dengan cara ini Anda tidak akan merasa sedih atau menyesal. Tidak ada yang hilang jika Allah bersamamu setiap hari. Rasulullah menuturkan bahwa ada tujuh orang yang diberi naungan oleh Allah pada hari dimana tidak ada naungan selain naungan-Nya salah satunya adalah pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah

 

2.Melakukan aktivitas yang yang mulia

Isilah masa mudamu dengan aktivitas yang produktif. Misalnya terlibat aktif dalam dakwah muslimah atau mengajar TPA.

 

3.Jangan memperhatikan apa yang orang lain katakan

Tekanan keluarga yang terus menanyakan kapan nikah memang membuat hidup Anda tidak nyaman. Namun, ingat bahwa rasa sakit hanyalah sebuah keadaan pikiran. Anda bisa memikirkan jalan keluar dari segala hal, bahkan rasa sakit. Cobalah untuk tidak melibatkan diri dalam argumen, hindari berpikir negatif. Jika Anda merasa terbebani, berdoalah, “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir” (QS. Al-Baqarah: 286)

 

4. Anda adalah spesial dan terlahir dengan tujuan mulia

Allah menciptakan setiap manusia dengan keunikannya masing-masing. Hidup kita adalah anugerah dari Allah yang harus disyukuri. Allah akan senantiasa menguji hambaNya untuk melihat sejauh mana cintanya. Akan ada air mata tapi juga akan ada tawa dan cinta. Pernikahan bukan sesuatu yang bisa dipaksakan. Percayalah bahwa Allah akan memilihkan yang terbaik bagi setiap hamba-Nya.

 

5. Selalu ada alasan mengapa Allah menakdirkan hal tersebut

Cobalah merenung sejenak dan carilah alasan mengapa Allah memilih situasi ini untukmu.

Mungkin Dia menginginkan agar Anda memenuhi tugas yang sangat penting dalam hidup Anda sehingga Allah membebaskan Anda sampai tujuan itu tercapai? Atau mungkin Ia ingin memberi hadiah kepada Anda dengan sesuatu yang hebat dan cobaan berat ini adalah ujian untuk Anda. Jadi beristighfarlah sebanyak yang Anda bisa dan berdoalah kepada Allah agar Allah memberikan kemenangan dan kedamaian dan meenangkan hatimu. Banyaklah berdoa agar Allah memberikan pasangan terbaik untukmu.

Bacalah doa yang diajarkan dalam Al-Qur’an,

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا 

“Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74).
Jika hati kita dipenuhi dengan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya tentu kita dapat menghadapai semua rintangan.
Semoga Allah memudahkan setiap langkah kita dalam kebaikan. Amin.

 

Oleh: Ust. Muhtadawan Bahri/Motivasi

Baca Juga yang Lainnya: Untuk Muslimah: Jangan ragu Datangi Majelis Ilmu, Amalnya di Puncak Takutnya Mencapai Klimaks, Dari Mata Turun Ke Hati, Jaga Mata Bersihkan Diri

Selalu Kena Marah Ibu Mertua, Bagaimana Solusinya?

Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Ustadz, saya punya masalah dengan ibu mertua. Beliau selalu marah-marah dan kurang terima dengan berbagai hal yang saya lakukan. Padahal, insyaallah, saya selalu berusaha menjalankan tugas dengan baik, karena saya anak desa yang terbiasa dengan urusan kerumahtanggaan. Beliau sering marah dan menyinggung perasaan saya. Sayangnya, tipikal suami saya pendiam dan sering mengalah dengan ibu. Padahal satu dua kali saya juga butuh pembelaannya, sebab beberapa hal menurut saya sangat menyinggung perasaan. Apa memang birrul walidain itu harus seperti itu, Ustadz? Kalau iya, mungkin kesabaran saya yang kurang. Atas masukannya saya ucapkan terima kasih.

Muslimah, Jogja

 

Wa’alaikum salam wa rahmatullahi wa barakatuh.

Ukhti yang shalihah, persoalan yang muncul antara mertua dengan menantu adalah masalah yang sangat lazim. Ketidakcocokannya bisa karena kurangnya komunikasi, pengetahuan keagamaan yang lemah, hingga soal perbedaan selera dalam berbagai hal. Meski tidak mudah, bukan berarti tidak bisa diselesaikan. Semoga Allah memudahkan urusan Ukhti.

Yang pertama, cobalah bersyukur kepada Allah atas kesempatan beramal shalih dengan ibu mertua. Sebuah kesempatan langka yang tidak semua menantu mendapatkannya. Anggaplah beliau sebagai ibu sendiri agar lebih mudah memahami sikap dan tindakannya. Termasuk perasaan terikat dengan putra kesayangan, yang lahir dari rahimnya, kini terbagi kecenderungannya dengan Ukhti sebagai isteri. Kelak, Ukhti akan mengerti, insyaallah.

Perbaikilah pola komunikasi dengan cara yang lemah lembut agar terbentuk saling pengertian. Hormati, muliakan, cintai, dan sayangi beliau dengan tulus. Insyaallah hal itu bisa melunakkan hatinya. Sering-seringlah meminta nasihat atas suatu masalah agar Ukhti bisa melihat sudut pandang beliau. Selain akan membuat Ukhti bertambah luas wawasan, hal itu juga bisa menjadi masukan bagi suami untuk bersikap jika ternyata pandangan beliau menyimpang dari ajaran agama islam. Bagaimanapun, beliau berasal dari zaman dan pola pendidikan yang berbeda.

Jangan lupa untuk mempelajari selera beliau tentang suatu hal. Sebab selera seseorang terhadap sesuatu, akan sangat berpengaruh terhadap penilaiannya. Jadi bukan hanya soal selesai dikerjakan, tapi juga tentang bentuk dan tampilannya.

Selain itu, ingatkanlah suami tentang tanggung jawabnya untuk menciptakan keluarga yang sakinah, mawadah, wa rahmah terbebas dari campur tangan orang lain. Juga tentang kewajibannya untuk bersikap adil dengan timbangan syariat. Bisa menegur siapapun yang berbuat zhalim dan melanggar syariat dengan cara yang baik.

Dan kalau ternyata pilihannya adalah berpisah tempat tinggal, maka jangan lupakan silaturahmi dengan sering berkunjung. Syukur sambil membawa oleh-oleh. Juga jangan lupa mendoakan kebaikan bagi beliau secara khusus. Semoga bermanfaat!

Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

 

Oleh: Ust. Tri Asmoro/Konsultasi Keluarga

 

Baca Konsultasi Lainnya Juga: 

Pernah Dinodai Oleh Pacar dan Takut Memutusnya, Apa Solusinya?

Tidak Tahan dengan Kelakuan dan Penampilan Istri

Saya Rajin Beribadah, Tapi Jodoh tak Juga Kunjung Datang

 


Ingin berlangganan Majalah Islami tentang keluarga dan seluk-beluknya? Hubungi Keagenan Majalah ar-risalah terdekat di kota Anda, atau hubungi kami di nomer: 0852 2950 8085

Suami Punya Hutang, Apakah Istri Harus Melunasi?

Pertanyaan: 

Assalaamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Ustadz yang baik, suami saya memiliki hutang yang lumayan banyak. Apakah istri ikut menanggung hutang itu jika dia memiliki harta, sedang suami tidak memiliki harta untuk membayarnya?

Jazakumullah untuk jawaban dan perhatiannya.

Wassalaamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

 

Jawaban:

Wa’alaikum salam wa rahmatullahi wa barakatuh.

Ibu yang shalihah, di dalam Islam, seorang istri tidak berkewajiban menanggung nafkah untuk suaminya. Karena kewajiban menafkahi keluarga dibebankan kepada suami sebagai kepala keluarga. Pun harta seorang istri berapapun banyaknya adalah miliknya sendiri, dan tidak ada seorangpun yang boleh mengambilnya kecuali dengan kerelaan istri.

Di dalam surat an Nisa’ ayat 4, Allah berfirman, “Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.”

Ayat ini menjelaskan bahwa mahar istri yang asalnya dari suami saja, tidak boleh kembali dinikmati suami kecuali atas kerelaan istri, maka harta istri yang bukan dari suami lebih tidak boleh dinikmati suami tanpa kerelaan istri.

Dengan demikian, hukum asalnya adalah istri tidak wajib menanggung utang suami. Harta istri adalah miliknya sendiri dan dia bebas menggunakannya tanpa campur tangan orang lain, termasuk suaminya. Istri boleh menolak pembayaran hutang itu jika suami memaksa. Sebab tanpa kerelaan istri, haram hukumnya seorang suami mengambil dan menikmati harta istri.

Namun jika pembayaran hutang suami oleh istri adalah pemberian yang ikhlas tanpa paksaan, tanda cinta istri kepada suami setelah mempertimbangkan kemampuan masing-masing, juga upaya istri meraih amal shalih yang lebih banyak, tentu saja diperbolehkan. Bahkan ia adalah sebuah keutamaan.

Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat.

 

Oleh: Redaksi/Konsultasi

 

Artikel Konsultasi Lainnya: 

Menjadi Suami Rumah Tangga Seperti Nabi

Banyak suami merasa pekerjaan rumah tangga seperti menyapu, memasak, mencuci piring, momong anak adalah pekerjaan domestik istri. Banyak suami yang tak mau menyentuh ranah ini. “Saya paling tidak suka bila tidur saya terganggu, apalagi untuk mengganti popok anak,” ujar seorang bapak. Ada juga yang mengatakan, “Saya sudah sibuk seharian bekerja. Urusan rumah tangga urusan istri.”  Padahal, suatu hal yang baik apabila suami mau membantu pekerjaan rumah yang biasa dilakukan istri untuk meringankan pekerjaan dan beban keseharian istri.

Ummul mukminin, Aisyah pernah ditanya, “Apa yang dilakukan Nabi di rumah?” Beliau menjawab, “Beliau ikut membantu melaksanakan pekerjaan keluarganya.” (HR. Bukhari).

Dalam hadits ibunda Aisyah yang lainnya, beliau berkata, “Nabi saw menjahit kainnya, menjahit sepatunya, dan mengerjakan apa yang biasa dikerjakan oleh kaum wanita di rumah mereka.” (HR. Ahmad).

Baca Juga: Kisah Pasangan Harmonis Yang Paling Tragis

Tentu tak ada yang meragukan kesibukan Rasulullah, bukan? Beliau seorang Nabi dengan kesibukan dakwah yang luar biasa dan beliau juga seorang pemimpin. Namu, beliau sangat senang membantu pekerjaan istri beliau. Hal itu beliau lakukan kapan saja selagi beliau di rumah bersama istrinya.

Al-Aswad pernah bertanya kepada ibunda Aisyah, istri Rasulullah, mengenai apa yang dilakukan Nabi di rumah. Beliau mengatakan, “Beliau biasanya suka membantu urusan keluarganya, lalu ketika waktu shalat tiba, beliau pergi ke masjid untuk mengerjakan shalat.”

Catatan penting bagi para suami bahwa ketika tiba waktu shalat, Nabi meninggalkan pekerjaan rumahnya untuk pergi ke masjid. Rasulullah meninggalkan pekerjaannya saat panggilan adzan berkmandang di masjid. Tak ada istilah kena tanggung, pakaian masih kotor, dan lain sebagainya.

Nabi telah memberi teladan kepada para suami bahwa mengerjakan pekerjaan rumah bukanlah hal yang tabu. Suami harus menyadari bahwa meskipun tampak sepele, pekerjaan rumah tangga adalah pekerjaan yang berat. Istri dituntut untuk bisa melakukan banyak hal dalam satu waktu demi untuk berbakti kepada suaminya. Membuatnya senang dan betah di rumah.

 

Mari kita Tengok Kembali Kisah Fathimah, Putri Rasulullah

Fathimah merasa lelah dengan banyaknya pekerjaan rumah tangga yang harus ditanganinya. Dia pun pergi menemui Rasulullah untuk meminta seorang pembantu, yakni seorang wanita yang bisa membantunya.

Tatkala Fathimah memasuki rumah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, dia tidak mendapatkan beliau. Dia hanya mendapatkan Aisyah, Ummul Mukminin. Lalu Fathimah menyebutkan keperluannya kepada beliau. Tatkala Rasulullah tiba, ibunda Aisyah mengabarkan urusan Fathimah.

Beliau mempertimbangkan permintaan Fathimah. Kebetulan memang beliau mempunyai beberapa orang tawanan perang, di antaranya wanita. Tetapi tawanan-tawanan ini akan dijual dan hasilnya akan disalurkan kepada orang-orang Muslim yang fakir, yang tidak mempunyai tempat tinggal dan makanan. Lalu beliau pergi ke rumah Fatimah. Saat itu Fatimah dan suaminya hendak tidur. Beliau masuk rumah putrinya dan bertanya, “Saya mendapat kabar bahwa kamu datang untuk meminta satu keperluan. Apakah keperluanmu?”

Fathimah menjawab, “Saya mendengar kabar bahwa beberapa pembantu telah datang kepada engkau. Maka aku ingin agar engkau memberiku seorang pembantu untuk membantuku membuat roti dan adonannya. Karena hal ini sangat berat bagiku.”

Beliau berkata, “Mengapa engkau tidak datang meminta yang lebih engkau sukai atau lebih baik dari hal itu?” Kemudian beliau memberi isyarat kepada keduanya, bahwa jika keduanya hendak tidur, hendaklah bertasbih kepada Allah, bertakbir dan bertahmid dengan bilangan tertentu yang disebutkan kepada keduanya. Lalu akhirnya beliau berkata. “Itu lebih baik bagimu daripada seorang pembantu.”

Baca Juga: Saat Konflik Mendera Dalam Bahtera Keluarga

Ali tidak melupakan wasiat ini, hingga setelah istrinya meninggal. Hal ini disebutkan dalam hadits riwayat Muslim.

Oleh karenanya, ketika ada waktu, suami hendaknya berusaha membantu pekerjaan istri, semampu yang ia bisa.

Mengerjakan pekerjaan rumah bagi suami bukan berarti bertukar peran sebagaimana yang kita saksikan di dalam sinetron. Suami menyelesaikan semua pekerjaan rumah tangga, sementara istri duduk bermalas-malasan sambil bermain HP atau menonton TV. Karena salah satu tugas utama suami sebagai qowam keluarga adalah mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Namun, seorang suami selayaknya menunjukkan bahwa ia siap membantu istrinya bila mampu. Bila belum mampu tunjukkan minat untuk membantu. Kehadiran suami saat istri sedang melakukan pekerjaan rumah saja terkadang sudah cukup membahagiakan istri. Apalagi ikut mengiris bawang atau memasukkan bumbu ke dalam air yang terjerang panas untuk mematangkan hidangan, sungguh momen yang berkesan.

Jika suami tidak dapat melakukan hal ini, setidaknya ia memberikan pujian kepada istrinya dan memberikan senyuman tanda keridhaan kepadanya. Ketika ada sedikit kekurangan dari apa yang dilakukan istri, maklumi saja, tak perlu memarahi apalagi sampai memaki. Wallahu a’lam.  

 

Oleh: Redaksi/Keluarga 

Istri Shalihah pendukung Dakwah

Menjelang kenabian, Nabi suka berkhalwat (menyendiri) merenung dan berpikir. Dipilihlah gua Hira untuk melepas segala kesibukan dunia dan pergaulan dengan manusia. Beliau menghabiskan waktunya untuk bermunajat kepada sang pencipta semesta.

Pertama kali wahyu turun kepada Rasulullah adalah berupa mimpi yang benar. Kemudian beliau suka berkhalwat. Beliau bertahanus beberapa malam tertentu. Sebelum merasa rindu kepada keluarganya, beliau mengambil perbekalan kemudian pulang dan mengambil perbekalan. Hingga suatu ketika Rasulullah didatangi malaikat jibril seraya berkata, ‘Iqra, bacalah.” Aku tak bisa membaca.” Lalu malaikat jibril memegang dan mendekap beliau.

Malaikat jibril mendesak Nabi berulang-ulang hingga membuatnya payah dan tak berdaya. Rasulullah pun menerima wahyu dalam keadaan sulit dan berat.

Baca Juga: Nikmatnya Beribadah Bersama Keluarga

Meskipun beliau adalah orang yang paling gagah berani dan paling kuat hatinya, tetap saja hal itu merupakan hal yang berat. Sebab, interaksi tersebut bukan perbincangan biasa tetapi perbincangan malaikat yang membawa firman Allah agar diterima oleh orang pilihan-Nya untuk membawa dan menyampaikan kepada ummatnya.

Kita lihat bagaimana kondisi Khadijah, sang istri, ketika suaminya pulang dalam keadaan gemetar ketakutan sambil mengatakan, “selimuti aku, selimuti aku.” Ia pun menyelimuti  suaminya tanpa banyak bertanya hingga suaminya tenang dan hilang rasa takutnya. Setelah tenang, Rasulullah pun mulai bercerita, “aku takut sekali pada diriku.” Ia tenangkan suaminya dengan kelebihan yang ada padanya. Ia katakan dengan sepenuh keyakinan sebagai bentuk dukungan, “Tidak, demi Allah, Allah tidak akan merendahkanmu selamanya. Engkau suka menyambung silaturahim, menanggung beban, suka memberi kepada orang yang tak berpunya, suka memuliakan tamu, dan membantu orang yang terkena musibah.”

Sikap khadijah menunjukkan kekuatan hatinya. Ia tak ikut panik melihat kondisi suaminya bahkan menghadapi dengan tenang. Ia tak memaksa suaminya bercerita. ia tunggu suaminya tenang dan menceritakan sendiri kondisinya. Dalam hal ini, ibunda khadijah menunjukkan kelasnya sebagai isri dengan pengetahuan yang luas.

Syaikh al-Hamudi dalam Tarikh al-Islami mengungkapkan, Ibunda Khadijah telah melakukan perang penting dalam kehidupan Nabi karena memiliki kepribadian terpuji di tengah kaumnya. Ia memberi dukungan moral kepada beliau dengan kasih sayang, kemurahan hati, kebijaksanaan, keteguhan hati, dan akhlak mulia lainnya. Rasulullah pun telah diberi karunia oleh Allah berupa istri yang shalihah. Istri yang senantiasa mendukung suaminya untuk mencapai tujuan perjuangan.

Al-Bilali dalam Waqafat Tarbawiyah min Shiratin Nabawiyah juga menjelaskan, Khadijah adalah teladan terbaik bagi istri para dai. Seorang dai yang mengajak kepada Allah bukanlah seperti orang biasa yang jauh dari beban dakwah dan kesulitannya. Rasulullah adalah seorang pengemban risalah yang selalu risau ketika kehilangan umat, kerusakan tersebar, dan juga beban rumah tangganya. Beliau juga risau dengan apa yang menimpa kaum muslimin dibelahan bumi bagian timur dan barat, seperti kezaliman, kelaparan, dan penghinaan, Beliau merasakan apa yang mungkin menimpa para dai, seperti pengusiran, penyempitan ruang gerak, dan intimidasi. Selain itu, beliau adalah pembawa risalah yang wajib disampaikan kepada orang lain. Kewajiban itu membutuhkan pengorbanan waktu. Hingga harus mengorbankan saat istirahat dan kebersamaan dengan istri dan anak. Tidak hanya itu, pengorbanan harta dan kenikmatan dunia secara keseluruhan pun dibutuhkan selama itu berada di jalan Allah dan keridhaan-Nya. Meskipun beliau dikarunia istri yang memiliki akhlak, ketakwaan, kecantikan dan kedudukan, beliau tetap membutuhkan seorang istri yang mengetahui kewajiban dan kepentingan dakwah.

Baca Juga: Istri Bekerja Membantu Suami Memenuhi Kebutuhan Keluarga

Ia harus mengetahui dengan sempurna apa yang akan dilakukan suaminya dan beban apa yang akan dibawanya. Juga apa yang dapat membantunya saat ditimpa kesulitan. Ia berdiri disamping suaminya untuk meringankan urusan dan membantunya. Bukan sebaliknya, menjadi beban dan penghalang dalam perjalanan.  

Istri shalihah memiliki peran dalam keberhasilan dakwah. Hal itu telah tampak jelas dalam peran Khadijah. Ia berdiri di samping Nabi saat beliau menerima wahyu pertama kali. Dan, tidak diragukan lagi bahwa istri shalihah yang disipkan untuk mengemban risalah seperti ini memiliki peran besar dalam keberhasilan suami dalam urusannya di kehidupan ini.

Dakwah kepada Allah adalah perkara terbesar yang diemban manusia maka apabila seorang dai dikaruniai istri shalihah yang sekufu dan sepadan, hal itu merupakan faktor keberhasilannya yang terpenting.

Benarlah sabda Rasulullah, “Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasannya adalah istri yang shalihah.” (HR. Muslim). Wallahu a’lam (Redaksi/Keluarga/Istri)

 

Tema Terkait: Keluarga, Istri, Dakwah

.

              

Ujian Berat yang Dianggap Ringan

Seorang shahabiyah (sahabat wanita) mulia, yang bapaknya, saudaranya dan suaminya terbunuh di Perang Uhud tatkala dikabari berita duka tersebut justru ia malah bertanya bagaimana keadaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu dikatakan kepadanya, “Beliau (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) baik-baik saja seperti yang engkau harapkan.” Dia menjawab, “Biarkan aku melihatnya.” Tatkala ia melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dia mengatakan, “Sungguh semua musibah terasa ringan wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali bila hal itu menimpamu.” (Sirah Nabawiyyah Libni Hisyam, 2:99).

Setiap istri memiliki ujian masing-masing dalam keluarga. Ada seorang wanita yang takdir Allah mempertemukannya dengan lelaki tak berharta. Hidup pun harus ia jalani dengan apa adanya. Rumah, dari tahun ke tahun harus berpindah dari kontrakan ke kontrakan berikutnya. Kendaraan, yang dipunya hanya motor butut  satu-satunya di mana sang istri harus rela duduk di bagian paling belakang karena berbagi dengan anak-anaknya. Duduk di atas bagian besi, itu pun kadang hanya separuh bagian yang bisa diduduki. Belanja harian harus benar-benar disiplin, tidak boleh melebihi kuota yang cuma beberapa rupiah. Jika harga cabai melambung, misalnya, berarti menu harian bisa dipastikan minus rasa pedas. Sekolah, ingin hati menyekolahkan anak di sekolah Islami, namun apa daya, sekolah islami favorit biasanya tarifnya tinggi, tidak bersahabat dengan kantong suami.

Di keluarga lain, ada istri yang hidup berkecukupan tapi diuji dengan minimnya kesehatan. Terkena diabates misalnya. Makan terbatasi, aktifitas harus selalu dalam kendali, dan hidup terasa sempit karena banyak hal yang harus dihindari. Atau terkena kanker rahim yang mengakibatkan peluang memiliki anak hilang selamanya. Tentu bukan hal ringan membayangkan kehidupan berkeluarga tanpa satu pun momongan. Atau justru sang suamilah yang sakit hingga istri yang seharusnya merupakan tulang rusuk harus menjadi tulang punggung keluarga.

Ada pula istri yang ujiannya adalah sang mertua. Tinggal seatap dengan mertua, bahkan meskipun sang mertua kaya harta, biasanya tetap seperti hidup dalam penjara. Keluarga adalah rumah tempat segala privasi mendapatkan tempatnya. Ada banyak sekali perkara-perkara yang hanya layak dan baik untuk diketahui oleh pasangan saja. Keberadaan orang lain di dalam rumah, sedekat apapun hubungannya, tentu akan menghilangkan privasi ini. Dan pada level tertentu, hal itu bisa membuat istri jadi frustrasi.

Beragam dan setiap istri telah mendapat jatah ujiannya sendiri-sendiri. Bentuk ujiannya tidak akan beralih dari paket-paket ujian hidup yang terangkum dalam ayat 155 surat al Baqarah: Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.”

Nah, lantas apa hubungannya ujian-ujian ini dengan kisah shahabiyah tersebut di atas? Kita lihat bagaimana sikap sang shahabiyah menghadapi ujian dan musibah yang menimpa; kehilangan ayah, saudara bahkan suaminya. Dalam timbangannya, ujian itu terasa ringan karena tidak menimpa agamanya. Rasulullah adalah representasi tunggal eksistensi Islam dan agama bagi semua orang. Keselamatan Beliau adalah keselamatan bagi Islam dan terluka atau bahkan terbunuhnya beliau adalah kematian bagi Islam, kecuali setelah syariat disempurnakan. Intinya, bagi seorang shahabiyah, apapun ujian yang menimpa, asal bukan menimpa agamanya, ujian itu tidak ada apa-apanya.

Ini soal pemetaan ujian diprioritas dalam menyikapinya. Selagi ujian tersebut bukan kategori ujian bagi agama, tak perlu terlalu mempermasalahkan. Tetap bersabar, berusaha untuk memperbaiki keadaan dan berdoa agar Allah berkenan meringankan. Namun jika ujian yang dihadapi adalah ujian bagi agamanya, sudah sewajarnya jika seseorang merasa gusar, merasa berat dan entah bagaimana caranya harus segera keluar darinya. Masalahnya, ujian yang menimpa dien (agama) seseorang ini sering tidak dianggap ujian, bahkan tidak sedikit yang menyangkanya sebagai kebaikan.

Seorang istri, meskipun mendapat suami berkecukupan, sehat sejahtera, punya rumah dan mobil pribadi tapi penghasilan suaminya mengandung riba, itu adalah musibah dalam agama. Inilah ujian berat yang sesungguhnya. Mengapa? Karena dengan riba adalah pangkal segala petaka. Dunianya boleh saja sejahtera tapi akhiratnya terancam binasa. Ujian seperti inilah yang seharusnya membuat seseorang selalu risau dan tidak bisa hidup tenang. Ujian ini berat karena sang istri harus segera memperingatkan suami dan memaksanya berganti profesi.

Atau, seorang isteri yang suaminya tak peduli dengan keshalihan pasangan dan keluarga dan malah membiarkan kemaksiatan memasuki rumahnya, ini juga musibah dalam agama. Sebanyak apapun hartanya, seromantis apapun hubungannya, seharmonis apapun rumah tangganya, hakikatnya, sang isteri tengah menghadapi ujian luar biasa. Rumahnya yang terlihat indah dan bersih,  di mata Allah jauh lebih buruk dari kuburan karena tak terdengar bacan al Quran. Tawa canda bahagia keluarga hanyalah awal sementara dari kesengsaraan tak terkira di akhirat sana.

Jadi, marilah kita petakan musibah yang kita hadapi dengan sudut pandang shahabiyah tadi. Jika yang menimpa adalah ujian-ujian duniawi; kurangnya harta, rumah yang jelek, rezeki yang mepet, hutang yang menggunung, penyakit yang tak kunjung sembuh atau mertua yang cerewet, anggaplah semua itu ujian ringan. Asalkan pribadi, suami dan keluarga masih senantiasa berusaha taat dalam syariat-Nya, insyaallah ujian itu hanyalah ujian ringan. Penyelesaiannya pun gampang; sabar dan berdoa. Insyaallah semua ada pahala dan semua ada akhir masanya. Namun jika musibah menimpa agama, sabar bukanlah pilihan karena seseorang harus segera keluar darinya. Harus segera menyelesaikannya sebelum ajal menjemputnya. Jika tidak, apalagi malah berdiam menikmatinya, bersiap-siaplah menghadapi kehidupan yang sengsara di alam baka. Bukankah ini lebih berat?.Wallahua’lam.

 

(Ust. Taufik Anwar)

 

 

 

 

 

 

 

 

Tidak Tahan dengan Penampilan  & Kelakuan Istri

Pertanyaan:

Assalamualaikum, maaf ustadz, saya sudah menikah 7 bulan yang lalu dengan seorang wanita, sekarang dia sedang hamil 4 bulan. Saya tidak bahagia dan betah dengannya semenjak pertama kali menikah. Selain karena berat badannya semakin meningkat dan tingkah lakunya yang kelewatan, dia kudapati telponan dengan temannya yang merendahkan saya dan keluarga saya dan ketika saya perintah untuk memasak, dia beberapa kali sengaja menaburi garam yang banyak sehingga saya tidak suka memakannya. Saya sudah berkali-kali mencoba untuk mendekatinya dan bicara baik-baik, akan tetapi tiada hasil. Saya menyesal menikah dengannya. Tolong Ustadz berikan nasihat, apa yang harus saya lakukan.

Kholid, Bumi Allah

 

Jawaban:

Waalaikumussalam, Saudaraku yang dirahmati Allah, pernikahan tidak lepas dari pertikaian dan perselisihan.

Ada dua hal yang saya sampaikan. Pertama, berilah nasihat dengan lembut dan peringatkan kepadanya sekali lagi bahwa ia keliru, semoga ia bisa berubah. Jangan lupa mendoakannya setiap saat agar Allah yang merubahnya. Karena dengan berubahnya istri akan menentramkan bayi yang dikandung dan keutuhan keluarga.

Kedua, Bila dengan segala cara yang baik tidak ditemukan ishlah, tapi justru masalahnya bertambah, solusi yang memungkinkan adalah mengambil jalan Thalaq, meskipun thalaq itu seperti pengobatan Kay yang membakar, tapi semoga Allah memudahkannya. Sebagaimana Allah berfirman,

Jika keduanya bercerai, maka Allah akan memberi kecukupan kepada masing-masingnya dari limpahan karunia-Nya. Dan adalah Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Bijaksana.” (QS. an-Nisa’: 130)

Rasulullah juga bersabda,

“Tiga orang yang berdoa kepada Allah dan tidak dikabulkan doa mereka; seorang yang mempunyai istri yang buruk akhlaknya dan ia tidak mentalaknya dan seorang yang mempunyai harta atas seseorang dan ia tidak menyaksikan atasnya dan seorang yang memberikan kepada seorang yang sangat bodoh hartanya, padahal Allah Ta’ala telah berfirman: “Dan janganlah kalian memberikan kepada orang-orang yang sangat bodoh harta-harta kalian.” (HR. Al Hakim dan Al Baihaqi dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Silsilat Al Ahadits Ash Shahihah, no. 1805).

Yang perlu diingat, jika sudah yakin dan mantap dengan perceraian setelah melakukan berbagai ishlah, jangan khawatirkan nasib si jabang bayi. Allah yang akan menjaganya, kita pasrahkan semua urusan kepada-Nya. Allah akan mempermudah kita selama kita kembali kepada-Nya. Wallahu a’lam

 

 

 

 

 

 

4 Laknat Malaikat

Beruntunglah orang yang mendapatkan bagian shalawat dari malaikat.  Namun begitu malang orang yang mendapat laknat darinya, karena laknat malaikat berarti do’a malaikat untuk kebinasaan orang yang dilaknat.

Yang paling banyak dilaknat malaikat adalah orang-orang kafir. Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang kafir dan mereka mati dalam keadaan kafir, mereka itu mendapat laknat Allah, para malaikat dan manusia seluruhnya.“ (QS.al-Baqarah:161)

Bukan hanya orang Kafir

Malaikat tak hanya melaknat orang-orang kafir, namun juga pelaku dosa tertentu sebagaimana yang disebutkan dalam beberapa hadits. Diantaranya adalah,

   1.Orang yang mencela sahabat Nabi

Dalam Mu’jam at-Thabrani dari Ibnu Abbas dengan sanad yang hasan disebutkan bahwa Nabi bersabda,

 من سب أصحابي فعليه لعنة الله والملائكة والناس أجمعين

“Barangsiapa yang mencela para sahabatku, maka ia mendapat laknat dari Allah, malaikat dan manusia seluruhnya.” (HR. at-Tirmidzi)

Begitu terecela ada sebuah sekte yang mencela para sahabat agung Nabi semisal Abu Bakr dan Umar dan menganggapnya sebagai bentuk taqarrub kepada Allah. Na’udzubillah

 

   2.Orang yang mengacungkan senjata kepada saudarnya

Baik untuk mengancam ataupun sekedar main-main. Nabi bersabda yang artinya,

 “Barangsiapa yang mengacungkan besi (senjata) untuk saudaranya, maka maaikat melaknatnya, meskipun ia saudara se bapak dan se ibu.” (HR. Muslim)

 Hikmah dari larangan tersebut adalah menghindari campur tangan setan yang bisa jadi membisiki pelakunya untuk benar-benar membunuh atau menyakiti saudaranya.

 

   3.Orang yang membuat bid’ah dalam agama, mencampakkan hukum islam, memusuhi syari’at atau membantu dalam hal tersebut.

 Nabi bersabda,

 مَنْ أَحْدَثَ فِي الْمَدِينَة حَدَثًا، أَوْ آوَى مُحْدِثًا، فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Barangsiapa yang membuat hal-hal yang baru dalam agama (bid’ah), atau mendukung pelakunya, maka dia dilaknat oleh Allah, malaikat dan manusia seluruhnya.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah)

 

   4.Seorang istri yang menolak ajakan suaminya ke tempat tidur

 Nabi bersabda yag artinya,

“Jika seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidur (untuk jima’) tetapi istri menolaknya hingga membuat suami marah, maka para malaikat melaknat sang istri hingga pagi hari.” (HR. al-Bukhari)

Laknat yang dimaksud ialah yang membuat sang suami marah, sebagaimana pendapat Ibnu Hajar. Bila tidak sampai membuat marah, maka tidak mengapa. Karena suami yang beriman tentunya memperhatikan kondisi sang istri, bilamana ia sedang sakit, haidh atau yang lainnya.

 

Marilah bersama-sama kita mendulang syafaat sebanyak-banyaknya dari para malaikat dan menjauh dari segala perbuatan yang mengundang laknat mereka.